cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 316 Documents
Paradigma Perubahan Evolusi Pada Budaya Megalitik di Wilayah Budaya Nias Ketut Wiradnyana
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.289

Abstract

The culture area of Nias covers an island, which is Nias Island, and is divided into a number of culture sub-areas. Every culture sub-area consists of several villages, each with its distinct cultural elements. This discussion is aimed at understanding the differences of Nias culture from one village to the others, whether or not they are from one genealogy. The inter-village differences are not merely related to temporal aspect but also to cultural values, social structures and social functions. For that reason, description of cultural elements becomes the main phase, before they are interpreted. Depiction of differences of cultural elements from one village to the others, with structural and functional aspects as their background, will reflect the external and internal factors in an evolutionary cultural change. Therefore the inter-village cultural differences in Nias belong to a paradigm of evolutionary change like what was meant by Talcott Parsons.Wilayah budaya Nias itu meliputi satu pulau yaitu Pulau Nias. Di dalam wilayah budaya dimaksud terbagi atas subwilayah budaya. Pada sebuah subwilayah budaya, terdiri dari beberapa perkampungan, yang masing-masing  memiliki unsur-unsur budaya yang berbeda. Berkenaan dengan itu, tujuan pembahasan ini di antaranya adalah memahami perbedaan kebudayaan Nias antarperkampungan, baik di dalam satu genealogi ataupun tidak. Perbedaan antarkampung dimaksud tidak hanya berkaitan dengan aspek waktu tetapi juga, nilai budaya, faktor struktur sosial dan fungsi sosialnya. Berkenaan dengan itu maka uraian unsur kebudayaan menjadi tahapan utama, untuk selanjutnya diinterpretasikan. Gambaran perbedaan unsur kebudayaan antarkampung dengan aspek struktur dan fungsi yang melatarbelakanginya akan menggambarkan faktor eksternal dan internal pada sebuah perubahan evolusioner kebudayaan. Berkenaan dengan itu maka  perbedaan kebudayaan antarkampung di Nias merupakan  sebuah paradigma  perubahan evolusioner seperti apa yang dimaksud oleh Talcott Parsons.
Benteng Kolonial Eropa di Pulau Makian dan Pulau Moti: Kajian atas Pola Sebaran Benteng di Wilayah Maluku Utara Syahruddin Mansyur
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.290

Abstract

In the early period of the spice trade, Makian Island Moti Island are the main source in the production of cloves. This condition is the main factor that attaracted tthe presence of Europeans that its influences still  can be traced recently. Evidence of the presence of European nations can be seen from the distribution of the fort in the island Makian and Moti Island. This research is intended to uncover the factors that underlie the formation of a network of fortifications in the two islands. Using the method of interpretation of the distribution pattern of the castle and the relationship between regions, this paper uncovered that the main factors the formation of a network of fortifications in the region is the natural conditions or geographical factors, so that consideration of the establishment of each fort associated with the monitoring of safety conditions, supervision of the marketing of cloves, as well as efforts to maintain the existence of a colonial power in the region.Pada periode awal perdagangan rempah-rempah, Pulau Makian dan Pulau Moti adalah sumber utama produksi cengkih. Hal inilah kemudian menjadi daya tarik kehadiran bangsa Eropa yang hingga saat ini masih dapat disaksikan jejak pengaruhnya. Bukti-bukti kehadiran bangsa Eropa tersebut dapat dilihat dari sebaran benteng yang ada di Pulau Makian dan Pulau Moti. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang melatari terbentuknya jaringan perbentengan yang ada di kedua pulau tersebut. Melalui metode penafsiran terhadap pola sebaran benteng dan hubungan antar wilayah, tulisan ini berhasil mengungkap bahwa faktor utama terbentuknya jaringan perbentengan di wilayah ini adalah kondisi alam atau faktor geografis, sehingga pertimbangan atas pendirian setiap benteng berkaitan dengan pengawasan terhadap kondisi keamanan, pengawasan terhadap tata niaga cengkih, serta upaya untuk mempertahankan eksistensi kekuasan kolonial di wilayah ini.
Potensi Tinggalan Arkeologis di Kawasan Bandar Udara Sam Ratulangi Manado: Upaya Pelestarian, Pemanfaatan, dan Pengembangan bagi Masyarakat Irfanuddin W. Marzuki
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.291

Abstract

The area of Sam Ratulangi airport’s Manado has archaeological heritage which has been know as it is closed for public. This research used descriptive method, using inductive reasoning. Meanwhile, the analysis method used morphologyl, technology, and contextual analysis. This research aimed to find out the potential of archaeological heritage in Sam Ratulangi airport area of Manado. In addition to its strategy of preservation the haritage included veilbox, bungker, and waruga. The preservation can be conducted by doing protection, development, and utilization. The preservation both physical and non physical protection. The effort for its development and utilization was conducted for the purpose of science, education, culture, and tourism.Kawasan Bandar Udara Sam Ratulangi Manado mempunyai potensi tinggalan arkeologis yang selama ini tidak diketahui masyarakat luas, dikarenakan letak tinggalan yang berada dalam kawasan tertutup untuk umum. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan penalaran induktif. Metode analisis menggunakan analisis morfologi, teknologi dan kontekstual. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi tinggalan arkeologis yang terdapat di kawasan Bandar Udara Sam Ratulangi dan strategi pelestariannya. Tinggalan arkeologis yang terdapat di kawasan Bandar Udara Sam Ratulangi meliputi veilbox, bungker, dan waruga. Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan cara perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Upaya perlindungan meliputi perlindungan secara fisik dan non fisik. Upaya pengembangan dan pemanfaatan dilakukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan dan pariwisata.
Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.292

Abstract

Ternate town, is a thriving Islamic city since 6-17 century AD. Although at that time influenced mainly Portuguese colonial hegemony and the Netherlands, but as a center of Islamic civilization, morphology and cosmology town laid out according to the Islamic concept and local concept. Through archaeological analysis, morphology and cosmological aspects of the town hall is described. For that carried out the archaeological survey in the city of Ternate with trace toponyms ancient city, then through the literature and interviews with sources. Archaeological analysis performed, ie with spatial analysis through data identification features that characterize the ancient city of Islam, as well as contextual analysis by analogy history and local culture. The purpose of this study is to describe the shape and development of the city, as well as cosmological concept underlying the form of urban planning. Results of the study include that component of the city center is characterized by buildings and mosques, kedaton sultan as an orientation center into a city of Ternate characteristics of Islamic civilization. In addition the local characteristics of the town of Ternate is shown by the local cosmological concepts, as well as the division of residential space natives and immigrants. During its development, the urban space is divided into five components, namely component downtown, residential, and commercial economy, burial, and religious.Kota Ternate, adalah sebuah Kota Islam yang berkembang sejak abad ke 6-17 Masehi. Meskipun pada masa itu dipengaruhi pula hegemoni kolonial terutama Portugis dan Belanda, namun sebagai sebuah pusat peradaban Islam, morfologi dan kosmologi kota ditata menurut konsep Islam dan konsep lokal. Melalui analisis arkeologi, aspek ruang morfologi dan kosmologi kota digambarkan. Untuk itu dilakukan survei arkeologi di wilayah Kota Ternate dengan menelusuri toponim-toponim kota kuno, kemudian melalui studi pustaka maupun wawancara dengan narasumber. Analisis arkeologi dilakukan, yakni dengan analisis keruangan melalui identifikasi data fitur yang mencirikan kota kuno Islam, serta analisis kontekstual melalui analogi sejarah dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bentuk dan perkembangan kota, serta konsep kosmologi yang melatarbelakangi bentuk tata kota. Hasil penelitian antara lain bahwa komponen pusat kota yang dicirikan oleh bangunan kedaton sultan dan masjid sebagai pusat orientasi menjadi karakteristik Ternate sebagai kota peradaban Islam. Selain itu ciri lokal kota Ternate ditunjukkan dengan konsep kosmologi lokal, serta adanya pembagian ruang hunian pribumi dan pendatang. Dalam perkembangannya, ruang kota terbagi menjadi lima komponen, yakni komponen pusat kota, pemukiman, ekonomi dan niaga, penguburan, dan keagamaan.
Kompleks Situs Ki Buyut Trusmi Cirebon: Tinjauan Bangunan Kuna Muhammad Al Mujabuddawat
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.293

Abstract

Ki Buyut Trusmi Complex Site is one of one hundred and twelve Kabuyutan Sites in Cirebon. The number of Kabuyutan Site in Cirebon is a phenomenon which makes the Kabuyutan Site become a feature of the development of Islam in this region. This Site is one of the largest and most important Kabuyutan in Cirebon because the large size of the complex sites, the history of its construction, along with pilgrims and an important tradition that is still preserved until now. This site has a number of relics of material objects in the form of objects and buildings that stand on the site of complex spatial patterns. This paper reviews all forms of attributes that provide evidence of the antiquity of the buildings standing on it. The research in this paper uses observation, description, and interpretation methods which is supported by bibliographical studies. The results of this paper reveals that almost all the buildings change with the addition in the structural parts of the buildings as a result of renovation, in addition to this, there are new buildings constructed to complement the facilities which support the pilgrims. This paper presents the results of antiquity identification of all existing buildings in the complex Site spatial scope which becomes a trusted reference of the characteristics of Islamic archaeological remains in Cirebon area.Kompleks Situs Ki Buyut Trusmi adalah salah satu dari 112 Situs Kabuyutan yang ada di Kabupaten Cirebon. Banyaknya Situs Kabuyutan di wilayah Cirebon merupakan sebuah fenomena yang membuat Situs Kabuyutan menjadi ciri dari perkembangan Islam di wilayah ini. Situs ini merupakan salah satu Situs Kabuyutan yang terbesar dan terpenting di Kabupaten Cirebon mengingat besarnya fisik kompleks situs, sejarah pembangunannya, serta para peziarah dan tradisi penting yang masih dipertahankan hingga saat ini. Situs ini memiliki sejumlah peninggalan objek material berupa benda dan bangunan yang berdiri di dalam pola keruangan kompleks situs. Tulisan ini meninjau segala bentuk atribut yang memberikan bukti-bukti kekunaan dari bangunan-bangunan yang berdiri di dalamnya. Penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode observasi lapangan, deskripsi, dan penafsiran yang didukung oleh data referensi pustaka. Hasil dari tulisan ini mengungkapkan hampir seluruh bangunan berubah dengan penambahan pada bagian-bagian struktur bangunan sebagai akibat dari renovasi, selain itu terdapat pula bangunan-bangunan baru yang dibangun untuk melengkapi fasilitas-fasilitas yang mendukung peziarah yang datang. Tulisan ini menyajikan hasil identifikasi kekunaan dari seluruh bangunan yang ada di dalam lingkup keruangan kompleks Situs yang secara umum menjadi referensi dari ciri tinggalan arkeologi Islam di wilayah Cirebon.
Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Maluku Tengah Lucas Wattimena
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.294

Abstract

House of Huaulu, Seram Island in Central Mollucas district has several aspects related to the pattern of the building, the building materials used, as well as the pattern of worked. The purpose of this researches is to known and understand what kind of aspects are contained in the house of Huaulu People. The method uses ethnoarcheology approach, the data collection techniques interview, observation and literature study. The analysis was performed by descriptive follow aspects of ethnoarchaeology. The results showed that the House of Huaulu People, has two aspects. First aspect of knowledge covering the level of understanding in working on the house, the house view of the cosmos, as well as the art of decorative patterns that interpret the cultural social life. Second, the technological aspect is the level of knowledge and understanding of the tools and materials used for the construction of the house.Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah memiliki beberapa aspek yang terkait dengan pola bangunan, bahan bangunan yang digunakan, serta pola pengerjaannya.Tujuan penelitian untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek apa saja yang terdapat pada rumah Orang Huaulu. Metode menggunakan  pendekatan etnoarkeologi, dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif mengikuti aspek-aspek dalam Etnoarkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Rumah Orang Huaulu memiliki dua aspek. Pertama aspek pengetahuan meliputi tingkat pemahaman dalam mengerjakan rumah, pandangan terhadap kosmos rumah, serta seni pola hias yang menginterprestasikan kehidupan sosial budayanya. Kedua, Aspek teknologi yaitu tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang alat dan bahan yang digunakan untuk pengerjaan rumah.
Appendix Vol. 11 No. 2 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.295

Abstract

Back Cover Vol. 11 No. 2 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.296

Abstract

Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi) Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Kapata Arkeologi Vol. 12 No. 2, November 2016
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v12i2.301

Abstract

Archaeological evidence of metal artifacts found in the area Pawan Watershed in the number of inviting attention to be investigated, that is how the process of technology in the past. The existence of the craftsmen of wrought metal along the watershed area Pawan certainly was  not a coincidence. There might be a relationship between the presence of artifacts with traditional metal forging which is still survive until recently. Ethnoarchaeological approach that has been undertaken is expected to give an idea to reconstructs the metal forging technology in the past on Pawan Watershed; to understand the cultural continuity that still exists today in the area. Metal forging technology using the "ububan" the which is still used today in several locations in Indonesia, as well as in Pawan Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently. Bukti arkeologi berupa artefak logam yang ditemukan di daerah aliran Sungai Pawan dalam jumlah yang cukup banyak mengundang perhatian untuk diteliti, yaitu bagaimana teknologi dan proses pengerjaannya pada masa lalu. Keberadaan pengrajin logam tempa di sepanjang daerah aliran Sungai Pawan tentu bukan suatu kebetulan, mungkin ada hubungan antara kehadiran artefak dengan teknologi tempa logam tradisional yang masih bertahan saat ini. Pendekatan etnoarkeologi dilakukan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk merekonstruksi teknologi tempa logam di masa lalu di daerah aliran Sungai Pawan untuk melihat dan belajar tentang kelangsungan budaya yang masih ada saat ini di lokasi tersebut. Teknologi penempaan logam dengan menggunakan "ububan" yang masih digunakan saat ini di beberapa lokasi di Indonesia dan di daerah aliran Sungai Pawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi artefak pengerjaan logam di masa lalu tidak jauh berbeda dari kemajuan teknologi yang masih berlangsung hingga saat ini.
Karakteristik Bangunan Suci Bercorak Hindu-Buddha di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak: Sebuah Tinjauan Perbandingan Nainunis Aulia Izza
Kapata Arkeologi Vol. 12 No. 1, Juli 2016
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v12i1.302

Abstract

This is a comparison research between the sacred buildings at Penanggungan Mountain and the Wajak Mountain. There are two purposes of this research. Firstly, this study tries to reconstruct the cultural history of the Hindu-Buddhist period which is associated with religious elements on Penanggungan and Wajak Mountain. Secondly, this study aims to reveal the life of the Hindu-Buddhist. This study employs a qualitative approach. The data are obtained from the field and literature. The results show that religious elements at Penanggungan and Wajak Mountains can be seen from the shape of the building as well as the function of the building. The unique characteristic of sacred buildings located at both mountains associated with natural factors and the community. Religious elements can be seen by comparing various elements of religious background, surrounding environment, religious community, and relationships between buildings and historical figures.Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan dan membahas Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak sebagai tempat dibangunnya banguna-bangunann suci bercorak Hindu-Buddha. Ada dua masalah yang dibahas dalam penelitian ini.  Pertama, mengenai unsur religi dibalik corak bangunan suci bercorak Agama Hindu dan Buddha di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak. Kedua, mengenai perbandingan karakteristik unsur religi bangunan suci bercorak Agama Hindu dan Buddha di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak. Tujuan penelitian ini adalah mencoba merekonstruksi sejarah kebudayaan masa Hindu-Buddha terutama yang berkaitan dengan unsur religi serta mengungkapkan kehidupan kaum agamawan pada masa Hindu-Buddha terutama yang melaksanakan kegiatan ritualnya di wilayah pegunungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari hasil studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan dilakukan dengan melakukan kunjungan ke beberapa situs di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak sedangkan studi pustaka dilakukan dengan menelusuri penelitian terdahulu dan referensi yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak unsur religi dapat terlihat dari bentuk bangunan dan perkiraan fungsi bangunannya. Bangunan-bangunan suci yang berada di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak memiliki karakteristik tersendiri yang berhubungan dengan faktor alam dan karakter masyarakat pembuatnya. Unsur religi dapat dilihat melalui perbandingan berbagai unsur antara lain unsur latar keagamaan, lingkungan sekitar bangunan suci, masyarakat pengguna bangunan, dan hubungannya dengan tokoh sejarah.