cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 22, No. 2, Desember 2021" : 16 Documents clear
KONSEP DAN FILOSOFI HIDAYAH: STUDI KASUS PADA MASYARAKAT DENGAN LATAR BELAKANG BERBEDA Imamul Arifin; Maharani Ayu Devi; Shafira Zelinda ‘Ainiyatur rohmah
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16699

Abstract

Penelitian ini didasari oleh hidayah yang menjadi pemahaman kebanyakan umat Islam bahwa istilah hidayah selalu dihubungkan dengan datangnya dari Allah Swt semata, padahal jika ditinjau dari segi bahasa pengertian hidayah diartikan sebagai petunjuk, bimbingan, arahan, keterangan dan kebenaran. Dari istilah bahasa hidayah bisa datang dengan banyak cara akan tetapi harus diimbangi oleh usaha manusia itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi (pengamatan), wawancara kepada narasumber  dengan latar belakang yang berbeda-beda, dan yang terakhir studi literatur. Hidayah juga berpengaruh pada keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan di akhirat, cara dan sikap kita untuk mendapatkan hidayah tersebut. Sehingga, barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorang pun yang mampu mencelakakannya. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia memiliki jiwa sebagai penyempurna manusia itu sendiri, yang mana jiwa itu sebagai alat yang dipergunakan untuk mencari hidayah Allah S.W.T. Jiwa itu pada awalnya dalam keadaan situasi yang sama dalam menerima dua jalan iaitu kebaikan dan keburukan. Akan tetapi Allah S.W.T memberi sesuatu yang teramat penting berupa akal pikiran untuk memikirkan dan menimbang dua jalan tersebut. Hidayah tidak dapat dibeli, tapi ini adalah nikmat Allah S.W.T yang hanya dianugerahi kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, maka dari itu seseorang akan mendapatkan hidayah karena memang mereka mempersiapkan dirinya.This research is based on guidance which is the understanding of most Muslims that the term guidance is always connected with coming from Allah SWT alone, even though when viewed from the language point of view the meaning of guidance is interpreted as guidance, guidance, direction, information and truth. From the terms of the language of guidance, it can come in many ways, but it must be balanced by human efforts themselves. This research uses data collection methods carried out by observation (observation), interviews with sources with different. Hidayah also affects the safety and goodness of human life in this world and in the hereafter, our ways and attitudes to get that guidance. So, whoever is facilitated by Allah SWT to achieve it, then indeed he has achieved great luck and no one will be able to harm him. As a creature created by God, humans have a soul as a complement to man himself, which is the soul as a tool used to seek guidance from Allah SWT. The soul is initially in the same situation in accepting the two paths of good and bad. However, Allah SWT gave something very important in the form of a mind to think about and consider these two paths. Hidayah cannot be bought, but this is a blessing from Allah SWT which is only bestowed upon His servants whom He wants, therefore someone will get guidance because they are preparing themselves. 
THE EPISTEMOLOGY OF USHUL FIQH AL-GHAZALI IN HIS BOOK AL-MUSTASHFA MIN USHUF FIQH نظرية المعرفة الأصولية عند الغزالي من خلال كتابه المستصفى من علم الأصول Muhamad Subhi Apriantoro; Muthoifin Muthoifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16668

Abstract

This study analyzed the epistemological theory of Ushul Fiqh, which is currently devoid of the interest of enthusiasts of the fundamentals of jurisprudence and followers of the philosophy of science. Given the demands to use this science cannot be separated from the development of his epistemology. For reference, this study evokes Al-Ghazali who has historically been a representative figure as a representative of classical thinkers. The data presented in this study are taken from the main source, Al-Mustasfa's book from the science of Ushul. This study concluded that Al-Ghazali's ushul fiqh epistemology is deductive rationality, very clearly reject non-rational arguments let alone metaphysics. Al-Ghazali has assumed that the senses can be used as a source of knowledge, Illustrated in three models of thinking, which are semantic thinking based on linguistic principles.Kajian ini menganalisis teori epistemologis ushul fikih, yang saat ini sepi dari minat peminat dasar-dasar fikih dan pengikut falsafah sains. Mengingat tuntutan untuk menggunakan ilmu ini tidak lepas dari perkembangan epistemologinya. Sebagai referensi, kajian ini membangkitkan Al-Ghazali yang secara historis merupakan sosok yang representatif sebagai wakil dari para pemikir klasik. Data yang disajikan dalam penelitian ini diambil dari sumber utama yaitu kitab Al-Mustasfa dari ilmu Ushul. Studi ini menyimpulkan bahwa epistemologi ushul fikih Al-Ghazali adalah rasionalitas deduktif, sangat jelas menolak argumentasi non-rasional apalagi metafisika. Al-Ghazali beranggapan bahwa indera dapat digunakan sebagai sumber ilmu, tergambar dalam tiga model pemikiran, yaitu berpikir semantik berdasarkan kaidah kebahasaan. 
HUKUM BERJENGGOT DALAM ISLAM: KAJIAN TERHADAP FENOMENA JENGGOT SEBAGAI FASHION DALAM TEORI SOSIAL Septevan Nanda Yudisman
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16673

Abstract

Beards are natural for Adam, like mustaches or beards, as if beards always refer to the impression of terrorists or radical Islamic groups. In many cases in the real world, in various parts of the world, beard discrimination is a serious problem. beard (lihyah) is the name of the hair that grows on both cheeks and chin. So, all the hair that grows on the chin, under the two lower jawbones, cheeks, and sides of the cheeks is called lihyah (beard) except the mustache. Keeping and leaving the beard is also Islamic law and the sunnah of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam. Men's beard fashion on this one is currently growing and in great demand, beards are intended as a sign of men's macho. This is a very plausible reason. Men do have hair hormones and facial hair, which since ancient times has been used as a means of showing good looks, maturity, and male charm in the eyes of women.Beards are not just an order from religious law, but more than that, maintaining a beard is beneficial for health. Maintaining a beard is scientifically proven to be healthy. Especially when it comes to shaving the beard, there are elements that go against nature and resemble women. Because the beard is a symbol of the perfection of men and a sign that distinguishes them from women.Jenggot adalah  hal alami bagi kaum Adam, layaknya kumis atau jambang, Seakan jenggot selalu pasti merujuk pada kesan teroris atau kelompok Islam radikal.Banyak kasus di dunia nyata, di berbagai belahan dunia, diskriminasi jenggot ini menjadi masalah yang serius. jenggot (lihyah) adalah nama rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu. Jadi, semua rambut yang tumbuh pada dagu, di bawah dua tulang rahang bawah, pipi, dan sisi-sisi pipi disebut lihyah(jenggot) kecuali kumis. Memelihara dan membiarkan jenggot juga merupakan syariat Islam dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. fashion jenggot laki-laki yang satu ini sekarang ini lagi berkembang dan sangat diminati , jenggot dimaksudkan sebagai tanda ke-macho-an kaum pria. Ini alasan yang sangat masuk akal. Laki-laki memang memiliki hormon rambut-rambut dan bulu di wajah facial hair yang sejak dari jaman dahulu telah digunakan sebagai sarana menunjukkan ketampanan, kedewasaan, dan pesona laki-laki di mata kaum Hawa. Jenggot bukan hanya sekedar perintah dari hukum agama, namun lebih dari itu, memelihara jenggot bermanfaat untuk kesehatan. memelihara jenggot terbukti ilmiah dapat menyehatkan. Lebih-lebih dalam hal mencukur jenggot ini, ada unsur-unsur menentang fitrah dan menyerupai perempuan. Sebab jenggot adalah lambang kesempurnaan laki laki dan tanda yang membedakannya dengan perempuan.
PANDANGAN ISLAM TENTANG WANITA KARIR DAN IBU RUMAH TANGGA DALAM BINGKAI KELUARGA DAN MASYARAKAT Syifa Aulia Widya Ananda; Widad Alfiyah Zayyan; Imamul Arifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuksesan dan menjalani seorang ibu dari 2 belah pihak seperti pada wanita karir dan pada ibu rumah tangga yang memilih untuk berdiam di rumah, dan bagaimana Islam memandang hal itu. Permasalahan yang ada di dalam penelitian ini adalah apa yang menyebabkan para istri bekerja membantu perekonomian keluarga Bagaimana aktivitas para istri dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan mengetahui konstribusi peran istri dalam membantu perekonomian keluarga. Metode penelitian ini adalah penelitian menggunakan teknik kualitatif dengan menggunakan pendekatan antropologis dan pendekatan sosiologis. Adapun metode yang digunakan dalam mengumpulkan data ialah dengan cara observasi, dan wawancara. Hasil penelitian bahwa dalam kitab al-Mawsu’at al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah dituliskan tugas utama seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga. Rasullullah SAW dalam HR Bukhari bersabda : Perempuan itu mengatur dan bertanggung jawab atas urusan rumah suaminya”. Dan perempuan yang memilih untuk berdiam diri dirumah dipuji oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam surah QS Al Ahzab:33 yang memiliki arti “ Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” Tetapi, Islam tidak pernah memposisikan perempuan hanya di rumah saja dan berdiam diri. Nabi Muhammad SAW bersabda “Sebaik-baik canda seorang Muslimah dirumahnya adalah bertenun.” 
PRAKTIK PERNIKAHAN POLIGAMI DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM NEGARA Nurul Faizatur Rohmah; Budihardjo Budihardjo
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16669

Abstract

This article discusses how the law of polygamy is in Islam and in the state law. Seeing the current situation and condition of Indonesian society, the practice of polygamy is often found in various regions with different backgrounds of religious, social and economic understanding. In this article, we will also correlate Nas al-Quran surah an-Nisa verse 43 concerning polygamy with the reality that exists in society. Of course, the mercy of Islamic law will govern the whole life and perspective of society. Therefore, it will create justice for polygamous families and be able to ward off bad perceptions of someone regarding the practice of polygamy.Artikel ini membahas tentang bagaimana hukum poligami dalam Islam dan dalam hulum negara. Melihat situasi dan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, praktik poligami acap kali dijumpai di berbagai daerah dengan bermacam-macam latar pemahaman agama,sosial serta ekonomi masing-masing. Dalam artikel ini juga akan mengkorelasikan Nas al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 43 tentang poligami dengan realita yang ada di masyarakat. Tentu saja hukum Islam yang rahmah akan mengatur seluruh kehidupan dan cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, akan terciptalah suatu keadilan bagi keluarga poligami dan mampu menepis anggapan buruk seseorang terkait praktik poligami.
LOKUSI ILOKUSI DAN PERLOKUSI DALAM WACANA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MUHAMMADIYAH BOARDING SCHOOL (MBS) YOGYAKARTA Mahandri Widya Prihantari; Kurniawan Dwi Saputra
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.17417

Abstract

Different from traditional Islamic boarding schools with their emphasis on theoretical skills, Arabic learning at Modern Islamic Boarding Schools has active skills such as speaking (maharah kalam) and writing (maharah kitabah). Among modern pesantren that conduct a relatively successful Arabic learning is Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta. Based on this background, the author conducted ethnographic research to understand the process of Arabic learning in MBS. The conceptual framework used by the author is the theory of discourse and the theory of speech acts by J.L. Austin. This study found that learning Arabic at MBS Yogyakarta reflects the complete discourse construct of Austin's theory. Locutionary discourse manifests in the form of motivational jargons to learn Arabic. Illocutionary acts are embodied in the locutionary production of the discourse in a system of actions in the form of orders, explanations containing appreciation, threats, and promises. From the locutionary and illocutionary processes, an effect appears in the speech partners, who are the students, in the form of awareness of the urgency of Arabic as the language of Islam.Berbeda dengan pesantren tradisional yang menekankan keterampilan teoritik, pembelajaran bahasa Arab di Pesantren Modern menekankan keterampilan aktif seperti berbicara (maharah kalam) dan menulis (maharah kitabah). Di antara pesantren modern yang relatif berhasil dalam pembelajaran bahasa Arab adalah Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta. Berdasarkan latar belakang tersebut, Penulis melakukan penelitian etnografi untuk memahami pembelajaran Bahasa Arab di MBS. Konseptual framework yang digunakan penulis adalah teori wacana dan teori tindak tutur J.L. Austin. Penelitian ini menemukan bahwa desain pembelajaran bahasa Arab di MBS Yogyakarta mencerminkan konstruk wacana yang lengkap dari teori Austin. Lokusi wacana berbentuk jargon-jargon motivasi untuk mempelajari Bahasa Arab. Ilokusi adalah produksi lokusi wacana tersebut dalam system tindakan yang berbentuk perintah, himbauan, penjelasan yang mengandung tuntutan apresiasi, ancaman, dan janji. Dari proses lokusi dan ilokusi tersebut, muncul efek dalam diri mitra tutur, yaitu para santri, berupa kesadaran akan urgensi Bahasa Arab sebagai Bahasa Agama Islam.

Page 2 of 2 | Total Record : 16