cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Islamic communication strategies of mediators at the Mahkamah Syar’iyah in mediating divorce cases Saidaturrahmah; Lubis, Lahmuddin; Nasution, Syawaluddin
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.28381

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Islamic communication strategies by mediators at the Mahkamah Syar’iyah (Sharia Court) of Bireuen Regency, Indonesia, in mediating divorce petition cases. The background of this research lies in the high number of divorce cases filed annually, while the mediation success rate remains relatively low. The study employs a qualitative approach through field research. Data were collected via in-depth interviews with the Chief Judge of the Mahkamah Syar’iyah and mediator judges, supported by the examination of official court documents. The findings reveal that although Islamic communication principles, such as hikmah (wisdom), mau’izhah hasanah (good counsel), and mujadalah billati hiya ahsan (best form of debate), have been incorporated into the mediation process, their implementation still faces significant challenges, including limited human resources, the absence of specific Standard Operating Procedures (SOPs), and the diverse socio-cultural backgrounds of the parties involved. Nevertheless, Islamic communication strategies have proven effective in fostering constructive dialogue, promoting mutual respect, and offering fair solutions aligned with Islamic law. The study recommends enhancing mediator capacity, strengthening technical regulations, and developing standardized procedures to improve mediation success rates in the future. ***** Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi Islami yang diterapkan oleh mediator di Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Bireuen, Indonesia, dalam memediasi pasangan yang mengajukan gugat cerai. Latar belakang penelitian ini adalah tingginya jumlah perkara perceraian yang masuk setiap tahun, sementara tingkat keberhasilan mediasi relatif rendah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Ketua Mahkamah Syar’iyah dan para hakim mediator, serta didukung oleh telaah dokumen resmi pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun prinsip-prinsip komunikasi Islami seperti hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan telah diupayakan untuk diimplementasikan, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan, termasuk keterbatasan sumber daya manusia, belum adanya SOP khusus, serta perbedaan latar belakang sosial-budaya para pihak. Namun demikian, strategi komunikasi Islami terbukti berkontribusi dalam membangun dialog yang konstruktif, menumbuhkan rasa saling menghormati, serta memberikan alternatif solusi yang lebih berkeadilan dan sesuai syariat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas mediator, penguatan regulasi teknis, dan pengembangan prosedur baku guna mengoptimalkan keberhasilan mediasi di masa mendatang.  
Tradition meets technology: The role of Artificial Intelligence in Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah’s digital adaptation Nada-Qisthina, Dwi Sufa; Musyafak, Najahan
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.30339

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) in the digital media landscape has generated a duality of concerns and hopes among religious organizations such as Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah. On one hand, AI is perceived as potentially eroding humanistic values; on the other, it offers the promise of accelerating the dissemination of Islamic teachings through digital platforms. This study aims to examine the adaptation process of AI technology within the digital media ecosystems of both organizations and to identify the key enabling and inhibiting factors. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with selected informants and institutional document analysis. The study adopts Everett Rogers’ diffusion of innovation model, encompassing five stages: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. Findings reveal that NU has adopted AI through platforms such as Siskader, Kitab AI, Pandai AI, and sentiment analysis, while Muhammadiyah has developed Chat HPT, Goal Align Assessment, and AI-based customer service tools. These adaptations are driven by pressures to modernize, the need for a progressive organizational image, cadre openness to innovation, and user enthusiasm. Conversely, limited financial resources, insufficient computational capacity, and prolonged training durations are significant barriers. The study underscores the importance of a collaborative approach that integrates Islamic values with digital innovation strategies to enhance the da’wah capacity and organizational transformation in the age of artificial intelligence. ***** Perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) dalam lanskap media digital telah menimbulkan dualitas kekhawatiran dan harapan di antara organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Di satu sisi, AI dipandang berpotensi mengikis nilai-nilai humanistik; di sisi lain, AI menawarkan janji untuk mempercepat penyebaran ajaran Islam melalui platform digital. Studi ini bertujuan untuk meneliti proses adaptasi teknologi AI dalam ekosistem media digital kedua organisasi tersebut dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat utamanya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan terpilih dan analisis dokumen institusional. Studi ini mengadopsi model difusi inovasi Everett Rogers, yang mencakup lima tahap: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Temuan menunjukkan bahwa NU telah mengadopsi AI melalui platform seperti Siskader, Kitab AI, Pandai AI, dan analisis sentimen, sementara Muhammadiyah telah mengembangkan Chat HPT, Goal Align Assessment, dan alat layanan pelanggan berbasis AI. Adaptasi ini didorong oleh tekanan untuk modernisasi, kebutuhan akan citra organisasi yang progresif, keterbukaan kader terhadap inovasi, dan antusiasme pengguna. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya keuangan, kapasitas komputasi yang tidak memadai, dan durasi pelatihan yang panjang merupakan hambatan yang signifikan. Studi ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan kolaboratif yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan strategi inovasi digital untuk meningkatkan kapasitas da’wah dan transformasi organisasi di era kecerdasan buatan.