cover
Contact Name
Ni Putu Diantariani
Contact Email
jurnalkimia@unud.ac.id
Phone
+628123640424
Journal Mail Official
jurnalkimia@unud.ac.id
Editorial Address
Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Jimbaran, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 19079850     EISSN : 25992740     DOI : 10.24843/JCHEM
Core Subject : Science,
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) publishes papers on all aspects of fundamental and applied chemistry. The journal is naturally broad in scope, welcomes submissions from across a range of disciplines, and reports both theoretical and experimental studies.
Articles 518 Documents
FITOREMEDIASI TANAH PERTANIAN TERCEMAR Cu DENGAN TANAMAN GUMITIR (Tagetes erecta L) Siaka, I M.; Wijayanthi, I. A. G. S.; Ratnayani, O.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p07

Abstract

Logam berat Cu merupakan polutan yang umum ditemukan pada tanah pertanian dan mencemari tanaman yang tumbuh di tanah tersebut. Salah satu cara untuk mengurangi kandungan cemaran logam berat pada tanah pertanian adalah melalui fitoremediasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menurunkan kandungan Cu pada tanah pertanian yang tercemar logam Cu dan menetapkan nilai bioconcentration factor (BCF) berdasarkan kandungan Cu dalam tanaman gumitir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode remediasi dengan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) pada tanah percobaan yang tercemar logam Cu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kandungan Cu dalam tanah tersebut yang diremediasi selama 20, 40, dan 60 hari berturut-turut sebesar 8,1582 mg/kg; 16,4048 mg/kg; dan 1,4583 mg/kg, sedangkan rata-rata kandungan Cu pada tanaman gumitir yg tumbuh pada tanah tercemar tersebut selama 20, 40, dan 60 hari secara berturut-turut sebesar 11,8407 mg/kg; 15,7741 mg/kg; dan 15.3062 mg/kg. Tanaman gumitir tergolong kurang efektif dalam menyerap logam Cu yang ditunjukkan oleh nilai efektivitasnya tertinggi pada saat tanaman tumbuh selama 40 hari yaitu sebesar 13,82% (<50%). Berdasarkan perbandingan kandungan logam Cu dalam tanah dengan kandungannya dalam tanaman yaitu 0,11-0,14%, nilai BCFnya <1 yang artinya tanaman gumitir merupakan tanaman metal excluder, kurang cocok sebagai fitoremediator. Dengan demikian, tanaman gumitir tidak direkomendasikan sebagai fitoremediasi pada tanah tercemar Cu.
LULUR BADAN BERBAHAN KETAN HITAM DAN MINYAK KELAPA Mukti, R. A.; Fatmasari, F. H.; Nuraini, I.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p03

Abstract

Lulur merupakan kosmetika tradisional, yang salah satu bahan dasarnya adalah ketan hitam. Pada penelitian ini pembuatan lulur beras ketan hitam ditambahkan dengan minyak kelapa, teh hijau dan susu. Saat penyimpanan dibutuhkan kestabilan formulasi, untuk itu peneliti menambahkan antioksidan berupa tokoferol (vitamin E). Pada penelitian ini kestabilan 2 formula, yaitu formula tanpa dan dengan tokoferol diamati. Pengamatan dilakukan selama 2 minggu, dengan mengukur kadar keasaman (pH) dan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan kedua formulasi yng dibuat tidak menunjukan perbedaan signifikan. Pada formula dengan tokoferol didapatkan penurunan kadar keasaman sebesar 0,03 %, sedangkan pada formula tanpa tokoferol 0,017%. Sedangkan untuk data viskositas didapatkan tidak ada perubahan viskositas pada formula dengan tokoferol dan perubahan sebesar 0,18 % pada formula tanpa tokoferol. Kesimpulannya adalah kedua formula memiliki kestabilan yang hampir sama selama penyimpanan. Hal tersebut disebabkan karena pada kedua formula terdapat bahan campuran berupa minyak kelapa yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan setara dengan tokoferol. Kata kunci: anti oksidan, lulur ketan hitam, minyak kelapa ABSTRACT Lulur is a traditional cosmetic, and one of its ingredients is black sticky rice. In this study, black sticky rice was mixed with coconut oil, green tea, and milk to prepare the body scrub. To keep the formula stable during storage, adding an antioxidant in the form of tocopherol (vitamin E) is needed. The stability of 2 formulas, namely formulas without and with tocopherol, was observed. The observations were carried out for two weeks by measuring the acidity levels (pH) and viscosity. The research results showed that the two formulas did not show any significant differences. In the formula with tocopherol, the acidity level was reduced by 0.03%, while without tocopherol by 0.017%. However, there was no change in the viscosity of the formula with tocopherol, while in the formula without tocopherol, there was a slight change of 0.18%. In conclusions, both formulas had almost the same stability during storage. These were because both of the formula consisted of coconut oil that can act as an antioxidant equivalent to tocopherol. Keywords: Anti-oxidant, black sticky rice scrub, coconut oil
UJI IN SILICO SENYAWA FLAVONOID KULIT BUAH DELIMA SEBAGAI ANTIKANKER PAYUDARA Ummah, K.; Jariyah, I. A.; Rumengan, S. M.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.2, Juli 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Senyawa flavonoid memiliki aktivitas yang tinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Estrogen-? merupakan salah satu hormon yang berperan dalam perkembangan sel kanker payudara sehingga banyak digunakan sebagai target dalam pengobatan kanker payudara. Pada penelitian ini dilakukan simulasi docking molekuler untuk menguji aktivitas senyawa flavonoid (apigenin, quercetin, pelargonidin dan cyanidin) dari kulit buah delima sebagai inhibitor reseptor estrogen-?. Struktur 3D reseptor estrogen-? dari Protein Data Base, sedangkan struktur senyawa flavonoid diperoleh dari PubChem database. Software yang digunakan dalam simulasi docking molekuler yaitu AutoDock Vina dengan beberapa software pendukung seperti AutoDockTools 1.5.6, PyMOL dan LigPlot. Hasil docking molekuler menunjukkan bahwa senyawa flavonoid yang diuji dapat menghambat aktivitas reseptor estrogen-? dengan energy ikatan ligan-protein sebesar -8,1 hingga -8,5 kkal/mol. Aktivitas inhibitor 4 senyawa flavonoid tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tamoxifen sebagai senyawa kontrolnya. Potensi senyawa flavonoid juga didukung dengan adanya interaksi hidrofobik dan ?-? stacking antara senyawa flavonoid dengan asam amino pada sisi aktif protein. Gugus fenol pada senyawa flavonoid juga dapat memperkuat interaksi ligan-protein melalui ikatan hidrogen dengan beberapa residu asam amino Glu353, Arg394, Leu387 dan His524. Berdasarkan hasil uji docking molekuler, dapat disimpulkan bahwa senyawa flavonoid dalam kulit buah delima berpotensi sebagai agen antikanker payudara. Kata kunci: flavonoid, kulit buah delima, kanker payudara, reseptor estrogen-?, docking molekuler. ABSTRACT Flavonoids have a high potential to inhibit the growth of cancer cells. Estrogen-? hormones, which play a role in the development of breast cancer cells, are widely used as a target in breast cancer treatment. In this research, molecular docking simulations were carried out to test the activity of flavonoid compounds (apigenin, quercetin, pelargonidin, and cyanidin) extracted from pomegranate peel used as inhibitors for the estrogen-? receptors. The 3D structure of the estrogen-? receptors was obtained from the Protein database, and the flavonoid structure was from the PubChem database. The software used in the molecular docking simulation was AutoDockTools 1.5.6, AutoDock Vina, PyMOL, and LigPlot. The results showed that the flavonoid compounds tested could inhibit estrogen-? receptor activity with a ligand-protein binding energy of -8.1 to -8.5 kcal/mol. The inhibitory activity of the four flavonoid compounds, such as apigenin, quercetin, pelargonidin, and cyanidin, was higher than the control compound of tamoxifen. The potential of flavonoid compounds was supported by the presence of hydrophobic interactions and ?-? stacking between flavonoid compounds and amino acids on the active site of proteins. The phenol group of flavonoid compounds also strengthened ligand-protein interactions by hydrogen bonds with several amino acid residues Glu353, Arg394, Leu387, and His524. Based on the results of the molecular docking, it can be concluded that the flavonoid compounds in pomegranate peel have the potential to be anti-breast cancer agents. Keywords: flavonoid, pomegranate rind, breast cancer, estrogen-? receptor, molecular docking.
Kajian Bioinformatika: Potensi Ekstrak Kulit Batang Diklorometana Syzygium samarangense sebagai Anti Melasma dan Anti Jerawat Tukiran, T.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.2, Juli 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syzygium samarangense mengandung senyawa flavonoid telah terbukti bermanfaat. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa aurentiacin, pinocembrin, stercurensin, dan uvangoletin sebagai bahan kimia bioaktif terdapat pada kulit batang tanaman. Senyawa ini terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang sangat baik. Namun, belum ada penelitian mengenai potensinya sebagai agen anti melasma dan anti jerawat. Penelitian ini berupaya melihat keempat bahan kimia tersebut berpotensi sebagai penghambat tyrosinase (TYRP1) anti melasma dan penghambat androgen (AR) anti jerawat dengan menggunakan teknologi biokomputasi. Studi ini mencakup analisis druglikeness Lipinski dan molecular docking menggunakan protein TYRP1 dan AR dengan hidrokuinon dan clascoterone sebagai obat kontrol. Analisis lebih lanjut dilakukan dengan prediksi PASS-Online untuk mendukung potensi senyawa. Hasilnya menunjukkan bahwa semua senyawa berpotensi menjadi agen anti melasma dan anti jerawat yang efektif, dengan pinocembrin (-7.4 kkal/mol untuk TYRP1; -8.8 kkal/mol untuk AR) menjadi senyawa yang paling manjur. Senyawa ini memenuhi aturan kemiripan obat Lipinski dan didukung oleh prediksi PASSOnline bahwa senyawa tersebut berpotensi sebagai pemutih kulit dan antagonis androgen. Namun, penelitian lebih lanjut, termasuk penelitian in vitro dan in vivo, diperlukan untuk memastikan potensinya sebagai agen anti melasma dan anti jerawat. Kata kunci: anti-jerawat, anti-melasma, jerawat, hiperpigmentasi, molecular docking. ABSTRACT Syzygium samarangense containing flavonoid compounds have been proven to be beneficial. Previous research revealed that the aurentiacin, pinocembrin, stercurensin, and uvangoletin as bioactive chemicals were present in the plant stem bark. These compounds have been found to have excellent antioxidant activity. However, there has been no research on their potential as anti-melasma and anti-acne agents. This research attempts to look into these four chemicals potential as anti-melasma tyrosinase inhibitors and anti-acne androgen inhibitors using biocomputation technology. The study included druglikeness and molecular docking analyses using TYRP1 and AR proteins with hydroquinone and clascoterone as control drugs. Further analysis was carried out with PASS-Online predictions to support the potency of compounds. The results indicated that all compounds have the potential to be effective anti-melasma and anti-acne agents, with pinocembrin (-7.4 kcal/mol for TYRP1; -8.8 kcal/mol for AR) being the most potent compound. These compounds fulfilled Lipinski's druglikeness rules and were supported by PASSOnline's predictions that they have potential as skin whiteners and androgen antagonists. However, further research, including in vitro and in vivo studies, is necessary to confirm their potential as anti-melasma and anti-acne agents. Keywords: Anti-acne, anti-melasma, acne, hyperpigmentation, molecular docking.
PENENTUAN KADAR ASAM AMINO BEBAS DAN KADAR PROTEIN TERLARUT DARI EKSTRAK KECAMBAH KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN VARIASI WAKTU PERKECAMBAHAN Laksmiwati, A. A. I. A. Mayun; Sahara, E.; Ariati, N. K.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p11

Abstract

Paper ini membahas pengaruh waktu perkecambahan kacang merah terhadap kadar asam amino bebas dan protein terlarut yang terkandung dalam kecambahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar asam amino bebas dan kadar protein terlarut dalam ekstrak kecambah kacang merah yang dihasilkan dari berbagai waktu perkecambahan, yaitu 0, 24,48,72,96 dan 120 jam. Penelitian ini meliputi serangkaian tahap percobaan yaitu diawali dengan proses perkecambahan kacang merah dengan perlakuan variasi waktu perkecambahan, selanjutnya masing-masing sampel kecambah memasuki tahap penepungan, ekstraksi, dan deproteinasi. Terhadap sampel tepung kacang merah dilakukan uji kadar air dan terhadap hasil deproteinisasi dilakukan uji kualitatif dan uji kuantitatif dengan spektrofotometer UV-Vis pada ? =54nm dan ? =570 nm. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar air tepung kacang merah sebesar 9,28 %, nilai ini memenuhi standar baku mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu tidak melebihi dari 10%. Uji kualitatif adanya asam amino dengan metode Ninhydrin dan uji protein dengan metode biuret terhadap hasil ekstraksi kecambah kacang merah dengan variasi waktu perkecambahan 0, 24,48,72,96 dan 120 jam menunjukkan hasil yang positif. Kadar total asam amino bebas pada variasi waktu perkecambahan tersebut berturut-turut sebesar 41,87; 69,20; 85,94; 96,31; 102,94 dan 80,62 mg/100g kecambah kacang merah. Kadar protein terlarut dalam ekstrak kecambah kacang merah dengan variasi waktu yang sama, berturut-turut diperoleh sebesar 2,34; 1,87; 1,67; 1,92;1,37; dan 1,15 % (b/b). Dari hasil penelitian ini, jelas terlihat bahwa kadar asam amino tertinggi diperoleh pada waktu perkecambahan selama 96 jam, sedangkan kadar protein terlarut tertinggi diperoleh pada waktu perkecambahan selama 72 jam. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lama perkecambahan mempengaruhi kadar total asam amino bebas dan kadar protein terlarut dalam kecambah kacang merah. Kata kunci: asam amino bebas, kacang merah, perkecambahan, protein terlarut ABSTRACT This paper discusses the effect of red bean germination time on the levels of free amino acids and dissolved protein contained in the sprouts. This study aimed to determine the values of free amino acids and dissolved protein levels in red bean sprout extracts produced at various germination times, namely 0, 24, 48, 72, 96, and 120 hours. This study included a series of experimental stages, initiated with the red bean germination process with variations in germination time, and the next stage was each sample of sprouts entered the stages of flouring, extraction, and deproteination. Samples of red bean flour were tested for their water content, and the results of deproteinization were tested qualitatively and quantitatively using a UV-Vis spectrophotometer at ? = 540 nm and ? = 570 nm, respectively. The results showed that the water content of red bean flour was 9.28%, which met the Indonesian National Standard (SNI), which did not exceed 10%. Qualitative tests for the presence of amino acids using the Ninhydrin method and the total protein content tests using the Biuret method on the extract of red bean sprouts with germination times of 0, 24, 48, 72, 96, and 120 hours showed positive results. The total free amino acid levels in the red bean extracts obtained from various germination times were 41.87, 69.20, 85.94, 96.31, 102.94, and 80.62 % (w/w), respectively, while the values of soluble protein were 2.34, 1.87, 1.67, 1.92, 1.37, and 1.15 % (w/w), respectively. It can be seen clearly that the highest level of amino acids was obtained at the germination time of 96 hours, while the highest soluble protein level at the germination time of 72 hours. Keywords: free amino acids, germination, red beans, soluble protein
Fitoremediasi Tanah Pertanian Tercemar Kromium (Cr) oleh Tanaman Hanjuang (Cordyline fruticosa (L.) A.Chev.) Siaka, I M.; Wulantari, N. M. P.; Sudiarta, I W.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.2, Juli 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Logam berat kromium merupakan bahan pencemar yang banyak ditemukan di dalam tanah pertanian dan sering mencemari tanaman yang hidup di atas tanah tersebut. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi kontaminasi logam berat seperti Cr pada tanah pertanian adalah dengan fitoremediasi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas tanaman hanjuang (Cordyline fruicosa) dalam menurunkan kandungan logam Cr dalam tanah tercemar dengan menentukan jumlah logam Cr yang bersifat bioavailable dan mengetahui nilai bioconcentration factor (BCF) dan translocation factor (TF) pada tanah tersebut. Metode yang digunakan adalah fitoremidiasi dengan menanam tanaman hanjuang pada tanah pertanian yang tercemar logam Cr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penyerapan Cr oleh tanaman hanjuang yang meremediasi selama 21, 42, dan 63 hari berturut-turut sebesar 33,28 %; 45,88 % dan 54,39 %. Ini berarti bahwa semakin lama tanaman hanjuang meremediasi tanah tercemar, semakin efektif tanaman tersebut menyerap Cr. Kandungan logam Cr total dalam tanah yang diremediasi selama 21, 42, dan 63 hari berturut-turut sebesar 102,9361 ± 0,2512 mg/kg; 102,5798 ± 3,5173 mg/kg dan 103,5032 ± 0,0149 mg/kg sebelum ditanami hanjuang dan 67,6099 ± 0,8291 mg/kg; 50,9033 ± 0,8633 mg/kg dan 43,9568 ± 5,3452 mg/kg saat panen hanjuang. Nilai bioconcentration factor (BCF) logam Cr < 1 yakni bersifat excluder dan nilai TF (Transport Faktor) > 1 yang artinya tanaman ini mampu melakukan fitoekstraksi terhadap logam Cr. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman hanjuang cukup efektif dalam menyerap logam Cr dengan waktu remediasi lebih lama karena pada waktu remediasi 63 hari nilai efektivitasnya melebihi 50 %. Kata kunci: fitoremediasi, logam berat Cr, tanah tercemar, tanaman hanjuang ABSTRACT The heavy metal chromium is a pollutant that is often found in agricultural soil and often contaminates the plants that grow on the soil. One effort that can be made to reduce heavy metal contamination such as Cr in agricultural soil is phytoremediation. This research aimed to determine the effectiveness of the hanjuang plant (Cordyline fruicosa) in reducing the Cr content in polluted soil by determining the concentration of bioavailable Cr and the values of the bioconcentration factor (BCF) and translocation factor (TF) ??of the plant. The method used was phytoremediation by planting hanjuang plants on agricultural soil contaminated with Cr metal. The results showed that the effectiveness of Cr absorption by hanjuang plants that remediated for 21, 42, and 63 days was 33.28%; 45.88 %, and 54.39 %, respectively. This means that the longer hanjuang plants remediate polluted soil, the more effectively they absorb Cr. The total Cr content in soil remediated for 21, 42, and 63 days was 102.9361 ± 0.2512 mg/kg; 102.5798 ± 3.5173 mg/kg and 103.5032 ± 0.0149 mg/kg, respectively before planting and 67.6099 ± 0.8291 mg/kg; 50.9033 ± 0.8633 mg/kg and 43.9568 ± 5.3452 mg/kg, respectively at after hanjuang harvest. The bioconcentration factor (BCF) value for Cr metal was < 1, meaning it is an excluder and the TF (Transport Factor) value was > 1, which means this plant is phytoextraction in absorbing Cr metal. Thus, it can be concluded that the hanjuang plant is effective in absorbing Cr metal with a longer remediation time because, at a remediation time of 63 days, the effectiveness value exceeds 50%. Keywords: chromium, heavy metal, phytoremediation, polluted soil, hanjuang plants
LIMBAH KULIT BUAH SALAK TERAKTIVASI ASAM KLORIDA SEBAGAI ARANG AKTIF LOGAM BERAT TIMBAL Pb (II) dan KROMIUM Cr (VI) Prabawati, S. Y.; Aji, D. P.; Rahmadhani, D.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p13

Abstract

Keberadaan logam Pb (II) dan Cr (VI) sangat berbahaya bagi lingkungan hingga menimbulkan gangguan keseimbangan lingkungan, terutama pada ekosistem perairan. Upaya untuk mengurangi logam berat telah banyak menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah adsorpsi menggunakan arang aktif sebagai agen penyerap. Metode ini sangat efektif dan tidak mahal. Salah satu limbah organik yang berpotensi sebagai arang adalah limbah kulit salak. Kajian adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) telah dilakukan menggunakan arang kulit salak teraktivasi HCl. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik arang aktif kulit salak untuk menurunkan kandungan logam Pb (II) dan Cr (VI). Parameter uji dilakukan pada variasi pH waktu kontak, dan konsentrasi larutan logam. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan adanya gugus -OH, C=C, dan C-O pada permukaan arang aktif kulit salak. Karakterisasi SEM menunjukkan morfologi permukaan arang aktif kulit salak teraktivasi HCl memiliki struktur berpori sehingga diharapkan lebih efektif dalam menyerap ion logam berat. Adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) pada variasi pH didapatkan kondisi optimum pada pH 4 dan 2 dengan efektivitas adsorpsi masing-masing sebesar 85,05% dan 17,65%. Adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) memberikan waktu stabil pada menit ke 60 dan 90 dengan persen adsorpsi sebesar 42,05% dan 82,90%. Pola isoterm adsorpsi pada penelitian ini mengikuti pola isoterm Langmuir dengan kapasitas adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) masing-masing sebesar 0,2278 mg/g dan 0,9999 mg/g serta diperoleh energi adsorpsi sebesar 26,77 kJ/mol dan 26,43 kj/mol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, limbah kulit salak sangat berpotensi sebagai arang aktif dalam mengurangi logam Pb (II) dan Cr (VI). Kata kunci: adsorpsi, logam Pb (II) dan Cr (VI), limbah kulit salak, arang aktif, isoterm adsorpsi ABSTRACT The contents of Pb (II) and Cr (VI) metals are dangerous for the surrounding environment and can cause environmental disturbances, especially in aquatic ecosystems. The attempts to reduce heavy metals have used many methods, one of which is adsorption, which uses activated charcoal as an absorbent agent. One of the organic wastes that has the potential to be used as charcoal is salacca peel. The study about the adsorption of Pb (II) and Cr (VI) metals was carried out using charcoal from salacca peel activated with HCl. This research aimed to study the characteristics of activated charcoal from salacca peel to reduce the Pb (II) and Cr (VI) metals. The test parameters were carried out at variations in pH, contact time, and concentration of metal solution. The results of the FTIR characterization showed the presence of -OH, C=C, and C-O groups on the surface of the salacca peel charcoal after HCl activation. The characterization using SEM showed that the surface morphology of salacca peel charcoal after HCl activation has a porous structure that was expected to be more effective in absorbing heavy metal ions. The adsorption of Pb (II) and Cr (VI) metals at various pH obtained optimum conditions at pH 4 and 2 with adsorption effectiveness of 85.05% and 17.65%, respectively. The adsorption of Pb (II) and Cr (VI) metals had a stable time at 60 and 90 minutes with the adsorption percentages of 42.05% and 82.90%. The adsorption isotherm pattern in this study followed the Langmuir isotherm with the adsorption capacities of Pb (II) and Cr (VI) metals of 0.2278 mg/g and 0.9999 mg/g, respectively, and obtained adsorption energies of 26.77 kJ/mol and 26.43 kJ/mol. In conclusion, salak peel waste has great potential as active charcoal in reducing Pb (II) and Cr (VI) metals. Keywords: adsorption, Pb (II) and Cr (VI) metals, salacca peels, activated charcoal, adsorption isotherm
ADSORPTION OF Pb(II) METAL USING ACTIVATED ELEPHANT GRASS ADSORBENT Annisa, R. W. R.; *, Hasri; Pratiwi, D. E.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p04

Abstract

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan tanaman liar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Rumput gajah mengandung selulosa yang cukup tinggi, dengan gugus hidroksil (OH-) dan karboksil (-COOH) yang memiliki kemampuan mengikat logam berat. Oleh karena itu rumput gajah berpeluang dijadikan adsorben untuk menyerap logam berat khususnya logam Pb(II) yang dapat mencemari lingkungan. Pada penelitian ini dilakukan penentuan pH dan waktu kontak optimum serta kapasitas adsorpsi Pb(II) menggunakan adsorben rumput gajah. Tahapan penelitian meliputi pembuatan adsorben rumput gajah, aktivasi adsorben dengan HNO3, penentuan pH optimum, waktu kontak optimum serta kapasitas adsorpsi logam Pb(II). Selanjutnya gugus fungsi adsorben pada saat sebelum dan setelah aktivasi ditentukan dengan FTIR. Hasilnya menunjukkan bahwa pH optimum adsorpsi logam Pb(II) adalah 7 dan daya adsorpsi sebesar 95,60%. Waktu kontak optimum yaitu 60 menit. Kapasitas adsorpsi logam Pb(II) dengan konsentrasi 10, 30, 50 dan 100 ppm berturut-turut adalah 2,00; 6,67; 10,28 dan 13,05 mg/g. Adsorpsi logam Pb(II) menggunakan adsorben rumput gajah teraktivasi mengikuti pola isoterm Langmuir, dengan nilai R2 = 0,9632. Disimpulkan bahwa rumput gajah teraktivasi dapat digunakan sebagai adsorben logam Pb(II). Kata kunci: rumput gajah, asam nitrat, adsorpsi, logam berat. ABSTRACT Elephant grass (Pennisetum purpureum) is a wild plant that has not been utilized optimally. Elephant grass contains relatively high levels of cellulose, with hydroxyl (OH-) and carboxyl (-COOH) groups which can bind heavy metals. Therefore, elephant grass can be used as an adsorbent to absorb heavy metals, especially Pb(II) metal, which pollutes the environment. This research included preparing elephant grass adsorbent, activating the adsorbent with HNO3, determining the optimum pH, contact time, and the adsorption capacity of Pb(II) metal. Furthermore, the functional groups of the adsorbent before and after activation were analyzed using FTIR. The results showed that the optimum pH for adsorbing Pb(II) metal was 7, and the adsorption capacity was 95.60%. The optimum contact time was 60 minutes. The adsorption capacity of Pb(II) metal with concentrations of 10, 30, 50, and 100 ppm was 2.00, 6.67, 10.28, and 13.05 mg/g, respectively. Adsorption of Pb(II) metal using activated elephant grass followed the Langmuir isotherm pattern, with R2 value of 0.9632. In conclusion, activated elephant grass can be utilized as an adsorbent for Ph(II) metal. Keywords: elephant grass, nitric acid, adsorption, heavy metals.
PENGGUNAAN EKSTRAK METANOL DAUN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus M.) SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA MEDIA HCl Batu, M. S.; Adu, R. E. Y.; De Fretes, M.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.2, Juli 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai penggunaan ekstrak metanol daun kaliandra sebagai inhibitor korosi logam besi telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun kaliandra (Calliandra calothyrsus M.) dan kondisi optimum pada variasi waktu perendaman, konsentrasi dan suhu pada proses inhibisi logam besi dalam media HCl. Ekstrak daun kaliandra diperoleh melalui ekstraksi maserasi dengan pelarut metanol. Uji inhibisi korosi dilakukan menggunakan metode pengurangan berat dengan variasi waktu perendaman, konsentrasi ekstrak daun kaliandra, dan suhu untuk mengetahui laju korosi per tahun dan % efisiensi inhibisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun kaliandra mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Kondisi optimum untuk proses inhibisi logam besi pada media korosif HCl dengan ekstrak daun kaliandra diperoleh pada waktu peredaman 6 hari dengan efisiensi inhibisi dan nilai laju korosi sebesar 86,49% dan 0,00119 mm/tahun, serta pada konsentrasi 13.000 ppm dan suhu 26? dengan efisiensi inhibisi dan nilai laju korosi sebesar 91,60 % dan 0,00073 mm/tahun. Pada perendaman menggunakan variasi suhu, semakin tinggi suhu yang digunakan maka efisiensi inhibisinya semakin menurun dan laju korosinya semakin meningkat sehingga logam besi mengalami korosi lebih cepat. Kata kunci: Besi, Korosi, Ekstrak Metanol, Inhibitor, Daun Kaliandra. ABSTRACT In this research, the use of methanol extract from calliandra leaves as an iron metal corrosion inhibitor has been conducted. The purpose of this study was to determine the type of secondary metabolite compounds contained in the extract of calliandra leaves (Calliandra calothyrsus M.) and to determine the optimum conditions at variations (immersion time, concentration, and temperature) in the process of iron metal inhibition using calliandra leaf extract in the HCl corrosion media. The calliandra leaves were extracted using the maceration method with a methanol solvent. The corrosion inhibition test was carried out using the weight loss method with variations in soaking time, the concentration of calliandra leaf extract, and temperature to determine the optimum corrosion rate per year and inhibition efficiency. The results showed that the methanol extract of calliandra leaves contained secondary metabolite compounds of alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins. The optimum conditions for the inhibition process of iron metal in HCl corrosive media with calliandra leaf extract were at the soaking time of 6 days with the inhibition efficiency and corrosion rate of 86.49% and 0.00119 mm/year, and the concentration of 13,000 ppm and temperature of 26? with the inhibition efficiency and corrosion rate of 91.60% and 0.00073 mm/year. In immersion using temperature variation, the higher the temperature used, the lower the inhibition efficiency and the higher the corrosion rate obtained so that the iron metal corroded faster. Keywords: Iron, Corrosion, methanol extract, Inhibitor, Calliandra Leaf.
DEGRADASI ZAT WARNA CONGO RED DENGAN FOTOKATALIS ZnO-ARANG AKTIF DAN OKSIDATOR H2O2 Abimanyu, A. A.; Suprihatin, I. E.; Asih, I. A. R. A.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.2, Juli 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tekstil adalah salah satu kontributor utama limbah cair yang mengandung berbagai zat warna sintetis yang sulit untuk diuraikan, seperti Congo red, yang berpotensi merusak ekosistem perairan. Untuk mengatasi permasalahan ini, pendekomposisian zat warna tersebut dilakukan menggunakan sinar UV dan dipercepat melalui bantuan fotokatalis, yaitu ZnO-Arang Aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum, seperti pH, massa, dan waktu iradiasi dalam proses degradasi Congo red, serta menganalisis pengaruh penambahan oksidator H2O2 terhadap efektivitas ZnO-AA dalam proses degradasi tersebut. Aktivitas fotokatalitik diukur dengan menghitung persentase degradasi larutan Congo red menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum degradasi Congo red terjadi pada massa fotokatalis sebanyak 60 mg, penambahan H2O2 sebanyak 0,5 mL, pH 5, dan waktu iradiasi selama 60 menit, dengan persentase degradasi sebesar 97,99 ± 0,06%. Efektivitas degradasi Congo red juga diuji pada berbagai konsentrasi pada kondisi optimum, dan hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi fotokatalis ZnO-AA dengan penambahan oksidator H2O2 mampu mendegradasi zat warna Congo red hingga konsentrasi 300 mg/L, dengan persentase degradasi sebesar 99,08 ± 0,01%. Kata kunci: congo red, degradasi, fotokatalis, H2O2, ZnO-AA. ABSTRACT The textile industry is one of the major contributors to wastewater containing various synthetic dyes that are difficult to degrade, such as congo red, which can harm aquatic ecosystems. To address this issue, the decomposition of these dyes is carried out using UV light and accelerated with the assistance of a photocatalyst, namely ZnO-Activated Carbon (ZnO-AA). This study aims to determine the optimum conditions, including pH, mass, and irradiation time in the degradation of congo red, and to analyze the influence of adding H2O2 oxidizer in enhancing the effectiveness of ZnO-AA in the degradation process. The photocatalytic activity is measured by measuring the percentage degradation of congo red solution using UV-Vis spectrophotometry. The research results indicate that the optimum conditions for degrading congo red are achieved with a photocatalyst mass of 60 mg, the addition of 0.5 mL H2O2, pH 5, and an irradiation time of 60 minutes, resulting in a degradation percentage of 97.99 ± 0.06%. The effectiveness of congo red degradation was also tested at various concentrations under optimum conditions, and the experimental results show that the combination of ZnO-AA photocatalyst with the addition of H2O2 oxidizer can degrade congo red dye up to a concentration of 300 mg/L, with a degradation percentage of 99.08 ± 0.01%. Keywords: congo red, degradation, H2O2, photocatalyst, ZnO-AC.