cover
Contact Name
Sri Handayani Nofiyanti
Contact Email
handayaninofiyanti@unud.ac.id
Phone
+6281339409979
Journal Mail Official
jurnalbetatep@unud.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kampus Unud No.2013, Jimbaran, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 25023012     DOI : https://doi.org/10.24843/JBETA.2025.v13.i02
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "vol 13 no 2 (2025): september" : 20 Documents clear
Pengaruh Pelapisan Nanopartikel Kitosan terhadap Karakteristik Fisiko-Kimia dan Sensoris Pascapanen Buah Stroberi (Fragaria sp.): The Effect of Chitosan Nanoparticle Coating on The Physico-Chemical and Sensory Characteristics of Postharvest California Strawberry (Fragaria x Ananassa) Raka Maydia Purnama; I Made Supartha Utama; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p02

Abstract

Abstrak Stroberi (fragaria sp.) merupakan buah yang disukai namun memiliki umur simpan pendek karena sifatnya yang mudah rusak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pelapisan nanopartikel kitosan terhadap karakteristik fisiko-kimia dan sensoris stroberi selama penyimpanan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi nanopartikel kitosan: 0% (E0), 0,5% (E1), 1% (E2), 1,5% (E3), dan 2% (E4), masing-masing diulang tiga kali. Buah disimpan pada suhu ruang selama 8 hari, dan dilakukan pengamatan terhadap susut bobot, kekerasan, warna, total padatan terlarut, total asam, serta uji sensoris rasa dan aroma. Hasil menunjukkan bahwa pelapisan nanopartikel kitosan memberikan pengaruh signifikan terhadap seluruh parameter yang diamati. Perlakuan 1,5% (E3) menunjukkan hasil terbaik dalam mempertahankan mutu fisik dan kimia, dengan susut bobot terendah (65,02%), kekerasan 4,27 N, total padatan terlarut 7,57 °Brix, dan total asam 1,46%. Sementara itu, perlakuan 2% (E4) menghasilkan skor tertinggi pada uji sensoris rasa dan aroma serta kestabilan warna dengan nilai color difference sebesar 48,84. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelapisan dengan nanopartikel kitosan, khususnya pada konsentrasi 1,5–2%, efektif dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan kualitas stroberi selama penyimpanan pada suhu ruang. Abstract Strawberry (Fragaria sp.) is a popular fruit but have a short shelf life due to their perishable nature. This study aimed to evaluate the effect of chitosan nanoparticle coating on the physicochemical and sensory characteristics of strawberries during storage. The research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with five chitosan nanoparticle concentrations: 0% (E0), 0.5% (E1), 1% (E2), 1.5% (E3), and 2% (E4), each replicated three times. The fruits were stored at room temperature for 8 days, with observations made on weight loss, firmness, color, total soluble solids, total acidity, and sensory evaluation of taste and aroma. The results showed that the chitosan nanoparticle coating had a significant effect on all observed parameters. The 1.5% treatment (E3) yielded the best results in maintaining physical and chemical quality, with the lowest weight loss (65.02%), firmness of 4.27 N, total soluble solids of 7.57 °Brix, and total acidity of 1.46%. Meanwhile, the 2% treatment (E4) received the highest scores in sensory evaluation of taste and aroma, as well as the most stable color with a color difference value of 48.84. These findings indicate that chitosan nanoparticle coating, particularly at concentrations of 1.5–2%, is effective in extending the shelf life and preserving the quality of strawberries during storage at room temperature.
Pengaruh Lama Penyimpanan Buah Kopi Arabika (coffea arabica L.) Petik Merah terhadap Kinerja Mesin Pulper Pengupas Kulit Daging Buah secara Basah: The Effect Of Storage Duration Of Red Picked Arabica Coffee (Coffea Arabica L.) On The Performance Of Wet Fruit Skin And Flesh Pulper Machine Ni Made Tuhu Yuliani; Yohanes Setiyo; I Wayan Widia
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Lama penyimpanan buah kopi Arabika petik merah mempengaruhi karakteristik fisik buah sebelum pengupasan secara basah. Penyimpanan menyebabkan perubahan kadar air dan sifat reologi buah, yang mempengaruhi koefisien gesek dan efektivitas mesin pulper. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh lama penyimpanan terhadap kinerja mesin pulper dan mutu biji kopi hasil pengupasan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan yaitu, tanpa penyimpanan (P0), penyimpanan tiga hari (P1), lima hari penyimpanan (P2), dan tujuh hari penyimpanan (P3). Setiap perlakuan dilakukan ulangan 5 kali dan setiap sampel percobaan menggunakan 5 kg buah kopi Arabika petik merah. Buah kopi dengan kadar air awal 55% disimpan hingga kadar air 45–50% sebelum dikupas menggunakan mesin pulper berkapasitas 300 kg/jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kerja mesin menurun dari 290 kg/jam (P0) menjadi 204 kg/jam (P3), dengan efisiensi 68,0–96,7%. Semakin lama disimpan, kadar air berkurang, meningkatkan gesekan dan memperlambat pengupasan. Buah kopi Arabika petik merah yang disimpan 3 hari menghasilkan karateristik hasil pengupasan yang optimal yang dicirikan oleh persentase biji terkelupas sempurna 99,16%, persentase buah kulit kopi 42,4%, biji tercampur kulit 0,77%, dan biji pecah 0,26%, memenuhi batas maksimum biji pecah 1% menurut SNI 01-2907-2008. Sementara penyimpanan tujuh hari (P3) meningkatkan persentase biji pecah menjadi 1,15%, melebihi batas standar. Semakin lama penyimpanan, kadar air menurun, kulit mengeras, dan gaya gesek meningkat, menyebabkan kinerja mesin menurun dan kualitas hasil pengupasan memburuk. Disimpulkan bahwa penyimpanan selama tiga hari merupakan perlakuan optimal untuk mempertahankan kualitas biji kopi Arabika serta efisiensi kerja mesin pulper.   ABSTRACT The storage period of red-picked Arabica coffee cherries affects the physical characteristics of the cherries before wet pulping. Storage causes changes in the moisture content and rheological properties of the cherries, which affect the friction coefficient and effectiveness of the pulper machine. This study aims to evaluate the effect of storage period on the performance of the pulper machine and the quality of the peeled coffee beans. The study used a Completely Randomized Design with four treatments: no storage (P0), three days of storage (P1), five days of storage (P2), and seven days of storage (P3). Each treatment was replicated five times, and each experimental sample used 5 kg of red-picked Arabica coffee cherries. Coffee cherries with an initial moisture content of 55% were stored until they reached 45–50% moisture content before being peeled using a pulper machine with a capacity of 300 kg/hour. The results showed that the machine's working capacity decreased from 290 kg/hour (P0) to 204 kg/hour (P3), with an efficiency of 68.0–96.7%. The longer the storage period, the lower the moisture content, increasing friction and slowing down the pulping process. Red picked Arabica coffee cherries stored for 3 days produced optimal peeling characteristics characterized by a percentage of perfectly peeled beans of 99.16%, a percentage of coffee skinned fruit of 42.4%, beans mixed with skin of 0.77%, and broken beans of 0.26%, meeting the maximum limit of broken beans of 1% according to SNI 01-2907-2008. Meanwhile, seven days of storage (P3) increased the percentage of broken beans to 1.15%, exceeding the standard limit. The longer the storage period, the water content decreased, the skin hardened, and the friction force increased, causing machine performance to decrease and the quality of the peeling results to deteriorate. It was concluded that three days of storage was the optimal treatment to maintain the quality of Arabica coffee beans and the efficiency of the pulper machine
Evaluasi Konduktivitas Listrik Tanah dan Kaitannya dengan Ph, Nitrogen Total, Karbon Total dan Bahan Organik di Lahan Sawah: Evaluation of Soil Electrical Conductivity and Its Relationship with pH, Total Nitrogen, Total Carbon, and Organic Matter in Rice Field Land Imanuel Raymond Dikmar Koyoh; Sumiyati; I Putu Gede Budisanjaya; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; I Putu Agus Arnadi; Rizki Maftukhah
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p07

Abstract

ABSTRAK Ketidakseimbangan unsur hara dan kualitas tanah yang kurang optimal merupakan permasalahan umum di lahan pertanian, namun pemantauan unsur hara memerlukan analisis laboratorium. Tujuan penelitian adalah memperoleh hubungan untuk mengestimasi pH tanah, kandungan nitrogen total, karbon total dan bahan organik tanah berdasarkan konduktivitas listrik tanah, serta mengevaluasi potensi penggunaan konduktivitas listrik tanah sebagai indikator estimasi parameter-parameter tersebut. Penelitian menggunakan machine learning berbasis Python dengan algoritma regresi linear, di mana 70% data digunakan untuk membuat persamaan pendugaan dan 30% untuk validasi kinerja model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konduktivitas Listrik (EC) dapat digunakan untuk memprediksi nilai pH dengan persamaan pH = 0,3107 EC - 1,2 (nilai R² = 0,9707), untuk memprediksi nilai karbon total dengan persamaan TC = 0,3525 EC - 0,1 dan untuk memprediksi nilai bahan organik, dengan persamaan BOT = 0,2045 EC - 0,1 dengan nilai R² = 0,9126. Namun, nilai EC dinyatakan lemah untuk memprediksi nitrogen total dengan nilai R² = -0,0030. Validasi kinerja model menunjukkan nilai kesalahan yang sangat kecil pada persamaan untuk memprediksi pH berdasarkan nilai EC yaitu MSE = 0,0006; MAE = 0,0164), serta pada persamaan untuk memprediksi karbon total dan bahan organik tanah berdasarkan nilai EC diperoleh masing-masing nilai MSE = 0,0017 dan MAE = 0,0357). Namun nilai EC kurang efektif untuk memprediksi nilai nitrogen total karena hasil validasi kinerja model menunjukkan nilai MSE = 0,0195 dan MAE = 0,1190. Hasil ini menunjukkan bahwa konduktivitas listrik tanah dapat digunakan sebagai indikator yang baik untuk mengestimasi pH tanah, karbon total, dan bahan organik tanah.   ABSTRACT The imbalance of soil nutrients and suboptimal soil quality are common issues in agricultural land; however, monitoring soil nutrients typically requires laboratory analysis. This study aims to establish relationships for estimating soil pH, total nitrogen content, total carbon, and soil organic matter based on soil electrical conductivity (EC), as well as to evaluate the potential use of EC as an indicator for estimating these parameters. The research employed a machine learning approach using Python with a linear regression algorithm, where 70% of the data was used to develop estimation equations and the remaining 30% for model performance validation. The results indicate that EC can be used to predict pH with the equation pH = 0.3107 EC - 1.2 (R² = 0.9707), total carbon with the equation TC = 0.3525 EC - 0.1, and soil organic matter with the equation BOT = 0.2045 EC - 0.1 (R² = 0.9126). However, EC was found to be a weak predictor for total nitrogen, as indicated by an R² value of -0.0030. Model validation results showed very low error values for the pH prediction equation (MSE = 0.0006; MAE = 0.0164), as well as for the equations predicting total carbon and organic matter (MSE = 0.0017 and MAE = 0.0357, respectively). In contrast, EC was less effective in predicting total nitrogen, as reflected in higher error values (MSE = 0.0195; MAE = 0.1190). These findings suggest that soil electrical conductivity can serve as a reliable indicator for estimating soil pH, total carbon, and organic matter content.
Perbandingan Kualitas Pengeringan Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.) dengan Para-Para dan Pengeringan Konvensional: Comparison of Arabica Coffee Bean (Coffea arabica L.) Drying Quality using Para-Para and Conventional Drying Methods Noviera Inggrit Kurnia; Yohanes Setiyo; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p04

Abstract

ABSTRAK Kopi Arabika Kintamani merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang memiliki karakteristik khas dan telah memperoleh status indikasi geografis. Namun, mutu biji kopi dari wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kadar air maksimum 12,5% sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-2008). Pengeringan merupakan tahapan krusial dalam proses pascapanen karena secara langsung memengaruhi kadar air dan kualitas akhir biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, serta kadar air pada biji kopi Arabika yang dikeringkan menggunakan metode para-para dan metode konvensional. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (konvensional), P1 (rak atas), P2 (rak tengah), dan P3 (rak bawah). Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan regresi linier sederhana. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk mendukung interpretasi hubungan antara variabel lingkungan dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata pada P1 sebesar 37,5°C, kelembaban udara 49,8%, dan intensitas cahaya 136,5 lux, menghasilkan kadar air akhir sebesar 11,2%. Pada P3, suhu rata-rata tercatat 34,9°C, kelembaban udara 57,2%, dan intensitas cahaya 63,0 lux, dengan kadar air akhir 16,9%. Perlakuan P0 dan P2 masing-masing menunjukkan kadar air akhir sebesar 8,5% dan 10,0%. Analisis regresi menunjukkan adanya hubungan kuat antara waktu pengeringan dan penurunan kadar air pada semua perlakuan. Metode para-para, khususnya pada P1 (rak atas), menunjukkan pengeringan yang lebih stabil dan sesuai standar mutu, sehingga dapat direkomendasikan sebagai metode alternatif dalam menjaga kualitas kopi Arabika.   ABSTRACT Kintamani Arabica coffee is one of Indonesia’s flagship commodities, recognized with a Geographical Indication status due to its distinctive flavor and regional characteristics. However, coffee beans from this region still face challenges in meeting the maximum moisture content requirement of 12.5% as stated in the Indonesian National Standard (SNI 01-2907-2008). Drying is a critical post-harvest stage that directly affects the moisture level and final quality of coffee beans. This study aims to compare temperature, humidity, light intensity, and moisture content of Arabica coffee beans dried using two methods: the para-para drying rack system and conventional sun drying. The treatments applied were P0 (conventional method), P1 (top rack), P2 (middle rack), and P3 (bottom rack). Data analysis was carried out using descriptive statistics and simple linear regression. The results were presented in tables and graphs to support the interpretation of relationships among environmental variables and moisture content. The study found that P1 recorded an average temperature of 37.5°C, relative humidity of 49.8%, and light intensity of 136.5 lux, resulting in a final moisture content of 11.2%. In comparison, P3 recorded a temperature of 34.9°C, humidity of 57.2%, and light intensity of 63.0 lux, with a final moisture content of 16.9%. P0 and P2 had final moisture contents of 8.5% and 10.0%, respectively. Regression analysis indicated a strong correlation between drying time and moisture reduction across all treatments. Drying at P1 (upper rack) demonstrated greater stability and compliance with quality standards, thus it can be recommended as an alternative method to preserve Arabica coffee quality.
Optimalisasi Sistem Persediaan Bahan Baku Makanan Menggunakan Metode EOQ (Economic Order Quantity) I Kadek Darmawan Darmawan; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara; Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2025.v13.i02.p17

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan sistem persediaan bahan baku makanan di restoran La Montagne Coffee pada Mahagiri Panoramic Resort and Restaurant menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). Permasalahan utama dalam pengelolaan persediaan adalah ketidaksesuaian antara jumlah pembelian dan pemakaian bahan baku yang mengakibatkan pemborosan biaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Narasumber dari penelitian ini meliputi manager restoran, akuntasi (keuangan) dan kichen (dapur). Data yang dikumpulkan meliputi jumlah pemakaian bahan baku, biaya pemesanan, biaya penyimpanan, serta frekuensi pemesanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode EOQ menghasilkan jumlah pemesanan optimal yang lebih rendah dibandingkan metode perusahaan, yaitu 224 kg untuk selada, 356 kg untuk wortel, dan 1.682 ekor untuk daging ayam, dengan frekuensi pemesanan yang lebih efisien. Total biaya persediaan yang dikeluarkan dengan metode EOQ juga lebih rendah, menghasilkan penghematan sebesar Rp 2.590.215 untuk selada, Rp 3.306.232 untuk wortel, dan Rp 9.388.579 untuk daging ayam. Sehingga metode EOQ efektif dalam menekan biaya total persediaan dan meningkatkan efisiensi pengadaan bahan baku di restoran. This study aims to transform the raw material inventory system at La Montagne Coffee, located within the Mahagiri Panoramic Resort and Restaurant, by implementing the Economic Order Quantity (EOQ) method. One of the critical challenges in inventory management is the gap between purchased quantities and actual raw material usage, which leads to substantial cost inefficiencies. Using a quantitative descriptive approach, this research utilizes effective data collection techniques, including insightful interviews, comprehensive observations, and meticulous documentation. Key insights are gathered from discussions with the restaurant manager, finance staff, and kitchen team, ensuring a thorough understanding of operational dynamics. The collected data reveals important factors such as raw material usage, ordering costs, storage expenses, and ordering frequency. The findings are noteworthy, demonstrating that the EOQ method yields a significantly lower optimal order quantity compared to the restaurant's current practices: 224 kg for lettuce, 356 kg for carrots, and 1,682 pieces for chicken, along with a more efficient ordering frequency. Additionally, the total inventory costs associated with the EOQ method are lower, resulting in savings of Rp 2,590,215 for lettuce, Rp 3,306,232 for carrots, and Rp 9,388,579 for chicken. So the EOQ method is effectively reduces total inventory costs and enhances the efficiency of raw material procurement in restaurants.
Pengaruh Hot Water Treatment Terhadap Kualitas Fisik Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Selama Penyimpanan Suhu Dingin: Effect of Hot Water Treatment on the Physical Quality of Green beans (Phaseolus vulgaris L.) During Cold Storage. I Made Andika Yasa Pramana; Gede Arda; Sumiyati Sumiyati; Sri Handayani Nofiyanti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2025.v13.i02.p08

Abstract

ABSTRAK Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu jenis tanaman polong-polongan yang cenderung cepat mengalami kerusakan selama masa penyimpanan, baik pada suhu ruang maupun suhu rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hot water treatment (HWT) terhadap kualitas fisik buncis (Phaseolus vulgaris L.) selama penyimpanan dingin pada suhu 5°C. Perlakuan HWT dilakukan dengan teknik hot water dipping (HWD), menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu suhu perendaman dan faktor kedua yaitu waktu perendaman. Faktor pertama terdiri dari suhu 40°C, 50°C, dan 60°C. Faktor kedua terdiri dari waktu 1, 3, dan 5 menit, serta satu kontrol tanpa perlakuan. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, tekstur, perubahan warna (CIE a*), dan intensitas kerusakan dengan lama penyimpanan 23 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu air cenderung mempercepat kerusakan buncis selama penyimpanan. Namun kombinasi dengan waktu perendaman menunjukkan bahwa suhu 40°C selama 3 menit memberikan hasil terbaik dalam mempertahankan mutu buncis, dengan susut bobot mencapai 5,6%, tekstur dan warna yang relatif stabil, serta intensitas kerusakan terendah (16%). Sebaliknya, perlakuan suhu tinggi (60°C) mempercepat kerusakan fisik dan degradasi mutu. Dengan demikian, HWT pada suhu 40°C selama 3 menit dapat direkomendasikan sebagai penanganan pascapanen yang efektif untuk menjaga kualitas buncis selama penyimpanan dingin.   ABSTRACT Green beans (Phaseolus vulgaris L.) are a type of legume that tends to deteriorate quickly during storage, both at room temperature and low temperatures. This study aims to determine the effect of hot water treatment (HWT) on the physical quality of green beans (Phaseolus vulgaris L.) during cold storage at 5°C. The HWT treatment was carried out using the hot water dipping (HWD) technique, using a Factorial Completely Randomized Design with two treatment factors. The first factor is the immersion temperature and the second factor is the immersion time. The first factor consists of temperatures of 40°C, 50°C, and 60°C. The second factor consists of times of 1, 3, and 5 minutes, as well as one control without treatment. The parameters observed included weight loss, water content, texture, color change (CIE a*), and damage intensity, all of which were measured over a 23-day storage period. The results showed that increasing water temperature tends to accelerate the deterioration of green beans during storage. However, the combination of soaking time showed that a temperature of 40°C for 3 minutes provided the best results in maintaining the quality of green beans, with a weight loss of 5.6%, relatively stable texture and color, and the lowest damage intensity (16%). Conversely, high temperature treatment (60°C) accelerated physical damage and quality degradation. Thus, HWT at 40°C for 3 minutes can be recommended as an effective post-harvest treatment to maintain the quality of green beans during cold storage.
Pengaruh Konsentrasi NaHCO3 dan Suhu Perendaman Terhadap Sifat Rehidrasi Kacang Gude Kering (Cajanus cajan (L.) Millsp.): The Effect of NaHCO3 Concentration and Soaking Temperature on the Rehydration Properties of Dried Pigeon Peas (Cajanus cajan (L.) Millsp.) Yunita Kusumaning Ratri; Gede Arda; I Made Anom Sutrisna Wijaya; Sri Handayani Nofiyanti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p09

Abstract

Abstrak Kacang gude kering (Cajanus cajan (L.) Millsp) memiliki tekstur yang keras dan kemampuan rehidrasi yang rendah, sehingga memerlukan proses perendaman/ rehidrasi agar kacang gude dapat diolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan memberikan hasil terbaik dari penggunaan larutan NaHCO3 dan suhu perendaman terhadap sifat rehidrasi kacang gude kering. Penelitian ini dilakukan dengan proses perendaman pada kacang gude kering utuh yang memiliki ukuran 5 mm, rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua faktor yakni konsentrasi larutan NaHCO3 0%, 0,5%, dan 1% dan suhu perendaman 25°C, 35°C, dan 45°C. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah laju rehidrasi, volume, tekstur, kadar air basis kering, dan persentase penyerapan air. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari penggunaan larutan NaHCO3 dan suhu perendaman, dengan kombinasi larutan NaHCO3 1% dan suhu perendaman 45°C sebagai interaksi faktor terbaik dan menghasilkan laju rehidrasi tertinggi sebesar 77,20% bk/jam, dengan peningkatan volume sebesar 102,98%, penurunan tekstur dengan nilai akhir sebesar 26,65 N, kadar air sebesar 182,8% bk, dan penyerapan air sebesar 90,56% dari berat awalnya.   Abstract Dried pigeon pea (Cajanus cajan (L.) Millsp) has a hard texture and low rehydration ability, so it requires a soaking/rehydration process so that the pigeon pea can be processed. This study aims to analyze and provide the best results from the use of NaHCO3 solution and soaking temperature on the rehydration properties of dried pigeon pea. This study was conducted by soaking whole dried pigeon pea with a size of 5 mm, the experimental design used was a Randomized Block Design (RBD), with two factors namely the concentration of NaHCO3 solution 0%, 0.5%, and 1% and soaking temperature 25°C, 35°C, and 45°C. The parameters observed in this study were the rehydration rate, volume increase, texture, dry basis water content, and percentage of water absorption.  The results of the study showed a significant influence of the use of NaHCO3 solution and soaking temperature, with a combination of 1% NaHCO3 solution and a soaking temperature of 45°C as the best factor interaction and resulting in the highest rehydration rate of 77.20% bk/hour, with an increase in volume of 102.98%, a decrease in texture with a final value of 26.65 N, water content of 182.8% bk, and water absorption of 90.56% of its initial weight.  
Evaluasi Kinerja Supplier dalam Rantai Pasok Makanan di PT Aerofood ACS Unit Denpasar dengan Metode AHP (Anallytical Hierarchy Process): Supplier Performance Evaluation in The Food Supply Chain at PT Aerofood ACS Denpasar Unit using The Analytical Hierarchy Process (AHP) Dendi Ambarita; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara; I Made Supartha Utama
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p20

Abstract

Penilaian kinerja pemasok merupakan bagian krusial dalam menjaga kelancaran rantai pasok khususnya di industri katering penerbangan. Studi ini dilakukan di PT Aerofood ACS Unit Denpasar dengan memanfaatkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengevaluasi enam pemasok utama berdasarkan enam kriteria penilaian, yakni: kualitas, harga, ketepatan, fleksibilitas, konsistensi, dan hubungan komunikasi. Dari hasil perhitungan bobot rata-rata oleh tiga responden, kriteria hubungan komunikasi memperoleh bobot tertinggi sebesar 1,340, diikuti konsistensi (1,040) dan kualitas (0,938), yang menandakan bahwa interaksi yang baik dan kesinambungan layanan sangat berpengaruh terhadap performa supplier. Berdasarkan hasil akhir perhitungan AHP, PT ABX menempati peringkat tertinggi sebagai pemasok paling unggul. Hasil ini menekankan bahwa hubungan kerja yang efektif antara perusahaan dan pemasok merupakan faktor penting dalam memastikan keberlanjutan dan kualitas pasokan.
Analisis Perbandingan dan Kinerja Sensor DHT22 dan DHT11 Berdasarkan Studi Literatur Prisma untuk Pengembangan IoT di Pertanian Lahan Rawa: The Comparative Analysis of DHT22 and DHT11 Sensor Performance Based On Prisma Literature Study for IoT Development in Swampland Agriculture Puspitahati Puspitahati; Anggriyani Anggriyani; Haisen Hower
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2025.v13.i02.p16

Abstract

Penerapan Internet of Things (IoT) dalam sistem pertanian presisi menuntut penggunaan sensor yang akurat dan efisien untuk memantau parameter lingkungan seperti suhu dan kelembaban, terutama pada wilayah beriklim rawa yang dinamis dan memiliki fluktuasi tinggi pada permukaan air. Lahan rawa lebak menjadi lokasi strategis bagi pengembangan pertanian berkelanjutan karena perannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional, meskipun produktivitasnya masih rendah akibat keterbatasan teknologi pemantauan lingkungan. Kondisi rawa lebak yang ditandai oleh perubahan muka air yang cepat, kelembaban tinggi, dan iklim mikro yang tidak stabil menuntut penggunaan sensor dengan akurasi serta bisa memiliki keandalan tinggi. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja dua sensor suhu dan kelembaban, yakni DHT22 dan DHT11, pada sistem pemantauan berbasis Arduino Uno R3 untuk mendukung pengelolaan pertanian rawa. Metode penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan PRISMA. Dari 150 artikel yang dihimpun, sebanyak 47 publikasi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil menunjukkan bahwa sensor DHT22 memiliki akurasi lebih tinggi (±0,5°C; ±2% RH), rentang pengukuran lebih luas, serta performa yang lebih stabil pada kelembaban tinggi dibandingkan DHT11 (±2°C; ±5% RH). Walaupun DHT11 lebih ekonomis dan cepat merespons, keterbatasannya menjadikannya kurang ideal untuk kondisi rawa lebak yang ekstrem. Arduino Uno R3 dinilai sebagai platform yang efisien untuk integrasi sistem pemantauan berbasis IoT secara real-time. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi teknis dalam pengembangan sistem pemantauan presisi di lahan rawa lebak guna meningkatkan produktivitas dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Estimasi Nilai Respirasi Tanah Menggunakan Metode Tabung Mikrorespirasi dengan Pengolahan Citra: Estimation of Soil Respiration based on Microrespiration Tube Method using Image Processing Ni Luh Gede Enjelina Ayu Maheswari; Ni Nyoman Sulastri; I Putu Gede Budisanjaya; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p01

Abstract

Respirasi tanah merupakan salah satu indikator penting dalam suatu ekosistem tanah yang menunjukan aktivitas mikroorganisme dan metabolisme dalam tanah. Respirasi tanah diukur dengan metode tabung mikrorespirasi sebagai pengukuran lapangan dan titrasi asam basa sebagai analisis laboratorium. Metode tabung mikrorespirasi ini adalah cara cepat mengukur respirasi tanah, namun data yang dihasilkan hanya dapat dilihat secara visual dan tidak diketahui nilainya. Oleh karena itu, dilakukan pengolahan citra dari metode tabung mikrorespirasi ini untuk mengestimasi nilai respirasi tanah serta mengetahui model estimasi terbaik menggunakan machine learning. Citra diakuisisi kemudian diolah dengan pengolahan citra meliputi konversi Red, Green, Blue (RGB) ke Hue Saturation Value (HSV), augmentasi citra, serta ekstraksi fitur data citra. Pengembangan model estimasi respirasi tanah menggunakan tiga algoritma yaitu Multiple Linear Regression (MLR), Back Propagation (BP), dan Random Forest (RF). Hasil dari penelitian ini adalah diperoleh akurasi model dengan nilai R² dari ketiga model yaitu MLR = 0,28, BP = 0,53, RF = 0,77 dan nilai estimasi dari ketiga model MLR = 7,62 mg/g , BP = 4,38 mg/g , RF = 4,57 mg. Dari hasil tersebut, dinyatakan bahwa model dengan algoritma RF merupakan model terbaik untuk mengestimasi nilai respirasi tanah.

Page 1 of 2 | Total Record : 20