cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Digital discourse in the pro-Israel products boycott campaign on Instagram Sila Sitti Romlah; Yopi Kusmiati; Riaz Ahmad Saeed
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.31641

Abstract

This study examines the form of digital discourse in the campaign to boycott pro-Israel products on Instagram, focusing on how influencers construct and disseminate messages as a means of public education and information. Grounded in a constructivist paradigm, this qualitative research employs a digital discourse analysis approach. Data were collected through digital observation, digital documentation, in-depth interviews, and literature review. The research subjects consist of BuyCut movement influencers, namely Habib Ares, Ustadh Amar, Teh Rika, Bang Amal, and Kak Shahaja, while the object of analysis is their digital discourse on Instagram. The study applies digital discourse analysis theory proposed by Patricia Bou-Franch and Pilar Garcés-Conejos Blitvich, particularly the concepts of multimodality, face and identity, and language and media ideology. The findings reveal that influencers strategically integrate text, images, videos, audio, posters, and hashtags to construct persuasive boycott narratives. They position their identities according to their backgrounds and values, framing the campaign through religious, nationalistic, and social awareness perspectives. The study concludes that digital discourse on Instagram functions as a collaborative, multimodal space for ideological expression and mobilization in boycott campaigns. ***** Studi ini meneliti bentuk wacana digital dalam kampanye boikot produk pro-Israel di Instagram, dengan fokus pada bagaimana para influencer membangun dan menyebarkan pesan sebagai sarana pendidikan dan informasi publik. Berlandaskan paradigma konstruktivis, penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan analisis wacana digital. Data dikumpulkan melalui observasi digital, dokumentasi digital, wawancara mendalam, dan tinjauan pustaka. Subjek penelitian terdiri dari para influencer gerakan BuyCut yaitu Habib Ares, Ustaz Amar, Teh Rika, Bang Amal, dan Kak Shahaja, sementara objek analisisnya adalah wacana digital mereka di Instagram. Studi ini menerapkan teori Analisis Wacana Digital yang dikemukakan oleh Patricia Bou-Franch dan Pilar Garcés-Conejos Blitvich, khususnya konsep multimodalitas, wajah dan identitas, serta bahasa dan ideologi media. Temuan menunjukkan bahwa para influencer secara strategis mengintegrasikan teks, gambar, video, audio, poster, dan tagar untuk membangun narasi boikot yang persuasif. Mereka memposisikan identitas mereka sesuai dengan latar belakang dan nilai-nilai mereka, membingkai kampanye melalui perspektif keagamaan, nasionalistik, dan kesadaran sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa wacana digital di Instagram berfungsi sebagai ruang kolaboratif dan multimodal untuk ekspresi ideologis dan mobilisasi dalam kampanye boikot. 
Constructing Islamic communication research through a dialogical-dialectical approach: Evidence from Indonesia Siti Solikhati; Adeni Adeni; Fitri - Fitri
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.31899

Abstract

This article seeks to examine the tendencies of student research in the Islamic Communication and Broadcasting (KPI) program, particularly within the concentrations of broadcasting, journalism, and public relations at UIN Walisongo Semarang. Employing a qualitative approach combined with documentation techniques and corpus-based data analysis, the study indicates that KPI research has not yet clearly articulated Islamic communication within its scholarly inquiries. This article proposes a dialogical-dialectical approach to Islamic communication. Accordingly, KPI research requires: (1) integration between general theoretical/conceptual frameworks and Islamic perspectives, and (2) a balanced engagement between data on Islamic issues and general theories/concepts, or between data on general issues and Islamic theories/concepts, which will result in more open and reflexive KPI research. Both general and Islamic concepts/theories are positioned as mutually enriching and complementary. The dialogical-dialectical approach opens space for epistemic transformation in the development of Islamic communication studies. Islamic communication research should not merely reproduce classical da'wah models, but also reinterpret contemporary communication dynamics while grounding them in Islamic ethical-normative values. This article contributes to the enrichment of perspectives in Islamic communication-based research. ***** Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kecenderungan riset mahasiswa pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), khususnya pada konsentrasi broadcasting, jurnalistik, dan public relations di UIN Walisongo Semarang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan dengan teknik dokumentasi serta analisis data berbasis korpus, penelitian ini menunjukkan bahwa riset KPI belum secara jelas mengartikulasikan komunikasi Islam dalam kerangka kajian ilmiahnya. Artikel ini mengusulkan pendekatan dialogis-dialektis dalam komunikasi Islam. Dalam kerangka tersebut, riset KPI memerlukan: (1) integrasi antara kerangka teoretis/konseptual umum dengan perspektif keislaman, dan (2) keterlibatan yang seimbang antara data tentang isu-isu keislaman dengan teori/konsep umum, atau antara data tentang isu-isu umum dengan teori/konsep keislaman, yang akan menghasilkan riset KPI yang lebih terbuka dan refleksif. Baik konsep maupun teori umum dan keislaman diposisikan sebagai entitas yang saling memperkaya dan komplementer. Pendekatan dialogis-dialektis ini membuka ruang bagi transformasi epistemik dalam pengembangan studi komunikasi Islam. Riset komunikasi Islam tidak semata-mata mereproduksi model-model dakwah klasik, tetapi juga mereinterpretasi dinamika komunikasi kontemporer dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai etis-normatif Islam. Artikel ini berkontribusi dalam memperkaya perspektif dalam riset berbasis komunikasi Islam.
Qur'anic principles of tabligh communication and their relevance to interpersonal communication theory Safrodin Safrodin
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.32041

Abstract

This study discusses the gap between the normative communication principles of the Qur'an and modern interpersonal communication theory. Tabligh is a prophetic duty carried out by preachers to convey the message of Islam to humanity, both individually and collectively. This study is a qualitative literature review using thematic interpretation methods. Primary data were obtained by compiling Qur'anic verses related to the principles of tabligh, while secondary data consisted of various literature on interpersonal communication and da'wah studies. The data were analyzed using content analysis, examining the meaning of Qur'anic verses related to the principles of tabligh and communication. This study yielded the following findings. First, the Qur'an contains several principles of tabligh (Islamic teaching) and communication that are relevant to interpersonal communication theory, including qaulan husnan (good words), qaulan sadidan (true words), qaulan layyinan (gentle words), qaulan balighan (effective words), qaulan ma'rufan (good words), and qaulan kariman (noble words). This indicates that the Qur'an places honesty, empathy, politeness, kindness, and effectiveness as fundamental principles in conveying the message of Islamic propagation (tabligh). The concept of tabligh in the Qur'an thus reflects not only the activity of conveying Islamic teachings but also ethical and humanistic interpersonal communication practices. This study can contribute to the development of Islamic communication studies and strengthen the relevance of Qur'anic values ​​in the practice of tabligh and communication in society. ***** Studi ini membahas kesenjangan antara prinsip-prinsip komunikasi normatif dalam Al-Qur'an dan teori komunikasi interpersonal modern. Tabligh merupakan tugas kenabian yang dijalankan oleh para pendakwah untuk menyampaikan pesan Islam kepada umat manusia, baik secara individual maupun kolektif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan studi kepustakaan dan metode tafsir tematik. Data primer diperoleh dengan menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tabligh, sedangkan data sekunder terdiri atas berbagai literatur mengenai komunikasi interpersonal dan kajian dakwah. Data dianalisis menggunakan analisis isi dengan mengkaji makna ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tabligh dan komunikasi. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, Al-Qur'an memuat sejumlah prinsip tabligh (penyampaian ajaran Islam) dan komunikasi yang relevan dengan teori komunikasi interpersonal, meliputi qaulan husnan (perkataan yang baik), qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), qaulan balighan (perkataan yang efektif), qaulan ma'rufan (perkataan yang baik), dan qaulan kariman (perkataan yang mulia). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an menempatkan kejujuran, empati, kesantunan, kebaikan, dan efektivitas sebagai prinsip-prinsip fundamental dalam menyampaikan pesan tabligh. Dengan demikian, konsep tabligh dalam Al-Qur'an tidak hanya mencerminkan aktivitas penyampaian ajaran Islam, tetapi juga praktik komunikasi interpersonal yang etis dan humanis. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian komunikasi Islam serta memperkuat relevansi nilai-nilai Al-Qur'an dalam praktik tabligh dan komunikasi di masyarakat.