cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Islamic communication strategies of mediators at the Mahkamah Syar’iyah in mediating divorce cases Saidaturrahmah; Lubis, Lahmuddin; Nasution, Syawaluddin
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.28381

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Islamic communication strategies by mediators at the Mahkamah Syar’iyah (Sharia Court) of Bireuen Regency, Indonesia, in mediating divorce petition cases. The background of this research lies in the high number of divorce cases filed annually, while the mediation success rate remains relatively low. The study employs a qualitative approach through field research. Data were collected via in-depth interviews with the Chief Judge of the Mahkamah Syar’iyah and mediator judges, supported by the examination of official court documents. The findings reveal that although Islamic communication principles, such as hikmah (wisdom), mau’izhah hasanah (good counsel), and mujadalah billati hiya ahsan (best form of debate), have been incorporated into the mediation process, their implementation still faces significant challenges, including limited human resources, the absence of specific Standard Operating Procedures (SOPs), and the diverse socio-cultural backgrounds of the parties involved. Nevertheless, Islamic communication strategies have proven effective in fostering constructive dialogue, promoting mutual respect, and offering fair solutions aligned with Islamic law. The study recommends enhancing mediator capacity, strengthening technical regulations, and developing standardized procedures to improve mediation success rates in the future. ***** Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi Islami yang diterapkan oleh mediator di Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Bireuen, Indonesia, dalam memediasi pasangan yang mengajukan gugat cerai. Latar belakang penelitian ini adalah tingginya jumlah perkara perceraian yang masuk setiap tahun, sementara tingkat keberhasilan mediasi relatif rendah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Ketua Mahkamah Syar’iyah dan para hakim mediator, serta didukung oleh telaah dokumen resmi pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun prinsip-prinsip komunikasi Islami seperti hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan telah diupayakan untuk diimplementasikan, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan, termasuk keterbatasan sumber daya manusia, belum adanya SOP khusus, serta perbedaan latar belakang sosial-budaya para pihak. Namun demikian, strategi komunikasi Islami terbukti berkontribusi dalam membangun dialog yang konstruktif, menumbuhkan rasa saling menghormati, serta memberikan alternatif solusi yang lebih berkeadilan dan sesuai syariat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas mediator, penguatan regulasi teknis, dan pengembangan prosedur baku guna mengoptimalkan keberhasilan mediasi di masa mendatang.  
Tradition meets technology: The role of Artificial Intelligence in Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah’s digital adaptation Nada-Qisthina, Dwi Sufa; Musyafak, Najahan
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.30339

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) in the digital media landscape has generated a duality of concerns and hopes among religious organizations such as Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah. On one hand, AI is perceived as potentially eroding humanistic values; on the other, it offers the promise of accelerating the dissemination of Islamic teachings through digital platforms. This study aims to examine the adaptation process of AI technology within the digital media ecosystems of both organizations and to identify the key enabling and inhibiting factors. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with selected informants and institutional document analysis. The study adopts Everett Rogers’ diffusion of innovation model, encompassing five stages: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. Findings reveal that NU has adopted AI through platforms such as Siskader, Kitab AI, Pandai AI, and sentiment analysis, while Muhammadiyah has developed Chat HPT, Goal Align Assessment, and AI-based customer service tools. These adaptations are driven by pressures to modernize, the need for a progressive organizational image, cadre openness to innovation, and user enthusiasm. Conversely, limited financial resources, insufficient computational capacity, and prolonged training durations are significant barriers. The study underscores the importance of a collaborative approach that integrates Islamic values with digital innovation strategies to enhance the da’wah capacity and organizational transformation in the age of artificial intelligence. ***** Perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) dalam lanskap media digital telah menimbulkan dualitas kekhawatiran dan harapan di antara organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Di satu sisi, AI dipandang berpotensi mengikis nilai-nilai humanistik; di sisi lain, AI menawarkan janji untuk mempercepat penyebaran ajaran Islam melalui platform digital. Studi ini bertujuan untuk meneliti proses adaptasi teknologi AI dalam ekosistem media digital kedua organisasi tersebut dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat utamanya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan terpilih dan analisis dokumen institusional. Studi ini mengadopsi model difusi inovasi Everett Rogers, yang mencakup lima tahap: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Temuan menunjukkan bahwa NU telah mengadopsi AI melalui platform seperti Siskader, Kitab AI, Pandai AI, dan analisis sentimen, sementara Muhammadiyah telah mengembangkan Chat HPT, Goal Align Assessment, dan alat layanan pelanggan berbasis AI. Adaptasi ini didorong oleh tekanan untuk modernisasi, kebutuhan akan citra organisasi yang progresif, keterbukaan kader terhadap inovasi, dan antusiasme pengguna. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya keuangan, kapasitas komputasi yang tidak memadai, dan durasi pelatihan yang panjang merupakan hambatan yang signifikan. Studi ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan kolaboratif yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan strategi inovasi digital untuk meningkatkan kapasitas da’wah dan transformasi organisasi di era kecerdasan buatan.
Social media revolution and trends of da‘wah propagation in Ijebuland, Ogun State, Nigeria: An empirical survey Kazeem Oluwaseun Dauda
Islamic Communication Journal Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.18104

Abstract

Da‘wah plays a crucial role in spreading the teachings and principles of Islām globally. Different Islamic scholars have employed variety of techniques and platforms to fulfil this hallowed act of worship. Over the last two decades, social media revolution (SMR) has changed the dynamics of communication, democratized access to information, and promoted cross-cultural dialogue. Accordingly, Muslim preachers (Du‘āt) in Nigeria have considerably boosted their use of social media platforms, such as Facebook, X, Instagram, and YouTube, among others, for da‘wah. However, the extent to which SMR has influenced da‘wah activities in Ijebuland has received little attention in literature. This paper conducted an empirical survey into the impact of SMR on da‘wah propagation in Ijebuland, Ogun State. It used a descriptive survey design and content analysis approach. It argued that SMR has significantly changed the dynamics of da‘wah in the region. Despite the identified challenges facing their utilization, Ijebu Du‘āt have effectively utilized social media outlets with rational record of abuse. The study concludes that social media has indeed become a potent tool for da‘wah practice in Ijebuland. The findings justify the need for further studies to ascertain steps to take to strengthen SMR application to propagate da‘wah within the Islamic framework of tolerance, dialogue, mutual understanding and harmonious coexistence.***Dakwah memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran dan prinsip-prinsip Islam secara global. Berbagai cendekiawan Islam (ulama) telah menggunakan berbagai teknik dan platform untuk memenuhi ibadah suci ini. Selama dua dekade terakhir, revolusi media sosial (social media revolution/SMR) telah mengubah dinamika komunikasi, mendemokratisasikan akses terhadap informasi, dan mendorong dialog lintas budaya. Oleh karena itu, para pendakwah Muslim (du‘āt) di Nigeria telah meningkatkan penggunaan platform media sosial, seperti Facebook, X, Instagram, dan YouTube, antara lain, untuk dakwah. Namun sejauh mana pengaruh SMR terhadap kegiatan dakwah di Ijebuland hanya mendapat sedikit perhatian dalam literatur. Makalah ini melakukan survei empiris mengenai dampak SMR terhadap penyebaran dakwah di Ijebuland, Negara Bagian Ogun. Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif dan pendekatan analisis isi. Mereka berpendapat bahwa SMR telah mengubah dinamika dakwah di wilayah ini secara signifikan. Terlepas dari tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatannya, para pendakwah Ijebu telah secara efektif memanfaatkan media sosial yang memiliki catatan penyalahgunaan yang rasional. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa media sosial memang menjadi alat yang ampuh dalam praktik dakwah di Ijebuland. Temuan ini membenarkan perlunya studi lebih lanjut untuk memastikan langkah-langkah yang perlu diambil untuk memperkuat penerapan SMR guna menyebarkan dakwah dalam kerangka toleransi, dialog, saling pengertian dan hidup berdampingan secara harmonis dalam Islam.
Rethinking Islamic communication studies within UIN Mataram’s Horizon of Knowledge paradigm: A critical-integrative review Andri Kurniawan; Mohammad Alawi; Lalu Ahmad Zaenuri; S. Salahudin; Nurhaidah Nurhaidah; Hamzan Azhari
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.23360

Abstract

The discourse on the integration of knowledge in Islamic Higher Education Institutions today often remains at the level of institutional and symbolic slogans, thus requiring critical philosophical and methodological examination. This study seeks to reread the position of Islamic communication within the Horizon of Knowledge paradigm of UIN Mataram by examining how this paradigm can serve as a foundation for the construction of integrative knowledge. Using a qualitative approach through library research and conceptual analysis, this study examines the integration of knowledge, Horizon of Knowledge, and the philosophy of Islamic communication studies through a critical-hermeneutic perspective. The findings indicate that Horizon of Knowledge is not merely an institutional identity but also a scientific paradigm grounded in integration, interconnection, and internalization, which positions revelation, reason, empirical experience, Islamic tradition, and modern theory within an integrated framework. Within this paradigm, Islamic communication studies are not understood merely in a normative sense within the dimension of da‘wah, but rather as an academic discipline with strong ontological, epistemological, axiological, and methodological foundations. This study concludes that Horizon of Knowledge offers a prophetic-integrative framework for the development of Islamic communication studies that is scientific, ethical, and transformative. ***** Diskursus integrasi ilmu di Perguruan Tinggi Keislaman hari ini sering kali berhenti sebagai slogan kelembagaan, simbolik, yang memerlukan tinjauan kritis secara filosofis dan metodologis. Penelitian ini hendak membaca ulang posisi komunikasi Islam dalam paradigma Horizon Ilmu UIN Mataram dengan menelaah bagaimana paradigma ini dapat menjadi dasar konstruksi ilmu yang integratif. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan dan analisis konseptual, penelitian ini hendak mengkaji integrasi ilmu, Horizon Ilmu, dan falsafah ilmu komunikasi Islam secara hermeneutika-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Horizon Ilmu tidak hanya menjadi identitas kelembagaan, melainkan sebagai paradigma keilmuan berbasis integrasi, interkoneksi, dan internalisasi yang menempatkan wahyu, akal, pengalaman empiris, tradisi Islam, dan teori modern. Dalam paradigma ini, ilmu komunikasi Islam tidak dipahami secara normatif dalam dimensi da’wah, namun menjadi disiplin ilmu dengan fondasi ontologis, epistemologis, aksiologis, dan metodologis yang kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Horizon Ilmu menawarkan kerangka profetik-integratif bagi pengembangan ilmu komunikasi Islam yang ilmiah, etis, dan transformatif.
Village circumambulation dhikr as a medium of cultural da’wah and Islamic social communication among the community Idawati Idawati; Ahmad Tamrin Sikumbang; Tessa Shasrini
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.29057

Abstract

This study aims to analyze the practice of village circumambulation dhikr as a medium of cultural da’wah and Islamic social communication in Medang Kampai District, Dumai City, Riau Province. This tradition represents a form of da’wah bil hal (action-based da’wah) that integrates Islamic values with the local wisdom of the coastal Malay community. The study employed a qualitative method with a phenomenological approach through field observations, in-depth interviews with religious and community leaders, and documentation of the ritual activities. The findings reveal that the village circumambulation dhikr is conducted regularly through the active participation of community members who collectively walk around the village under the guidance of religious leaders. This collective action serves not only as a religious practice but also as a social space that fosters Islamic brotherhood, social solidarity, mutual care, and a stronger sense of community belonging. As a form of cultural da’wah, the tradition communicates Islamic values through social action, exemplary conduct, and communal participation, allowing religious messages to be conveyed in a contextual and inclusive manner. In addition to strengthening religious identity, the practice contributes to social harmony, community cohesion, and collective awareness of the importance of a peaceful and spiritually grounded life. Therefore, village circumambulation dhikr demonstrates that culturally rooted da’wah bil hal remains a relevant and effective model of Islamic communication in contemporary society. ***** Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik zikir keliling kampung sebagai media dakwah kultural dan komunikasi sosial Islam di Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Provinsi Riau. Tradisi ini merupakan bentuk dakwah berbasis tindakan kolektif (dakwah bil hal) yang memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat Melayu pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zikir keliling kampung dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat yang berjalan bersama mengelilingi lingkungan permukiman di bawah bimbingan tokoh agama. Aktivitas kolektif tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga membangun ruang interaksi sosial yang memperkuat ukhuwah Islamiyah, solidaritas, kepedulian sosial, dan rasa memiliki terhadap komunitas. Tradisi ini berfungsi sebagai media dakwah kultural yang mengkomunikasikan nilai-nilai Islam melalui tindakan nyata, keteladanan, dan partisipasi sosial, sehingga pesan-pesan keagamaan diterima secara lebih kontekstual dan inklusif. Selain memperkuat identitas religius masyarakat, zikir keliling kampung juga berkontribusi dalam menciptakan harmoni sosial, memperkokoh kohesi komunitas, dan menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya kehidupan yang religius dan damai. Dengan demikian, tradisi ini menunjukkan bahwa dakwah bil hal yang berbasis budaya lokal tetap relevan sebagai model komunikasi Islam yang efektif dalam kehidupan masyarakat kontemporer.
Communication ethics and abuse in Facebook-based da'wah among Yoruba Muslims Daud Olalekan Abdulsalam; Abdulrasheed Mubashir Abubakar; Abdulhameed Uthman
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.29318

Abstract

The emergence of social media has transformed Islamic communication by enabling Muslim scholars and daʿwah practitioners to disseminate religious teachings beyond geographical boundaries. Among these platforms, Facebook has become a prominent medium for daʿwah among Yoruba Muslims in southwestern Nigeria. While previous studies have emphasized the opportunities offered by digital daʿwah, limited attention has been paid to the abuse of Facebook-based daʿwah and its implications for Muslim communities. This study investigates the abuse of daʿwah activities on Facebook and their effects among Yoruba Muslims. A qualitative descriptive research design was adopted, using non-participant observation and thematic content analysis. Data were collected from three purposively selected Facebook pages: Star Lady Entertainment, Save Your Soul TV, and Yesaloonaka through observations of live sermons, counselling sessions, audience comments, debates, and other online interactions, complemented by relevant scholarly literature. The findings reveal that although Facebook has expanded the reach of Islamic propagation, abusive practices such as offensive language, sectarian polarization, misinformation, emotional manipulation, cyberbullying, commercialization of daʿwah, and public humiliation increasingly undermine Islamic communication ethics and contribute to social tension and weakened respect for religious authority. The study concludes that effective digital daʿwah requires adherence to Islamic ethical principles and recommends ethical guidelines, stronger moderation, digital literacy, and greater accountability among daʿwah practitioners. It contributes empirical evidence to the growing scholarship on digital religion within the Yoruba Muslim context. ***** Kemunculan media sosial telah mentransformasi komunikasi Islam dengan memungkinkan para ulama Muslim dan praktisi dakwah menyebarluaskan ajaran Islam melampaui batas-batas geografis. Di antara berbagai platform tersebut, Facebook telah menjadi media yang menonjol untuk dakwah di kalangan Muslim Yoruba di Nigeria bagian barat daya. Meskipun penelitian-penelitian sebelumnya telah menekankan berbagai peluang yang ditawarkan oleh dakwah digital, perhatian terhadap penyalahgunaan dakwah berbasis Facebook serta implikasinya bagi komunitas Muslim masih terbatas. Penelitian ini menyelidiki penyalahgunaan aktivitas dakwah di Facebook beserta dampaknya di kalangan Muslim Yoruba. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan menerapkan observasi nonpartisipan dan analisis isi tematik. Data dikumpulkan dari tiga halaman Facebook yang dipilih secara purposif, yaitu Star Lady Entertainment, Save Your Soul TV, dan Yesaloonaka, melalui observasi terhadap ceramah langsung, sesi konseling, komentar audiens, perdebatan, serta berbagai interaksi daring lainnya, yang dilengkapi dengan literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Facebook telah memperluas jangkauan penyebaran dakwah Islam, berbagai praktik penyalahgunaan seperti penggunaan bahasa yang ofensif, polarisasi sektarian, misinformasi, manipulasi emosional, perundungan siber, komersialisasi dakwah, dan penghinaan di ruang publik semakin mengikis etika komunikasi Islam serta berkontribusi terhadap meningkatnya ketegangan sosial dan melemahnya penghormatan terhadap otoritas keagamaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah digital yang efektif memerlukan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip etika Islam, serta merekomendasikan penyusunan pedoman etika, penguatan moderasi, peningkatan literasi digital, dan akuntabilitas yang lebih besar di kalangan praktisi dakwah. Penelitian ini memberikan bukti empiris yang memperkaya khazanah kajian tentang agama digital dalam konteks komunitas Muslim Yoruba.
Hyper-personalization in digital da'wah: A critical constructivist analysis of NU Online's YouTube channel Sitti Ansoriah Titi; Warto
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.29527

Abstract

This study examines audiovisual representations, linguistic styles, and audience interactions that shape hyper-personalization in digital preaching on the NU Online YouTube channel. This study confirms that digital preaching not only disseminates religious messages but also creates symbolic closeness, authority, and emotional intimacy through mediated communication, using the critical constructivism framework. Narrative transcription, visual coding, and audience comment analysis were used to analyse the qualitative content of ten videos uploaded from January to September 2025. Three main components that shape hyper-personalization are revealed by the research results: (1) visual strategies such as stable lighting, close framing, and minimalist backgrounds that enhance the image of da’i as a calm and composed figure; (2) conversational language style that uses personal pronouns to make the message feel individually addressed; and (3) audience emotional responses that form parasocial relationships. NU Online's research results not only disseminate religious knowledge but also establish religious authority through algorithms and emotional appeal. Therefore, to avoid excessive emotional dependence and maintain the authenticity of da'wah in the digital world, one must adhere to ethical standards. This study contributes to the practice of Islamic communication in digital spaces by integrating media logic with Islamic ethical principles. ***** Penelitian ini mengkaji representasi audiovisual, gaya linguistik, dan interaksi audiens yang membentuk hiperpersonalisasi dalam dakwah digital di kanal YouTube NU Online. Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah digital tidak hanya menyebarkan pesan keagamaan, tetapi juga menciptakan kedekatan simbolik, otoritas, dan keintiman emosional melalui komunikasi yang dimediasi, menggunakan kerangka Critical Constructivism. Transkripsi naratif, pengodean visual, dan analisis komentar audiens digunakan untuk menganalisis isi kualitatif dari sepuluh video yang diunggah dari Januari hingga September 2025. Tiga komponen utama yang membentuk hiperpersonalisasi ditunjukkan oleh hasil penelitian: (1) strategi visual seperti pencahayaan stabil, framing dekat, dan latar minimalis yang meningkatkan citra da’i sebagai figur yang tenang; (2) gaya bahasa percakapan yang menggunakan pronomina pribadi yang membuat pesan terasa ditujukan secara individual; dan (3) respons emosional audiens yang membentuk hubungan parasosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NU Online tidak hanya menyebarkan pengetahuan agama tetapi juga membentuk otoritas keagamaan melalui algoritma dan sentuhan emosional. Dengan demikian, untuk menghindari ketergantungan emosional yang berlebihan dan menjaga keaslian dakwah, komunikasi Islam di dunia digital harus tetap berpegang pada etika. Studi ini berkontribusi pada praktik komunikasi Islam di ruang digital dengan mengintegrasikan logika media dan prinsip-prinsip etika Islam.
Mediatizing religion and extremism: Muslim women terrorist networks on social media Ilyas Supena; M. Mudhofi M. Mudhofi; Ulin Nihayah; Farida Rachmawati
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.29685

Abstract

This research aims to examine the role of social media in connecting the phenomenon of Muslim women with the community of terrorism networks in the digital space. Phenomenological and interview approaches were used to analyze the linkages between social media, Muslim women, and terrorism networks. The findings of the study show that social media not only functions as a communication tool, but has developed into a new religious living space for Muslim women who form identities, social networks of terrorist communities, and religious authorities digitally. The media acts as a channel that connects individuals with radical propaganda directly. Language that packages extreme messages in a persuasive and authentic format, often combining religious postulates with symbolic visuals. The environment that creates online communities also reinforces radical identities and allows participants to become active content producers. This study contributes to the literature on digital religion by demonstrating that social media not only mediates religious expression but also actively reshapes religious authority and social relations within online radicalization networks. ***** Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran media sosial dalam menghubungkan fenomena perempuan Muslim dengan komunitas jaringan terorisme di ruang digital. Pendekatan fenomenologis dan wawancara digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara media sosial, perempuan Muslim, dan jaringan terorisme. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang kehidupan keagamaan baru bagi perempuan Muslim dalam membentuk identitas, jaringan sosial komunitas teroris, serta otoritas keagamaan secara digital. Media ini berperan sebagai saluran yang menghubungkan individu secara langsung dengan propaganda radikal. Bahasa yang mengemas pesan-pesan ekstrem dalam format yang persuasif dan autentik, sering kali memadukan dalil-dalil agama dengan visual yang sarat simbol. Lingkungan yang membentuk komunitas daring ini juga memperkuat identitas radikal serta memungkinkan para partisipan menjadi produsen konten yang aktif. Studi ini berkontribusi pada literatur agama digital dengan menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memediasi ekspresi keagamaan, tetapi juga secara aktif membentuk ulang otoritas keagamaan dan relasi sosial dalam jaringan radikalisasi daring.
Contemporary da’wah challenges: The normalization of infidelity in WeTV series and its impact on urban Muslim couples Robby Aditya Putra; Dede Mercy Rolando; Maulida Fitri; Muhamad Munir
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.31467

Abstract

This study aims to examine the challenges of contemporary Islamic da'wah in addressing the normalization of infidelity in WeTV digital film series and its implications for urban Muslim couples in Bandar Lampung. This study employed a qualitative research design based on audience reception analysis, using in-depth interviews with six urban Muslim couples. Data were interpreted through the lenses of Social Learning Theory, Cultivation Theory, and the Cognitive–Affective–Behavioral approach. The findings reveal that WeTV series centered on infidelity do not directly encourage urban Muslim couples to imitate infidelity-related behavior. However, repeated exposure to such narratives influences how audiences understand marital conflict, emotional neglect, and modern relationships. Media influence appears more prominently in emotional engagement and interpretive shifts rather than in actual behavioral change. Although participants continued to uphold Islamic values concerning fidelity and marital ethics, digital media created a symbolic space of negotiation in which audiences normatively rejected infidelity while simultaneously expressing empathy toward the emotional conditions experienced by film characters. This study implies that contemporary Islamic da’wah is no longer concerned solely with the transmission of normative religious teachings, but also with the need to develop critical media literacy and strengthen Muslim family resilience amid the continuing expansion of digital culture. ***** Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan dakwah Islam kontemporer tentang normalisasi perselingkuhan dalam serial film digital WeTV serta dampaknya terhadap pasangan Muslim urban di Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif yang didasarkan pada analisis resepsi audiens (audience reception analysis), dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap enam pasangan Muslim perkotaan. Data diinterpretasikan menggunakan kerangka teoretis Social Learning Theory, Cultivation Theory, dan pendekatan Cognitive–Affective–Behavioral.  Penelitian ini menemukan bahwa serial WeTV bertema perselingkuhan tidak secara langsung mendorong pasangan Muslim urban untuk meniru perilaku perselingkuhan. Namun, paparan narasi yang berulang memengaruhi cara audiens memahami konflik rumah tangga, pengabaian emosional, dan relasi modern. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengaruh media lebih terlihat pada keterlibatan emosional dan perubahan interpretasi dibandingkan perubahan perilaku secara nyata. Meskipun partisipan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam mengenai kesetiaan dan etika pernikahan, media digital menghadirkan ruang negosiasi simbolik di mana audiens secara normatif menolak perselingkuhan tetapi pada saat yang sama menunjukkan empati terhadap kondisi emosional karakter dalam film. Penelitian ini berimplikasi pada dakwah yang tidak hanya dihadapkan pada persoalan penyampaian ajaran normatif, tetapi juga pada kebutuhan untuk membangun literasi media kritis dan penguatan ketahanan keluarga Muslim di tengah perkembangan budaya digital.
Communication strategies in the mental development of soldiers for strengthening religious moderation in the military environment Andi Hasriani; Badruddin Kaddas; St. Samsuduha; Maryati Mallongi; Andi Paduppai
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.31620

Abstract

Da'wah communication plays an important role in fostering moderate religious attitudes amid the challenges of extremism, radicalism, and intolerance in plural societies. In military institutions, strengthening religious moderation is essential to maintain soldiers’ professionalism, social stability, and national commitment. This study aims to analyze the strategies of da'wah communication in soldiers’ mental development to strengthen religious moderation within the military environment. This research employs a descriptive qualitative method using a da'wah communication approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that da'wah communication strategies in soldiers’ mental development are implemented through religious lectures, interfaith dialogue, and the internalization of national and historical values using persuasive, rational, and humanistic approaches. These strategies contribute to shaping inclusive and tolerant religious attitudes while strengthening national integration within the military environment. Theoretically, this study enriches the field of Islamic communication by demonstrating that da'wah communication in military settings functions not only as a medium for transmitting religious values but also as an integrative instrument that connects religiosity, nationalism, and military professionalism in strengthening religious moderation. ***** Komunikasi dakwah memiliki peran penting dalam membangun sikap keagamaan yang moderat di tengah tantangan ekstremisme, radikalisme, dan intoleransi dalam masyarakat plural. Dalam lingkungan militer, penguatan moderasi beragama menjadi bagian penting untuk menjaga profesionalitas prajurit, stabilitas sosial, serta komitmen kebangsaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi dakwah dalam pembinaan mental prajurit untuk memperkuat moderasi beragama di lingkungan militer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan komunikasi dakwah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi dakwah dalam pembinaan mental prajurit dilakukan melalui ceramah keagamaan, dialog lintas agama, serta internalisasi nilai-nilai kebangsaan dan sejarah perjuangan bangsa dengan pendekatan persuasif, rasional, dan humanis. Strategi tersebut berkontribusi dalam membentuk sikap keagamaan yang inklusif, toleran, serta memperkuat integrasi nasional di lingkungan militer. Secara keilmuan, penelitian ini memperkaya kajian komunikasi Islam dengan menunjukkan bahwa komunikasi dakwah dalam lingkungan militer tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi nilai-nilai keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen integratif yang menghubungkan nilai religiusitas, nasionalisme, dan profesionalisme keprajuritan dalam penguatan moderasi beragama.