cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Uji validitas dan reliabilitas modifikasi smartphone addiction scale versi Bahasa Indonesia Kurniawan, I Gde Yudhi; Rustika, I Made; Alit Aryani, Luh Nyoman
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.879 KB)

Abstract

Smartphone merupakan telepon seluler masa kini yang dilengkapi aksesinternet dan aplikasi dari pihak ketiga yang menarik. Penggunaansmartphone yang berlebihan dapat menjadikan penggunanya mengalamismartphone addiction. Peningkatan pesat penggunaan smartphone diIndonesia memerlukan suatu skala ukur yang sudah tervalidasi untukmelakukan penilaian sehingga prevalensi dan individu yang berisikomengalami smartphone addiction dapat diketahui. Penelitian ini bertujuanuntuk menguji validitas dan reliabilitas Smartphone Addiction Scalesehingga diharapkan dapat digunakan untuk penelitian berikutnya.Smartphone addiction scale orisinil dilakukan alih bahasa ke dalam BahasaIndonesia dan dilakukan modifikasi item menjadi favorable dan unfavorablelalu diujicobakan pada 65 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UniversitasMahasaraswati Denpasar. Hasilnya dari 33 item pernyataan smartphoneaddiction scale orisinil menghasilkan 21 item pernyataan valid dengan nilaikoefisien korelasi item total yang berkisar dari 0,282 sampai 0,802 dan nilaikoefisien Cronbach Alpha 0,890. Berdasarkan hasil tersebut, ModifikasiSmartphone Addiction Scale versi Bahasa Indonesia merupakan skala yangvalid dan reliabel sehingga skala self reporting ini dapat digunakan untukskrining individu yang memiliki risiko smartphone addiction. Kata kunci : smartphone, validitas, reliabilitas, smartphone addiction scale
Kadar Prolaktin Plasma Berkorelasi Positif dengan Derajat Keparahan Akne Vulgaris
Medicina vol 48, no 2 Mei(2017):volume 48 no 2 Mei 2017
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan komedo, papul, pustul, nodul dan kista pada wajah, dada, punggung dan lengan atas. Patogenesisnya adalah multifaktorial. Prolaktin dan reseptornya didapatkan pada kelenjar pilosebasea dan dapat menstimulasi pembentukan sebum sehingga diduga berperan dalam patogenesis akne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar prolaktin plasma dengan derajat keparahan akne vulgaris. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional analitik observasional, yang melibatkan 48 subjek akne vulgaris dan 30 subjek bukan akne vulgaris yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Didapatkan bahwa kadar prolaktin plasma pada subjek akne vulgaris (median 26,3; IQR 9,3) lebih tinggi secara signifikan (p<0,001) dibandingkan subjek bukan akne vulgaris (median 15,9; IQR 6,9). Didapatkan perbedaan yang signifikan antara kadar prolaktin pada akne vulgaris derajat ringan, sedang dan berat (p<0,001). Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif sedang (r = 0,525; p < 0,001) antara kadar prolaktin dengan derajat keparahan akne vulgaris. Simpulan pada penelitian ini adalah terdapat korelasi positif antara kadar prolaktin plasma dengan derajat keparahan akne vulgaris. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai prolaktin sebagai faktor risiko terjadinya akne vulgaris. Kata kunci: akne vulgaris, derajat keparahan akne, prolaktin
Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan tingkat keparahan pneumonia pada pasien anak di RSUP Sanglah
Medicina vol 48, no 2 Mei(2017):volume 48 no 2 Mei 2017
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia menempati urutan teratas pada kejadian penyakit di Dunia. Faktor  risiko yang berhubungan erat dengan pneumonia, diantaranya sosial ekonomi yang rendah, status gizi, BBLR, pemberian ASI yang tidak eksklusif, kepadatan penduduk, orangtua yang merokok, usia ibu saat menikah, pendidikan orangtua, infeksi HIV, defisiensi zinc dan vitamin D. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan pemberian ASI eksklusif dengan tingkat keparahan pneumonia. Penelitian potong lintang yang dilakukan di Sub-Bagian Respirologi Bagian/ SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unud/ RSUP Sanglah pada bulan Januari 2014 sampai dengan Desember 2015. Sampel dipilih secara consecutive sampling. Data dianalisis dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Dari analisis multivariat didapatkan penderita yang mendapatkan ASI eksklusif 6,2% menderita pneumonia sangat berat sedangkan 41,9% pada yang tidak mendapat ASI eksklusif. Hubungan yang signifikan antara kedua variabel dengan nilai P=0,001 [PR 0,11 (IK 95% 0,037-0,326)]. Penelitian ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan tingkat keparahan pneumonia. 
Tahap pertumbuhan dan perkembangan tanda-tanda seks sekunder remaja SMPN 4 Bangli, Desa Pengotan, Kecamatan Bangli.
Medicina vol 48, no 2 Mei(2017):volume 48 no 2 Mei 2017
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan karakteristik seksual sekunder merupakan salah satu tanda dimulainya pubertas. Perkembangan ini terdiri atas: perkembangan payudara, perkembangan genitalia (penis dan testis) lelaki dan rambut pubis (perempuan dan lelaki). Tujuan: mengetahui tahap perkembangan tanda-tanda seks sekunder pada remaja lelaki dan perempuan. Metode: deskriptif observasional dengan rancangan potong lintang. Jumlah subjek penelitian diperoleh dengan total sampling sejumlah 251 orang siswa-siswi SMPN 4 Bangli, Desa Pengotan, Kecamatan Bangli yang terdiri dari 112 siswa lelaki dan 139 orang siswa perempuan. Drop out sebesar 71 (lelaki) dan 8 orang (perempuan). Hasil: ukuran penis lelaki usia 12 tahun terbanyak pada tahap 1 dan 2 (33,33%), usia 15 tahun terbanyak pada tahap 4 (40%). Perkembangan rambut pubis lelaki usia 12, 13 dan 14 tahun pada tahap 3 (41,7%, 58,3%, 70%). Usia 15 tahun terbanyak pada tahap 4 (60%), 20% mencapai tahap 5 dan tidak ada yang masih berada pada tahap 1 dan 2. Perkembangan payudara perempuan usia 12, 13 dan 14 tahun adalah pada tahap 2 (58,62%, 61,36% dan 58,86%). Usia 15 tahun, terbanyak pada tahap 3 (61,5%). Perkembangan rambut pubis di setiap kelompok usia umumnya pada tahap III, terbanyak pada usia 15 tahun (58,8%). Siswi yang telah mencapai tahap IV perkembangan rambut pubis terbanyak pada usia 14 tahun (11,8%). Tidak terdapat siswa-siswi yang telah mencapai tahap V perkembangan penis, payudara maupun rambut pubis (perempuan). Kesimpulan: pada usia 15 tahun, perkembangan karakteristik seksual sekunder siswa-siswi SMPN 4 Bangli belum mencapai tahap dewasa. Terdapat variasi onset dan kecepatan perkembangan antar individu dan jenis kelamin akibat perbedaan waktu aktivasi hormon.