cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
HUMANIS
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25285076     EISSN : 2302920X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal online Humanis adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana. Salah satu indikator kualitas perguruan tinggi ialah diukur dari seberapa banyak karya ilmiah yang dihasilkan dan telah dipublikasikan. Penulisan karya ilmiah harus mencerminkan budaya ilmiah seperti mengutamakan kebenaran obyektif, kejujuran, tidak memiliki unsur-unsur kecurangan atau plagiat. Penerbitan e-jurnal Humanis ini juga sesuai dengan kebijakan pimpinan Universitas Udayana (Surat Pembantu Rektor I Nomor 1915/UN14 1/DT/2012 tanggal 30 Mei 2012), yang mewajibkan mempublikasikan karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa, yang mulai diberlakukan pada wisuda bulan November 2012.
Arjuna Subject : -
Articles 1,581 Documents
Alih Kode Pada Teks Lagu Pop Bali Bilingual Kajian Sosiolinguistik Ni Putu Diah Meita Sari; Putu Sutama; Luh Putu Puspawati
Humanis Volume 17. No. 1. Oktober 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.298 KB)

Abstract

Research "Code Switching in the Text of The Balinese Bilingual Pop Songs; The Study of Sociolinguistics" aimed at describing the history of the development of Balinese pop song bilingual, sorts and characteristics instead of code switching, form and direction over the code switching, as well as the factors that led to the code switching. The theory of Sociolinguistics expressed by Nababan (1991) who refers to concepts related to the code switching. In the provision of the data using the method refer and methods of conversation with by record and note the technique with advanced technique, namely classifying data. Phase analysis using the padan method with the selected match method subtypes method padan post-translational. Presentation of the results analysis using formal and informal methods with inductive and deductive techniques. Results found in this study is that historically Balinese bilingual pop songs appeared around 1985. The text of the Bali pop songs bilingual has a form similar to the poem, as well as having the functions of communicative function, i.e. the function of the imaginative child, and function of spiritual satisfaction. There is a range of code switching that is internal code switching and external code switching. Characterized code switching i.e. the language dependency. the form instead of the code switching there is a form of the clause and sentence. Direction code switching there are six i.e code switching from the Balinese language to Indonesia language, code switching from Indonesia language to Balinese language, code switching from the Balinese language to English, code switching from English to Balinese language, code switching from Balinese to the Japanese language, and code switching from the Japanese to the Balinese language. Cause factor code switching is expressly author, interlocutors, the function of pleasure, level one's language proficiency, neutralizes the negative meaning.
Representasi Multilingualisme Penanda Sarana Pariwisata di Kawasan Wisata Canggu Putu Weddha Savitri
Humanis Vol 25 No 4 (2021)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.017 KB) | DOI: 10.24843/JH.2021.v25.i04.p12

Abstract

This paper, as part of the study of Landscape Liguistics, aims to reveal how the multilingualism is represented in the public space in this area. In addition, to find out how the structure of writing and language patterns used in public spaces in the area. To collect the data, the method used in this research is the documentation method, then the data was analyzed quantitatively and qualitatively. The results showed that there were 13 languages ??used in public spaces, especially on markers of existing tourism facilities. English is the most dominant language used, Latin writing is also used in almost all markers, and also the language pattern that uses 2 - 3 different languages ??has shown this area to be considered as an international region.
A Quixotic Venture: Spanish-Philippine Poetry at the Turn of the 19th Century, or Resistance against Oblivion Mario Sánchez Gumiel
Humanis Vol 25 No 4 (2021)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.716 KB) | DOI: 10.24843/JH.2021.v25.i04.p03

Abstract

This essay explores, by means of three Philippine poems written in Spanish during the first half of the twentieth century, the claim of a Philippine cultural identity sustained in the Spanish heritage. After a short overview of the Spanish colonization in the Philippines and the presence of the Spanish language in the archipelago, I will use Paul Friedrich’s theoretical approach on poetry as a source for the study of a culture. Then I will proceed to the examination of three poems written by Philippine writers: Fernando María Guerreros’ “A Hispania” (1913), Claro Mayo Recto’s “Las dalagas Filipinas” (1911), and Jesús Balmori’s “Blasón” (undated) by means of the close reading approach. In the exploration of this claim of a Philippine cultural identity rooted in the Spanish heritage, I additionally consider the role of the United States, and take into account some initiatives that have tried to continue the study of this literature throughout the twentieth and twenty-first century. I conclude that poetry is a valuable way to analyse culture, and, for the specific case of Spanish and the Philippines, I suggest that Spanish-Philippine poetry helps know the heritage of Spanish in the archipelago
THE TRANSLATION OF IMPLICIT MEANING IN ENGLISH INDONESIAN SUBTITLE OF THE MOVIE THE TWILIGHT SAGA ECLIPSE Agus Hendra Adinata
Humanis Volume 12. No.1. Juli 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.252 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul "The Translation of Implicit Meaning in English IndonesianSubtitle of The Movie The Twilight Saga Eclipse" . Definisi makna implisit merupakanbagian dari makna yang dimaksudkan untuk dipahami oleh penulis , tentang suatu kataatau kalimat yang merujuk . Penelitian ini difokuskan pada klasifikasi jenis maknaimplisit dan mengidentifikasi strategi subtitle (alih bahasa) yang digunakan untukmenerjemahkan makna implisit yang ditemukan dalam film Twilight Saga Eclipse kedalam bahasa Indonesia .Data penelitian ini diambil dari film berjudul The Twilight Saga Eclipse . Pengumpulandata dilakukan dengan observasi dan metode dokumentasi . Hal itu diikuti denganmemberi tanda pada data dengan cara menonton dan mengidentifikasi makna implisitdari subttitle yang ada pada film , mengcopy layar subtitle bahasa Inggris dan Indonesiadiikuti dengan mengklasifikasikan makna implisit berdasarkan teori yang digunakan danterakhir mengidentifikasi strategi subtitle yang digunakan untuk menerjemahkan maknaimplisit . Berdasarkan jenis makna implisit disusun oleh Larson ( 1984 ) dan subtitlingstrategi dikemukakan oleh Gotlieb ( 1992 ) .Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa peneliti menemukan 3 jenis makna implisit,yang paling sering digunakan adalah organizational meaning , sedangkan makna implisitsituational meaning menjadi tipe kedua dan yang terakhir adalah referential meaning. Disisi lain , dalam menganalisis penggunaan strategi subtitle, penerjemah menggunakan 3strategi subtitle dari total 10 strategi subtitle, parafrase, ekspansion, imitation
A STUDY OF INDONESIAN – ENGLISH CODE SWITCHING IN INDONESIAN ARTISTS’ TWITTER Inten Dewi Desak Putu
Humanis Volume 13. No.1. Oktober 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.207 KB)

Abstract

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam komunikasi, bahasa merupakan hal yang paling penting karena bahasa merupakan sarana komunikasi yang digunakan dalam bidang bisnis, media masa, maupun dalam berkomunikasi dengan sesame manusia. Ketika manusia berkomunikasi dengan sesame, secara tidak sadar mereka seringkali menggunakan bahasa asing seperti bahasa inggris maupun bahasa asing lainnya. Kita seringkali mendengar penggunaan dua bahasa atau lebih yang lebih dikenal dengan bilingualism ataupun multilingualism menjadi hal yang biasa. Dan hal ini dikenal dengan istilah code switching. Code switching telah menyebar hampir diseluruh aspek kehidupan, seperti dibidang ekonomi, tekhnologi, sastra, hukum, dan begitu pula dengan dunia hiburan.  Oleh karena itu, beberapa artis -  artis di Indonesia terkadang menggunakan code switching dalam aktivitas komunikasi mereka. Seperti apa yang mereka lakukan di social media seperti twitter. Mereka biasa menyisipkan istilah – istilah dalam bahsa inggris dalam tweet mereka. Dan melalui twitter mereka bisa tetap menjaga hubungan dengan para penggemar mereka dengan memposting tweet di akun twitter. Dalam hal ini ada delapan orang artis yang diakan diteliti mereka adalah Nadia Mulya, Ibnu Jamil, Gita Gutawa, Vidi Aldiano, Bunga Citra Lestari, Tora Sudiro Dewi Lestari, dan Raditya Dika. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja fungsi code switching yang sering muncul dalam tweet mereka yang menggunakan teori dari Appel and Muysken (in Fong, 2011) dan apa alasan mereka menggunakan code switching yang menggunakan teori dari Malik (in Muthusamy, 2009). Setelah melakukan analisis dari enam fungsi code switching hanya ada lima fungsi yang muncul, dan dari sepuluh alasan menggunakan code switching hanya ditemukan tujuh alasan.
METAPHORICAL MEANING IN WORDSWORTH’S POEM “THE SIMPLON PASS” I Gede Nyoman Oka Mahardika
Humanis Volume 13. No.2. Nopember 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.116 KB)

Abstract

William Wordsworth adalah seorang penyair yang sangat populer, bahkan bisa disebut  super populer, dan, puisi-puisinya yang dibuatnya nya sangat baik. Pada akhir hidupnya ia mencapai status yang disebut legenda hidup. Sebagai penyair Alam, Wordsworth adalah pemujamalam dan cintanya terhadap alam mungkin lebih benar, dan lebih lembut, daripada setiap penyair Inggris lainnya, sebelum atau sesudah ia mengisi dunia sastra kerajaan Inggris sebagai penyair. Wordsworth memiliki filosofi kehidupan pandangan baru dan asli dari alam. Tiga poin dalam keyakinannya terhadap alam dapat dicatat sebagai berikut: (1.) Ia memahami alam sebagai kepribadian yang hidup. (2.) Ia  percaya bahwa alam memberikan sukacita bagi hati manusia dan ia memandang alam sebagai latihan penyembuhan hati yang dilanda kesedihan. (3.) Wordsworth juga menekankan pengaruh moral Alam. Dia percaya bahwa antara manusia dan alam ada saling kesadaran, persekutuan spiritual atau 'hubungan mistik' Ada dua teori utama yang diadopsi dalam penelitian ini. Pertama adalah Knickerbocker dan Reninger (1955: 309) yang menyatakan bahwa sebagai langkah pertama dalam  memahami puisi, akan  sangat membantu untuk membuat parafrase arti yang sederhana. Arti dari setiap bagian dari puisi bisa membantu untuk menentukan makna isi puisi tersebut secara keseluruhan, dan pada akhirnya seluruh isi puisi akan membantu  menentukan arti dari masing-masing bagian. Dan yang kedua adalah  teori dari Wellek dan Warren tentang pendekatan biografi untuk menemukan hubungan antara kehidupan nyata dari para penyair dengan isi cerita yang mereka katakan dalam puisi mereka. Melalui puisi ini, Wordsworth ingin menggambarkan perjalanannya melalui Alpen bersama dengan temannya Robert Jones. Trekking dari Swiss ke Italia, mereka berjalan melalui Simplon Pass, puncak besar mengelilingi cakrawala. Saat ini, kita dapat mempercepat  melalui dalam  mobil, tapi Wordsworth mengambil langkah lambat nya di jalur tanah yang mengingatkan kembali ke Abad Pertengahan.
LEXICAL ITEMS OF BALINESE CULTURAL TERMS AND THEIR EXPLICATIONS WITH REFERENCE TO BALI DAILY NEWSPAPER: THE STUDY OF LEXICOGRAPHY Lilie Sathyarini Made
Humanis Volume 12. No.3. September 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.58 KB)

Abstract

Pembahasan dalam studi ini mencangkup klasifikasi tipe-tipe atas item-item leksikal dari istilah-istilah budaya Bali sebagai kata utama apabila dimasukkan ke dalam sebuah kamus. Untuk menjelaskan pembahasan tersebut digunakan teori leksikografi yang dikembangkan oleh Atkins dan Rundell (2008). Selain itu, studi ini juga membahas tentang cara-cara yang digunakan dalam membentuk frasa-frasa yang menjelaskan istilah-istilah budaya Bali (eksplikasi) tersebut yang terdapat langsung dalam sumber dat, dimana frasa-frasa ini berada setelah istilah-istilah budaya Bali diletakkan di dalam tanda kurung ataupun mengikuti istilah setelah tanda koma dan garis. Dalam pembahasan ini, teori yang digunakan adalah teori penerjemahan dikembangkan oleh Larson (1998) dikarenakan teori ini merupakan teori yang tepat untuk menjelaskan frasa-frasa tersebut. Hasil yang didapat setelah proses analisis data mencangkup dua tipe atas item-item leksikal dari istilah-istilah budaya bali yang menjadi kata utama apabila dimasukkan ke dalam sebuah kamus yaitu “common word” dan “proper names” sesuai dalam teori yang dikembangakan oleh Atkins dan Rundell (2008). Selain itu, cara-cara yang digunakan untuk membetuk frasa-frasa yang menjelaskan istilah-istilah budaya Bali (eksplikasi) adalah dengan memodifikasi sebuah kata umum, dimodifikasi dari segi bentuk, pernyataan tentang fungsi dan mencangkup keduanya antara bentuk dan fungsi. Cara lainnya adalah “cultural substitute” sesuai teori penerjemahan yang dikembangkan oleh Larson (1998).
IMPLIED COHERENCE FOUND IN “ACT OF VALOR” MOVIE Mahayana Kumara
Humanis Volume 12. No.1. Juli 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.98 KB)

Abstract

Skripsi dengan judul “Implied Coherence Found In “Act of Valor Movie”Based on Coherence” bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen apa saja yangterkandung dalam film yang membuat percakapan antara dua karakter utama yaituRorke dan Dave menjadi padu; menjelaskan bagaimana elemen-elemen yangterkandung di dalamnya bisa membuat percakapan Rorke dan Dave padu pada saatmereka berada di bar pada film Act of Valor.Sumber data dalam penelitian ini diambil dari film yang berjudul“Act ofValor”. Data dikumpulkan melalui metode observasi. Lalu dilanjutkan denganmenggunakan teknik pencatatan, dan kemudian data-data tersebut dikategorikanberdasarkan teori-teori yang dipergunakan.Data yang sudah terkumpul dan terklasifikasi dianalisis secara kualitatif dandeskriptif dengan menggunakan Theory of Discourse Analysis yang ditulis olehBrown dan Yule (1983) bagian-bagian yang di gunakan dari teori ini yaitu: featuresof context: addressor and addressee, topic, setting, channel, code, message-form,event, key, and purpose; co-text; the principle of analogy; and the principle of localinterpretation.Berdasarkan analisis dan pemaparan ditemukan bahwa karakter utama yaituRorke dan Dave digambarkan sebagai karakter yang telah menjadi teman baik dalamkurun waktu yang lama. Selain itu dalam percakapan Rorke dan Dave selalumenggunakan gaya bahasa informal ketika mereka berada di dalam bar. Dalampercakapan mereka yang terjadi di bar menunjukan bahwa mereka mempunyaihubungan erat sebagai teman baik dan juga keluarga.Pada saat Rorke dan Daveberada dalam bar, mereka sangat begitu akrab dengan pelayan dan pngunjung barlainya, ini menunjukan bahwa Rorke dan Dave sudah menjadi pelanggan tetap yangsering mengunjungi bar itu ketika mereka memiliki waktu luang. Setelah di analisismenggunakan teori Discourse analisis Brown dan Yule (1983)dapat diketahui alasan-alasan yang membuat percakapan Rorke dan Dave menjadi padu
THE INTRINSIC ANALYSIS OF NORA IN A DOLL’S HOUSE I Gede Bayu Sutra Adi Wijaya
Humanis Volume 9. No. 2. November 2014
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.753 KB)

Abstract

Merupakan salah satu drama tahap pertama dari abad ke-19 untuk menggambarkan keterampilan yang luar biasa, kehidupan biasa realistis bukan romantis dan sentimental. Drama ini bercerita tentang seorang ibu rumah tangga yang selalu didikte nilai palsu oleh suaminya. Nora, karakter utama dari drama ini tidak tahan menjadi boneka lagi. Dia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya untuk mencari identitas sebenarnya, manusia motivasi diri. Konflik bermain dimulai dengan Nora yang diam-diam meminjam sejumlah besar uang untuk menyelamatkan suaminya dari penyakit serius. Dia tidak pernah mengatakan pinjaman kepada suaminya. Ketika suaminya, Helmer dipromosikan menjadi manajer bank, ia kebakaran staf banknya yang memiliki reputasi buruk. Orang ini Nils Krogstad dan itu adalah Krogstad yang menyetujui pinjaman untuk perjalanan ke Italia, tapi ia telah menemukan bahwa Nora ditempa nama ayahnya pada obligasi ia gunakan untuk mengamankan uang. Ayahnya meninggal tiga hari sebelum obligasi itu ditandatangani. Dia memberitahu Nora bahwa pekerjaannya di bank dalam bahaya Helmer berencana untuk memecatnya dan dia mengancam untuk mengungkapkan kegiatan ilegal nya kecuali dia berlaku pada suaminya untuk mempertahankan dirinya. Krogstad memiliki dokumen untuk mendukung tuduhannya.Untuk menganalisis permainan, terutama, karakter utama Nora, ada dua teori utama yang diadopsi dalam penelitian ini . Pertama adalah Knickerbocker dan Reninger "Terjemahan Sastra" dan reaske "Bagaimana menganalisis Drama”. Analisis ini berfokus hanya pada konflik Nora dan hubungannya dengan suaminya yang mempengaruhi kehidupan keluarga mereka.
Transformasi Rumah Panggung Masyarakat Loloan Timur dalam Pemajuan Kebudayaan Ni Made Wiasti; Ni Luh Arjani
Humanis Vol 25 No 4 (2021)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.496 KB) | DOI: 10.24843/JH.2021.v25.i04.p08

Abstract

Traditional technology is one of cultural advancement objects that can be found in Loloan stilt houses which are undergoing transformation and decline in quantity. This paper aims to know shape and determinants of stilt houses transformation in East Loloan, as well as to reveal the implications in terms of cultural advancement program. The study applied qualitative methods which were analyzed interpretive descriptive. The results showed that the stilt house consist two forms and has three levels based on the cosmological community. Transformation of houses on stilts, namely addition of space and changes in function of underside caused by determinants: social change, cultural dynamic, transition livelihoods, technology development, activity change, family members structure, build condition, land area, and interest of homeowner. The implication is that most of the aspects of the cultural advancement program have been fulfilled, except for the coaching aspect which has not been touched by community or government.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No 4 (2024) Vol 28 No 3 (2024) Vol 28 No 2 (2024) Vol 28 No 1 (2024) Vol 27 No 4 (2023) Vol 27 No 3 (2023) Vol 27 No 2 (2023) Vol 27 No 1 (2023) Vol 26 No 4 (2022) Vol 26 No 3 (2022) Vol 26 No 2 (2022) Vol 26 No 1 (2022) Vol 25 No 4 (2021) Vol 25 No 3 (2021) Vol 25 No 2 (2021) Vol 25 No 1 (2021) Vol 24 No 4 (2020) Vol 24 No 3 (2020) Vol 24 No 2 (2020) Vol 24 No 1 (2020) Vol 23 No 4 (2019) Vol 23 No 3 (2019) Vol 23 No 2 (2019) Vol 23 No 1 (2019) Vol 22 No 4 (2018) Vol 22 No 3 (2018) Vol 22 No 2 (2018) Vol 22 No 1 (2018) Vol 21 No 1 (2017) Vol 20 No 1 (2017) Vol 19 No 1 (2017) Vol 18 No 1 (2017) Vol 17 No 3 (2016) Volume 17. No. 2. Nopember 2016 Volume 17. No. 1. Oktober 2016 Volume 16. No. 3. September 2016 Volume 16. No. 2. Agustus 2016 Volume 16. No. 1. Juli 2016 Volume 15. No.3. Juni 2016 Volume 15. No.2. Mei 2016 Volume 15. No.1. April 2016 Volume 14. No.3. Maret 2016 Volume 14. No.2. Pebruari 2016 Volume 14. No.1. Januari 2016 Volume 13. No.3. Desember 2015 Volume 13. No.2. Nopember 2015 Volume 13. No.1. Oktober 2015 Volume 12. No.3. September 2015 Volume 12. No.2. Agustus 2015 Volume 12. No.1. Juli 2015 Volume 11. No3. Juni 2015 Volume 11. No2. Mei 2015 Volume 11. No 1. April 2015 Volume 10. No 3. Maret 2015 Volume 10. No 2. Februari 2015 Volume 10. No 1. Januari 2015 Volume 9. No. 3. Desember 2014 Volume 9. No. 2. November 2014 Volume 9. No. 1. Oktober 2014 Volume 8. No. 3. September 2014 Volume 8. No. 2. Agustus 2014 Volume 8. No. 1. Juli 2014 Volume 7. No. 3. Juni 2014 Volume 7. No. 2. Mei 2014 Volume 7. No. 1. April 2014 Volume 6. No. 3. Maret 2014 Volume 6. No. 2. Februari 2014 Volume 6. No. 1. Januari 2014 Volume 5. No. 3. Desember 2013 Volume 5. No. 2. November 2013 Volume 5. No. 1. Oktober 2013 Volume 4. No. 3. September 2013 Volume 4. No. 2. Agustus 2013 Volume 4. No. 1. Juli 2013 Volume 3. No. 3. Juni 2013 Volume 3. No. 2. Mei 2013 Volume 3. No. 1. April 2013 Volume 2. No. 3. Maret 2013 Volume 2. No. 2. Pebruari 2013 Volume 2. No. 1. Januari 2013 Volume 1. No. 2. Desember 2012 Volume 1. No. 1. November 2012 More Issue