cover
Contact Name
Rangga Saptya Mohamad Permana
Contact Email
rangga.saptya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalprotvfunpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
ProTVF
ISSN : 2548687X     EISSN : 25490087     DOI : -
ProTVF is published twice a year (March and September) published by the Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran. ProTVF provides open access to the public to read abstract and complete papers. ProTVF focuses on Television and Film studies.
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
Representasi peran Ibu dalam film Ibu Maafkan Aku Dila Febriyanti; Muhamad Ramdhani; Flori Mardiani Lubis
ProTVF Vol 4, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.24193

Abstract

Film Ibu Maafkan Aku merupakan film drama karya Amin Ishaq. Film yang menceritakan bagaimana peran ibu dalam keluarga, mendidik anak dan dengan banyak nya perjuangan serta pengorbanan dan sebagainya. Peran ibu dalam film ini diperankan oleh Christine Hakim. Dalam film ini peran ibu menjadi peran ganda, karena bapak yang sudah meninggal dunia. Meski harus menghidupi keluarga nya sendiri, peran ibu dalam film ini sangat berperan penting karena peran ibu dalam film ini yang akan di teliti lebih spesifik dan film ini menjadi simbol bahwa peneliti sangat menghargai atas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah ibu berikan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menganalisis film Ibu Maafkan Aku sehingga penelitian ini berjudul Representasi Peran Ibu Dalam Film Ibu Maafkan Aku. Fokus penelitian ini adalah level realitas, level representasi, dan level ideologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian, penelitian ini menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau dari lisan orang-orang, perilaku. Dan dengan analisis semiotika untuk mengkaji tanda, teks, dan simbol. Dalam metode ini akan di jelaskan bagaimana adanya makna, tanda, dan simbol. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Jhon Fiske berdasarkan kode-kode televisi yang terbagi menjadi tiga level realitas, representasi dan ideologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah soft file film dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya ideologi ibu isme pada film Ibu Maafkan Aku yang direpresentasikan melalui beberapa scene film yang di antaranya mengenai penampilan/ cara berpakaian, gestur, ekspresi, perilaku, riasan wajah, lingkungan, teknik pengambilan gambar, kamera, pencahayaan, karakter/penokohan dialog, musik.
Desakralisasi film horor Indonesia dalam kajian reception analysis Yohana Debby; Theresia Intan Putri Hartiana; Nanang Krisdinanto
ProTVF Vol 4, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.24171

Abstract

Penelitian mendeskripsikan mengenai penerimaan penonton mengenai desakralisasi agama yang tergambarkan dalam film horor Indonesia pasca Orde Baru. Beberapa film yang akan diteliti diantaranya Asih (2018), Danur 2: Maddah (2018), Pengabdi Setan (2017), Ruqyah: The Exorcism (2017), Hantu Jeruk Purut Reborn (2017), dan Hantu Rumah Ampera (2009) menjadi film-film pilihan peneliti. Desakralisasi dalam film tersebut terbagi dalam tiga hal, yakni: tokoh agama, ritual, dan simbol keagamaan. Desakralisasi merupakan penurunan makna dari nilai atau hal-hal yang dianggap sakral dalam kehidupan sosial. Beberapa adegan di film horor Indonesia, menunjukkan desakralisasi, seperti tokoh agama yang kalah dengan setan, diganggu saat beribadah. Sehingga desakralisasi dikatakan sebagai suatu upaya untuk menurunkan sifat religi benda atau hal yang dianggap suci dan mengedepankan rasionalitas dalam menghadapi suatu konflik pada suatu hal. Pemilihan informan didasarkan pada usia, agama, aliran kepercayaan, pendidikan. Penelitian ini dilakukan metode dengan reception analysis, teknik pengambilan wawancara in-depth interview, serta menggolongkan hasil penerimaan informan nantinya ke dalam tiga kategori posisi yang dikemukakan oleh Stuart Hall, yakni: dominan, negosiasi, oposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam memaknai film horor. Penonton atau informan berada dalam posisi oppositional ketika memaknai desakralisasi ritual keagamaan. Informan cenderung pada posisi oppositional karena dipengaruhi pengalaman dan latar belakang seperti yang pernah melewati ritual pembukaan mata batin, melakukan ritual atau ibadah.
Pembingkaian media mengenai “Sudut Dilan” yang terinspirasi Film Dilan 1990 dan 1991 Aceng Abdullah; Rangga Saptya Mohamad Permana
ProTVF Vol 4, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.24184

Abstract

Dilan 1990 dan Dilan 1991 merupakan film Indonesia yang terbilang sukses dari segi juumlah penonton. Kesuksesan kedua film tersebut memicu sebuah pemberitaan tentang rencana pembangunan “Sudut Dilan” di Bandung oleh Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil yang disorot tajam oleh banyak media dan masyarakat Bandung bahkan secara nasional. Dua media yang kerap memproduksi pemberitaan tersebut adalah HU Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui framing pemberitaan menganai pembangunan “Sudut Dilan” pada HU Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar. Data-data dianalisis menggunakan teknik analisis framing Robert M. Entman, framing dibagi menjadi dua dimensi, yakni dimensi seleksi isu dan dimensi penonjolan aspek-aspek tertentu dari pemberitaan “Sudut Dilan” dalam HU Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pikiran Rakyat mendefinisikan masalah ini sebagai sebuah “agenda seorang politikus lima tahun ke depan”, sedangkan Tribun Jabar mendefinisikan masalah pembangunan “Sudut Dilan” ini sebagai masalah Pariwisata; (2) Penyebab dari polemik yang muncul, menurut Pikiran Rakyat disebabkan oleh tidak adanya kejelasan urgensi yang logis mengapa taman atau sudut di Lapangan Saparua itu harus dibangun dan dinamai Sudut Dilan, dan hal yang sama ditulis oleh Tribun Jabar; dan (3) Untuk penyelesaian masalah, karena warga Jawa Barat pada umumnya menolak nama Dilan, maka baik itu menurut Pikiran Rakyat maupun Tribun Jabar, gagasan Gubernur Jawa Barat yang akan membangun Taman atau Sudut Dilan itu sebaiknya dibatalkan, atau mengganti namanya dengan nama-nama tokoh Jawa Barat.
Implikasi genre film dan pemahaman penonton film tuna netra di “Bioskop Harewos” Cut Meutia Karolina; Eni Maryani; Dian Wardiana Sjuchro
ProTVF Vol 4, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.25035

Abstract

Film memiliki variasi yang cukup beragam.  Keberagaman ini biasa dikenal dengan istilah genre.  Variasi genre pada film tentunya memberi sensasi yang bervariasi pula terhadap penonton, salah satunya pada penonton tuna netra.  “Bioskop Harewos”, sebagai wadah menonton film bagi tuna netra memiliki model komunikasi yang unik, hal ini pula menjadi faktor keunikan pemahaman dalam menonton film berbagai genre karena film juga akan dibubuhi oleh deskripsi dari pembisik (Visual reader).  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang sistem/pola penentuan genre film yang dipilih pada setiap pemutaran di “Bioskop Harewos”; hambatan komunikasi pada setiap genre film yang diputar di “Bioskop Harewos”; dan pentingnya genre yang tepat bagi penonton film tuna netra di “Bioskop Harewos”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.  Beberapa konsep yang digunakan pada penelitian ini berkaitan dengan film, tuna netra, dan efektivitas komunikasi.  Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dalam penentuan genre film yang akan tayang pada sebuah pemutaran, pengelola “Bioskop Harewos” lebih mengutamakan moment atau tema yang diangkat pada pemutaran untuk menyesuaikan genre film yang dianggap paling cocok untuk diputar.  Perizinan film dan pengalaman pernah atau belum pernah pada suatu genre film ditayangkan di “Bioskop Harewos” juga menjadi pertimbangan, namun bukanlah komponen utama sampingan.  Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa penonton tuna netra di “Bioskop Harewos” mengalami berbagai kendala atau hambatan komunikasi pada setiap genre film yang ditonton.  Hambatan terbesar muncul dari film ber-genre thriller dan horror.  Genre merupakan komponen yang cukup penting dalam keefektifan pemahaman penonton film tuna netra di “Bioskop Harewos”.
Fungsi public relations pada strategi merek Inspira TV dalam membangun brand perusahaan Putri Aprilia; Hanny Hafiar; Priyo Subekti
ProTVF Vol 4, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.24032

Abstract

Persaingan industri pertelevisian semakin ketat dan memaksa para pelaku industri untuk dapat menciptakan merek perusahaan yang kuat untuk dapat memimpin pasar dan mencapai tujuan pemasaran. Maka dari itu diperlukan strategi merek untuk mewujudkan hal tersebut. Inspira TV sebagai televisi digital yang baru hadir di tengah masyarakat memerlukan strategi merek untuk memperkuat mereknya sebagai stasiun televisi digital yang inspiratif dan positif. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi public relations dalam kelima tahapan strategi merek yaitu tahap perencanaan, tahap memposisikan merek, tahap pengenalan merek perusahaan, tahap manajemen merek dan tahap menjaga merek. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi PR dalam tahap perencanaan Inspira TV diawali dengan menentukan target sasaran, melakukan riset pasar, penyampaian informasi dan membangun hubungan internal kemudian terbentuk strategi merek Inspira TV, fungsi PR pada tahap memposisikan merek dilakukan dengan menetapkan perbedaan program Inspira TV dan TV lain kemudian dibangun melalui market positioning dan brand image positioning, fungsi PR dalam tahap mengenalkan merek perusahaan adalah dengan mensosialisasikan perusahaan berserta produknya melalui strategi on air, off air, online dan pelaksanaan kegiatan sosial dengan tujuan untuk menciptakan citra positif dan dukungan publiknya, fungsi PR dalam tahap manajemen merek adalah dengan melakukan Customer Relation Management (CRM) dan media relations, fungsi PR dalam tahap menjaga merek adalah dengan mendaftarkan merek secara hukum, menjaga kualitas program dan menjaga citra perusahaan.
Representasi Ideologi Supremasi Kulit Putih dalam Iklan Televisi Farid Hamid Umarela; Nindyta Aisyah Dwityas; Devi Rosfina Zahra
ProTVF Vol 4, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.25172

Abstract

Penelitian ini dimulai dari penemuan karakter blackface di iklan Bukalapak Pengakuan: Pengakuan: Awalnya Coba-Coba, Jadi Untung Terus. Iklan ini ditayangkan pada tahun 2018 dan dianggap rasis dan menyerang komunitas kulit hitam karena menggunakan wajah hitam dalam ceritanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana blackface terwakili dalam iklan serta untuk membongkar ideologi yang terdapat dibalik mitos-mitos mengenai ras kulit hitam. Konsep ideologi dalam iklan mengacu pada konsep yang diajukan oleh Storey, bahwa ideologi merupakan suatu bentuk gambaran ideal yang bertujuan untuk menarik perhatian melalui cara-cara seperti digunakan dalam teks termasuk iklan televisi sebagai produk media massa untuk mempresentasikan citra tertentu tentang dunia. Penelitian ini menggunakan metode analisis teks kualitatif dengan metode Semiotika. Iklan dianalisis melalui analisis semiotik Roland Barthes, yang dikenal melalui denotatif, konotatif, dan mitosnya. Tanda-tanda dalam iklan dikaji secara bertahap untuk mendapatkan makna pesan dan juga membongkar mitos yang bersembunyi di balik ideologi yang terkandung dalam iklan. Hasil analisis semiotik menemukan bahwa iklan Bukalapak menunjukkan unsur rasisme yang terlihat dari penggunaan blackface sebagai wahana untuk menyampaikan komedi. Lelucon yang menjadikan ras hitam sebagai objek telah menjadi mitos. Praktek merendahkan ras kulit hitam menjadi hal yang biasa karena kepercayaan pada ideologi supremasi kulit putih yang tanpa disadari dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Di mana gagasan bahwa kulit putih lebih unggul daripada kulit hitam adalah keyakinan yang tidak berdasar untuk merendahkan ras kulit berwarna.
Melacak keberadaan ideologi pada film Cahaya dari Timur: Beta Maluku Laksmi Rachmaria
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.26283

Abstract

Posisi Indonesia sebagai negara multikultur membuatnya rentan terhadap ancaman separatisme dan konflik komunal berbasis suku, agama, dan antargolongan. Maluku merupakan sebuah tempat di mana pernah terjadi tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia. Tak hanya merenggut korban dari kalangan laki-laki dewasa, konflik komunal ini juga merenggut masa depan anak-anak yang berada di tengah–tengah kelompok yang bertikai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana wacana resiliensi ditampilkan pada film Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough. Analisis wacana kritis merupakan salah satu cara untuk membongkar adanya sebuah ketidakberesan di masyarakat. Film ini merupakan sebuah film drama yang diangkat dari kisah nyata tentang bagaimana sepak bola dapat mengobati jiwa anak-anak yang terluka akibat konflik komunal yang terjadi di Maluku. Teks merupakan sebuah situs perjuangan sosial yang berusaha mencairkan dan melacak keberadaan ideologi. Menganalisis wacana secara kritis pada hakikatnya adalah menganalisis tiga dimensi wacana secara integral, yakni taks-teks bahasa, praksis kewacanaan, dan praksis sosiokultural. Hasil penelitian: pada level teks film Cahaya dari Timur: Beta Maluku menggambarkan bagaimana kondisi anak-anak korban konflik komunal Maluku untuk bangkit dari keterpurukan, berjuang mengobati luka batin akibat konflik komunal. Pada level praksis kewacanaan menekankan tentang kegagalan pemerintah dalam melakukan rehabilitasi sosial masyarakat. Level sosiokultural masyarakat sesungguhnya merupakan korban dari politisasi agama. Ideologi Pela-Gandong merupakan kultur khas Maluku sebagai sarana penyelesaian konflik komunal.
Strukturasi proses produksi film horor Pengabdi Setan: Perspektif ekonomi politik Umaimah Wahid; Shena Agustina
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.25601

Abstract

Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan. Film juga berperan dalam menyampaikan pesan-pesan ideologi yang secara sadar atau tidak sadar menjadi bagian nilai yang diyakini oleh penonton. Di samping itu, alasan produksi film horor meningkat karena nilai ekonomi dan politik yang menjadi bagian dari struktur dan agen-agen sosial. Salah satu film horor fenomenal pada tahun 2017 adalah film Pengabdi Setan karya Joko Anwar yang meraih jumlah penonton 4,2 juta orang. Penelitian menggunakan teori strukturasi Anthony Gidden dan perspektif ekonomi politik Vincent Mosco. Objek penelitian adalah struktur sosial dan agen dalam proses pembuatan film. Subjek penelitian adalah para pihak yang terlibat dalam proses pembuatan film. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dihasilkan melalui teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses produksi film terdiri dari pra produksi, produksi dan pasca produksi. Semua proses melibatkan agen-agen sosial yang terikat dengan struktur sosial dan produksi film sangat tergantung pada nilai ideologi dan ekonomi politik. Nilai ekonomi menjadi tujuan utama film Pengabdi Setan diproduksi ulang dengan berbagai prubahan menyesuaikan struktur sosial penonton saat ini. Proses produksi terkooptasi oleh niai-nilai yang mengikat struktur perfilman Indonesia, khususnya dalam pembuatan film. Film Pengabdi Setan telah mampu menciptakan ketidaksadaran masyarakat terhadap realitas isi film sebagai representasi langsung masyarakat yang terikat oleh struktur dimana film diproduksi.
Analisis semiotika Roland Barthes mengenai pseudobulbar affect dalam film Joker Muhammad Alif Agisa; Fardiah Oktariani Lubis; Ana Fitriana Poerana
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29064

Abstract

Sebuah film pastilah mempunyai pesan-pesan serta makna yang akan disampaikan kepada penotonnya. Pesan dan makna tersebut tidak selalu terlihat secara langsung, dan berbeda penafsirannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari makna denotasi, konotasi, dan mitos dari pseudobulbar affect (PBA) tokoh Arthur Fleck dalam film Joker. Film Joker mengisahkan seorang komedian bernama Arthur Fleck yang mengidap penyakit pseudobulbar affect (PBA), yaitu gangguan neurologis yang menyebabkan penderita kehilangan kontrol emosi secara sementara. Arthur Fleck adalah seorang pria dewasa dengan berbagai masalah yang menimpanya, sehingga membuat Arthur menjadi penjahat yang bernama Joker. Analisis semiotika Roland Barthes adalah teknik analisis yang peneliti gunakan. Peneliti menggunakan rekaman video film Joker sebagai sumber data, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan beberapa adegan yang berkaitan dengan pseudobulbar affect. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes untuk mencari makna denotasi, konotasi, serta mitos yang ada pada adegan tersebut. Diperoleh hasil bahwa makna denotasi dalam film ini adalah mengisahkan seorang komedian bernama Arthur Fleck yang mengidap penyakit pseudobulbar affect (PBA) dengan berbagai masalah yang menimpanya sehingga membuat ia menjadi seorang penjahat yang bernama Joker. Makna konotasinya adalah tertawa Arthur Fleck yang tidak dapat ia kendalikan, diartikan oleh orang-orang sekitarnya sebagai cemoohan, gangguan, hingga ancaman. Mitosnya adalah stigma masyarakat yang negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), membuat ODGJ kesulitan untuk berinteraksi secara sosial, dijauhi, dan diolok-olok.
Pengaruh motif terhadap kepuasan pemilih pemula dalam menonton tayangan Debat Capres 2019 Iis Zilfah Adnan; Zikri Fachrul Nurhadi; Achmad Wildan Kurniawan; Ummu Salamah Musaddad
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.26134

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya Pemilihan Presiden 2019, yang diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019. Dalam upaya memperkenalkan dua pasangan kandidat, Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara Pemilu mengadakan acara Debat Capres 2019 yang ditayangkan langsung di televisi secara nasional. Tayangan ini dapat memberikan informasi kepada calon pemilih, khususnya pemilih pemula yang baru mendapatkan hak pilihnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji seberapa besar tingkat motif dan tingkat kepuasan pemilih pemula siswa MAN 2 Garut dalam menonton tayangan Debat Capres 2019 di televisi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini metode deskriptif kuantitatif untuk menganalisis data yang telah terkumpul melalui pengumpulan data berupa kuesioner. Responden penelitian ini adalah pemilih pemula kelas XII MAN 2 Garut angkatan 2018-2019 yang berjumlah 97 orang, dengan teknik pengambilan sampel yaitu sensus. Instrumen pernyataan yang digunakan sebanyak 40 pernyataan dari dua variabel, variabel motif dan variabel kepuasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motif pemilih pemula dalam menonton tayangan Debat Capres 2019 adalah sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata skor 392,4 antusiasme terhadap motif informasi. Sedangkan tingkat kepuasan pemilih pemula dalam menonton tayangan Debat Capres 2019 memiliki kriteria sangat tinggi, artinya pemilih pemula MAN 2 Garut dapat mengetahui seni dalam berpolitik ataupun berdebat setelah menonton tayangan Debat Capres 2019 di televisi. Maka didapat skor mean variabel Motif (X) atau GS (Gratification Sought) atau kepuasan yang dicari yaitu 330,2 dan skor mean variabel Kepuasan (Y) atau GO (Gratification Obtained) atau kepuasan yang diperoleh yaitu 317,8.

Page 6 of 13 | Total Record : 127