cover
Contact Name
Chairil Faif Pasani
Contact Email
chfaifp@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
edu.mat@ulm.ac.id
Editorial Address
Ruang Prodi Pendidikan Matematika Gedung FKIP ULM Banjarmasin Jalan Brigjen H. Hasan Basri, Kayu Tangi, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 23382759     EISSN : 25979051     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Education,
EDU-MAT adalah jurnal yang didirikan pada tahun 2013 di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. EDU-MAT merupakan kumpulan artikel hasil penelitian maupun kajian dosen, peneliti, guru, maupun mahasiswa di bidang pendidikan matematika yang belum pernah dimuat/diterbitkan di media lain. EDU-MAT diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang terbit 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 23 BANJARMASIN Zulkarnain, Iskandar; Dewi, Winda Evina
EDU-MAT Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari hasil diskusi bersama guru pamong matematika kelas VIII SMP Negeri 23 Banjarmasin dan hasil pengamatan selama mengikuti Praktik Pengalaman Lapa­ngan di sekolah tersebut diperoleh informasi kemampuan matematis siswa tergolong rendah. Di eksperimen ini, peneliti menerapkan model Problem Based Learning pada pengajaran matematika yang diinginkan bisa menyelesaikan permasalahan itu. Pene­litian ini memiliki tujuan guna mendapatkan informasi mengenai: (1) Hasil belajar siswa yang menerapkan model Problem Based Learning, (2) Hasil belajar siswa yang menerapkan pembelajaran langsung, (3) Perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan menerapkan model Problem Based Learning dan yang belajar dengan menerapkan pengajaran langsung. Metode yang dipakai pada penelitian ini yaitu meto­de Quasi Experimental Design. Purposive random sampling digunakan sebagai teknik pengambilan sampel dengan mengadopsi dua kelas dari delapan kelas. Untuk menyesuaikan rekomendasi sekolah, dua kelas yang terpilih yaitu kelas VIII D dan VIII H. Kelas kontrol serta eksperimen ditentukan dengan acak, dan kelas VIII H ditetapkan sebagai kelas eksperimen sedangkan VIII D sebagai kelas kontrol. Tes digu­nakan guna menghimpun data. Teknik analisis data yang dipakai adalah statis­tika deskriptif dan statistika inferensial. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: (1) Hasil belajar siswa SMP Negeri 23 Banjarmasin yang menerapkan model Problem Ba­sed Learning berada pada kualifikasi sangat baik, (2) Hasil belajar siswa SMP Negeri 23 Banjarmasin yang menerapkan pengajaran langsung berada pada kuali­fikasi baik, (3) Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata hasil belajar siswa yang belajar dengan menerapkan model Problem Based Learning dan rata-rata hasil belajar siswa yang menerapkan pengajaran langsung.Kata kunci: Problem Based Learning, matematika siswa SMP
Penerapan Model Probing Prompting Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMP Danaryanti, Agni; Tanaffasa, Dara
EDU-MAT Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalur pendidikan di sekolah dimulai dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Sekolah Menengah Pertama  merupakan pendidikan dasar yang wajib ditempuh siswa. Berdasarkan hasil observasi di kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin, banyak siswa bermasalah pada kemampuan koneksi matematisnya, hal ini dikarenakan kurangnya stimulus yang diberikan guru pada saat kegiatan pembelajaran. Salah satu cara untuk menyadarkan siswa terhadap koneksi matematis dengan memberikan pertanyaan. Untuk itu diterapkan model Probing Prompting Learning yang menuntut siswa menghubungkan pengetahuan yang dimilikinya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin dengan model Probing Prompting Learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 32 siswa dan objeknya adalah kemampuan koneksi matematis. Penelitian ini terdiri atas dua siklus yang dilaksanakan dalam empat kali pertemuan, termasuk di dalamnya kegiatan evaluasi kemampuan koneksi yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes evaluasi kemampuan koneksi matematis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan rata-rata nilai evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata kemampuan koneksi matematis siswa kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin tahun pelajaran 2015/2016 dari nilai 59,6 pada siklus I menjadi 63,3 pada siklus II dengan model Probing Prompting Learning.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI KELAS XII IPS Maisyarah, Maisyarah
EDU-MAT Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan komunikasi matematis merupakan salah satu standar proses dalam pembelajaran matematika. Banyak peserta didik dengan kemampuan keterampilan berhitung yang baik, tetapi kemampuan komunikasi matematika masih rendah. Demikian halnya dengan pembelajaran matematika pada kelas XII IPS 1 MAN 1 Banjarmasin. Alternatif usaha yang dilakukan adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan kemampuan komunikasi matematis peserta didik, (2) mengetahui aktivitas, dan (3) mengetahui respon peserta didik terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian dirancang menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 3 (tiga) siklus yang dilaksanakan pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2016-2017. Subjek penelitian adalah peserta didik di kelas XII IPS 1, berjumlah 35 orang. Terdiri atas 20 perempuan dan 15 laki-laki. Objek yang diteliti, yaitu:  kemampuan komunikasi matematis, aktivitas dan respon peserta didik. Faktor yang diselidiki terdiri atas faktor peserta didik dan faktor guru. Faktor peserta didik yang diamati adalah kemampuan komunikasi matematis, aktivitas, dan respon peserta didik. Faktor guru yang diamati adalah kegiatan guru mengajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Teknik pengumpulan data adalah dokumentasi, observasi, evaluasi dan angket. Teknik analisis data menggunakan statistika deskriptif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi Program linear dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis peserta didik. Aktivitas belajar matematika peserta didik terus meningkat dan berada dalam kategori Baik dan Baik Sekali. Respon peserta didik terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah Sangat Baik. Kata Kunci: kooperatif tipe STAD, komunikasi matematis, aktivitas, respon.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG REALISTIK-HUMANISTIK Yuli Eko Siswono, Tatag
EDU-MAT Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran matematika diyakini sebagai sarana memberikan bekal pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan berpikir, serta pengetahuan pendukung mempelajari pengetahuan lain. Matematika memiliki objek abstrak dan dipandang bebas nilai manusiawi. Tetapi dalam pembelajarannya tidak dapat melepaskan diri dari unsur “realistik” dan humanistik. Kecenderungan dewasa ini pembelajaran matematika yang dikembangkan adalah pembelajaran matematika humanistik dengan pendekatan realistik. Makalah ini akan menguraikan suatu pandangan pembelajaran matematika realistik-humanistik, keterkaitan dengan PMRI, dan pembelajaran berorientasi pemecahan dan pengajuan masalah matematika. Kata kunci: humanistik, realistik-humanistik, PMRI, pengajuan masalah, pemecahan masalah
Kemampuan Berpikir Matematis Mahasiswa dalam Menyelesaikan Masalah Geometri Amalia, Rizki
EDU-MAT Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir matematis adalah salah satu kemampuan yang terdapat pada matematika. Kemampuan berpikir matematis terdiri dari kemampuan berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi. Pada perguruan tinggi dilatih untuk memecahkan permasalahan pada kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi. Kemampuan analisis merupakan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi. Kemampuan analisis terdapat pada salah matu kuliah di pendidikan matematika yaitu geometri. Berdasarkan pengalaman peneliti yang telah mengajar mata kuliah geometri, kemampuan analisis siswa dalam mengerjakan soal geometri perlu dilatih. Hal ini bertujuan agar ketika mengajar di sekolah kelak, calon guru ini dapat menginterpretasikan soal dengan baik dan benar. Kemampuan analisis adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa untuk memilah, mengenal ataupun menguraikan suatu masalah menjadi bagian-bagian sehingga menjadi jelas dan dapat dipahami hubungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir matematis mahasiswa dalam menyelesaikan masalah geomteri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan instrumen tes kemampuan berpikir matematis dan dianalisis menggunakan statistika deskriptif yaitu rata-rata dan persentase. Dilaksanakan pada mahasiswa semester satu Tahun Pelajaran 2016-2017 pada mata kuliah geometri.. Hasil penelitian ini adalah rata-rata kemampuan berpikir matematis mahasiswa masih pada nilai C+, rata-rata nilai kemampuan analisis hubungan lebih tinggi daripada rata-rata nilai kemampuan analisis terhadap aturan. Beberapa kendala yag terdapat dalam kemampuan berpikir matematis mahasiswa khususnya kemampuan analisis adalah mengklasifikasikan kata-kata, frase-frase, atau pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan kriteria analitik tertentu, meramalkan sifat-sifat khusus tertentu yang tidak disebutkan secara jelas, mengetengahkan pola, tata, atau pengaturan materi dengan menggunakan kriteria seperti relevansi, sebab akibat dan peruntutan.
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL KNISLEY DI KELAS VIII Sumartono, Sumartono; Karmila, Mely
EDU-MAT Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi matematis adalah kemampuan yang harus ada karena kemam­puan komunikasi matematis membantu dalam hal penyampaian informasi serta pendapat dalam pembelajaran. Selain komunikasi matematis, kemandirian belajar adalah salah satu hal penting untuk dimiliki masing-masing individu, karena keman­dirian belajar menjadi salah satutingkat berhasil matematika seseorang. Tujuannya mengetahui bagaimana komunikais matematis dan kemandirian siwa dengan model knisley dan mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara komu­nikasi matematis dankemandirian siswa dalam pembelajaran matematika memakai model knisley di kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimental memakai desaian equivalent time series sejumlah enam kali. Penelitian ini meng­gunakan populasi selurus sisa kelas VIII SMP Negeri 5Banjarmasin TA 2016/2017, dan siswa kelas VIII/F sebagai sampel. Observasi dan tes untuk pengumpulan data. Data yang didapat dianalisis memakai mean, persentase, uji korelasi spearman rank dan regresi. Hasil penelitian menunjukan dengan menggunakan model knisley ke­mam­puan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran matematika berada dalam kualifikasi baik sekali, kemandirian siswa sudah berada pada kategori menjadi kebiasaan, dan terdapat hubungan antara kemampuan komunikasi matematis setiap siswa dengan kemandirian siswa. Kata Kunci:Kemampuan Komunikasi matematis, Kemandirian Siswa, Model Knisley
Penerapan Metode Pembelajaran Drill untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII SMP Kusumawati, Elli; Irwanto, Randi Ahmad
EDU-MAT Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang diberikan pada siswa di setiap jenjang pendidikan mulai SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi. Salah satu aspek yang perlu mendapat sorotan dari pelajaran matematika di sekolah adalah pemecahan masalah (problem solving). Hal tersebut dikarenakan pemecahan masalah merupakan bagian yang sudah terintegrasi dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode pembelajaran yang tepat untuk melatih siswa agar terbiasa memecahkan soal-soal pemecahan masalah. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan guru matematika  dan siswa diketahui bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah disebabkan karena kurangnya intensitas siswa melakukan latihan mengerjakan soal-soal matematika sehingga berdampak kepada hasil belajar siswa. Metode drill adalah salah satu metode pembelajaran yang menekankan pada banyaknya latihan. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui penerapan metode pembelajaran drill. Penelitian ini dirancang dan dilaksanakan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII H SMPN 5 Banjarmasin tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 30 orang. Objek penelitian adalah keseluruhan proses dan hasil pembelajaran matematika dengan menerapkan metode drill untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, observasi, dan tes. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif yang terdiri dari mean dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kualifikasi persentase rata-rata nilai akhir kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan kualifikasi kurang pada siklus I menjadi kualifikasi baik sekali pada siklus II. Selain itu, juga terjadi peningkatan rata-rata nilai akhir untuk semua indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI SISWA SMP NEGERI DI KECAMATAN BANJARMASIN UTARA TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Sukmawati, R. Ati; Salsabila, Syefira
EDU-MAT Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika yaitu memiliki kemam­puan memecahkan masalah suatu masalah. Salah satu pelajaran yang dipercaya dapat meng­ukur kemampuan pemecahan masalah siswa adalah geometri karena banyak membahas tentang benda-benda, definisi, simbol dan gambar yang dapat dijadikan ide atau gagasan oleh siswa. Penelitian yang dilakukan guna untuk menge­tahui bagai­­mana kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam matema­tika pada siswa SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara dan mendapatkan gam­ba­ran ten­tang kemampuan pemecahan masalah siswa. Penelitian ini memakai metode des­kriptif. Populasi penelitiannya yaitu seluruh SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara, sedangkan sampel penelitiannya adalah SMP Negeri 27 Banjar­masin dan SMP Negeri 32 Banjarmasin yang dipilih menggunakan teknik sampel acak bertujuan, yakni dengan memilih sekolah yang memiliki kurikulum KTSP dan KKM matematika sama yaitu 75. Pengumpulan data dilakukan dengan mengguna­kan tes, yakni beru­pa soal uraian dan dianalisis. Hasil dari penelitian memperlihatkan (1) kemampuan pe­me­cahan masalah geometri siswa SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara tahun pelajaran 2016/2017 berada pada kualifikasi baik (2) rata-rata nilai akhir dari seluruh siswa berada di atas nilai KKM yang ditentukan sekolah (3) dari hasil uji beda satu arah dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh kesimpulan tidak ada perbe­daan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah geometri siswa SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara.Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah, geometri
KONSTRUKSI MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS : SINTAKS DARI MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS EKSPERIMEN DENGAN METODE “GUIDED DISCOVERY” Flavia Aurelia Hidajat; Bachtiar Irawan Hidajat
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v6i2.5220

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi sintaks dari model pembelajaran matematika berbasis eksperimen dengan metode “Guided Discovery”, dimana artikel ini adalah hasil penelitian di tahun pertama. Model ini didesain dengan tujuan untuk memberikan langkah-langkah mengajar yang dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa dengan menemukan pengetahuannya sendiri; kemampuan psikomotor siswa dengan terampil melakukan eksperimen, mengukur bangun datar yang dibentuknya sendiri, menganalisis dan menyimpulkan hasil eksperimennya dengan penemuan terbimbing; serta kemampuan kognitif yang terkonstruksi secara mandiri dengan baik. Kinerja pada sintaks dari model pembelajaran ini dinilai berdasarkan penilaian objektif yang sesuai dengan rubrik yang autentik. Penelitian ini dikembangkan dari suatu penelitian pengembangan dengan model Plomp (dalam Hobri, 2010) yang kemudian menghasilkan model pembelajaran yang meningkatkan kemampuan siswa dengan penemuannya sendiri. Model pembelajaran yang dirancang dinamai dengan model experiment discovery. Model pembelajaran ini terdiri atas 8 tahap yaitu tahap orientasi/pemanasan (opening), tahap pengenalan (introduction), tahap eksperimen secara terbuka (terbimbing), tahap eksperimen secara mandiri, tahap konvergen, tahap implementasi, tahap evaluasi dan penutup.Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi sintaks dari model pembelajaran matematika berbasis eksperimen dengan metode “Guided Discovery”, dimana artikel ini adalah hasil penelitian di tahun pertama. Model ini didesain dengan tujuan untuk memberikan langkah-langkah mengajar yang dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa dengan menemukan pengetahuannya sendiri; kemampuan psikomotor siswa dengan terampil melakukan eksperimen, mengukur bangun datar yang dibentuknya sendiri, menganalisis dan menyimpulkan hasil eksperimennya dengan penemuan terbimbing; serta kemampuan kognitif yang terkonstruksi secara mandiri dengan baik. Kinerja pada sintaks dari model pembelajaran ini dinilai berdasarkan penilaian objektif yang sesuai dengan rubrik yang autentik. Penelitian ini dikembangkan dari suatu penelitian pengembangan dengan model Plomp (dalam Hobri, 2010) yang kemudian menghasilkan model pembelajaran yang meningkatkan kemampuan siswa dengan penemuannya sendiri. Model pembelajaran yang dirancang dinamai dengan model experiment discovery. Model pembelajaran ini terdiri atas 8 tahap yaitu tahap orientasi/pemanasan (opening), tahap pengenalan (introduction), tahap eksperimen secara terbuka (terbimbing), tahap eksperimen secara mandiri, tahap konvergen, tahap implementasi, tahap evaluasi dan penutup.Kata kunci: sintaks model pembelajaran, pembelajaran matematika, eksperimen, guided discovery, experiment discovery.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar dengan Metode Inkuiri Joko Setiawan; Muhammad Royani
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v1i1.637

Abstract

. Siswa memerlukan kemampuan berpikir kritis yang tinggi karena kemampuan berpikir kritis matematika berperan penting dalam penyelesaian suatu permasalahan mengenai pelajaran matematika. Selain itu, seorang siswa SMP telah dianggap dewasa sehingga dituntut mampu berpikir kritis untuk mencapai hasil atau mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Ada berbagai macam metode pembelajaran inovatif, yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika, salah satunya metode inkuiri. Metode inkuiri merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah. Penelitian ini merupakan Penelitian Deskriptif yang terdiri atas empat tahap yaitu:perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan evaluasi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII A, sedangkan objek penelitian adalah keseluruhan proses dan hasil pembelajaran matematika SMPN 14 Banjarmasin dengan metode inkuiri untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis. Instrumen berupa soal tes dan lembar observasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri dengan langkah-langkah meliputi, orientasi, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan, dan mengaplikasikan kesimpulan. diperoleh bahwa aktivitas siswa SMP pada pembelajaran inkuiri termasuk dalam kualifikasi aktif dengan  kemampuan berpikir kritis siswa SMP adalah 79,49 dengan kualifikasi tinggi. Kata kunci: kemampuan berpikir kritis, inkuiri

Page 11 of 40 | Total Record : 391