cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
PEMANFAATAN SATWA LIAR DALAM RANGKA KONSERVASI DAN PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT Gono Semiadi
ZOO INDONESIA Vol 16, No 2 (2007): November 2007
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v16i2.2376

Abstract

Faktor kecukupan gizi di negara kita seolah tidak pernah habisnya di bahas sejak negara ini merdeka. Permasalahan perlindungan hidupan liar untuk suatu negara berkembang (dunia ketiga) juga merupakan suatu polemik yang sangat dalam, tetapi walau bagaimanapun keadaannya, konservasi hidupan liar haruslah tetap mendapatkan perhatian mengingat fungsi dan perannya sebagai suatu bagian dari ekosistim dan kekayaan alam. Rusa dapat merupakan salah satu contoh pemanfaatan satwa liar yang dilindungi yang berkembang pesat di luar negeri tetapi masih belum termanfaatkan di Indonesia. Untuk itu pemahaman akan potensi suatu satwa liar sebagai sumber gizi masyarakat diantara birokrat maupun LSM masih perlu ditingkatkan.
EFEKTIVITAS JENIS ALAT TANGKAP DAN JENIS UMPAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENANGKAP UDANG AIR TAWAR DI DANAU KAMPUS INSTITUT PERTANIAN BOGOR Meutiya Agustina; Achmad Farajallah; Daisy Wowor
ZOO INDONESIA Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i2.2337

Abstract

Studi mengenai penangkapan udang air tawar dengan metode eksperimental fishing telah dilakukan di Danau Kampus Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penangkapan udang air tawar dengan menggunakan alat tangkap Tray net dan bubu yang diberi tiga jenis umpan yang berbeda, yaitu terasi, pelet pakan ikan dan kelapa bakar. Alat tangkap tray net lebih efektif dibandingkan bubu dalam penangkapan udang, namun umpan terasi yang dimasukkan kedalam perangkap bubu adalah umpan yang paling efektif diantara ketiga jenis umpan yang diberikan. Udang air tawar yang diperoleh diidentifikasi dan didapatkan dua jenis udang yaitu Macrobrachium lanchesteri dan Caridina propinqua sebanyak 474 individu.
Komunitas ikan-ikan karang Teluk Prigi, Trenggalek, Jawa Timur Kunto Wibowo; Mohammad Adrim
ZOO INDONESIA Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v22i2.320

Abstract

Penelitian mengenai kenekaragaman dan struktur komunitas ikan karang ini dilakukan di Teluk Prigi Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kenekaragaman jenis dan struktur komunitas ikan karang di perairan gelombang berenergi tinggi pesisir Samudera Hindia dilakukan dengan metode sensus visual (UVC) menggunakan peralatan SCUBA. Jumlah jenis ikan karang diperoleh 102 jenis yang mewakili 22 suku, terdiri dari 32 jenis ikan target, 17 jenis ikan indikator, dan 53 jenis ikan major. Jenis-jenis dominan masing-masing kategori adalah Acanthurus bariense (ikan target), Chaetodon kleinii (ikan indikator), dan Archamia fucata (ikan major). Analisis kluster indeks similaritas Bray-Curtis menunjukkan adanya 3 tipe habitat komunitas ikan. Pengelompokan habitat ini mengindikasikan hasil yang sama dengan ordinasi sampel MDS dimana dengan jelas menunjukkan tiga komunitas yang berbeda.
Analisis Gen Cytochrome Oxydase-1 (CO1) untuk Konfirmasi Status Taksonomi Burung Srigunting Sumbawa (Dicrurus, Dicruridae) Dwi Astuti; Hidayat Ashari; Mohammad Irham; Sri Sulandari
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i1.3534

Abstract

Sekuen DNA dari gen cytochrome oxydase-1 (COI) diadopsi untuk membangun pengelompokan dan kekerabatan dari burung-burung srigunting (Dicrurus; Dicruridae). Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi apakah srigunting dari Sum-bawa merupakan spesies tersendiri atau merupakan bagian dari superspesies D. hottentotus. Sekuen DNA sepanjang 795-bp pada gen COI diambil dari delapan burung srigunting dari Sulawesi Tenggara (D. hottentotus leucops), enam srigunting dari T.N. Gn. Halimun, Jawa Barat (D. remifer), dan dua srigunting dari Sumbawa. Analisis Neighbor-joining (NJ) dilakukan untuk mengkonstruksi pohon filogeninya dengan mengkalkulasi semua substitusi basa (transisi dan trans-verse) pada software MEGA-5. Pohon NJ menunjukkan bahwa dua individu yang berasal dari Sumbawa jelas-jelas terpisah dari Dicrurus asal Sulawesi Tenggara (D. hottentotus) dengan didukung nilai bootstrap sebesar 100 % dan dipisahkan oleh nilai divergensi sekuen > 3,5%. Sedangkan D. remifer memisah jauh dari keduanya. Penelitian ini cenderung mendukung pendapat bahwa srigunting dari Sumbawa merupakan populasi yang berbeda dan tidak termasuk dalam grup D. hottentottus, tetapi termasuk dalam grup D. densus dari Nusa Tenggara dan kemungkinan besar adalah spesies monopiletik tersendiri sebagai D. bimaensis.
STRUKTUR KOMUNITAS BURUNG LAPISAN BAWAH PADA DAERAH PINGGIRAN HUTAN SEKUNDER DATARAN RENDAH SUMATERA BARAT Wilson Novarino; Anas Salsabila; Jarulis Jarulis
ZOO INDONESIA No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i29.2365

Abstract

Penelitian mengenai
INVENTARISASI JENIS AMFIBI DAN REPTILIA DI KAWASAN HUTAN POHUWATO, GORONTALO, SULAWESI Dadang Rahadian Subasli
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i1.2330

Abstract

Inventarisasi herpetofauna telah dilakukan di hutan bekas tebangan di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sulawesi sebagai bagian dari restorasi program hutan. Sebanyak 23 jenis yang terdiri dari 7 jenis amfibi (4 famili) dan 16 jenis reptil (6 famili) telah dikoleksi dari seluruh lokasi survei. Jumlah jenis dan anak jenis tersebut termasuk 4 jenis yang merupakan endemik Sulawesi, yaitu: Limnonectes modestus, Hylarana celebensis, Ingerophrynus celebensis, Coelognathus erythrurus celebensis dan 2 jenis yang tercatat masuk ke dalam Apendiks II CITES, yaitu: Varanus salvator dan Malayopython reticulatus reticulatus. Jumlah jenis herpetofauna terbanyak berasal dari lokasi Doyong (17 jenis), disusul oleh Tulidu dan Panianggata (masing-masing 12 jenis) dan Dulamahe (10 jenis). Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) yang signifikan diantara lokasi pengamatan (Doyong, Tulidu, Panianggata dan Dulamahe) untuk amfibi, reptilia dan herpetofauna. Indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) amfibi pada lokasi Doyong (H’= 1,68, E= 0,67), Tulidu (H’= 1,43, E= 0,89), Panianggata (H’= 1,09, E= 0,59), dan Dulamahe (H’= 0,99, E= 0,80), tidak berbeda signifikan. Begitu juga untuk spesies reptilia, Indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) reptilia pada lokasi Doyong (H’= 1,90, E= 0,98), Tulidu (H’= 1,50, E= 1,00), Panianggata (H’= 1,10, E= 1,00), dan Dulamahe (H’= 1,33, E= 0,83), tidak berbeda signifikan. Hal yang sama juga untuk herpetofauna, Indeks diversitas (H’) dan kemerataan jenis (E) herpetofauna pada lokasi Doyong (H’= 1,99, E= 0,70), Tulidu (H’= 1,78, E= 0,72), Panianggata (H’= 1,41, E= 0,58), dan Dulamahe (H’= 1,53, E= 0,68), tidak berbeda signifikan.
KOMPOSISI JENIS IKAN PERAIRAN MANGROVE PADA BEBERAPA MUARA SUNGAI DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, PANDEGLANG-BANTEN Gema Wahyudewantoro -
ZOO INDONESIA Vol 18, No 2 (2009): November 2009
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v18i2.138

Abstract

Wahyudewantoro, G. 2009. Fish composition on mangrove of some estuarinesriver in Ujung Kulon National Park, Pandeglang-Banten. Zoo Indonesia 18(2):89-98.The research was conducted in Ujung Kulon National Park Pandeglang - West Java,at estuarines of Cikawung, Citamanjaya and Pinang Gading rivers. The aim of studywas to find out the composition of mangrove fish species. From these studies 43species belongs to 33 genera and 24 families were found. In this record Gobiidae wasthe dominant family with 11 species. Lutjanidae and Serranidae were fish groups withhigh economic value. Pinang Gading estuary region had the highest diversity valuecompared to others.
Respon Ukuran Kelompok terhadap Efek Tepi dan Kepadatan Populasi Surili (Presbytis comata) pada Hutan Dataran Rendah dan Perbukitan di Kabupaten Kuningan Toto Supartono; Lilik Budi Prasetyo; Agus Hikmat; Agus Priyono Kartono
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v25i2.3359

Abstract

Ekosistem hutan dataran rendah memiliki peranan penting bagi konservasi keanekaragaman hayati. Fragmentasi yang menyebabkan terpecah-pecahnya hutan alam dan memicu terjadinya efek tepi telah menjadi kendala dalam pelestarian populasi. Memahami pengaruh habitat tepi terhadap ukuran kelompok surili (Presbytis comata) dan tersedianya data kepadatan populasi sangat penting dalam konservasi populasi. Ukuran kelompok dapat menjadi indikator kualitas habi-tat. Akan tetapi, respon kelompok terhadap tepi hutan belum banyak diketahui dan informasi kepadatan populasi surili pada ekosistem hutan dataran rendah juga masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis ukuran kelompok surili (Presbytis comata), pengaruh tepi hutan terhadap ukuran kelompok, dan kepadatan populasi surili. Pengumpulan data dilakukan pada tutupan hutan yang mencakup hutan alam, hutan tanaman, dan kebun campuran, dengan total panjang jalur 59 km di kelompok hutan Gunung Subang, Kabupaten Kuningan. Penelitian ini menemukan bahwa ukuran ke-lompok surili bervariasi dari 2 sampai 22 dengan rata-rata 8,52 individu. Rata-rata ukuran kelompok surili tidak berubah sejalan dengan bertambahnya jarak dari tepi hutan. Kepadatan populasi surili pada interval kepercayaan 95% berkisar 44,39 – 82,36 dengan rata 60,47 ind/km2. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan strategi konservasi populasi surili pada ekosistem hutan dataran rendah yang merupakan kumpulan dari sisa hutan alam, hutan tanaman, dan kebun campuran.
CECAK RUMAH DAN MAKANANNYA DI DESA RARAHAN, TAMAN NASlONAL ClBODAS, GUNUNG GEDE, JAWA BARAT Mumpuni Mumpuni
ZOO INDONESIA No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i15.2402

Abstract

Abstrak
STRUKTUR KOMUNITAS MEGABENTOS DI PERAIRAN PANGKAJENE KEPULAUAN KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN Hendrik A. W. Cappenberg
ZOO INDONESIA Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v23i2.401

Abstract

Perairan Pangkajene, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), memiliki wilayah terumbu karang yang cukup luas dan terletak di pesisir barat Sulawesi Selatan. Penelitian megabentos pada ekosistem terumbu karang di perairan Pangkajene Kepulauan telah dilakukan pada bulan April 2012. Pengamatan dilakukan di 19 stasiun yakni pada pulau-pulau besar dan kecil yang tersebar dari utara hingga selatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas megabentos serta kemiripan jenis antar stasiun pada perairan tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Reef Check Benthos (RCB). Sebanyak 3285 individu megabentos berhasil diperoleh selama penelitian. Jumlah individu tertinggi diwakili oleh Fungia sp. yaitu 2689 individu (81,86%) dan terendah adalah Trochus sp.(1individu). Hasil analisa indeks keanekaragaman megabentos menunjukkan kategori rendah hingga sedang yang berkisar antara 0 – 0,92. Nilai indeks kemerataan jenis (J’) berkisar antara (0 – 0,99) dan indeks kekayaan jenis berkisar antara 0 – 1,36. Secara umum nilai keanekaragaman jenis fauna megabentos pada masing-masing stasiun pengamatan berada dalam kondisi yang rendah. 

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue