cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Factory-Built Housing in Indonesia: Current Practice and Future Challenges asiz, Andi; Munaf, Dicky R
Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 3 (2005)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.908 KB)

Abstract

Abstract. Recent earthquake and tsunami in Aceh and North Sumatra has left Indonesia big responsibility in fulfilling housing need for people who lost their homes after this calamity. Use of mass-produced, factory-built systems for housing construction is technology that can be used as a solution to this problem. Factory-built housing can be defined as houses that are partly or all constructed in factory environment, then are transported and erected/assembled at permanent site. This paper is a summary of recent practices and potential development of factorybuilt housing in Indonesia by considering several Indonesian National Standard (SNI) which available. The aim of this paper is to explain the possibility of factory-built housing technology in Indonesia. The study synthesises information collected from review and analysis of trade and scientific literatures, a series of site visits to factorybuilt housing companies in industrialized countries; and discussions with academic institutions and building regulators in Indonesia. Definitions and types of factory-built systems are presented first followed by discussion of practical, regulatory, standards, and scientific issues applicable in Indonesia. Findings are identified as potential research needs in factory-built housing.Abstrak. Gempa dan tsunami yang baru terjadi di Aceh dan Sumatera Utara mengharuskan pemerintah Indonesia untuk menyediakan perumahan untuk masyarakat yang kehilangan rumah pasca musibah tersebut. Penggunaan sistem produksi massal konstruksi perumahan adalah suatu bentuk teknologi yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah. Perumahan fabrikasi didefinisikan sebagai perumahan yang komponen-komponennya diproduksi di pabrik, kemudian dikirim dan dirangkai pada suatu tempat permanen. Makalah ini adalah ringkasan dari kondisi saat ini dan melihat potensi pengembangannya di Indonesia dengan mempertimbangkan SNI yang tersedia. Maksud dari paper ini adalah menjelaskan kebolehjadian penerapan teknologi perumahan fabrikasi di Indonesia. Studi yang dilakukan merupakan sintesa dari pengumpulan informasi dari kaji ulang dan analisis penerapan maupun kaji pustaka serta hasil kunjungan ke beberapa perusahaan terkait di negara maju, juga diskusi dengan institusi akademik dan regulator di Indonesia. Definisi dan jenis sistem perumahan fabrikasi ditampilkan yang disertai diskusi dari aspek praktis, regulasi, standard dan masalah saintifik di Indonesia. Dari pembahasan yang diberikan, ditemukan beberapa hal yang kiranya dapat menjadi potensi riset tentang topik yang dibahas.
Cold-Formed Steel-Concrete Beams Lisantono, Ade; Wigroho, Haryanto Yoso; Sari, Meita Ratna
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 2 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.357 KB)

Abstract

Abstract. Light weight material usually be chosen as a material for earthquake resistant building in order to reduce inertia force of the building. In comparison with others section, a cold-formed steel section is a lighter section and makes this section is categorized as a light weight material. During reconstruction of Yogyakarta earthquake of 27th May 2006 some housings were constructed by using cold-formed steel sections. However, investigation on the utility of cold-formed steel section for structural elements was very limited. Two experimental programs of coldformed steel-concrete beams were carried out. One of the experiment used normal weight concrete and the other used light weight concrete. In the experimental programs, the normal weight concrete had the compressive strength of 23.53 MPa, while the light weight concrete had the compressive strength of 12.91 MPa. This paper tried to analyze and compare those experimental programs. The comparison showed that the cold-formed steel beam with normal weight concrete gave higher load capacity than the cold-formed steel beam with light weight concrete. However, if the comparison was taken with respect to the ratio of compressive strength to density, the cold-formed steel beam with light weight concrete might give more promising bending elements for earthquake resistant building.Abstrak. Bahan yang ringan biasanya dipilih sebagai bahan untuk bangunan tahan gempa, dengan tujuan untuk mengurangi gaya inersia akibat gempa pada bangunan tersebut. Dibandingkan dengan profil lainnya, profil baja dengan bentukan-dingin merupakan profil yang lebih ringan sehingga membuat profil ini dapat dikategorikan sebagai bahan yang ringan. Pada rekonstruksi rumah-rumah akibat gempa Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006, beberapa diantaranya dibuat dengan menggunakan profil yang ringan yaitu profil baja bentukan-dingin sebagai elemen strukturnya. Meski banyak digunakan sebagai elemen struktur, tetapi penelitian elemen struktur yang menggunakan profil baja bentukan-dingin sangatlah terbatas. Dua program eksperimental balok yang menggunakan profil baja bentukan-dingin dengan pengisi beton telah dilakukan. Yang satu menggunakan pengisi beton normal dan yang lainnya menggunakan pengisi beton ringan. Pada program eksperimental tersebut, beton normal yang dipakai mempunyai kuat tekan 23,53 MPa, sedangkan beton ringan mempunyai kuat tekan 12,91 MPa. Makalah ini mencoba untuk menganalisis serta membandingkan kedua program eksperimental tersebut. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa balok profil baja bentukan-dingin yang berpengisi beton normal memberikan kapasitas beban yang lebih tinggi dari pada balok profil baja bentukan-dingin yang berpengisi beton ringan. Akan tetapi apabila perbandingan didasarkan pada rasio kuat tekan terhadap berat jenisnya, maka balok profil baja bentukan-dingin dengan pengisi beton ringan merupakan elemen lentur yang  lebih menjanjikan untuk digunakan sebagai elemen struktur pada bangunan tahan gempa.
Kajian Instrumen Pungutan Bagi Pengguna Jalan untuk Dana Pemeliharaan di Propinsi Jawa Barat Oetomo, Sad Marga; Sjafruddin, Ade; Santoso, Idwan
Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 1 (2006)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.489 KB)

Abstract

Abstrak. Pendapatan dari sektor transportasi jalan saat ini yang dialokasikan kembali untuk pembiayaan sektor jalan sangat rendah, khususnya untuk biaya pemeliharaan jalan. Pendapatan yang diperoleh lebih banyak melalui pungutan yang bersifat pajak yang besarannya merupakan fungsi dari nilai obyek pajak kendaraan yang tidak mencerminkan besarnya kontribusi terhadap kebutuhan biaya pemeliharaan. Instrumen pungutan untuk pemeliharaan jalan telah banyak diterapkan di beberapa negara dan dikenal sebagai dana jalan (Road Fund). Dana ini dikelola oleh stakeholders pengguna jalan agar terjamin bahwa pungutan yang dikumpulkan akan dialokasikan kembali untuk sektor jalan. Penelitian ini melakukan kajian mengenai instrumen pungutan untuk dana pemeliharaan jalan yang mencakup jenis, besaran, serta mekanismenya. Berdasarkan hasil kajian, instrumen yang terpilih adalah retribusi kendaraan, iuran BBM, dan retribusi kendaraan berat. Hal ini didasarkan dari pengalaman penerapan di banyak negara dan memenuhi beberapa kriteria yaitu : karakteristik administrasi, kemudahan dalam penerapan dan mekanisme pengumpulannya. Dari hasil perhitungan besaran pungutan per kilometer yang diperoleh dari beberapa skenario pembiayaan dan dengan membandingkan terhadap nilai biaya operasi kendaraan (BOK) dasar maka diperoleh kenaikan nilai BOK dasar akibat pungutan yang bervariasi antara 0,68 % - 3,32% tergantung jenis kendaraan. Untuk mekanisme pengumpulannya dilakukan dengan memanfaatkan mekanisme yang sudah berjalan untuk menghemat waktu dan biaya. Retribusi kendaraan melalui mekanisme pembayaran STNK, iuran BBM melalui Pertamina sebagai distributor tunggal, dan pajak kendaraan berat melalui mekanisme uji kendaraan.Abstract. In the current condition revenue from road transport sector allocated to road expenditure, especially related to road maintenance, is very low. The revenue is collected in a form of tax of the object, the vehicle. But, this does not represent the contribution of the object to the road maintenance expenditure. Charging instruments for the road maintenance have been implemented widely in many countries and known as Road Fund. The fund is managed by road’s stakeholder to assure that the collected charges will be reallocated to the road sector. This study is dealing with some aspects of the charging instrument for the road maintenance with respect to types, charges, and mechanism. Based on the literature study the selected instruments are vehicle license fee, fuel levy, and heavy vehicle license fee. This study refers to the international practices and experiences and considers some criteria such as administration characteristics, applicability, and simplicity of collecting mechanism. This study reveals that the charge per vehicle per kilometer for the maintenance expenditure based on some financing scenario increases the Vehicle Operating Cost (VOC) by 0.68% to 3.32% depending on the vehicle type. The suggested collecting mechanism is to use the established existing mechanism to save the time and cost, namely vehicle license fee through the car license plate number (STNK) payment, fuel levy through the Pertamina as the sole distributor of fuel, and heavy vehicle license fee through the car inspection mechanism.
Settlement of a Full Scale Trial Embankment on Peat in Kalimantan: Field Measurements and Finite Element Simulations Susila, Endra; Apoji, Dayu
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 3 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.699 KB)

Abstract

Abstract. This paper presents a study result of peat behaviors through numerical analysis using the finite element method verified by full scale field measurements. Site investigation, construction, instrumentation and monitoring of a trial embankment on very compressible fibrous tropical peat layers at Bereng Bengkel in Central Kalimantan have been conducted by the Agency of Research and Development, the Indonesia Ministry of Public Works. Settlement responses of the embankment have been investigated by a series of finite element simulations using two different soil constitutive models: elastic perfectly plastic model with the Mohr-Coulomb criteria and hyperbolic Hardening-Soil model. A half space finite element model has been developed using the effective stress approach. Analyses were performed with the coupled static/consolidation theory. The soil parameters, embankment geometry, construction sequence and consolidation time of peats and clays were modeled in accordance with actual field trial embankment conditions. Implementation of the numerical model and simulations has completely been performed by a computer program, PLAXIS 2D. For ground settlement behavior at center of embankment, this study result shows that both soil constitutive models have reasonably produced suitable deformation behaviors. However, the settlement behaviors at embankment toes are not as accurate as they are at center. Abstrak. Makalah ini menyajikan studi perilaku gambut melalui analisis numerik berdasarkan metode elemen hingga yang diverifikasi dengan pengukuran lapangan skala penuh. Investigasi lokasi, konstruksi, instrumentasi dan pengukuran timbunan di atas lapisan gambut tropis berserat yang sangat kompresibel di Bereng Bengkel, Kalimantan Tengah, telah dilakukan oleh Departemen Penelitian dan Pengembangan dari Departemen Pekerjaan Umum Indonesia. Respon penurunan timbinan ini telah dianalisis melalui serangkaian simulasi numerik elemen hingga menggunakan dua model konstitutif tanah: model elastis plastis sempurna dengan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb dan model hiperbolik Hardening-Soil. Model elemen hingga setengah ruang telah dibuat dengan pendekatan tegangan efektif. Seluruh tahapan simulasi telah diperhitungkan sebagai analisis statis/konsolidasi couple. Parameter tanah, geometri timbunan, tahapan konstruksi dan waktu konsolidasi gambut dan lempung dimodelkan sesuai dengan kondisi lapangan. Implementasi dari model dan simulasi numerik ini telah dilakukan menggunakan program komputer PLAXIS 2D. Untuk perilaku penurunan tanah di tengah timbunan, studi ini menunjukkan bahwa kedua model konstitutif tanah dapat menghasilkan perilaku deformasi yang cukup sesuai. Namun, prediksi perilaku penurunan tanah di kaki timbunan tidak seakurat prediksi perilaku di tengah timbunan.
Rentang Modulus dari Thin Layer yang Menunjukkan Kondisi Bonding Antar Lapisan Beraspal Hariyadi, Eri Susanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 4 (2006)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.561 KB)

Abstract

Abstrak. Untuk membantu analisis backcalculation yang melibatkan faktor bonding antar lapis perkerasan beraspal, perlu diketahui kondisi daya lekat (bonding) interface yang dimodelkan sebagai lapisan tipis (thin layer). Lapisan tipis ini tentunya mempunyai modulus kekakuan (stiffness modulus) yang mempunyai rentang tertentu sesuai kondisi daya lekatnya (bonding). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rentang modulus tersebut dengan pendekatan analitis yang dibantu dengan program komputer SAP2000. Dengan memasukkan nilai modulus thin layer yang bervariasi mulai 1 MPa sampai dengan 10000 MPa, lendutan yang terjadi akibat beban tertentu kemudian dihitung dengan program SAP2000. Dengan program CIRCLY didapat lendutan pada kondisi interface rough dan smooth sebagai referensi dalam menentukan batas-batas kondisi Rough dan Smooth pada lendutan yang dihasilkan SAP2000. Nilai rentang modulus ini adalah lendutan yang dihitung pada batas kondisi daya lekat (bonding) yang kuat dengan thin layer modulus sebesar 50 MPa dan bonding yang lemah (smooth) dengan thin layer modulus sebesar 1.6 MPaAbstract. In order to support back calculation analysis which involved bonding factor between bituminous pavement layer, information of bonding condition at the interface is required which can be modeled as a thin layer. This thin layer has a stiffness modulus with a certain range of modulus related to its bonding condition. The objective of this research is to determine the range modulus with analytical approach using SAP2000 software. Involving various thin layer modulus starting from 1 MPa until 10000 MPa yield deflection values due to certain pavement loading using SAP2000. Using CIRCLY Program obtained the deflection in rough and smooth condition as reference to determining rough and smooth condition in deflection calculation using SAP2000. These range of modulus are deflection values which are calculated on rough condition with thin layer modulus 50 MPa and on smooth condition with thin layer modulus 1.6 MPa.
Penanganan Dampak Perubahan Iklim Global pada Bidang Perkeretaapian Melalui Pendekatan Mitigasi dan Adaptasi Ridwan, Ridwan; Chazanah, Nurul
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.043 KB)

Abstract

Abstrak. Aktivitas manusia yang terus meningkat (khususnya transportasi) menyebabkan meningkatnya limbah dan polusi yang dihasilkan. Diantaranya adalah berupa emisi gas buang CO2 (Carbon dioksida). Karbon dioksida yang dihasilkan terus menerus dan dilepas ke udara akan merusak lapisan ozon di atmosfir berdampak pada terjadinya perubahan iklim global. Beberapa faktor yang terjadi diantaranya berupa: peningkatan suhu udara, kenaikan permukaan air laut, perubahan curah hujan dan peningkatan frekuensi serta intensitas kejadian cuaca ekstrem. Tentu hal ini akan mempengaruhi kembali aktivitas manusia diantaranya sektor transportasi, khususnya bidang perkeretaapian. Oleh karena itu perlu adanya penanganan preventif dan kuratif untuk mengurangi dampak yang terjadi tersebut. Salah satunya adalah dalam bentuk kebijakan Adaptasi dan Mitigasi. Studi ini akan menerangkan bagaimana pendekatan Adaptasi dan Mitigasi yang bisa dilakukan bidang perkeretaapian dalam menghadapi  perubahan iklim global yang diperkirakan terjadi dimasa-masa yang akan datang.Abstract. The ever growing human activities (particularly transportation) caused the increase in pollution and waste such as CO2. The continuous emission of CO2 into the air can destroy ozone layer in the atmosphere which will result in global climate change. Some factors that have already happened are among others: increase in air temperature, increase in sea surface level, changes in rainfall, and increase in the frequency and intensity of extreme weather condition. These will certainly affect human activities such as transportation, particularly train sector. Therefore, preventive and curative actions are needed to reduce the impact. One of the actions is the in the form of adaptation and mitigation policy. This study will explain the approach of adaptation and mitigation that can be done in train sector in dealing with global climate change which is predicted to occur in the future.
Optimasi Penjadwalan Sumberdaya dengan Metode Algoritma Genetik dan Algoritma Momen Minimum Soemardi, Biemo W; Sumirto, Dede
Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 3 (2007)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.124 KB)

Abstract

Abstrak. Penjadwalan sumberdaya merupakan salah satu aspek penting dalam pengendalian dan penjadwalan proyek. Metoda-metoda penjadwalan yang dikembangkan saat ini, seperti pendekatan coba-coba, algoritma heuristic, atau algoritma momen minimum, telah mampu menjawab problema penjadwalan sehingga fluktuasi penggunaan sumberdaya dapat diminimalkan. Selain penjadwalan sumberdaya dan problem perimbangan biaya-waktu, optimisasi dalam pencarian solusi terhadap dua fungsi objektif juga sulit dipecahkan melalui suatu program matematis sederhana. Tulisan ini membahas upaya menerapkan pendekatan algoritma genetik guna mencari solusi optimal dari problema penjadwalan sumberdaya dengan menggunakan pendekatan perimbangan biaya-waktu. Upaya mencari solusi optimal dilakukan dengan pendekatan algoritma momen minimum melalui penghitungan iteratif faktor peningkatan. Pada penelitian ini ditunjukan bahwa solusi mendekati optimal terhadap deviasi sumberdaya dan biaya total minimal dapat dicapai secara bersamaan. Abstract. Resource scheduling is one of the most important aspects of project control and scheduling. Existing methods such as Trial And Error Approach, Heuristics Algorithms, and Minimum Moment Algorithms, have the ability to solve resource scheduling problems, by means of minimizing fluctuations of resource utilization. In addition to resource scheduling and time-cost trade-off problems, the optimization for searching the optimal solution of two objective functions can hardly be solved by using simple mathematical programming. This paper presents an attempt to implement Genetic Algorithms approach in pursuit of finding optimal solution for resource scheduling problem by also considering the time-cost trade-off problems. Effort to find the optimal solution has been developed using minimum moment algorithm approach through the iterative calculation of improvement factor. The result shows that a near optimal solution for both resource schedule deviation and minimum cost can be achieved simultaneously.
Pengaruh Usia Stabilisasi pada Tanah Gambut Berserat yang Distabilisasi dengan Campuran CaCO3 dan Pozolan Mochtar, Noor Endah; Yulianto, Faisal Estu; S, Trihanyndio Rendy
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.51 KB)

Abstract

Abstrak. Tanah gambut dikenal sebagai tanah yang sangat lunak dengan kandungan organik tinggi (≥75% ). Tanah gambut memiliki perilaku yang kurang menguntungkan, yaitu daya dukung yang rendah dan pemampatan yang besar. Metode perbaikan tanah, seperti: preloading dengan beban tambahan, kolom pasir, dan galar kayu telah dilakukan untuk meningkatkan perilakunya. Hanya saja, metode tersebut tidak ramah lingkungan karena menggunakan banyak tanah dan kayu. Karena itu, metode stabilisasi menggunakan kapur telah dikembangkan untuk meningkatkan perilaku gambut. Makalah ini menyajikan efektivitas penggunaan abu sekam padi (RHA) dan Fly Ash (FA) sebagai pozolon untuk dicampurkan dengan CaCO3 sebagai bahan stabilisasi dan pengaruh Usia stabilisasi terhadap perilaku tanah gambut yang distabilisasi. Dalam studi ini, digunakan 10 % Admixture-1 (30% CaCO3 +70% RHA) dan 10% Admixture-2 (30% CaCO3 +70 % FA). Pada usia stabilisasi 20-45 hari, perilaku tanah gambut yang distabilisasi meningkat secara signifikan. Pada usia peram diatas 45 hari perilaku gambut yang distabilisasi menurun karena adanya perubahan jelly CaSiO3 menjadi kristal dan terjadinya dekomposisi serat gambut. Meskipun dua jenis admixture tersebut memberikan hasil yang baik dalam meningkatkan perilaku gambut berserat, tetapi Admixture-2 menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan karena ukuran butirannya yang lebih halus dan kemudahannya dalam pelaksanaan pencampuran.Abstract. Peat soil is known as a very soft soil with high organic content (≥ 75%). It has unfavorable behaviour, that is, low bearing capacity and very high compressibility. Soil improvement methods, such as: preloading with surcharge, sand column, and corduroy have been adopted to improve its behaviour. Those methods, however, are not environmentally friendly because they use a lot of irreversible materials. Because of that, stabilization method using lime had been developed to improve peat behaviour. This paper presents the effectiveness of using rice husk ash (RHA) and Fly Ash (FA) as pozolon to enhance the CaCO3 for stabilization material and the effect of curing period to the behavior of stabilized peat soil. In this study, 10% of Admixture-1 (30% CaCO3+70% RHA) and 10% of Admixture-2(30% CaCO3+70% FA) were used. During 20-45 days curing period, very significant improvement of the stabilized peat soil behaviour occured. After that, however, slightly decreament of the stabilized peat behaviour happened caused by the change of CaSiO3gel to be crystal and by the fibers peat decomposition. Although both types of admixtures gave good results in improving the stabilized fibrous peat behaviour, however, Admixture-2 gives more promising results due to its finergrain size and easier in mixing.
Optimisasi Bubuk Slag Nikel dengan Sistem Ternary C-A-S Ashad, Hanafi; Nasution, Amrinsyah; Imran, Iswandi; Soegiri, Saptahari
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 3 (2008)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2037.233 KB)

Abstract

Abstrak. Makalah ini mengkaji tentang optimisasi bubuk slag nikel sebagai bahan substitusi parsial semen dengan sistem ternary C-A-S (CaO-Al2O3-SiO2). Optimisasi dilakukan untuk menentukan kadar bubuk slag nikel di dalam mengkonsumsi senyawa kalsium hidroksida produk sampingan reaksi hidrasi trikalsium silikat (C3S) dan dikalsium silikat (C3S) semen dengan air sehingga membentuk senyawa lain berupa kalsium silikat hidrat (CSH) sekunder. Dalam diagram fase sistem ternary C-A-S, prosentase optimum bubuk slag nikel ditentukan melalui titik perpotongan antara garis keseimbangan reaksi pozzolanik dengan garis pencampuran bahan semen dan bubuk slag nikel. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan pendekatan diagram fase sistem ternary C-A-S tersebut, prosentase optimum bubuk slag nikel adalah 14,59%. Abstract. This papers study concerning optimization of nickel slag powder as substitution material to partial cement by C-A-S (CaO-Al2O3-SiO2) ternary system. Optimization conducted to determine procentage of nickel slag powder in the consuming calcium hydroxide compound as hydration product of tricalcium silicate (C3S) and dicalcium silicate (C2S) cement with water so that form secondary of calcium silicate hydrate (CSH) compound. By the phase diagram C-A-S ternary system, procentage of optimum nickel slag powder determined by intersection point between of balance line pozzolanic reaction and mixing line of material cement and nickel slag powder. Analysis result indicate that by approach of C-A-S ternary system, percentage optimum of nickel slag powder is 14,59%.
Analisis Numerik Link Panjang dengan Penambahan Pelat Sayap Tepi terhadap Peningkatan Kinerja Struktur Rangka Baja Berpengaku Eksentrik Musbar, Musbar; Budiono, Bambang; Setio, Herlien D.; Kusumastuti, Dyah
Jurnal Teknik Sipil Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.391 KB) | DOI: 10.5614/jts.2015.22.1.1

Abstract

Abstrak. Mengantisipasi kerusakan bangunan akibat gaya gempa, banyak model konstruksi bangunan yang terus dikembangkan dan diteliti hingga sekarang, salah satunya struktur bangunan rangka baja berpengaku eksentrik yang menggunakan elemen link sebagai bagian elemen struktur yang berfungsi untuk menyerap energi gempa. Kegagalan pada link panjang yang lebih dominan disebabkan oleh momen menyebabkan terjadinya kegagalan yang lebih awal akibat fraktur dan tekuk pada zona di ujung – ujung link terutama pada sayap. Untuk mengatasi kegagalan awal yang lebih cepat, maka dilakukan inovasi dengan menambah pengaku sayap pada tepi link. Penambahan pelat pengaku sayap tepi pada link panjang mempunyai beberapa keuntungan diantaranya; kemudahan dalam pengerjaan dan pengelasan yang minimal sehingga mengurangi pengaruh tegangan sisa akibat proses pengelasan. Penelitian ini mengkaji secara numerik dengan menggunakan perangkat lunak MSC Nastran/Patran terhadap kinerja link panjang untuk beberapa variasi model link yang dianalisis. Parameter yang dianalisis meliputi variasi yaitu: panjang link, penambahan pelat sayap tepi beserta konfigurasi pemodelannya, tebal pelat dan kombinasi dengan pengaku badan vertikal. Hasil analisis pada model modifikasi penambahan pelat pengaku tepi dapat meningkatkan kinerja link panjang dibandingkan dengan model link standar pada variabel : daktilitas, kekuatan, disipasi energi dan kekakuan.Abstract. Conducting research in anticipating earthquake damage at building has been developed continuosly. One of it is Eccentrically Braced Frame (EBF) for steel frame. EBF uses link element to absorb earthquake energy. Failure at long type link dominantly is caused by moment which make early failure because of fracture and buckling at the end of link such as in its flange. To tackle the early failure, stiffener at the end of the link has been added. The advantages of it are making easy of workmanship and minimizing the welding effort which can reduce residual stress because of welding process. This study does numerical study by using MSC Nastran/Patran program to measure the performance of long type link for several analysis types. Several parameters have been analyzed such as the length of the link, the edge addition of flange plate with its modeling configuration, the width of the plate, and the combination with vertical body stiffener. This study found that the addition of stiffener at the end of the link has increased the performance of long type link. Finally, the findings of this study are compared with that of standard link model. The variables that are compared between both of long type link and standard link are ductility, strength, energy dissipation and stiffness.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 1 (2003) Vol 10 No 1 (2003) More Issue