cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
HUBUNGAN JUMLAH FOLIKEL ANTRAL DENGAN RESPONS OVARIUM TERHADAP STIMULASI OVULASI Putra Adnyana, I B
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian-penelitian menunjukkan adanya kemungkinan untuk memprediksi respons ovarium terhadap stimulasi ovulasi. Faktor-faktor yang mungkin dijadikan prediktor mencakup umur, volume ovarium, jumlah folikel antral, aliran darah stromal ovarium, dan petanda hormonal seperti Follicle Stimulating Hormone (FSH), estradiol (E2) dan Inhibin B. Hitung folikel antral adalah salah satu cara pemeriksaan kapasitas ovarium yang sederhana. Dibandingkan pemeriksaan petanda hormonal pemeriksaan folikel antral lebih sederhana, relatif lebih murah, dan hanya memerlukan sarana berupa alat ultrasonografi yang saat ini sudah tersedia secara luas dan penilaian hasilnya dapat dilakukan secara cepat. Mengetahui hubungan antara jumlah folikel antral dengan respons stimulasi ovulasi Seluruh wanita yang menjalani program FIV dengan stimulasi short protokol antara bulan Januari 2005 ? Mei 2006 disertakan dalam penelitian. Dilakukan pengumpulan data hitung folikel antral hari kedua, jumlah folikel matur, jumlah total oosit, jumlah oosit matur, dan total dosis gonadotropin. Dilakukan analisa Kendall?s correlation test untuk menunjukkan hubungan. Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara hitung folikel antral dengan hitung folikel matur (r=0,329; p=0,037), jumlah total oosit (r=0,506; p=0,001), jumlah oosit matur (r=0,492; p=0,002), dan total dosis gonadotropin (r=-0,477; p=0,002). Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara hitung foliekl antral dengan respons ovarium terhadap stimulasi ovulasi dan didapatkan nilai titik potong hitung folikel antral sebesar 4,5.
Abses septum nasi pada anak Rikakaya, Putu Vira; Ratnawati, Luh Made; Wulan, Sari
Medicina Vol 47 No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.063 KB)

Abstract

Abses septum nasi adalah terdapatnya atau terbentuknya nanah pada daerah di antara tulang rawan atau tulang septum nasi dengan mukoperikondrium atau mukoperiosteum yang melapisinya akibat dari trauma pada hidung. Kasus abses septum nasi jarang terjadi. Jika terlambat ditangani menyebabkan komplikasi perforasi septum nasi, hidung pelana atau disebut saddle nose, selain itu bisa menyebabkan infeksi intrakranial. Dilaporkan satu kasus abses septum nasi pada anak lelaki umur 9 tahun dengan riwayat mengorek-ngorek hidung. Pada pemeriksaan fisis didapatkan pembengkakan septum nasi pada kedua sisi yang berbentuk bulat, merah, dan teraba fluktuasi yang telah dilakukan aspirasi untuk pemeriksaan biakan dan tes sensitivitas kemudian dilanjutkan insisi drainase lalu pemasangan drain dan tampon serta pemberian antibiotik parenteral. Setelah dilakukan insisi drainase abses serta pemberian antibiotik parenteral yang adekuat, septum nasi kembali normal dan tidak didapatkan tanda-tanda perforasi septum. Abses septum nasi merupakan kondisi yang memerlukan tindakan pembedahan segera berupa insisi dan drainase untuk mencegah komplikasi yang berbahaya. Nasal septal abscess defined as a collection of pus between the cartilaginous or bony nasal septum and its overlying mucoperichondrium and/ or mucoperiosteum. Nasal septal abscess is an uncommon condition. If left untreated, there are risks of nasal septal perforation which called by saddle nose deformity and also intracranial complications. A case of nasal septal abscess on a child, male 9 years old with history of nose picking has been reported. On the physical examination there were bilateral nasal septal round swelling, reddish and fluctuation and already done with aspiration for the culture and sensitivity test examination and then incision drainage, drain and nose packed and also parenteral antibiotic therapy. After incision drainage and an adequate parenteral antibiotic, the nasal septal back to normal condition and there was no septal perforation. Nasal septal abscess is a serious condition that necessitates urgent surgical management in order to prevent potential life threatening complications.
IMPLANTASI KOKLEA PADA PENDERITA TULI PASCAMENINGITIS BAKTERI Putra W, Adhy; Rahayu, Lely; Putra S, Eka
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.297 KB)

Abstract

Meningitis bakterial merupakan penyebab tuli sensorineural didapat yang tersering pada anak-anakmaupun dewasa. Gangguan tersebut akan mempengaruhi kemampuan mendengar dan berkomunikasisehari-hari. Penatalaksanaan gangguan pendengaran pascameningitis masih kontroversi, konservatifatau intervensi dengan implantasi koklea. Dilaporkan satu kasus tulisensorineural derajat sangatberat bilateral pascameningitis bakteri yang ditangani dengan tindakan implantasi koklea denganhasil yang baik.
PENGARUH SEPATU TUMIT TINGGI TERHADAP GARIS GRAVITASI -, Muliani
Medicina Vol 38 No 3 (2007): September 2007
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-
KORELASI NEGATIF ANTARA CHARLSON COMORBIDITY INDEX DENGAN JUMLAH LIMFOSIT TOTAL DAN KADAR ALBUMIN PADA PASIEN GERIATRI Suastika, Ngakan Ketut Wira; Aryana, IGP Suka; Kuswardhani, RA Tuty
Medicina Vol 46 No 3 (2015): September 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.114 KB)

Abstract

Charlson comorbidity index (CCI) merupakan metode untuk memprediksi mortalitas denganmengklasifikasikan berbagai kondisi komorbid dan telah digunakan secara luas untuk mengukurbeban penyakit. Malnutrisi juga berhubungan dengan peningkatan angka mortalitas dan morbiditas.Jumlah total limfosit (total lymphocyte count/TLC) dan kadar albumin berhubungan dengan penurunanfungsi tubuh pada malnutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara CCI denganTLC dan kadar albumin pada pasien geriatri.Penelitian ini merupakan penelitian potong lintanganalitik yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar pada bulan Juli 2013 sampai dengan Maret2014. Subyek penelitian adalah pasien geriatri yang menjalani perawatan di RSUP Sanglah Denpasar.Sampel didapat dengan cara consecutive sampling. Untuk mengetahui korelasi antara CCI denganTLC dan kadar albumin digunakan uji korelasi Spearman.Sebanyak 80 sampel termasuk dalampenelitian ini. Sebanyak 50 (62,5%) adalah laki-laki dan 30 (37,5%) adalah perempuan dengan medianumur 74,0 (66-98) tahun. Terdapat korelasi negatif kuat yang signifikan antara CCI dengan TLC (r =-0,791; P<0,0001) dan juga korelasi negatif kuat antara CCI dan kadar albumin (r = -0,844; P<0,0001).Disimpulkan terdapat korelasi negatif kuat antara CCI dengan TLC dan kadar albumin. [MEDICINA2015;46:170-3].The charlson comorbidity index (CCI) is a method for predicting mortality by classifying comorbidconditions has been widely utilized to measure burden of disease. Malnutrition is also related toincreased mortality and morbidity rate. Total lymphocyte count (TLC) and albumin level is related todecreased body function in malnutrition. The objective of this study was to determine the correlationbetween the CCI score with TLC and albumin levels in geriatric patients.This study was a crosssectionalanalytic study conducted in Sanglah Hospital from July 2013 to March 2014. Subjects of thisstudywere geriatric patients who hospitalized at Sanglah Hospital. Patients were collected byconsecutivesampling. Spearman correlation test was used to determine the correlation between CCIscorewith TLC and albumin level. A total of 80 samples were included in this study, of which 50(62.5%)was male and 30 (37.5%) was female with a median of age was 74 (66-98) years old. There wasasignificant strong negative correlation between the CCI score and TLC (r = -0.791; P<0.0001) and alsoasignificant strong negative correlation between the CCI and albumin level (r = -0.844; P<0.0001). Itwasconcluded that there is astrong negative correlation between  the CCI score with TLC and albuminlevels.[MEDICINA2015;46:170-3].
INCLUSION BODY MYOSITIS Yeni Laksmini, Luh; Juli Sumadi, I Wayan; Mulyadi, I Ketut
Medicina Vol 44 No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.704 KB)

Abstract

Inclusion body myositis (IBM) merupakan penyakit inflamasi pada otot yang bersifat progresif dengan penyebab yang tidak diketahui dan tidak menunjukkan respon yang baik terhadap berbagai terapi. Gambaran histopatologi IBM ditandai dengan infiltrat sel-sel limfosit diantara ruangan endomisial, di dalam otot dan di sekitar otot dengan fokus-fokus inklusi di dalam miosit (rimmed vacuole) serta beberapa serat otot terlihat atrofi dan nekrosis. Dilaporkan wanita, usia 46 tahun dengan IBM. Keluhan utama pasien berupa kelemahan pada kedua tangan, kaki kanan terasa berat jika diangkat sehingga susah berjalan. Pemeriksaan saraf sensorik ekstremitas dekstra dan sinistra dalam batas normal. Pemeriksaan enzim cretinine kinase meningkat secara dramatik. Pemeriksaan histopatologi dari biospi otot gastrocnemius menunjukkan gambaran yang sesuai untuk IBM dan telah dilakukan penanganan dengan pemberian oral methilprednisolon 3x32 mg dan mecobalmin 1x500ìg intravena, namun tidak menunjukkan respon yang baik terhadap terapi dan akhirnya pasien meninggal. [MEDICINA 2013;44:118-123].
INTERVENSI ERGONOMI DALAM PEMBELAJARAN SAINS MENGURANGI KELUHAN MUSKULOSKELETAL SISWA SD 1 SANGSIT KECAMATAN SAWAN KABUPATEN BULELENG Wijana, Nyoman
Medicina Vol 40 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.155 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan intervensi ergonomi dalam pembelajaran sains untuk menurunkan keluhan muskuloskeletal siswa SD. Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian quasi eksperimental dengan rancangan randomized pre-test and post-test control group design. Pada kelompok kontrol pembelajarannya dengan cara konvensional (tanpa intervensi ergonomi) dan kelompok eksperimen dengan intervensi ergonomi. Intervensi ergonomi dalam pembelajaran sains mengacu pada pendekatan ergonomi (PE) yakni gabungan antara SHIP dan TTG. Implementasi dari hal ini adalah melakukan perbaikan dan atau penataan terhadap instrumental input, environmental input dan porcess, sedangkan untuk di kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi ergonomi, di mana kondisi instrumental input, environmental input dan process berlangsung secara konvensional. Pengambilan sampel dilakukan secara random. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Mann-Whitney dengan taraf signifikansi 5 %. Simpulan dari hasil penelitian ini adalah (1) intervensi ergonomi dapat menurunkan keluhan muskuloskeletal siswa SD  (p < 0,05); (2) Hasil pengukuran dengan nordic body map pada kelompok kontrol terjadi keluhan pada otot pinggang (86,1%), otot pantat (86,1%), otot punggung (84,8%), otot lengan atas kiri (78,8%), otot lengan atas kanan (67,9%), otot siku kanan (78,2%), otot siku kiri (74,6%), paha kanan (76,9%), paha kiri (75,7%), otot betis kanan  (66,1%), otot betis kiri (64,2%), otot pergelangan kaki kanan (67,3%), dan otot pergelangan kaki kiri (65,5%). Dengan demikian dapat disarankan bahwa intervensi ergonomi dalam pembelajaran dengan menggunakan PE sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran sains di SD karena telah terbukti dapat menurunkan keluhan muskuloskeletal.[MEDICINA 2009;40:11-20].  
EARLY GOAL DIRECTED THERAPY AT SEPTIC SYOK Widyanti, Ayu; Hartawan, Budi; Suparyatha, IB
Medicina Vol 43 No 2 (2012): Mei 2012
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.727 KB)

Abstract

Sepsis is the most commom cause of death in children with critically ill. Using WHO criteria (severe sepsis defined as sepsis with acidosis, hypotension or both), it was determined that in 1995 there were more than 42.000 cases of severe sepsis in children in the United States with mortality rate was 10.3%. To answer that finding, evicende based protocol was made, it called early goal directed therapy (EGDT). EGDT is a comprehensive strategy to evaluate patient with septic shock include, challenge of fluid, antibiotic, vasopressor, measurement of central vein oxygen saturation, PRC transfusion, administering inotropic dan mechanic ventilation. All of these must be done in the first 6 hours since sepsis or septic shock was found, because if there is a delay of resuscitation, anything we do to increase oxygenation level of the cell will be useless.
Kadar 8-hydroxyl-2’-deoxyguanosine serum pasien glaukoma primer sudut terbuka lebih tinggi dibandingkan kontrol Prahesthy, Harumi Purwa; Kusumadjaja, Made Agus; Handayani, Ariesanti Tri
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.475 KB)

Abstract

Glaukoma adalah penyebab kebutaan permanen di seluruh dunia. Data WHO tahun 2007 menyebutkan bahwa glaukoma merupakan penyebab sekitar 15% kebutaan di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar 8-hydroxyl-2’-deoxyguanosine (8-OHdG) serum pada pasien glaukoma primer sudut terbuka lebih tinggi dibandingkan kontrol. Penelitian ini merupakan penelitian potong-lintang yang dilaksanakan di Poliklinik Mata RSUP Sanglah dan RS Bali Mandara Denpasar Bali, pada bulan Agustus sampai November 2015. Setiap sampel dilakukan pemeriksaan menggunakan slit lamp, applanasi goldmann, dan funduskopi dengan lensa 78 untuk menegakkan diagnosis glaukoma primer dan presbiopia serta pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan kadar 8-OHdG serum. Perbedaan kadar 8-OHdG serum dianalisis dengan uji t tidak berpasangan. Besar sampel yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 60 pasien yang terbagi menjadi 29 pasien glaukoma primer sudut terbuka dan 31 pasien kontrol. Rerata kadar 8-OHdG serum pada pasien glaukoma primer sudut terbuka didapatkan lebih besar dibanding kontrol [15,57 (SB 0,83) vs 8,87 (SB 0,87) ng/mL, beda rerata 6,70 (IK95% 6,25 sampai 7,13) ng/mL, P=<0,0001]. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa rerata kadar 8-OHdG serum pasien glaukoma primer sudut terbuka lebih tinggi daripada kontrol. Glaucoma is a leading cause of irreversible blindness throughout the world. WHO statistics, 2007, indicate glaucoma accounts for 15% of total global blindness. This study aimed to determine whether serum 8-hydroxyl-2’-deoxyguanosine (8-OHdG) level in primary open angle glaucoma patients higher than control. This was a cross-sectional study taking place in the Eye Outpatient Clinic of Sanglah Hospital and Bali Mandara Hospital Denpasar, Bali started from August to November 2015. Each samples underwent slit lamp examination, goldmann applanation, and funduscopy with 78 lens to determine glaucoma primer diagnosis and control, and venous blood sampling for examination of serum 8-OHdG levels. Analysis was conducted with independent t-test. The study included 60 patients collected as subjects, consist of 29 primary open angle glaucoma and 31 controll. Mean serum 8-OHdG levels in primary open angle glaucoma patients was higher than control [15.57 (SD 0.83) vs 8.87 (SD 0.87) ng/mL, mean difference 6.7 (%CI 6.25 to 7.13) ng/mL, P=<0.0001]. It was concluded that serum 8-OHdG levels in primary open angle glaucoma higher than control.
MITRAL VALVE REPLACEMENT AT 11 YEARS OLD GIRL WITH RHEUMATIC MITRAL STENOSIS Malik, Suryani; Gunawijaya, Eka; Yasa, Ketut Putu
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.019 KB)

Abstract

Rheumatic heart disease (RHD) is the permanent heart valve damage resulting from one or more attacks of acute rheumatic fever (ARF), representing the permanent lesions of the cardiac valve. Rheumatic heart disease’s patient with valvar involvement usually require long term follow-up. The ultimate decision of clinical management or invasive therapy is made on an individual basis. We reported a 11-year-old girl with RHD and severe mitral stenosis whom underwent   mitral valve replacement with mechanical valve. Postoperative echocardiogram showed no mitral regurgitation and we gave anticoagulant to maintain INR of 3-4 by giving warfarin 2mg / kg each day for lifelong to prevent bleeding and thrombosis. [MEDICINA 2014;45:120-6]