cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No.1 (2022): Juni" : 10 Documents clear
إعجاز القرآن الكريم و العلوم Sumanta Sumanta
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.11017

Abstract

هذه المقالة تبحث عن إعجاز القرآن والعلوم، الطرق المستخدمة يعني الطريقة الاستقرائية لأخذ المواد من الكتب المقروءة التي اشتملتها مناسبة والطريقة الاستنباطية لأخذ النتائج و الطريقة المقارنة لمقرانةالنتائج ونقابل بينها والعلـوم وقد تقارن بين مذهب المفسرين المتقدمين مع رجال العـلم العصرى و اعتبار التطور في اللغـة. أظهرت نتائج التحليل على أربعة أشياء. الأول، أن القرآن هو كلام الله الذي نزل به الروح الأمين على قلب رسول الله صلى الله عليه وسلم. الثاني، القـرآن الكريم هو المعجزة الخالدة على مـر الأزمـان لنبينا محمد صلى الله عليه وسلم. الثالث، قد أعجـز القرآن الناس اثبت عجـزهم عن أن ياتى بمثله من جميع نواحي أو نواح متعددة لفظية ومعنوية وروحية، اتفقت كلمة العلماء على أن العقول لم تصل حتى الآن. الرابع، جاءت بعض آيات القرآن الكريم فيها لمحات من إعجاز الخلق وكلام الله تعالى موجه إلى البشر جميعا على اختلاف طراء فهم وتفاهم المستمرة في العقول و الصفات.
NUANSA DAKWAH HAMKA DALAM TAFSIR QS. AL-‘ASR: Dari Historisitas Narasi, Linguistik Persuasi dan Aspek Kontekstualisasi Hepni Putra
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10640

Abstract

Research on Hamka has been carried out by many researchers, but research on the da'wah linguistic in QS. Al-'Asr has never been done. Thus, this research is important to be conducted. The focus of this study is: 1) to examine the historical aspects of the formation of Hamka's da'wah narrative; 2) Describe Hamka's dakwah narrative in the interpretation of Qs. Al-'Asr, and 3) Explaining the relevance of Hamka's da'wah narrative in Qs. Al-’Asr with Indonesian reality. The type of this research is library research, using a narrative-analytical method and using archaeological knowledge theory by Michel Foucault. The conclusions from this article are: First, the history of the formation of Hamka's da'wah thought is from his father's upbringing and from his life experiences, such as teachers, organizations, and so on. Second, Hamka's da'wah narrative in Qs. Al-’Asr emphasizes four main aspects, namely 1) using time professionally and proportionately; 2) strengthen the faith in the heart, verbally and in deed; 3) Advise each other about the truth, and 4) Advise each other about patience. Third, Hamka's interpretation of Qs. Al-’Asr is quite relevant to the reality of Indonesia today. Moreover, with various activities, work, and so on, people often forget and neglect, so they cannot make the best use of their time.
PERILAKU BODY SHAMING DALAM TINJAUAN HADIS NABI: Upaya Spritual sebagai Langkah Preventif atas Tindakan Body Shaming M. Fahmi Azhar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.9927

Abstract

This article examines one of the social problems in society which is currently a global issue, namely body shaming behavior. Body shaming behavior is an act of commenting, criticizing or bullying someone's physical (body condition) with the aim of humiliating, because the physical condition of the individual is considered not in accordance with the applicable body image standards and deserves to be commented on. This study examines the behavior of body shaming from the perspective of the hadith. This study seeks to find a correlation between body shaming behavior and hadith, and explores the preventive actions offered by the Rasulullah. The method used is qualitative-descriptive through library research. The results of this study, 1). Hadith narrated by Tirmi>dhi> : 2502 in general explains how the prophet's view of body shaming behavior is. 2). The meaning of the hadith content in it is an invitation to stay away from body shaming behavior. 3). Impact on victims of body shaming behavior in a psychological perspective. 4). Preventive actions offered by the Rasulullah to prevent body shaming behavior.Artikel ini mengkaji salah satu permasalahan sosial di tengah masyarakat yang saat ini menjadi isu global, yaitu perilaku body shaming. Perilaku body shaming merupakan tindakan mengomentari, mencela, mengkritik atau merundung fisik (kondisi tubuh) seseorang dengan tujuan untuk mempermalukan, hal ini disebabkan kondisi fisik yang dimiliki individu tersebut dinilai tidak sesuai dengan standar citra tubuh yang berlaku dan layak untuk dipermalukan. Penelitian ini mengkaji perilaku body shaming perspektif hadis Nabi. Tulisan ini bertujuan untuk  menemukan korelasi antara perilaku body shaming dan hadis, serta mengeksplorasi tindakan preventif yang ditawarkan oleh Rasulullah. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research). Hasil atas kajian ini, 1). Hadis riwayat Tirmi>dhi>: 2502 secara umum menjelaskan bagaimana pandangan nabi terhadap perilaku body shaming. 2). Pemaknaan kandungan hadis di dalamnya ajakan untuk menjauhi perilaku body shaming. 3). Dampak bagi korban perilaku body shaming dalam sudut pandang psikologi. 4. Tindakan preventif yang ditawarkan untuk mencegah perilaku body shaming.
HADIS LARANGAN BERBICARA (AL-LAGHW) SAAT KHOTBAH JUMAT PERSPEKTIF TAKHRIJ DAN LEKSIKOLOGI ARAB Iskandar, Amin; Mahdi, Rijal
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10216

Abstract

إن أداء فرائض الجمعة وشعائر دينية في يوم العيد الأسبوعي للمسلمين من المناسبات المهمة التي يهتم بها المسلمون في العالم الإسلامي عموما وفي إندونيسيا خصوصا. ولقد كثرت الشعائر التي يقوم بها المسلمون في المساجد الإندونيسية قبل صعود الإمام المنبر أو بعدها من ذكر الأذكار والأحاديث النبوية والصلاة والسلام على رسوله الأمين بأصوات جماعية جوهرية. وتهدف هذه الدراسة إلى تخريج الأحاديث النبوية التي تعني بمنع الكلام والحديث أثناء الخطبة يوم الجمعة. وكما أن الدراسة أيضا تحاول تسليط الضوء على معاني اللغو المنهي عنه أثناء الخطبة من منظور المعاني الواردة في المعاجم اللغوية. ولقد توصلت نتائج البحث إلى أن تذكير المصلين والحاضرين بالأحاديث المعنية بمنع الحديث والكلام أثناء الخطبة قبل صعود الإمام المنبر لا ينهى المصلين بالضرورة عن كف الأذى من إصدار الأصوات التي قد تزعج المصلين والحاضرين وبمن حولهم. وكما أشارت نتائج البحث بأن من يفقه معاني هذا الحديث فقط 69،4 % من المصلين ويصل عدد من لم يفقه هذا الحديث إلى 30،6 % من عدد عينات البحث رغم التكرار المتواصل. ولقد تبين من الاستطلاع بأن الأسباب تكمن في أن المصلين والحاضرين لا يفهمون معاني هذه الأحاديث النبوية التي تنهى المصلين من الحديث والكلام أثناء الخطبة، بالرغم من أن التذكير قد أصبح عادة متبعة منذ السنين الطويلة في معظم مساجد إندونيسياIbadah shalat Jumat dan segala ritual Jumatan merupakan hal yang krusial dalam masyarakat muslim Indonesia. Hal ini ditandai dengan banyaknya ritual Jumat yang diselenggarakan di berbagai masjid di Indonesia. Kajian ini bertujan untuk men-takhrij Hadis-Hadis Nabi yang berkaitan dengan larangan berbicara saat khutbah Jumat dilaksanakan. Selain itu, kajian juga bertujuan untuk menyingkap makna kata al-Laghw yang ada dalam Hadis-Hadis larangan dimaksud. Kajian ini menggunakan metode analisis deskriptif terhadap para perawi Hadis larangan berbicara saat khutbah Jumat dan analisis makna kata al-Laghw dalam leksikologi Arab. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual pembacaan Hadis-Hadis larangan sebelum khutbah Jumat dilaksanakan tidak serta merta dapat membendung suara yang kerap terjadi saat khutbah Jumat dilaksanakan. Terdapat 30,6 % dari jumlah responden yang belum memahami maksud Hadis dimaksud. Hanya sekitar 69.4% saja dari jumlah responden yang telah memahami Hadis larangan berbicara ini. Hal ini disebebkan oleh beberapa hal penting diantaranya adalah bahwa para jemaah dan mereka yang menghadiri shalat Jumat tidak semuanya mengerti terhadap larangan berbicara dalam hadis-Hadis yang dibacakan oleh bilal sebelum khatib menaiki mimbar.  
NILAI-NILAI MODERASI ISLAM PERSPEKTIF WAHBAH AL-ZUHAYLI DALAM TAFSIR AL-MUNIR Theguh Saumantri
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10032

Abstract

Al-Qur'an as a guide for man has a function for all human beings, both in human relationship with God, man with man and man with nature. Al-Qur'an describes the life of society, which in social life must have complex problems. Therefore, Al-Qur'an always requires humans to think about finding solutions to all problems including problems related to social relations. One of the discussions about social relations in society is moderation. Tafsir Al-Munir has an interpretation that has a fiqh pattern, but besides that, this interpretation is also classified as an interpretation with a literary and culture community (al-adab al-ijtima’i), a pattern that discusses the polemics of social life where the answers and solutions are contained in the verses of Al-Qur’an.This study used two methods. In terms of literature studies, research uses literature research methods (library research). Meanwhile, in terms of interpretation, this study uses thematic interpretation method. The results of the study obtained from this study explain that Wahbah al-Zuhayli one of the great scholars in the field of tafsir gave his view that moderation is a belief, attitude, behavior of order, muamalah and balanced morality. Islam is a moderate religion, not excessive in everything, not excessive in terms of religion, not extreme beliefs and not extreme behavior, not arrogant and always meek to others.Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia memiliki fungsi bagi seluruh manusia, baik dalam hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam raya. Al-Qur’an juga menjelaskan tentang kehidupan bermasyarakat, yang mana dalam kehidupan sosial pastilah mempunyai problem yang kompleks. Oleh  karena itu Al-Qur’an selalu menuntut manusia untuk berpikir mencari solusi dari segala masalah termasuk masalah yang menyangkut hubungan bersosial. Salah satu pembahasan tentang hubungan sosial dalam bermasyarakat yaitu moderasi. Tafsir Al-Munir memiliki tafsir yang bercorak fiqih, tapi selain itu tafsir ini juga tergolong tafsir yang bercorak sastra dan budaya kemasyarakatan (al-adab al-ijtima’i), corak yang membahas tentang polemik-polemik kehidupan bersosial yang mana jawaban dan solusinya terdapat dalam ayat Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan dua metode. Dari segi kajian literature, penelitian menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan dari segi penafsiran, penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik. Hasil penelitian yang didapat dari kajian ini menjelaskan bahwa Wahbah al-Zuhayli salah satu ulama tokoh ulama besar dalam bidang tafsir memberikan pandangannya bahwa moderasi merupakan keyakinan, sikap, perilaku tatanan, muamalah serta moralitas yang seimbang. Islam adalah agama yang moderat, tidak berlebihan dalam segala hal, tidak berlebihan dalam hal agama, tidak ekstrim keyakinan dan tidak ekstrim perilaku, tidak angkuh dan selalu lemah lembut kepada sesama.
ANALISIS HADIS TAHNIK DENGAN PENDEKATAN SIMULTAN DAN SAINS MODERN Muchamad Saiful Muluk
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10299

Abstract

Tahnik tradition for the baby which had done by our prophet Muhammad pbuh, sahabat and oldest ulama is more forgotable and doubtful its hujjah. This research ordered to answer about hujjah problematical of tahnik based on hadith sources and modern sciences. The hadith object is from Abu Musa ra, which issued by al-Bukhari. This hadith have five transmitters, they are Ishaq ibn Nasr, Abu Usamah, Burayd, Abi Burdah and Abu Musa ra. This research method is qualitative descriptive with library research simultanly. The result in parcial research show that the status of hadith tahnik is weak (hadith da’if) based on sanad. The results of simultaneous research show that the status of hadith is sahih li ghayrihi in the quality and ahad masyhur in quantity. The content of hadith support the modern sciences theory, expecially in medical theoretical and oral phase in development psychology based psychosexual’s Sigmund Freud. The conclusion of this research order Muslim society to do tahnik for their babies without any hesitation.Tradisi tahnik bayi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat dan ulama terdahulu kini semakin diragukan kesahihannya dan cenderung ditinggalkan. Penelitian ini menjawab masalah ke-hujjah-an tahnik bayi berdasarkan sumber-sumber hadis dan sains modern. Hadith yang diteliti adalah riwayat Abu Musa ra. yang dikeluarkan oleh al-Bukhari. Hadis ini memiliki 5 orang periwayat, yakni Ishaq ibn Nas, Abu Usamah, Burayd, Abi Burdah dan Abu Musa ra. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan telaah kepustakaan (library research) secara simultan. Hasil penelitian secara parsial menunjukan bahwa hadith tahnik berderajat hadith da’if al-isnad. Sedangkan penelitian simultan menunjukan bahwa hadith tahnik berderajat sahih li gayrihi secara kualitas dan berstatus ahad masyhur secara kuantitas. Kandungan makna hadith mendukung teori sains modern, khususnya dalam dunia kedokteran dan fase oral dalam psikologi perkembangan berdasarkan psikoseksual Sigmund Freud. Sehingga, tahnik bayi sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh umat Islam tanpa keraguan.
SEX EDUCATION PERSPEKTIF AL-QUR’AN TINJAUAN HERMENEUTIS MA’NA CUM MAGHZA QS. AN-NUR: 30-31 Faridatun Nisa; Isarotul Imamah; Ahmad Fahrur Rozi; M Safwan Mabrur
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.9999

Abstract

Based on the fact that there are many sexual deviations nowadays, this paper tries to describe sexual education in Islam, starting from QS. al-Nur: 30-31. The interpretation of the two verses, if viewed only from the perspective of the nakedness, cannot fully contain the significance or the main message, so that further studies are needed with an analysis of contemporary interpretations to find the main message and contextualize it at the present time. As a result, the two verses have the main message to guard and maintain any gaps or opportunities that will lead to badness and crime, with the main word farj which is always juxtaposed with the words ahfaza and ahsana, meaning to guard and maintain. Which gap or opportunity is also included in the realm of sexual relations. The message of care is included in the value of safety and justice that applies to both women and men. This study is expected to be able to answer the problem of sexual deviation that often occurs recently. The author uses a hermeneutical ma'na cum maghza approach to examine the two verses. This paper uses a ma'na cum maghza hermeneutical approach to examine these two verses. As a result, the two verses have the main message to guard and maintain any gaps or opportunities that will lead to badness and crime, with the main word farj which is always juxtaposed with the words ah}faz}a and ah}s}ana, meaning to guard and maintain. Which gap or opportunity is also included in the realm of sexual relations. The message of care is included in the value of safety and justice that applies to both women and men. This study is expected to be able to answer the problem of sexual deviation that often occurs in recent times.Pembahasan mengenai seksualitas masih ramai dikaji dari berbagai segi bidang keilmuan. Terutama mengenai pendidikan seksual. Sayangnya, yang memperhatikan pendidikan seksual mayoritas adalah peneliti, civitas akademika. Orang tua yang masih mempertahankan adat nenek moyang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan seksual bagi anak-anak mereka. Mereka bahkan menganggap pembahasan yang terkait dengan seksualitas adalah suatu hal yang tabu. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab masih maraknya penyimpangan seksual. Berdasar pada suatu kenyataan mengenai banyaknya penyimpangan seksual pada masa kini, tulisan ini mencoba menjabarkan pendidikan seksual dalam Islam, berangkat dari QS. al-Nur: 30-31. Tulisan ini menggunakan pendekatan hermeneutis ma’na cum maghza untuk mengkaji kedua ayat tersebut. Hasilnya, kedua ayat tersebut memiliki pesan utama untuk menjaga dan memelihara segala celah atau kesempatan yang akan membawa pada keburukan dan tindak kejahatan, dengan kata utamanya farj yang selalu disandingkan dengan kata ahfaza dan ahsana, artinya menjaga dan memelihara. Yang mana celah atau kesempatan tersebut juga masuk dalam ranah hubungan seksual. Pesan penjagaan tersebut masuk ke dalam nilai keselamatan dan juga keadilan yang berlaku bagi perempuan maupun laki-laki. Kajian ini diharapkan dapat menjawab problem penyimpangan seksual yang sering terjadi belakangan ini.
STUDI KRITIS ATAS PEMIKIRAN HADIS MAHMUD ABU RAYYAH: Riwayat bi al-Ma’na, Kredibiltas Abu Hurayrah Tentang Kolektor Hadis Terbanyak Engkus Kusnandar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10707

Abstract

The following article examines the thought of the hadith of Mahmud Abu Rayyah. His thoughts and views on the sunnah of the Prophet SAW are listed in two of his works, Adwa ’ala al-Sunah al-Muhammadiyah, and Shaykh al-Mudhirah: Abu Hurayrah al-Dawsi. This paper examines his thoughts on hadith, as well as critiques the number of negative views of the prophet's hadith regarding the bi al-ma’na history, and the credibility of Abu Hurayrah as the largest hadith collector. This study aims to criticize the negative views of Abu Hurayrah and those who believe in it, and want to show that there has been confusion in Abu Hurayrah's thinking in criticizing Abu Hurayrah. This research is library research. The method is qualitative as data analysis. The results show that there are errors and defects in thinking, how can a hadith that looks odd and unreasonable, as well as a narration error, immediately justifies and asks for accountability and accuses Abu Hurayrah. Whereas in a hadith there is a series of narrators which it is possible for each narrator to make mistakes. So it is very unfair if all the blame and accusations are directed at this cat lover. This research also shows that it is reasonable, scientific and possible, for Abu Hurayrah to be the largest collector of hadith compared to other companions.   
BREAST REJECTION PADA PROSESI LAKTASI MUSA DALAM AL-QUR’AN: Studi Tafsir QS. al-Qasas Ayat 7 dan 12 Bannan Naelin Najihah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.9953

Abstract

The low success rate of breastfeeding for up to 2 years and the high rate of stunting in Indonesia are in the world's spotlight. This has an impact on the poor quality of human resources in terms of health. The imbalance between the study of breastfeeding motivation and the study of the introduction of lactation constraints in the Qur'an is one of the causes of the early termination of the lactation process. This study aims to examine breast rejection in the story of the lactation procession of Musa ‘alayh al-salam in the Qur'an by studying QS. Al-Qasas verses 7 and 12. This research method uses a qualitative method. Baby Musa's refusal behavior towards other breastfeeding mothers was due to the chronology of breastfeeding baby Musa with his biological mother in accordance with the management of lactation, baby Musa had recognized the scent of his mother's body and he had reached the indiscriminate attachment phase.Rendahnya angka keberhasilan menyusui hingga 2 tahun dan tingginya angka stunting di Indonesia menjadi sorotan dunia. Hal ini berdampak pada buruknya kualitas sumber daya manusia ditinjau dari aspek kesehatan. Tidak seimbangnya kajian motivasi menyusui dengan kajian pengenalan kendala laktasi dalam al-Qur’an menjadi salah satu penyebab prosesi laktasi berhenti lebih dini. Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang breast rejection pada kisah prosesi laktasi Musa as. dalam al-Qur’an dengan mendalami QS. Al-Qasas ayat 7 dan 12. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Perilaku penolakan bayi Musa as. terhadap ibu susu lain disebabkan karena kronologi penyusuan bayi Musa dengan ibu kandungnya telah sesuai dengan tata laksana manajemen laktasi, pengenalan bayi Musa terhadap Ibu kandungnya memalui aroma tubuh dan ia telah mencapai fase indiscriminate attachment.
TRACER STUDY ALUMNI JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR (IAT) IAIN SYEKH NURJATI CIREBON DAN RESPON STAKEHOLDER TERHADAP KOMPETENSI DAN KINERJA LULUSAN TAHUN 2018-2019 Nurkholidah Nurkholidah; Muhamad Zaenal Muttaqin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.12713

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk menelusuri rekam jejak alumni Jurusan IAT IAIN Syekh Nurjati lulusan tahun 2018-2019 serta respon stakeholder terhadap kinerja dan kompetensi alumni di tempat kerja mereka. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan survei. Terdapat dua sumber data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, yaitu primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari penyebaran kuesioner secara online melalui email, facebook, mailing list dan juga disebarkan secara langsung kepada alumni yang diketahui dengan jelas alamatnya. Teknik pengisian koesioner dilakukan juga dengan cara snow balling. Sedangkan data sekunder didapat dari penelusuran catatan-catatan dan dokumen yang memiliki relevansi dan mendukung terhadap penelitian yang diangkat. Secara umum, dari total 68 alumni IAT lulusan 2018-2019, terdapat 40 orang alumni yang memberikan tanggapan, alumni perempuan sejumlah 16 orang (40%) dan alumni laki-laki sejumlah 24 orang (60%). Untuk menggali kompetensi dan daya saing alumni IAT lulusan 2018-2019 dalam dunia kerja, peneliti mengajukan 13 aspek kepada para alumni, di antaranya lama waktu tunggu untuk para alumni mendapatkan pekerjaan pertama; informasi pekerjaan pertama yang sudah didapat; kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi yang diambil, dan lain sebaginya. Secara umum, alumni IAT memiliki kompetensi dan daya saing tinggi dalam dunia pekerjaan mereka. Hal ini terlihat dari 40 orang yang memberikan tanggapan, sebanyak 39 sudah bekerja dan 1 orang melanjutkan kuliah. Selain itu, sebanyak 21 (54%) orang sudah bekerja sebelum mereka lulus kuliah. Terakhir, penelitian ini juga mengungkap respon stakeholder terhadap kinerja Alumni IAT (Lulusan 2018-2019) di instansi mereka bekerja. Untuk mengetahui hal itu, peneliti menanyakan 15 aspek kepada para stakeholder, di antaranya adalah integritas (etika dan moral); keahlian berdasarkan bidang ilmu (profesionalisme); kedisiplinan saat bekerja; kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja; dan lain sebagainya. Dari 39 alumni yang sudah bekerja, terdapat 17 stakeholder yang memberikan tanggapan terdapat kinerja mereka. Mayoritas stakeholder puas dengan kinerja para alumni IAT lulusan 2018-2019 yang bekerja di instansi mereka.

Page 1 of 1 | Total Record : 10