cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017" : 14 Documents clear
Catatan Pertama Siklus Hidup Cyrestis Themire (Lepidoptera: Nymphalidae) pada Streblus ilicifolius di Hutan Kondang Merak, Malang Wafa, Imti Yazil; Sari, Herlina Putri Endah
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.487 KB)

Abstract

Kupu-kupu Cyrestis themire umumnya ditemukan di hutan primer atau sekunder di wilayah Asia Tenggara. Siklus hidup C. themire selama ini masih belum terdokumentasi. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan siklus hidup C. themire pada tumbuhan Streblus ilicifolius. Observasi dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2014. Telur C. themire yang ditemukan pada daun tumbuhan S. ilicifolius diperoleh di Hutan Kondang Merak, Kabupaten Malang. Telur yang ditemukan selanjutnya dipelihara dan diamati hingga menjadi imago. Hasil observasi menunjukkan bahwa telur akan menetas 3 hari setelah diletakkan pada tumbuhan inang. Larva memiliki 5 instar dengan sedikit perbedaan morfologi pada tiap instar. Lama tahap larva menjadi pupa yaitu 8 hari. Tahapan pupa hingga menetas menjadi imago yaitu 5 hari. Observasi lebih lanjut diperlukan untuk melengkapi informasi mengenai pengetahuan biologi dan ekologi dari C. themire.
A Preliminary Study of Aphrodisiac Property from Porcupine Tail Meat Ethanol Extract in Male Mice Agusta, Andria; Farida, Wartika Rosa; Nugroho, Herjuno Ari; Wulansari, Dewi; Anita, Syahfitri
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.075 KB)

Abstract

This study aim to examine the aphrodisiac activity of ethanol extract from the tail meat of porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823) that is traditionally believed by people in Java (Indonesia) could enhance male vitality and sexual perfor-mance. Twenty sexually inexperienced male mice were randomly divided into four groups and paired with artificially estrus female mice after one hour of drug an extract administration. Two doses of ethanol extract; 150 and 750 mg/kg were administered (p.o) to male mice. Sildenafil citrate was used as the positive control while 5% Tween 80 solution used as the negative control. Sexual behavior parameters such as mounting and intromission were observed for three hours of mating. Male mice treated with ethanol extract of porcupine tail meat at the dose 750 mg/kg BW showed higher mounting and intromission frequency compared to the group of ethanol extract dose 150 mg/kg. After 2 hours of admin-istration showed the highest frequency compared to all groups. However, the ethanol extract could not reduce the mount-ing and intromission latency as low as sildenafil citrated treated group. Present findings provide preliminary evidence of aphrodisiac properties from the ethanol extract of porcupine tail meat.
Karakteristik Semen Segar Domba Garut Tipe Laga pada Tiga Waktu Penampungan Semen Herdis, Herdis
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.57 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh waktu penampungan semen yang berbeda terhadap karakteristik semen segar domba garut tipe laga. Penelitian menggunakan tujuh ekor domba garut jantan. Penampungan semen dilakukan seminggu sekali menggunakan vagina buatan. Karakteristik semen segar yang diamati adalah warna, volume, kekenta-lan, keasaman, konsentrasi, abnormalitas, persentase motil, persentase hidup dan persentase membran plasma spermato-zoa. Waktu penampungan semen yang berbeda berpengaruh terhadap karakteristik semen segar yang dihasilkan. Waktu penampungan semen pukul 06.00 menghasilkan kualitas semen segar domba garut tipe laga paling baik berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan waktu penampungan semen pukul 12.00 namun tidak berbeda nyata (p>0,05) dibandingkan dengan waktu penampungan semen pukul 09.00. Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa perbedaan waktu berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban ruangan. Guna mendapatkan kualitas semen segar yang lebih baik disarank-an waktu penampungan semen domba garut tipe laga dilakukan pada pukul 06.00-09.00.
Zoo Indonesia Juli 2017 Indonesia, Zoo
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komparasi Kecernaan Protein pada Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana,Finsch 1863) dengan Pemberian Sumber Protein Nabati yang Berbeda Prijono, Siti Nuramaliati; Rachmatika, Rini; Sari, Andri Permata
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.065 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kecernaan protein semu (KPS) dan metabolisme energi semu (MES) pada kakatua tanimbar yang diberi pakan dua sumber protein nabati yang berbeda, yaitu biji bunga matahari dan kacang tanah. Penelitian dilakukan di Penangkaran Burung, Puslit Biologi-LIPI. Analisis nutrisi bahan pakan dan ekskreta dilakukan di Laboratorium Pengujian Puslit Biologi-LIPI. Penelitian berlangsung selama 75 hari. Materi yang digunakan adalah 5 ekor kakatua tanimbar yang terdiri dari 2 jantan dan 3 betina. Burung tersebut mendapatkan 3 perlakuan pakan dengan sumber protein yang berbeda, yaitu kontrol (P0), P0 + kacang tanah (P1), dan P0 + biji bunga matahari (P2). Pakan kontrol ada-lah jagung manis, kelapa, jambu biji, pisang lampung, kedondong, tauge, kacang panjang, dan kangkung. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, KPS, MES, dan efisiensi metabolisme. Data dianalisis dengan metode deskriptif. Hasil menunjukkan, rataan konsumsi bahan kering P0 ? P1 dan P2. Rataan KPS P1 (1,76%) ? P0 (0,66%) dan P2 (1,39%). Rataan efisiensi metabolik P1 (88,98%) ? P0 (86,72%) dan P2 (87,65%). Rataan MES pada P0 (1354,99 kal/g) ? P1 (1194,21 kal/g) dan P2 (1189,47 kal/g). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa kacang tanah dan biji bunga matahari dapat digunakan secara bergantian sebagai sumber protein alternatif bagi burung kakatua Tanimbar.
Keanekaragaman Jenis Kelelawar di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Kartono, Agus Priyono; Prayogi, Kendy Danang; Maryanto, Ibnu
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.577 KB)

Abstract

Kelelawar memegang peranan penting di dalam rantai makananan dan salah satu fungsi utamanya sebagai pemencar biji, polinator dan pengontrol serangga. Untuk mengetahui struktur spasial habita dan keragaman jenisnya maka penelitian kelelawar dilakukan di hutan pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data lapangan dilakukan selama empat bulan (Mei–Agustus 2014) di empat tipe tutupan lahan, yakni: tegakan agathis, pinus, puspa, dan agrofor-est. Pada setiap tipe tutupan lahan dilakukan pemasangan mist-net dan harp-trap dan secara total ada 27 malam trap/tutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan ada 19 jenis dari 4 famili yang tercatatat yaitu 9 jenis (47,4%) Pteropodi-dae, , 2 jenis (10,5%) Rhinolophidae, 2 jenis (10,5%) Hipposideridae, dan 6 jenis Vespertilionidae (31,6%). Areal te-gakan puspa memiliki kekayaan jenis kelelawar tertinggi yang mencapai 57,89% dari total jenis ditemukan, sedangkan indeks keragaman jenis tertinggi ditemukan di areal tegakan agathis dengan nilai H’=1,76. Kesamaan komunitas kelela-war tertinggi terjadi antara areal tegakan puspa dengan tegakan agathis dengan nilai indeks Jaccard sebesar 42,86%, sedangkan terendah ditemukan antara areal tegakan puspa dengan areal agroforest (26,67%).
Analisis Gen Cytochrome Oxydase-1 (CO1) untuk Konfirmasi Status Taksonomi Burung Srigunting Sumbawa (Dicrurus, Dicruridae) Astuti, Dwi; Ashari, Hidayat; Irham, Mohammad; Sulandari, Sri
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.941 KB)

Abstract

Sekuen DNA dari gen cytochrome oxydase-1 (COI) diadopsi untuk membangun pengelompokan dan kekerabatan dari burung-burung srigunting (Dicrurus; Dicruridae). Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi apakah srigunting dari Sum-bawa merupakan spesies tersendiri atau merupakan bagian dari superspesies D. hottentotus. Sekuen DNA sepanjang 795-bp pada gen COI diambil dari delapan burung srigunting dari Sulawesi Tenggara (D. hottentotus leucops), enam srigunting dari T.N. Gn. Halimun, Jawa Barat (D. remifer), dan dua srigunting dari Sumbawa. Analisis Neighbor-joining (NJ) dilakukan untuk mengkonstruksi pohon filogeninya dengan mengkalkulasi semua substitusi basa (transisi dan trans-verse) pada software MEGA-5. Pohon NJ menunjukkan bahwa dua individu yang berasal dari Sumbawa jelas-jelas terpisah dari Dicrurus asal Sulawesi Tenggara (D. hottentotus) dengan didukung nilai bootstrap sebesar 100 % dan dipisahkan oleh nilai divergensi sekuen > 3,5%. Sedangkan D. remifer memisah jauh dari keduanya. Penelitian ini cenderung mendukung pendapat bahwa srigunting dari Sumbawa merupakan populasi yang berbeda dan tidak termasuk dalam grup D. hottentottus, tetapi termasuk dalam grup D. densus dari Nusa Tenggara dan kemungkinan besar adalah spesies monopiletik tersendiri sebagai D. bimaensis.
Keanekaragaman Jenis Kelelawar di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Agus Priyono Kartono; Kendy Danang Prayogi; Ibnu Maryanto
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i1.3533

Abstract

Kelelawar memegang peranan penting di dalam rantai makananan dan salah satu fungsi utamanya sebagai pemencar biji, polinator dan pengontrol serangga. Untuk mengetahui struktur spasial habita dan keragaman jenisnya maka penelitian kelelawar dilakukan di hutan pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data lapangan dilakukan selama empat bulan (Mei–Agustus 2014) di empat tipe tutupan lahan, yakni: tegakan agathis, pinus, puspa, dan agrofor-est. Pada setiap tipe tutupan lahan dilakukan pemasangan mist-net dan harp-trap dan secara total ada 27 malam trap/tutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan ada 19 jenis dari 4 famili yang tercatatat yaitu 9 jenis (47,4%) Pteropodi-dae, , 2 jenis (10,5%) Rhinolophidae, 2 jenis (10,5%) Hipposideridae, dan 6 jenis Vespertilionidae (31,6%). Areal te-gakan puspa memiliki kekayaan jenis kelelawar tertinggi yang mencapai 57,89% dari total jenis ditemukan, sedangkan indeks keragaman jenis tertinggi ditemukan di areal tegakan agathis dengan nilai H’=1,76. Kesamaan komunitas kelela-war tertinggi terjadi antara areal tegakan puspa dengan tegakan agathis dengan nilai indeks Jaccard sebesar 42,86%, sedangkan terendah ditemukan antara areal tegakan puspa dengan areal agroforest (26,67%).
Analisis Gen Cytochrome Oxydase-1 (CO1) untuk Konfirmasi Status Taksonomi Burung Srigunting Sumbawa (Dicrurus, Dicruridae) Dwi Astuti; Hidayat Ashari; Mohammad Irham; Sri Sulandari
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i1.3534

Abstract

Sekuen DNA dari gen cytochrome oxydase-1 (COI) diadopsi untuk membangun pengelompokan dan kekerabatan dari burung-burung srigunting (Dicrurus; Dicruridae). Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi apakah srigunting dari Sum-bawa merupakan spesies tersendiri atau merupakan bagian dari superspesies D. hottentotus. Sekuen DNA sepanjang 795-bp pada gen COI diambil dari delapan burung srigunting dari Sulawesi Tenggara (D. hottentotus leucops), enam srigunting dari T.N. Gn. Halimun, Jawa Barat (D. remifer), dan dua srigunting dari Sumbawa. Analisis Neighbor-joining (NJ) dilakukan untuk mengkonstruksi pohon filogeninya dengan mengkalkulasi semua substitusi basa (transisi dan trans-verse) pada software MEGA-5. Pohon NJ menunjukkan bahwa dua individu yang berasal dari Sumbawa jelas-jelas terpisah dari Dicrurus asal Sulawesi Tenggara (D. hottentotus) dengan didukung nilai bootstrap sebesar 100 % dan dipisahkan oleh nilai divergensi sekuen > 3,5%. Sedangkan D. remifer memisah jauh dari keduanya. Penelitian ini cenderung mendukung pendapat bahwa srigunting dari Sumbawa merupakan populasi yang berbeda dan tidak termasuk dalam grup D. hottentottus, tetapi termasuk dalam grup D. densus dari Nusa Tenggara dan kemungkinan besar adalah spesies monopiletik tersendiri sebagai D. bimaensis.
Catatan Pertama Siklus Hidup Cyrestis Themire (Lepidoptera: Nymphalidae) pada Streblus ilicifolius di Hutan Kondang Merak, Malang Imti Yazil Wafa; Herlina Putri Endah Sari
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i1.3530

Abstract

Kupu-kupu Cyrestis themire umumnya ditemukan di hutan primer atau sekunder di wilayah Asia Tenggara. Siklus hidup C. themire selama ini masih belum terdokumentasi. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan siklus hidup C. themire pada tumbuhan Streblus ilicifolius. Observasi dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2014. Telur C. themire yang ditemukan pada daun tumbuhan S. ilicifolius diperoleh di Hutan Kondang Merak, Kabupaten Malang. Telur yang ditemukan selanjutnya dipelihara dan diamati hingga menjadi imago. Hasil observasi menunjukkan bahwa telur akan menetas 3 hari setelah diletakkan pada tumbuhan inang. Larva memiliki 5 instar dengan sedikit perbedaan morfologi pada tiap instar. Lama tahap larva menjadi pupa yaitu 8 hari. Tahapan pupa hingga menetas menjadi imago yaitu 5 hari. Observasi lebih lanjut diperlukan untuk melengkapi informasi mengenai pengetahuan biologi dan ekologi dari C. themire.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue