cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 24 No 2 (2023)" : 15 Documents clear
Uji Kombinasi Daun Bangun-Bangun (Coleus amboinicus Lour) dan Jahe Putih (Zingiber officinale) terhadap Kesehatan dan Keamanan Ayam Pedaging Andriyanto Andriyanto; Aulia Andi Mustika; Wasmen Manalu; Rindy Fazni Nengsih; Hamdika Yendri Putra; Silmy Kamila Widyanti; Leliana Nugrahaning Widi; Lina Noviyanti Sutardi
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.164

Abstract

ABSTRAK Daging ayam merupakan salah satu produk asal ternak yang memiliki angka konsumsi cukup tinggi, karena mudah diperoleh, pertumbuhannya cepat, dan harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan produk asal ternak besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian simplisia kombinasi daun bangun-bangun dan jahe putih (DBJP) terhadap performa ayam pedaging, terutama dalam hal kesehatan dan keamanannya. Sebanyak 60 ekor ayam pedaging day old chick strain Cobb dibagi menjadi empat kelompok perlakuan dengan 15 ulangan. Ayam percobaan diberi DBJP secara oral dengan dosis 0 (kontrol) dan dosis perlakuan dengan rasio DBJP 1:1 (62,5, 125, 187,5) mg/100 mL air minum. Pemberian simplisia DBJP dilakukan selama 28 hari melalui air minum yang dimulai pada hari ke-8 sampai dengan hari ke-35. Variabel penelitian yang diukur terdiri atas kesehatan (eritrogram, leukogram, rasio H/L), fungsi hati (SGPT, SGOT), dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin). Pemberian simplisia DBJP pada semua dosis tidak menyebabkan perubahan pada profil darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pemberian simplisia DBJP dengan rasio 1:1 melalui air minum dapat meningkatkan kesehatan dan aman digunakan pada ayam pedaging.
Adenokarsinoma pada Kelenjar Ambing Kucing Ras Himalaya: Tampilan Klinik, Penanganan dengan Mastektomi dan Hasilnya I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Wayan Batan; Adrian Hasan Rahmatullah
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.221

Abstract

Adenokarsinoma kelenjar mammae adalah pertumbuhan sel-sel kelenjar yang tidak terkontrol dan tidak terkoordinasi umumnya dijumpai pada anjing dan jarang pada kucing. Adenokarsinoma mammae pada kucing bersifat malignant dan merusak jaringan kelenjar mammae secara progresif, sehingga berakibat fatal pada kucing. Seekor kucing Himalaya berusia 4 tahun, berjenis kelamin betina yang belum disteril, bobot badan 3 kg, warna bulu coklat tua, mengalami pembengkakan pada satu kelenjar mammae bagian belakang sebelah kanan dan tidak mau mengecil. Pemeriksaan dengan palpasi adanya massa yang menonjol cukup besar, terasa keras dan padat pada kelenjar mammae. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor, kucing didiagnosa menderita adenokarsinoma ditandai dengan sel-sel kelenjar mengalami proliferasi tidak terkontrol, bersifat infiltratif, adanya proses angiogenesis, adanya sel-sel tumor pada pembuluh darah kelenjar, ductus, bentuk dan ukuran ductus yang bervariasi (pleomorfik). Penanganan dilakukan dengan pembedahan mastektomi yaitu pengangkatan kelenjar mammae yang terdapat jaringan tumor. Pascaoperasi kucing diberikan cefotaxime 20 mg/kg BB IV (q12h), dan tolfedine 4 mg/kg BB IM (q24h) selama tiga hari dan dilanjutkan dengan pemberian cefixime trihydrate 10 mg/kg BB (q12h), dan deksametason 0,08 mg/ kg BB (q12h) secara oral selama 5 hari. Kucing dinyatakan sembuh pada hari ke 14 pascaoperasi dengan luka operasi telah mengering, nafsu makan, minum baik, defikasi dan urinasi normal serta pemeriksaan radiografi, dan hematologi kucing dalam keadaan normal.
Kajian Pustaka: Kematian Massal pada Burung Gereja (Passer montanus) Akibat Infeksi Salmonella typhimurium Ida Bagus Ketut Indra Permana; Umi Reston; Ni Nyoman Widiasih; Makrina Weni Misa; I Wayan Batan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.254

Abstract

Kasus kematian massal burung gereja di Indonesia telah dilaporkan terjadi di beberapa daerah dalam beberapa tahun terakhir, yaitu di Gianyar (Bali), Sukabumi, dan Cirebon. Penyebab pasti dari kematian burung gereja yang terjadi di Indonesia hingga saat ini belum dapat diungkapkan. Dikarenakan kasus kematian massal burung gereja di Indonesia belum begitu banyak dilaporkan dan dibahas, sehingga parameter yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan agen dari kejadian kematian massal burung gereja di Indonesia dalam artikel ini hanya dari gejala klinis serta keadaan cuaca pada saat terjadinya kejadian kematian massal burung gereja di Indonesia. Kasus kematian massal pada burung gereja juga telah terjadi di dunia, dilaporkan setidaknya sejak pertengahan abad ke-20. Salmonellosis septikemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica subsp. Enterica serovar Typhimurium (S. typhimurium) adalah yang penyebab utama kematian massal burung gereja di dunia. Bakteri Salmonella enterica adalah patogen yang bersifat zoonosis dan ditularkan melalui makanan. Patogen ini diperkirakan menyebabkan ratusan juta kasus penyakit setiap tahunnya. Gejala klinis yang terjadi pada kejadian kematian massal Burung Gereja di berbagai negara diantaranya lesi nekrotik di kerongkongan, hati dan limpa, kelemahan, kelesuan, ketidakmampuan untuk terbang, dan hipotermia dan mati setelah dua jam, kelesuan disertai dengan mata tertutup, bulu-bulu mengembang, keengganan untuk terbang, terisolasi dari kawanannya, dan melompat-lompat sekitar tampaknya tidak menyadari lingkungan, mereka juga menunjukkan diare dan tenesmus Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menggali informasi mengenai kasus kematian burung gereja yang terjadi di dunia yang kemudian dikaitkan dengan kasus kematian burung gereja yang terjadi di Indonesia. Sebanyak delapan laporan kasus Salmonella typhimurium pada Burung gereja dipilih dan dijadikan sebagai sumber informasi untuk kajian pustaka.
Ekstrak Daun Pulutan (Urena lobata L.) dalam Memengaruhi Mortalitas dan Morfologi Larva Nyamuk Aedes aegypti Linn. Firman Andani; Ngurah Intan Wiratmini; Sang Ketut Sudirga
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.156

Abstract

Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor virus penyebab penyakit demam berdarah dengue. Upaya pengendalian nyamuk telah dikembangkan, seperti penggunaan larvasida sintetis. Namun, upaya tersebut menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Larvasida alami perlu dikembangkan karena bersifat ramah lingkungan. Tumbuhan pulutan (Urena lobata L.) salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai larvasida alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun pulutan terhadap mortalitas dan gambaran morfologi larva nyamuk A. aegypti. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pelarut yang digunakan dalam pembuatan ekstrak adalah etanol 96%. Ekstrak kasar daun pulutan konsentrasi 0%; 0,1%; 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; 2,5%; 3%; dan 3,5% diujikan pada 20 larva nyamuk A. aegypti instar 3. Parameter penelitian yang diamati adalah jumlah mortalitas larva dan gambaran kerusakan morfologi larva. Hasil analisis Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan yang nyata antara kontrol dengan semua perlakuan dalam hal mortalitas. Hasil uji Post-hoc Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan nyata antara kelompok kontrol, konsentrasi 0,1% dan 0,5% (p<0,05), sementara sisanya mengalami mortalitas 100% (p>0,05). Simpulannya adalah ekstrak daun pulutan (U. lobata L.) pada konsentrasi 0,1%; 0,5% dan 1-3,5% menyebabkan mortalitas larva nymuk A. aegypti sebesar 10%, 55% dan 100%. Karakter morfologi larva A. aegypti yang ditemukan adalah perubahan pada warna tubuh, leher larva bertambah panjang , kerusakan pada antena, menyempitnya saluran pencernaan, melebarnya segmen anal, rambut seta dibagian thoraks, abdomen dan segmen anal tidak beraturan, serta kerontokan rambut seta pada segmen 4 hingga 7.
CHARACTERISTICS OF THE BODY SIZE OF THE SENDURO GOAT WHICH IS ORIGIN FROM SENDURO, LUMAJANG, EAST JAVA Guruh Prasetyo; Tri Eko Susilorini; Wike Andre Septian; Yuli Arif Tribudi; Ahmad Zarkasi Efendi; Nur Hidayah; Heri Damayanti; Suyadi Suyadi
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.230

Abstract

Germplasm diversity is a valuable source of genetic material whose existence needs to be protected and preserved. One of the original Indonesian goat germplasms is Senduro goat, which has been established by the Decree of the Ministry of Agriculture Republic of Indonesia No. 1055/Kpts/ SR.120/10/2014 and originates from Senduro District, Lumajang Regency, East Java. The purpose of the study was to analyze the phenotypic traits of Senduro goats based on their quantitative traits. Phenotype observations include body length, chest circumference, shoulder height, ear length, and rewos hair length and correlate each phenotype trait. The materials used in this study were 14 and 25 head of adult male and female Senduro goats, respectively. Senduro goats that were observed in the condition of incisor the thirdth (I3 ) were replaced by permanent teeth, it mean the Senduro goats aged 2-4 years. The morphometric data obtained were calculated as mean, standard deviation, and correlation between morphometric measures using the Genstat 14.2 program and then analyzed descriptively. The results of this study showed that Senduro goats had a body weight of 24.56 ± 5.48 kg (male) and 26.84 ± 6.50 kg (female), a body length of 63.89 ± 4.76 cm (male) and 63.32 ± 6.29 cm (female), a chest circumference of 61.67 ± 4.36 kg (male) and 66, 48 ± 6.56 cm (female), a shoulder height of 66.33 ± 4.53 cm (male) and 64.71 ± 5.76 cm (female), ear length of 31.22 ± 2.17 cm (male) and 28.13 ± 2.74 cm (female), and length of rewos/surai hair of 17.56 ± 1.67 cm (male) and 14.58 ± 2.39 cm (female) Morphometric measures in Senduro goats are positively correlated with each other. There is a highly significant correlation between chest circumference, body length, and height and body weight in Senduro goats.

Page 2 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2023 2023