cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 316 Documents
Strategi Budaya Orang Bugis Pagatan dalam Menjaga Identitas Ke-Bugis-an dalam Masyarakat Multikultur Andi Muhammad Akhmar; Burhanuddin Arafah; Wahyuddin Pardiman
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.392

Abstract

The Pagatan Buginese is a community which living in Pagatan area, Tanah Bambu regency, South Borneo which is culturally identified as Buginese. Even though they are known that their ancestors came from various parts of Sulawesi, the people of this community still identified themselves as separate entity, The Pagatan Buginese. This study use historical, sociolinguistic, and cultural perspective, has revealed that the presences of Buginese in Pagatan occur in several periods. The first period, the Buginese migration to Pagatan in the 18th Century, is the pioneer and founder of Pagatan Kingdom migration. The second period, in the early half of 20th Century, is a large-scale migration caused by Bone War in 1908. The third period, in the second half of 20th Century, is migration when DI/TII Kahar Muzakkar rebellion occurred. Furthermore, in the end of 20th Century, Buginese fisherman communities, who are initially only fishing in Pagatan, gradually bring their family and settle there which is known as pappagatang. The Buginese domination in socio-cultural, economy, and political sector is generated by their ability to adapt to other communities, especially Banjar as the native of Borneo. The Buginese have a number of excellences in agriculture, fishery, maritime, and trading sector, as well as the eminent ethos that rooted from cultural value sirri na pesse (dignity and compassion) and other living philosophy of Buginese.Orang Bugis Pagatan adalah sebuah komunitas yang tinggal di kawasan Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, yang secara kultural diidentifikasi sebagai orang Bugis. Meskipun Orang Bugis Pagatan mengakui jika leluhurnya berasal dari sejumlah daerah Sulawesi Selatan, namun tetap mengidentifikasi diri sebagai sebuah entitas tersendiri, yaitu orang Bugis Pagatan. Penelitian yang menggunakan perspektif sejarah, sosiolinguistik, dan kajian budaya ini mengungkapkan bahwa keberadaan orang-orang Bugis di Pagatan berlangsung dalam beberapa periode. Periode pertama migrasi orang Bugis ke Pagatan pada abad ke-18, adalah kalangan perintis sekaligus pendiri kerajaan Pagatan. Periode kedua migrasi orang Bugis ke Pagatan berlangsung pada paruh awal abad abad ke-20, merupakan migrasi dalam skala besar yang diakibatkan oleh pecahnya perang Bone tahun 1908.  Periode ketiga migrasi orang Bugis ke Pagatan pada paruh kedua abad ke-20, yaitu saat berlangsungnya peristiwa pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar. Selain itu, pada akhir abad ke-20, terdapat pula kelompok-kelompok nelayan Bugis yang pada awalnya hanya mencari ikan di Pagatan, berangsur-angsur membawa keluarga mereka menetap di sana, yang dikenal dengan istilah pappagatang. Dominasi orang Bugis pada sektor sosial budaya, ekonomi, dan politik disebabkan oleh kemampuan mereka beradaptasi dengan komunitas lain, khususnya orang-orang Banjar sebagai penduduk asli Kalimantan. Orang Bugis memiliki sejumlah keunggulan dalam bidang pertanian, perikanan, kelautan, dan perdagangan, serta memiliki etos kerja yang tinggi yang bersumber dari nilai-nilai budaya siri na pesse (harga diri dan rasa iba) serta filosofi hidup orang Bugis lainnya. 
Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan nfn Hasanuddin
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.395

Abstract

Wajo in South Sulawesi is a region that has been known have findings from Islamic period, so it tends to be categorized as an area that civilization started around the 17th century AD. Research in Wajo intended to get an overview of distribution and development of the megalithic period, which is also known as the beginning of civilization. In its achieving, the survey method is used to determine the distribution of megalithic synchronization and also excavations conducted at the Cilellang site to reveal the variability of finds in the cultural layers and development of the megalithics in diachronic. Obtained a description of the research, Cilellang, Tobattang and Allangkanange megalithic sites developed since 13th until 15th century AD in the southeast of Tempe Lake. Agricultural activity is the main livelihood that is marked by 36 mortar stone finds on all three sites. Those three sites can also give an overview of the hierarchy of Allangkanange settlements that may have high social strata because it has the most extensive sites, more varied archaeological remains, and a higher location. Probably Allangkanange is the administrative center of Tobattang and Cilellang sites. Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan merupakan daerah yang selama ini diketahui memiliki temuan-temuan masa Islam, sehingga cenderung dikategorikan sebagai daerah yang memulai peradabannya sekitar abad ke-17 Masehi. Penelitian di Wajo dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi dan masa perkembangan megalitik, dan juga dapat menandai awal peradabannya. Dalam pencapaiannya, digunakan metode survei untuk mengetahui distribusi megalitik secara sinkronis dan dilakukan ekskavasi di situs Cilellang untuk mengetahui variabilitas temuan dalam lapisan budaya dan masa perkembangan megalitik secara diakronis. Dari penelitian diperoleh gambaran bahwa situs Cilellang, Tobattang dan Allangkanange merupakan situs megalitik yang berkembang sejak abad ke-13 hingga abad ke-15 M di wilayah sebelah tenggara Danau Tempe. Aktivitas pertanian merupakan mata pencaharian pokok ditandai dengan temuan 36 lumpang batu pada ketiga situs tersebut. Ketiga situs juga dapat memberi gambaran secara hirarki, yaitu  situs Allangkanange mungkin mempunyai strata sosial permukiman yang lebih tinggi dibandingkan situs Cilellang dan Tobattang, karena memiliki luas situs paling besar, tinggalan arkeologi yang lebih bervariatif dan lokasi yang lebih tinggi. Mungkin saja situs Allangkanange adalah pusat pemerintahan dari situs Cilellang dan Tobattang. 
Ekspansi Kekuasaan Islam Kesultanan Ternate di Pesisir Timur Halmahera Utara Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.396

Abstract

North Halmahera is an expansion area of Ternate Sultanate, a Muslim state in eastern Indonesia. This study focuses on archaeological evidence to explain the process and development of the influence of Islamic Ternate Sultanate in that region. Through archaeological surveys, literature studies and interviews, gathered evidence on the influence of Islam in the region, especially its relation to the political power and economic  factor of the Ternate Sultanate, as the center of Islamic power in North Maluku. The result shows that the east coast of North Halmahera, including Tobelo, Galela and Kao, is an expansion area of Ternate's Islamic rule that developed since the 16th century AD, even the evidence of the region under Ternate's rule can still be found today. Halmahera Utara merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate, sebuah kerajaan Islam di Indonesia bagian timur. Kajian ini menitikberatkan pada bukti-bukti arkeologis untuk menjelaskan proses dan perkembangan pengaruh Islam Kesultanan Ternate di wilayah tersebut. Melalui survei arkeologi, studi literatur dan wawancara, dikumpulkan bukti-bukti tentang pengaruh Islam di wilayah tersebut, terutama hubungannya dengan faktor politik kekuasaan dan ekonomi Kesultanan Ternate, sebagai pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah pesisir timur Halmahera Utara, meliputi Tobelo, Galela dan Kao, merupakan wilayah ekspansi kekuasaan Islam Ternate yang berkembang sejak abad 16 M, bahkan bukti-bukti wilayah tersebut dibawah kekuasaan Ternate masih dapat dijumpai hingga sekarang.
Kebijakan Pengelolaan Warisan Budaya Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 (Perihal Pemberian Insentif dan Kompensasi) Karyamantha Surbakti
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i2.397

Abstract

Several articles of various legal provisions outside Statutory of Cultural Heritage No. 11/2010 concerning cultural heritage have mentioned the issue of incentives and compensation. The incentives and compensation here is given by the government when the public has an cultural heritage objects. The government provides relief by not imposing tax status to the communities that have cultural heritage in the form of sites or buildings. The purpose of this conceptual framework is to identify and recognize how the government seeks to pay attention to aspects of participating communities to protect and preserved cultural heritage. The approached adopted in this study is literature review, using Statutory of land and bulding tax No.12/1994 and the regulation of Public Works and Public Housing Republic of Indonesia No.1/PRT/M/2015 as the main source and some articles related to cultural heritage. The results of the discussion provide an illustration that the government is pursuing a legal product related to incentives and compensation to people who have ancient relics as an effort for the preservation of cultural heritage pertaining to the community.Beberapa pasal dari berbagai ketetapan hukum di luar Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 mengenai cagar budaya, telah menyebutkan dan mencantumkan perihal pemberian insentif dan kompensasi. Insentif dan kompensasi di sini diberikan oleh pemerintah ketika masyarakat memiliki suatu peninggalan purbakala. Pemerintah memberikan keringanan dengan tidak mengenakan status pajak kepada masyarakat yang memiliki warisan budaya/cagar budaya berupa situs atau bangunan. Tujuan dari kerangka konseptual ini adalah untuk mengenali bagaimana pemerintah berusaha memperhatikan aspek masyarakat yang berpartisipasi untuk melindungi dan menjaga cagar budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah pustaka, dengan menggunakan Undang-undang Pajak Bumi Bangunan Nomor 12 Tahun 1994 serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 1/PRT/M/2015 sebagai sumber utama dan beberapa tulisan yang berkaitan dengan cagar budaya. Hasil pembahasan memberikan gambaran bahwa pemerintah mengupayakan sebuah produk hukum yang berkenaan dengan insentif dan kompensasi kepada masyarakat yang memiliki peninggalan purbakala sebagai usaha untuk pelestarian cagar budaya yang bersinggungan dengan masyarakat.
Petuah-petuah Leluhur dalam Wérékkada: Salah Satu Pencerminan Kearifan Lokal Masyarakat Bugis nfn Mustafa
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i2.404

Abstract

This paper aim to examine the local wisdom contained in wérékkada. Wérékkada is a classic Buginese literary form that is still lived by those with Buginese Language and culture backgrounds that serve as an adhesive tool for interpersonal relationships and sources of laws and regulations that can tap the heart, mind and command people to be honest, polite courteous, knowing customs, and manners in social life. This paper describes the local wisdom of Buginese culture that is still practiced in society. The approach used in this study uses two theories namely, pragmatic and sociology of literary approach. The methods and techniques used in this study are descriptive methods, which are described the data as it is. Data was collected using recording techniques, interviews, recording, and literature study. The results can be concluded that wérékkada contains local wisdom such as  honesty, an advice (wérékkada) which contains the basic foundation in establishing relationships between people, perseverance, which is an advice that gives an overview of the daily behavior of someone who has a price high self, firm, tough, faithful to faith, and obedient principle. Meanwhile, sirik ‘malu’ is one of the Buginese way of life, which aims to maintain personal dignity, others or groups.Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kearifan-kearifan lokal yang terdapat dalam wérékkada. Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang hingga kini masih dihayati oleh masyarakat berlatar belakang bahasa dan budaya Bugis yang berfungsi sebagai alat perekat hubungan antar individu dan sumber hukum serta peraturan yang mampu mengetuk hati, pikiran dan memerintahkan orang untuk berlaku jujur, berperilaku sopan santun, tahu adat istiadat, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Tulisan ini menggambarkan kearifan lokal budaya Bugis yang hingga kini masih berlaku di dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini menggunakan dua teori yaitu, pendekatan pragmatik dan sosiologi sastra. Metode dan teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif, yaitu memaparkan sebagaimana adanya. Pengumpulan data, digunakan teknik pencatatan, wawancara, perekaman, dan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa wérékkada dapat mengandung kearifan lokal tentang kejujuran. Petuah-petuah atau wérékkada berisi landasan pokok dalam menjalin hubungan antar sesama, keteguhan, memberikan gambaran dari tingkah laku sehari-hari seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi, tegas, tangguh, setia pada keyakinan, dan taat asas. Sementara itu, sirik ‘malu,’ adalah salah satu pandangan hidup orang Bugis yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok.
Karakter Pemukiman Lahan Basah Abad VI - XV Masehi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito nfn Sunarningsih
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.406

Abstract

One of the great rivers that flow in Kalimantan region is Barito River, precisely in the southeast region. Barito drainage basin crosses two different provinces, namely South Kalimantan and Central Kalimantan. Archaeological researches of wetland ancient settlements on Barito Basin are mainly in the downstream area. The result of this research obtained a varied data, such as artifacts, settlement form, and environmental supports. There seemed to be such character differences in each site. Therefore, this article examine the factors that influence the character differences of each wetland site. The research use descriptive analytic, with inductive reasoning. The result shows that there are some characters of wetland residential sites in the Barito basin, which is influenced by the function of site, the mastery of technology, environmental carrying capacity, and the intensity interaction with outside community.Salah satu sungai besar yang mengalir di wilayah Kalimantan adalah Sungai Barito, tepatnya di wilayah Kalimantan bagian Tenggara. Daerah Aliran Sungai Barito melintasi dua wilayah propinsi yang berbeda, yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Penelitian arkeologi terhadap pemukiman lahan basah (abad ke 6-15 M) di Daerah Aliran Sungai Barito berada terutama di daerah hilir. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan data yang beragam, baik dari artefak, bentuk pemukimannya, dan lingkungan pendukungnya. Tampaknya ada karakter yang berbeda dari masing-masing situs. Oleh karena itu, tulisanini berusaha untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan karakter dari masing-masing situs di lahan basah tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis, dengan penalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa macam karakter dari situs pemukiman lahan basah di DAS Barito, yang dipengaruhi oleh fungsi situs, penguasaan teknologi, daya dukung lingkungan, dan intensitas terjadinya interaksi dengan masyarakat luar.
Festival Menongkah: Revitalisasi Budaya dan Bahasa Duanu Menuju Industri Kreatif Dessy Wahyuni
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i2.407

Abstract

The life of the Malay Duanu community, a remote indigenous community, is started to be exposed recently. Their existence is recognized by the world through the Menongkah Festival that has achieved  the MURI record twice. Unfortanely, following the current globalization progress, the expose of this ethnic group starts  to erodes their culture and language  toward extinction. It is unfortunate as wel that this activity only highlight the ceremonial part. In fact, Duanu people can take advantage of this Menongkah Festival as a medium for the revitalization of Duanu language and culture. If the festival is managed well, then it is believed that this activity will be able to support the emergence of a creative economy that improves the welfare of its supporting community, as well as to revitalize their culture and language. The government should be able to create policies that capable to support the creation of locality-based creative mindset, systems, and practices of the creative industry and to keep prioritizing the existing cultural values. Therefore, through ethnographic methods, the aim of this paper is to offer the model of creative industries based on culture and language of Duanu. If Menongkah Festival is optimally utilized by developing creative undustries, it is believed that the endangered language and culture of Duanu cen be revitalized and people’s live will be more prosperous.Kehidupan masyarakat Melayu Duanu, sebuah komunitas adat terpencil saat ini mulai mengemuka. Eksistensi mereka diakui dunia melalui Festival Menongkah yang mendapatkan rekor MURI sebanyak dua kali. Namun tanpa disadari, seiring arus globalisasi yang menerpa, mengemukanya suku ini mengikis budaya dan bahasa Duanu secara perlahan ke arah kepunahan. Selain itu sangat disayangkan, kegiatan ini hanya menyorot kemeriahan sesaat. Padahal masyarakat Duanu bisa memanfaatkan Festival Menongkah ini sebagai media revitalisasi budaya dan bahasa Duanu. Apabila dikelola dengan baik, diyakini, kegiatan ini akan dapat menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya, sekaligus dapat merevitalisasi budaya dan bahasa mereka. Pemerintah seharusnya dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan nilai-nilai kultural yang ada. Dengan demikian, melalui metode etnografis, tulisan ini bertujuan menawarkan model industri kreatif berbasis budaya dan bahasa Duanu. Jika Festival Menongkah dimanfaatkan secara maksimal dengan mengembangkan industri kreatif, diyakini bahasa dan budaya Duanu yang nyaris punah dapat terevitalisasi serta kehidupan masyarakat pun semakin makmur.
Cover Vol. 13 No. 1 (2017) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.409

Abstract

Preface Vol. 13 No. 1 (2017) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.410

Abstract

Appendix Vol. 13 No. 1 (2017) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1, Juli 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i1.411

Abstract