cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
WORLD JAZZ’ HIBRIDITAS SEBUAH GENRE BARU Djaelani Djaelani
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2016): ECF Musik
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.2299.%p

Abstract

WORLD JAZZ’ HIBRIDITAS SEBUAH GENRE BARU
Seks dan Ideologi Aquarini Priyatna
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.2289.%p

Abstract

Seks dan Ideologi
Seni dan Imagologi: Menuju Emansipasi Imaji dalam Fenomenologi Seni Hadrianus Tedjoworo
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1979.%p

Abstract

Imaji bukanlah konsep. Dengan sangat miskin ia diterjemahkan sebagai „gambaran‟.Kini semuanya mau dikonseptualisasi. Diskursus tentang realitas dan seni pun mau dibuat semakin „teoretis‟, yakni berdasarkan model-model yang dianggap berlaku lebih universal dalam nama ilmu pengetahuan. Benarkah seni ada karena sebuah penilaian? Apakah tidak sepantasnya orang belajar lagi untuk mengalami, lebih daripada memahami (menempatkan realitas ke dalam sebuah struktur pemahaman)? Bahasa kita bertanggung jawab juga dalam hal „pemiskinan‟ imaji-imaji yang hadir dalam kehidupan. Menggambarkan itu sudah bersifat interpretatif. Ia sudah merupakan tahap berikut dalam hermeneutik, sebab interpretasi kita tidak pernah sekedar suatu reproduksi realitas. Dengan begitu, di satu sisi, bukan berarti konsep itu sesuatu yang tidak penting atau tidak perlu dalam (filsafat) seni, tetapi sifat „kritis‟ dalam filsafat mengandaikan bahwa kita tidak begitu saja memutlakkan salah satu pendekatan yang berusaha menyingkapkan kebenaran. Di sisi lain, sifat „kritis‟ filsafat tidak mungkin juga membuat orang jatuh ke dalam interpretasi yang relativistis, yang tidak peduli apakah penafsirannya menyumbangkan suatu ketersingkapan makna atau seakan-akan „sama saja‟ di tengah banjir interpretasi lain.Kesadaran bahwa imaji bukanlah konsep dapat menantang mereka yang terlibat dalam seni untuk menempatkan kembali dirinya sebagai para apresiator imaji, lebih daripada penafsir karya seni. Mereka diundang untuk mengalami lebih daripada menilai, mengapresiasi lebih daripada mengkategorisasi berdasarkan konsep. Dengan begitu, sebetulnya suatu karya seni dikembalikan pada realitas yang mau menghadirkan dirinya sendiri melaluinya. Dalam fenomenologi seni, para seniman bukanlah kreator imaji, sebab imaji itu berasal dari realitas yang dihadirkan melalui karya seninya, dengan bantuan kekuatan imajinasinya. Imaji, dalam pengertian ini, jauh lebih kaya dibandingkan gambaran yang sangat tergantung pada kemampuan analogis setiap seniman. Manusia memang berusaha menggambarkan realitas, tetapi imaji yang hadir dalam pengalamannya akan selalu lebih kaya, mengatasi setiap konsep yang dicipta untuk sekedar mempermudah proses analoginya.
Techno-culture and The Experience of Time Ignatius Bambang Sugiharto
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2019): ECF Slow-sofia
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.3411.%p

Abstract

Techno-culture and The Experience of Time
Fashion dan Estetika Tubuh Ryan Lie
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.2940.%p

Abstract

Fashion dan Estetika Tubuh
Menghadapi Kematian Riil dan Sadar: Kasus Terpidana Mati Bali Nine Yuventius Fusi Nusantoro
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.2002.%p

Abstract

Sharing pengalaman dalam mendampingi kasus terpidana mati Bali Nine.
Seni dan Ritual Fabie Sebastian Heatubun
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1993.%p

Abstract

Tema dengan judul “Seni dan Ritual”sudah tentu menyimpan teka-teki yang enigmatik. Apa maunya dengan tiga kata tersebut. Apa hendak menyiratkan bahwa seni itu sama dengan ritual? Apa seni dan ritual itu saling membutuhkan dan saling melengkapi. Atau apakah bahwa menggelar aktifitas ritual itu bukan hanya memiliki seninya tersendiri (the art of ritual), tetapi sudah merupakan aktifitas artistik dan estetik. Yang hendak mengatakan bahwa dalam sebuah upacara ritual merupakan „Gesamkunstwerke’ suatu ramuan dari berbagai karya seni yang dikemas menjadi satu kesatuan; mulai dari seni arsitektural, suara, drama, patung, lukis atau tari. Karenanya ritual bukan aktifitas saintifik tetapi aktifitas artistik. Apakah bisa juga diartikan bahwa seni dan ritual itu karena peran pentingya sama bagi kehidupan manusia maka tak dapat dipisahkan. Atau apakah mau mengatakan bahwa seni dan ritual kini sedang mengalami nasib yang sama; keduanya sendang sekarat? Belum mati benar. Bila diumpamakan seni itu bulan dan ritual itu matahari, keduanya menciptakan kebahagiaan kepada kita sesuai dengan waktunya yang kini sedang mengalami gerhana? Ada gerhana bulan dan ada gerhana matahari. Seni tertutup ritual? Atau ritual yang tertutup seni? Terang-gelap, muncul-tenggelam telah menciptakan irama alamiah, kali ini dipahami telah terganggu. Tapi bukankah bulan mengorbit pada matahari? Bulan tergantung pada matahari? Atau berdiri sendiri? Apakah hendak membahas bahwa seni itu harus berkarakter ritual, vice versa?Seni dan ritual bukan hanya saling melengkapi tetapi saling menukar karakter yang masing-masing memiliki keunggulannya? Ritual tanpa seni, mati. Begitu juga sebaliknya. Ritual adalah seni dan seni membutuhkan perwujudan sempurnanya pada ritual? Tanpa ritualisasi ritual, seni hanyalah aktifitas dan kreatifitas tanpa makna. Di situlah pula yang membedakan antara „craft’ dengan karya seni yang estetis. Bahkan kategori seni tinggi dan seni rendah; art dan kitsch terjadi. Upacara ritual dengan jenis ritus dan ritualisasinya menempatkan sebuah karya yang patut dihargai sebagai karya seni. Justifikasi sebuah karya seni bukan hanya dalam proses kreatif dan/atau proses penciptaanya saja, tetapi juga ada pada proses ritualisasinya. Seni selalu membutuhkan wadah. Ia membutuhkan ruang dan waktu yang tepat dan khusus untuk menciptakan maknanya yang terdalam. Seni membutuhkan „hermeneutical site‟ untuk menampilkan,2memancarkan dan melahirkan makna dan artinya. Seni harus ada pada suasana yang terjadi dalam ruang waktu tertentu yang menciptakan atmosfir di luar keseharian (extra quotidiana). Di situlah gedung pameran, gedung pertunjukan, ruang diskusi, dimana sang kurator, seniman, kritikus dan apresiator berkumpul dalam suatu upacara ritual. Seperti juga sebuah musium menjadi ruang sakral yang menuntut tata tertib dan etiketnya sendiri ketika berada di sana dengan tujuan utamanya mengapresiasi. Tentu saja ketika wadah ritual itu jatuh keada praktek ritualisme dan formalisme akan membunuh hakekat seni dan ritual itu sendiri. Seni dan ritual yang bermaksud untuk mentransendensi ruang dan waktu yang banal, bisa jatuh ke dalam rutinitas yang baru.
Dualitas Idealisme dan Materialisme Fitzgerald K. Sitorus
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i0.2889.%p

Abstract

Dualitas Idealisme dan Materialisme
Fatsal Makan: Jauhkan Kami dari Roh Kebebalan Kombangang Remy Sylado
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.2294.%p

Abstract

Fatsal Makan: Jauhkan Kami dari Roh Kebebalan Kombangang
PESUGIHAN: Hubungan Uang dan Mistik dalam Perspektif Antropologis Onesius Otenieli Daeli
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1984.%p

Abstract

• Apakah korupsi dapat digolongkan sebagai pesugihan (modern)?• Bagaimana dengan praktik penjualan simbol‐simbol, termasuk symbol religius? Misalnya,di Manila Philippines, para pedagang menjual lilin warna‐warni di sekitar Gereja tempatziarah untuk dibakar supaya doanya dikabulkan? Catatan: intensi/ujud doa disesuaikandengan warna tertentu, misalnya lilin merah untuk memohon jodoh, kuning untuk lulusujian, dan sebagainya. Ada juga yang menjual lilin dengan lebel tertentu, dan seolah‐olahada jaminan bahwa doanya akan terkabul. Apakah ini juga termasuk pesugihan?