cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2017)" : 8 Documents clear
Telaah Komparatif Pengarusutamaan Gender dalam Pendidikan Islam di Saudi Arabia, Mesir, Malaysia, dan Indonesia Rohil Zilfa
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.618 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.264-287

Abstract

Bahasa Indonesia:Artikel ini menganalisis pengarusutamaan gender ditinjau dari perspektif perbandingan pendidikan bagi perempuan di beberapa negara Asia dan Afrika, di mana kondisinya memiliki persamaan dalam konstruksi sosiokultur, dan pengaruh interpretasi keagamaan yang dijadikan instrumen legitimasi superioritas laki-laki sangat tampak. Hal ini mempengaruhi ruang gerak perempuan pada wilayah publik, termasuk hak untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian ini adalah analisis komparatif tentang konstruksi sosial tentang perbedaan gender yang melahirkan ketidakadilan (gender inequalities) di Indonesia, Malaysia, Mesir dan Saudi Arabia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mulanya di beberapa negara di Asia (termasuk Indonesia) masih terjadi domestifikasi dan subordinasi pada perempuan, yang mana hal tersebut dibatasi dengan interpretasi agama yang selektif dan tradisional, sehingga mereka tidak mudah mengenyam pendidikan. Namun, dalam perkembangannya, terjadi peningkatan dalam keterlibatan perempuan di bidang pendidikan melalui pengarusutamaan gender oleh pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia di beberapa negara tersebut. Regulasi-regulasi yang telah ditetapkan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam masalah ketidaksetaraan gender yang terjadi. Pengarusutamaan gender merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia yang terkorelasi dengan pendidikan Islam. Di Indonesia, hal yang menjadi perhatian Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia adalah dengan menetapkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Madrasah. English:This article examines gender-mainstreaming effort from a perspective of comparative women education in several Asian and African countries, in which the countries have common socioculture condition and religious interpretation positioning male superiority over female. This situation affects female’s roles in public sphere, including female’s rights in pursuing higher degree of education. This study comparatively analyzes social contruction giving birth to gender inequalities in Indonesia, Malaysia, Egypt, and Saudi Arabia. The result of this study indicates several Asian countries (including Indonesia), at the beginning, experienced domestification and subordination of women due to traditional and selective religious interpretation, resulting difficulties to access to education for women. However, in its development, women has been increasingly involved in education through gender mainstreaming efforts by governments in order to develop human capacity in the countries. Several regulations indicates government’s serious efforts in solving the gender inequalities issues. This gender mainstreaming effort has become a part of human development strategy intergrated in Islamic education. In Indonesia, this issue got attention from Minister of Women Empowerment and Children Protection by issuing Ministry regulation No 11 of year 2010 regarding the Principality of Gender Mainstreaming in Madrasah.
Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Berbasis Adiwiyata pada Mata Pelajaran Fiqih di MTsN Tambakberas Jombang Mukani Mukani; Teto Sumarsono
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.387 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.181-200

Abstract

Bahasa Indonesia:Setiap individu memiliki peran dengan lingkungan sekitarnya dan dapat menciptakan perubahan, terutama tentang kebersihan lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, sekolah dan madrasah. Artikel ini membahas pembelajaran mata pelajaran fiqih berbasis program adiwiyata yang dilaksanakan di MTsN Tambakberas Jombang dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karakter peserta didik MTsN Tambakberas terhadap kepedulian lingkungan terintegrasi dengan baik melalui pelajaran fiqih dan mata pelajaran lainnya. Sehingga pada mata pelajaran apapun peserta didik akan tetap diingatkan dan dimotivasi untuk selalu peduli dan cinta kepada lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh dua usaha, yaitu pembiasaan dan partisipasi. Implementasi pembelajaran fiqih dalam pembentukan karakter peduli lingkungan dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui pemberian materi yang terintegrasi dengan mata pelajaran dan juga praktik di lapangan.English:Everyone has environmental role to create changes, especially in creating cleanliness. Environmental concerns may begin from the smallest scopes, such as family and school or madrasah. This article deals with Islamic jurisprudence learning with concerns of Adiwiyata achievement in MTsN Tambakberas Jombang. This study is using qualitative approach and is conducted at di MTsN Tambakberas Jombang. The result shows that students’ attitudes toward environmental issues is satisfying through integration of the issues in Islamic jurisprudence class and other classes. Therefore, in any classes, students are always motivated to love and responsible with their environment. This is a result of two efforts, habitual development and participation. Islamic jurisprudence class contributes in the character building of environmental concerns, either through integrating the concerns into the teaching materials and practice in the fields.
Rekontekstualisasi Sejarah: Kontribusi Lembaga Pendidikan Islam terhadap Dakwah Rasulullah SAW Musaddad Harahap; Lina Mayasari Siregar
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1373.067 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.288-308

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini mencoba menyelami kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam merangkai ajaran-ajaran Islam menjadi satu kesatuan yang utuh lewat pendidikan. Selama kurun 23 tahun Islam sudah menjadi ajaran yang mapan penuh dengan rahasia keilmuan, sehingga Islam dijuluki sebagai agama yang rahmatallil’alamin. Dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini memaparkan keberhasilan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabian yang sangat didukung oleh tempat-tempat yang representatif dalam mengajarkan pada waktu itu. Tempat-tempat yang dimaksud telah mengalami akulturasi budaya sebelum datangnya isalm dan terus berkembang bersamaan kedatangan Islam itu sendiri. Mengenai tempat yang berakultrasi dengan Islam adalah kuttab dan rumah, sementara yang tumbuh bersama dengan Islam itu sendiri adalah masjid dan suffah. Keempat lembaga pendidikan Islam yang disebutkan menjadi saluran utama yang digunakan Nabi SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang peduli dengan pendidikan dan sangat fleksibel terhadap kondisi dan situasi bagaimana agar proses pendidikan itu dapat berjalan. Kontribusi lembaga pendidikan Islam selain mampu menciptakan perubahan mendasar dalam konteks keagamaan dan kehidupan sosial juga menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka (inkulsif) terhadap perubahan sosial selama tidak bertetangan dengan aqidah. English: This paper attempts to examine the success of Prophet Muhmmad PBUH in arranging Islamic teachings into a set through education. Within 23 years, Islam emerged into an established teaching and full of hidden knowledge, making Islam gets predicate of blessing for the universe. Through literary study, this research explains the success of the prophet in delivering prophetic messages with support of representative teaching places at the period. The places acculturated with the coming of Islam and keep growing along with the development of Islam. Kuttab and house has acculturated with Islam and Mosques and Suffah have grown together with Islam. The four kind of places became main channels for the prophet PBUH in educating his companions. Therefore, it can be concluded that Islam is a religion with high education concerns and quite flexible towards condition and situation where the educational process takes place. Islamic educational institution is not only creating fundamental change in religious and social life, but also making Islam as an inclusive religion to social changes as long as the changes are not contradictory to Islamic faith. 
Implementasi Metode STIFIn dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an di Rumah Qur’an STIFIn Paiton Probolinggo Akmal Mundiri; Irma Zahra
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.28 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.201-223

Abstract

Bahasa Indonesia:Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman yang mewartakan prinsip dan doktrin ajaran Islam mempunyai apa yang disebut dengan kepastian teks (qat’i al-wurud). Dalam proses menjaga kepastian teks tersebut, terdapat peran serta manusia yang salah satu caranya dengan menghafalkan al-Qur’an.  Namun, menghafal al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan sebagaimana menghafal suatu lagu atau syair. Problem yang dihadapi oleh seseorang yang sedang menghafal al-Qur’an memang banyak dan bermacam-macam. Mulai dari faktor minat, bakat, lingkungan, waktu, sampai pada metode menghafal itu sendiri. Metode STIFIn sebagai salah satu metode menghafal al-Qur’an dalam implementasinya menawarkan solusi menghafal cepat yang dilakukan mulai sebelum proses menghafal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam implementasinya, dengan cara memetakan penghafal berbasis pada teori hereditas, sehingga berimplikasi pada rekayasa pembelajaran yang berbeda antar masing-masing potensi. Demikian pula dengan tes kemampuan hafalan guna mengetahui kekuatan dan kemampuan masing-masing dalam menghafal al-Qur’an. Hal tersebut kemudian diikuti dengan klasifikasi penghafal al-Qur’an berdasarkan teori sirkulasi STIFIn ketika melaksanakan kegiatan setoran kepada pembina, sehingga dalam pelaksanaan metode STIFIn sangat membantu santri untuk bisa menghafal al-Qur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing. English:Al-Qur'an as one of the guidelines that proclaim the principles and doctrines of Islamic teachings has what is called the certainty of the text (qat'i al-wurud). In the process of maintaining the certainty of the text, there is the human role that as memorizer of the holy Qur’an. However, memorizing the Qur'an is not easy as imagined as memorizing a song or poem. The problem faced by someone who is memorizing the Qur'an is many and varied. Starting from the interest factor, talent, environment, time, until the method of memorizing itself. The STIFIn method as one of the methods of memorizing the Qur'an in its implementation offers a solution to memorize quickly that began before the memorization process. The results of this study indicate that in its implementation, by mapping the memorizers based on the theory of heredity, so that it implies different learning engineering between each potential. Similarly, the tests of the ability of memorizing to know the strength and ability each person in memorizing the Holy Qur'an. It is then followed by the classification of the who memorized the Qur'an based on the STIFIn circulation theory when carrying out the deposit activities to each coach, so in the implementation of STIFIn method is very helpful for santri to be able to memorize the Qur'an more easily and comfortably, because have adjusted the method with their respective genetic potential.
Membangun Etika dan Kepribadian di Lembaga Pendidikan Islam: Sebuah Perspektif Psikologi Qur’ani Ah. Zakki Fuad; Jauharoti Alfin; Ahmad Munjin Nasih
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.066 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.309-338

Abstract

Bahasa Indonesia:Lembaga pendidikan Islam mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membangun etika dan kepribadian peserta didiknya. Tantangan pendidikan Islam sekarang ini adalah munculnya  pergeseran tata nilai etika dan kepribadian di masyarakat karena pengaruh globalisasi, kemajuan teknologi, problematika sosial serta disparitas kemampuan ekonomi yang berbeda yang secara tidak langsung memunculkan konflik sosial, disharmonisasi hubungan orang tua dengan anak, guru dengan murid dan lain sebagainya. Al-Qur’an sebagai sumber penggalian keilmuan telah menawarkan konsep pembangunan etika dan kepribadian (ethics and personality development) bagi manusia, khususnya peserta didik di lembaga pendidikan  melalui psikologi qur’ani. Konseptualisasi dan teorisasi psikologi qur’ani dalam tulisan ini menggunakan content analisis dengan langkah-langkah; Unitizing, Sampling, Recording, Reducing, Inferring, Anayzing and Narrating. Langkah-langkah metodologis ini akan menghasilkan konsep psikologi yang bersumber dari al-Qur’an dan dikombinasikan dengan beberapa teori psikologi; Connectionism theory, Classical Conditioning, Operant Coditioning, Contiguous Conditioning, Cogitive theory, Social Learning Theory.  Hasilnya membangun rumusan bagaimana membangun etika dan kepribadian  Qur’ani bagi peserta didik di Lembaga Pendidikan Islam. English:Islamic educational institutions have a great responsibility in building learners’ ethics and personality. The challenge of Islamic education today is the emergence of a shift in ethical and personality values in society due to the influence of globalization, technological advancement, social problems, and economic disparities, which indirectly bring about social conflicts, parents-children slack relationships, as well as teachers-students weak engagement. Al-Qur'an as a source of scientific exploration has offered the concept of ethical and personality development (human ethics and personality development), especially for learners in educational institutions through Quranic psychology. The conceptualization and theorization of Quranic psychology in this paper makes use of content analysis with the following step: Unitizing, Sampling, Recording, Reducing, Inferring, Analyzing, and Narrating. These methodological steps results in the psychological concept rooted in the Qur’an to combine with some modern psycological theories, including Connectionism theory, Classical Conditioning, Operant Coditioning, Contiguous Conditioning, Cogitive theory, and Social Learning Theory. The results construct a mechanism of how to build Quranic ethics and personality for learners in Islamic educational  institutions.
Pendidikan Multikultural dalam Menanggulangi Narasi Islamisme di Indonesia Hasan Baharun; Robiatul Awwaliyah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.447 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.224-243

Abstract

Bahasa Indonesia:Kertas kerja ini memaparkan pendidikan multikultural dalam usahanya menanggulangi narasi Islamisme di Indonesia. Intisari dari pendidikan multikultural adalah sebuah ide dan gerakan pembaruan dalam proses pendidikan. Kemajemukan Indonesia adalah dua mata pisau yang memiliki sisi positif dan negatif. Dalam kemajemukan itu sendiri, keeratan afiliasi kelompok muncul bersamaan dengan potensi perpecahan dalam konteks situasi yang tak terkendali dengan baik. Oleh karenanya, pendidikan multikultural menawarkan demokrasi, kesetaraan, kemerdekaan, dan keberagaman dalam sebuah pendekatan. Dengan kedatangan pendidikan multikultural, ini diharapkan bahwa setiap lapisan masyarakat merasa dikenali, dihargai, diperlakukan secara demokratis dan pantas kendati berbagai perbedaan budaya. Sebagai hasilnya, mereka mendapatkan kesempatan yang sama dalam mencapai tujuan-tujuannya. Indikasi idealnya adalah adanya kemauan untuk menerima dan menghargai kelompok-kelompok lain dari etnik, gender, dan afiliasi keberagamaan dan budayanya. Dengan kata lain, pendidikan multicultural muncul sebagai pengikat, kepenghubungan, pengaman, dan penjamin terhadap keberlangsungan kemajemukan. Ajuan pendidikan multikultural ini muncul untuk mengangulangi narasi Islamisme di Indonesia yang muncul sebagai akibat dari ketika Islam berhadapan dengan modernitas yang identik dengan Barat. English:This paper presents multicultural education in tackling Islamism narration in Indonesia. The heart of multicultural education is the idea and renewal movement in educational process. Indonesian diversity is like a double-edged knife, which involves both positives and negatives. In the diversity itself, strong group affilition emerged as well as potential of disunity appears in the context of unwell-managed circumstances. Hence, multicultural education offers democracy, equality, freedom, and pluralism in a single approach. With the advent of multicultural education, it is hoped that all levels of society will feel recognized, appreciated, democratically and equitably treated despite cultural differences. As a result, they have equal opportunity to achieve their goals. The ideal indication shows the willingness to accept and appreciate other groups of different ethnics, gender, and religious affilition and cultures. In other words, multicultural education exists as a binder, liaison, safety, and assurance of sustainability diversity. This multicultural education proposal emerged in order to overcome the narration of Islamism, which born as encounter efforts between Islam vis-à-vis the modernity associated with the west.
Kompetensi Keagamaan Mahasiswa Prodi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya (Analisis Perbandingan Penerimaan Jalur SPAN, UM PTKIN dan Jalur Mandiri Tahun 2016) Sutikno Sutikno
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.819 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.244-263

Abstract

Bahasa Indonesia:Realita menunjukkan bahwa ada sebagian mahasiswa Prodi PAI FTK UIN Sunan Ampel Surabaya penguasaan kompetensi keagamaannya kurang memadai, terutama dalam baca tulis al-Qur’a>n dan al-H}adi>th, baik yang diterima melalui jalur SPAN, UM PTKIN maupun jalur Mandiri. Dengan demikian, timbul kekhawatiran atas kesenjangan antara masukan dan harapan keluaran Prodi PAI yang mencetak calon guru PAI yang profesional. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi evaluatif. Hasil analisis menggunakan One Way Anova menunjukkan Fhitung = 44,88 dan uji T dengan thitung =  9,433. Apabila Fhitung = 44,88 dikonfirmasi dengan nilai Ftabel, baik menggunakan taraf signifikansi 5% dan 1%, maka Fhitung> Ftabel (3,44 < 44,88 > 4,88). Apabila thitung =  9,433 dikonfirmasi dengan nilai ttabel, baik menggunakan taraf signifikansi 5% dan 1%, maka thitung> ttabel (1,665 < 9,433 > 2,376), menunjukkan ada persamaan dan perbedaan yang signifikan kompetensi keagamaan mahasiswa Prodi PAI FTK UINSA, baik jalur SPAN, UM PTKIN maupun Mandiri. Persamaannya, pertama nilai rata-rata kompetensi keagamaan pada masing-masing jalur penerimaan terletak pada nilai A- s/d A (9,18 s/d 10,49); kedua, Studi H}adi>th sebagai mata kuliah keagamaan dengan nilai terendah. Perbedaannya, nilai tertinggi jalur SPAN dan UM PTKIN ditempati oleh Aqidah Ilmu Kalam, sedangkan nilai tertinggi pada jalur mandiri ditempati oleh Fiqih Ibadah. English:It is the fact that mastery of Islamic Religious Subjects by some new students at Islamic Education Department of UIN Sunan Ampel Surabaya is not yet satisfying, especially in reading al-Qur'a>n and al-H}adi>th, by those admitted through SPAN, UM PTKIN or Jalur Mandiri (institutional test). Thus, there is an apprehension about quality disparity between the input and expected output of Islamic education teacher training program to result in professional teachers. This descriptive quantitative research uses an evaluative phenomenology approach. Based on the results of the analysis using One Way Anova, obtained F-count = 44,88 and T-test, which yield t-count = 9,433. If F-count= 44.88 is confirmed against F-table score, using both the 5% and 1% significance levels, then F-count > F-table (3.44 <44,88> 4.88). If t-count = 9,433 is confirmed with t-table value, using 5% and 1% significance level, then t-count > t-table (1,665 <9,433> 2,376), shows there are similarities and significant differences of religious competence of students of Islamic education teacher training of UINSA admitted through SPAN, UM PTKIN and Jalur Mandiri. The similarities is, first, the average score of religious competence in every entry test model lies in the A- and A (9.18 to 10.49); second, in average students experienced H}adi>th studies in the training process with as the lowest grade. The difference is that the students admitted through the SPAN and UM PTKIN modes achieved high score in Aqidah Ilmu Kalam during the training, while those coming from Jalur Mandiri are strong in Fiqh Ibadah (Fiqih 1).
Pendidikan Spiritual Berbasis Tarekat bagi Pecandu Narkoba (Studi Kasus di Pondok Pesantren As-Stressiyah Darul Ubudiyah Sejati Sejomulyo Juwana Pati) Fathur Rohman
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.655 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.161-180

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan pendidikan spiritual berbasis tarekat bagi pecandu narkoba di Pondok Pesantren As-Stressiyah Darul Ubudiyah Sejati Sejomulyo Juwana Pati. Rumusan masalah dalam tulisan ini difokuskan pada dua masalah, yaitu bagaimana pelaksanaan pendidikan spiritual berbasis tarekat bagi pecandu narkoba di Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati dan apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendidikan spiritual berbasis tarekat bagi pecandu narkoba di Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati. Tulisan ini merupakan hasil penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik partisipant observation, wawancara, dan dokumentasi. Sampel sumber data ditentukan secara purposive dan menggunakan teknik snowball. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Analisis dimulai semenjak di lapangan dan dilakukan secara interaktif dan terus menerus hingga tuntas. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa beberapa  amalan tarekat ternyata relevan untuk diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan spiritual bagi pecandu narkoba. Amalan-amalan tarekat tersebut antara lain: Taubat, Mana>qiban, Doa, Dhikir, Tas}awwur al-Shaikh, dan Riya>d}ah. English:This paper intends to provide an overview of the implementation of tarekat-based spiritual education for drug addicts at Pesantren As-Stressiyah Darul Ubudiyah Sejati Sejomulyo Juwana Pati. The formulation of the problem focuses on two issues, how the implementation of tarekat-based spiritual education for drug addicts in Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati and what are the supporting factors and inhibiting the implementation of tarekat-based spiritual education for drug addicts in Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati. This paper is a result of a qualitative research using case study method. In collecting the data, this research used participatory techniques, interviews, and documentation. The sample data source was determined purposively and used the snowball technique. The analysis technique used is descriptive qualitative analysis with phenomenology approach. The analysis begins in the field and is done interactively and continuously until being completed. The result of this research shows that some tarekat practices are relevant to be applied in the implementation of spiritual education for drug addicts. The orders of the tarekat are: Taubat, Mana>qiban, Prayer, Dhikir, Tas}awwur al-Shaykh, and Riya>d}ah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8