cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang" : 10 Documents clear
Uang dalam perspektif budaya dan filsafat Tionghoa Ardian Cangianto
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1986.%p

Abstract

Perkembangan ekonomi di Tiongkok yang ribuan tahun lamanya melahirkan banyakgagasan maupun teori tentang ekonomi dan fungsi uang. Para filsuf maupun ekonomTiongkok dari zaman ke zaman menghadapi permasalahan-permasalahan ekonomi yangharus diatasi. Secara garis besarnya, kendali negara atas perekonomian maupun perputaranuang itu adalah demi mensejahterakan rakyat. Tanpa ada rakyat yang sejahtera makakekuasaan negara bisa terancam bahkan digulingkan. Dalam mengelola maupunmelaksanakan kegiatan ekonomi harus memiliki keadilan dan kebajikan. Cara itulah yangbisa menghindari kebencian maupun amarah karena kegiatan yang mencari untungberlebihan.Makna dan nilai dari uang menjadi suatu perdebatan di kalangan para filsuf maupunpara ekonom Tiongkok kuno, terutama dalam bidang ekonomi maupun fungsi dalamkehidupan sehari-hari. Namun demikian, bentuk uang koin di Tiongkok selama dua ributahun tidak mengalami perubahan. Bentuk uang koin itu sendiri mengandung nilai filosofitentang keharmonisan.Fungsi dan makna nilai uang akhirnya melampaui fungsi ekonomi, terutama dalambidang metafisik maupun budaya bangsa Tionghoa. Dalam budaya Tionghoa, uang sudahbukan lagi sekedar alat tukar ekonomi, tapi menjadi alat untuk menolak bala, harmonisdengan alam dan lain-lain.
Kultur Masyarakat Industri dan ideologi Ekonomi Stephanus Djunatan
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1982.%p

Abstract

Dalam konteks perubahan menuju masyarakat industri modern di Indonesia,kita perlu memperhatikan lebih jauh bagaimana masyarakat tradisional tetap menawarkanpilihan dan interaksi antar manusia. Kita memang tidak bisa menghapuskan bentukmasyarakat industri modern, demi menghidupkan lagi bentuk masyarakat tradisional.Keberadaan dan peran mereka di tengah komunitas modern semakin menandai bahwa masihada alternatif bagi wujud masyarakat modern. Lebih penting masih ada interaksi dialogis diantara berbagai sistem masyarakat. Jika masyarakat tradisional ini dilenyapkan dari tengahtengahmasyarakat Indonesia modern, kita akan jatuh pada jebakan yang sama dialamimasyarakat industri modern. Ketiadaan pilihan dapat menggiring kita pada semunyapengakuan pada uniknya tiap pribadi/kolektivitas dan kebebasannya dalam menentukan danmengembangkan diri. Untuk itu kita mendiskusikannya lebih jauh
Uang dan Hiper-realitas: Sirkulasi Modal dan Jagad Raya Moneter Yasraf A. Piliang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1987.%p

Abstract

Baudrillard melihat ‘hiper-realitas uang’ hanya dalam konteks sirkulasi uang, di mana uangsebagai sebuah ‘satelit’ beredar melalui model sirkulasi murni di dalam orbit moneter,sehingga terputus sama sekali dari sektor riil ekonomi, yaitu investasi dalam sektor produksi.Di dalam orbit sirkulasi murni ini, uang tidak lagi berfungsi sebagai alat tukar dalampertukaran komoditas, melainkan ‘komoditas murni’, yaitu komoditas yang dipertukarkandari dan untuk dirinya sendiri. Dalam kondisi inilah uang menjadi semacam ‘hiperkomoditas’,yaitu komoditas yang melampaui baik fungsi sebagai alat tukar maupun nilaitukar, akan tetapi meleburkan keduanya.Meskipun demikian, pada kenyataannya, tidak saja ada hiper-realitas dalamfungsi uang, akan tetapi ‘hiper-realitas uang’ dalam pengertian uang telah ‘melampaui’ wujudmaterial-fisiknya sendiri. Bila sebelumnya uang ‘nyata’ dalam pengertian ia memiliki wujudfisik-material (benda, logam, kertas, plastik), sehingga mampu memberikan efek psikologisberupa rasa ‘memiliki uang’ dan efek fenomenologis berupa kesadaran ‘memegang uang’atau berhadapan dengan realitas uang (menyimpan, membawa, mengirim, mencuri,memalsukan, merobek, menghancurkan, membakar), kini baik efek psikologis maupunfenomenologis itu tak lagi bekerja, karena ‘uang’ kini tak lebih dari bit-bit komputer berupagrafis angka-angka yang ada di layar komputer atau wujud holografisnya.Dengan demikian, ‘hiper-realitas uang’ dapat dipahami sebagai kondisi dimana uang telah ‘melampaui’ baik wujud maupun fungsinya, yang keduanya telah berubahdari ‘nyata’ (real) menjadi ‘virtual’. ‘Bentuk uang virtual’ adalah uang dalam berbagai wujuduang elektronik (cybercash, bitcoin, cek digital), yang tak lagi memberikan sensasi‘memegang uang’. Fungsi uang virtual’ adalah fungsi uang yang tak lagi sebagai alat tukardalam sistem pertukaran komoditas, akan tetapi fungsi ‘tanda mengapung’ di mana uangdipertukarkan dengan uang itu sendiri dalam skema hiper-komoditas. ‘Hiper-realitas uang’adalah kondisi di mana uang yang ‘tak-nyata’ disirkulasikan dan dipertukarkan di dalamsebuah sistem ‘ekonomi tak-nyata’, yaitu gerak-gerik uang dalam orbit moneter, yangterputus sama sekali dari sektor ekonomi riil [ ]
Georg Simmel: Filsafat Uang Fransiskus Budi Hardiman
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1978.%p

Abstract

Dampak Buruk Kultur Uang•1. Sikap blasé orang kota•2. Impersonalisasi hubungan antarmanusia => lebih melihat ‘kegunaan’/ ‘fungsi’ seseorang daripada orangnya.•3. Atomisasi dan isolasi antarindividu (ketercerabutan), sehingga individu diperbudak oleh kultur uang (uang menjadi “Allah Zaman Kita”)•4. Komodifikasi semua hal yang dipertukarkan dengan uang, termasuk harga diri (Mis. Prostitusi)
LI CHANGGENG, MARX & UANG Goenawan Mohamad
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1974.%p

Abstract

Dalam dunia modern uang bukanlah sekedar sarana transaksi atau alat tukar. Lebih dari itu ia adalah infrastruktur berbagai differensiasi sosial dan salah satu unsur pokok yang membentuk - atau memanipulasi- gambaran dunia (worldview). Uang memang berperan melebihi fungsi ekonominya saja. Pada lapisan lebih dalam ia sekaligus merepresentasikan spirit dasar modernitas: rasionalitas, kalkulabilitas dan impersonalitas.Bila dalam dunia kuno realitas dipahami dan dikelola berdasarkan imajinasi dan rasa, dan masyarakat lantas dihayati sebagai paguyuban dengan kohesi sosial yang erat, dalam era modern realitas dipahami melalui kalkulasi rasional dan abstraksi, dan masyarakat terpecah ke dalam bermacam differensiasi sosial, yang ditandai dengan uang sebagai ukuran kuantitatif pembedanya.  Dari sisi ini uang adalah salah satu faktor yang melahirkan pergeseran mendasar dari Gemeinschaft ke Gesellschaft, dari pola relasi estetik ke pragmatik, kerangka pandang kualitatif ke kuantitatif,  sistem yang personal ke impersonal. Akibatnya di dunia modern orientasi nilai dan faktor penentu utama  adalah profit, akumulasi kapital, dan kekayaan material. Segala nilai lain hanya penting sejauh mendukung hal-hal tersebut. 
PESUGIHAN: Hubungan Uang dan Mistik dalam Perspektif Antropologis Onesius Otenieli Daeli
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1984.%p

Abstract

• Apakah korupsi dapat digolongkan sebagai pesugihan (modern)?• Bagaimana dengan praktik penjualan simbol‐simbol, termasuk symbol religius? Misalnya,di Manila Philippines, para pedagang menjual lilin warna‐warni di sekitar Gereja tempatziarah untuk dibakar supaya doanya dikabulkan? Catatan: intensi/ujud doa disesuaikandengan warna tertentu, misalnya lilin merah untuk memohon jodoh, kuning untuk lulusujian, dan sebagainya. Ada juga yang menjual lilin dengan lebel tertentu, dan seolah‐olahada jaminan bahwa doanya akan terkabul. Apakah ini juga termasuk pesugihan?
HATI SENANG WALAUPUN TAK PUNYA UANG Dudung Abdurrahman
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1975.%p

Abstract

Dalam dunia modern uang bukanlah sekedar sarana transaksi atau alat tukar. Lebih dari itu ia adalah infrastruktur berbagai differensiasi sosial dan salah satu unsur pokok yang membentuk - atau memanipulasi- gambaran dunia (worldview). Uang memang berperan melebihi fungsi ekonominya saja. Pada lapisan lebih dalam ia sekaligus merepresentasikan spirit dasar modernitas: rasionalitas, kalkulabilitas dan impersonalitas.Bila dalam dunia kuno realitas dipahami dan dikelola berdasarkan imajinasi dan rasa, dan masyarakat lantas dihayati sebagai paguyuban dengan kohesi sosial yang erat, dalam era modern realitas dipahami melalui kalkulasi rasional dan abstraksi, dan masyarakat terpecah ke dalam bermacam differensiasi sosial, yang ditandai dengan uang sebagai ukuran kuantitatif pembedanya.  Dari sisi ini uang adalah salah satu faktor yang melahirkan pergeseran mendasar dari Gemeinschaft ke Gesellschaft, dari pola relasi estetik ke pragmatik, kerangka pandang kualitatif ke kuantitatif,  sistem yang personal ke impersonal. Akibatnya di dunia modern orientasi nilai dan faktor penentu utama  adalah profit, akumulasi kapital, dan kekayaan material. Segala nilai lain hanya penting sejauh mendukung hal-hal tersebut. 
Homo Economicus B. Herry Priyono
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1980.%p

Abstract

Dalam dunia modern uang bukanlah sekedar sarana transaksi atau alat tukar. Lebih dari itu ia adalah infrastruktur berbagai differensiasi sosial dan salah satu unsur pokok yang membentuk - atau memanipulasi- gambaran dunia (worldview). Uang memang berperan melebihi fungsi ekonominya saja. Pada lapisan lebih dalam ia sekaligus merepresentasikan spirit dasar modernitas: rasionalitas, kalkulabilitas dan impersonalitas.Bila dalam dunia kuno realitas dipahami dan dikelola berdasarkan imajinasi dan rasa, dan masyarakat lantas dihayati sebagai paguyuban dengan kohesi sosial yang erat, dalam era modern realitas dipahami melalui kalkulasi rasional dan abstraksi, dan masyarakat terpecah ke dalam bermacam differensiasi sosial, yang ditandai dengan uang sebagai ukuran kuantitatif pembedanya.  Dari sisi ini uang adalah salah satu faktor yang melahirkan pergeseran mendasar dari Gemeinschaft ke Gesellschaft, dari pola relasi estetik ke pragmatik, kerangka pandang kualitatif ke kuantitatif,  sistem yang personal ke impersonal. Akibatnya di dunia modern orientasi nilai dan faktor penentu utama  adalah profit, akumulasi kapital, dan kekayaan material. Segala nilai lain hanya penting sejauh mendukung hal-hal tersebut. 
MENCARI DAN TIDAK MENEMUKAN REMY SYLADO
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1985.%p

Abstract

"No onewould have remembered the Good Samaritan if he'd only had good intentions. He hadmoney as well.” (Margaret Thatcher)
ETIKA PROTESTANTISME DAN REVOLUSI MENTAL DI BIDANG EKONOMI Agus Rachmat
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1976.%p

Abstract

1. Sekularisasi: Weber mengantisipasi bahwa spiritual capital itu perlahan-lahan makinmenyusut berkat terjadinya sekularisasi. Fondasi kapitalisme modern bukan lagi EPmelainkan kemajuan dan terobosan di bidang Iptek. Akibatnya profit dan wealthmenjadi tujuan mutlak yang terlepas dari panduan etis religious. Ringkasnya, bahayamunculnya materialism dan hedonism: motif kenikmatan duaniawi menggesermotiuf Protestant tentang keselamatan surgawi.2. Kapitalisme global dewasa ini bertumpu pada prinsip maksimalisasi produksi &maksimalisasi konsumsi. Akibatnya terjadilah krisis ekologis yang paarah.3. EP menandaskan bahwa sukses financial seseorang itu tergantung dari watak dankebajikan moral masing-masing individu ybs. Akibatnya cenderung ada pandanganyang negative terhadap orang-orang yang dianggap tak produktif (khususnyamiskin & menganggur): Mereka sering dianggap sebagai orang yang kurangmempunyai mental dan moral yang baik. Padahal mungkin mereka adalah korbanstructural.

Page 1 of 1 | Total Record : 10