cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 3 (2011)" : 12 Documents clear
Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian Alergi pada Anak Wistiani Wistiani; Harsoyo Notoatmojo
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.185-90

Abstract

Latar belakang. Penyakit alergi pada anak diperkirakan meningkat seiring dengan pola kehidupan yangberhubungan dengan pengaruh lingkungan, yaitu paparan alergen. Kadang-kadang paparan alergen tidakdiketahui tetapi anak datang dengan manifestasi penyakit alergi. Identifikasi alergen yang memicu munculnyapenyakit alergi merupakan hal yang penting dan dapat dijadikan salah satu strategi untuk preventif.Tujuan. Membuktikan hubungan paparan alergen terhadap timbulnya penyakit alergi pada anak.Metode. Penelitian observasional dengan desain belah lintang. Subyek adalah semua pasien anak berumur2 tahun hingga 14 tahun dengan manifestasi alergi berupa dermatitis atopi, rinitis alergi, konjungtivitisalergi, dan asma. Subjek berasal dari Poliklinik Umum Anak, Paru Anak, Telinga-Hidung-Tenggorok, Kulit-Kelamin, dan Mata RSUP Dr. Kariadi Semarang. Periode penelitian Agustus 2000 hingga Januari 2001.Orangtua subjek diminta mengisi kuesioner. Dilakukan uji tusuk kulit (skin prick test) untuk konfirmasialergen berupa aeroalergen dan alergen makanan. Analisis statistik menggunakan chi-square.Hasil. Subyek 44 anak dengan alergi, terdiri dari 63,6% rinitis alergi, 25% asma, 34,1% dermatitis atopi,dan 2,3% konjungtivitis alergi. Rasio perempuan : laki-laki = 1,2:1. Uji tusuk kulit positif pada 45,5% kasus.Hasil aeroalergen berupa debu rumah (75,0%), mite culture (70,0%), human dander (70,0%), kecoa (65,0%),animal dander (25%), pollen (10%), fungi (5%). Alergen makanan berupa makanan laut (30,0%), telur (5%),dan 5% coklat. Terdapat hasil positif beberapa paparan alergen. Didapatkan paparan tanaman dalam rumahsebagai penyebab dermatitis atopi (p=0,008). Kasus asma 90,9% menunjukkan hasil uji tusuk kulit positif(p=0,001).Kesimpulan. Aeroalergen merupakan alergen yang paling banyak dijumpai pada anak dengan penyakitalergi.
Infeksi Rotavirus pada Anak Usia di bawah Dua Tahun Berlian Hasibuan; Feraluna Nasution; Guntur Guntur
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.165-8

Abstract

Latar belakang.Diare yang disebabkan oleh infeksi rotavirus merupakan penyebab diare terbanyak yang terjadi pada anak dengan usia di bawah 2 tahun. Manifestasi klinis antara lain diare cair (watery diarrhea),demam, muntah, dan intoleransi terhadap laktosa. Di negara sedang berkembang, angka kesakitan dan angka kematian masih tinggi.Tujuan. Mengetahui karakteristik, gejala klinis, dan lama rawat pasien diare rotavirus.Metode. Studi deskriptif dilakukan retrospektif dari data rekam medis pasien usia di bawah 2 tahun, yang didiagnosis dengan diare rotavirus pada pemeriksaan imunokromatografi. Dirawat di bangsal anak RS Dr. Pirngadi Medan, 18 Juni – 24 September 2007. Hasil. Di antara 96 kasus gastroenteritis akut atau diare, rotavirus dijumpai pada 58 kasus (60,4%). Satu kasus (1,7%) bayi usia di bawah 3 bulan, dan 57 kasus (98,3%) usia di atas 3 bulan, laki-laki 37 (63,8%), dan perempuan 21 (36,2%). Diare dengan dehidrasi ringan-sedang dijumpai pada 55 kasus (94.8%) diare dengan dehidrasi berat 2 kasus (3,4%), dan diare tanpa dehidrasi 1 kasus (1,7%). Limapuluh persen kasus rata-rata dirawat selama 3-5 hari dan 3 (5,2%) kasus dirawat lebih dari 7 hari.Kesimpulan. Diare rotavirus merupakan penyebab diare terbanyak pada anak di bawah usia 2 tahun, 57 kasus (98,3%) ditemukan pada usia di atas 3 bulan. Di samping diare cair, dijumpai muntah, demam, batuk, dan pilek. Lama rawat 3-5 hari dijumpai pada 50% kasus, dan tidak ada kematian.
Hubungan antara Skor Apgar dengan Kadar Glukosa Darah pada Bayi Baru Lahir Emil Azlin
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.174-8

Abstract

Latar belakang. Kadar glukosa harus dipertahankan antara 75-100 mg/dL sebagai substrat yang adekuatbagi otak. Kadar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan peningkatan laktat di otak sehingga akan merusakintegritas otak, peningkatan edema, dan mengganggu autoregulasi vaskular. Kadar yang rendah akanmenyebabkan eksitotoksik asam amino sehingga akan memperluas infark. Hipoglikemia dapat disebabkanoleh berkurangnya kadar glukosa karena pelepasan katekolamin atau karena hiperinsulinisme yang seringdijumpai pada bayi yang menderita asfiksia.Tujuan. Menilai hubungan antara skor Apgar dengan kadar glukosa darah pada bayi baru lahir cukup bulandan kurang bulan.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada bayi baru lahir cukup bulan dan kurang bulan antara bulan,Februari – Juli 2006, di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Data jenis kelamin, berat badan, panjang badan, skorApgar menit pertama dan kelima, suhu rektal, pemeriksaan hemogram darah dan pemeriksaan kadar glukosadarah pada hari pertama dilahirkan dicatat, dari ibu diambil data maternal berupa umur, berat badan, jumlahparitas, umur kehamilan, dan tekanan darah. Data disajikan secara deskriptif. Hubungan skor Apgar dengankadar glukosa darah dihitung menggunakan statistik Pearson Chi-square, bermakna apabila nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 32 bayi kurang bulan terdiri dari 17 laki-laki, 15 perempuan dan 32 bayi cukup bulan terdiri dari15 laki, 17 perempuan. Skor Apgar menit pertama rerata (6,7±0,8) pada kelompok kurang bulan dan (7,1±1,6)pada kelompok cukup bulan. Skor Apgar menit kelima rerata (8,1±0,7) pada kelompok kurang bulan, (8,6±1,2)pada kelompok cukup bulan dan rerata kadar glukosa darah masing-masing (87,6±22,4) mg/dL pada bayi cukupbulan, dan (99,2±30,3) pada bayi kurang bulan. Terdapat hubungan terbalik yang sangat lemah antara skor Apgardengan kadar glukosa darah pada bayi yang cukup bulan dan kurang bulan dengan p=0,001.Kesimpulan. Terdapat hubungan terbalik yang sangat lemah antara skor Apgar dengan kadar glukosa darahbayi baru lahir cukup bulan dan kurang bulan. 
Gangguan Koagulasi pada Sepsis Tri Faranita; Yunnie Trisnawati; Munar Lubis
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.226-32

Abstract

Sepsis pada anak memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Gangguan koagulasi berat padasepsis berhubungan dengan meningkatnya mortalitas. Telah banyak informasi mengenai perkembanganmekanisme aktivasi koagulasi dan inflamasi sebagai respon terhadap infeksi berat. Pada sepsis, gangguankoagulasi terjadi akibat pembentukan trombin oleh tissue factor, gangguan mekanisme antikoagulan danpenghentian sistem fibrinolisis. Pengetahuan tersebut sangat berguna untuk mengembangkan terapi danintervensi terhadap pasien dengan sepsis yang disertai gangguan koagulasi berat. Pemberian terapi sepertiantikoagulan, antitrombin, dan rekombinan protein C, rekombinan TFPI masih memerlukan bukti yangmendukung untuk dapat digunakan pada pasien anak.
Prevalens dan Faktor Risiko Terjadinya Hipozincemia Bayi Berat Lahir Rendah pada Usia Koreksi Mendekati Cukup Bulan atau Cukup Bulan Risma Kerina Kaban; Nani Dharmasetiawani; Johanes Edy Siswanto
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.207-14

Abstract

Latar belakang. Deposit Seng (Zn) berperan terhadap fungsi metabolik tubuh. Bayi kurang bulan mempunyai cadangan Zn yang rendah pada masa fetus, kebutuhan Zn yang tinggi setelah lahir, kapasitas untuk mengabsorbsi dan retensi zat makanan terbatas. Gambaran klinis dari defisiensi Zn yang berat yaitu dermatitis, iritabel, kandidiasis oral, diare, mineralisasi tulang yang buruk, gangguan fungsi motorik dan kognitif, meningkatnya risiko terkena infeksi, dan retardasi pertumbuhan.Tujuan. Untuk menentukan prevalens dan faktor risiko hipozincemia pada bayi berat lahir rendah.Metode.Penelitian prospektif, desain penelitian potong lintang. Data dikumpulkan dari 3 rumah sakit di Jakarta. Informasi faktor risiko dicatat dan kadar Zn diperiksa pada bayi dengan berat lahir <2000 g dan usia gestasi <34 minggu, pada usia koreksi mendekati cukup bulan atau cukup bulan. Hasil dianalisis dengan (T-test, dan Mann-Whitney) (regresi logistik). Defisiensi Zn didiagnosis apabila kadar Zn <55mg/dl (8,4 μmol/L).Hasil. Dari 63 bayi yang diteliti terdapat 18 bayi yang hipozincemia sehingga didapatkan prevalens hipozincemia 28%. Dari 18 bayi hipozincemia, 67% disertai dengan gejala yang paling banyak dijumpai adalah gangguan pertumbuhan. Peningkatan usia gestasi, peningkatan kadar kalsium dan pemberian suplemen besi berhubungan dengan penurunan risiko hipozincemia (OR 0,622; 95% CI: 0,42-0,92), (OR 0,376; 95% CI: 0,16 – 0,88) dan (OR 0,062; 95 % CI: 0,008-0,46). Sedangkan jenis kelamin laki laki berhubungan dengan peningkatan risiko hipozincemia(OR 4,764; 95% CI: 0,06-21,40).Kesimpulan.Prevalens hipozincemia pada bayi usia gestasi <34 minggu dan berat lahir <2000 gram, yang diperiksa pada usia koreksi >35 minggu, didapatkan 28% dengan gejala. Gangguan pertumbuhan merupakan gejala yang paling banyak dijumpai. Faktor risiko hipozincemia ditemukan pada bayi laki-laki, usia gestasi yang lebih rendah, penurunan kadar kalsium dan tanpa pemberian suplementasi besi.
Perbandingan Full Outline of Unresponsiveness Score dengan Glasgow Coma Scale dalam Menentukan Prognostik Pasien Sakit Kritis Rismala Dewi; Irawan Mangunatmadja; Irene Yuniar
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.113 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.215-20

Abstract

Latar belakang. Penilaian kesadaran penting dilakukan pada pasien anak dengan sakit kritis untuk memperkirakanprognosis. Modifikasi Glasgow Coma Scale (GCS) banyak digunakan untuk menilai kesadaran tetapi memilikiketerbatasan terutama pada pasien yang diintubasi. Terdapat skor alternatif baru yaitu Full Outline ofUnResponsiveness score (FOUR score) yang dapat digunakan untuk menilai kesadaran pasien terintubasi.Tujuan. Membandingkan FOUR score dengan GCS dalam menentukan prognosis pasien kritis, sehinggapemeriksaan FOUR score dapat digunakan sebagai alternatif pengganti GCS.Metode. Penelitian prospektif observasional pada anak usia di bawah 18 tahun yang dirawat di Unit PerawatanIntensif Anak RSCM dengan penurunan kesadaran. Waktu penelitian antara 1 Januari – 31 Maret 2011.Masing-masing subjek dinilai oleh 3 orang supervisor berbeda yang bekerja di Unit Perawatan Intensif Anak.Ketiga penilai diuji reliabilitas dalam menilai FOUR score dan GCS. Dibandingkan sensitivitas, spesifisitas, danreceiver operating characteristic (ROC) kedua sistem skor terhadap luaran berupa kematian di rumah sakit.Hasil. Reliabilitas tiap pasangan untuk FOUR score (FOUR 0,963; 0,890; 0,845) lebih baik daripadamodifikasi GCS (GCS 0,851; 0,740; 0,700). Terdapat hubungan yang bermakna antara besar skor danluaran kematian di rumah sakit dengan (pFOUR score = pGCS = 0,001). Nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksipositif dan negatif serta rasio kemungkinan positif masing-masing adalah 93%; 86%; 88%; 92%; 6,6. Areaunder curve (AUC) FOUR score 0,854 dan GCS 0,808Kesimpulan. Prediksi prognostik pada pasien yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Anak dengan FOURscore lebih baik dibandingkan GCS.
Karsinoma Hepatoselular pada Anak Usia 11 Tahun NP Veny Kartika Yantie; K Ariawati; IGN Sanjaya
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.179-84

Abstract

Karsinoma hepatoselular merupakan tumor epitelial ganas pada hepar dan menempati urutan ketiga tumor hepar terbanyak pada anak. Telah diketahui bahwa terdapat hubungan antara karsinoma hepatoselular dengan infeksi hepatitis B kronik. Gejala awal tidak khas, dapat dikenali setelah tumor mencapai ukuran bermakna yaitu pada stadium lanjut sehingga diagnosis menjadi terlambat. Seorang anak laki-laki, usia 11 tahun dengan masa multilobus pada hepar, berobat dalam stadium lanjut sehingga tidak dapat dilakukan operasi. Dilakukan pencitraan abdomen dengan CT-scandan evaluasi secara mikroskopis untuk memastikan diagnosis karsinoma hepatoselular. Hasil uji serologi terhadap infeksi hepatitis B menandakan hepatitis B kronik. Pasien mendapatkan kemoterapi siklus pertama dengan cisplatin dan doksorubisin. Prognosis pasien buruk, sehingga meninggal setelah satu setengah bulan didiagnosis.
Profil Klinis dan Keluaran Penyakit Jantung Reumatik pada Anak yang Menjalani Bedah Katup Rahmat B Kuswiyanto; Sukman T Putra; Najib Advani; Mulyadi M Djer; Rubiana Sukardi; Jusuf Rachmat
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.112 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.200-6

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung reumatik merupakan kelainan jantung didapat penyebab kesakitan dankematian terbanyak pada anak di Indonesia. Bedah katup pada anak dengan penyakit jantung reumatikjarang dilakukan.Tujuan. Untuk mengetahui profil klinis dan keluaran bedah katup pada anak dengan penyakit jantungreumatik.Metode. Penelitian secara retrospektif dilakukan pada 28 anak dengan penyakit jantung reumatikyang menjalani bedah katup di RSUPN Cipto Mangunkusumo selama tahun 2003 sampai 2009. Datadikumpulkan dan dicatat berdasarkan catatan medis berupa profil klinis sebelum operasi, umur saatoperasi, jenis kelamin, status klinis, dan jenis operasi, serta data ekokardiografi berupa kelainan katup danfungsi ventrikel. Sedangkan keluaran berupa komplikasi pascaoperasi, lesi residual dan fraksi ejeksi, fraksipemendekan serta dimensi akhir diastolik ventrikel kiri seminggu pascaoperasi.Hasil. Umur rerata saat operasi 13,9 (SD 2,7) tahun; anak laki-laki dan perempuan sama banyak. Status klinispraoperatif fungsional kelas III dan kelas IV masing-masing terjadi pada 13 dan 9 anak. Regurgitasi mitral beratdidapatkan pada 75% anak. Perbaikan katup mitral dilakukan pada 16, penggantian katup mitral pada 8, danpenggunaan katup ganda pada 4 anak. Tiga anak mengalami komplikasi berupa perdarahan, efusi pleura, dan sepsis,sedangkan satu orang meninggal. Lesi residual pascaoperasi didapatkan pada 11 anak, berupa regurgitasi dan stenosismitral ringan, dan satu anak dengan paravalvular leak. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dalam fraksiejeksi, fraksi pemendekan dan dimensi akhir diastolik ventrikel kiri sebelum dan seminggu sesudah operasi.Kesimpulan. Bedah katup pada anak dengan penyakit jantung reumatik mempunyai keluaran yang baik,dengan angka kematian dan komplikasi yang rendah. Pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk menilaikeluaran jangka panjang.
Latar Belakang Penyakit pada Penggunaan Transfusi Komponen Darah pada Anak Yetty Movieta Nency; Dana Sumanti
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.004 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.159-64

Abstract

Latar belakang.Aplikasi transfusi darah dalam klinis sehari-hari dapat sebagai terapi pengganti maupun suportif. Sesuai pertimbangan risiko dan manfaat tranfusi komponen darah seperti thrombocyt concentrate(TC) packed red cell(PRC), fresh frozen plasma(FFP), platelete rich plasma (PRP), dan cryoprecipitate/kriopresipitat lebih direkomendasikan daripada whole blood(WB). Tujuan.Mengetahui hubungan antara latar belakang penyakit dengan penggunaan transfusi komponen darah.Metode.Penelitian retrospekstif dilakukan di Ruang Anak Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang. Data diperoleh dari register bank darah rumah sakit tahun 2008-2010. Latar belakang penyakit ditentukan dengan mengidentifikasi diagnosis pada setiap kasus transfusi. Komponen darah yang diteliti PRC, TC, FFP, PRP, dan kriopresipitat. Utilisasi dengan menghitung total jumlah komponen darah yang dipakai per diagnosis penyakit, dan rerata pemakaian produk darah per jumlah kasus terindikasi transfusi per tahun. Analisis uji statistik hubungan dengan menggunakan Chi square.Hasil.Terdapat peningkatan rerata utilisasi darah 5678 unit darah per tahun. Terdapat peningkatan penggunaan selama 3 tahun terakhir, secara berurutan adalah 3751, 6496, dan 6787 unit darah (p<0.001). Komponen darah yang paling banyak digunakan berturut-turut adalah TC 3228 unit, PRC 1682 unit, FFP 295 unit, PRP 224 unit, dan cryo133 unit. Pasien leukemia merupakan pengguna komponen darah terbanyak dengan rerata pemakaian per tahun 2098 unit, diikuti oleh sepsis 893 unit, dan thalassemia 568 unit. Rasio kebutuhan PRC terbanyak untuk kasus penyakit jantung (2,23) diikuti penyakit ginjal (2,25) dan thalassemia (1,7). Untuk penggunaan TC, terbanyak berturut-turut adalah ITP (14,70 unit), anemia aplastik (9,8 unit), dan leukemia (6 unit). Terdapat hubungan antara diagnosis penyakit dengan penggunaan transfusi komponen PRC, TC, dan plasma (p<0,001).Kesimpulan.Terdapat hubungan antara latar belakang penyakit penyebab dengan penggunaan transfusi komponen darah. Leukemia, sepsis, dan thalassemia adalah latar belakang penyakit yang paling banyak menggunakan transfusi komponen darah. Berturut turut komponen darah yang banyak digunakan adalah konsentrat trombosit, komponen sel darah merah, serta plasma darah segar.
Insidens Diare pada Anak dengan Pneumonia, Studi Retrospektif Nurjannah Nurjannah; Nora Sovira; Raihan Raihan; Sulaiman Yusuf; Sidqi Anwar
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.888 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.169-73

Abstract

Latar belakang. Pneumonia dan diare merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian pada anak. Kedua penyakit dapat terjadi terpisah atau bersamaan. Insidens dari kedua penyakit bersamaan akan menentukan tata laksana kasus tersebut selanjutnya.Tujuan.Mengetahui insidens diare pada anak yang dirawat dengan pneumonia di bangsal anak.Metode.Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data dari rekam medis pasien mulai 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2009, yang dirawat di RSUD Dr.Zainoel Abidin Aceh. Hasil.Terdapat 347 anak yang diikutkan dalam penelitian dan 54,2% anak menderita diare, 29,4% menderita pneumonia dan 4,3% menderita diare dengan pneumonia. Selama periode penelitian didapatkan 2035 anak dirawat di bangsal anak RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh; 347 anak di antaranya dilakukan analisis. Dari 347 anak, 54,2% menderita diare, 29,4% pneumonia, dan 4,3% diare ditambah pneumonia. Terbanyak (80%) umur kurang dari 1 tahun, 60% dengan gizi kurang, disertai suhu 380C, muntah (46,7%), dan disertai anemia, terdapat pada anak dengan diare dan pneumonia.Kesimpulan.Pada anak yang dirawat inap dalam dua tahun terakhir didapatkan angka infeksi diare lebih tinggi daripada pneumonia. Insidens diare beserta pneumonia 4,3%.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue