cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 6 (2011)" : 12 Documents clear
Perbandingan Pediatric Logistic Organ Dysfunction dan Pediatric Risk of Mortality III Sebagai Prediktor Kematian Sindrom Syok Dengue di Ruang Rawat Intensif Anak Henny Rosita Iskandar; Dharma Mulyo; Antonius Pudjiadi; Agnes Pratiwi; Yuliatmoko Suryatin
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.440-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom syok dengue (SSD) merupakan bentuk demam berdarah dengue (DBD) berat.Mortalitas SSD pada Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita (RSAB HK) cukup tinggi ( 13,2% ).Tujuan. Menilai perbandingan pediatric logistic organ dysfunction (PELOD) dan pediatric risk of mortality(PRISM) III sebagai prediktor kematian SSD pada anak yang dirawat di ruang perawatan intensif anak.Metode. Penelitian prospektif, 41 anak dengan SSD yang dirawat di ruang perawatan intensif dari bulanJanuari - Desember 2006 di RSAB HK dilibatkan dalam penelitian. Diagnosis SSD ditegakkan berdasarkankriteria WHO tahun 1997 dan dikonfirmasi dengan serologi positif Dengue Blot yang dilakukan pada harikelima demam. Perhitungan skor PELOD and PRISM III dilakukan dari hasil pemeriksaan pada haripertama masuk ruang rawat intensif.Hasil. Terdapat 41 subyek yang diteliti, umur dari 8 sampai 180 bulan. Kematian terjadi pada 5 anak(12,1%). Rerata skor PELOD anak yang meninggal 22,2 dan yang hidup 7,7 sedangkan rerata skor PRISMIII anak yang meninggal 22 dan yang hidup 9,4. Analisa skor PELOD dan PRISM III menurut Mann-Whitney U test terdapat perbedaan bermakna antara anak yang meninggal dan hidup dengan p = 0,001untuk PELOD dan p=0,005 untuk PRISM III. Kurva receiver operating characteristic (ROC) dengan CI95% 0,953 untuk PELOD dan 0,889 untuk PRISM III.Kesimpulan. Skor PELOD dan PRISM III merupakan alat yang baik untuk memprediksi kematian pasienanak SSD yang dirawat di ruang intensif anak. Skor PELOD sedikit lebih baik dari skor PRISM III.
Wabah Difteri di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia Kusnandi Rusmil; Alex Chairulfatah; Eddy Fadlyana; Meita Dhamayanti
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.397-403

Abstract

Latar belakang.Sejak tahun 1986 tidak ditemukan lagi kasus difteri yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat. Namun, wabah difteri selalu terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Barat seperti yang dilaporkan sejak tahun 1993 sampai tahun 2010. Kementerian Kesehatan juga melaporkan peningkatan kasus difteri di beberapa provinsi di Indonesia tahun 2010. Suatu penelitian saat wabah di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur tahun 2001 sebagai gambaran kejadian wabah di salah satu kabupaten di Jawa Barat.Tujuan. Menggambarkan kejadian wabah difteri, mengetahui tingkat kekebalan dengan mengukur kadar antibodi difteri dan untuk menemukan kemungkinan adanya kuman C. difteriaeberedar di masyarakat di daerah wabah.Metode. Data kejadian penyakit dan kematian diperoleh dari Puskesmas Cikalong Wetan RS Cianjur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur. Data kadar antibodi diperoleh dengan mengukur kadar anti bodi terhadap difteri pada 698 subyek, yang dibagi menurut kelompok usia. Titer antibodi diukur dengan menggunakan teknik ELISA ganda.Hasil.Selama wabah terdapat 25 kasus yang dilaporkan dari Puskesmas Cikalong Wetan dengan angka kematian/crude fatality rate(CFR) 28%. Diduga kuat bahwa kasus pertama berasal dari kecamatan yang berdekatan dengan Kecamatan Cikalong Wetan. Beberapa bulan sebelumnya dijumpai kasus rawat inap 21 pasien, 55% di antaranya balita, dengan angka kematian 35% terutama disebabkan oleh miokarditis. Walaupun cakupan imunisasi difteri pertusis tetanus (DPT) tinggi pada anak kurang dari 1 tahun di Kecamatan Cikalong Wetan, hanya 19,3% anak usia 1 tahun memiliki tingkat kekebalan protektif yang memadai. Titer antibodi terus berkurang sesuai dengan meningkatnya usia anak, bahkan tidak ada subjek yang memiliki kadar protektif yang memadai pada kelompok usia 5 – 6 tahun. Enam dari 324 biakan apus tenggorokan pada masyarakat tumbuh strain toxigenic C. difteriae gravis.Kesimpulan.Wabah yang terjadi di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur disebabkan oleh karena rendahnya kadar antibodi terhadap toxigenic C.difteriaepada masyarakat.
Penanganan Demam pada Anak Inke Nadia Diniyanti Lubis; Chairuddin Panusunan Lubis
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.409-18

Abstract

Fobia demam yang terjadi pada orang tua seringkali mendorong orang tua untuk mencari informasi mengenai penanganan demam pada anak. Definisi demam bervariasi, tetapi banyak yang mendefinisikan demam sebagai temperatur >38oC. Pengukuran suhu tubuh anak haruslah mempertimbangkan masalah ekonomis, juga merupakan pengukuran yang sederahana dan cepat dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada anak. Berbagai penanganan demam telah diketahui secara umum termasuk dengan pemberian antipiretik maupun dengan metode fisik. Jenis antipiretik yang disetujui pemberiannya pada anak ialah parasetamol dan ibuprofen. Pemilihan antipiretik, cara pemberian, dan dosis antipiretik penting untuk diketahui oleh praktisi maupun orangtua dalam menangani demam, sehingga informasi yang lengkap harus diberikan kepada orang tua pada setiap kunjungan untuk mencegah kesalahan pemberian obat dan juga mencegah toksisitas antipiretik
Pengaruh Transfusi Trombosit Terhadap Terjadinya Perdarahan Masif pada Demam Berdarah Dengue Krisnanto Wibowo; Mohammad Juffrie; Ida S. Laksanawati; Sri Mulatsih
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.404-8

Abstract

Latar belakang. Perdarahan masif merupakan salah satu komplikasi dan berhubungan dengan mortalitasyang tinggi pada demam berdarah dengue (DBD). Pemberian transfusi trombosit pada DBD merupakanterapi suportif yang memberikan efek terapi bila diberikan sesuai dengan indikasi yang tepat. Kegunaantransfusi trombosit masih kontroversial.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian transfusi trombosit terhadap terjadinya perdarahan masif padaDBD.Metode. Penelitian merupakan penelitian kasus kontrol. Pasien dengan diagnosis DBD sesuai kriteria WHOyang dirawat di instalasi kesehatan anak RSUP Dr.Sardjito tahun 2006-2009 diteliti dari rekam medis. Kasusadalah pasien dengan perdarahan masif, sedangkan kontrol adalah pasien dengan perdarahan tidak masif.Hasil. Sepanjang tahun 2006-2009 terdapat 852 kasus DBD, terdiri dari 443 laki-laki (52%), 409 perempuan(48%), dan 35,7% adalah pasien DBD derajat II. Perdarahan masif terjadi pada 97 kasus (11%) yaituhematemesis 45 (46,4%), melena 20 (20,6%), hematemesis-melena 25 (25,8%), dan koagulasi intravaskulardiseminata 7 (8,2%). Perdarahan masif terbanyak terjadi pada jumlah trombosit <20.000/μL. Sebanyak67 pasien (7,8%) mendapat transfusi trombosit, 23 pada kelompok kasus dan 44 pada kelompok kontrol.Tidak ada perbedaan bermakna terjadinya perdarahan masif pada kedua kelompok tersebut (rasio odds1,39; interval kepercayaan 95% 0,79-2,45; p=0,29).Kesimpulan. Terjadinya perdarahan masif tidak dipengaruhi oleh transfusi trombosit.
Ensefalopati Dengue pada Anak Novie Homenta Rampengan; Mulya Rahma Karyanti; Sri Rezeki Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.419-25

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yangbervariasi. Ensefalopati dengue atau demam berdarah dengue (DBD) dengan keterlibatan susunan sarafpusat (SSP) merupakan kondisi yang jarang terjadi namun angka kematiannya cukup tinggi.Tujuan. Mengetahui insiden, karakteristik demografik, manifestasi klinis, laboratorium dan luaran pasiendengan ensefalopati dengue.Metode. Studi deskriptif retrospektif di RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Kriteria inklusiadalah rekam medik pasien yang dirawat di RSCM tahun 2006-2010 dengan diagnosis ensefalopatidengue.Hasil. Terdapat 20 pasien (2,8%) ensefalopati dengue dari 717 pasien infeksi virus dengue. Pasien terbanyakberusia 2-5 tahun (8 pasien) diikuti usia >10 tahun (7 pasien) dengan rerata usia 6,6 tahun. Kejadian DBDdengan syok terdapat pada 13 pasien, kejang pada 8 pasien, perdarahan saluran cerna pada 12 pasien danrerata penurunan kesadaran pada hari ke 4,3 dengan lama 2,5 hari. Laboratorium didapatkan rerata natrium131,6 meq/L, rerata SGOT/AST 2347 mg/dl dan rerata SGPT/ALT 630 mg/dl. Terdapat pemanjanganPT dengan rerata 22,4” dan pemanjangan aPTT dengan rerata 86,2”. Didapatkan infeksi sekunder denguepada 18 pasien. Antimikroba diberikan pada 16 pasien sedangkan kortikosteroid pada 5 pasien. Ditemukan3 pasien dengan gejala sisa berupa slurred speech, afasia dan tetraparesis serta 1 pasien meninggal.Kesimpulan. Insiden ensefalopati dengue 2,8% dengan infeksi sekunder dengue sebagai penyebab tersering,namun tidak terdapat perbedaan kelompok usia dibandingkan DBD. Terdapat peningkatan yang tinggidari serum transaminase, pemanjangan PT/APTT, hiponatremia. Terdapat gejala sisa pada 3 dari 19 pasienyang hidup.
Pemberian Antitrombin III pada Anak dengan Keadaan Sepsis Marissa Tania Stephanie Pudjiadi; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.187 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.373-80

Abstract

Keadaan sepsis yang berat akan memacu keluarnya sitokin yang mengaktivasi jalur koagulasi sistemik sehinggaberakhir pada proses disseminated intravascular coagulation (KID). Pada kasus ini, Antitrombin III(AT III) diberikan pada seorang anak perempuan berusia 14 tahun dengan diagnosis kerja anemia aplastikdan sepsis berat. Kadar AT III pada pasien sepsis akan menurun sampai 60% dan akan tetap rendah selamaproses sepsis masih berlangsung. Suplementasi dari luar akan meningkatkan kadar AT III sesuai target yangdiharapkan. Waktu pemberian AT III yang tepat adalah pada saat pasien sepsis mengalami non-overt KIDatau pada saat pasien mengalami sepsis yang tergolong pada stratum II (berisiko tinggi terhadap kematian).Dari data yang ada pemberian AT III dosis rendah memberikan perbaikan yang lebih nyata dibandingkandosis tinggi, namun dosis AT III sebaiknya dihitung secara individual berdasarkan kadar AT III aktual danberat badan pasien. Mengenai efek perdarahan pada penggunaan AT III dengan heparin sampai saat inimasih kontroversial. 
Pola Kuman dan Sensitifitas Antibiotik di Ruang Perinatologi I Made Kardana
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.381-5

Abstract

Latar belakang. Penggunaan antibiotik pada sepsis neonatorum seharusnya didasarkan pada kuman penyebab infeksi yang diperoleh dari biakan darah dan hasil uji sensitifitas. Pola kuman dan hasil uji sensitifitas dapat dipakai sebagai dasar pemberian antibiotik secara empiris.Tujuan. Mengetahui profil mikroorganisme penyebab sepsis neonatorum di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah Denpasar serta sensitifitasnya terhadap antibiotik.Metode. Penelitian retrospektif dilakukan dari Januari 2008-Desember 2009. Kriteria inklusi adalah neonatus tersangka sepsis dan didiagnosis akhir sebagai sepsis neonatorum berdasarkan biakan darah positif. Kriteria eksklusi apabila data tidak lengkap. Hasil. Terdapat 458 kasus tersangka sepsis. Biakan darah positif 220 (48%). Bakteri penyebab terbanyak adalahSerratia marcescens.Bakteri penyebab sepsis mempunyai sensitifitas rendah terhadap antibiotik lini pertama (ampisilin dan gentamisin), kecuali Acinetobacter baumanniimempunyai sensitifitas tinggi terhadap antibiotik tersebut. Sensitifitas bakteri penyebab sepsis umumnya masih tinggi terhadap meropenem, cefoperason-sulbactam, dan piperasilin-tazobactam.Kesimpulan. Penyebab sepsis neonatorum terbanyak adalah Serratia marsescens.Sebagian besar bakteri penyebab sepsis mempunyai sensitifitas rendah terhadap ampisilin dan gentamisin, kecuali Acinetobacter baumannii.Terhadap meropenem, cefoperazon-sulbactam dan piperasilin-tazobactam sensitifitas masih tinggi.
Fungsi Adrenal pada Sepsis di Unit Perawatan Intensif Pediatrik R. Irma Rachmawati; Dwi Putro Widodo; Bambang Tridjaja AAP; Antonius H. Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.821 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.426-32

Abstract

Latar belakang. Insufisiensi adrenal sering dijumpai pada pasien syok septik dan berhubungan dengankejadian syok refrakter katekolamin dan peningkatan mortalitas.Tujuan. Mengetahui profil fungsi adrenal pada anak yang menderita sepsis di Unit Perawatan IntensifPediatrik RSCM.Metode. Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Semua subjek menjalani uji stimulasikortikotropin dosis standar. Insufisiensi adrenal (IA) ditegakkan jika respons peningkatan kortisol terhadapuji (􀀧 maks) 􀁤9 μg/dl dan dikelompokkan menjadi absolut (IAA) jika kortisol pra-uji t0 <20 μg/dl danrelatif (IAR) jika t0 􀁴20 μg/dl.Hasil. Tiga puluh anak sepsis (18 laki-laki) diikutsertakan dalam penelitian. usia median adalah 29 (1-153)bulan dan median skor PELOD 12,5 (0-33). Insufisiensi adrenal dijumpai pada 8 (26,7%) pasien (2 IAA and6 IAR), lebih sering pada perempuan (p=0,003), serta cenderung lebih sering pada syok septik (p=0,682).Median t0 32,75 (4,23-378) μg/dl, t30-60 48,20 (16,70-387) μg/dl, dan 􀀧 maks 15,40 (0,90-60,80) μg/dl. Kadar t0 dan t30-60 lebih tinggi pada kelompok syok septik (p=0,03 dan p=0,01) namun tidak berbedaantara subjek dengan dan tanpa IA. Terdapat kecenderungan korelasi positif antara skor PELOD dengant0 dan t30-60 (r=0,7; dan r=0,6; p􀁤0,001). Hipotensi sistolik dijumpai pada seluruh subjek dengan IA dansyok refrakter katekolamin cenderung lebih sering pada kelompok IA (p=0,67). Mortalitas 36,7%, tidakberbeda antara subjek dengan dan tanpa IA.Kesimpulan. Insufisiensi adrenal sering dijumpai pada yang menderita anak sepsis dan harus dipertimbangkanpada kondisi syok septik. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan efektivitas terapi steroid.
Skala Gangguan Tidur untuk Anak (SDSC) sebagai Instrumen Skrining Gangguan Tidur pada Anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Christine Natalita; Rini Sekartini; Hardiono Poesponegoro
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.503 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.365-72

Abstract

Latar belakang. Dampak gangguan tidur pada remaja adalah penurunan prestasi akademis di sekolah,meningkatkan kenakalan remaja dan meningkatkan angka pemakaian rokok. Deteksi dini gangguan tidurperlu dilakukan karena remaja jarang mengeluh dan mengganggapnya bukan suatu masalah yang serius.Pemeriksaan gangguan tidur menggunakan polysomnography mahal dan tidak praktis, sedangkan pemeriksaanwrist actigraphy sederhana tetapi belum tersedia di Indonesia. Skala gangguan tidur untuk anak atau sleepdisturbance scale for children (SDSC) praktis dan murah.Tujuan. Mengetahui sensitivitas dan spesifisitas SDSC terhadap pemeriksaan wrist actigraphy.Metode. Penelitian uji diagnostik dengan desain potong lintang selama bulan Juli-Oktober 2010. Muridyang memenuhi kriteria inklusi, dilakukan pemeriksaan wrist actigraphy dan pengisian kuisioner SDSCbersama orangtua.Hasil. Sebagian besar subjek berusia 14 tahun (50%). Rerata waktu subjek tidur adalah pukul 22:12, waktusubjek bangun pukul 05:55, dan total waktu tidur subjek 6 jam 47 menit. Terdapat 40 subjek (62,5%)yang menderita gangguan tidur menurut SDSC dengan jenis gangguan yang paling sering adalah gangguantransisi tidur-bangun (25%). Berdasarkan pemeriksaan wrist actigraphy terdapat 42 subjek (65,6%) yangmenderita gangguan tidur. Nilai diagnostik SDSC terhadap wrist actigraphy didapatkan sensitivitas 71,4%dan spesifisitas 54,5%. Nilai duga positif dan nilai duga negatif adalah 75% dan 50%.Kesimpulan. Sensitivitas dan spesifisitas SDSC terhadap pemeriksaan wrist actigraphy adalah 71,4% dan54,5%. Instrumen SDSC dapat digunakan sebagai alat skrining gangguan tidur pada remaja.
Pengaruh Perkembangan Bahasa Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia 1-3 Tahun Fitri Hartanto; Hendriani Selina; Zuhriah H; Saldi Fitra
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.692 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.386-90

Abstract

Latar belakang.Kemampuan bahasa merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif anak. Deteksi dini masalah perkembangan anak sangat menentukan keberhasilan dalam memaksimalkan plastisitas otak pada kompensasi penyimpangan perkembangan.Tujuan.Mengetahui pengaruh perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun.Metode. Penelitian potong lintang pada kunjungan pasien Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Dr. Kariadi Semarang, usia subjek 1-3 tahun. Kriteria inklusi keterlambatan bicara, gizi baik, tidak memiliki kelainan kongenital, gangguan neurologi, dan gangguan pendengaran. Dilakukan pemeriksaan kemampuan bahasa dengan Denver II kemudian ditentukan DQ (developmental quotients)menggunakan CAPUTE scale. Untuk menentukan gangguan pendengaran dilakukan konsultasi dengan Bagian THT dan pemeriksaan BERA. Datadianalisissecara statistik dengan uji-t.Hasil.Didapatkan kasus (n=36) dan kontrol (n=36), jumlah sampel laki-laki pada kasus 77.8%. Pada kelompok kontrol rerata DQ CAT(cognitive adaptive test)91,4 (SD+5,6),CLAMS (clinical linguistic & auditory milestone scale)90,1 (SD+6,1) sedangkan pada kasus rerata DQCAT82,7 (SD+6,7),CLAMS57,9 (SD+11,2). Hasil Uji-tdidapatadjustedR20,415 (p=0,000).Kesimpulan.Terdapat pengaruh perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue