cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Experimental Liquefaction Study of Southern Yogyakarta Using Shaking Table Mase, Lindung Zalbuin
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1507.77 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.1.2

Abstract

AbstractAn experimental study using shaking table was conducted to learn liquefaction. Samples used were sandy soils from South of Yogyakarta Special Region Province. Analysis of liquefaction potential was performed by considering several factors, i.e. peak ground acceleration (PGA) of 0.3 g to 0.4 g, vibrational frequency of 1.8 Hz, and vibration duration of 8, 16, and 32 seconds which reflect earthquake magnitudes of 5, 6, and 7. The pore water pressure was measured by using a pressure transducer. Liquefaction potential was determined by using the parameter of excess pore water pressure ratio (ru). Liquefaction potentially occurred when ru > 1, whereas ru < 1 indicated liquefaction didn’t occur. The results of test showed that liquefaction potentially occur in each applied dynamic load, that maximum excess pore wate pressure (ru max) measured was equal to or larger than 1. The larger peak ground acceleration applied, the faster beginning time of liquefaction. The bigger peak ground acceleration applied, the slower dissipation time of pore water pressure. The duration of liquefaction become longer, along with the increase of applied peak ground acceleration. The bigger applied peak ground acceleration, the larger maximum excess pore water pressure.AbstrakSebuah penelitian eksperimetal dengan menggunakan alat shaking table (meja getar) dilakukan untuk mempelajari likuifaksi. Bahan uji yang digunakan adalah tanah pasir yang diambil dari daerah selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Analisis potensi likuifaksi dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa parameter di antaranya percepatan maksimum gempa (PGA) sebesar 0,3 g sampai dengan 0,4 g, frekuensi getaran 1,8 Hz, dan waktu penggetaran selama 8, 16 dan 32 detik yang mewakili gempa dengan  magnitudo 5, 6, dan 7. Alat pembacaan tekanan air pori yang digunakan adalah pressure tranducer. Likuifaksi ditentukan dengan menggunakan parameter rasio peningkatan tekanan air (ru). Likuifaksi berpotensi terjadi apabila nilai ru > 1, sedangkan nilai ru < 1 mengindikasikan bahwa likuifaksi tidak berpotensi terjadi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pasir dari selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berpotensi likuifaksi untuk setiap beban dinamik yang diberikan, dimana nilai rasio peningkatan tegangan air pori maksimum (ru max) yang diperoleh bernilai lebih besar atau sama dengan satu. Semakin besar percepatan maksimum yang diterapkan, maka waktu dimulainya likuifaksi semakin cepat. Semakin besar percepatan maksimum yang diberikan, maka waktu terdisipasinya tegangan air pori akan semakin lambat. Durasi terjadinya likuifaksi menjadi semakin lama, seiring dengan bertambahnya percepatan maksimum yang diterapkan. Semakin besar percepatan maksimum yang diterapkan, maka semakin besar pula tegangan air pori maksimum yang dihasilkan. 
Nilai Kekuatan Tumpu Baut pada Empat Jenis Kayu Rakyat Indonesia Sadiyo, Sucahyo; Susanto, Dwi; Pratiwi, Nanda Elsa Sara
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.465 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.6

Abstract

AbstrakKekuatan tumpu baut merupakan salah satu parameter penting yang memengaruhi nilai desain rujukan (Z) pada sambungan tipe dowel. Di Indonesia penentuan nilai kekuatan tumpu baut dapat ditentukan berdasarkan SNI 7973-2013 yang mengadopsi standar NDS. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan nilai kekuatan tumpu baut menggunakan tiga ukuran diameter baut (1/2 in, 5/8 in, dan 3/4 in) dan empat jenis kayu rakyat Indonesia yaitu sengon (Paraserianthes falcataria), jabon (Anthocephalus cadamba), manii (Maesopsis eminii) dan nangka (Artocarpus heterophyllus) kemudian membandingkannya dengan SNI 7973. Hasil pengujian menunjukkan nilai kekuatan tumpu baut dipengaruhi oleh kerapatan dan berat jenis kayu. Nilai kekuatan tekan maksimum sejajar serat dapat digunakan sebagai parameter dalam menduga nilai kekuatan tumpu baut yang dihasilkan. Semakin tinggi kekuatan tekan maksimum sejajar serat maka kekuatan tumpu baut yang dihasilkan akan semakin tinggi pula. Nilai kekuatan tumpu baut berdasarkan jenis kayu berturut-turut yaitu sengon 161 kg/cm2, jabon 151 kg/cm2, manii 243 kg/cm2 dan nangka 392 kg/cm2. Baut dengan diameter 1/2 in memiliki nilai kekuatan tumpu baut tertinggi kecuali pada kayu jabon. Perbandingan nilai kekuatan tumpu baut pada kayu sengon dan jabon terhadap SNI 7973 cukup signifikan (16-27%) sedangkan pada kayu manii dan nangka tidak signifikan (2-3%).AbstractThe fasteners bearing strength is one of the properties that affect reference design value (Z) on dowel-type connections. In Indonesia, the value of bolt bearing strength can be determined in theory by SNI 7973 which adopt NDS standard. This study was conducted to determine the bolt bearing strength by using three bolts diameter (1/2 in, 5/8 in and 3/4 in) and four Indonesian woods community species which are sengon (Paraserianthes falcataria), jabon (Anthocephalus cadamba), manii (Maesopsis eminii) and nangka (Artocarpus heterophyllus) compared with SNI 7973. The results showed that bolt bearing strength can be affected by density and specific gravity. Moreover, the compression strength parallel to grain can be used as a parameter to predict bolt bearing strength. The higher compression strength parallel to grain, the higher bolt bearing strength will be. The bolt bearing strength based on wood species were sengon 161 kg/cm2, jabon 151 kg/cm2, manii 243 kg/cm2 and nangka 392 kg/cm2 respectively. Bolt with 1/2 in diameter has the highest bolt bearing strength except for jabon wood. The difference of bolt bearing strength on sengon and jabon versus SNI 7973 was differ significantly by 16-27% while the bolt bearing strength on manii and nangka was not differ significantly by 2-3%.
Studi Perilaku dan Mekanisme Interaksi Penggabungan Prefabricated Vertical Drain dan Deep Cement Mixing untuk Perbaikan Tanah Lunak Lesmana, Andri; Susila, Endra
Jurnal Teknik Sipil Vol 23, No 3 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1937.875 KB) | DOI: 10.5614/jts.2016.23.3.5

Abstract

Abstrak. Permasalahan geoteknik utama untuk konstruksi di atas tanah lunak adalah daya dukung tanah yang rendah dan potensi penurunan yang besar. Penelitian tentang perbaikan tanah yang berkembang saat ini memberikan alternatif-alternatif metode untuk mengatasi masalah tanah lunak. Penelitian ini difokuskan untuk mempelajari perilaku interaksi perbaikan tanah lunak dengan menggabungkan dua buah metode perbaikan tanah yaitu Prefabricated Vertical Drain(PVD) dan Deep Cement Mixing (DCM) Penelitian ini dilakukan dengan memodelkan timbunan di atas tanah lunak dengan bantuan program paket program FE profesional dengan nama PLAXIS 2D dengan menggunakan model material tanah Mohr – Coulomb (MC), Modified Cam Clay (MCC), dan Soft Soil (SS). Hasil studi menunjukan dengan penggabungan kedua metode perbaikan tanah tersebut berpotensi menggabungkan keuntungan dari kedua metoda: PVD yang mempercepat konsolidasi yang terjadi dan DCM yang dapat dapat meningkatkan daya dukung tanah dan mengontrol penurunan tanah.Abstract. The main geotechnical problems for construction on soft soils are the low bearing capacity and excessive settlement. Recent research provides us with methods to address the issues of soft soils. This research focused on studying the behaviors of interaction of combination of two soil improvement methods: Prefabricated Vertical Drain(PVD) and Deep Cement Mixing (DCM). This research was performed by modeling the embankment on of soft soils by utilizing a professional finite element software, called PLAXIS 2D. The elastic-plastic soil model with Mohr - Coulomb (MC)criteria, Modified Cam Clay (MCC) model and the Soft Soil (SS) model were selected to model soils. The results show that the incorporation of both methods can potentially combine the acceleration of consolidation of PVD and the increase of soil bearing capacity and controlling settlement of DCM.
The Use of Mixed Eulerian-Lagrangian Displacement in Geometrically Nonlinear Analysis of Structural System Hariandja, Binsar
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.35 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.1

Abstract

AbstractThe paper deals with the use of mixed Eulerian-Lagrangian displacement in geometrically nonlinear analysis of structural system, in which displacement and deformation are observed from a selected referential configuration, i.e., a configuration once occupied by the system along the loading process. The displacement measured from initial configuration into referential configuration is referred to as Eulerian displacement, and the displacement measured from referential configuration into current configuration is referred to as Lagrangian displacement. Geometrical nonlinearity of structure occurs when the displacement primarily consists of rigid body displacement, in which the choice in referential configuration is of great concern. The same deformation may be observed differently according to the choice in referential configuration. Analysis of continuum system is cast in finite element method and written in matrix formulation. The geometrical nonlinearity is approached by successive incremental steps in which the total loading is divided into several incremental loadings. The process is then linearized and incremental global stiffness matrix is used at every iteration step. The proposed mixed displacement is cast in a computer package program using Fortran language. The program is applied in several structural analysis, in which the conventional Lagrangian displacement may not be appropriate to model the analysis. AbstrakMakalah membahas penerapan perpindahan campuran Euler-Lagrange dalam analisis nonlinier geometri sistem struktur, dalam mana perpindahan dan deformasi diamati dari konfigurasi referensi yang dipilih, yaitu konfigurasi yang pernah dilalui oleh sistem selama proses pembebanan. Perpindahan yang diukur dari konfigurasi awal ke konfigurasi referensi dinamakan perpindahan Euler, dan perpindahan yang diukur dari konfigurasi referensi ke konfigurasi akhir dinamakan perpindahan Lagrange. Nonlinieritas geometri sistem struktur terjadi dalam kasus di mana perpindahan terutama mencakup perpindahan badan kaku, dalam mana pemilihan konfigurasi referensi menjadi suatu langkah penting. Deformasi yang sama dapat diamati berlainan seturut dengan pilihan konfigurasi referensi. Analisis sitem kontinu didekati dengan langkah inkremental berturutan dalam mana beban total dibagi atas beberapa beban inkremental. Proses kemudian dilinierisasi dan matriks kekakuan global inkremental digunakan pada setiap langkah iterasi. Perpindahan campuran yang diusulkan dituangkan dalam program paket komputer yang dituliskan dalam bahasa Fortran. Program diterapkan dalam analisis beberapa sistem struktur, dalam mana perpindahan Lagrange konvensional tidak cukup untuk memodelkan perpindahan dalam analisis.
Substitusi Material Pozolan Terhadap Semen pada Kinerja Campuran Semen Waani, Joice Elfrida; Elisabeth, Lintong
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2438.138 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.7

Abstract

AbstrakPenggunaan material semen dalam industri konstruksi terus meningkat dari tahun ke tahun dan peningkatan ini berakibat pada meningkatnya produksi gas buangan, co2 dialam yang berakibat pada pembentukan efek rumah kaca. Dalam rangka mengeliminasi pengaruh buruk terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh teknologi maupun penggunaan material yang tidak ramah lingkungan, para ahli dibidang rekayasa konstruksi terus berupaya untuk menemukan teknologi dan material alternatif yang dapat menghasilkan material konstruksi yang ramah lingkungan tanpa mengurangi kinerja strukturalnya. Penggunaan teknologi daur ulang perkerasan jalan dengan penambahan material alternatif pengganti semen pada konstruksi perkerasan jalan, merupakan upaya positif dalam rangka mendorong penggunaan teknologi dan material yang ramah lingkungan dibidang konstruksi bangunan teknik sipil. Material pozolan yang berupa material hasil buangan industri batu bara maupun bahan pertanian atau material pozolan alam adalah material yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti semen karena sifatnya yang menyerupai semen jika ditambahkan pada campuran semen. Penggunaan material ini sebagai material pengganti atau substitusi semen dalam campuran beton menunjukkan peningkatan workabilitas dan kinerja campuran baik pada campuran beton mutu tinggi maupun pada campuran semen dengan kekuatan rendah (low strength materials). Artikel ini membahas tentang beberapa hasil penelitian terhadap campuran beton/semen yang sebagian semennya disubstitusi dengan material pozolan yang menunjukkan berbagai keunggulan dari campuran tersebut untuk dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi, baik pada campuran beton bermutu tinggi maupun campuran semen dengan kekuatan rendah.AbstractThe use of cement material in the construction industry increase continuously from year to year and this increase results in increased production of exhaust gases, co2 in nature which resulted in the formation of the greenhouse effect. In order to eliminate the adverse influence on the environment caused by technology and the use of environmentally unfriendly materials, experts in the field of construction engineering continues the efforts to find technologies and alternative materials that can produce environmentally friendly construction material without reducing its structural performance. The use of recycled technology in pavement contruction with alternative materials as cement replacement is a positive effort in order to encourage the use of technologies and environmentally friendly materials in engineering construction. Pozzolanic material in the form of material waste product of the coal industry and agricultural materials or natural pozzolan material is a material that can be used as a cement replacement material because it is resembles a cement when added to the cement mixture. The use of this material as a material replacement or substitution of cement in the concrete mixture showed increased workability and performance either of high quality concrete or low strength materials. This article discusses some of the results of research on the cement mixture with the cement partially substituted by means of pozzolanic material showing the superiority of the mixture to be applied as a construction material, either in a mixture of highquality concrete or cement mixture with a low strength.
Efektivitas Serat Jerami Padi sebagai Lapisan Penutup Permukaan Tanah dalam Kendali Erosi Lereng Suleman, Abdul Rivai
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2683.429 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.1.8

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas serat jerami padi sebagai lapisan penutup permukaan tanah dalam kendali erosi lereng. Penelitian ini dilakukan dengan 3 variasi intensitas hujan 50 mm/jam, 100 mm/jam, 120 mm/jam. Hasil penelitian ini menunjukkan efektivitas serat jerami padi pada lapisan penutup dengan persentase 30% tereduksi jika dibandingkan tanpa lapisan penutup. Besarnya laju erosi persentase 30% atau berat kering 38,7 gr/m2 rata-rata sebesar 17,068%. Dengan kata lain, laju erosi tanpa lapisan penutup tereduksi ratarata sebesar 82,932%. Demikian pula efektivitas serat jerami padi dengan persentase 60% dan 90% atau berat kering145,1 gr/m2 dan 354,8 gr/m2 juga tereduksi jika dibandingkan tanpa lapisan penutup. Besarnya laju erosi pada persentase 60% rata-rata sebesar 7,216% dan persentase 90% rata-rata sebesar 4,392%. Dengan kata lain, laju erosi tanpa lapisan penutup tereduksi rata-rata sebesar 92,784% persentase 60% dan rata-rata 95,608% persentase 90%.AbstractThis study aims to analyze the effectiveness of rice straw fiber as a cover of surface soil in slope erosion control. This research was conducted by three variations of rainfall intensity that is 50 mm/hour, 100 mm/hour, 120 mm/ hour. The results of this study indicate the effectiveness of the rice straw fibers in the covered layer with a percentage of 30% reduced when it compared to uncovered layer. The amount of erosion rate withpercentage of 30% or with a dry weight of 38.7 g/m2p have average of 17.068%. In other words, the rate of erosion without covered layer is reduced by an average of 82.932%. Similarly, the effectiveness of the rice straw fibers with a percentage of 60% and 90% or dryweight of 145,1 gr/m2 and 354.8 g/m2 is also reduced when compared to uncovered layer. The amount of erosion rate with a percentage of 60% have an average of 7.216% and the percentage of 90% have an average of 4.392%. In other words, the erosion rate without covered layer is reduced by an average of 92.784% at percentage of 60% and an average of 95.608% at percentage of 90%.
Numerical Simulation of Bed Level Changes Around Structure Due to Waves and Current Nurdjaman, Susanna; Putra, Prayoga Aryandi
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2111.274 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.2

Abstract

AbstractInteractions between sediments in the marine environment with the dynamics of the ocean can generate sediment movement. Sedimentation and erosion is the result of these interactions, which often have a negative impact on the harbor waters or coastal environment. The purpose of this research is to understand the process of sediment transport caused by the dynamics of currents and waves on the basis of morphological changes and the potential that can lead to scour for coastal protection structures (groin).Coupled model of hydrodynamic model, spectral wave and sediment transport were conducted to study the pattern of sediment movement. Simulations carried out by varying the waveform specification that propagates to the domain model. Verification of maximum velocity magnitude due to Van Rijn (1987), Nurdjaman and Ningsih (2003), and Adilantip (2012) shows good agreement with the differences value below 5%. While verification of wave height and wave stress radiation with analytical calculation shows good comparison with the mean of differences value 15%. The results of the study indicate that scour depth of 0,955 m was formed at the end of the simulation by the discharge input only. When the discharge combined with the various wave height and periods, scour depth increases by about 3 - 14%. Location of the scour depth coincides with the location of the maximum velocity at the tip of the groin structures to the left side.AbstrakInteraksi antara sedimen di lingkungan laut dengan dinamika laut dapat menghasilkan pergerakan sedimen. Proses sedimentasi dan erosi merupakan hasil dari interaksi tersebut yang tak jarang berdampak negatif terhadap perairan pelabuhan ataupun lingkungan pesisir. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami proses transpor sedimen yang diakibatkan oleh dinamika arus dan gelombang terhadap perubahan morfologi dasar dan potensinya yang dapat mengakibatkan gerusan terhadap struktur pelindung pantai (groin). Dilakukan model kopel hidrodinamika, gelombang spektral, dan transpor sedimen untuk mempelajari pola pergerakan sedimen. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan perbedaan spesifikasi gelombang yang menjalar terhadap domain model. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan spesifikasi waveform yang merambat ke model domain. Verifikasi besarnya kecepatan aliran maksimum dari hasil model oleh Van Rijn (1987), Nurdjaman dan Ningsih (2003), dan Adilantip (2012) menunjukkan kesesuaian yang baik dengan perbedaan nilai di bawah 5%. Sedangkan verifikasi tinggi gelombang dan radiasi tegangan gelombang dengan perhitungan analitik menunjukkan perbandingan yang baik dengan rata-rata perbedaan nilai 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman gerusan 0,955 m terbentuk pada akhir simulasi dengan input debit sungai saja. Bila ddebit sungai dikombinasikan dengan berbagai tinggi dan perioda gelombang, kedalaman gerusan meningkat sekitar 3 - 14%. Lokasi kedalaman gerusan bertepatan dengan lokasi kecepatan aliran maksimum pada ujung struktur groin sisi kiri.
The Potency of Halim Perdanakusuma Airport Development as Commercial Airport Miharja, Miming; Puspaningrum, Dwitami
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.392 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.1.3

Abstract

AbstractNowadays, Halim Perdanakusuma Airport plays a role in facilitating commercial and military flight activities. In the commercial flight segment, the role of Halim Perdanakusuma airport is expected to reduce the load of  Soekarno-Hatta International Airport in serving the ever increasing flight volume. As part of this concern, this article analyzes the potency of Halim Perdanakusuma Aiport to respond the growing demand of commercial flight based on land side and air side development potential factors. The potency of development from land side is based on the space availability to meet the standard of passenger service facilities, whereas the air side is based on the airport runway capacity in accommodating the number of aircraft take-off and landing activities according to their types as well as loading capacities. The need for airport development is based on the standard of space needs for each passenger during the peak time. Analysis result shows that the most critical constraint is coming from land sidedue to space limitation for the development of various facilities required to fulfil the service standard, which available only for up to 2,750,369 total passengers per year. Meanwhile, there is no significant constraint for airport development from the air side point of view.AbstrakSaat ini, Bandara Halim Perdanakusuma berperan dalam memfasilitasi kegiatan penerbangan komersil dan militer. Pada segmen penerbangan komersial, peran Bandara Halim Perdanakusuma diharapkan dapat mengurangi beban Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam melayani volume penerbangan komersial yang semakin meningkat. Fokus tulisan ini adalah menganalisis potensi Bandara Halim Perdanakusuma dalam merespon tumbuhnya permintaan dari penerbangan komersial berdasarkan faktor-faktor potensi pengembangan sisi darat dan sisi udara. Potensi pengembanga dari sisi darat didasarkan pada ketersediaan ruang untuk memenuhi standar fasilitas pelayanan penumpang, sedangkan dari sisi udara berdasarkan pada potensi pengembangan kapasitas landasan pacu bandara dalam melayani aktifitas take-off dan pendaratan pesawat sesuai dengan jenis dan kapasitas angkutnya. Kebutuhan untuk pengembangan bandar udara didasarkan pada standar kebutuhan ruang untuk penumpang pada waktu puncak. Hasil analisis menunjukkan bahwa kendala pengembangan bandara terutama datang dari sisi darat yang disebabkan oleh keterbatasan ruang bagi pengembangan berbagai fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi standar pelayanan, yang hanya tersedia untuk melayani 2.750.369 total penumpang per tahun. Sementara itu, tidak terdapat kendala yang signikan untuk pengembangan bandara dari sisi udara. 
Penerapan Konsep Vehicle Routing Problem dalam Kasus Pengangkutan Sampah di Perkotaan Lubis, Harun Al Rasyid; Maulana, Andrean; Frazila, Russ Bona
Jurnal Teknik Sipil Vol 23, No 3 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.474 KB) | DOI: 10.5614/jts.2016.23.3.6

Abstract

Abstrak. Kota-kota di negara berkembang masih mengoperasikan pengangkutan dan pengelolaan sampah secara tradisional di sisi jalan dan atau titik transfer di mana sampah dikumpulkan secara berkala oleh truk khusus, yang akhirnya akan dibawa ke tempat pembuangan akhir. Masalahnya semakin memburuk karena beberapa kota mengalami penurunan pelayanan angkutan sampah karena pengelolaan sistem yang tidak tepat, kapasitas fiskal untuk berinvestasi dalam armada kendaraan yang memadai dan juga karena tidak terkendali lokasi tempat pembuangan. Dalam makalah ini pengangkutan dan pengelolaan sampah dirumuskan berdasarkan Capacitated Vehicle Routing Problem Time Window Multiple Depo Intermediete Facility (CVRPTWMDIF). Setiap kendaraan ditugaskan untuk mengunjungi beberapa Tempat Pemrosesan Sementara (TPS), hingga truk penuh atau kapasitas angkut tercapai, kemudian sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akhirnya semua truk kembali ke depot menjelang akhir operasi setiap harinya. Awalnya solusi CVRPTWMDIF diperiksa pada permasalahan sederhana sebelum diperiksa ke dalam pengangkutan sampah yang nyata. Solusi yang ditemukan menggunakan CVRPTWMDIFdibandingkan dengan praktek angkutan sampah di Kota Bandung, ditemukan bahwa dengan jam operasi dan jumlah armada angkut yang sama CVRPTWMDIF dapat mengurangi volume sampah yang tak terangkut hampir setengahnya pada akhir operasi harian.Abstract. Cities in developing countries still operate a traditional waste transport and handling where rubbish were collected at regular intervals by specialized trucks from curb-side collection or transfer point prior to transport them to a final dump site. The problem are worsening as some cities experience exhausted waste collection services because the system is inadequately managed, fiscal capacity to invest in adequate vehicle fleets is lacking and also due to uncontrolled dumpsites location. In this paper problem of waste collection and handling is formulated based on Capacitated Vehicle Routing Problem Time Window Multiple Depo Intermediete Facility (CVRPTWMDIF). Each vehicle was assigned to visit several intermediate transfer points, until the truck loading or volume capacity reached then waste are transported to final landfill or dump site. Finally all trucks will return to a depot at the end of daily operation. Initially the solution of CVRPTWMDIF problem was tested on a simple hypothetical waste handling before being implemented into a real case problem. Solutions found using CVRPTWMDIF compared with the practice of waste transport and handling in the city of Bandung. Based on a common hours of operation and the same number of transport fleets, it was found that CVRPTWMDIF can reduce the volume of waste that is not transported by almost half by the end of the daily operations.
The Influence of Motorcyclists’ Attitudes on Traffic Accidents and Offences Wedagama, D. M. Priyantha
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1374.646 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.2

Abstract

AbstractThis study aims at identifying determinants of motorcyclists’s attitudes and analysing their influences on the occurrence of traffic accidents and offences. A self-reported questionnaire survey was distributed in year 2016 among a representative sample of motorcyclists in Denpasar, Bali. The questionnaire consisted variables of socioeconomic factors, the use of motorcycle and riding history, learning method and experience on riding motorcycles, motorcyclist attitudes and involvement in traffic accidents and offences. The results show that age and education level influenced learning method and experiences variables while gender did on motorcyclists’ attitude. In addition, learning method and experience and motorcyclists’ attitudes on the road were two significant factors respectively that negatively affected motorcyclists’ involvement in traffic accidents and offences. In other words, ages, education level and gender have significant indirect influences on motorcyclists’ involvement in traffic accidents and offences. The influence of gender implies that compared to females, male motorcyclists are more likely to fail giving priority and violate parking signs. In comparison with females, male motorcyclists therefore, are more likely to get involved in traffic accidents and offences. Interestingly, this study indicated that motorcyclists with a higher education were not a guarantee not to involve in traffic accidents and offences.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk identifikasi faktor-faktor penentu sikap pengendara sepeda motor dan pengaruhnya terhadap terjadinya pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2016 dengan menyebarkan kuesioner kepada pengendara sepeda motor di Denpasar, Bali. Kuesioner memuat variabel-variabel sosial ekonomi, rekam penggunaan sepeda motor, teknik latihan dan pengalaman berkendara dengan sepeda motor, sikap pengendara motor dan keterlibatan terkait pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia dan tingkat pendidikan berpengaruh kepada teknik latihan dan pengalaman berkendara sementara jenis kelamin berpengaruh pada sikap pengendara sepeda motor. Teknik latihan dan berkendara dan sikap pengendara sepeda motor adalah dua faktor penting yang berdampak negatif terhadap keterlibatan pengendara sepeda motor dalam pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Usia, tingkat pendidikan dan jenis kelamin memiliki pengaruh tidak langsung pada keterlibatan pengendara sepeda motor dalam pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Pengendara sepeda motor pria, dibandingkan dengan wanita, mempunyai kemungkinan untuk tidak memberikan prioritas kepada pengendara bermotor lainnya dan pelanggaran rambu lalu lintas (parkir). Dengan perkataan lain, pengendara sepeda motor laki-laki di Denpasar, mempunyai kemungkinan terlibat pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pengendara sepeda motor dengan pendidikan tinggi bukan jaminan tidak terlibat dalam pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue