cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Analisis Bibliometrik Manajemen Risiko Konstruksi : 2005–2015 Andreas Wibowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 23 No 3 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2016.23.3.8

Abstract

Abstrak. Tulisan ini memaparkan tinjauan kritis perkembangan riset manajemen risiko konstruksi berdasarkan analisis bibliometrik atas 243 artikel yang dipublikasikan dalam enam jurnal-international konstruksi terkemuka selama kurun waktu 2005–2015. Analisis menunjukkan riset manajemen risiko konstruksi masih didominasi beberapa negara tertentu saja. Area spesifik riset memiliki spektrum dari decision support system sampai kontrak dengan pemodelan risiko menjadi area yang paling kerap dikaji. Pendekatan kuantitatif dan hibrid kualitatif-kuantitatif menjadi metodologi pilihan utama. Pendekatan statistik digunakan satu dari tiga artikel yang menjadikannya metode yang paling sering diterapkan dalam ranah ini. Kombinasi lebih dari satu metode juga merupakan hal yang jamak ditemukan. Di samping analisis statistik, tulisan ini juga mendiskusikan dua metode kuantitatif populer lainnya yaitu fuzzy set theory dan simulasi Monte Carlo. Tulisan ini juga menawarkan beberapa ranah riset ke depan, termasuk aplikasi manajemen risiko lebih lanjut dalam kontrak public-private-partnership/build-operatetransfer, relasi matematis antara tingkat risiko dan biaya reduksi risiko, enterprise risk management, dan perilaku terhadap risiko. Abstract. This paper presents a critical review of the development of state of the art of research in construction risk management based on a bibliometric analysis on 243 articles published in six renowned international construction journals during the years 2005–2015. The analysis demonstrated that the authorship of risk management research was dominated by only a handful of countries of origin. The spectrum of research areas ranged from decision support system to contracts with risk modeling being the most researched subject. Quantitative and hybrid of qualitative-quantitative were the primary research methodologies. Statistical approach was employed by one out three articles, making it the most widely used method in the field. A combination of more than one method was not uncommon. Beside statistical analysis, this paper discusses two other popular quantitative methods i.e. fuzzy set theory and Monte Carlo simulation. This paper also acknowledges avenues for future research, including the further application of risk management for public-private-partnership/build-operate-transfer contracts, mathematical relationships of risk level and risk-reducing cost, enterprise risk management, and risk behavior.
Sifat Fisis Dan Mekanis Kayu Dari Hutan Rakyat Dalam Uji Biodeteriorasi Di Beberapa Daerah Bagian Barat Pulau Jawa Trisna Priadi
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 3 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.3.6

Abstract

Abstrak Penggunaan kayu dari hutan rakyat untuk bangunan dan furnitur semakin banyak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisik dan mekanik kayu setelah uji biodeteriorasi alami tanpa menyentuh tanah di empat kota berbeda di bagian Barat Pulau Jawa. Kayu yang digunakan dalam penelitian ini sengon, nangka, mangium, mahoni dan kamper. Uji biodeteriorasi kayu tidak menyentuh tanah dilakukan di Bogor, Tanjung Priok, Lembang, dan Serang. Sifat fisik dan mekanik kayu diuji setelah uji lapang biodeteriorasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat kayu, berat jenis, modulus elastisitas dan modulus patah dari contoh uji kayu bervariasi di antara berbagai jenis kayu dan tempat uji. Degradasi tertinggi terjadi pada kayu sengon, sedangkan degradasi kayu mangium dan mahoni lebih tinggi daripada kayu nangka dan kamper. Sifat fisik dan mekanik kayu yang diuji di Bogor yang bercurah hujan tinggi dan bersuhu hangat lebih buruk daripada kayu yang diuji di tempat -tempat lainnya.Abstract The use of woods from community forests for building and furniture are increasing. Therefore, this study aimed to evaluate the physical and mechanical properties of woods exposed to above ground biodeterioration test in four different cities in the West part of Java Island. The woods used in this study were sengon, jackfruit, mangium, mahogany and camphor. Above ground biodeterioration test of the woods were conducted in Bogor, Tanjung Priok, Lembang, and Serang. The physical and mechanical properties of the woods were tested after the biodeterioration test. The results showed that the weight loss, specific gravity, modulus of elasticity and modulus of rupture of the woods were different among wood species and exposure palces. The highest degradation occurred in sengon wood, while degradation of mangium and mahagoni woods were higher than that of nangka and kamper woods. The physical and mechanical properties of the woods exposed in Bogor with high rainfall and warm temperature were worse than the woods exposed in the other places.
Studi Eksperimental Batang Tekan Baja Canai Dingin Diperkaku Sebagian Arif Sandjaya; Bambang Suryoatmono
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.3

Abstract

Abstrak Struktur baja canai dingin saat ini populer digunakan karena ringan, mudah digunakan, dan cepat dalam konstruksi. Kelemahan struktur baja canai dingin adalah tekuk lokal yang disebabkan tipisnya elemen penampang. Hal tersebut menyebabkan kegagalan struktur terjadi sebelum mencapai kapasitas beban tertinggi. Dalam penelitian ini, dua buah profil baja canai dingin yang disusun bersama pada bagian punggung dengan punggung sebagai batang tekan akan ditambahkan pengaku dengan tiga pola penempatan berbeda untuk meningkatkan ketahanan terhadap tekuk lokal. Hasil pengujian menunjukkan ketahanan terhadap tekuk lokal meningkat akibat berkurangnya panjang tekuk kritis sedangkan cara menempatkan pengaku tidak memberikan berpengaruh. Korelasi hasil kekuatan tekan antara perbedaan penempatan pengaku secara eksperimental diverifikasi menggunakan SNI 7971:2013 dan analisis elemen hingga.AbstractThe cold formed steel structure is currently popularly used because it is lightweight, easy to use, and fast in construction. The weakness of cold formed steel structures is the local buckling caused by the thinness of the cross-sectional elements. This causes structural failure occurs before it reaches the highest load capacity. In this study, two cold formed steel profiles arranged together on back to back as compression member will be added stiffeners with three different placement patterns to improve local buckling resistance. The test results showed increased resistance to local buckling due to the reduced length of the critical buckling while the way of placing stiffeners not give effect. The correlation of compressive strengths between experimental confinement placement differences was verified using SNI 7971: 2013 and finite element analysis. 
Karakteristik Kekuatan Leleh Lentur Baut Besi dengan Beberapa Variasi Diameter Baut Evalina Herawati; Sucahyo Sadiyo; Naresworo Nugroho; Lina Karlinasari; Fengky Satria Yoresta
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.4

Abstract

AbstrakBaut merupakan salah satu jenis alat sambung mekanis atau pengencang yang banyak digunakan dalam sambungan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan leleh lentur (Fyb) dari tiga ukuran diameter baut besi yang umum digunakan untuk sambungan kayu dan satu ukuran diameter baut baja sebagai pembanding. Spesifikasi baut yang digunakan dilihat dari dimensi dan komposisi penyusunnya. Nilai Fyb baut diperoleh dari pengujian momen leleh lentur dengan mengacu pada standar ASTM F1575. Hasil pengujian menunjukkan baut besi yang digunakan berasal dari bahan baja karbon rendah sedangkan baut baja berasal dari bahan baja karbon sedang. Nilai Fyb baut baja lebih tinggi dibandingkan baut besi. Nilai Fyb baut besi diameter 1/2 inci berbeda nyata dengan nilai baut diameter 5/8 dan 3/4 inci. Nilai Fyb ketiga diamater baut berada di atas nilai Fyb baut yang tercantum dalam SNI 7973:2013 tentang Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu.AbstractBolt is one of the mechanical fasteners that are widely used in wood connections. This study aims to determine the bending yield strength (Fyb) of three measures of bolt diameter made from iron which commonly used for the connection of wood and one measure of bolt diameter made from steel as a comparison. Specifications of bolts used can be seen from the dimensions and composition of the constituent. Testing of the bending yield strength was conducted according to ASTM F1575. The results showed that iron bolts used comes from low carbon steel, while steel bolts derived from medium carbon steel materials. Fyb value of steel bolts was higher than iron bolt. Fyb value of 1/2 inch diameter iron bolts was significantly different from the value of the bolts 5/8 and 3/4 inch in diameter. The Fyb value of three bolt diameter were above the Fyb value listed in SNI 7973:2013 concerning design specification for wood constructions.
Model Asesmen Rating Jembatan Berbasis Analytic Network Process Paksi Aan Syuryadi; Andreas Wibowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.8

Abstract

AbstrakDi Indonesia, Panduan Pemeriksaan Jembatan Direktorat Jenderal Bina  Marga 1993 sampai dengan saat ini masih digunakan sebagai panduan dalam melakukan pemeriksaan jembatan. Namun, panduan tersebut tidak menyediakan pendekatan sistematis mengintegrasikan hasil penilaian dari hierarki terendah ke hierarki yang lebih tinggi sehingga mengakibatkan penilaian akhir rentan terhadap isu inkonsistensi dan sangat tergantung pada penilaian subjektif pemeriksa. Oleh karena itu, untuk mengatasi kelemahan tersebut, penelitian ini mengusulkan model asesmen baru untuk menilai dan menentukan nilai kondisi setiap level kondisi jembatan. Model ini menggunakan Analytic Network Process untuk menentukan bobot elemen dan kerusakan elemen dan metode Delphi untuk mendapatkan konsensus dari pemeriksa jembatan untuk ketergantungan antar-kerusakan elemen. Nilai kondisi jembatan ditentukan dari skor rata-rata tertimbang akhir yang dinyatakan dari 0 sampai dengan 100 dengan nilai 0 berarti tidak terjadi kerusakan dan 100 terjadi kerusakan secara menyeluruh.Uji cobatelah dilakukan untuk menunjukkan aplikabilitasnya dengan hasil yang memuaskan.AbstractIn Indonesia, the 1993 Inspection Guideline of Directorate General of Highway has traditionally been being used for years. However, the main drawback of this guideline is that it does not provide a systematic approach to translate damages at the lowest level into the higher ones, making the resulting ratings prone to inconsistency issues and heavily dependent upon subjective assessments of bridge raters. To address this problem, this research proposes a new model for assessing and determining bridge condition states at different levels of assessment. The developed model employed the Analytical Network Process to assign weights for elements and elemental damages and Delphi method to build consensus among bridge raters for bridge damage interdepencies. The bridge condition state is expressed on the weighted average score that runs from 0 to 100 with 0 denoting "no damage" and 100 "completely damaged." Apilot test has been conducted to demonstrate its applicability with satisfactory result.  
The Use of Mixed Eulerian-Lagrangian Displacement in Geometrically Nonlinear Analysis of Structural System Binsar Hariandja
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.1

Abstract

AbstractThe paper deals with the use of mixed Eulerian-Lagrangian displacement in geometrically nonlinear analysis of structural system, in which displacement and deformation are observed from a selected referential configuration, i.e., a configuration once occupied by the system along the loading process. The displacement measured from initial configuration into referential configuration is referred to as Eulerian displacement, and the displacement measured from referential configuration into current configuration is referred to as Lagrangian displacement. Geometrical nonlinearity of structure occurs when the displacement primarily consists of rigid body displacement, in which the choice in referential configuration is of great concern. The same deformation may be observed differently according to the choice in referential configuration. Analysis of continuum system is cast in finite element method and written in matrix formulation. The geometrical nonlinearity is approached by successive incremental steps in which the total loading is divided into several incremental loadings. The process is then linearized and incremental global stiffness matrix is used at every iteration step. The proposed mixed displacement is cast in a computer package program using Fortran language. The program is applied in several structural analysis, in which the conventional Lagrangian displacement may not be appropriate to model the analysis. AbstrakMakalah membahas penerapan perpindahan campuran Euler-Lagrange dalam analisis nonlinier geometri sistem struktur, dalam mana perpindahan dan deformasi diamati dari konfigurasi referensi yang dipilih, yaitu konfigurasi yang pernah dilalui oleh sistem selama proses pembebanan. Perpindahan yang diukur dari konfigurasi awal ke konfigurasi referensi dinamakan perpindahan Euler, dan perpindahan yang diukur dari konfigurasi referensi ke konfigurasi akhir dinamakan perpindahan Lagrange. Nonlinieritas geometri sistem struktur terjadi dalam kasus di mana perpindahan terutama mencakup perpindahan badan kaku, dalam mana pemilihan konfigurasi referensi menjadi suatu langkah penting. Deformasi yang sama dapat diamati berlainan seturut dengan pilihan konfigurasi referensi. Analisis sitem kontinu didekati dengan langkah inkremental berturutan dalam mana beban total dibagi atas beberapa beban inkremental. Proses kemudian dilinierisasi dan matriks kekakuan global inkremental digunakan pada setiap langkah iterasi. Perpindahan campuran yang diusulkan dituangkan dalam program paket komputer yang dituliskan dalam bahasa Fortran. Program diterapkan dalam analisis beberapa sistem struktur, dalam mana perpindahan Lagrange konvensional tidak cukup untuk memodelkan perpindahan dalam analisis.
Maturitas Enterprise Risk Management Kontraktor Besar di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya Andreas Kurniawan; Andreas Wibowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.9

Abstract

AbstrakEnterprise Risk Management (ERM) adalah salah satu pendekatan holistik dalam mengidentifikasi risiko perusahaan yang mungkin dihadapi dan menentukan respon yang tepat dan sesuai dengan risk appetite perusahaan tersebut. Penelitian terkait ERM sudah banyak dilakukan di banyak bidang di berbagai negara, namun penelitian terkait ERM kontraktor besar di Indonesia belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat maturitas ERM kontraktor besar di Indonesia dan mengidentifikasi faktor faktor yang memengaruhi tingkat maturitas ERM. Penelitian ini melibatkan 31 kontraktor besar Indonesia dengan klasifikasi B1 dan B2. Metode perhitungan tingkat maturitas adalah fuzzy set theory karena memiliki keunggulan dalam menangani ambiguitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat maturitas ERM kontraktor Indonesia berada pada "mediumhigh". Analisis lebih lanjut menemukan adanya hubungan positif antara tingkat maturitas ERM terhadap pengalaman perusahaan, klasifikasi perusahaan, dan adopsi SNI ISO 31000:2011. Analisis juga menemukan tidak ada korelasi antara kepemilikan badan usaha dan adopsi edisi ISO 9000 yang berbeda dengan maturitas ERM.AbstractEnterprise Risk Management (ERM) is a holistic approach in identifying risks of an enterprise that may face and determines appropriate responses aligned with its risk appetite. There have been abundant research efforts focusing on ERM for many areas in many countries but none of them were specifically dedicated to measuring the ERM maturity of large Indonesian construction firms. This research aims at measuring ERM level of Indonesian large construction firms and identifying its influencing factors. This research was based on a survey involving a total of 31 construction firms of B1 and B2 class. The fuzzy set theory was used for the maturity assessment because of its merits in dealing with ambiguity. This research demonstrates that the ERM maturity of the sampled firms is "medium-high." A further correlational analysis suggests that the maturity tends to go higher for firms of longer experiences, larger size, and adopting SNI ISO 31000: 2011. The analysis also founds that there are no correlations between ownership types of enteprises and adoption of different editions of ISO 9000 and ERM maturity.
Substitusi Material Pozolan Terhadap Semen pada Kinerja Campuran Semen Joice Elfrida Waani; Lintong Elisabeth
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.7

Abstract

AbstrakPenggunaan material semen dalam industri konstruksi terus meningkat dari tahun ke tahun dan peningkatan ini berakibat pada meningkatnya produksi gas buangan, co2 dialam yang berakibat pada pembentukan efek rumah kaca. Dalam rangka mengeliminasi pengaruh buruk terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh teknologi maupun penggunaan material yang tidak ramah lingkungan, para ahli dibidang rekayasa konstruksi terus berupaya untuk menemukan teknologi dan material alternatif yang dapat menghasilkan material konstruksi yang ramah lingkungan tanpa mengurangi kinerja strukturalnya. Penggunaan teknologi daur ulang perkerasan jalan dengan penambahan material alternatif pengganti semen pada konstruksi perkerasan jalan, merupakan upaya positif dalam rangka mendorong penggunaan teknologi dan material yang ramah lingkungan dibidang konstruksi bangunan teknik sipil. Material pozolan yang berupa material hasil buangan industri batu bara maupun bahan pertanian atau material pozolan alam adalah material yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti semen karena sifatnya yang menyerupai semen jika ditambahkan pada campuran semen. Penggunaan material ini sebagai material pengganti atau substitusi semen dalam campuran beton menunjukkan peningkatan workabilitas dan kinerja campuran baik pada campuran beton mutu tinggi maupun pada campuran semen dengan kekuatan rendah (low strength materials). Artikel ini membahas tentang beberapa hasil penelitian terhadap campuran beton/semen yang sebagian semennya disubstitusi dengan material pozolan yang menunjukkan berbagai keunggulan dari campuran tersebut untuk dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi, baik pada campuran beton bermutu tinggi maupun campuran semen dengan kekuatan rendah.AbstractThe use of cement material in the construction industry increase continuously from year to year and this increase results in increased production of exhaust gases, co2 in nature which resulted in the formation of the greenhouse effect. In order to eliminate the adverse influence on the environment caused by technology and the use of environmentally unfriendly materials, experts in the field of construction engineering continues the efforts to find technologies and alternative materials that can produce environmentally friendly construction material without reducing its structural performance. The use of recycled technology in pavement contruction with alternative materials as cement replacement is a positive effort in order to encourage the use of technologies and environmentally friendly materials in engineering construction. Pozzolanic material in the form of material waste product of the coal industry and agricultural materials or natural pozzolan material is a material that can be used as a cement replacement material because it is resembles a cement when added to the cement mixture. The use of this material as a material replacement or substitution of cement in the concrete mixture showed increased workability and performance either of high quality concrete or low strength materials. This article discusses some of the results of research on the cement mixture with the cement partially substituted by means of pozzolanic material showing the superiority of the mixture to be applied as a construction material, either in a mixture of highquality concrete or cement mixture with a low strength.
Analisis Kekeringan Menggunakan Metode Theory of Run di DAS Krueng Aceh Asri Syahrial; Azmeri Azmeri; Ella Meilianda
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.8

Abstract

AbstrakKekeringan adalah kurangnya jumlah curah hujan bulanan dibandingkan dengan rata-rata bulanannya. Analisis kekeringan masih belum banyak dilakukan, khususnya untuk di luar Pulau Jawa. Analisis kekeringan berupa tingkat keparahan kekeringan yang ditunjukkan dengan intensitas kekeringan (mm/bulan) dan durasi kekeringan (bulan) beserta periode ulang kekeringannya perlu dilakukan untuk menunjang kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana kekeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan durasi dan intensitas kekeringan di DAS Krueng Aceh. Tahapan penelitian ini adalah mengumpulkan data jumlah hujan bulanan dari pos curah hujan di DAS Krueng Aceh; pengisian data curah hujan yang hilang menggunakan Metode Kombinasi (gabungan Metode Normal Ratio dan Metode Inverse Square Distance/Metode Reciprocal); perhitungan intensitas dan durasi kekeringan menggunakan metode Theory of Run. Luas DAS Krueng Aceh adalah 1.681,05 km2 meliputi 23 kecamatan. Intensitas kekeringan terparah untuk kebutuhan air palawija terjadi pada Pos Curah Hujan Seulimum 111,58 mm/bulan; sedangkan untuk kebutuhan air Padi terparah dialami oleh Pos Curah Hujan Indrapuri sebesar 138,84 mm/bulan. Durasi kekeringan terparah untuk kebutuhan air palawija terjadi pada Pos Curah Hujan Padang Tidji dengan sepanjang 14 bulan; sedangkan untuk kebutuhan air Padi terparah dialami oleh Pos Curah Hujan Blang Bintang sebesar 34 bulan. Durasi kekeringan maksimum dialami oleh Pos Lhoong selama 25 bulan pada periode 2012-2014 dan intensitas kekeringan maksimum dialami oleh Pos Lhoong sebesar 247,5 mm/bulan pada Desember 2008.AbstractDrought is the lack of monthly precipitation compared to its monthly average. Drought analysis has not been done lately, especially outside Java Region. Drought analysis of drought severity indicated by drought intensity (mm/month) and duration of drought (month) along with repeated period of drought need to be done to support preparedness in facing drought disaster. The purpose of this study is to determine the duration and intensity of drought in the Krueng Aceh basin. The research stages are collecting monthly rainfall data from rainfall station in Krueng Aceh basin; filling the missing rainfall data by using the combination method (combination of Normal Ratio Method and Inversing Square Distance Method/Reciprocal Method); calculating drought intensity and duration using Theory of Run method. Krueng Aceh basin area is 1681.05 km2 covering 23 districts. The worst intensity of drought for the water needs of crops occurred in Seulimum rainfall station, which is 111.58 mm/month; while the worst water needs of rice is showed by the rainfall station in Indrapuri, which is 138.84 mm/month. The worst duration of drought for the water needs of crops occurred in Padang Tiji Rainfall Station with over 14 months; while the worst water needs of rice is showed by Blang Bintang Rainfall Station for 34 months. The maximum duration of the drought occurred in Lhoong Rainfall Station for 25 months in 2012-2014 and the maximum intensity of the drought is showed by Lhoong rainfall station is 247.5 mm/month in December 2008.
Desain Kekuatan Sambungan Geser Tunggal Menggunakan Paku pada Lima Jenis Kayu Indonesia Riezky Rakamuliawan Sutanto; Sucahyo Sadiyo; Naresworo Nugroho
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.4

Abstract

AbstrakStandar Nasional Indonesia (SNI) 7973 (2013) adalah standar yang umum digunakan dalam penentuan konstruksi kayu di Indonesia. Dalam SNI-7973 terdapat cara penentuan nilai desain sambungan kayu secara teoritis yang saat ini masih mengadopsi nilai-nilai yang diperoleh dari National Desain Specification (NDS) (2012). NDS sendiri disusun berdasarkan sifat-sifat kayu berdaun jarum yang umum digunakan di Amerika. Nilai-nilai yang diadopsi tersebut tentunya meningkatkan resiko ketidaksesuaian jika digunakan langsung di Indonesia, hal ini karena Indonesia sebagai negara tropis memilki kayu dengan rentang berat jenis yang lebih besar dan didominasi oleh kayu berdaun lebar dengan struktur anatomi yang berbeda. Penelitian ini membandingkan nilai desain sambungan kayu yang diperoleh dari pengujian secara empiris dengan nilai desain sambungan yang dihasilkan secara teoritis berdasarkan SNI-7973 dan Eurocode 5 (EC-5) (2004). Hasil penelitian menunjukan nilai desain sambungan kayu terendah diperoleh pada sambungan kayu Paraserienthes falcataria menggunakan paku 10 cm sebesar 53.66 kgf dan nilai tertinggi diperoleh pada sambungan kayu Shorea laevifolia menggunakan paku 15 cm sebesar 149.89 kgf. Penentuan nilai desain teoritis SNI-7973 menghasilkan nilai lebih rendah sebesar 13.65% sedangkan EC-5 menghasilkan nilai lebih tinggi 8.87% dibandingkan nilai yang diperoleh pada pengujian empiris.AbstractStandar Nasional Indonesia (SNI) 7973 (2013) is a standard that commonly used in the determination of wood construction in Indonesia. In SNI-7973 there is a theoretical method to determining the design value of wood connection that currently still adopt the values derived from National Design Specification (NDS) (2012). NDS itself is structured based on the properties of softwood that commonly used in America. The values adopted are certainly increase the risk of incompatibility if used directly in Indonesia, this is because Indonesia as a tropical country has wood with wider range of specific gravity and dominated by hardwood with different anatomical structures. This study compares the value of single shear wooden connection design obtained from empirical testing with theoretically generated connection values based on SNI-7973 and Eurocode 5 (EC-5) (2004). The results showed the lowest design value of wood connections obtained on Paraserienthes falcataria wood connection using 10 cm nail by53.66 kgf and the highest value obtained on Shorea laevifolia wood connection using 15 cm nail by 149.89 kgf. The determination of the theoretical design value based on SNI-7973 yielded a lower value of 13.65% while EC-5 yielded a higher value of 8.87% than the value obtained from empirical testing. 

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue