cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 316 Documents
Makam Tradisional Etnis Cina di Kota Ambon Cheviano E. Alputila
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.222

Abstract

Ethnic Chinese have a long history around the world. As a people renowned for their versatility in the trade, this community can be found anywhere. Ambon city is one of the many areas in the past inhabited by the ethnic Chinese community. Evidence of their existence in the past in Ambon today can be observed from traditional Chinese tombs are scattered in several locations. In addition to functioning as an initial step in the record of its existence this paper serves to reveal the importance of the existence of traditional Chinese tomb in the city of Ambon. The method used is a survey, interviews, and literature review. From the survey results it is known that the traditional Chinese grave condition as a whole in the city of Ambon was on the verge of collapse and require serious attention of all parties. Loyalty to the ancestral customs of the people of China still run by the Chinese community in the city of Ambon. This is reflected in the traditional Chinese tomb suitability components in common with traditional Chinese tomb in the city of Ambon.Etnis Cina memiliki sejarah yang panjang di seluruh dunia. Sebagai orang-orang yang terkenal karena kepandaiannya dalam berdagang, komunitas ini dapat ditemukan dimana saja. Kota Ambon adalah satu dari sekian banyak daerah yang pada masa lalu didiami oleh masyarakat Etnis Cina. Bukti keberadaan mereka pada masa lalu di Ambon saat ini dapat diamati dari makam-makam tradisional Cina yang tersebar di beberapa lokasi. Selain berfungsi sebagai langkah awal dalam mendata keberadaannya tulisan ini berfungsi untuk mengungkap nilai penting keberadaan makam tradisional Cina di Kota Ambon. Metode yang digunakan yaitu survei, wawancara, dan penelusuran pustaka. Dari hasil survei diketahui bahwa kondisi makam tradisional Cina secara keseluruhan di Kota Ambon berada di ambang kehancuran dan membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Kesetiaan terhadap adat istiadat leluhur Cina tetap dijalankan oleh masyarakat komunitas Tionghoa di Kota Ambon. Hal ini  tercermin  dari kesesuaian komponen makam tradisional Cina secara umum dengan makam tradisional Cina di Kota Ambon.
Pola Hias Gerabah Pada Situs-Situs di Kawasan Danau Sentani, Papua Bau Mene
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.223

Abstract

Pottery is a type of man-made objects made with raw materials burnt clay, pottery has been known since prehistoric times. Pottery not only used as a fixture of daily needs are also often used as a burial container or as stock tomb. Fragments of pottery were found in the region of Lake Sentani rich decorative patterns including patterns of decorative lines and waves. The purpose of this study was to determine the decorative patterns found on pottery found at sites in the region of Lake Sentani and to know the techniques of pottery were found at sites in the region of Lake Sentani. The method used in this research is the method of data collection and data processing methods. Data collection was performed by means of a survey and excavation, while the data processing is done by classifying the findings for later analysis. The analysis was conducted to see the decorative patterns found on pottery and decorative techniques are used.Gerabah adalah benda jenis buatan manusia yang dibuat dengan bahan baku tanah liat yang dibakar, gerabah sudah dikenal sejak jaman prasejarah. Gerabah selain digunakan sebagai perlengkapan keperluan sehari-hari juga seringkali digunakan sebagai wadah penguburan atau sebagai bekal kubur. Fragmen gerabah yang ditemukan di kawasan Danau Sentani kaya akan pola hias diantaranya pola hias garis dan gelombang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola hias yang terdapat pada gerabah yang ditemukan pada situs-situs di kawasan Danau Sentani dan untuk mengetahui teknik pembuatan gerabah yang ditemukan pada situs-situs di kawasan Danau Sentani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data dan metode pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei dan ekskavasi sedangkan pengolahan data dilakukan dengan cara mengklasifikasi temuan untuk kemudian dianalisis. Analisis dilakukan untuk melihat pola hias yang terdapat pada gerabah dan teknik hias yang digunakan.
Penggunaan Tinggalan Batu Pamali sebagai Media Pelantikan Raja di Desa Liang Kec. Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah Surbakti, Karyamantha
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.224

Abstract

The Scattered remains of the prehistoric period in the Moluccas is patterned megalithic artifacts. Such objects are usually stillin contact with communal society and often used as a megalithic tradition. The purpose of research is to look at the dimensions of contemporary culture and taboos of the stone used as a medium for the inauguration rite father the king. The method used in this study is a qualitative approach and the approach etnoarkeologi. Obtained from this study is a holistic picture that taboos are still preserved remains of stone used in communal societies. Research conclusions obtained is that the tradition continues the use of stone as a medium pamali rite inauguration of the king is a wealth of local cultural repertoire.Tinggalan masa prasejarah yang tersebar di daerah Maluku adalah artefak yang bercorak megalitik. Benda tersebut biasanya masih bersinggungan dengan komunal masyarakat dan acapkali digunakan sebagai tradisi megalitik. Tujuan penelitian adalah untuk melihat dimensi kebudayaan dan kekinian dari batu pamali yang digunakan sebagai media ritus pelantikan bapa raja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan pendekatan etnoarkeologi.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebuah gambaran yang holistik bahwa tinggalan batu pamali masih lestari digunakan dalam komunal masyarakat. Kesimpulan penelitian yang diperoleh adalah bahwa tradisi berlanjut yang menggunakan batu pamali sebagai media ritus pelantikan raja merupakan khasanah kekayaan budaya lokal.
Sistem Perbentengan dalam Jaringan Niaga Cengkih Masa Kolonial di Maluku Syahruddin Mansyur
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.225

Abstract

In numbers of colonial archaeological research conducted by Balai Arkeologi Ambon, fort has been identified as the main archaeological remains in the Moluccas. The inventory shown that forts distributed in almost every islands of the Moluccas.Various research that has been conducted in the past are still unable to explain the historical context in this region. This situation was mainly based on the fact that these research only identify singluar fort in one area and not the larger spatial context. Adopting the historical-arcaheological perspective,this paper tries to understand the historical context of the forts spatial distribution in the moluccas in the relation to the spice monopoly in the region. This research found that the success of the spice trade monopoly is related to the fortification system developed by VOC in this region. Rangkaian hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon khususnya bidang arkeologi kolonial menempatkan benteng sebagai salah satu tinggalan arkeologi yang dominan di wilayah Maluku. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa bangunan benteng tersebar di hampir setiap pulau di Maluku. Berbagai hasil penelitian yang bersifat eksploratif tersebut dirasakan tidak mampu menjelaskan konteks sejarah sebaran benteng yang ada di wilayah ini. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian yang dilakukan hanya mengidentifikasi bangunan benteng dalam suatu daerah sehingga sebaran benteng tidak dipandang sebagai satu kesatuan konteks ruang wilayah tertentu. Melalui perspektif arkeologi-sejarah, tulisan ini berupaya memperoleh gambaran tentang konteks sejarah sebaran benteng khususnya dalam kaitannya dengan masa monopoli cengkih di Maluku. Dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa keberhasilan sistem monopoli cengkih masa kolonial di Maluku tidak lepas dari sistem perbentengan yang telah dibangun oleh Belanda (VOC) sejak awal penguasaan mereka di wilayah ini.
Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.226

Abstract

Hoamoal kingdom is one of the Islamic empire in the Moluccas Islands, precisely in Ceram which has an important role in the movement of Islamization in Central Moluccas region. This study with emphasis on archaeological survey method to collect physical data or artefaktual, then do the processing and analys is of data to explain the influence of Islam in the region. This study aims to look at developments in the history of the Kingdom Hoamoal Islam and trade in the region of Central Moluccas, and saw its role in supporting the Islamization movement in the region. The result showed that the growth of the Kingdom Hoamoal explanation can not be separated from the influence of Ternate in the form of Islamization and trade networks. Kerajaan Hoamoal adalah salah satu kerajaan Islam di wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk mengumpulkan data fisik atau artefaktual, kemudian melakukan pengolahan dan analisis data untuk menjelaskan pengaruh Islam di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan Kerajaan Hoamoal dalam sejarah perkembangan Islam dan perdagangan di wilayah Maluku Tengah, serta melihat perannya dalam menunjang gerak Islamisasi di wilayah tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh penjelasan bahwa berkembangnya Kerajaan Hoamoal tidak terlepas dari pengaruh Ternate dalam membentuk jaringan Islamisasi dan  perdagangan.
Appendix Vol. 10 No. 2 (2014) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.227

Abstract

Back Cover Vol. 10 No. 2 (2014) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.228

Abstract

Preface Vol. 11 No. 1 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.276

Abstract

Tinggalan Batu Lumpang di Desa Ruko, Kecamatan Tobelo: Tinjauan Atas Konteks Sejarah dan Sosial Budaya Kerajaan-Kerajaan Lokal di Halmahera Utara Karyamantha Surbakti
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.277

Abstract

Batu Lumpang in the archaeological perspecitve is known as remains with the characteristic as a tool for mashing food . This stone has a container shape that made of stone vessels were notched in the middle. The purpose of this study is to initiate the prelimenary study of the batu lumpang in the Ruko village, the District Tobelo , North Halmahera and will be use as a data that assist the interpreationt and explaination on the history of  North Halmahera. The research method adopted in this study is observation and interviews. Qualitative analysis and ethnoarchaeology analysis has been adopted to see the depth of the data to be interpreted. Results of the study shows that the  factors of hegemony of the Ternate empire who conquered Moro and an abundance of food sources in Moro, as well as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time.Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang mengarah sebagai alat menumbuk makanan. Batu ini merupakan wadah yang berbentuk bejana terbuat dari batu yang berlekuk di tengahnya. Tujuan dari penelitian ini sebagai studi awal dalam melihat tinggalan batu lumpang yang ada di Desa Ruko Kec. Tobelo Kab. Halmahera Utara sebagai data yang membantu menginterpretasi dan menjelaskan sebuah peristiwa sejarah yang panjang di Halmahera Utara. Metode penelitian menggunakan observasi langsung dan wawancara. Analisis kualitatif dan analisis etnoarkeologi diperlukan untuk melihat kedalaman data yang hendak diinterpretasikan. Hasil dari penelitian adalah faktor hegemoni kekuasaan dari kerajaan Ternate yang menaklukkan kerajaan Moro dan berlimpahnya sumber bahan pangan di Moro menjadikan indikasi kuat batu lumpang sebagai penyokong aktivitas ekonomi pada kala itu.
Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.278

Abstract

Baileo is the name for the traditional home of the Moluccas. One area where the building is still well preserved is in the district of Central Maluku Saparua. The house of  Baileo is not functioned as residences, but only used in the custom and religious execution. Based on the function, then Baileo has the same meaning as balai in Indonesian. Baileo buildings that can be found in most indigenous country in Saparua generally sized large enough, consisted of only one room without a bulkhead. The building is shaped stage house or home berkolong and square berdenah. Buildings made of wood, boards and sago leaves as the roof. However, current developments, some of these buildings have been using modern materials such as cement and roofing senk. However, this does not affect the value in the presence of Baileo itself. Proven local people still maintain the traditional values which are reflected in the maintenance and preservation of Baileo, so it remains to this day. This research is to explore  issues  about the existence, architectural forms, materials, and functions of  traditional home Baileo contained in the District of Saparua, Central Maluku district, and the aims is to have verbal and pictorial document of  Baileo as a tradition and  cultural heritage and also as  the identity of the Moluccan community in general. Results of the research will be described in the form of verbal and pictorial descriptions in order to address concerns and research purposes.Baileo adalah sebutan untuk rumah tradisional orang Maluku. Salah satu wilayah dimana bangunan ini masih terpelihara dengan baik adalah di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Rumah baileo tidak difungsikan sebagai rumah tinggal, melainkan hanya digunakan pada pelaksanaan acara adat atau keagamaan. Berdasarkan fungsinya, maka baileo kurang lebih sama dengan kata balai dalam bahasa Indonesia.  Bangunan baileo yang dapat ditemukan di sebagian besar negeri adat di Kecamatan Saparua umumnya berukuran cukup luas, terdiri dari hanya satu ruangan tanpa sekat. Bangunan ini berbentuk rumah panggung atau rumah berkolong, dan berdenah persegi. Bangunan  terbuat dari kayu, papan dan daun sagu sebagai atapnya. Namun perkembangan saat ini, beberapa di antara bangunan-bangunan ini telah menggunakan bahan modern seperti semen dan atap senk. Walaupun demikian, hal ini tidak mempengaruhi nilai dalam keberadaan baileo itu sendiri. Terbukti masyarakat setempat masih memelihara nilai adat yang tercermin dalam pemeliharaan dan pelestarian baileo, sehingga tetap ada sampai saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian ekploratif untuk menjawab permasalahan peneltian  tentang keberadaan, bentuk  arsitektur, bahan, maupun fungsi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan rumah tradisional baileo yang terdapat dalam wilayah Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, serta bertujuan untuk mendokumentasikan baik secara verbal maupun piktorial  rumah tradisional baileo sebagai warisan budaya sekaligus sebagai identitas masyarakat Maluku umumnya. Hasil penelitian  akan diuraikan dalam bentuk deksripsi verbal maupun piktorial sehingga dapat menjawab permasalahan dan tujuan penelitian.