cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Engaging audiences: A critical reflection on the Kaba Festival 2014-2024, West Sumatera Khusairi, Abdullah; Nurhayati, Meysanda
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.1.25529

Abstract

Effective communication is a key factor in the development of arts and culture, especially in traditional festivals involving community participation. This article explores the Kaba Festival organized by Nan Jombang Dance Company, founded by Indonesian dance maestro Ery Mefri. Using a critical reflection approach, the study analyzes communication dynamics in the festival by observing the participation and appreciation of artists, cultural figures, and academics. Findings show that participatory and community-based communication strategies enhance audience and participant engagement. Despite limited human resources, the festival successfully strengthens Nan Jombang’s reputation, evolving from modest beginnings into a nationally and internationally recognized cultural platform. Now entering its 40th year, Nan Jombang’s experience forms the basis for a strategic five-year plan (2025–2030) focused on cross-sector collaboration, digital media optimization, and training in cultural journalism. The study offers a model for building a sustainable, globally relevant art ecosystem while preserving local traditions. ***** Komunikasi efektif menjadi salah satu kunci dalam pengembangan seni dan budaya, terutama dalam konteks festival tradisional yang melibatkan partisipasi elemen masyarakat. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi penyelenggaraan Kaba Festival oleh Nan Jombang Dance Company, yang didirikan Maestro Tari Indonesia, Ery Mefri. Melalui pendekatan refleksi kritis, artikel ini menganalisis dinamika komunikasi dalam perjalanan Kaba Festival dengan meneliti partisipasi, dan apresiasi para seniman, sastrawan, budayawan hingga akademisi. Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan strategi komunikasi partisipatif dan berbasis komunitas meningkatkan keterlibatan kehadiran peserta dan penonton. Efektivitas yang tinggi dengan keterbatasan human resource, telah mengantarkan Kaba Festival dalam posisi puncak eksistensi sebagai sebuah kegiatan seni menggerek nama Nan Jombang Dance; tumbuh dari keterbatasan dan terus berkembang tanpa batas. Nan Jombang berkembang sebagai platform kebudayaaan yang sangat diperhitungkan di kancah nasional dan internasional hingga berusia 40 tahun. Temuan ini menjadi dasar perumusan program strategis lima tahun (2025-2030) Kaba Festival yang mencakup penguatan kolaborasi lintas sektor, penggunaan media digital secara optimal dan pelatihan jurnalisme seni-budaya bagi pelaku seni dan jurnalis. Hasil penelitian bisa menjadi contoh dasar tumbuhnya ekosistem seni yang berkelanjutan dan relevan dengan dinamika global, sekaligus menjaga kekayaan tradisi lokal.
Delivering multi-dimensional da’wah in digital space: Experience from Gita Wirjawan’s YouTube channel A'yun, Fathimah Nadia Qurrota; ‘Ubudiyah, Farikhatul
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.1.26040

Abstract

The development of da'wah into the digital realm, especially through platforms such as YouTube, demands a multidimensional message, going beyond traditional ritual and legal aspects to include social, educational, economic, and cultural issues. This study aims to analyse the dimensions of the da'wah message contained in the content of Gita Wirjawan's YouTube channel, which implicitly conveys multidimensional good values. Using a qualitative approach with deductive content analysis on three selected podcast videos from 2025, this study identifies and interprets the multidimensional da'wah themes presented. The results of the analysis reveal that Gita Wirjawan's YouTube content implicitly contains multidimensional da'wah messages classified in aspects of theology, sharia, and muamalah principles, and Islamic ethics, which are discussed through dialogues with expert speakers on issues of faith, social justice, meritocracy, and human resource development. The findings have implications for the need for a strategic, interdisciplinary, and moderate digital da'wah approach, and highlight the crucial role of content creators and various elements of society in inclusively disseminating transformative Islamic values. ***** Perkembangan dakwah ke ranah digital, khususnya melalui platform seperti YouTube, menuntut adanya pesan yang multidimensi, melampaui aspek ritual dan hukum tradisional untuk mencakup isu sosial, pendidikan, ekonomi, dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi-dimensi pesan dakwah yang terdapat pada konten kanal YouTube Gita Wirjawan, yang secara implisit menyampaikan nilai-nilai kebaikan secara multidimensi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten deduktif pada tiga video podcast terpilih dari tahun 2025, studi ini mengidentifikasi dan menginterpretasikan tema-tema dakwah multidimensional yang disajikan. Hasil analisis mengungkapkan bahwa konten YouTube Gita Wirjawan secara implisit mengandung pesan dakwah multidimensi yang terklasifikasi dalam aspek teologi, syariah dan prinsip muamalah, serta etika Islam, yang dibahas melalui dialog dengan narasumber ahli mengenai isu-isu keimanan, keadilan sosial, meritokrasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Temuan ini berimplikasi pada perlunya pendekatan dakwah digital yang strategis, interdisipliner, dan moderat, serta menyoroti peran krusial kreator konten dan berbagai elemen masyarakat dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang transformatif secara inklusif.
Leveraging social media as avenues for da'wah among Muslim youths in Nigeria Abana, Amina
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.1.26054

Abstract

This paper reviews the usage and impact of social media in the society and how they can be leveraged for da'wah by youths in Nigeria. It explores the various meanings, uses and impacts of social media; and identified some of the advantages and disadvantages of social media on people and societies. The paper further examined literature and empirical data from scholars on da’wah, social media, and the usage of social media for da'wah and other Islamic propagation. Data revealed that social media have been used effectively for da'wah but can also be used to disseminate messages of dissent. However, this paper argues that since a significant portion of Nigeria’s population are Muslims and youths constitute the major users of social media; leveraging social media platforms for da'wah can be an effective way for Muslims youths to fulfil their religious duty by sharing Islamic teachings and values with others; reach wide audience and help in correcting misconception about Islam and Muslims. Hence, this paper clarified concepts, identified best practices, and contributed to a deeper understanding of Islamic communication in the age of digital media, particularly by providing insights and strategies on developing da’wah initiatives using different social media platforms. ***** Artikel ini mengulas penggunaan dan dampak media sosial dalam masyarakat dan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan untuk da'wah oleh kaum muda di Nigeria. Studi ini menggunakan pendekatan literatur dengan berfokus pada pemikiran para sarjana tentang dakwah, media sosial, dan penggunaan media sosial untuk dakwah dan penyebaran Islam, dan juga menggunakan beberapa data empiris dalam konteks Nigeria. Data mengungkapkan bahwa media sosial telah digunakan secara efektif untuk dakwah tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan pesan perbedaan pendapat. Namun, makalah ini berpendapat bahwa karena sebagian besar penduduk Nigeria adalah Muslim dan kaum muda merupakan pengguna utama media sosial; memanfaatkan platform media sosial untuk dakwah dapat menjadi cara yang efektif bagi kaum muda Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka dengan berbagi ajaran dan nilai-nilai Islam dengan orang lain; menjangkau khalayak luas dan membantu dalam mengoreksi kesalahpahaman tentang Islam dan Muslim. Oleh karena itu, penelitian ini mengklarifikasi konsep, mengidentifikasi praktik terbaik, dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang komunikasi Islam di era media digital, khususnya dengan memberikan wawasan dan strategi dalam mengembangkan inisiatif da’wah menggunakan berbagai platform media sosial.
Critical discourse analysis of netizens’ comments on the 2024–2029 presidential and vice-presidential debate based on a corpus Handayani, Maya Rini; Rahmi, Amelia; Hilmi, Mustofa; Chairullah, Dimas
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.1.26055

Abstract

Presidential elections constitute a cornerstone of democratic governance, symbolizing the legitimacy and trust vested in government by the populace. The 2024 Indonesian presidential election provided a platform for public participation in shaping the nation's policy trajectory. Recognizing the pivotal role of social media, particularly YouTube, in contemporary campaigns, candidates leveraged these platforms to facilitate public discourse and gauge public sentiment towards presidential and vice-presidential candidates. This study employed a corpus-based approach to analyze netizens' comments during the debates. Through a qualitative methodology, 79,378 comments were collected from eight prominent YouTube channels: KPU RI, CNN Indonesia, INews, RCTI, TVRI, TVOne, Kompas TV, and Metro TV. The analysis draws upon Teun A. van Dijk's Critical Discourse Analysis (CDA) and Stewart L. Tubbs and Sylvia Moss' communication styles. Findings indicate that Anies Baswedan and Muhaimin Iskandar projected an image of academic prowess, intelligence, law-abidingness, and religiosity, while adopting a controlling communication style. In contrast, Prabowo and Gibran were associated with discourses of sincerity, millennial appeal, continuity of Jokowi's programs, and impressiveness. However, this pair exhibited a relinquishing communication style, characterized by passivity and a deferential approach. Finally, Ganjar Pranowo and Mahfud MD presented themselves as visionary, credible, and possessing integrity, employing an equalitarian communication style marked by respect and dialogue. ***** Pemilihan presiden (pilpres) adalah elemen vital dalam demokrasi yang mewakili legitimasi dan kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Melalui pilpres Indonesia 2024, masyarakat ikut menentukan kebijakan negara. Para kandidat menyadari pentingnya media sosial, terutama YouTube, dalam kampanye mereka, yang memungkinkan publik untuk menyampaikan pendapat dan mencerminkan sentimen terhadap calon presiden dan wakil presiden. Penelitian ini menggunakan dataset berbentuk korpus yang berisi komentar warganet saat debat berlangsung. Menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini mengumpulkan 79.378 komentar dari channel KPU RI, CNN Indonesia, INews, RCTI, TVRI, TVOne, Kompas TV, dan Metro TV. Kami mengimplementasikan teori Teun A van Djik untuk Analisis Wacana Kritis (AWK), Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss untuk gaya komunikasi. Hasil studi ini, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar menunjukkan pribadi yang akademis, cerdas, taat hukum, dan religius serta bergaya controlling style. Sedangkan ihlas, milenial, melanjutkan program Jokowi, dan impresif merupakan wacana yang terlihat pada Prabowo dan Gibran, namun pasangan ini mengadopsi gaya relinquishing style, yaitu bersikap lebih pasif dan menyerahkan inisiatif kepada lawan debat. Paslon terakhir, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD dalam menyampaikan pendapatnya terlihat visioner, kredibel, dan memiliki integritas, selain itu pasangan ini menerapkan gaya equalitarian style, yang mencerminkan sikap saling menghargai dan dialogis dalam menyampaikan pendapat.
Negotiating the meaning of female genital mutilation and cutting: A symbolic interactionist approach among religious university students Hayati, Afita Nur; Wahyuni, Tri; Akhyar, Ramadiva Muhammad; Ahmed, Raya Qahtan; Marjuni, Kamaluddin Nurdin
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.1.26282

Abstract

The meanings attributed to Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C) are shaped through complex negotiations within religious and socio-cultural frameworks, including those observed in Indonesia. Using a combined qualitative and quantitative (mixed methods)-ethnographic and survey approach, data from 109 students of religious tertiary institutions in East Kalimantan on their perspectives on FGM/C practices can be more comprehensively explored. The results of the study, which were analysed using the three principles of symbolic interactionism, showed that 72.5 per cent of religious college student families still practice FGM/C and 53.2 per cent stated that FGM/C practices are beneficial for women.  However, they are also willing, if asked, to help socialise FGM/C prevention with a percentage of 54.1 percent. This research contributes to revealing the constitutive communication owned by religious tertiary students with the emergence of negotiations on the meaning of FGM/C practices originating from the family environment and from the environment where they pursue higher education. Prevention efforts will have a greater impact when the Government collaborates with the parties according to their contribution. This research contributes to bridging the gap between the traditional understanding that lives in the cultural and religious values of the family and the critical perspective in the academic environment through an inclusive dialogue space to create zero tolerance for the practice of FGM/C, not only in East Kalimantan but also in Indonesia. ***** Pemaknaan seputar praktik Pemotongan dan Pelukaan Genitalia Perempuan (P2GP) terbentuk melalui negosiasi yang kompleks dalam kerangka keagamaan dan sosio-kultural, termasuk yang terjadi di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan gabungan kualitatif dan kuantitatif (mixed methods), data yang berasal dari 109 mahasiswa perguruan tinggi keagamaan di Kalimantan Timur tentang perspektif mereka terhadap praktik P2GP dapat lebih komprehensif dieksplorasi. Hasil penelitian yang dianalisis menggunakan tiga prinsip interaksionisme simbolik menunjukkan sebanyak 72,5 persen keluarga mahasiswa perguruan tinggi keagamaan masih melakukan praktik P2GP dan 53,2 persen menyatakan bahwa praktik P2GP bermanfaat bagi perempuan.  Namun mereka juga bersedia jika diminta untuk membantu sosialisasi pencegahan P2GP dengan prosentase sebesar 54,1 persen. Penelitian ini berkontribusi mengungkap komunikasi konstitutif yang dimiliki oleh mahasiswa perguruan tinggi keagamaan dengan munculnya negosiasi terhadap makna praktik P2GP yang berasal dari lingkungan keluarga dan dari lingkungan tempat mereka menempuh pendidikan tinggi. Upaya pencegahan akan memiliki dampak yang lebih besar ketika Pemerintah berkolaborasi dengan para pihak sesuai dengan kontribusi yang dimiliki. Penelitian ini berkontribusi untuk menjembatani adanya kesenjangan antara pemahaman tradisional yang hidup dalam nilai budaya dan agama keluarga dengan perspektif kritis di lingkungan akademis melalui ruang dialog yang inklusif untuk mewujudkan toleransi nol pada praktik P2GP tidak hanya di Kalimantan Timur tetapi juga di Indonesia.  
Da'wah in the digital era: Analysis of Husain Basyaiban's da'wah message in TikTok content Amelia, Riska; Riyadi, Agus; Murtadho, Ali
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.18930

Abstract

This study is motivated by the development of social media as a means of preaching, including Husain Basyaiban's Tiktok. This study aims to find out what da'wah messages are contained in the TikTok content in terms of the meaning of denotation, connotation, and myth. Therefore, this study is library research with a descriptive qualitative approach. The semiotic analysis used is the Roland Barthes model, a theoretical framework that examines signs and their meanings in cultural contexts. In this analysis, we identified and interpreted the signs (visual and textual elements) in Husain Basyaiban's TikTok video, considering their cultural and social contexts. The results of the analysis show that the video contains several meanings and messages, namely: mutual respect between religious communities, not insulting other people's beliefs, respecting other people's religious rituals when religion is insulted, fighting, being careful in protecting your beliefs, the importance of conscience in maintaining tolerance, Islam is the true religion, there is no prejudice against religions other than Islam, preaching is an obligation, and Muslims carry a great trust. Then, in Husain Basyaiban's TikTok video, researchers also found the meaning of the video's denotation, connotation, and myth. With the meaning obtained, this study implies the importance of disseminating da'wah content through social media. Social media like TikTok can display short moral content but with deep meaning.*****Studi ini dilatarbelakangi oleh perkembangan media sosial sebagai sarana dalam berdakwah diantaranya adalah Tiktok Husain Basyaiban. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apa saja pesan dakwah yang terkandung dalam konten tiktok tersebut dilihat dari makna denotasi, konotasi, dan mitos. Oleh karenanya studi ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Analisis yang digunakan merupakan analisis semiotika dengan model Roland Barthes. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam video tersebut mengandung beberapa makna dan pesan, yakni: saling menghormati antar umat beragama, tidak menghina keyakinan orang lain, menghormati ritual agama orang lain, ketika agama dihina wajib dilawan, berhati-hati dalam menjaga akidah, pentingnya hati nurani dalam menjaga toleransi, Islam adalah agama yang benar, tidak berburuk sangka terhadap agama selain Islam, berdakwah merupakan suatu kewajiban dan umat Islam mengemban amanah yang besar. Kemudian dalam video tiktok Husain Basyaiban, peneliti juga menemukan makna denotasi, konotasi dan mitos dari video tersebut. Dengan makna yang didapat tersebut, studi ini mengimplikasikan pentingnya diseminasi konten dakwah melalui media sosial. Media sosial seperti TikTok dapat menampilkan konten moral singkat tetapi dengan makna yang mendalam.
A century of struggle: Afghanistan’s media development under monarchies Pamirzad, Qurban Hussain
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.19593

Abstract

This paper has used a series of historical sources, mainly in the Persian language, to explore the one-century history of Afghanistan’s media. The country has 150 years of media history, of which a century occurred during the monarchy's political system. This study explains the chronological order and structure of the media from the first newspaper, Shams-u-Nahar, which was founded in 1873 during the reign of Amir Shir Ali Khan. In addition to explaining the press's role in the war for the independence of Afghanistan, it also explores the media’s situation during King Zaher Shah’s (1933-1973) reign, when a diverse media environment emerged; simultaneously, systematic political repression was carried out and derailed the achievements. This comprehensive centenary review of Afghanistan’s media history fills the research gap about Afghanistan's media, which has only been accessible to readers and researchers in the Persian language so far. Hence, this paper will be the first of its kind to cover this era in detail, address this research void, and pave the way for researchers to learn more about Afghanistan's media history.*****Makalah ini menggunakan serangkaian sumber sejarah, terutama dalam bahasa Persia, untuk mengeksplorasi sejarah satu abad media Afghanistan. Negara ini memiliki sejarah media selama 150 tahun, dan satu abad di antaranya terjadi pada masa sistem politik monarki. Kajian ini menjelaskan urutan kronologis dan struktur media dari surat kabar pertama, Shams-u-Nahar, yang didirikan pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Amir Shir Ali Khan. Selain menjelaskan peran pers dalam perang kemerdekaan Afghanistan, artikel ini juga mengeksplorasi situasi media pada masa pemerintahan Raja Zaher Shah (1933-1973), ketika lingkungan media yang beragam muncul; secara bersamaan, represi politik sistematis dilakukan dan menggagalkan pencapaian. Tinjauan komprehensif sejarah media Afganistan yang berusia seratus tahun ini mengisi kesenjangan penelitian tentang media Afganistan, yang sejauh ini hanya dapat diakses oleh pembaca dan peneliti dalam bahasa Persia. Oleh karena itu, makalah ini akan menjadi makalah pertama yang membahas era ini secara rinci, mengatasi kekosongan penelitian, dan membuka jalan bagi para peneliti untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah media Afghanistan.
From fatwa to social media: Unleashing global muslim solidarity through fatwa and digital activism movement Alfarisi, Muhammad Fahmi Reksa; Huda, Ahmad Nashikhul; Asharsyira, Almeyda
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20501

Abstract

The Israel-Palestine war has brought an enormous amount of attention to religious tension, global solidarity, and humanitarian movement in the Muslim world. This study investigates the underlying factor behind the fatwa issuance and its impact on the new trend of global solidarity in the digital sphere. The theory of mediation of meaning and new media by Hoover has been used to navigate the Fatwa of the Indonesian Ulama Council. This fatwa, regarding boycotts, divestments, sanctions movement, and the spread of Julid Fisabilillah digital activism, is a significant factor in shaping global Muslim solidarity. The digital activism is conducted by Indonesian and Malaysian netizens on specific social media platforms such as X, Instagram, and Telegram. This paper aims to contribute to the promotion of solidarity, compassion, and moral principles as fundamental aspects of humaneness. The research methods involved using a desk research methodology to collect data by analyzing scientific papers, digital media such as news, social media platforms, and literature reviews. The results indicated that this new trend of movements served as a means of expressing concern and advocating for humanity's values. It also aimed to create social justice and beneficial impact through humanitarian aid and establish emotional and moral connections to the Palestinian cause. Subsequently, the elements of religious tension, intrinsic and extrinsic religiosity, have intertwined roles in influencing this situation.*****Perang antara Israel-Palestina telah menyita banyak perhatian dari mulai esensi ketegangan agama, solidaritas global, hingga gerakan kemanusiaan di dunia Muslim. Studi ini berusaha untuk menyelidiki faktor yang mendasari diterbitkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dukungan terhadap Palestina dan dampaknya terhadap tren baru solidaritas global di ranah digital. Teori mediasi makna dan media baru oleh Hoover diaplikasikan untuk menavigasi dampak dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang berkenaan dengan gerakan boikot, divestasi, sanksi terhadap produk yang mendukung Israel dan penyebarannya melalui aktivisme digital Julid Fisabilillah yang banyak digalakkan oleh warganet Indonesia dan Malaysia di beberapa platform media sosial seperti X, Instagram dan Telegram. Tulisan ini memiliki kontribusi untuk meningkatkan solidaritas, kasih sayang, dan menegakkan prinsip-prinsip moral sebagai aspek dasar kemanusiaan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan untuk mengumpulkan data dengan menganalisis beberapa karya ilmiah terdahulu, media digital seperti berita, platform media sosial, dan tinjauan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren gerakan baru ini berfungsi sebagai sarana efektif untuk mengekspresikan kepedulian dan mengadvokasi nilai-nilai kemanusiaan yang bertujuan untuk menciptakan keadilan sosial dan dampak yang bermanfaat melalui bantuan kemanusiaan, membangun hubungan emosional dan moral sejalan dengan perjuangan warga Palestina. Selanjutnya, elemen-elemen ketegangan agama, baik religiusitas intrinsik maupun ekstrinsik, memiliki peran yang saling terkait dalam mempengaruhi situasi ini. 
The religious transformation of Gen Z in the new media era Pabbajah, Mustaqim
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20557

Abstract

New Media becomes an effective bridge of religious transformation in Gen Z. The presence of new media with various features offered is a new way of obtaining religious knowledge.  This paper wants to explain that there has been a diverse religious pattern of Gen Z experiencing transformation due to the intensity of the use of religion-based new media. The research in this study was conducted through observations, interviews and literature studies related to the formal objects, material objects and contexts studied, then analyzed with a qualitative descriptive approach. The results of this study explain the forms of religious transformation of Gen Z in the midst of the rise of new media. The transformation occurs due to the emergence of new media that offers various religion-based platforms. The implication is that intense religious learning accessed through new media can be said to be not in line with the ideally expected understanding of religion. In other words, religious understanding, which is actually the main orientation in religious learning, has undergone a transformation as shown by the religious experience of Gen Z. Where the presence of new media can be a tool that can change a person's paradigm in religion. This study suggests the need for a balance between media literacy and religious literacy to be balanced, along with the intensity of technological penetration that is continuously evolving.*****Media Baru menjadi jembatan tranformasi agama yang efektif pada Gen Z. kehadiran media baru dengan berbagai fitur yang ditawarkan menjadi cara baru dalam mendapatkan pengetahuan agama.  Tulisan ini hendak menjelaskan bahwa telah terjadi pola beragama beragam Gen Z mengalami transformasi akibat intensitas penggunaan new media berbasis agama. Penelitian dalam ttudi ini dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi litertur terkait objek formal, objek material dan konteks yang dikaji, kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil studi ini menjelaskan terkait bentuk-bentuk transformasi beragama Gen Z di tengah maraknya media baru. Transformasi itu terjadi akibat munculnya media baru yang menawarkan berbagai platform yang berbasis agama. Implikasinya adalah pembelajaran agama yang intens diakses melalui media baru dapat dikatakan belum sejalan dengan pemahaman agama yang diharapkan secara ideal. Dengan kata lain, pemahaman agama yang sejatinya menjadi orientasi utama dalam pembelajaran agama telah mengalami transformasi sebagaimana pengalaman beragama yang diperlihatkan Gen Z. Di mana kehadiran media baru dapat menjadi alat yang dapat mengubah paradigma seseorang dalam beragama. Studi ini menyarankan perlunya keseimbangan antara literasi media dan lierasi agama dapat seimbang, seiring dengan intensitas penetrasi teknologi yang terus berkembang.
Reinventing jihad’s meaning: A discourse on jihad among salafist figures in Indonesia Bazikh, Moh. Rofqil
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20649

Abstract

The jihad discourse can never be separated from the Islamic intellectual tradition. This doctrine partly causes negative views of Islam. Because Islam has a doctrine of jihad, quite a few people think that Islam is closely related to violence. This study aims to examine one group that is often considered to be closely linked to violence in Indonesia, namely the Salafi group. Several Salafi figures have even received much rejection in various regions, plus there is a simplistic perception of Salafi groups, which varies. Methodologically, this study uses a type of qualitative research where data is obtained through observation of the social media channels of three Salafi figures related to discussing the topic of jihad, namely Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah, and Firanda Andirja. All three are Salafi figures with authority and influence, especially on social media. This study shows that they are trying to cleanse the meaning of jihad. This is proven by their opposing position to acts of violence in the name of jihad. However, they do not deny that jihad is synonymous with war. They are just trying to ensure that jihad does not always mean war. This effort is a step in reinventing the pejorative meaning of jihad. This also provides clarification that not all Salafis support acts of violence as understood so far. This study implies that new media can build new discourse about the identity of splinter groups (Salafi) in the public sphere.*****Diskursus jihad tidak pernah bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam. Pandangan-pandangan negatif terhadap Islam di antaranya disebabkan oleh doktrin ini. Sebab Islam memiliki doktrin jihad, tidak sedikit pihak yang menganggap Islam lekat kaitannya dengan kekerasan. Studi ini bertujuan untuk mengkaji salah satu kelompok yang kerap dianggap lekat dengan kekerasan di Indonesia, yaitu kelompok Salafi. Beberapa figur Salafi bahkan banyak mendapat penolakan di berbagai daerah, ditambah terdapat persepsi yang simplistis terhadap kelompok Salafi yang sejatinya bervariasi. Secara metodologis, studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dimana data diperoleh melalui observasi terhadap saluran media sosial tiga figur Salafi terkait pembahasan topik jihad, yaitu Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah, dan Firanda Andirja. Ketiganya merupakan figur Salafi yang mempunyai otoritas dan pengaruh, utamanya di media sosial. Studi ini menunjukkan bahwa mereka melakukan upaya pembersihan terhadap makna jihad. Ini dibuktikan dengan posisi kontra mereka terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad. Kendati demikian, mereka tidak membantah bahwa jihad identik dengan perang. Mereka hanya mencoba agar jihad tidak senantiasa berarti perang. Upaya ini merupakan langkah menemukan kembali (reinventing) makna jihad dari yang peyoratif. Ini sekaligus memberikan klarifikasi bahwa tidak semua Salafi mendukung aksi-aksi kekerasan sebagaimana dipahami selama ini. Studi ini mengimplikasikan bahwa new media dapat menjadi sarana untuk membangun diskursus baru tentang identitas kelompok sempalan (salafi) di ruang publik.