Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Evaluation of substrate metabolism in critically ill pediatric patients Antonius H Pudjiadi, Nurnaningsih
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 40, No 02 (2008)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Critically ill pediatric patients are characterized by a hypermetabolic state, a catabolic response, and a decreased capacity to utilize substrate. Metabolic state of critically ill pediatric patients can be detected by analyzing substrate utilization.Objective: To determine the metabolic state of critically ill pediatric patients using PRISM III Score, blood glucose level, and urinary nitrogen excretion.Methods: A cross sectional study was conducted in Pediatric Intensive Care Unit (PICU) of Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta between May and September 2006. All admitted PICU patients, except those with renal or hepatic failure, burns, diabetic ketoacidosis and died in the first 24 hours, were included. PRISM III Scores were measured in the first 24-hours of admission. Blood glucose level was observed at random within the first hour of hospitalization, while urinary nitrogen excretion was measured using urine collected in the second 24-hours of admission.Results: Fifteen cases were eligible for this study. Their age ranged between 1 to 96 months. The median (01 ;03) for PRISM III Scores, random blood glucose, and urinary nitrogen excretion were 6.0 (3.0;11.0), 123.0 (100.0;227.0), and 279.4 (124.3;408.4) mg/dL, respectively. There were no significant correlations between PRISM III Scores and random blood glucose (r=0.40;p=0.14), and between PRISM III Scores and urinary nitrogen excretion (r = -0.27;p = 0.33). There was significant correlation between random blood glucose and urinary nitrogen excretion (r=0.56;p=0.03).Conclusion: Critically ill pediatric patients had a catabolic state that had no association with PRISM III Scores. Random blood glucose level within the first hour of admission predicted the increasing protein catabolism.Key words: critically ill pediatric patients - blood glucose level - urinary nitrogen excretion - PRISM III Score.
Peningkatan Kadar Troponin-I Paska Resusitasi Cairan pada Sus Scrofa Sebagai Model Hewan Coba Renjatan Hotber E. R. Pasaribu; Antonius H Pudjiadi; Rismala Dewi
Jurnal Ilmu Kedokteran Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ilmu Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.355 KB) | DOI: 10.26891/JIK.v12i1.2018.7-12

Abstract

Provision large amounts of fluids in a short period is known can cause hypervolemia. Therefore, an examination is needed to find out that the fluid resuscitation being administered does not cause hypervolemia. The purpose of this study is to assess the effect of hypervolemic resuscitation on cardiac contractility. The study was conducted on 10 male Sus Scrofa aged 6-8 weeks, as shocked animal models. There are 3 types of resuscitation treatments : normovolemic, hypervolemic-1, and hypervolemic-2. Cardiac contractility was assessed using DPmax and troponin-i levels. There was an increase in troponin-i levels after hypervolemic fluid resuscitation (p = 0.05). There is a decrease in cardiac contractility after hypervolemic resuscitation. Decreased cardiac contractility is associated with increased troponin-i (r = 0.720; p = 0.020). Based on the results, we conclude hypervolemic resuscitation causes changes in troponin-i levels, which reflect changes in cardiac contractility.
Citrullinated Histone H3 Level as a Novel Biomarker in Pediatric Clinical Sepsis Ronald Chandra; Antonius Hocky Pudjiadi; Rismala Dewi
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 3 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i3.1597

Abstract

BACKGROUND: Sepsis is still leading cause of death in critically ill children. Early recognition of sepsis and treatments are needed to reduce its mortality. The use of citrullinated Histone H3 (Cit-H3) as an early sepsis marker and outcome predictor has been validated in previous studies among adults. However, only one study in pediatric meningococcal sepsis was reported with contradictory results. This study aims to determine Cit-H3 levels in pediatric clinical sepsis and analyze its association with sepsis severity and survival rate.METHODS: A prospective observational cohort study involving 67 pediatric subjects clinically diagnosed with sepsis was conducted. Cit-H3 levels, Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 (PELOD-2) score, and Pediatric Sequential Organ Failure Assessment (pSOFA) score were assessed at the time of diagnosis (0-hour) and 48 hours later. Pearson Correlation test was used to determine the correlation between Cit-H3 levels with PELOD-2 and pSOFA scores and receiver operating curve to find the cut-off of Cit-H3 levels on clinical sepsis patients.RESULTS: Among clinically sepsis patients, the median Cit-H3 level was 1,210 (800-32,160) ng/mL, with optimal cut-off point ≥1200 ng/mL (sensitivity 83.3% and specificity 75.7%) to discriminate sepsis. The median Cit-H3 levels at 0-hour were lower in survivor compared to non-survivor group (p=0.016). Cit-H3 level was able to predict mortality with optimal cut-off point ≥1,200 ng/mL, sensitivity 72.2% and specificity 57.1% (AUC of 69.2%; p=0.017). Using survival analysis, Cit-H3 was significantly associated with the mortality rate (p=0.023; hazard ratio of 3.45).CONCLUSION: Cit-H3 level could be potential to predict pediatric sepsis events and its outcome.KEYWORDS: citrullinated histone H3, neutrophil extracellular traps, pediatric sepsis, PELOD-2 score, pSOFA score, survival
Plasmaferesis Sebagai Terapi Sindrom Guillain-Barre Berat pada Anak Vimaladewi Lukito; Irawan Mangunatmadja; Antonius H. Pudjiadi; Tatang M. Puspandjono
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.448-55

Abstract

Plasmaferesis atau plasma exchange merupakan salah satu pilihan terapi bagi sindrom Guillain-Barreberat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa plasmaferesis dan imunoglobulin intravena (IVIg) sebagaiterapi sindrom Guillain-Barre memiliki efektivitas yang sama, namun penggunaan plasmaferesis padapasien anak lebih jarang dilakukan karena membutuhkan peralatan dan persiapan yang lebih kompleks.Tujuan dari laporan kasus untuk melaporkan terapi sindrom Guillain-Barre berat dengan menggunakanplasmaferesis pada pasien anak. Seorang anak perempuan usia 10 tahun dirawat di RSUPN. Dr. CiptoMangunkusumo dengan diagnosis sindrom Guillain-Barre. Pada hari kedua perawatan pasien mengalamiparalisis otot pernafasan sehingga pernafasan harus dibantu dengan ventilasi mekanik. Faktor ekonomi danketersediaan alat menyebabkan plasmaferesis dipilih sebagai terapi, dibandingkan dengan pengobatan IVIg.Plasmaferesis dilakukan empat kali dalam waktu satu minggu dengan menggunakan fraksi protein. Efeksamping plasmaferesis berupa hipotensi dan sepsis yang ditangani dengan pemberian cairan dan antibiotik.Fungsi motorik pasien berangsur membaik dalam waktu satu minggu. Ventilasi mekanik dilepas setelahduapuluh enam hari dan pasien dipulangkan setelah dua bulan perawatan. Plasmaferesis dan IVIg memilikiefektifitas yang sama sebagai terapi sindrom Guillain-Barre berat. Keputusan untuk memilih salah satu terapitersebut berdasarkan pada keadaan klinis pasien, sistem penunjang, dan kemampuan ekonomi orang tuapasien.
Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin Urin sebagai Deteksi Dini Acute Kidney Injury Siti Aizah Lawang; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.195-200

Abstract

Latar belakang. Penelitian terkini fokus pada identifikasi biomarker yang lebih dini untuk acute kidney injury (AKI). Salah satunya adalah neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL), protein 25 kDa yang merupakan potensial biomarker dini untuk AKI.Tujuan. Melihat neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL) sebagai biomarker dini untuk acute kidney injury (AKI).Metode. Penelitian kualitatif dengan desain uji diagnostik. Pengambilan sampel secara cross sectional dan consecutive sampling pada 50 orang anak, terdiri atas 28 sepsis dan 22 sepsis berat di ruang rawat intensif anak di RS. Cipto Mangunkusomo Jakarta dan RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar.Hasil. Terdapat perbedaan sangat bermakna kadar NGAL urin dan kreatinin berdasarkan beratnya sepsis (p<0,001). Nilai rerata sepsis 132,93 ng/mL dan sepsis berat 2159,98 ng/mL. Terdapat perbedaan bermakna antara beratnya AKI menurut kriteria RIFFLE dengan beratnya sepsis (p=0,013). Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar NGAL urin dengan kriteria RIFFLE (p=0,173). Nilai sensitifitas NGAL urin 100% dan spesifisitas 63,63%, positive predictive value 27,27%, negative predictive value 100% dan area under curve (AuOC) 0,826.Kesimpulan. Neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL) dapat dipakai sebagai skrining AKI.
Pemberian Antitrombin III pada Sepsis Neonatal Nathanne Septhiandi; Antonius Pudjiadi; Pustika Amalia
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.74-80

Abstract

Latar belakang. Kadar antitrombin III (AT III) dalam darah rendah pada pasien sakit berat dan penurunan kadarnya berkorelasi dengan derajat penyakit. Fungsi AT III sebagai antikoagulan, mempunyai peran penting untuk mencegah disfungsi mikrovaskular dan mengakibatkan kerusakan multi organ pada sepsis. Namun, peran teurapetik AT III pada sepsis masih diperdebatkan.Tujuan. Melakukan evaluasi apakah pemberian AT III pada sepsis neonatal berat memiliki prognosis yang lebih baik bila dibandingkan dengan plasebo.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik yaitu Pubmed, Highwire, Google dan Yahoo.Hasil. Didapatkan 12 artikel yang dianggap relevan dengan rumusan masalah, terdiri atas 3 meta-analisis, 8 randomized controlled trial (RCT), dan 1 review. Hasil meta-analisis pertama menyatakan bahwa pemberian preparat AT III aman dan dapat ditoleransi dengan baik. Dilaporkan AT III menurunkan tingkat mortalitas 22,9% pada hari ke-30 pasca intervensi. Hasil meta-analisis keduamendapatkan pemberian AT III tidak menurunkan risiko mortalitas secara keseluruhan (RR 0,96, IK95%: 0,89;1,03), dan meningkatkan risiko perdarahan (RR 1,52, IK95%: 1,3;1,78). Hasil meta-analisis ketiga menunjukkan pemberian AT III mengurangi risiko mortalitas dalam 28 sampai 30 hari (OR 0,649, IK95%: 0,422; 0,998). Risiko perdarahan pada kelompok AT III tidak berbeda signifikan dengan kelompok plasebo.Kesimpulan. Secara statistik penggunaan AT III apabila dibandingkan dengan plasebo pada keadaan sepsis neonatal tidak memperbaiki prognosis dalam hal menurunkan tingkat mortalitas selama 28-30 hari. Walaupun demikian, tingkat mortalitas kelompok AT III lebih rendah dibandingkan dengan placebo. 
Perbandingan Pediatric Logistic Organ Dysfunction dan Pediatric Risk of Mortality III Sebagai Prediktor Kematian Sindrom Syok Dengue di Ruang Rawat Intensif Anak Henny Rosita Iskandar; Dharma Mulyo; Antonius Pudjiadi; Agnes Pratiwi; Yuliatmoko Suryatin
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.440-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom syok dengue (SSD) merupakan bentuk demam berdarah dengue (DBD) berat.Mortalitas SSD pada Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita (RSAB HK) cukup tinggi ( 13,2% ).Tujuan. Menilai perbandingan pediatric logistic organ dysfunction (PELOD) dan pediatric risk of mortality(PRISM) III sebagai prediktor kematian SSD pada anak yang dirawat di ruang perawatan intensif anak.Metode. Penelitian prospektif, 41 anak dengan SSD yang dirawat di ruang perawatan intensif dari bulanJanuari - Desember 2006 di RSAB HK dilibatkan dalam penelitian. Diagnosis SSD ditegakkan berdasarkankriteria WHO tahun 1997 dan dikonfirmasi dengan serologi positif Dengue Blot yang dilakukan pada harikelima demam. Perhitungan skor PELOD and PRISM III dilakukan dari hasil pemeriksaan pada haripertama masuk ruang rawat intensif.Hasil. Terdapat 41 subyek yang diteliti, umur dari 8 sampai 180 bulan. Kematian terjadi pada 5 anak(12,1%). Rerata skor PELOD anak yang meninggal 22,2 dan yang hidup 7,7 sedangkan rerata skor PRISMIII anak yang meninggal 22 dan yang hidup 9,4. Analisa skor PELOD dan PRISM III menurut Mann-Whitney U test terdapat perbedaan bermakna antara anak yang meninggal dan hidup dengan p = 0,001untuk PELOD dan p=0,005 untuk PRISM III. Kurva receiver operating characteristic (ROC) dengan CI95% 0,953 untuk PELOD dan 0,889 untuk PRISM III.Kesimpulan. Skor PELOD dan PRISM III merupakan alat yang baik untuk memprediksi kematian pasienanak SSD yang dirawat di ruang intensif anak. Skor PELOD sedikit lebih baik dari skor PRISM III.
Hiponatremia pada Anak Pasca Tindakan Operasi : Etiologi dan Faktor-faktor yang Berhubungan Angelina Arifin; Antonius H. Pudjiadi; Setyo Handryastuti; Idham Amir; Evita B. Ifran; Mulya R. Karyanti
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.149 KB) | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.63-70

Abstract

Latar belakang. Kejadian hiponatremia pada anak pasca-operasi berkisar antara 20-40%. Hiponatremia yang tidak terdeteksi dapat meningkatkan mortalitas dan menyebabkan luaran neurologis yang buruk. Beberapa mekanisme yang berperan adalah sindrom hormon antidiuretik tidak tepat (SHATT) dan sick cell syndrome (SCS). Tujuan. Mengetahui insidens hiponatremia pada anak pasca-operasi, kemungkinan penyebab yang melatarbelakangi, serta faktor yang berhubungan.Metode. Penelitian potong lintang analitik dilakukan di ruang perawatan intensif terhadap anak berusia 1 bulan sampai 18 tahun yang menjalani tindakan operasi mayor dan masuk ruang perawatan intensif pediatrik RSCM selama bulan Mei sampai Desember 2016.Hasil. Terdapat 65 subyek menjalani operasi mayor, 87,69% dilakukan secara elektif, jenis operasi terbanyak adalah hepato-gastrointestinal (38,46%) dan muskuloskeletal (20,00%). Kadar natrium plasma pasca-operasi turun, kejadian hiponatremia 43,07% dan 26,16% pada 12 dan 24 jam pasca-operasi. Nilai osmolalitas plasma yang normal atau meningkat dan osmolalitas urin >100 mOsm/kg. Sebanyak 70% subyek hiponatremia memiliki natrium urin >30 mEq/L. Faktor yang berhubungan dengan hiponatremia 12 jam pasca-operasi adalah status kegawatdaruratan operasi (p=0,007) dan perdarahan intraoperatif (p=0,024), sedangkan pada 24 jam pasca-operasi hanya status kegawatdaruratan operasi (p=0,001).Kesimpulan. Terdapat 43,07% dan 26,16% subyek yang mengalami hiponatremia pada 12 dan 24 jam pasca-operasi mayor. Sindrom hormon antidiuretik tidak tepat tidak terbukti menjadi penyebab utama terjadinya hiponatremia, dan hiponatremia translokasional pada SCS mungkin berperan. Hiponatremia pasca-operasi berhubungan dengan status kegawatdaruratan operasi dan jumlah perdarahan intraoperatif.
Pedoman Resusitasi Syok Septik “Surviving Sepsis Campaign” Butuh Penyesuaian Antonius Hocky Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.329-32

Abstract

Surviving sepsis campaign (SSC) mengeluarkan pedoman tata laksana klinis pasien sepsis. Pedoman tata laksana ini dibuat atas dasar ilmu kedokteran berbasis bukti berdasarkan data pasien sepsis dewasa. Dalam panduannya, terdapat target-target tata laksana yang perlu dicapai dalam batas waktu tertentu, termasuk target hemodinamik sebagai panduan resusitasi, seperti jumlah cairan resusitasi, rerata tekanan arteri, dan tekanan vena sentral. Makalah ini bertujuan untuk mengupas permasalahan dari adaptasi target SSC, khususnya pada pasien anak di Indonesia.
Insidens Kandidemia di Paediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Doddy Kurnia Indrawan; Antonius H Pudjiadi; Abdul Latief Latief
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.865 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.182-6

Abstract

Latar belakang. Kandidemia menjadi salah satu masalah di PICU, angka ejadiannya meningkat setiap tahun dengan angka kematian yang tinggi, serta memperpanjang masa rawat di rumah sakit. Sampai saat ini, data insidens kandidemia pada anak masih terbatas.Tujuan. Mengetahui insidens kandidemia di PICU RSCM.Metode. Penelitian retrospektif dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo dengan mencatat data rekam medis pasien kandidemia pada anak periode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2014. Hasil. Didapatkan 32 kejadian kandidemia dalam kurun waktu pengambilan data. Median usia pasien 12,8 bulan, 57,7% berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar pasien mengalami gizi kurang, 69,2% kasus bedah dan 30,8% non bedah. Penggunaan steroid 11,5%. Selama perawatan di PICU, 96,2% pasien menggunakan ETT, 100% menggunakan kateter vena sentral dan kateter urin. Pasien yang menggunakan antibiotik >15 hari 80,8%. Median skor awal PELOD adalah 12. Median waktu pemberian anti jamur 15,8 hari perawatan di PICU, luaran hidup 65,4%, rerata lama rawat PICU 25,8 hari. Penyakit yang mendasari perawatan di PICU 7,7% infeksi saluran pernapasan, 3,8% infeksi sistem saraf, 19,2% syok sepsis, 3,8% pascabedah kepala leher, 11,5% pasca bedah dada, dan 53,8 pasca bedah abdomen. Rerata lama pemggunaan ETT 10,04 hari, kateter vena sentral 15,65 hari, dan kateter urin 11,15 hari. Jenis kandida terbanyak adalah kandida parapsilosis. Lebih dari dua antibiotik diberikan pada 76,8% pasien sebelum mendapatkan anti jamur.Kesimpulan. Kejadian kandidemia serupa dengan negara berkembang lainnya dan ditemukan meningkat pada pasien dengan status gizi kurang, pasacabedah, penggunaan alat medis invasif, dan penggunaa antibiotik >15 hari.
Co-Authors A. Pratiwi Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Abdul Latief Latief Agnes Pratiwi Agung G. Tanurahardja Ahmad Arif Amin Aland Roland Tumbelaka Albert Daniel Solang Aman Bhakti Pulungan, Aman Bhakti Aman Pulungan Amanda Soebadi Amir Thayeb Angelina Arifin Annisa Rahmania Yulman Aria Kekalih Arwin A. P. Akib Aryono Hendarto Badriul Hegar Bambang Supriyatno Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Bernie Endyarni Medise Brastho Bramantyo Charity Monica Damayanti R. Syarif Darlan Darwis Desy Dewi Saraswati Dharma Mulyo Dharma Mulyo Diana Aulia Dilawar, Ismail Doddy Kurnia Indrawan Dyah Kanya Wati E.M. Dady Suyoko Emi Yulianti Evita B. Ifran Evita Kariani B. Ifran Fathema D Rachmat Galih Satria Kusumanto Gunanti . Gunanti Gunanti Hardiono Pusponegoro Hari Kushartono Henny Rosita Iskandar Henny Rosita Iskandar Heri Wibowo Hindra I. Satari Hindra I. Satari, Hindra I. Hotber Pasaribu I Nyoman Budi Hartawan Idham Amir Idham Amir Imral Chair Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Johnny Nurman Jose M. Mandei Jusuf Rachmat Juwita, Erlin Kurniawan Taufiq Kadafi Lina Haryanti Lisnawati Rachmadi Magdalena E Sahetapy Mardjanis Said Melpa Susanti Purba Meri Yanti Moh. Supriatna Moh. Supriatna Moh. Supriatna Moh. Supriatna Muhammad Reva Aditya Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Mulyadi M. Djer Munar Lubis Munasir, Zakiudin Murni, Indah K. Muzal Kadim Nahari Arifin Najib Advani Najma Hayati Nathanne Septhiandi Ni Made Rini Suari Nia Kurniati Nina Dwi Putri Nindya Permata Novie Amelia Chozie Nursakina, Yosilia Piprim B. Yanuarso, Piprim B. Pramita G. Dwipoerwantoro Pramita Gayatri, Pramita Pudjiastuti Pustika Amalia R. Irma Rachmawati Raden Roro Soesatyoratih Rahmayanti, Siti Ratih Puspita Reza, Maulana Okta Rina A.C. Saragih, Rina A.C. Rina Amalia C. Saragih Ririe F Malisie Rismala Dewi Rizki Dzakiyah Sholikhah, Wanda Ronald Chandra Rosalina D Roeslani Rubiana Sukardi, Rubiana Saptadi Yuliarto Saptawati Bardosono Setyo Handryastuti Siti Aizah Lawang Siti Munawaroh Sri Martuti Sri Martuti Sri Martuti Sudung O Pardede, Sudung O Sudung O. Pardede Sudung O. Pardede Supriatna, Novianti Susanti, Dhama S. Susetyo Harry Purwanto Taralan Tambunan Tartila Fathan Tatang M. Puspandjono Titis Prawitasari, Titis Tsaniya, Ireska Vimaladewi Lukito Y. Suryatin Yoga Devaera Yuliatmoko Suryatin Yusrina Istanti Yusrina Istanti Yusrina Istanti