cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
FAUNA TANAH PADA STRATIFIKASI LAPISAN TANAH BEKAS PENAMBANGAN EMAS DI JAMPANG, SUKABUMI SELATAN Erniwati - Erniwati
ZOO INDONESIA Vol 17, No 2 (2008): November 2008
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v17i2.128

Abstract

Erniwati. 2008. Soil fauna of soil layer stratifications in the ex-gold mining area inJampang, Sukabumi Selatan . Zoo Indonesia 17(2): 83-91. Study on the diversity ofsoil fauna was conducted in the degraded area post gold mining at Jampang, SouthSukabumi, West Java. Soil fauna samples were collected from two plots of 20 x 10 mwhich were established randomly within one hectare area. Each plot was divided into20 subplots at 2 x 5 m in size. Soil samples were taken by digging to pits alternatelyamong the 20 subplots. In each subplots, soil collection was conducted at 5 cm intervalwith the size 20 x 20 x 25 cm (length x width x depth) until 25 cm in depth and collectedon separate cotton bags. Arthropods and other fauna were collected by aspirator or byhand and preserved in vials containing 96% ethanol. A total of 1584 individuals of soilfauna were collected from the two locations, represented by 14 families, 9 orders, and8 classes. Soil fauna being found were Gryllidae, Blattidae, Isoptera, Formicidae,Arachnida, Gastropoda, Collembola, Oligochaeta, and others Arthropoda. The dominanttaxa was ants (Formicidae) and earth worms (Oligochaeta).
The Use of Internal Marker to Estimate Digestibility in Black-Capped Lory (Lorius Lory., 1758) Andri Permata Sari; Rini Rachmatika
ZOO INDONESIA Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v25i1.3023

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menghitung nilai serapan nutrien menggunakan metode koleksi total dan rasio abu pada nuri kepala hitam (LoriusloryL.,1758) yang diberi pakan bubur jagung giling (K1), bubur pollard (K2), dan bubur bekatul (K3). Penelitian ini terdiri dari 7 hari uji pendahuluan, dan 2 periode koleksi data masing-masing 28 hari untuk tiap perlakuannya. Jadi total waktu penelitian untuk setiap perlakuan adalah 73 hari. Burung nuri kepala hitam yang digunakan sebanyak 5 ekor. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, nilai energi metabolis semu (EMS) dan nilai kecernaan protein semu. Konsumsi tertinggi selama penelitian didapat dari perlakuan bubur pollard (K2). Bubur bekatul (K3) memiliki nilai EMS, efisiensi metabolik, dan nilai kecernaan protein semu (ADP) tertinggi dibandingkan yang lain. Penggunaan marker rasio abu menghasilkan nilai kecernaan nutrien yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan metode koleksi total. Sebagai kesimpulan, metode rasio abu dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk menentukan kecernaan nutrien. Selain itu, bubur bekatul direkomendasikan untuk diberikan kepada burung nuri kepala hitam
STUDI AWAL KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DI PETUNGKRIYONO, KABUPATEN PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH Rury Eprilurahman
ZOO INDONESIA Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v19i1.2390

Abstract

Penelitian
AVIFAUNA DIVERSITY AT CENTRAL HALMAHERA NORTH MALUKU, INDONESIA Mohammad Irham
ZOO INDONESIA Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v21i1.2355

Abstract

 Survei burung dengan menggunakan metode titik hitung dan jaring telah dilakukan di Halmahera, Maluku Utara di empat lokasi utama yaitu Wosea, Ake Jira, Tofu Blewen dan Bokit Mekot. Sebanyak 70 spesies burung dari 32 famili dijumpai selama penelitian lapangan. Keragaman burung tertinggi ditemukan di Tofu Blewen yaitu 50 spesies (Indeks Shannon = 2.64) kemudian diikuti oleh Ake Jira (48 spesies, Indeks Shannon = 2,63), Wosea (41 spesies, Indeks Shannon = 2,54) dan Boki Mekot (37 spesies, Indeks Shannon = 2,52 ). Berdasarkan Indeks Kesamaan Jaccard, komunitas burung di Wosea jauh berbeda dibandingkan lokasi lain. Gangguan habitat dan ketinggian memperlihatkan pengaruh pada keragaman burung terutama pada jenis-jenis endemik dan terancam seperti komunitas di Wosea. Beberapa jenis burung, terutama paruh bengkok seperti Kakatua Putih, menunjukkan hubungan negatif dengan ketinggian . 
Identifikasi Spesies Kepiting Bakau Famili Ocypodidae di Kabonga Kecil, Donggala, Sulawesi Tengah Donny Aprilyanto; Fahri Fahri; Annawaty Annawaty
ZOO INDONESIA Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i2.3718

Abstract

Salah satu wilayah di Sulawesi Tengah yang memiliki ekosistem hutan bakau adalah kawasan oantai Kelurahan Kabonga Kecil, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Hutan bakau yang masih banyak ditumbuhi pepohonan masih sangat memungkinkan menjadi habitat dari berbagai fauna akuatik termasuk kepiting bakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi dan mendeskripsi jenis kepiting mangrove famili Ocypodidae di Kabonga Kecil, Banawa, Sulawesi Tengah. Koleksi sampel dilaksanakan pada bulan JUnu 2016 dan Januari 2017 menggunakan metode purposive sampling pada empat stasiun peneltiian di area pasang surut hutan mangrove. Identifikasi dilakukan di laboratorium biodeiversitas jurusan Biologi FMIPA UNTAD dan laboratorium Crustacea, MZB, LIPI. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enal spesies kepiting famili Ocypodidae di Kabonga Kecil. Keenam spesies tersebut termasuk ke dalam 3 genus yaitu (Austruca (A. annulipes, A. triangularis, dan A. perplexa). Tubuca (T. dussumieri dan T. demani), dan Gelasimua (G. vocans)
THE FEATHER MITES (ACARI; PTEROLICHIDAE) OF PSITTACINE BIRDS FROM MANUSELA NATIONAL PARK, SERAM ISLAND Sri - Hartini
ZOO INDONESIA Vol 16, No 2 (2007): November 2007
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v16i2.118

Abstract

Psittacine or parrots are colorful birdswith large heads, powerful, hookedbeaks and strong flexible feet with twotoes pointing backwards (MacKinnon1988). They are popularly kept as petanimals because of their beautifulappearance or their ability to imitatehuman and other voices. Their dailycontact with human being mayprobably transmit bird diseases suchas virus and bacteria vectored by theirparasites. A great deal diseasesagents has been learned concerningectoparasites of birds from many partsof the world, such as Southeast Asia(McClure et.al. undated) and in SouthAmerica (Perez & Atyeo 1984) andAfrica (Zump 1961).
KELIMPAHAN DAN POLA PERTUMBUHAN, SERTA PARASIT RUSA (CERVUS TlMORENSIS MOLUCCENSIS) DI DAS BIAN-MERAUKE, IRIAN JAYA Ibnu Maryanto; Achmad Saim
ZOO INDONESIA No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i25.2427

Abstract

Abstrak
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN JENIS MOLUSKA BAKAU: EFEK LUBANG AIR Arie Budiman
ZOO INDONESIA No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i30.2381

Abstract

Pattern of species abundance
PRODUKSI MONOSEKS GUPPY (Poecilia reticulata) JANTAN DENGAN PERENDAMAN INDUK BUNTING DAN LARVA DALAM PROPOLIS BERBAGAI ARAS DOSIS Munti Sarida; D D Putra; Heronimus Sandi Y Marsewi
ZOO INDONESIA Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v20i2.2344

Abstract

Produksi populasi monoseks guppy (Poecilia reticulata Peters, 1859) sebagai solusi untuk mengatasi masalah fekunditas rendah dan mempermudah pemasaran benih sebagai salah satu ikan hias. Tujuan penelitian untuk mencari perlakuan terbaik untuk memproduksi populasi jantan guppy dengan merendam induk bunting dan larva umur 2 hari setelah menetas dalam propolis dan 17?-metiltestosteron (MT). Rancangan percobaan yang digunakan adalah perlakuan dosis propolis (50, 100, dan 150 ?L/L), dosis MT 2000 ?L/L, dan kontrol (tanpa penambahan propolis atau MT), dengan pengulangan 3 kali. Percobaan pe-rendaman induk bunting dan larva umur dua hari dalam setiap perlakuan selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman induk bunting dan larva umur dua hari setelah lahir dalam larutan propolis memberikan pengaruh terhadap persentasi populasi jantan guppy dibandingkan dengan kontrol (P<0,05). Persentase populasi jantan guppy relatif lebih tinggi pada perlakuan perendaman larva sebesar 67,13% dibandingkan dengan perendaman induk bunting 64,88%; keduanya dicapai pada dosis 100 ?l/L. Persentase interseks lebih tinggi dicapai pada perlakuan menggunakan MT (20,19% dan 10,12%) dibandingkan perlakuan menggunakan propolis (16,74 % dan 8,42%), pada perendaman larva dan induk bunting berturut-turut. Propolis memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan metiltestosteron untuk memproduksi populasi jantan guppy. 
Collembola permukaan tanah kebun karet Lampung Fatimah Fatimah; Endang Cholik; Yayuk R. Suhardjono
ZOO INDONESIA Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v21i2.344

Abstract

Penelitian Collembola tanah dilakukan di Desa Bogorejo, Kecamatan Gedongtatan, Kabupaten Pesawaran pada bulan April 2012 yang lalu. Penelitian yang dilakukan merupakan langkah awal untuk mengamati Collembola pada lantai perkebunan karet khususnya di Lampung. Lokasi yang diamati terbagi menjadi 6 petak dengan komposisi vegetasi yang beragam. Metode koleksi yang digunakan adalah perangkap sumuran, pengambilan contoh serasah dan tanah. Dari penelitian ini diperoleh Collembola sebanyak 13.170 individu dari 40 famili (suku) dan 4 ordo (bangsa). Terdapat perbedaan keanekaragaman spesies antar petak yang diamati diduga terkait dengan perbedaan komposisi vegetasi yang berpengaruh terhadap kondisi serasah dan humus di bawahnya. Beberapa spesies terperangkap dalam jumlah ratusan sampai ribuan, seperti Cerathophysella sp., Acrocyrtus sp. 1, Acrocyrtus sp. 2, Entomobryidae sp. 1, Cryptopygus sp. 1, dan Arrhopalites sp. 1. Beberapa spesies lainnya dijumpai dalam jumlah banyak tetapi kurang dari 100 individu. Lapisan permukaan memiliki angka keanekaragaman dan jumlah spesies lebih tinggi dibanding serasah dan tanah. Beberapa spesies yang terperangkap di perangkap sumuran, juga merupakan spesies yang menghuni vegetasi tumbuhan bawah, seperti anggota Paronellidae dan beberapa Entomobryidae. Ditinjau dari spesies yang dominan, ternyata hanya diwakili oleh beberapa yaitu dari ordo Poduromorpha hanya 2 spesies Hypogastruridae, ordo Entomobryomorpha diwakili oleh anggota famili Entomobryidae (7 spesies), Isotomidae (2 spesies) dan Paronellidae (1 spesies). Sedangkan Symphypleona diwakili 3 famili yaitu Arrhopalitidae, Dicyrtomidae dan Sminthuridae, masing-masing satu spesies.

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue