cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Interpersonal communication between parents and children from Hamka's perspective: A thematic study in the Tafsir Al-Azhar on Surah Luqman verses 16-19 Affandi, Yuyun; Husna, Azzah Luqinatul; Alhuwaymil, Mohammed Saad
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20982

Abstract

Interpersonal communication between parents and children is essential in the digital era. The role of parents and effectiveness in building communication must be implemented well. With its unique focus on Islamic values, this study aims to explore key elements in such communication. The research method used is library research with a qualitative research model on verses related to the story of Luqman in the Al-Qur’an, highlighting the interpretation of Buya Hamka in Tafsir Al-Azhar. The research results show firstly, in surah Luqman verses 16-19, it explains the amount of good that is done, the obligation to perform prayers, the obligation to amar ma’ruf against evil, the recommendation to be patient when experiencing misfortune, as well as morals and manners in interacting with fellow humans, such as not turning away, human face. Secondly, the interpersonal communication patterns of parents and children are contained in surah Luqman verses 16-19: equality and openness, empathy and positive behavior. This pattern can be demonstrated by various kinds of behavior and attitudes, including choosing the proper diction, making the child a speaking partner of the same age, and not looking away and not shouting at the child. With its unique Islamic perspective, the implication is that this study significantly enriches the treasures of interpersonal communication.*****Komunikasi interpersonal orang tua dan anak menjadi kajian penting di era digital. Peran orang tua dan efektivitas dalam membangun komunikasi perlu diterapkan dengan baik. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi elemen-elemen kunci dalam komunikasi tersebut, menyoroti nilai-nilai Islami yang dapat diterapkan dalam konteks hubungan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan model penelitian kualitatif terhadap ayat-ayat yang terkait dengan kisah Luqman dalam Al-Qur’an, dengan menyorot penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Hasil penelitian menunjukkan pertama, bahwa Surah Luqman ayat 16-19 menerangkan tentang sebesar apapun kebaikan yang dikerjakan, kewajiban mendirikan shalat, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, anjuran bersabar ketika mendapat musibah, serta akhlak dan sopan santun dalam berinteraksi pada sesama manusia, seperti tidak memalingkan wajah dari manusia. Kedua, pola komunikasi interpersonal orang tua dan anak yang terdapat dalam Surah Luqman ayat 16-19, yaitu: kesetaraan dan keterbukaan, empati, dan perilaku positif. Pola tersebut dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap, antara lain: pemilihan diksi yang tepat, menjadikan anak sebagai patner bicara yang seusia, dan tidak memalingkan wajah serta tidak berteriak kepada anak. Implikasinya, studi ini dapat memperkaya khazanah komunikasi interpersonal menurut perspektif keislaman.
The role of film in environmental communication: An audience interpretation in Indonesia and Malaysia Briandana, Rizki; Mohamad Saleh, Mohamad Saifudin; Dwityas, Nindyta Aisyah
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.21947

Abstract

Film is a form of communication that has the power to persuade   viewers to alter their perceptions and actions in order to support the communicator's chosen media agenda. Politics is the topic that is frequently covered in movies. In the documentary The Years of Living Dangerously, the topic of global warming is viewed from the angle of societal issues, offering a  fresh perspective to the audiences. The issue of environmental destruction that took place all across the world served as the theme. The concern highlighted in the movie is that its magnitude has significantly increased global greenhouse gas emissions. Deforestation in Indonesia and Malaysia was one of the topics  brought up. This study aims to analyze the audience's interpretation of the role of film in communicating environmental communication. This study used the reception analysis method with the FGD data collection technique. The informants in this study are audiences in Indonesia and Malaysia.  The results of this study indicate that environmental communication in Indonesia and Malaysia which discuss deforestation issues are interpreted by the public as part of social problems that are difficult to control. Meanwhile, the government is framed as a political communicator that is not transparent, causing public distrust.*****Film merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memiliki kekuatan untuk membujuk pemirsa agar mengubah persepsi dan tindakannya guna mendukung agenda media yang dipilih komunikator. Politik adalah topik yang sering diangkat dalam film. Dalam film dokumenter The Years of Living Dangerously, topik pemanasan global dilihat dari sudut pandang isu-isu kemasyarakatan, sehingga menawarkan perspektif baru kepada penontonnya. Isu kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh dunia menjadi tema yang diangkat. Kekhawatiran yang disoroti dalam film ini adalah besarnya dampak buruk ini telah meningkatkan emisi gas rumah kaca global secara signifikan. Deforestasi di Indonesia dan Malaysia menjadi salah satu topik yang diangkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi penonton terhadap peran film dalam mengkomunikasikan komunikasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi dengan teknik pengumpulan data FGD. Informan dalam penelitian ini adalah khalayak di Indonesia dan Malaysia.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan hidup di Indonesia dan Malaysia yang membahas isu deforestasi dimaknai oleh masyarakat sebagai bagian dari permasalahan sosial yang sulit dikendalikan. Sementara itu, pemerintah dibingkai sebagai komunikator politik yang tidak transparan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Transformation of new media in Aswaja al-Nahdliyyah da'wah: Strategies and challenges in the contestation of religious authority in Indonesia Mudhofi, M.; Karim, Abdul
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.22071

Abstract

The presence of new media has caused contestation between religious authorities in Islamic society. However, what stands out most is that new media has given birth to new spaces where every individual and group, including those who are often considered splinter, are free to present themselves and their identities in public. This research aims to examine the specific challenges Aswaja Al-Nahdliyyah faces in maintaining doctrinal purity, combating misinformation, and navigating the complexities of digital communications. This research uses qualitative research in an interpretive paradigm, utilizing online data from the NU Website and YouTube channels.  The narrative of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah is very important to be promoted and mainstreamed, so that it is increasingly strengthened into a complete narrative which is called the new cultural environment of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah. This new environment can be seen from the digitization of Nahdlatul Ulama (NU) figures and the yellow books (turats) taught at NU Islamic boarding schools. This digitalization seeks to show that new religious spaces in the online world must be under the control of authorized religious figures.*****Kehadiran media baru telah menimbulkan kontestasi antar otoritas agama dalam masyarakat Islam. Namun yang paling menonjol adalah media baru telah melahirkan ruang-ruang baru di mana setiap individu dan kelompok, termasuk mereka yang kerap dianggap pecahan (sempalan), bebas menampilkan diri dan identitasnya di depan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan spesifik yang dihadapi Aswaja Al-Nahdliyyah dalam menjaga kemurnian doktrin, memerangi misinformasi, dan menavigasi kompleksitas komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretatif, memanfaatkan data online dari Website NU dan channel YouTube.  Narasi Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah sangat penting untuk dipromosikan dan diarusutamakan, agar semakin kuat menjadi sebuah narasi utuh yang disebut dengan lingkungan budaya baru Ahl al-Sunnah wa al- Jama'ah al-Nahdliyyah. Lingkungan baru ini terlihat dari digitalisasi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan kitab kuning (turats) yang diajarkan di pesantren NU. Digitalisasi ini berupaya menunjukkan bahwa ruang keagamaan baru di dunia online harus berada di bawah kendali tokoh agama yang berwenang.
Pro-Palestinian netizen cyber activism through the Julid Fi Sabilillah movement on Instagram Amrullah, Haekal Fajri; Bate, Andi Pajolloi; Briandana, Rizki
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22395

Abstract

This study investigates the Julid Fi Sabilillah movement, a pro-Palestinian cyber activism initiative on Instagram formed by Indonesian netizens in response to the Al-Aqsa Hurricane attack by Israel. The emergence of a social movement on social media called Julid Fi Sabilillah became a mutually supportive virtual community that was formed to fight Israeli propaganda and its supporters on social media by trolling, cursing, and terrorizing the social media accounts of Israeli supporters. This research aims to find out and analyze how Julid Fi Sabilillah's activism on Instagram social media creates propaganda and mental attacks and creates negative issues for Israeli supporters on social media. Using a qualitative approach and case study method, this research revealed that the Julid Fi Sabilillah movement successfully countered the narrative supporting Israel on Instagram. Findings reveal that the movement has effectively disrupted pro-Israel accounts, causing psychological distress among supporters and amplifying global awareness of Palestine's plight. This digital activism highlights the potential of social media in uniting global efforts toward political and humanitarian causes. ***** Penelitian ini menyelidiki gerakan "Julid Fi Sabilillah", sebuah inisiatif aktivisme siber pro-Palestina di Instagram yang dibentuk oleh warganet Indonesia sebagai respons terhadap serangan Badai Al-Aqsa oleh Israel. Munculnya gerakan sosial di media sosial yang bernama Julid Fi Sabilillah menjadi komunitas virtual yang saling mendukung yang terbentuk karena adanya tujuan melawan propaganda Israel dan pendukungnya di media sosial dengan cara trolling menghujat dan meneror akun media sosial pendukung Israel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana aktivitisme Julid Fi Sabilillah di media sosial Instagram dalam membuat propaganda, menyerang mental dan membuat isu negatif bagi pendukung Israel di media sosial. Dengan pendekatan Kualilatif dan metode studi kasus penelitian ini mengungkap bahwa gerakan Julid Fi Sabilillah berhasil melawan narasi pendukung Israel di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan tersebut telah secara efektif mengacaukan akun-akun pro-Israel, menyebabkan tekanan psikologis di antara para pendukung dan meningkatkan kesadaran global akan penderitaan Palestina. Aktivisme digital ini menyoroti potensi media sosial dalam menyatukan upaya global menuju tujuan politik dan kemanusiaan.
Digitalization and the shifting religious literature of Indonesian Muslims in the Era of Society 5.0 Ichwan, Moh. Nor; Amin, Faizal; Khusairi, Abdullah; Andrian, Bob
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22515

Abstract

The advent of science and technology, which has resulted in the digitalization of the Indonesian Muslim community during the Industrial Revolution 4.0 and the advent of Society 5.0, has prompted a shift in the religious literature of Indonesian Muslims. This research aims to examine the impact of digitalization in the post-truth era on the behavior of Muslims who tend to seek solutions to their religious problems outside the traditional religious authority. The data sources for this study were collected through observation, interviews, and a review of relevant literature in the form of documents or online data. In terms of socio-religious factors, this research identified three key elements that have contributed to the shift in the religious literature of Indonesian Muslims from the ulama to social media. Firstly, the internet and social media provide Muslims with convenient access to information and resources that can address their daily religious concerns promptly and effectively. Secondly, the rise in community religious activity has not been accompanied by a corresponding increase in digital literacy, particularly in the use of social media. Thirdly, the solutions to religious problems obtained by Muslims through social media are immediate, leading to a less comprehensive and more partial understanding of Islam. Digitalization has led Indonesian Muslims to be more pragmatic in search of religious meaning. ***** Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermuara pada digitalisasi di era Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0 saat ini telah menggeser literatur keagamaan umat Islam Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak digitalisasi di era post-truth terhadap prilaku umat Islam yang cenderung meninggalkan ulama dalam menyelesaikan masalah keagamaan yang dihadapinya. Sumber data dalam penelitian ini dikumpukan melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka yang berupa dokumen atau data online. Secara sosio-religius, penelitian ini menemukan tiga aspek penting yang menjadi sebab pergeseran  literatur keagamaan umat Islam Indonesia dari ulama ke media sosial. Pertama,  mudahnya akses internet dan media sosial yang mampu menjawab secara cepat dan efisen atas problem yang dihadapi oleh umat Islam sehari-hari. Kedua, meningkatnya geliat kagamaan masyarakat yang tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang literasi digital dalam bentuk media sosial. Ketiga, solusi atas problem keagamaan yang diperoleh umat Islam melalui media sosial bersifat instan sehingga mengakibatkan pemahaman masyarakat atas agama Islam menjadi tidak kompehensif dan lebih bersifat parsial. Digitalisasi telah menyebabkan umat Islam Isndonesia menjadi lebih pragmatis dalam mencari makna dan pesan keagamaan.
The role of the mosque as a medium of da'wah in building religious tolerance in the community: An analysis of Kampung Toleransi Ilyasa, Faisal Fauzan; Fakhruddin, Agus; Faqihuddin, Achmad; Ramdan, Muhammad Ramdan Mubarok; Muflih, Abdillah
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22620

Abstract

Tolerance is a serious discussion in Indonesia. Establishing Kampung Toleransi (Tolerance Village) is among the government's efforts to create harmony between religious communities. This research aims to examine the role of mosques in building tolerance in society in an area known as the Village of Tolerance. Data for this research was obtained through in-depth interviews with community members and religious figures involved in religious activities in the Tolerance Village. Analysis was carried out using NVivo12 software to enable collection, organization, and a deeper understanding of this tolerance practice. The results of this research reveal diverse tolerance practices in the religious context of the Village of Tolerance. Social, cultural, and religious factors are essential in shaping tolerance practices. Nonetheless, the village stands out for its ability to encourage interfaith dialogue, cooperation, and respect for differences. The results of this research can provide a deeper view of how society can achieve greater tolerance in religious contexts through interfaith cooperation and dialogue. This research has the potential to make an essential contribution to understanding the practice of tolerance in religiously and culturally diverse societies. ***** Toleransi menjadi pembahasan yang serius di Indonesia. Di antara upaya pemerintah dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama yaitu dengan membentuk Kampung Toleransi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran masjid dalam membangun toleransi di masyarakat pada sebuah daerah yang dikenal dengan sebutan Kampung Toleransi. Data untuk penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dengan anggota masyarakat dan tokoh agama yang terlibat dalam kegiatan keagamaan di Kampung Toleransi. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak NVivo12 agar pengumpulan, pengorganisasian, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang praktik toleransi ini. Hasil penelitian ini mengungkap praktik toleransi yang beragam dalam konteks keagamaan di Kampung Toleransi. Faktor-faktor sosial, budaya, dan agama memainkan peran penting dalam membentuk praktik-praktik toleransi. Meskipun demikian, kampung ini menonjol karena kemampuannya dalam mendorong dialog antaragama, kerjasama, dan penghormatan terhadap perbedaan. Hasil penelitian ini dapat memberikan pandangan yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat dapat mencapai toleransi yang lebih baik dalam konteks agama melalui kerja sama dan dialog antaragama. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam memahami praktik toleransi dalam masyarakat yang beragam secara agama dan budaya.
Representation of equality and gender justice in narrative discourse about the COVID-19 pandemic on social media Nuryani, Nuryani; Sholeha, Monita; Kasman, Suf; Budiman, Arif
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22766

Abstract

This study aims to describe the representation of gender equality and justice in the narrative of the Covid-19 pandemic that is developing on social media. Many narratives have developed on social media related to gender that represent various things of gender equality and justice. The data in this study is in the form of narratives that develop and spread on various social media. The social media that is the focus of this study is WhatsApp and Facebook. Data analysis used a qualitative approach, utilizing representation, gender, and linguistic theories. Based on the analysis that has been carried out, it is concluded that in the narrative about COVID-19, female greetings such as mbak (sister), nyonya (madam), and tante (aunt) are often used. However, in some narratives, the greetings mas (brother) and pakdhe are also used. In addition, it was also found that the use of interjection showed annoyance and sarcasm, such as the Corona and the virus. The diversity of greeting choices does not fully reflect the gender of the post-writer. The use of greetings in the narrative also represents the existence of images that gender influences the choice of language and the direction of the narrative on positive and negative images. Based on the findings above, this study enriches our perspective on the pattern of narrative formation in discourse analysis studies. The findings also enrich the repertoire in representation theory related to the selection of diction that represents gender equality and justice. ***** Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi kesetaraan dan keadilan gender dalam narasi pandemi COVID-19 yang berkembang di media sosial. Banyak narasi-narasi yang berkembang di media sosial berkaitan dengan gender yang merepresentasikan berbagai hal kesetaraan dan keadilan gender. Data dalam penelitian ini berupa narasi-narasi yang berkembang dan tersebar di berbagai media sosial. Media sosial yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah WhatsApp dan Facebook. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan teori representasi, gender, dan linguistik. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan didapatkan simpulan bahwa dalam narasi tentang COVID-19 sering menggunakan kata sapaan perempuan, seperti mbak, nyonya, dan tante. Meskipun demikian, pada beberapa narasi juga ditemukan penggunaan sapaan mas dan pakdhe. Selain itu, juga ditemukan penggunaan interjeksi yang menunjukkan kekesalan dan sindiran, seperti si Corona dan sang virus. Keberagaman pilihan sapaan tidak sepenuhnya mencerminkan jenis kelamin penulis posting-an. Penggunaan sapaan dalam narasi juga merepresentasikan adanya gambaran-gambaran bahwa gender ikut memengaruhi dalam pemilihan bahasa dan arah narasi tersebut pada gambaran yang positif dan negatif. Berdasarkan temuan di atas maka kajian ini memperkaya perspektif kita mengenai pola pembentukan narasi dalam kajian analisis wacana. Temuan tersebut juga memperkaya khazanah dalam teori representasi yang berkaitan dengan pemilihan diksi yang mewakili kesetaraan dan keadilan gender.
Ideology and power relations in Ice-Cold documentary film: An Islamic communication perspective Afifah, Afifah; Bakti, Andi Faisal; Hamad, Ibnu
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22861

Abstract

The Ice-Cold documentary exposes Jessica Wongso's cyanide case, revealing legal irregularities and sparking critical discussion on media narratives. Prior studies highlight media’s influence on public opinion but overlook how ideology and power are embedded in narratives. This research fills that gap by analyzing their reflection in the documentary Ice Cold. This theory incorporates Islamic concepts such as istidl’af (Al-Qasas 5), musyawarah (Ali Imran 159), and khalaqah from the Prophet’s hadiths. Using qualitative discourse analysis, it explores the relationship between messages, ideology, and power. This study examines the relationship between ideology and power in the film Ice Cold, using Gill Branston and Roy Stafford’s theory and public perceptions post-release. Using media, communication, and da'wah approaches resulted in an analysis showing the power behind this case and how the social class between Jessica and Mirna can lead to public opinion. It is essential to acknowledge the possible non-neutrality of media and documentary films and the importance of critically assessing information obtained from the press. This research makes an academic contribution by expanding the study of ideology and power in the media by integrating Islamic concepts in discourse analysis. It also offers a new interdisciplinary perspective, linking communication theory, da'wah, and social representation to reveal power dynamics and ideological construction in documentary film narratives. ***** Film dokumenter Ice-Cold mengulas kasus sianida Jessica Wongso yang mengungkap kejanggalan hukum dan memicu dialog kritis mengenai narasi media. Studi sebelumnya membahas pengaruh media terhadap opini publik, tetapi mengabaikan bagaimana ideologi dan kekuasaan tertanam dalam narasi tersebut. Penelitian ini melengkapi gap tersebut dengan menganalisis refleksinya dalam dokumenter Ice-Cold. Teori ini mengintegrasikan konsep-konsep Islam seperti istidl’af (Al-Qasas ayat 5), musyawarah (Ali Imran ayat 159), dan khalaqah dari hadits Nabi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis wacana, teori ini mengeskplorasi hubungan antara pesan film, ideologi dan kekuasaan. Penelitian ini mengkaji hubungan antara ideologi dan kekuasaan dalam film ice Ice-Cold dengan menggunakan teori Gill Branston dan Roy Stafford serta persepsi publik setelah film tersebut dirilis. Dengan menggunakan pendekatan media, komunikasi, dan dakwah menghasilkan sebuah analisis yang menunjukkan kekuatan di balik kasus ini serta bagaimana kelas sosial antara Jessica dan Mirna dapat menggiring opini publik. Penting untuk mengakui kemungkinan ketidaknetralan media dan film dokumenter dan pentingnya menilai secara kritis informasi yang diperoleh dari pers.  Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan memperluas kajian ideologi dan kekuasaan dalam media melalui integrasi konsep-konsep Islam dalam analisis wacana. Juga menawarkan perspektif baru yang bersifat interdisipliner, yang menghubungkan teori komunikasi, dakwah, dan representasi sosial, untuk mengungkap dinamika kekuasaan dan konstruksi ideologi dalam narasi film dokumenter.
Deradicalization da'wah: Religious rehabilitation efforts for former terrorism convicts Rozi, Fachrur; Supena, Ilyas; Riyadi, Agus
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.23317

Abstract

Terrorist acts that often claim religious grounds have become a significant threat to national stability. Based on data from the National Counterterrorism Agency (BNPT), Indonesia, terrorist attacks not only cause casualties but also have an impact on public perception of Islam. This study aims to understand why radical ideology often persists among former terrorist convicts and how deradicalization preaching plays a role in their rehabilitation. This descriptive qualitative study uses a sociological approach, using data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that radical ideology persists due to limited social support, non-holistic deradicalization programs, ideological backgrounds, and social stigma. External factors such as the lack of special programs, limited officer training, and inconsistent funding also contribute. Deradicalization preaching plays a crucial role by teaching peaceful religious values, empowering socially and economically, reducing social stigma, and involving families and communities. For effective rehabilitation, deradicalization preaching must be holistic, involve various parties, and consider cultural, social, and economic aspects to address the root causes of radicalization. ***** Aksi terorisme yang sering mengklaim landasan agama telah menjadi ancaman besar terhadap stabilitas nasional. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Indonesia, serangan teror tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak pada persepsi publik terhadap Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengapa faham radikal sering kali tetap bertahan di kalangan mantan narapidana terorisme dan bagaimana dakwah deradikalisasi berperan dalam rehabilitasi mereka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis, menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faham radikal tetap bertahan disebabkan oleh dukungan sosial yang terbatas, program deradikalisasi yang tidak holistik, serta latar belakang ideologi dan stigma sosial. Faktor eksternal seperti kurangnya program khusus, keterbatasan pelatihan petugas, dan pendanaan yang tidak konsisten juga berkontribusi. Dakwah deradikalisasi memainkan peran krusial dengan mengajarkan nilai-nilai agama yang damai, memberdayakan secara sosial dan ekonomi, mengurangi stigma sosial, dan melibatkan keluarga serta komunitas. Untuk rehabilitasi yang efektif, dakwah deradikalisasi harus holistik dan melibatkan berbagai pihak, serta mempertimbangkan aspek budaya, sosial, dan ekonomi untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi secara menyeluruh.
The role of social media in improving business communication among Muslim entrepreneurs in South Denpasar Ramadiansyah, Sahri Aflah; Srikandi, Melati Budi; Prasetyo, Bambang Dwi; Khlil, Mazin Amir Mohammed
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.23693

Abstract

This study aims to explore the role of social media in enhancing business communication among Muslim entrepreneurs in South Denpasar. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews and observations of interactions on social media. This study identifies communication strategies implemented by Muslim entrepreneurs, challenges faced, and the impact of social media use on relationships with customers and business partners. Data analysis was conducted using a thematic analysis approach, which allows researchers to identify patterns and themes that emerge from the data collected. The results of the study indicate that social media has a significant role in strengthening business communication, facilitating better interactions, and supporting Islamic values ​​and principles in business practices. This study provides deeper insight into how Muslim entrepreneurs utilize social media and the ethical and social implications of such practices and recommends strategies to optimize the use of social media in business communication. Therefore, this study contributes to developing Islamic communication in business, where Islamic values ​​are integrated with business communication through social media. ***** Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran media sosial dalam meningkatkan komunikasi bisnis di kalangan pengusaha Muslim di Denpasar Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi interaksi di media sosial. Penelitian ini mengidentifikasi strategi komunikasi yang diterapkan oleh pengusaha Muslim, tantangan yang dihadapi, serta dampak penggunaan media sosial terhadap hubungan dengan pelanggan dan mitra bisnis. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis tematik, yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola dan tema yang muncul dari data yang dikumpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran signifikan dalam memperkuat komunikasi bisnis, memfasilitasi interaksi yang lebih baik, dan mendukung nilai-nilai serta prinsip-prinsip Islam dalam praktik bisnis. Penelitian ini memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana pengusaha Muslim memanfaatkan media sosial dan implikasi etis serta sosial dari praktik tersebut, serta merekomendasikan strategi untuk mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam komunikasi bisnis. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan komunikasi Islam dalam ranah bisnis di mana nilai-nilai Islam diintegrasikan dengan komunikasi bisnis yang dilakukan melalui media sosial.