cover
Contact Name
AHMAD SYAUQI
Contact Email
syauqiberbakti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.empati@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95, (Gedung Fak. Dakwah dan Ilmu Komunikasi Lt. III), Cempaka Putih, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 1541
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
EMPATI : JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ISSN : 23014261     EISSN : 26216418     DOI : 10.15408/empati
Core Subject : Social,
Empati: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial is a peer-reviewed journal on social welfare and social work, offering access to a better understanding of social welfare in Indonesia and developments through the publication of articles and research reports. EMPATI emphasizes on social welfare and social work practice in Indonesia, and intended to communicate original researches and current issues on various subjects such as on human service organizations, children, elderly, disability, economy, policy, health, gender, age, class, mental health, etc. The Journal provides an interdisciplinary forum to which academics and professionals working in the fields of social welfare.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
Objektivikasi Islam dalam Tema-Tema Pekerjaan Sosial (Konkretisasi Nilai-nilai Islam dalam Praktik Pekerjaan Sosial) Noorkamilah -
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 6, No 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v6i1.9778

Abstract

The metamorphosis of Islamic Education Institution such as IAIN into UIN has brought consequences, i. e. objectification of social sciences to Islamic value. This includes themes in social work discipline; as a science or as a profession. This article argues that prophetic institutionalization is crucial and significant in adjusting with challenges regarding not only as academic but also as practical purposes. Through a qualitative approach, several Islamic basic principles found that may serve as a guiding principle of general and specific themes in social work science, among general aspects are rahmatan lil ‘alamin, al-‘Amal al-Shalih, al-Ikhlas, empowerment of vurnerable group (mustadh’afin), while the specific consists of ta’awwun, tawashshou, amr ma’ruf nahi munkar, sadaqa, covering one’s ‘aib and tawakkal. Keywords: Objectivation, Islam and Social Work
FILOSOFI SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL SEBAGAI PERLINDUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA MASYARAKAT MINANGKABAU Ellies Sukmawati
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 8, No 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i1.16403

Abstract

Abstract. Minangkabau is one of the tribes in Indonesia using matrilineal as a kinship system in which the formation of lineage is arranged according to the female line. The Minangkabau kinship system uses a “Gadang” house as its symbol. The inheritance inherited by the family in the form of a “Gadang” house and assets in agriculture and fisheries to be managed and utilized together by one family (a “paruik”). Every female lineage in the family has the right to live in a “Gadang” house and their children are raised on funding from inheritance. The shared responsibility (communal) in the Minangkabau matrilineal system is seen in the supervision model applied in it, where the task of supervising and educating children in the matrilineal family is the mother and her mother’s brothers (mamak), as well as adults others inside the “Gadang” house. This study combines social protection systems with the philosophy of the Minangkabau matrilineal kinship system which can play a role in protecting the community from social problems that can disrupt the stability of the welfare of a family. But over time this matrilineal system has faded, but the symbols of the system of Gadang house can still be seen in the Minangkabau community, including those who have migrated and settled outside West Sumatra.   Abstrak. Minangkabau merupakan salah satu suku di Indonesia mempergunakan matrilineal sebagai sistem kekerabatannya di mana pembentukan garis keturunan diatur menurut garis perempuan. Sistem kekerabatan Minangkabau mempergunakan rumah gadang sebagai simbolnya. Harta pusaka yang diwariskan oleh keluarga berupa rumah gadang dan aset di bidang pertanian maupun perikanan untuk dikelola dan dimanfaatkan secara bersama oleh satu keluarga (sabuah paruik). Setiap keturunan perempuan dalam keluarga berhak untuk menghuni rumah gadang dan anak-anak mereka dibesarkan dengan pembiayaan dari harta pusaka. Tanggung jawab bersama (communal) di dalam sistem matrilineal Minangkabau terlihat pada model pengawasan yang diterapkan di dalamnya, di mana yang bertugas mengawasi dan mendidik anak-anak dalam keluarga matrilineal adalah ibu dan saudara laki-laki ibunya (mamak), serta orang-orang dewasa lainnya di dalam rumah gadang. Penelitian ini menggabungkan sistem perlindungan sosial dengan filofosi sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau yang dapat berperan untuk memproteksi masyarakat dari permasalahan sosial yang dapat mengganggu stabilitas kesejahteraan suatu keluarga. Namun seiring waktu sistem matrilineal ini telah semakin memudar, namun simbol-simbol sistem rumah gadang masih dapat terlihat pada masyarakat Minangkabau, termasuk dengan mereka yang telah merantau dan menetap di luar Sumatera Barat.  
Metode Fundraising Dana Zakat, Infak dan Sedekah pada Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kabupaten Sukabumi Niamulloh -
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 2, No 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v2i1.9769

Abstract

One of the important things in the institution of zakah is a method of fundraising, because raising money is the backbone of an organization. This research found that fundraising method of BAZDA Sukabumi to motivate donors through their programs in collecting zakah, donation, and charity from 2010 to 2011 undoubtedly increased the number of zakah, donation, and  charity to 20%,  which means that BAZDA Sukabumi has at least managed some potential zakat funds, donations, and charity in their own hometown. Keywords: fundraising, zakat, donations, and charity.
PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM PENDAMPINGAN PSIKOSOSIAL ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DI LEMBAGA KONSULTASI KESEJAHTERAAN KELUARGA (LK3) “MELATI” KABUPATEN KARAWANG Kartika Al Ashzim Kartika Al Ashzim
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 7, No 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v7i2.11197

Abstract

Abstract Children are the forerunner of the birth of the next generation that will determine the fate of the nation. Today many children do not get what they are entitled to. That way, the frequent occurrence of violence against children that occurs both in schools, homes, and in public places is more attention to protect children from acts of violence, both physical, psychological and sexual violence. This is the background to understanding the role of social workers in mentoring children victims of sexual violence in LK3 "Melati". This study uses qualitative methods that are descriptive. The results of this study prove that LK3 social workers "Melati" provide assistance by consulting client cases and then referring to relevant institutions. So that the stages of mentoring are carried out using case management stages. The method applied by LK3 social worker "Melati" is casework and case management methods. Of the seven roles of social workers according to Zastrow, social workers at LK3 "Melati" use the role of a case manager in psychosocial assistance to children victims of sexual violence. AbstrakAnak merupakan cikal bakal lahirnya generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa. Saat ini banyak anak yang tidak mendapatkan apa yang menjadi haknya. Dengan begitu, sering terjadinya kekerasan terhadap anak yang terjadi baik di lingkungan  sekolah,  rumah, maupun di tempat umum menjadi perhatian lebih untuk dapat melindungi anak dari tindak kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis maupun seksual. Hal tersebut menjadi latar belakang untuk memahami bagaimana peran pekerja sosial dalam pendampingan anak korban kekerasan seksual di LK3 “melati”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pekerja sosial LK3 “melati” melakukan pendampingan dengan cara konsultasi kasus klien dan kemudian merujuk ke lembaga-lembaga yang terkait. Sehingga tahapan pendampingan yang dilakukan yaitu memakai tahapan manajemen kasus. Adapun metode yang diterapkan oleh pekerja sosial LK3 “Melati” adalah metode casework dan manajemen kasus. Dari ketujuh peran pekerja sosial menurut Zastrow, pekerja sosial di LK3 “Melati” lebih menggunakan peran sebagai case manager dalam melakukan pendampingan psikososial terhadap anak korban kekerasan seksual. 
Diskursus Peminggiran Anak Jalanan Syiqqil Arofat
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 3, No 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v3i1.9760

Abstract

Diskursus pembangunan sering mengeksklusi kelompok yang dianggap mengganggu tatanan sosial; salah satunya adalah penanganan anak jalanan oleh pemerintah daerah di Kota Tangerang Selatan. Implementasi kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah daerah sering hanya bersifat instrumental, bahkan cenderung represif, serta tidak mengatasi akar persoalan anak jalanan. Hal itu merupakan konsekuensi dari konstruksi sosial, terutama melalui penetapan stigma-stigma negatif bagi anak jalanan, yang dikembangkan oleh para aktor pembangunan. Sehingga ketimpangan sosial pun bertahan tanpa adanya solusi kreatif dalam pemberdayaan anak jalanan. Karenanya, tulisan ini berupaya meninjau diskursus pembangunan sosial dan konsekuensinya bagi anak jalanan, serta mengusulkan pola pembangunan sosial yang lebih kreatif dan partisipatif dalam menangani anak jalanan.Keywords: diskursus pembangunan, eksklusi sosial, anak jalanan, ruang alternatif.
COPING STRATEGY OF PLWHA THROUGH ECONOMIC EMPOWERMENT: A LITERATURE REVIEW Hannin Pradita N Soulthoni; Johanna Debora Imelda
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i1.19981

Abstract

Abstract. In Indonesia, the HIV-AIDS case is one of the sensitive issues in which the spread of this case continues to increase every year. The problems of people living with HIV-AIDS (PLWHA) consist of physical dimensions, economic dimensions, and social dimensions. A potential intervention model that can be done to help break the vicious circle for PLWHA sufferers is economic empowerment. So it is necessary to support microeconomic finance in carrying out conventional financial practices which can later have implications for health and economic success for PLWHA through collaboration. PLWHA faces conditions of disadvantage in the form of stigma, physical decline, and economic problems. For this reason, it is necessary to have an appropriate coping strategy from PLWHA in the form of empowering micro-business economies. The implementation of economic empowerment needs to require a good support system in the form of collaboration in which the family, government, and NGOs help carry out economic empowerment. The research method used is a literature review. The journal criteria that have been selected by researchers in this study discuss PLWHA, the existence of similarities in research in the form of coping strategies for economic empowerment, as well as being relevant and accredited. The results of the analysis identified PLWHA in overcoming the economic problems they face can be assisted through a coping strategy that focuses on problems (problem-focused coping) by involving collaborators in overcoming these problems through economic empowerment.Abstrak. Di Indonesia kasus HIV-AIDS merupakan salah satu isu sensitif di mana dalam penyebarannya kasus ini terus mengalami peningkatan setiap tahun. Permasalahan orang dengan HIV-AIDS (ODHA) terdiri dari dimensi fisik, dimensi ekonomi, dan dimensi sosial. Model intervensi potensial yang dapat dilakukan dalam membantu melepaskan lingkaran setan bagi penderita ODHA adalah dengan pemberdayaan ekonomi. Sehingga perlu dukungan keuangan mikro ekonomi dalam menjalankan praktik keuangan konvensional yang nantinya dapat menghasilkan implikasi dalam keberhasilan kesehatan dan perekonomian bagi ODHA dengan cara kolaborasi. ODHA menghadapi kondisi tidak beruntung dalam bentuk stigma, penurunan fisik, dan masalah ekonomi. Untuk itu perlu adanya coping strategi yang tepat dari ODHA dalam bentuk pemberdayaan ekonomi usaha mikro. Pelaksanaan pemberdayaan ekonomi perlu membutuhkan support system yang baik dalam bentuk kolaborasi di mana swasta, pemerintah, serta LSM membantu menjalankan pemberdayaan ekonomi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review. Kriteria jurnal yang telah dipilih oleh peneliti dalam penelitian ini membahas mengenai ODHA, adanya kesamaan penelitian berupa coping strategi pemberdayaan ekonomi, serta relevan dan juga terakreditasi. Hasil analisis mengidentifikasikan ODHA dalam mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapinya dapat dibantu melalui strategi coping yang berfokus kepada masalah (problem focused copping) dengan melibatkan kolaborator dalam mengatasi permasalahan tersebut dengan melalui pemberdayaan ekonomi.
STRATEGI FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA DIGITAL Nadya Kharima; Fauziah Muslimah; Aninda Dwi Anjani
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i1.20574

Abstract

Abstract. The phenomenon of digital media utilisation is currently in turmoil, in addition to the increasing need due to the coronavirus outbreak (COVID-19) which forces us to always be connected. The use of digital media is a form of adaptation in terms of communication during a pandemic. One of the Islamic philanthropies that uses digital media is the Wisata Panti (Orphanage Tourism) Community. Founded in 2015, this community maximizing the use of various media platforms, starting from the website, Instagram, YouTube and Facebook. With the presence of this orphanage tourism community, it can refer for researchers to see how Islamic philanthropic strategies based on digital media. This research uses a qualitative approach, with a descriptive case study strategy. This study aims at understanding comprehensively and deeply how the digital media-based Islamic philanthropic strategy is carried out by the Wisata Panti community. This research draws several conclusions including; Firstly, in the digital era, social media has become a new platform for promotion in the form of community branding. Secondly, social media can be a new platform for raising funds or online donations that finance social activities in WP. Thirdly, being active on social media is done with a special strategy of good content management. Fourthly, the success of community branding on social media has allowed the WP Community to legally turn into a Foundation. Fifthly, some shortcomings are not so significant in terms of the number of followers, likes, and comments. However, from the start, it was not the focus of WP's social media goals, which only wanted to share promotional content for social activities and fundraising. Abstrak. Fenomena penggunaan media digital saat ini tengah bergejolak. Di samping karena kebutuhan yang makin tinggi akibat wabah virus corona (COVID-19) yang memaksa kita untuk selalu terhubung, penggunaan media digital sebagai salah satu bentuk adaptasi dalam hal komunikasi di masa pandemi. Salah satu filantropi Islam yang menggunakan media digital adalah Komunitas Wisata Panti (WP). Sebuah komunitas yang berdiri pada tahun 2015 dengan berbagai platform media yang digunakan, mulai dari website, Instagram, YouTube dan Facebook. Dengan kehadiran komunitas wisata panti ini dapat membuat referensi bagi peneliti untuk melihat bagaimana strategi filantropi islam berbasis media digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan strategi studi kasus secara deskriptif. Hal tersebut dikarenakan penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab pertanyaan rumusan masalah secara komprehensif dan mendalam mengenai bagaimana strategi filantropi Islam berbasis media digital yang dilakukan komunitas Wisata Panti. Selanjutnya, berdasarkan latar belakang dan metode tersebut, hasil penelitian ini adalah; pertama, di era digital media sosial menjadi sebuah wadah baru untuk melakukan promosi berupa community branding. Kedua, media sosial bisa menjadi wadah baru untuk galang dana atau donasi online yang membiayai kegiatan sosial di WP. Ketiga, aktif di media sosial tersebut dilakukan dengan strategi khusus manajemen konten yang baik. Keempat, kesuksesan community branding di media sosial membuat komunitas WP bisa beralih menjadi Yayasan secara legal. Kelima, ada kekurangan yang memang dari segi jumlah followers, like, dan komen tidak begitu signifikan pertambahannya. Berdasarkan hasil wawancara, fokus tujuan media sosial WP adalah untuk membagikan konten promosi kegiatan sosial dan galang dana.
PENGEMBANGAN KOMUNITAS DALAM MEWUJUDKAN LINGKUNGAN RAMAH ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Pairan Pairan; Savira Auliya Abdullah
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 9, No 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v9i2.18039

Abstract

Abstract. Special needs children as a part of the group with social welfare problems need to get more attention to the fulfillment of their rights and needs in accomplishing their social functions. A problem that faced by persons with disabilities, especially for special needs children, is unfriendly environmental conditions. Yayasan Peduli Kasih ABK, a non-profit organization which has concern on disability issues commited to create a friendly environment for special needs in Mulyorejo Surabaya. they create the environment by providing services and organizing activities that can help families with special needs, community, and health workers to optimize early detection and basic treatment for special needs children. By the qualitative method, this study discusses the process of creating a special needs friendly environment through community development. The result of this study showed that the activities starting from group discussion, gathering the participation of special needs and families, socialization, assesment, counselling, training for health workers, talent assistance for children and parents. The activities as a whole can be interpreted as a community development because community awareness and concern raise through the participation of all components in society, that are local government, community health workers, the community itself, and families with special needs altogether make a change by utilizing resources from the community so that independence arise. Abstrak. Anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai salah satu bagian dari kelompok penyandang masalah kesejahteraan sosial perlu memperoleh perhatian lebih terkait pemenuhan hak-hak serta kebutuhan dalam proses melaksanakan fungsi sosialnya. Permasalahan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus salah satunya adalah kondisi lingkungan yang belum ramah. Yayasan Peduli Kasih ABK, sebuah lembaga non-profit yang memiliki perhatian terhadap isu disabilitas berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak berkebutuhan khusus di wilayah Kecamatan Mulyorejo Surabaya melalui penyediaan layanan dan penyelenggaraan kegiatan yang dapat membantu keluarga dengan ABK, masyarakat, dan fasilitas kesehatan untuk optimalisasi deteksi dini serta penanganan dasar bagi ABK. Dengan metode kualitatif, penelitian ini membahas proses mewujudkan lingkungan ramah ABK melalui upaya pengembangan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktvitas yang diinisiasi mulai dari diskusi kelompok, menghimpun partisipasi ABK dan keluarga, sosialisasi, assesment dan konsultasi psikologis, pelatihan bagi kader dan tenaga kesehatan, hingga pendampingan minat dan bakat bagi ABK dan orang tua secara utuh dapat dimaknai sebagai upaya pengembangan komunitas, karena kesadaran dan kepedulian komunitas tumbuh melalui adanya partisipasi seluruh komponen masyarakat yaitu pemerintah lokal, tenaga kesehatan setempat, komunitas warga, dan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus untuk mewujudkan suatu perubahan dengan mendayagunakan sumber yang berasal dari komunitas sehingga timbul kemandirian.
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PEMANFAATAN POTENSI BUDAYA LOKAL Madania Cahya Rani; WG. Pramita Ratnasari
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i1.21505

Abstract

Abstract. Betawi batik in the Terogong area has existed since the 1960s constitutes craftsmen mostly women. However, with the development of modernization, this culture has begun to disappear since the 1970s. The founders of Terogong Betawi Batik, Mrs Siti Laila and Mrs Hafidzoh saw this as a potential to empower local women and revive the culture of their ancestors. This study aims to understand the empowerment process carried out by Terogong Betawi Batik craftsmen, and to see the results obtained by these female craftsmen during their involvement in this home industry. This research was conducted using a descriptive qualitative research type with observation, interviews, and documentation studies data collection techniques. The theory employed in this research is the stage theory proposed by Teguh Sulistiyani, and the theory of believing empowerment to see the results put forward by Schuler, Hashemi and Riley as quoted by Edi Suharto. The results of this study indicate that the empowerment process within the Terogong Betawi Batik female craftsman could positively increase their capacities such as freedom of mobility, acquaintance ability, well-coordinated capability, the augmented involvement in household decisions, and economic family security. These craftswomen who succeeded in the empowerment process carried out by Terogong Betawi Batik management achieved benefits both in material and intellectual. Abstrak. Batik Betawi di wilayah Terogong sudah ada sejak tahun 1960-an dengan pengrajin yang mayoritas perempuan. Namun seiring berkembangnya zaman yang semakin modern, budaya tersebut sudah mulai hilang sejak tahun 1970-an. Pendiri Batik Betawi Terogong, Ibu Siti Laila dan Ibu Hafidzoh melihat hal tersebut sebagai potensi yang mereka punya untuk memberdayakan perempuan sekitar dan membangkitkan kembali budaya yang dimiliki nenek moyangnya terdahulu. Tujuan dari penelitian ini untuk lebih mengetahui proses pemberdayaan yang dilakukan oleh para perempuan yang berlatar belakang budaya Betawi sebagai pembatik batik Betawi Terogong, dan mengetahui hasil yang diperoleh pengrajin perempuan selama bergabung dalam industri rumahan tersebut. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori tahapan pemberdayaan yang dikemukakan oleh Teguh Sulistiyani, dan teori keberhasilan pemberdayaan untuk melihat hasil yang dikemukakan oleh Schuler, Hashemi dan Riley dalam Edi Suharto. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya usaha Batik Betawi Terogong tersebut proses pemberdayaan yang dilakukan pengrajin perempuan dapat meningkatkan kapasitas diri mereka seperti: kebebasan mobilitas, kemampuan membeli kebutuhan rumah tangga, dan ikut terlibat dalam keputusan-keputusan rumah tangga, dan jaminan ekonomi keluarga. Para perempuan pengrajin batik Betawi Terogong sudah berhasil dalam proses pemberdayaan yang dilakukan oleh pengelola Batik Betawi karena banyak manfaat yang didapat dari materiil maupun intelektual mereka dari proses tersebut.
PENDEKATAN GROUP WORK DALAM PRAKTIK PEKERJAAN SOSIAL: PENGALAMAN PEKERJA SOSIAL DI LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL (LKS) DI INDONESIA Siti Napsiyah; Ahmad Zaky
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 9, No 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v9i2.17869

Abstract

Abstract. Group work in social work practice is one of methods for social workers’ intervention to help the client to cope with their social problems. This research aims to discuss the importance of group work method in social work practices: How they use group work methods, what are the steps of group development process; what are ethical and cultural issues occur during the process? Research method used is qualitative method. Data collection of the research is throughout interview as well as online survey. This research uses also document analysis throughout search engine such as google scholar and google form. The result of the study shows that group work becomes strategic method for social workers to help the client to solve their problems. This study also confirms social workers in social welfare institutions (LKS) in Indonesia are mostly use group work method. Interestingly, this research discuss the issue of cultural and religious ethics in the context of group process in Muslim group and community.   Abstrak. Pendekatan group work dalam praktik pekerjaan sosial merupakan salah satu pendekatan yang menjadi andalan praktik profesi pekerja sosial dalam memberikan pertolongan kepada klien (individu, kelompok, komunitas, dan organisasi) dalam menyelesaikan masalah. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan tentang metode group work dalam praktik pekerjaan sosial, bagaimana pekerja sosial menggunakan metode group work dalam menyelesaikan permasalahan klien, bagaimana dinamika kelompok muncul dalam proses group work, dan mendiskusikan tentang bagaimana isu etik dan sensitivitas budaya muncul saat proses pelaksanaan group work. Jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian kualitatif deskriptif. Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri sumber-sumber pada mesin pengindeks dan data base yang mendukung open access, seperti google cendekia (google scholar), academia.edu, dan lain-lain. Penelitian juga dilakukan dengan menggunakan survey kepada pekerja sosial melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode group work dinilai sebagai pendekatan yang sangat penting bagi pekerja sosial dalam menyelesaikan permasalah sosial yang bersifat kelompok. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam proses pelasaksanaan metode group work terdapat dinamika kelompok dan sensitivitas sosial dan agama. Sehingga isu integrasi keilmuan, keislaman dan keindonesiaan menjadi menarik dalam diskusi paper ini.

Page 8 of 31 | Total Record : 304


Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2025): Empati Edisi Juni 2025 Vol 13, No 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol. 12 No. 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol 11, No 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 11, No 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 10, No 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol 9, No 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 9, No 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 8, No 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol 8, No 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol 7, No 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol 7, No 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol 6, No 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 5 No. 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 5, No 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 4, No 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol. 3 No. 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol 3, No 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol. 2 No. 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 2, No 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 1, No 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 More Issue