cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2013)" : 12 Documents clear
Korelasi Total Lymphocyte Count terhadap CD4 pada anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus Aulia Fitri Swity; Djatnika Setiabudi; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.914 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.81-6

Abstract

Latar belakang.Epidemi infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan tantangan besar dalam permasalahan kesehatan di dunia. Di Indonesia, jumlah kasus HIV/AIDS anak semakin meningkat tiap tahunnya. Pemantauan jumlah CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi anti- CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi antiretroviral/ARV, tetapi pemeriksaannya mahal dan tidak selalu tersedia di sarana kesehatan. Total lymphocyte count (TLC) diajukan sebagai panduan alternatif selain jumlah CD4 pada keadaan sarana kesehatan yang terbatas. Tujuan. Menentukan korelasi TLC dengan jumlah CD4, dan menentukan jumlah CD4 berdasarkan pemeriksaan TLC pada anak HIV.Metode. Penelitian potong lintang berupa observasional analitik, pengambilan data secara retrospektif rekam medis anak HIV yang dirawat inap di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak dan rawat jalan di Klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Dilakukan analisis regresi linier pada faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan CD4 untuk menentukan korelasi TLC dengan CD4, serta nilai hitung CD4 dari TLC. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil.Subjek penelitian 67 anak HIV, terdiri dari 35 (52%) laki-laki dan 32 (48%) perempuan. Rentang jumlah CD4 berkisar antara 6–3.094 mm3, rerata 444,3 mm3(SD 536,3), median 241 mm3,dan rentang jumlah TLC antara 525–10.738, rerata 3.352,4 (SD 2.020,4), median 2.898. Analisis regresi menunjukkan hubungan linier antara jumlah CD4 sebagai variabel tergantung (Y) dan TLC sebagai variabel bebas (X) menggunakan persamaan Y= -158,209+0,180X. Didapatkan korelasi kuat antara TLC dan jumlah CD4 (r=0,68; p<0,001). Kesimpulan.Terdapat hubungan positif antara jumlah limfosit dan jumlah CD4. Jumlah CD4 pada pasien HIV anak dapat diperkirakan dari jumlah limfosit. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan cut off point TLC dalam inisiasi ARV
Pola Sensitifitas Bakteri dan Penggunaan Antibiotik Sri Sulastri Katarnida; Mulya Rahma Karyanti; Dewi Murniati Oman; Yusticia Katar
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.122-6

Abstract

Latar belakang.Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa mengakibatkan resistensi obat, meningkatkan morbiditas, mortalitas dan biaya pengobatan. Faktor utama menentukan tepatnya penggunaan antibiotik adalah pemilihan antibiotik yang tepat, berdasarkan bakteri penyebab dan sensitifitasnya terhadap antibiotik. Sampai saat ini penelitian penggunaan antibiotik dan pola sensitifitas bakteri pada pasien anak di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso belum pernah dilakukan.Tujuan. Mengetahui pola bakteri dan sensitifitasnya terhadap antibiotik pada pasien anak yang dirawat di RSPI SS.Metode. Penelitian dilakukan secara deskriptif, retrospektif dari rekam medis pasien rawat inap anak nonbedah, umur 1 bulan-15 tahun, dan hasil kultur tumbuh bakteri, periode tahun 2010 dan 2011. Pasien PICU dan pasien yang dalam perawatannya didiagnosis sebagai pasien bedah dikeluarkan dari penelitian.Hasil. Kultur dilakukan pada 286/1256 (22,8%) sampel, tumbuh bakteri pada 96/286(33,6%). Kelompok bayi 1bulan-<1tahun 14 (26,9%) paling banyak dilakukan kultur. Hasil kultur terbanyak S. typhi11/54 (20,4%), E. coli9/54 (16,7%) dan S epidermidis 7 (13%). S. typhisensitif 100% terhadap sefotaksim, seftriakson, kloramfenikol, dan kotrimoksazol. SensitifitasE. coli62,5% terhadap kloramfenikol, tetapi kurang sensitif terhadap antibiotik lainnya.Kesimpulan. Bakteri terbanyak ditemukan S typhi (20.4%)danE coli (16.7%). Sensitifitas S typhi 100% terhadap semua antibiotik yang digunakan (kotrimoksazol, tiamfenikol, kloramfenikol, sefotaksim dan seftriakson). Penggunaan antibiotik untuk S typhimasih bisa dengan lini pertama antibiotik sejauh tidak ada kontra indikasinya.
Kekebalan dan Keamanan setelah Mendapat Imunisasi Hepatitis B Rekombinan pada Anak Remaja Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil; Novilia S Bachtiar
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.87-92

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan riwayat implementasi program imunisasi Hepatitis B di Jawa Barat, diperkirakan anak periode remaja akhir (15–18 tahun) belum terlindungi terhadap infeksi Hepatitis B.Tujuan. Menilai kekebalan dan keamanan pasca imunisasi 3 dosis vaksin Hepatitis B rekombinan pada anak remaja sehat yang belum pernah mendapat imunisasi Hepatitis B.Metode. Penelitian intervensi dengan label terbuka terhadap remaja usia 15–18 tahun yang belum pernah mendapatkan imunisasi Hepatitis B, diberikan 3 dosis (1,0 ml=20 µg of HBsAg) Hepatitis B rekombinan secara intramuskular pada daerah lengan atas dengan interval waktu 1 bulan. Respons antibodi diukur menggunakan Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) Architect ausab reagent kit on architect i 1000sr, dilakukan pra dan 28 hari pasca dosis ke-3 vaksinasi. Reaksi lokal dan kejadian sistemik dicatat pada buku catatan harian selama 28 hari pasca tiap imunisasi. Hasil. Selama periode penelitian didapatkan seratus lima puluh subyek dengan Hbs Ag negatif. Dari jumlah tersebut 112 (75,3%) dengan kadar anti-HBs <10 IU/ml, dan pasca mendapat 3 dosis imunisasi kekebalan terhadap hepatitis B tercatat pada 95,5% remaja; GMT 682,65 (495,11–941,24) mIU/mL. Tidak ditemukan reaksi serius pasca imunisasi dan semua vaksin dapat diterima dengan baik.Kesimpulan. Pemberian 3 dosis vaksin Hepatitis B rekombinan memberikan kekebalan yang tinggi dan aman diberikan pada remaja sehat.
Perbedaan Status Besi Bayi Normal yang Mendapat Air Susu Ibu Eksklusif dengan Susu Formula Standar Henne Giyantini; Ponpon Idjradinata; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.127-32

Abstract

Latar Belakang.Anemia defisiensi besi (ADB) pada anak dapat menyebabkan gangguan kognitif, psikomotor, dan tingkah laku menetap meskipun anemia dikoreksi. Pada usia 4−6 bulan, cadangan besi menurun, pertumbuhan cepat dan asupan besi rendah menyebabkan ADB.Tujuan.Menganalisis perbedaan status besi bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan susu formula standar (SFS) dan mengetahui waktu pemberian suplemen besi yang tepat. Metode.Penelitian analitik potong-lintang di RSUD Ujungberung dan Cibabat serta RSKIA Astanaanyar Bandung periode Juni−Juli 2012, pada bayi 4, 6 dan 9 bulan, lahir cukup bulan, berat lahir >2.500 g, sehat dan mendapat ASI eksklusif atau SFS. Dilakukan pemeriksaan Hb, MCV, Fe serum, TIBC, dan feritin serum. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan status besi.Hasil.Subjek 60 bayi. Pada kelompok ASI eksklusif dan SFS 4, 6, dan 9 bulan Hb berturut-turut 10,57; 10,86; 9,64 dan 10,77; 11,22; 11,74 g/dL; TIBC 294,3; 265,4; 339 dan 297,5; 268; 317,8 µg/dL; MCV 70,3; 72,9; 62,89 dan 77,57; 72,82; 73,39 fl; serta feritin serum 81,1; 131,7; 26,5 dan 120,2; 56; 45,9 µg/L berbeda bermakna (p=0,017; p=0,049; p<0,001; p<0,001). Fe serum 44,7; 43,1; 26,4 µg/dL dan 33,9; 35,9; 40,8 µg/dL tidak bermakna (p=0,202). Bayi yang mengalami DB dan ADB pada usia 9 bulan lebih banyak terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif (p=0,020). Enam dari 10 bayi mengalami DB dan ADB pada usia 4 bulan pada kedua kelompok.Kesimpulan.Status besi bayi normal yang mendapat ASI eksklusif lebih rendah daripada bayi yang mendapat SFS. Rekomendasi pemberian suplemen besi mulai usia 4 bulan, perlu ditinjau ulang.
Pengaruh Suplementasi Seng dan Vitamin A Terhadap Kejadian ISPA dan Diare pada Anak Fita Asfianti; H.M. Nazir; Syarif Husin; Theodorus Theodorus
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.93-8

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare adalah defisiensi vitamin A. Walaupun di Indonesia telah didapat program pembe- dapat program pembe- program pemberian vitamin A, tetapi masih banyak anak dengan defisiensi vitamin A karena defisiensi seng.Suplementasi seng dan vitamin A diharapkan dapat meningkatkan kadar seng dan vitamin A pada anak sehingga dapat menurunkan angka kejadian ISPA dan diare.Tujuan.Mengetahui pengaruh suplementasi seng dan vitamin A terhadap kejadian ISPA dan diare.Metode. Penelitian kohort dilakukan selama bulan Agustus 2009-Februari 2010. Sampel anak usia 12-60 bulan diambil dari 5 Posyandu di Puskesmas Talang Ratu, Palembang. Pemeriksaan kadar seng dan vitamin A dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan sesudah suplementasi seng (200 mg per hari selama dua minggu) dan vitamin A (200 000 IU). Pemeriksaan kadar seng menggunakan Atomic Absorbtion Spectroscope(AAS), dan kadar vitamin A dengan spektrofotometer. Uji bivariat dan multivariat dianalisis dengan SPSS 15, dengan p<0,05.Hasil. Didapatkan 88 subjek penelitian, terdiri dari 45 (51,1%) laki-laki dan 43 (48,9%) perempuan.. Rerata umur 28,44 ±12,34 bulan. Terdapat perbedaan rerata kadar seng dan vitamin A pada anak sebelum dan setelah diberikan suplementasi seng dan vitamin A 60,61±31,36 µg/dL vs 84,76±22,87 µg/dL (p<0,05), dan 19,73±5,96 µg/dL vs 23,54±5,88 µg/dL (p<0,05). Angka kejadian ISPA setelah suplementasi menurun dari 61,4% menjadi 22,7%, dan diare dari 28,4% menjadi 26,1%. Kadar seng dan vitamin A berpengaruh terhadap kejadian ISPA dan diare (p<0,05).Kesimpulan. Terdapat pengaruh suplementasi seng dan vitamin A terhadap penurunan angka kejadian ISPA dan diare.
Malnutrisi Rumah Sakit Pada Bangsal Anak Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Aidah Juliaty Aidah Juliaty
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.65-8

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi rumah sakit (MRS) ditandai dengan penurunan berat badan saat dirawat di rumah sakit. Kejadian MRS erat kaitannnya dengan dukungan nutrisi selama perawatan. Tujuan. Menentukan prevalensi MRS pada pasien yang dirawat di bangsal anak Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar.Metode.Penelitian observasional kohort retrospektif yang berlangsung dari Januari sampai Desember 2011 di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Jumlah sampel 1268 menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) menurut CDC 2000. Hasil. Prevalensi MRS perempuan 0,12%, dan laki-laki 0,11%. Tertinggi 0,16% pada kelompok umur 25-36 bulan, dan terendah 0,03% pada kelompok umur 49-60 bulan. Pada kelompok subyek tersebut, 0,15% dengan diagnosis multipel, 0,05% dengan diagnosis tunggal, 0,27% status gizi buruk, 0,12% gizi kurang, dan 0,8% gizi baik. Dari subdivisi infeksi diperoleh kejadian MRS 0,17%, dan non infeksi 0,07%(OR 1,1), serta lama rawat >7 hari 0,25%, dan 2-7 hari 0,07%.Kesimpulan.Anak yang dirawat lebih dari satu minggu dengan penyakit kronis dan diagnosis multipel mempunyai risiko MRS lebih besar dibandingkan anak yang dirawat kurang dari seminggu. Penyakit infeksi mempunyai faktor risiko lebih besar mengalami MRS daripada penyakit non infeksi.
Hubungan antara Kadar High Density Lipoprotein dengan Derajat Sepsis Berdasarkan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction Emi Yulianti; Antonius H. Pudjiadi; Mardjanis Said; E.M. Dady Suyoko; Hindra Irawan Satari; Pramita Gayatri
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.041 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.116-21

Abstract

Latar belakang. Sepsis masih merupakan penyebab kematian terbesar di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Peran high density lipoprotein(HDL) pada keadaan sepsis mengikat dan menetralisir lipopolisakarida (LPS), menghambat adhesi molekul dalam kaskade inflamasi, dan sebagai antioksidan.Tujuan. Mengetahui profil HDL pada anak sepsis serta mengetahui hubungan kadar HDL dengan derajat sepsis berdasarkan skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD). Metode.Studi potong lintang pada anak sepsis di PICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan- 18 tahun antara April-Agustus 2011.Hasil. Didapatkan 34 subjek, dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia <2 tahun (19/34). Terdapat hubungan antara kematian dengan skor PELOD >20 (p=0,000). Lima dari 7 pasien dengan skor PELOD >20 ditemukan mempunyai kadar HDL rendah (p=1). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kematian dengan kadar HDL (p=0,248). Terdapat korelasi lemah berbanding terbalik antara kadar HDL dengan skoring PELOD tetapi tidak bermakna secara statistik (r =-0,304, p = 0,080)Kesimpulan. Pasien sepsis dengan skor PELOD tinggi cenderung memiliki kadar HDL rendah.
Perbandingan Jumlah Limfosit Total pada Anak Gizi Buruk dengan Infeksi dan Tanpa Infeksi HIV Nur Aisiyah Widjaja; Dina Angelika; Siti Nurul Hidayati; Roedi Irawan
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.99-104

Abstract

Latar belakang. Anak gizi buruk dengan dan tanpa infeksi HIV mempunyai tampilan klinis yang hampir sama. Jumlah limfosit total (TLC) dapat digunakan sebagai parameter respon imun selular pada anak gizi buruk dan sebagai penilaian penurunan respon imun selular pada HIV yang dapat dipakai sebagai skrining awal.Tujuan. Membandingkan jumlah limfosit total pada anak gizi buruk dengan dan tanpa infeksi HIV.Metode. Penelitian analitik deskriptif retrospektif dari data sekunder status pasien gizi buruk umur 0-60 bulan yang dirawat di bangsal anak RSUD Dr Soetomo, Surabaya sejak tahun 2004-2009. Data yang diambil adalah data umur, jenis kelamin, dan status infeksi HIV. Diagnosis HIV berdasarkan pemeriksaan serologi tiga metode dan PCR. Semua pasien gizi buruk dengan dan tanpa HIV dihitung jumlah limfosit totalnya. Analisis data menggunakan chi-square dan t-test.Hasil. Didapatkan 58 anak dengan gizi buruk dan 14 anak disertai dengan infeksi HIV. Nilai rerata TLC pada anak gizi buruk dengan infeksi HIV 2743 (1008-4479), sedangkan tanpa infeksi HIV 6260 (4755-7766). Kelompok anak gizi buruk dengan infeksi HIV mempunyai TLC lebih rendah dibandingkan tanpa HIV (2743 vs 6260) yang bermakna secara statistik dengan mean difference -3517(-5740 sampai -1295 ),p=0,003. Perbedaan bermakna terutama pada kelompok umur 12-23 bulan (2279 vs 7403) dengan mean difference-5124 (-9074 sampai -1168), p=0.015. Kesimpulan. Anak gizi buruk dengan infeksi HIV mempunyai jumlah limfosit total yang lebih rendah dibandingkan gizi buruk tanpa infeksi HIV terutama pada kelompok umur 12-23 bulan.
Tumbuh Kembang Anak Hipotiroid Kongenital yang Diterapi dini dengan Levo-tiroksin dan Dosis Awal Tinggi Adi Wirawan; Sunartini Sunartini; Bikin Suryawan; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.295 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.69-74

Abstract

Latar belakang. Hipotiroid kongenital (HK) adalah penyebab disabilitas intelektual yang bisa dicegah dengan diagnosis dini diikuti dengan pemberian terapi pengganti levo-tiroksin (L-T4). Deteksi dini melalui skrining hipotiroid kongenital (SHK) belum menjadi program rutin pemerintah sehingga kasus HK belum banyak dapat dikelola secara tepat dan berkesinambungan. Tujuan.Mengetahuigambaran pencapaian tumbuh kembang anak dengan HK yang mendapat terapi dengan L-T4 pada usia balita. Metode.Penelitian studi kasus (case study). Pasien HK usia balita yang menjalani terapi LT4 di Poliklinik Endokrin Anak RS Sanglah, RSUD Wangaya Denpasar dan RSUD Karangasem sejak tahun 2006 berdasarkan catatan medik, dianalisis perjalanan penyakit dan terapinya. Dilakukan penilaian tumbuh kembang pada usia balita dengan skala mental dan motor dari Bayley II (BSID II), pertumbuhan dinilai parameter antropometrik berdasarkan WHO Anthro-2005, maturitas tulang dengan bone age. Hasil. Duabelas kasus dianalisis, terdiri dari 4 laki-laki dan 8 perempuan, usia diagnosis antara 3-18 bulan. Lima subyek dengan HK berat, 4 tidak berat, dan 3 disertai sindrom Down secara klinis. Saat diagnosis ditegakkan, rerata TSH awal adalah 130,73 (SB 194,89) uIU/mL dan rerata FT4 0,54 (SB 0,54) ng/dL, dan dengan rerata BBL 2862,50 (SB 487,16) gram. Lima kasus mendapatkan terapi dini dan 7 kasus dengan terapi tidak dini.Kesimpulan.Luaran indeks perkembangan psikomotor lebih baik pada HK permanen yang menggunakan dosis awal tinggi dibandingkan dosis standar. Luaran pertumbuhan mengalami perbaikan setelah pemberian terapi L-T4 berdasarkan parameter antropometri. Percepatan pertumbuhan pada usia balita akan tercapai apabila diterapi sejak dini.
Profil Hipertensi pada Anak di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Syafruddin Haris; Herlina Dimiati; M.Sidqi Anwar
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.193 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.105-110

Abstract

Latar belakang. Hipertensi pada anak masih mendapat perhatian yang serius karena dapat menimbulkan cacat menetap dan berakibat kematian. Prevalensi hipertensi anak tidak diketahui secara pasti, dilaporkan sekitar 1%-5%. Hipertensi tersering yang dijumpai di rumah sakit rujukan adalah hipertensi sekunder. Tujuan. Mengetahui profil klinis dan respon terapi pasien hipertensi pada anak di ruang rawat inap anak RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh selama periode 5 tahun.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif untuk melihat gambaran hipertensi pada anak di RSUDZA. Data diperoleh dari catatan medik pasien hipertensi sejak tahun 2007- 2011. Data dikumpulkan berdasarkan derajat hipertensi, penyakit yang mendasari hipertensi, dan pengobatan yang diberikan.Hasil. Selama 5 tahun (2007-2011), terdapat 41 pasien hipertensi (26 laki-laki dan 15 perempuan). Hipertensi derajat satu 10 orang, derajat dua 16 orang, dan hipertensi krisis 15 orang. Umur tersering adalah 10-11 tahun. Tidak terdapat hubungan antara rerata umur dengan derajat hipertensi. Penyakit yang mendasari adalah 16 orang glomerolunefritis akut, 13 sindrom nefrotik, 7 gagal ginjal kronik, serta 5 penyakit lainnya. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penyakit yang mendasari dengan derajat hipertensi. Respon pengobatan hipertensi dengan satu macam obat 9 orang, dua obat 19, dan 13 respon dengan gabungan tiga atau lebih obat. Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah obat dengan derajat hipertensi.Kesimpulan. Hipertensi pada anak di RSUDZA paling sering terdapat anak berumur 10-11 tahun. Penyebab tersering adalah glomerulonefritis akut. Terdapat hubungan bermakna antara jumlah obat yang diberikan dengan derajat hipertensi.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue