Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol 45 No 1 (2011)"
:
14 Documents
clear
The State of Aceh Before The Earthquake Driven Tsunami: Some Preliminary Research Notes
Iis, EM Yusuf
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.1
This article would like to give a concise background of Aceh for The BRR’s [Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi, The Agency for Reconstruction and Rehabilitation] Proposal for Transformation and Sustainable Development which is framed, bringing together the goals and aspirations of many groups and sectors from Aceh society just in time of Islamic Sharia law initiated. In initiating this process, it assumed an enormous challenge, to seek a national consensus in a local government where the imposition of ideas has prevailed over dialogue and negotiation, frequently leading to force and violence. Aceh and Nias Reconstruction and Rehabilitation Agency – BRR is the sole agent for redevelopment of Aceh and Nias and without any public hearing or consultation, they are conducting many project of development in the aftermath of tsunami disaster in the region.
Efektifitas ‘Uq?bat dalam Qanun No. 14/ 2003 dan DQHR Tentang Khalwatdan Ikhtilath
Danial, Danial
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.2
Salah satu bentuk hukuman yang terkandung dalam Qanun nomor 14/ 2003 tentang khalwat dan DQHR tentang Khalwat dan Ikhtilath adalah cambuk. Bentuk hukuman ini belum pernah dikenal dalam peraturan perundang-undangan, khususnya pidana yang berlaku di Indonesia. Karena Qanun setingkat dengan Peraturan Daerah dan berada di bawah Undang-undang. Di sisi lain, hukum meterial di bidang pidana yang ingin dilaksanakan di Aceh adalah hukum pidana Islam. Akan tetapi, lembaga atau penegak hukumnya masih berdasarkan undang-undang nasional yang juga berlaku bagi semua daerah lain di Indonesia. Pertanyaannya adalah pertama, apakah ketentuan bentuk 'uq?bat tersebut sesuai dengan hirarki dan asas peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Kedua, bagaimana pula efektifitas penegak hukum dalam melaksanakan isi qanun dimaksud? Kedua persoalan inilah yang menjadi fokus bahasan dalam tulisan ini.
Epistemologi Ushul Fiqh: Antara Pembaharuan dan Pemberdayaan Mekanisme Istinbath al-Ahkam
A. Yasid, A. Yasid
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.3
Epistemologi ushul fiqh merupakan teori ilmu hukum yang dibangun untuk mengkreasi diktum-diktum fiqh yang amat diperlulan untuk tatakelola kehidupan ummat manusia sehari-hari. Epistemologi ini mula-mula dibangun oleh al-Syafi’I pada abadke-2 hijriyah untuk merespons alotnya perdebatan hukum antara kalangan ahl al-ra’y dan ahl al-hadith saat itu. Dengan hadirnya epistemologi ini maka setiap perdebatan menyangkut hukum dalam Islam bisa dibingkai secara akademik karena dapat merujuk pada kajian teori tertentu. Struktur ilmu ushul fiqh memadukan unsur teks normatif berupa wahyu verbal di satu pihak dan logika formal di pihak lain. Dengan struktur seperti ini tidak sedikit kalangan menganggap bahwa ilmu ini merupakan falsafah Islam faktual yang berfungsi mengawasi kehidupan manusia yang senantiasa beraktivitas di muka bumi. Tujuan ilmu ushul fiqh adalah memunculkun ketentuan hukum agar manusia tidak menyimpang dari fitrahnya dan terseret ke dalam berbagai ketimpangan. Karena itu, pemberdayaan ilmu ini secara optimal dan proporsional diyakini dapat memaksimalkan proses istinbath al-ahkam yang dapat berimplikasi pada dinamika hukum Islam sesuai tingkat perubahan masyarakat.
IstishabSebagai Dasar Penetapan Hukum Islam: Sebuah Tinjauan Historis
Saidurrahman, Saidurrahman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.4
Syariat Islam adalah penutup semua risalah samawiyah, yang membawa petunjuk dan tuntunan Allah untuk ummat manusia dalam wujudnya yang lengkap dan final. Dengan posisi seperti ini, maka Allah pun mewujudkan format Syariat Islam sebagai syariat yangabadi dan komperhensif. Hal itu dibuktikan dengan adanya prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum dalam Islam yang membuatnya dapat memberikan jawaban terhadap hajat kebutuhan manusia yang berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan zaman. Secara kongkrit hal itu ditunjukkan dengan adanya dua hal penting dalam hukum Islam: (1) nash-nash yang menetapkan hukum-hukum yang tak akan berubah sepanjang zaman dan (2) pembukaan jalan bagi para mujtahid untuk melakukan ijtihad dalam hal-hal yang tidak dijelaskan secara sharih dalam nash-nash tersebut. Jika kita berbicara tentang ijtihad, maka sisi ra’yu (logika-logika yang benar) adalah hal yang tidak dapat dilepaskan darinya. Karena itu, dalam Ushul Fiqih –sebuah ilmu yang “mengatur” proses ijtihad- dikenal beberapa landasan penetapan hukum yang berlandaskan pada penggunaan kemampuan ra’yu para fuqaha. Salah satunya adalah istishhab yang akan dibahas dan diuraikan dalam tulisan ini.
Konsepsi Hukum Ibn ‘Arabi: Upaya Merumuskan Pendekatan Spiritual Terhadap Hukum
Nurasiah, Nurasiah
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.5
Metode sufi yang berpijak pada kualifikasi dan pengetahuan hati, berkonsekuensi pada perhatian dan penekanan sufi pada aspek batiniah atau sisi spiritual dari sesuatu. Penerapan metode ini terhadap hukum merupakan kajian yang masih baru. Dalam hal ini, Ibn ‘Arabî adalah pemikir sufi komprehensif yang telah menerapkan metode spiritual dalam bidang hukum, begitu lengkap, sistematis, dan yang paling konsisten. Pada tataran praktik agama dalam bentuk fikih, metode spiritual Ibn ‘Arabî menawarkan tuntutan untuk merengkuh kesucian hati sebagai substansi dan makna hakiki ibadah dan hukum. Pada tataran kaidah hukum, metode dan pendekatan spiritual-batiniah Ibn ‘Arabî menghasilkan doktrin ‘Kasih Sayang Tuhan dalam Hukum’, yang mengimplementasikan diri dalam bentuk kaidah ‘kemudahan dalam hukum’. Sementara dalam teori hukum, pendekatan spiritualnya membentuk rumusan tentang kedudukan hati sebagai sumber hukum, yang intinya bermuara pada tuntutannya untuk menghasilkan hukum yang melibatkan hati nurani dan menjalankan hukum dengan pelibatan penghayatan terdalam pada makna hakiki hukum.
Analisis Historis dan Filosofis Terhadap Pemikiran Kontekstualisasi Hukum Islam
M. Usman, M. Usman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.6
Pemikiran hukum Islam telah lama mengalami stagnan. Baru sekitar abad ke-19 mulai muncul suara-suara untuk melakukan perubahan dan pembaharuan terhadap hukum Islam yang ada. Di antara penyebab terjadinya stagnasi pemikiran hukum Islamtersebut, akibat adanya pemahaman yang menganggap bahwa hukum Islam itu telah cukup dan mapan serta tidak bolehdiganggu gugat dalam konteks apapun. Padahal zaman terus berubah dan berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi yang semakin pesat yang pada gilirannya mengubah prilaku dan pola hidup masyarakat. Dengan demikian, dalam rangka mengkontekstualisasikan hukum Islam harus memahami faktorfaktor sosio-kultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk hukum tertentu, agar dapat memahami pertikularisme dari produk pemikiran hukum tersebut, sehingga jika di tempat atau waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda, maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Pengaturan Tindak Pidana dalam Islam Berdasar TeoriMaqasid Al-Syari’ah
Munajat, Makhrus
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.7
Upaya dan bentuk formalisasi syari'at Islam di Indonesia diperdebatkan, di satu sisi dikehendaki tegaknya syari'at Islam secara legal formal, di sisi lain menginginkan tegaknya the islamic order pada komunitas masyarakat, artinya Islam lebih mementingkan aspek moral ketimbang legal formalnya. Demikian halnya dengan upaya formalisasi hukum pidana Islam dalam konteks keindonesiaan. Model transformasi hukum pidana Islam di Indonesia pada saat ini tidak sampai pada dataran sanksi sebagaimana yang diterapkan dalam AlQuran. Akan tetapi perbuatan yang dilarang dalam Al-Quran dianggap sebagai tindak pidana, karena zina, qazf, mencuri, muharib, bughat, syurb al-khamr, murtad, dan menghilangkan nyawa orang lain adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsip dan moralitas Islam. Positivisasi hukum pidana Islam di Indonesia harus melalui ijma'(ijtihad jama'i) dengan lembaga ahl al-hall wa al-Aqdnya. Yang terdiri dari berbagai unsur, semisal hay'at al-tsyri'iyyah, al al-ikhtisas dan hay'at al-siyasah (lembaga politik) dapat diterjemahkan menjadi Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Nilai-Nilai dalam Pertimbangan Seriousness Of Crime: Kajian Pada Komunitas Muslim
Nuqul, Fathul Lubabin
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.8
Public opinion about seriousness of crime was influenced by much internal from person (observer) variable, beside variable form nature of crime and criminal profile. One of internal variable is value which in embracing by individual, one of the values is coming from religion value. In religion values, especially Islamic value, arranges people behavior in relating with his god and with other people. This religion value also influences their opnion to crime and action as response to crime. Nevertheless has not many field studies yet publication explaining about the Islam value in criminal justice system phenomenon and influence at people behavior, so that it generates many questions about how Muslim’s opinion crime and criminal justice system. The purpose of the research is to know crimes was assumed is serious for Muslim and Muslim’s consideration are in determining seriousness of crime. There search involves 163 psychology undergraduate. In the research, respondent asked to choose out of 23 form of crime assumed most serious and followed with open-end questionnaire related to reason of election of crime that is most serious. The result shows that apostates (murtad), intended genocide and corruption are most serious crime. Goodness and humanity value is most dominant reason in determination of seriousness of crime. Opinion about seriousness crime has implication at assessment of justice at Law enforcement.
Wacana Demokrasi dalam Pemikiran Politik Islam
Hasbi, Muhammad
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.9
This article talks about democracy concept and it relationship to religion which is concept and a means value system is extremely important in the human life. The problem is between Islam as the conviction based on divine revelation and democracy that is product of human reason as social creature. Side long, Islam actually is the initiator in political system application that very appreciate humanity and on the other side democracy system appreciated as the most appreciating system about humanity, so that almost entire government in the world include most of Islamic state accept this system. This democracy system is still in process and it’s fluency dependent on three component within the state, they are political will from the state, strong commitment from the political society, and strong guidance from civil society to bring the democracy system into reality. For the Muslim, this socialization will be more effective when it also done through religion approach, by the translation of that democracy ideas into religiouslanguage, and integration between it and learning of Islamic religious discipline that discuss about constitutional.
Mekanisme Kerja Bersama Antara Nazir dan Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) dalam Menggalang Wakaf Uang (Perspektif Manajemen Fundraising)
Huda, Miftahul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v45i1.10
Produktifitas pengelolaan wakaf oleh nazir adalah sebuah keniscayaan untuk menyalurkan hasil wakaf secara terus-menerus. Asumsi ini membutuhkan ketersediaan sumber daya/dana wakaf bagi nazir dengan cara mengembangkan model-model penggalangan sumber wakaf khususnya wakaf uang. Di sisi yang lain, UU No 41 Tahun2004 Tentang Wakaf mengamanatkan Lembaga Keuangan Syariah PenerimaWakaf Uang (LKS-PWU) untuk menjadi lembaga penerima dan custody wakaf uang tersebut. Tentu kerjasama antara nazir sebagai pengelola wakaf uang dan LKS-PWU menjadi urgen. Karena itu, makalah ini bertujuan mendesain seperti apa mekanisme kerja bersama antara nazir sebagai lembaga pengelola wakaf dengan Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) sebagai lembaga yang formal ditugaskan untuk menghimpun, mengumpulkan dan sekaligus lembaga titipan wakaf uang, dalam mengembangkan penggalangan wakaf uang dari masyarakat. Mekanisme yang dapat dilakukan adalah dengan kedua lembaga tersebut melakukan program pengelolaan wakaf uang bersama baik dalam konteks resource management, asset management maupun grand management, dengan tetap memberikan porsi fungsi masing-masing lembaga. LKS-PWU sebagai penerima dan sebagai kustodi sedangkan nazir sebagai pengelola dan menyalurkan hasil wakaf uang. Tentu saja dalam ketiga segmen pengelolaan tersebut, kedua lembaga secara integratif melakukan kerjakerja bersama baik dalam memberikan motivasi/sosialisasi, program, maupun metode penggalangan wakaf uang.