cover
Contact Name
Radyana
Contact Email
rasdyana@gmail.com
Phone
+628529995952
Journal Mail Official
journal@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University of Makassar, Indonesia Jl.H.M.Yasin Limpo No. 36 Samata, Gowa, Sulawesi Selatan.
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Nature: National Academic Journal of Architecture
ISSN : 23026073     EISSN : 25794809     DOI : -
NATURE: National Academic Journal of Architecture (P-ISSN: 2302-6073, E-ISSN:2579-4809) adalah publikasi ilmiah untuk topik penelitian dan kritik yang tersebar luas dalam studi Desain Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2021): June" : 8 Documents clear
KAJIAN DESAIN LANSKAP KORIDOR JALAN DAGO BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG CITY BRANDING KOTA BANDUNG Aprillia, Kusriantari Fenny; Rochimah, Estuti
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a8

Abstract

Abstrak_Kota Bandung sedari dulu dikenal dengan julukan Paris Van Java, memberikan citra tersendiri bagi masyarakat. Paris Van Java lahir dari suasana ruas Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika pada zaman Kolonial Belanda. Hingga saat ini pun kedua ruas tersebut merupakan citra kota yang paling kuat dalam slogan Paris Van Java. Kota Bandung sama halnya dengan kota lain di Indonesia, ikut membangun city branding. Pembangunan city branding di Kota Bandung dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah pembangunan fisik. Pembangunan fisik dilakukan Pemerintah Kota Bandung salah satunya dengan merevitalisasi ruas-ruas jalan. Koridor Jalan Dago adalah salah satu jalan yang ikut direvitalisasi, yaitu dengan konsep trotoar lebar dan penggunaan prinsip panca trotoar bergaya vintage seperti di Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika. Adanya revitalisasi Jalan Dago memberikan citra baru pada koridor jalan ini. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkap sejauh mana desain lansekap koridor Jalan Dago setelah revitalisasi dapat mendukung City Branding Kota Bandung, yaitu Paris Van Java. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, serta teknik pengambilan data menggunakan cara survey lapangan dan kuesioner. Hasil yang  didapatkan adalah, revitalisasi koridor Jalan Dago memberikan image positif bagi citra kota dan dapat merepresentasikan Paris Van Java.Kata kunci: City Branding; Koridor jalan; Paris Van Java. Abstract_ The City of Bandung known as the so-called Paris Van Java gives its own image to the local community. Paris Van Java was born of the atmosphere of Braga and Asia Afrika roads in the days of Dutch colonialism. Until today, those roads are the most powerful city image of the Paris Van Java slogan. Bandung city as well as other cities in Indonesia builds city branding. Building city branding in Bandung City is done in many ways, one of them by physical development. Physical development by local government executed by the revitalization of road corridors. Dago corridor is one of the corridors that revitalized, namely by wider sidewalk concept and using the principle of panca protostar (five sidewalks) which is vintage as in Braga and Asia Afrika road. Dago corridor revitalization gives a new image to this corridor. Therefore this research has the purpose to uncover the extent of the landscape corridor design of Dago after revitalization can support city branding of Bandung City, which is Paris Van Java. The methodology used is descriptive quantitative, then data collection by site observation and questionnaire. The result is, the revitalization gives a positive image to the city and presents Paris Van Java.Keywords:  City Branding; Road Corridor; Paris Van Java.
POLA SEBARAN PERMUKIMAN KUMUH (STUDI KASUS : KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG) Aspin, Aspin; Nafsi, Nur
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a4

Abstract

Abstrak_ Kecamatan Semarang Utara merupakan Kecamatan dengan potensi sosial ekonomi yang tinggi karena didalamnya terdapat pelabuhan, stasiun kereta api dan kawasan-kawasan komersial, potensi sosial ekonomi yang tinggi menyebabkan tingginya aktivitas di lokasi tersebut. Akibatnya wilayah tersebut menarik untuk dijadikan sebagai tempat bermukim, seiring berjalannya waktu banyak pendatang yang ingin tinggal dan menetap di wilayah tersebut, yang kemudian berimbas pada meningkatnya kebutuhan lahan, dan akhirnya mendirikan bangunan di lahan-lahan yang terbatas dan berpotensi untuk menimbulkan kawasan-kawasan kumuh.Penelitian ini bertujan untuk mengetahui Pola Sebaran Permukiman Kumuh di Kecamatan Semarang Utara.Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis pola sebaran permukiman kumuh yang meliputi sebaran permukiman kumuh dan bentuk-bentuk permukiman kumuh.Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Terdapat 10 titik sebaran permukiman kumuh di Kecamatan Semarang Utara, 6 titik sebaran kawasan kumuh diantaranya membentuk pola permukiman terpusat atau mengelompok, dan 4 titik sebaran kawasan kumuh lainnya membentuk pola permukiman linier mengikuti jalan, mengikuti sungai dan rel kereta api. Kawasan kumuh tersebut cenderung tumbuh mendekati sekitar kawasan industri, kawasan sempadan sungai, kawasan pasar, kawasan pelabuhan, stasiun dan rel kereta api.Kata Kunci: Permukiman Kumuh; Sebaran Permukiman; Pola Permukiman. Abstract_ North Semarang Sub-district is a sub-district with high socio-economic potential. There are ports, railway stations, and commercial areas; high socio-economic potential causes high location. As a result, the site is interesting to be used as a place to live; as the passage of time, many migrants want to stay and settle in the area, which then impacts on the increasing demand for land, and eventually builds buildings on limited grounds and potentially to cause slum areas. This research aims to find out the pattern of the distribution of slum settlements in the North Semarang District. To achieve these objectives, several analyses are analyzed for slum settlement patterns covering the distribution of slums and slum forms—this research using the qualitative descriptive method with a rationalistic approach. There are 10 points of distribution of slum settlements in the North Semarang Sub-district, 6 spots of slum areas among them form a centralized or clustered settlement pattern, and four other spots of slum areas form a linear settlement pattern following the road, following the rivers and railways. The slum areas tend to grow close to industrial areas, riverbanks, market areas, port areas, stations, and railways.Keywords:  Slum Settlement; Distribution Of Settlements; Settlement Patterns.
ANALISIS PERFORMA MODEL ECO-COOLER SEBAGAI ALTERNATIF BUKAAN ALAMI Pratiwi, Niniek; Arifin, Sri Sutarni
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a1

Abstract

Abstrak_ Konsumsi nergi listrik nasional terus mengalami peningkatan. Pada 2015 konsumsi listrik sebesar 910 kilowat jam (kWh) per kapita, kemudian meningkat menjadi 1.084 kWh/kapita pada 2019. Di Indonesia, Hermanto,dkk (2005) menyebut sekitar 60% konsumsi listrik hotel di Jakarta digunakan untuk memasok energi mesin AC. Oleh karena itu, usaha penghematan energi yang berkaitan dengan pendinginan ruangan akan berdampak signifikan terhadap usaha penghematan energi di dunia. Salah satu contohnya  yakni penggunaan Eco-Cooler.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa performa dari model Eco-Coolersebagai alternative bukaan alami. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen dengan tahapan pengukuran kemudian disimulasikan dengan menggunakan aplikasi Ansysdan dianalisis secara analisis statistik deskriptif. Hasilpengukuran menujukkan bahwa semakin besar perbandingan inletterhadapoutlet maka distribusi kecepatan aliran angin lebih baik. Sementara untuk simulasi bisa ditarik kesimpulan bahwa model C, merupakan model yang lebih baik dibanding model A dan B. Model C mampu membuat jangkauan angin terpanjang yaitu sekitar 2,77 meter dan memiliki kecepatan angin minimum paling besar  berkisar 0,499 m/s dan posisi Eco-Cooler denganketinggian 100 cm memilikijangkauanangin yang lebih baik daripada yang lainnya.Berdasarkan hasil tersebut dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan antara model tersebut dengan jendela yang dipakai pada umumnya. Kedepannya, Eco-Cooler diharapkan mampu menjadi alternative bukaan alami.Kata kunci: Eco-Cooler; Ansys; Angin, Energi Terbarukan. Abstract_ National electricity consumption continues to increase. In 2015, electricity consumption was 910-kilowatt hours (kWh) per capita, then has risen to 1,084 kWh / capita in 2019. In Indonesia, Hermanto et al. (2005) stated that around 60% of hotel electricity consumption in Jakarta had been used to supply AC engine energy. Therefore, energy-saving efforts related to room cooling will significantly impact energy-saving measures in the world. One example is the use of the Eco-Cooler. This research aims to analyze the performance of the Eco-Cooler model as an alternative to natural openings. This research is a quantitative research using experimental methods with measurement stages then simulated using the Ansys application and analyzed by descriptive statistical analysis. The measurement results show that the greater the inlet to outlet ratio, the better the wind speed distribution. As for the simulation, it can be concluded that model C is a better model than models A and B. Model C can make the most extended wind range, which is about 2.77 meters and has the greatest minimum wind speed of 0.499 m / s, and the Eco- position. Coolers with a height of 100 cm have better wind coverage than others. Based on these results, further research can be conducted to compare the model with the windows used in general. In the future, the Eco-Cooler is expected to be an alternative to natural openings.Keywords: Eco-Cooler; Ansys; Wind; Renewable Energy.
KAJIAN KONSEP TEORI LIMA ELEMEN CITRA KOTA PADA KAWASAN KOTA TUA JAKARTA Rafsyanjani, Muhammad Akbar; Purwantiasning, Ari Widyati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a3

Abstract

Abstrak_Ketika kita bicara tentang kawasan kota kita perlu membahas tentang manusia yang berada di dalamnya, dikarenakan banyak sekali ketika kita memikirkan kawasan kota tidak banyak dari mereka yang memperlihatkan dari sisi mikronya yaitu manusia Maka dari itu, penelitian ini mempermasalahkan bagaimana penerapan prinsip teori lima elemen citra kota pada Kawasan Kota Tua Jakarta, kemudian bagaimana mengkaji teori lima elemen citra kota pada Kawasan Kota Tua Jakarta. Dari permasalahan muncul tujuan dari penelitian ini dapat menjelaskan penerapan prinsip lima elemen citra kota pada Kawasan Kota Tua Jakarta. Adapun hasil yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah dengan menjelaskan path, edges, node, district, dan landmark dari Kawasan Kota Tua Jakarta. Hasil yang didapat dari penelitian ini terhadap Kawasan Kota Tua Jakarta adalah Path di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan jalur kendaraan, kereta api, sungai, pedestrian, kemudian Edges di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan batasan sungai yang membatasi antara zona inti dan zona penunjang, kemudian node di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan persimpangan jalan yang terhubung ke kawasan zona inti Kota Tua Jakarta, kemudian district di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan kawasan inti dan penunjang sebagai pembeda antara distrik satu dengan yang lainnya, kemudian di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan Museum Fatahillah.Kata kunci: Lima Elemen; Kevin Lynch; Kawasan Kota Tua Jakarta Abstract_ When we talk about the city area we need to talk about the human being in it, because there are so many things when we think that the city is not many of them that show from the side of the Micronics man, therefore, This study disputed how to apply the theory principle of five elements of the city image in the Old City area of Jakarta, then how to examine the five elements of the city image element in the Old City area of Jakarta. From the problem arising, the purpose of this research can explain the application of the principle of five components of city image in the Old City area Jakarta. The result of this research is to describe the path, edges, nodes, district, and landmarks of the Old City area of Jakarta. The result of this research on Jakarta's Old City area is Path within this region indicated by vehicle, railway, river, pedestrian, then Edges within this area are characterized by river boundary limiting Between the core zone and the supporting zone, then the nodes within this area are indicated by a crossroads connected to the core zone area of the old City of Jakarta, then district within this area is indicated by the core region and support as Differentiator between District One and another, then within this area is characterized by Fatahillah Museum.Keywords: Five Elements; Kevin Lynch; Jakarta Old Town Area.
TRANSFORMASI FUNGSI SIRING PADA RUMAH TRADISIONAL BUGIS DI BULUKUMBA AS, Zulkarnain; Rahmani, Ahmad Ibrahim; AS, Rahmat Wahidin
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a2

Abstract

Abstrak_ Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi perubahan fungsi maupun bentuk pada kolong rumah (siring) tradisional Bugis yang berprofesi sebagai nelayan, pembuat kapal dan petani di Bulukumba, serta memverifikasi mengenai perubahan bentuk dan wujud fisik siring yang terjadi seperti sekarang ini.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana penelitian ini menggunakan sampel, wawancara, pengukuran dan data literatur sebagai pengumpulan data untuk penelitian ini.untuk mengetahui perubahan-perubahan bentuk dan fungsi apa saja yang terjadi pada siring khususnya pada rumah tradisional Bugis yang berprofesi sebagai nelayan, pembuat kapal dan petani. Dilakukan wawancara terhadap seorang narasumber yang berprofesi sebagai nelayan, seorang narasumber yang berprofesi sebagai pembuat kapal dan seorang narasumber yang berprofesi sebagai petani sebagai pemilik rumah tradisional Bugis.Untuk mengetahui perubahan yang terjadi dilakukan observasi dan penjelasan dari narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi ditinjau dari wujud fisik dan pola aktivitas yang terjadi antara lain yaitu terjadi perubahan wujud fisik, bentuk, fungsi dan pola aktivitas ruang siring pada rumah tradisional Bugis di Bulukumba terhadap bentuk aslinya.Kata kunci : Bentuk; Fungsi; Pola Aktivitas; Siring; Rumah Tradisional. Abstract_ This research is intended to identify changes in the function or form of traditional Bugis under the house (siring) who work as fishermen, boat builders, and farmers in Bulukumba, as well as to verify the changes in the shape and physical form of siring that are happening today. This study uses a qualitative descriptive method where this study uses samples, interviews, measurements, and literature data as data for this study. to see what changes in form and function occur in the siring, especially in traditional houses, Bugis who work as fishermen, boat builders, and farmers in Bulukumba, as well as verifying regarding changes in the form and siring physical manifestation is happening today. This type of research qualitative, to determine changes in the shape and function of what is happening in the siring, especially in the traditional house Bugis living as fishermen, shipbuilders and farmers, conducted interviews with a resource person who work as fishermen, a resource person who worked as shipbuilders and a resource person who work as farmers as owners of traditional homes Bugis. To determine the changes made observations and explanations of sources. The results showed that the changes in terms of the physical form and activity patterns that occur include: a). siring form b). siring function c) .pola activity. There were changes in physical form, shape, function, and activity patterns siring space in traditional houses Bugis in Bulukumba to its original form.Keywords:  Form; Function; Activity Pattern; Siring; Traditional House.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR MODULAR PADA RUMAH SUSUN ITB JATINANGOR Putri, Shely Pratiwi Sanjaya; Purwantiasning, Ari Widyati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a9

Abstract

Abstrak_ Di kota besar dan metro pengembangan hunian vertikal sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak, permasalahan berupa ketersediaan lahan merupakan salah satu faktor pendorong pemangku kepentingan untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Kontruksi yang digunakan pun bermacam-macam dan terus berkembang setiap tahunnya. Pada masa setelah perang dunia kedua konsep hunian dengan modular mulai popular, dan konsep tersebut memiliki banyak keunggulan sehingga pada masa sekarang sudah mulai digunakan dan dikembangkan. Secara general konsep Arsitektur Modular dapat didefinisikan berupa objek rancangan berdasarkan modul tertentu, dengan bentuk yang sama dan diulang secara berulang-ulang. Le Corbusier juga berpendapat pada “Teori Modular” bahwa melihat Modular bukan hanya sebagai angka yang mengadopsi harmoni, namun juga sebagai alat pengukur yang dapat menghitung jarak, permukaan, dan volume. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami Penerapan Konsep Arsitektur Modular pada Rumah Susun ITB Jatinangor. Kesimpulan yang didapat ialah Rumah Susun ini telah menerapkan dan sesuai  dengan prinsip serta syarat modular dari Teori Modular Le Corbusier dan Teori Ryan E. Meskipun pada sistem struktur, bangunan ini secara keseluruhan belum menggunakan komponen prefabrikasi, namun secara garis besar 95% bangunan ini telah menggunakan modul prefabrikasi antara lain komponen kolom, balok, plat, dinding, tangga dan tiang pancang. Sehingga bangunan ini dapat dikatakan sebagai bangunan modular. Serta komponen bangunan yang tidak dalam komponen modular ialah komponen pada struktur bawah yaitu pada pilecap dan pada dinding pada area tangga, yang menggunakan metode konvensional pada saat pembangunan terjadi.Kata kunci: Hunian Vertikal; Modular; Prefabrikasi. Abstract_ In large cities and metro vertical residential development has become a very urgent need. The problem of land availability is one of the driving factors for stakeholders to solve the problem immediately. The construction used is various and continues to grow every year. In the post-world war second world, the concept of modular housing began to be popular, and the concept has many advantages, so it has started to be used and developed in the present. In general, the concept of Modular Architecture can be defined as a design object based on a specific module, with the same shape and repeated repeatedly. Le Corbusier also argues in the "Modular Theory" that it sees Modular not only as a number that adopts harmony but also as a gauge that can calculate distance, surface, and volume. This research uses a qualitative descriptive method to know and understand the Application of Modular Architecture concepts in ITB Jatinangor Flats. The conclusion obtained is that this flat has been applied and by the modular principles and requirements of The Le Corbusier Modular Theory and Ryan E Theory. Although in the structure system, the building as a whole has not used prefabricated components, but in general, 95% of the building has used prefabricated modules, including column components, beams, plates, walls, stairs, and stakes. So this building can be said to be a modular building, and building components that are not in modular components are elements on the lower structure on the pile cap and on the wall in the stairwell area, which uses conventional methods at the time of construction.Keywords:  Vertical Housing; Module; Prefabricated. 
KARAKTERISTIK STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANUA TAMBEN Oktawati, A. Eka; Hardiansyah, Hardiansyah
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a7

Abstract

Abstrak_Banua Tamben merupakan rumah tongkonan generasi ketiga, konstruksi arsitektur banua tamben memiliki keunikan dibanding dengan rumah tongkonan saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan karakteristik sistem struktur dan  konstruksi arsitektur banua tamben yang mempresentasikan sistem konstruksi sebagai struktur, dengan fokus pada kajian terhadap proses penyusunan dan penggabungan bagian banua tamben sehingga membentuk sebuah banua tamben yang utuh. Metode penelitian dilakukan dengan penelitian kualitatif, dimana dalam penelitian ini digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil temuan memperlihatkan bahwa struktur dan konstruksi banua tamben yang tersusun dari beberapa bagian yaitu bagian bawah dan bagian atas. Secara keseluruhan banua tamben memiliki ciri khas konstruksi yang bisa disebut istilah “tamben”, (bahasa Toraja = berselang-seling), yaitu  menumpukkan balok melintang  secara tumpang tindih dan berselang-seling sehingga membentuk struktur ruang pada kolom rumah.Kata kunci: Banua; Tamben; Struktur; Konstruksi Abstract_ Banua Tamben is a third generation tongkonan house, the architectural construction of Banua Tamben is unique compared to the current tongkonan house. This study aims to find characteristics of the Banua Tamben architectural construction that presents the construction system as a structure, with a focus on the study of the process of compiling and joining parts of the Banua Tamben to form a complete Banua Tamben. The research method used is qualitative research, wherein this research qualitative descriptive analysis techniques are used as a technique in the analysis. The findings show that the structure and construction of the Banua Tamben are composed of several parts, namely the bottom and the top. Overall banua tamben has a characteristic construction which can be called the term tamben, (Toraja language = criss-cross), which is stacking transverse beams overlapping and crossing to form a spatial structure in the column of the house.Keywords:  Banua; Tamben; Structure; Construction
EFEKTIVITAS PEMANFAATAN ALUN-ALUN SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK Shafar, Muhammad Uliah; Sari, Suzanna Ratih
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a5

Abstract

Abstrak_Ruang terbuka publik memiliki efek yang sangat besar terhadap kesejahteraan masyarakat perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan rekomendasi desain untuk membangun kembali fasilitas alun-alun menjadi lebih baik, dalam hal memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan. Karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik, alun-alun Andi Makkasau yang berada di kota Parepare mengalami perubahan yang signifikan dalam mengakomodasi aktivitas penggunanya. Beberapa fasilitas ditambahkan seperti alat kebugaran, tempat duduk komunal, panggung utama, panggung musik dan toilet. Membuat alun-alun ini menyediakan pemanfaatan yang beragam. Namun, ketersediaan pemanfaatan tersebut tidak mengungkap efektivitas yang ada pada ruang tersebut. Renovasi alun-alun Andi Makkasau diharapkan memperhatikan dampak dari perubahan pengaturan fasilitas-fasilitas yang tersedia. Dengan menggunakan metode behavioral mapping, penelitian ini dapat menjelaskan hubungan antara pengguna dan fasilitas sebuah ruang publik. Melalui hasil sketsa dan simbol dari hasil observasi yang dilakukan pada pagi hari dan sore hari dengan menggunakan metode placecenter map, diketahui respon dari perilaku pengguna terhadap fasilitas yang digunakan di alun-alun Andi Makkasau. Adapun metode yang digunakan untuk menganalisisperforma fasilitas, penelitian ini menggunakan evaluasi purnahuni (EPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa renovasi alun-alun ini tidak mendukung atribut sebagian besar penggunanya, sehingga rekomendasi terhadap rancangan kedepannya sangat diperlukan.Kata kunci: Behavioral Mapping; Ruang Terbuka Publik; Place Centre Map; Fasilitas Publik. Abstract_ Public open space has a significant effect on the welfare of urban communities. The objective of this study was to produce design recommendations for rebuilding the square facilities for the better, in terms of having a positive impact on welfare. Due to the increasing public need for public space, the Andi Makkasau square in the city of Parepare has undergone significant changes in accommodating the activities of its users. Some facilities were added, such as fitness equipment, communal seating, main stage, music stage, and toilet. As a result, this square provided multiple uses. However, the availability of these uses did not reveal the effectiveness of that space. The renovation of Andi Makkasau square was expected to pay attention to changes in the arrangement of available facilities. By using the behavioral mapping method, this study could explain the relationship between users and facilities of open space. Through the sketches and symbols from the observations made in the morning and evening using the place center map method, user behavior was known to the facilities used in the Andi Makkasau square. The method used to analyze the facility's performance; this study used the post-occupancy evaluation (POE). The results showed that the renovation of this plaza did not support the attributes of most of its users, so recommendations for future designs were needed.Keywords: Behavioral Mapping; Public Open Space; Place Centre Map; Public Facilities.

Page 1 of 1 | Total Record : 8