cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 45 No 1 (2011)" : 14 Documents clear
The State of Aceh Before The Earthquake Driven Tsunami: Some Preliminary Research Notes Iis, EM Yusuf
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.1

Abstract

This article would like to give a concise background of Aceh for The BRR’s [Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi, The  Agency  for  Reconstruction  and  Rehabilitation]  Proposal for  Transformation  and  Sustainable  Development  which  is framed,  bringing  together  the  goals  and  aspirations  of  many groups  and  sectors  from  Aceh  society  just  in  time  of  Islamic Sharia  law  initiated.  In  initiating  this  process,  it  assumed an enormous  challenge,  to  seek  a  national  consensus  in  a  local government  where  the  imposition  of  ideas  has  prevailed  over dialogue  and  negotiation,  frequently  leading  to  force  and violence.  Aceh  and  Nias  Reconstruction  and  Rehabilitation Agency – BRR is the sole agent for redevelopment of Aceh and Nias  and  without  any  public  hearing  or  consultation,  they  are conducting  many  project  of  development  in  the  aftermath  of tsunami disaster in the region.
Efektifitas ‘Uq?bat dalam Qanun No. 14/ 2003 dan DQHR Tentang Khalwatdan Ikhtilath Danial, Danial
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.2

Abstract

Salah  satu  bentuk  hukuman  yang  terkandung dalam Qanun nomor 14/ 2003 tentang khalwat dan DQHR tentang  Khalwat  dan  Ikhtilath  adalah  cambuk.  Bentuk hukuman  ini  belum  pernah  dikenal  dalam  peraturan perundang-undangan,  khususnya  pidana  yang  berlaku  di Indonesia.  Karena  Qanun  setingkat  dengan  Peraturan Daerah  dan  berada  di  bawah  Undang-undang.  Di  sisi  lain, hukum meterial di bidang pidana yang ingin dilaksanakan di Aceh adalah hukum pidana Islam. Akan tetapi, lembaga atau penegak  hukumnya  masih  berdasarkan  undang-undang nasional  yang  juga  berlaku  bagi  semua  daerah  lain  di Indonesia.  Pertanyaannya  adalah  pertama,  apakah  ketentuan bentuk  'uq?bat tersebut  sesuai  dengan  hirarki  dan  asas peraturan perundang-undangan  yang  berlaku  di  Indonesia. Kedua,  bagaimana  pula  efektifitas  penegak  hukum  dalam melaksanakan  isi  qanun  dimaksud?  Kedua  persoalan  inilah yang menjadi fokus bahasan dalam tulisan ini.
Epistemologi Ushul Fiqh: Antara Pembaharuan dan Pemberdayaan Mekanisme Istinbath al-Ahkam A. Yasid, A. Yasid
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.3

Abstract

Epistemologi  ushul  fiqh  merupakan  teori  ilmu  hukum yang  dibangun  untuk  mengkreasi  diktum-diktum  fiqh  yang  amat diperlulan untuk  tatakelola  kehidupan  ummat  manusia  sehari-hari. Epistemologi ini mula-mula dibangun oleh al-Syafi’I pada abadke-2 hijriyah  untuk  merespons  alotnya  perdebatan  hukum  antara kalangan  ahl  al-ra’y dan  ahl  al-hadith  saat  itu.  Dengan  hadirnya epistemologi ini maka setiap perdebatan menyangkut hukum  dalam Islam  bisa  dibingkai  secara  akademik  karena  dapat  merujuk  pada kajian  teori  tertentu.  Struktur  ilmu  ushul  fiqh  memadukan unsur teks normatif berupa wahyu verbal di satu pihak dan logika formal di  pihak  lain.  Dengan  struktur  seperti  ini  tidak  sedikit  kalangan menganggap bahwa ilmu ini merupakan falsafah Islam faktual yang berfungsi  mengawasi  kehidupan  manusia  yang  senantiasa beraktivitas  di  muka  bumi.  Tujuan  ilmu  ushul  fiqh  adalah memunculkun  ketentuan  hukum  agar  manusia  tidak  menyimpang dari fitrahnya dan terseret ke dalam berbagai ketimpangan. Karena itu, pemberdayaan ilmu ini secara optimal dan proporsional diyakini dapat  memaksimalkan  proses  istinbath  al-ahkam yang  dapat berimplikasi pada dinamika hukum Islam sesuai tingkat perubahan masyarakat.
IstishabSebagai Dasar Penetapan Hukum Islam: Sebuah Tinjauan Historis Saidurrahman, Saidurrahman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.4

Abstract

Syariat Islam adalah  penutup  semua risalah samawiyah,  yang membawa petunjuk dan tuntunan Allah untuk ummat manusia dalam wujudnya yang lengkap dan final. Dengan posisi seperti ini, maka Allah pun mewujudkan format Syariat Islam sebagai syariat yangabadi dan komperhensif.  Hal  itu  dibuktikan  dengan  adanya  prinsip-prinsip  dan kaidah-kaidah  hukum  dalam  Islam  yang  membuatnya  dapat memberikan jawaban terhadap hajat kebutuhan manusia yang berubah dari  waktu  ke  waktu,  seiring  dengan  perkembangan  zaman.  Secara kongkrit  hal  itu  ditunjukkan  dengan  adanya  dua  hal  penting  dalam hukum Islam: (1) nash-nash yang menetapkan hukum-hukum yang tak akan  berubah  sepanjang  zaman  dan  (2)  pembukaan  jalan  bagi  para mujtahid  untuk  melakukan  ijtihad  dalam  hal-hal  yang  tidak  dijelaskan secara  sharih  dalam  nash-nash  tersebut.  Jika  kita  berbicara  tentang ijtihad, maka sisi  ra’yu  (logika-logika yang benar) adalah hal yang tidak dapat dilepaskan darinya. Karena itu, dalam Ushul Fiqih –sebuah ilmu yang “mengatur” proses ijtihad- dikenal beberapa landasan penetapan hukum  yang  berlandaskan  pada  penggunaan  kemampuan  ra’yu  para fuqaha. Salah satunya adalah  istishhab  yang akan dibahas dan diuraikan dalam tulisan ini.
Konsepsi Hukum Ibn ‘Arabi: Upaya Merumuskan Pendekatan Spiritual Terhadap Hukum Nurasiah, Nurasiah
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.5

Abstract

Metode  sufi  yang  berpijak  pada  kualifikasi  dan pengetahuan  hati,  berkonsekuensi  pada  perhatian  dan penekanan  sufi  pada  aspek  batiniah  atau  sisi  spiritual  dari sesuatu.  Penerapan  metode  ini  terhadap  hukum  merupakan kajian  yang  masih  baru.  Dalam  hal  ini,  Ibn  ‘Arabî  adalah pemikir  sufi  komprehensif  yang  telah  menerapkan  metode spiritual  dalam  bidang  hukum,  begitu  lengkap,  sistematis,  dan yang paling konsisten. Pada tataran praktik agama dalam bentuk fikih,  metode  spiritual  Ibn  ‘Arabî  menawarkan  tuntutan  untuk merengkuh  kesucian  hati  sebagai  substansi  dan  makna  hakiki ibadah  dan  hukum.  Pada  tataran  kaidah  hukum,  metode  dan pendekatan  spiritual-batiniah  Ibn  ‘Arabî  menghasilkan  doktrin ‘Kasih  Sayang  Tuhan  dalam  Hukum’,  yang mengimplementasikan  diri  dalam  bentuk  kaidah  ‘kemudahan dalam  hukum’.  Sementara  dalam  teori  hukum,  pendekatan spiritualnya  membentuk  rumusan  tentang  kedudukan  hati sebagai  sumber  hukum,  yang  intinya  bermuara  pada tuntutannya  untuk  menghasilkan  hukum  yang melibatkan  hati nurani dan menjalankan hukum dengan pelibatan penghayatan terdalam pada makna hakiki hukum.
Analisis Historis dan Filosofis Terhadap Pemikiran Kontekstualisasi Hukum Islam M. Usman, M. Usman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.6

Abstract

Pemikiran  hukum  Islam  telah  lama  mengalami  stagnan. Baru sekitar abad ke-19 mulai muncul suara-suara untuk melakukan perubahan dan pembaharuan terhadap hukum Islam yang  ada. Di antara  penyebab  terjadinya  stagnasi  pemikiran  hukum  Islamtersebut,  akibat  adanya  pemahaman  yang  menganggap  bahwa hukum Islam itu telah cukup dan mapan serta tidak bolehdiganggu gugat  dalam  konteks  apapun.  Padahal  zaman  terus  berubah  dan berkembang  seiring  dengan  berkembangnya  ilmu  dan  teknologi yang  semakin  pesat  yang  pada  gilirannya  mengubah  prilaku  dan pola  hidup  masyarakat.  Dengan  demikian,  dalam  rangka mengkontekstualisasikan  hukum  Islam  harus  memahami  faktorfaktor  sosio-kultural  dan  politik  yang  melatarbelakangi  lahirnya suatu produk hukum tertentu, agar dapat memahami pertikularisme dari produk pemikiran hukum tersebut, sehingga jika di tempat atau waktu  lain  ditemukan  unsur-unsur  partikularisme  yang  berbeda, maka  produk  pemikiran  hukum  itu  dengan  sendirinya  harus dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Pengaturan Tindak Pidana dalam Islam Berdasar TeoriMaqasid Al-Syari’ah Munajat, Makhrus
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.7

Abstract

Upaya  dan  bentuk  formalisasi  syari'at  Islam  di Indonesia  diperdebatkan,  di  satu  sisi  dikehendaki  tegaknya syari'at  Islam  secara  legal  formal,  di  sisi  lain  menginginkan tegaknya  the  islamic  order pada  komunitas  masyarakat,  artinya Islam  lebih  mementingkan   aspek  moral  ketimbang  legal formalnya.  Demikian  halnya  dengan  upaya  formalisasi  hukum pidana Islam dalam konteks keindonesiaan. Model transformasi hukum  pidana  Islam  di  Indonesia  pada  saat  ini  tidak  sampai pada  dataran  sanksi  sebagaimana  yang  diterapkan  dalam AlQuran.  Akan  tetapi   perbuatan  yang  dilarang  dalam  Al-Quran dianggap  sebagai  tindak  pidana,  karena   zina,  qazf, mencuri, muharib,  bughat,  syurb  al-khamr,  murtad,  dan  menghilangkan nyawa  orang  lain   adalah  perbuatan  yang  tidak  sesuai  dengan prinsip dan moralitas Islam. Positivisasi hukum pidana Islam di Indonesia harus melalui ijma'(ijtihad jama'i) dengan lembaga ahl al-hall  wa  al-Aqdnya.  Yang  terdiri  dari berbagai  unsur,  semisal hay'at  al-tsyri'iyyah, al  al-ikhtisas dan  hay'at  al-siyasah (lembaga politik) dapat diterjemahkan menjadi Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Nilai-Nilai dalam Pertimbangan Seriousness Of Crime: Kajian Pada Komunitas Muslim Nuqul, Fathul Lubabin
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.8

Abstract

Public  opinion  about  seriousness  of  crime  was influenced  by  much  internal  from  person  (observer)  variable, beside variable form nature of crime and criminal profile. One of internal variable is value which in embracing by individual, one of the  values  is  coming  from  religion  value.  In  religion  values, especially Islamic value, arranges people behavior in relating with his god and with other people. This religion value also influences their  opnion  to  crime  and  action  as  response  to  crime. Nevertheless  has  not  many  field  studies  yet  publication explaining  about  the  Islam  value  in  criminal  justice  system phenomenon  and  influence  at  people  behavior,  so  that  it generates  many  questions  about  how  Muslim’s  opinion  crime and  criminal  justice  system.  The  purpose  of  the  research is  to know  crimes  was  assumed  is  serious  for  Muslim  and  Muslim’s consideration  are  in  determining  seriousness  of  crime.  There search involves 163 psychology undergraduate. In the research, respondent  asked  to  choose  out  of  23  form  of  crime  assumed most  serious  and  followed  with  open-end  questionnaire  related to  reason  of  election  of  crime  that  is  most  serious.  The result shows that apostates (murtad), intended genocide and corruption are  most  serious  crime.  Goodness  and  humanity  value  is  most dominant  reason  in  determination  of seriousness  of  crime. Opinion  about  seriousness  crime  has  implication  at assessment of justice at Law enforcement.
Wacana Demokrasi dalam Pemikiran Politik Islam Hasbi, Muhammad
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.9

Abstract

This  article  talks  about  democracy  concept  and  it relationship to religion which is concept and a means value system is extremely important in the human life. The problem is between Islam as the conviction based on divine revelation and  democracy that is product of human reason as social creature. Side long, Islam actually  is  the  initiator  in  political  system  application  that  very appreciate  humanity  and  on  the  other  side  democracy  system appreciated  as  the  most  appreciating  system  about  humanity,  so that almost entire government in the world include most  of Islamic state accept this system. This democracy system is still  in process and  it’s  fluency  dependent  on  three  component  within  the  state, they are political will from the state, strong commitment from the political society, and strong guidance from civil society to bring the democracy  system  into  reality.  For  the  Muslim,  this  socialization will be more effective when it also done through religion approach, by the translation of that democracy ideas into religiouslanguage, and  integration  between  it  and  learning  of  Islamic  religious discipline that discuss about constitutional.
Mekanisme Kerja Bersama Antara Nazir dan Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) dalam Menggalang Wakaf Uang (Perspektif Manajemen Fundraising) Huda, Miftahul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.10

Abstract

Produktifitas  pengelolaan  wakaf  oleh  nazir adalah  sebuah keniscayaan untuk menyalurkan hasil wakaf secara terus-menerus. Asumsi ini membutuhkan ketersediaan sumber daya/dana wakaf bagi nazir dengan cara  mengembangkan  model-model  penggalangan  sumber  wakaf khususnya wakaf uang. Di sisi yang lain, UU No 41 Tahun2004 Tentang Wakaf mengamanatkan Lembaga Keuangan Syariah PenerimaWakaf Uang (LKS-PWU)  untuk  menjadi  lembaga  penerima  dan  custody  wakaf  uang tersebut. Tentu kerjasama antara  nazir sebagai pengelola wakaf uang dan LKS-PWU menjadi urgen. Karena itu, makalah ini bertujuan mendesain seperti  apa  mekanisme  kerja  bersama  antara  nazir sebagai  lembaga pengelola  wakaf  dengan  Lembaga  Keuangan  Syariah  Penerima  Wakaf Uang  (LKS-PWU)  sebagai  lembaga  yang  formal  ditugaskan  untuk menghimpun, mengumpulkan  dan  sekaligus  lembaga  titipan  wakaf  uang, dalam mengembangkan  penggalangan  wakaf  uang  dari  masyarakat. Mekanisme  yang  dapat  dilakukan  adalah  dengan  kedua  lembaga  tersebut melakukan program pengelolaan wakaf uang bersama baik dalam konteks resource  management, asset management  maupun  grand  management, dengan tetap memberikan porsi fungsi masing-masing lembaga. LKS-PWU sebagai  penerima  dan  sebagai  kustodi sedangkan  nazir sebagai  pengelola dan  menyalurkan  hasil  wakaf  uang.  Tentu saja  dalam  ketiga segmen pengelolaan  tersebut,  kedua  lembaga  secara integratif  melakukan  kerjakerja  bersama  baik  dalam  memberikan motivasi/sosialisasi,  program, maupun metode penggalangan wakaf uang.

Page 1 of 2 | Total Record : 14