cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies)
ISSN : 2339191X     EISSN : 24069760     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Recently, the value of arts studies in higher education level is often phrased in enrichment terms- helping scholars find their voices, and tapping into their undiscovered talents. IJCAS focuses on the important efforts of input and output quality rising of art education today through the experiences exchange among educators, artists, and researchers with their very own background and specializations. Its primary goals is to promote pioneering research on creative and arts studies also to foster the sort of newest point of views from art field or non-art field to widely open to support each other. The journal aims to stimulate an interdisciplinary paradigm that embraces multiple perspectives and applies this paradigm to become an effective tool in art higher institution-wide reform and fixing some of biggest educational challenges to the urban imperative that defines this century. IJCAS will publish thoughtprovoking interdisciplinary articles, reviews, commentary, visual and multi-media works that engage critical issues, themes and debates related to the arts, humanities and social sciences. Topics of special interest to IJCAS include ethnomusicology, cultural creation, social inclusion, social change, cultural management, creative industry, arts education, performing arts, and visual arts.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
Shifting Aesthetics: Why "Appropriateness" is the New Goal of Artistic Research in Design Winta Adhitia Guspara
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i2.17773

Abstract

This article is another facet of my thesis, a reflection on the process I've been through. I aim to bring the concept of "appropriateness" to life more fully in the realm of artistic research, which inherently encompasses not only functional aspects but also aesthetic, ethical, and moral considerations. Through this more profound understanding of appropriateness, the debate about what is "useful" and what is "good" shifts to a more fundamental and principled question: what is "true and meaningful." I address this understanding through the lens of design and ergonomics, which makes the body the determining subject, rather than the object to be measured. The argument I develop is a rethinking of the interaction between the body and the tool/product, beyond mere mechanics, to embody the body as a medium for generating design knowledge. This knowledge is divided into two categories: tacit knowledge and embodied knowledge, which will be integral to the development of user experiences.The investigation in my thesis involved participants with spinal cord injuries resulting from work accidents, traffic accidents, and disaster survivors, who ultimately suffered paraplegia. The approach used was ethnography, specifically participant observation and ethnographic interviews, combined with the principles of somaesthetic design. During the investigation and design of mobility aids, shifts in sensation were identified as a form of user experience that occurs when the device/product is modified. The process of individuals with paraplegia fighting for the fundamental right to mobility involves social, ethical, functional, and aesthetic considerations. Based on my reflection on this research experience, I have developed a hypothesis about how to design user experiences through the principles of somatic work, which shape bodily experiences and are translated into design. The situation is more encouraging from my reflection on conducting research with those who have paraplegia, in that I learned how not to become a parasitic researcher. Pergeseran Estetika: Mengapa “Kesesuaian” Merupakan Tujuan Baru Penelitian Artistik dalam Desain AbstrakArtikel ini merupakan aspek lain dari tesis saya, sebuah refleksi atas proses yang telah saya lalui. Saya bertujuan untuk menghidupkan konsep "kesesuaian" secara lebih utuh dalam ranah penelitian artistik, yang secara inheren mencakup tidak hanya aspek fungsional tetapi juga pertimbangan estetika, etika, dan moral. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang kesesuaian ini, perdebatan tentang apa yang "berguna" dan apa yang "baik" bergeser ke pertanyaan yang lebih fundamental dan berprinsip: apa yang "benar dan bermakna". Saya membahas pemahaman ini melalui lensa desain dan ergonomi, yang menjadikan tubuh sebagai subjek penentu, alih-alih objek yang diukur. Argumen yang saya kembangkan adalah pemikiran ulang tentang interaksi antara tubuh dan alat/produk, melampaui sekadar mekanika, untuk mewujudkan tubuh sebagai media untuk menghasilkan pengetahuan desain. Pengetahuan ini dibagi menjadi dua kategori: pengetahuan tersirat dan pengetahuan yang diwujudkan, yang akan menjadi bagian integral dalam pengembangan pengalaman pengguna.Investigasi dalam tesis saya melibatkan partisipan dengan cedera tulang belakang akibat kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, dan penyintas bencana, yang akhirnya menderita paraplegia. Pendekatan yang digunakan adalah etnografi, khususnya observasi partisipan dan wawancara etnografi, yang dipadukan dengan prinsip-prinsip desain somaestetik. Selama investigasi dan perancangan alat bantu mobilitas, pergeseran sensasi diidentifikasi sebagai bentuk pengalaman pengguna yang terjadi ketika perangkat/produk dimodifikasi. Proses individu dengan paraplegia memperjuangkan hak fundamental untuk mobilitas melibatkan pertimbangan sosial, etika, fungsional, dan estetika. Berdasarkan refleksi saya terhadap pengalaman penelitian ini, saya telah mengembangkan hipotesis tentang bagaimana merancang pengalaman pengguna melalui prinsip-prinsip kerja somatik, yang membentuk pengalaman tubuh dan diterjemahkan ke dalam desain. Situasi ini lebih menggembirakan dari refleksi saya dalam melakukan penelitian dengan mereka yang memiliki paraplegia, karena saya belajar bagaimana untuk tidak menjadi peneliti parasit. 
Interactive Illustrated Book with AR Technology as a Supportive Tool to Help Overcome Anxiety in Early Childhood Devina Sisilia Sutandy; Aniendya Christianna; Luri Renaningtyas
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i2.15864

Abstract

This study examines the role of interactive illustrated books as supportive educational media for early childhood learners aged 3–6 years, viewed from a visual communication and emotional learning perspective. The research explores how visual storytelling and interactive features, such as pop-up elements, mini activities, and limited augmented reality (AR) integration, can support children’s ability to recognize and manage early experiences of anxiety. A qualitative research approach was employed, involving interviews with child psychologists and early childhood education practitioners, questionnaires distributed to parents, and a literature review. User testing was conducted through individual and group trials to evaluate children’s responses to the designed media. The findings indicate positive responses from children, parents, and teachers in terms of engagement, usability, and emotional expression related to overcoming anxiety in early childhood. The study concludes that interactive illustrated books function not merely as entertainment, but as mediating tools that bridge emotional communication between children and adults. Furthermore, the findings suggest that augmented reality can serve as a complementary feature that enhances engagement without replacing the tactile and relational strengths of physical books in early childhood emotional learning contexts.Buku Ilustrasi Interaktif dengan Teknologi AR sebagai Alat Pendukung untuk Membantu Mengatasi Kecemasan pada Anak Usia Dini AbstrakPenelitian ini mengkaji peran buku bergambar interaktif sebagai media pendidikan pendukung bagi anak usia dini (3–6 tahun), dilihat dari perspektif komunikasi visual dan pembelajaran emosional. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana narasi visual dan fitur interaktif, seperti elemen pop-up, aktivitas mini, dan integrasi augmented reality (AR) yang terbatas, dapat mendukung kemampuan anak dalam mengenali dan mengelola pengalaman awal kecemasan. Pendekatan penelitian kualitatif digunakan, melibatkan wawancara dengan psikolog anak dan praktisi pendidikan anak usia dini, kuesioner yang dibagikan kepada orang tua, serta tinjauan literatur. Uji coba pengguna dilakukan melalui uji coba individu dan kelompok untuk mengevaluasi respons anak-anak terhadap media yang dirancang. Temuan menunjukkan respons positif dari anak-anak, orang tua, dan guru dalam hal keterlibatan, kemudahan penggunaan, ekspresi emosional terkait dengan bagaimana anak usia dini dapat mengatasi kecemasannya. Studi ini menyimpulkan bahwa buku ilustrasi interaktif tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat perantara yang menjembatani komunikasi emosional antara anak-anak dan orang dewasa. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa realitas tertambah dapat berfungsi sebagai fitur pelengkap yang meningkatkan keterlibatan tanpa menggantikan kekuatan taktil dan relasional buku fisik dalam konteks pembelajaran emosional pada masa kanak-kanak. 
Making Humans Matter In Art: A Southeast Asian Lens Bridget Tracy Tan
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i2.17782

Abstract

The age of mass media, AI, machine learning and LLMs (large language models) has considerably diminished concepts of an original visual language in painting and related visual arts. If we regard the visual language as conveying values across humanity, what then does this erosion speak of in civilisation? In representation, what are artists creating and what are audiences looking at inside the artwork? How can we elucidate human values, and understand the nexus of historical depth, the problematisation of geopolitical identities and aesthetics all at once in 'art'? Referencing examples of contemporary Southeast Asian artists in painting and image making, this presentation suggests a relationship of space in the visual field to consciousness - consciousness, as the wellspring of values. This hopefully facilitates new ontological refraction in an increasingly volatile, cultural environment. How can Southeast Asian art speak to its region? How can it rationalise the global environment at a breaking point? How can it generate empathy and care, that we might learn to become human again? Menjadikan Manusia Bermakna dalam Seni: Perspektif Asia TenggaraAbstrak Era media massa, kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin, dan LLM (large language models) telah secara signifikan mengikis konsep bahasa visual yang orisinal dalam seni lukis dan seni visual terkait. Jika bahasa visual dipahami sebagai medium penyampai nilai-nilai kemanusiaan, maka apa makna pengikisan tersebut bagi peradaban? Dalam praktik representasi, apa yang sesungguhnya diciptakan oleh seniman dan apa yang dilihat oleh audiens di dalam karya seni? Bagaimana kita dapat mengelaborasi nilai-nilai kemanusiaan serta memahami keterkaitan antara kedalaman historis, problematisasi identitas geopolitik, dan estetika secara simultan dalam “seni”? Dengan merujuk pada contoh seniman Asia Tenggara kontemporer dalam seni lukis dan penciptaan citra, presentasi ini mengemukakan adanya relasi antara ruang dalam medan visual dan kesadaran—di mana kesadaran dipahami sebagai sumber utama nilai-nilai. Pendekatan ini diharapkan dapat memfasilitasi pembiasan ontologis baru dalam lingkungan kultural yang kian bergejolak. Bagaimana seni Asia Tenggara dapat berbicara kepada wilayahnya sendiri? Bagaimana ia dapat merasionalisasi lingkungan global yang berada di titik kritis? Bagaimana seni dapat menumbuhkan empati dan kepedulian, agar kita dapat belajar untuk menjadi manusia kembali?
Arts Management Program Learning Outcomes at Indonesia Institute of the Arts (ISI) Yogyakarta M. Kholid Rozaq; Trisna Pradita Putra
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i2.17200

Abstract

In commemorating a decade of the Arts Management Study Program ISI Yogyakarta, this research examined the suitability of Arts Management learning outcomes through the actual competencies demanded in the marketplace, particularly to support the alums's careers as arts managers. This study aims to assess whether the learning outcomes formulated by the Arts Management Study Program at the Indonesia Institute of the Arts (ISI) Yogyakarta are relevant and fulfill the demands in the arts management industry. This study is crucial to evaluate and develop the curriculum foundation for the Arts Management Study Program in ISI Yogyakarta over the past ten years. Moreover, this research will contribute in establishing a reference for similar study programs in Indonesia. The research adopted the CIPP evaluation method, focusing on the input and output aspects. Data was collected through in-depth interviews with five alums and online questionnaire surveys with 54 Arts Management study program alums. Data analysis involved quantitative analysis of the questionnaires and qualitative content analysis of the transcripts from the alum interviews. The results of the data analysis indicate that the learning outcomes of the Arts Management study program and the planning programs to produce alum profiles in three aspects: knowledge, skills, and attitudes, are aligned with the demands in the marketplace. Although most of the learning outcomes of the Arts Management study program are in line with the requirements of the arts management profession, there are some evaluation points for further development, such as knowledge of data analysis, professional ethics, and technical expertise in producing art events. Capaian Pembelajaran Program Studi Manajemen Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta AbstrakPenelitian ini dilakukan dalam rangka memperingati satu dekade Program Studi Tata Kelola Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yaitu mengkaji kesesuaian capaian pembelajaran program studi Tata Kelola Seni dengan realitas kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Hal ini dilakukan sebagai upaya program studi untuk mendukung alumni dalam menjalankan profesi mereka sebagai pengelola seni. Demi tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan menguji apakah capaian pembelajaran yang telah dirumuskan oleh program studi Tata Kelola Seni sudah relevan dan menjawab kebutuhan dunia kerja di industri pengelolaan seni. Kajian terhadap program studi Tata Kelola Seni yang sudah berjalan selama sepuuh tahun ini menjadi penting karena perlu adanya upaya evaluasi dan pengembangan kurikulum yang fundamental di dalam program studi. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi referensi dalam proses pendirian program studi serupa di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi metode evaluasi CIPP, khususnya dengan melihat aspek input dan output dari program studi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 5 orang alumni dan pengisian kuesioner online terhadap 54 orang alumni program studi Tata Kelola Seni. Analisis data dilakukan melalui analisis kuantitatif terhadap kuesioner dan analisis isi kualitatif terhadap hasil transkrip wawancara alumni Tata Kelola Seni. Hasil analisis data menunjukkan bahwa capaian pembelajaran program studi Tata Kelola Seni yang dirancang untuk menghasilkan profil alumni dalam tiga aspek, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) telah sesuai dengan kebutuhan di marketplace. Meski sebagian besar capaian pembelajaran program studi Tata Kelola Seni telah sesuai dengan kebutuhan profesi pengelola seni, namun terdapat beberapa poin evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut, yaitu pengetahuan tentang analisis data, etika profesi, serta pengetahuan teknis produksi event seni.
A Quantitative Study on the Effect of Expressive Arts Therapy on Resilience Among Homeless Youth Sahitya MG; Sakshi Kaul
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i2.16441

Abstract

Homeless Adolescents is a significant social issue that poses substantial risks to mental health and wellbeing. Despite these challenges, many homeless adolescents demonstrate resilience—the ability to adapt positively to adversity. This study evaluates the effectiveness of a 20-week expressive arts therapy intervention in enhancing resilience among homeless adolescents, with a focus on hardiness, optimism, resourcefulness, and a sense of purpose. Utilizing a quantitative pre-test and post-test design, the study assessed resilience levels using the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) before and after the intervention. A sample of 60 adolescents (30 boys and 30 girls) from shelter homes in Chennai participated in the study. Results show significant improvements in resilience-related factors, especially among girls, suggesting that expressive arts therapy effectively enhances emotional regulation, coping strategies, and psychological recovery in homeless adolescents. These findings underscore the potential of therapeutic interventions to foster resilience in at-risk youth populations and provide insight into gender-specific responses to such programs. Studi Kuantitatif tentang Pengaruh Terapi Seni Ekspresif terhadap Resiliensi Remaja Tunawisma AbstrakRemaja tunawisma merupakan permasalahan sosial yang signifikan dan menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis. Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, banyak remaja tunawisma menunjukkan resiliensi, yaitu kemampuan untuk beradaptasi secara positif dalam menghadapi kondisi yang penuh tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi terapi seni ekspresif selama 20 minggu dalam meningkatkan resiliensi remaja tunawisma, dengan fokus pada aspek ketangguhan (hardiness), optimisme, kemandirian dalam memanfaatkan sumber daya (resourcefulness), serta rasa tujuan hidup. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat resiliensi sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Sampel penelitian terdiri atas 60 remaja (30 laki-laki dan 30 perempuan) yang berasal dari rumah singgah di Chennai. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada faktor-faktor resiliensi, khususnya pada remaja perempuan. Temuan ini mengindikasikan bahwa terapi seni ekspresif efektif dalam meningkatkan regulasi emosi, strategi koping, serta pemulihan psikologis pada remaja tunawisma.Hasil penelitian ini menegaskan potensi intervensi terapeutik dalam menumbuhkan resiliensi pada kelompok remaja berisiko, serta memberikan wawasan mengenai perbedaan respons berdasarkan gender terhadap program terapi tersebut.
The Therapeutic Effect of Weightless Music to Reduced the Anxiety of Preoperative Patient Djohan Djohan; Yanuarius Jefri Kriswanto; Phakkharawat Sittiprapaporn; Surasak Jamnongsarn
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i2.18279

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of tempo elements through the creation of new music played to patients preoperatively to reduce anxiety levels. Anxiety in preoperative patients can be a risk factor for increased postoperative anxiety if not previously given appropriate intervention. Anxiety can cause aggressive reactions and increase the patient's experience of distress and difficulty with pain management. Music creation with tempo manipulation and sedative concepts is used to reduce the anxiety level of preoperative patients because it has a character that can provide a relaxing sensation, especially slow tempo and simple melody (William, 2018). One-shot case study pre-experimental research method was used to determine the therapeutic effect of weightless music. Five participants consisted of randomly selected preoperative patients aged 18-40 years. Each participant listened to slow tempo music for 15 minutes as a form of non-pharmacological intervention to reduce anxiety and there was no placebo. The results show that there is a decrease in anxiety levels in preoperative patients and 80% of participants thought that tempo is the most influential musical element. Tempo with a speed between 50-60 bpm can cause a pleasant sensation for subjects who are treated to listening to music. Based on the experimental results, the effect of music on reducing the level of preoperative anxiety then created new musical works.Efek Terapeutik Musik Weightless dalam Menurunkan Kecemasan Pasien Praoperasi AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh unsur tempo melalui penciptaan musik baru yang diperdengarkan kepada pasien praoperasi dalam menurunkan tingkat kecemasan. Kecemasan pada pasien praoperasi dapat menjadi faktor risiko meningkatnya kecemasan pascaoperasi apabila tidak diberikan intervensi yang tepat sejak awal. Kecemasan dapat memicu reaksi agresif serta meningkatkan pengalaman distres pasien dan kesulitan dalam pengelolaan nyeri. Penciptaan musik dengan manipulasi tempo dan konsep sedatif digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien praoperasi karena memiliki karakter yang mampu memberikan sensasi relaksasi, terutama musik dengan tempo lambat dan melodi sederhana (William, 2018). Penelitian ini menggunakan metode praeksperimen dengan desain one-shot case study untuk mengetahui efek terapeutik musik weightless. Partisipan penelitian berjumlah lima orang pasien praoperasi berusia 18–40 tahun yang dipilih secara acak. Setiap partisipan mendengarkan musik bertempo lambat selama 15 menit sebagai bentuk intervensi nonfarmakologis untuk menurunkan kecemasan, tanpa pemberian plasebo. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pada pasien praoperasi, dan sebanyak 80% partisipan menyatakan bahwa tempo merupakan unsur musik yang paling berpengaruh. Tempo dengan kecepatan antara 50–60 bpm mampu menimbulkan sensasi menyenangkan bagi subjek yang menerima perlakuan mendengarkan musik. Berdasarkan hasil eksperimen tersebut, disimpulkan bahwa musik berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan praoperasi, yang selanjutnya menjadi dasar penciptaan karya musik baru.
Jaipongan Kiwari: Creativity, Innovation, and Identity Representation as a Response to Discourse on the Socio-Cultural Dynamics of the Sundanese Community Pradasta Asyari; Lilis Sumiati
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 13, No 1 (2026): June 2026
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v13i1.19238

Abstract

The transformation of Jaipongan Kiwari shows how performing arts can adapt to social changes and contemporary demands while preserving their traditional roots. Innovations in themes and dramatic structure allow for flexibility while maintaining core Sundanese cultural values. This study explores Jaipongan Kiwari as a space for negotiating cultural identity, emphasizing the tension between artistic expression and social change. Using interpretive qualitative methods and Critical Theory analysis, it reveals that Jaipongan's transformation extends beyond aesthetic aspects to closely relate to the ongoing dynamics of cultural identity (cultural becoming). This change is not only influenced by external factors but also driven by active efforts to reconstruct existing values. It highlights the relationship between Art, Knowledge, and Power, where market forces and access to formal education influence what is considered legitimate art. Ultimately, Jaipongan Kiwari acts as a performative bridge between cultural tradition and modern aesthetic exploration, reflecting the complex social dynamics of Sundanese society in today’s world.Jaipongan Kiwari: Kreativitas, Inovasi, dan Representasi Identitas sebagai Respons terhadap Wacana Dinamika Sosial Budaya Masyarakat Sunda Abstrak Transformasi Jaipongan Kiwari merepresentasikan bagaimana seni pertunjukan mampu beradaptasi secara dinamis terhadap perubahan sosial dan tuntutan zaman tanpa kehilangan akar tradisionalnya. Inovasi pada aspek tematik dan struktur dramatik membuka ruang adaptabilitas yang luas, sembari tetap menginternalisasikan nilai-nilai budaya Sunda yang fundamental. Penelitian ini mengkaji Jaipongan Kiwari sebagai arena negosiasi identitas budaya, dengan menyoroti dialektika antara representasi artistik dan perubahan sosial. Menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan pisau analisis Critical Theory, penelitian ini mengungkap fakta bahwa transformasi Jaipongan tidak hanya berkutat pada ranah Aesthetic Text, melainkan berkelindan erat dengan konteks dinamika identitas budaya yang terus berkembang (Cultural Becoming). Dalam perspektif yang lebih luas, perubahan ini tidak semata-mata dideterminasi oleh faktor eksternal, melainkan digerakkan oleh peran aktif Agency dalam merekonstruksi nilai-nilai yang ada. Fenomena tersebut menyingkap relasi trikotomi antara Art, Knowledge, and Power dalam masyarakat, di mana dominasi mekanisme pasar dan akses terhadap pendidikan formal menjadi penentu legitimasi sebuah karya seni. Pada akhirnya, Jaipongan Kiwari berfungsi sebagai wahana performatif yang menjembatani ketegangan antara konservatisme budaya dan penjelajahan estetika kontemporer, sekaligus mengilustrasikan kompleksitas dinamika kehidupan masyarakat Sunda di era modern.
Articulating the Unsymbolized: Vocal Fragility and Affective Voice in Mantagi Ratok Practice Nurkholis Nurkholis
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 13, No 1 (2026): June 2026
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v13i1.19785

Abstract

This study examines vocal fragility as an articulatory mechanism through which affective experience is processed within artistic vocal practice. Using a qualitative phenomenological approach, the research is grounded in a practice-led exploration involving vocal exercises, participant reflections, and process documentation. The study focuses on how affective experiences that are not fully symbolized emerge through the body and are articulated through voice. The findings demonstrate that vocal fragility, manifested through broken voice, unstable breath, and fragmented sound, does not function as a technical limitation, but as a condition of articulation. Three interrelated modes are identified: fragmentation, relationality, and articulation, which describe how affective experience is structured and sustained through vocal practice. These modes indicate that voice operates not merely as an expressive medium, but as a dynamic site where body, affect, and meaning are continuously negotiated. The study proposes Mantagi Ratok as a conceptual and practical model of affective vocal articulation, positioning vocal practice as a process of knowledge production grounded in embodied experience. By reframing vocal instability as an operative mechanism rather than a deviation, this research contributes a new understanding of voice as a site where subjective experience is not simply expressed, but actively articulated and transformed.Mengartikulasikan yang Tak Tersimbolkan: Kerapuhan Vokal dan Suara Afektif dalam Praktik Mantagi Ratok Abstrak Penelitian ini mengkaji kerapuhan suara sebagai mekanisme artikulasi melalui mana pengalaman afektif diproses dalam praktik vokal artistik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini berangkat dari eksplorasi berbasis praktik yang melibatkan latihan vokal, refleksi partisipan, serta dokumentasi proses. Fokus penelitian terletak pada bagaimana pengalaman afektif yang tidak sepenuhnya tersimbolkan muncul melalui tubuh dan diartikulasikan melalui suara. Temuan menunjukkan bahwa kerapuhan suara yang termanifestasi dalam suara pecah, napas tidak stabil, dan bunyi terfragmentasi, tidak berfungsi sebagai keterbatasan teknis, melainkan sebagai kondisi artikulasi. Tiga modus yang saling berkaitan diidentifikasi, yaitu fragmentasi, relasionalitas, dan artikulasi, yang menjelaskan bagaimana pengalaman afektif dibentuk dan dipertahankan melalui praktik vokal. Modus-modus ini menunjukkan bahwa suara tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, tetapi sebagai ruang dinamis tempat tubuh, afek, dan makna terus dinegosiasikan. Penelitian ini mengajukan Mantagi Ratok sebagai model konseptual dan praktis artikulasi vokal afektif, dengan menempatkan praktik vokal sebagai proses produksi pengetahuan yang berakar pada pengalaman embodied. Dengan mereposisi ketidakstabilan vokal sebagai mekanisme operasional alih-alih penyimpangan, penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang suara sebagai ruang di mana pengalaman subjektif tidak sekadar diekspresikan, tetapi secara aktif diartikulasikan dan ditransformasikan.
Interior Design Principles for Well-Being in Supporting a Therapeutic Environment Gracia Veronica; Rizky Nurfitri Chairany
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 13, No 1 (2026): June 2026
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v13i1.19702

Abstract

Interior design plays an important role in shaping the quality of environments that support the psychological well-being of space users, particularly in the context of activity-based therapy spaces. This study aims to examine how the application of interior wellbeing principles through ergonomic approaches and sensory experience management can support psychosocial regulation in therapeutic practice. This approach positions space not merely as a container for activities but also as a medium that contributes to the therapeutic process. This study employs a qualitative approach through literature review and conceptual analysis of the relationships between ergonomics, spatial arrangement, and interior environmental quality, such as lighting and acoustics. The findings indicate that environments designed with consideration for bodily stability, environmental stimulation control, and clear spatial organization can create conditions that support self-reflection, concentration, and emotional balance among space users. The integration of comfortable lighting, controlled acoustic quality, and ergonomic furniture arrangement enables a balanced sensory experience, allowing users to interact with the space in a more stable and focused manner. The findings of this study indicate that the application of interior wellbeing principles contributes to supporting the psychosocial regulation process, characterized by emotional stability, enhanced focus, psychological comfort, and deeper engagement in therapeutic activities. As such, interior design holds potential as an integral component in activity-based therapeutic practice. This study affirms that the integration of ergonomics, sensory experience, and interior environmental quality can serve as an important conceptual framework in the development of human well-being-oriented therapy spaces. Prinsip-prinsip Desain Interior untuk Kesejahteraan dalam Mendukung Lingkungan Terapi Abstrak Desain interior memiliki peran penting dalam membentuk kualitas lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis pengguna ruang, khususnya dalam konteks ruang terapi berbasis aktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan prinsip interior wellbeing melalui pendekatan ergonomi dan pengelolaan pengalaman sensori dapat mendukung regulasi psikososial dalam praktik terapi. Pendekatan ini menempatkan ruang tidak hanya sebagai wadah aktivitas, tetapi juga sebagai medium yang berkontribusi terhadap proses terapeutik. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis konseptual terhadap hubungan antara ergonomi, penataan ruang, serta kualitas lingkungan interior seperti pencahayaan dan akustik. Hasil kajian menunjukkan bahwa lingkungan yang dirancang dengan mempertimbangkan stabilitas tubuh, pengendalian stimulasi lingkungan, serta organisasi ruang yang jelas dapat menciptakan kondisi yang mendukung refleksi diri, konsentrasi dan keseimbangan emosional pengguna ruang. Integrasi antara pencahayaan yang nyaman, kualitas akustik yang terkendali, serta penataan furniture yang ergonomis memungkinkan terciptanya pengalaman sensori yang seimbang sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan ruang secara lebih stabil dan terfokus. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip interior wellbeing berkontribusi dalam mendukung proses regulasi psikososial yang ditandai oleh stabilitas emosi, peningkatan fokus, kenyamanan psikologis, serta keterlibatan yang lebih mendalam dalam aktivitas terapi. Dengan demikian, desain interior memiliki potensi sebagai bagian integral dalam praktik terapi berbasis aktivitas. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara ergonomi, pengalaman sensori dan kualitas lingkungan interior dapat menjadi kerangka konseptual penting dalam pengembangan ruang terapi yang berorientasi pada kesejahteraan manusia.
Manifesting Bolaang Mongondow Local Wisdom Through the Creation of Sinungkudan Dance Riana Diah Sitharesmi; Trubus Semiaji
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 13, No 1 (2026): June 2026
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v13i1.19618

Abstract

This paper examines the manifestation of Bolaang Mongondow local wisdom in the creation of Sinungkudan dance as a contemporary reconstruction of the traditional Mosau’ dance. The study aims to explore how local cultural values can be revitalised through dance creativity while maintaining their philosophical and aesthetic roots. The research applies a qualitative approach through autoethnography and artistic-based research as research method, positioning the researchers as both cultural participants and artistic collaborators in the creative process. The data were collected through participatory observation, studio practice documentation, interviews, reflective journals, and performance recordings. The findings show that Sinungkudan transforms the movement motifs, symbolic properties, musical elements, and social meanings of Mosau’ into a new choreographic form that remain closely connected to Bolaang Mongondow cultural identity. The local wisdom manifested in the dance includes values of courage, kinship, resilience, collective solidarity, respect for women, and social harmony rooted in the Mogama tradition. Through contemporary presentation strategies familiar to younger generations, Sinungkudan functions not only as an artistic performance but also as a medium for cultural revitalisation and intergenerational transmission of local values. Manifestasi Nilai Lokal Bolaang Mongondow dalam Kreasi Tari Sinungkudan Abstrak Tulisan ini mengkaji manifestasi kearifan lokal Bolaang Mongondow dalam penciptaan tari Sinungkudan sebagai rekonstruksi kontemporer atas tari tradisional Mosau’. Kajian bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat dihidupkan kembali melalui kreativitas tari dengan tetap mempertahankan akar filosofis dan estetiknya. Penelitian menerapkan pendekatan kualitatif melalui autoetnografi dan penelitian berbasis seni sebagai metode riset, menempatkan para peneliti sebagai partisipan budaya dan kolaborator artistik dalam proses kreatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, dokumentasi praktik studio, wawancara, jurnal reflektif, dan rekaman pertunjukan. Temuan menunjukkan bahwa Sinungkudan mentransformasikan motif gerakan, sifat simbolik, unsur musik, dan makna sosial Mosau’ menjadi bentuk koreografi baru yang tetap terhubung erat dengan identitas budaya Bolaang Mongondow. Kearifan lokal yang termanifestasi dalam tarian tersebut mencakup nilai-nilai keberanian, kekerabatan, ketahanan, solidaritas kolektif, penghormatan terhadap perempuan, dan harmoni sosial yang berakar pada tradisi Mogama. Melalui strategi presentasi kontemporer yang familiar bagi generasi muda, Sinungkudan berfungsi tidak hanya sebagai pertunjukan artistik tetapi juga sebagai media untuk revitalisasi budaya dan transmisi nilai-nilai lokal antar generasi.