cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 3 (2017)" : 10 Documents clear
Perbandingan Mortalitas Pasien Anak dengan Acute Respiratory Distress Syndrome yang Menggunakan Delta Pressure Tinggi dan Rendah Tressa Bayu Bramantyo; Sri Martuti; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.156-60

Abstract

Latar belakang. Strategi ventilasi protektif paru (protective lung strategy) direkomendasikan dalam penanganan pasien acute respiratory distress syndrome (ARDS). Strategi tersebut mencakup pembatasan PEEP dan delta pressure pada penggunaan ventilator untuk mencegah mortalitas. Pembatasan delta pressure ≤13 mmHg diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas pasien ARDS dengan ventilator.Tujuan. Mengetahui perbandingan mortalitas pasien anak dengan ARDS yang menggunakan delta pressure tinggi dan rendah.Metode. Penelusuran rekam medis pasien anak berusia 1 bulan-18 tahun yang menderita ARDS yang dirawat di PICU dengan menggunakan ventilator.Hasil. Studi cross sectional dari bulan September 2016 sampai dengan Maret 2017 terhadap 32 pasien anak berumur 1 bulan-18 tahun yang menderita ARDS, didapatkan hasil bahwa mortalitas pasien anak dengan ARDS lebih tinggi pada penggunaan setting ventilator dengan delta pressure tinggi (ΔP>13 cmH2O) dibandingkan dengan yang menggunakan pengaturan ventilator dengan delta pressure yang rendah (ΔP≤13 cmH2O) (p<0,001, OR 45,00 (IK95%: 5,47-370,02).Kesimpulan. Pasien anak dengan ARDS yang menggunakan setting ventilator dengan delta pressure rendah, mortalitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang menggunakan pengaturan ventilator dengan delta pressure tinggi.
Profil Manifestasi Klinis dan Laboratoris Pasien Dengue Bayi yang Menjalani Rawat Inap di RSUP. DR. Hasan Sadikin Bandung Indri Handayani; Agnes Rengga Indrati; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.119-26

Abstract

Latar belakang. Dibanding pada anak dan dewasa, kejadian infeksi virus dengue pada bayi meningkat tiap tahun dengan derajat keparahan yang cepat. Jumlah penelitian mengenai manifestasi klinis maupun laboratoris pada pasien infeksi dengue bayi masih kurang terpublikasi.Tujuan. Untuk menggambarkan manifestasi klinis dan laboratoris pasien infeksi dengue bayi di RSUP DR.Hasan Sadikin tahun 2011-2016.Metode. Penelitian dengan desain observasional deskriptif kuantitatif. Mengambil data manifestasi klinis dan laboratoris selama rawat inap. Hasil. Sampel 62 bayi, termuda berusia 2 bulan. Manifestasi terbanyak adalah ptekie, feses cair, hepatomegali, batuk pilek, muntah efusi pleura dan pendarahan intra abdomen. Dua pasien tidak mengalami demam. Saat nadir, trombositopenia terjadi pada 98,3% pasien. Rerata terendah hemoglobin 9,12 g/dL, hematokrit 26,7%, dan leukosit 8898 /mm3. Terjadi gangguan fungsi hati dari data peningkatan SGPT pada 62,9% pasien dan SGOT pada 88,8% pasien.Kesimpulan. Usia terbanyak adalah rentang umur 4-6 bulan dengan manifestasi paling sering adalah demam, beberapa pasien langsung mengalami manifestasi pendarahan tanpa mengalami demam. Pada EDS manifestasi paling sering yaitu kejang dan penurunan kesadaran. Mayoritas pasien memiliki kadar Hb rendah, trombositopenia dan abnormalitas fungsi hati.
Korelasi Positif Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Tingkat Stres pada Anak Sekolah Dasar Putu Anindia Sekarningrum; IGA Trisna Windiani; IGAN Sugitha Adnyana
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.524 KB) | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.145-9

Abstract

Latar belakang. Kompetisi antar orangtua merupakan salah satu penyebab munculnya sindrom hurried child, yaitu fenomena percepatan perkembangan anak. Anak diberi berbagai kegiatan ekstrakurikuler setiap minggu yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak. Hubungan orangtua dan anak yang tidak sehat cenderung membuat anak merasa tertekan ketika menjalankan kegiatan akademik mereka. Kesenjangan antara tuntutan dari orangtua dan kemampuan diri anak akan menimbulkan kondisi stres di bidang akademik pada anak.Tujuan. Mencari besar korelasi antara kegiatan ekstrakurikuler dengan tingkat stres pada anak sekolah dasar.Metode. Digunakan rancangan penelitianobservasional analitik dengan desain potong lintang. Penentuan lokasi dan subjek penelitian digunakan metode purposive sehingga terpilih Sekolah Dasar Swasta C Denpasar. Hasil. Berdasarkan analisis korelasi dengan uji korelasi Pearson, didapatkan kegiatan ekstrakurikuler memiliki korelasi positif lemah dengan tingkat stres (r=0,309). Semakin lama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di bidang pelajaran sekolah dalam seminggu maka semakin tinggi skor stres (r=0,403) dan semakin lama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni dalam seminggu maka semakin tinggi skor stres (r=0,166).Kesimpulan. Kegiatan ekstrakurikuler memiliki korelasi positif dengan tingkat stres pada anak sekolah dasar. 
Tata laksana Infeksi Sitomegalovirus pada Pasien Transplantasi Organ Padat Lucyana Alim Santoso; Mulya Rahma Karyanti; Nina Dwi Putri
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.572 KB) | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.172-82

Abstract

Pasien kandidat transplan organ padat merupakan populasi yang berisiko tinggi mengalami infeksi, terutama setelah transplantasi, karena pasien akan menerima terapi imunosupresan sehingga infeksi maupun reaktivasi patogen lebih mudah terjadi. Patogen penyebab morbiditas tersering adalah sitomegalovirus (CMV). Infeksi sitomegalovirus dapat bersifat simtomatik maupun asimtomatik. Penyakit CMV timbul apabila infeksi bersifat simtomatik dan dapat terjadi baik oleh infeksi primer, reaktivasi, maupun superinfeksi virus. Gejala penyakit CMV pada pasien imunokompromais dapat menjadi diseminata. Baku emas untuk mendiagnosis CMV adalah dengan polymerase chain reaction (PCR) CMV. Namun demikian, belum ada panduan tatalaksana profilaksis maupun batasan titer CMV yang memerlukan terapi. Makalah ini bertujuan untuk menelaah literatur sehingga dapat menghasilkan panduan profilaksis dan terapi penyakit CMV pada pasien transplantasi organ padat di Indonesia.
Kadar 25-hydroxyvitamin D sebagai penanda sepsis pada anak Austin Simon Tjowanta; Chairul Yoel; Munar Lubis
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1480.437 KB) | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.150-5

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab tersering morbiditas dan mortalitas pada anak. Vitamin D memiliki peran pentingdalam mengoptimalkan sistem imun bawaan serta memodulasi respon imun adaptif pada sepsis.Tujuan. Untuk mengevaluasi nilai diagnostik dari kadar 25-hydroxyvitamin D sebagai penanda sepsis pada anak.Metode. Penelitian diagnostik dengan desain potong lintang dilakukan terhadap 50 anak di PICU RSUP Haji Adam Malik dariFebruari sampai Maret 2016. Duapuluh lima anak didiagnosis sepsis dan 25 non sepsis. Kriteria inklusi adalah pasien anak berusia1 bulan sampai <18 tahun. Sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, nilai duga negatif, rasio kemungkinan positif dan negatifdinilai pada penelitian ini.Hasil. Rerata kadar 25-hydroxyvitamin D pada kelompok sepsis (24 ng/mL) relatif lebih rendah dibandingkan dengan kelompoknon sepsis (29,7 ng/mL). Nilai batas ambang kadar 25-hydroxyvitamin D 24 ng/mL. Kami menemukan 15 orang dengan sepsis dan2 orang non sepsis dengan nilai batas ambang ini. Dari uji diagnostik diperoleh sensitivitas 60%, spesifisitas 92%, nilai duga positif88%, nilai duga negatif 70%, rasio kemungkinan positif 7,5 dan rasio kemungkinan negatif 0,43.Kesimpulan. Kadar 25-hydroxyvitamin D mempunyai spesifisitas yang tinggi dan sensitivitas yang rendah sehingga dapat digunakansebagai penanda sepsis tambahan pada anak.
Penilaian Gangguan Perilaku Anak Talasemia Mayor dengan Menggunakan The Child Behavior Checklist Mire Riyana; Muhammad Riza
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.816 KB) | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.127-30

Abstract

Latar belakang. Masalah gangguan perilaku anak yang menderita talasemia mayor, antara lain, masalah perkembangan, lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penilaian untuk menilai gangguan perilaku internal atau eksternal anak talasemia mayor perlu dilakukan. Tujuan. Menilai gangguan perilaku anak talasemia mayor dengan menggunakan the child behavior checklist (CBCL).Metode. Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Populasi adalah anak penyandang talasemia mayor yang berusia 6 sampai 18 tahun yang dirawat di bangsal talasemia Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta antara bulan Desember 2016 – April 2017 dengan diberikan kuesioner CBCL.Hasil. Didapatkan gangguan perilaku internal 22 anak (73,3%) dalam kategori terganggu dan gangguan perilaku eksternal dalam kategori normal 12 anak (40,0%) dari 30 anak populasi talasemia mayor. Rerata usia 12,62+3,20 tahun dengan usia 6-11 tahun 9 (30,0%) anak, dan usia 12-18 tahun 21 (70,0%) anak.Kesimpulan. Terdapat gangguan perilaku pada anak talasemia mayor. Didapatkan sebagian besar anak dengan gangguan perilaku internal, sementara sebagian besar anak dengan perilaku eksternal dalam kategori normal. Usia anak yang lebih tua memiliki skor CBCL lebih tinggi dan memiliki lebih banyak masalah perilaku.
Perbedaan Kadar Feritin Serum Pada Penyandang Talasemia β Mayor yang Mengalami Hipotiroid dan Eutiroid Burhan Nasaruddin; Susi Susanah; Sri Sudarwati
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.161-5

Abstract

Latar belakang. Komplikasi penumpukan besi pada organ tiroid berupa hipotiroid. Sebagian besar penelitian yang meneliti hubungan feritin serum dan hipotiroid mendapatkan hasil yang tidak bermakna. Penumpukan besi pada organ dapat dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga menyebabkan perbedaan hasil penelitian.Tujuan. Menentukan perbedaan feritin serum pada penyandang talasemia β mayor dengan hipotiroid dan eutiroid.Metode. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional rancangan cross sectional pada penyandang talasemia β mayor di poliklinik anak Hemato-Onkologi RSUP Dr. Hasan Sadikin. Subjek diperiksakan TSH, FT4, T3 dan feritin, dibagi menjadi kelompok hipotiroid dan eutiroid, kemudian diklasifikasikan menjadi hipotiroid nyata, subklinis, sekunder dan eutiroid. Analisis menggunakan Uji Mann Whitney dan Kruskall Wallis.Hasil. Subjek penelitian 68 anak, 38 subjek (55%) mengalami hipotiroid. Feritin serum kelompok hipotiroid 3275 ng/dL, berbanding 3648 ng/dL pada eutiroid, tidak berbeda bermakna (p=0,443). Terdapat hubungan feritin serum dengan klasifikasi hipotiroid. Feritin serum berdasarkan klasifikasi hipotiroid nyata, subklinis, sekunder dan eutiroid secara berurutan sebesar 6575, 2687, 4089, dan 3648 ng/mL (p=0,027). Analisis posthoc mendapatkan hipotiroid nyata dan subklinis berbeda bermakna.Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan feritin serum tidak berbeda pada kelompok hipotiroid dan eutiroid, tetapi berbeda pada hipotiroid nyata dan subklinis. Hasil penelitian mendorong dilakukan evaluasi profil tiroid secara rutin sejak dini.
Faktor Prediktor Dehisensi pada Neonatus dengan Pembedahan Abdominal Lucy Pravitasari; Setya Wandita; Endy P. Prawirohartono
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.131-8

Abstract

Latar belakang. Dehisensi luka operasi merupakan komplikasi operasi yang jarang, tetapi sering menyebabkan kematian. Faktor risiko yang dilaporkan adalah usia kurang dari 1 tahun, gizi buruk, hipoalbuminemia, infeksi berat, insisi median, dan operasi yang bersifat darurat. Tujuan. Untuk mengetahui sepsis, anemia, hipoalbuminemia, trombositopenia, jenis kelamin laki-laki, operasi darurat, kurang bulan dan berat lahir rendah dapat digunakan sebagai prediktor dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal.Metode. Dilakukan penelitian kohort retrospektif dari data rekam medis pada 159 neonatus dengan pembedahan abdominal. Analisis dilakukan dengan menghitung angka kejadian dehisensi. Analisis bivariat digunakan untuk menentukan risiko relatif dan analisis multivariat digunakan metode regresi Cox untuk mengetahui hazard rasio berdasarkan waktu terjadinya dehisensi. Hasil. Angka kejadian dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal adalah 39/159 (24,5%) kasus. Rerata waktu kejadian adalah hari ke-11 (kisaran 5-28 hari) pascaoperasi. Rerata lama hari rawat pasien dengan dehisensi lebih panjang, yaitu 36 (5-96) dibandingkan dengan yang tidak dehisensi 21 (2-155) hari (p=0,001). Terdapat 28,2% 11/39 (28,2%) kasus dengan infeksi luka operasi dan angka kematian (9/39 (25%) kasus. Tidak didapatkan faktor prediktor yang bermakna untuk terjadinya dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal.Kesimpulan. Tidak didapatkan faktor prediktor yang bermakna untuk terjadinya dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal. Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih baik, yaitu secara prospektif dan mempertimbangkan faktor prediktor lain, seperti status gizi, penyakit penyerta (penyakit sistem respirasi, instabilitas hemodinamik) serta faktor intraoperatif (lama, jenis insisi dan jenis penutupan luka).
Mortalitas dan Morbiditas pada Bayi Prematur dengan Resusitasi Menggunakan Oksigen Konsentrasi Rendah Syarimonitha Munadzilah; Rosalina Dewi
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.166-71

Abstract

Latar belakang. Bayi prematur merupakan kelompok yang berisiko membutuhkan bantuan resusitasi aktif. Selama bertahun-tahun, resusitasi neonatus menggunakan oksigen hingga konsentrasi 100%, tetapi penggunaan oksigen 100% akan menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan jaringan yang akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Akhir-akhir ini, penggunaan oksigen konsentrasi rendah (21%-30% ) mulai dianjurkan.Tujuan. Mengetahui mortalitas dan morbiditas bayi prematur yang mendapatkan resusitasi neonatus dengan oksigen konsentrasi rendah dibandingkan konsentrasi tinggi.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik: PubMed, Cochrane, Google scholar, dan melalui penulis.Hasil. Didapatkan dua studi meta analisis yang relevan dan satu studi acak terkontrol. Studi pertama menunjukkan tidak ada perbedaan mortalitas dan morbiditas pada kedua kelompok. Studi kedua menunjukkan tidak ada perbedaan mortalitas antara kedua kelompk, tetapi kejadian displasia bronkopulmonar lebih rendah pada kelompok konsentrasi oksigen rendah (RR=0,62). Studi terakhir menunjukkan bahwa resusitasi neonatus dengan oksigen hingga konsentrasi 50% masih aman digunakan.Kesimpulan. Resusitasi neonatus menggunakan oksigen konsentrasi rendah tidak lebih inferior dibandingkan konsnetrasi tinggi, bahkan menurunkan angka kejadian displasia bronkopulmonar.
Profil Klinis Anak dengan Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito Yogyakarta Rianti Puji Lestari; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.139-44

Abstract

Latar belakang. Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Gambaran klinis tifoid sangat bervariasi, seperti gejala klinis ringan hingga berat yang disertai komplikasi. Tujuan. Untuk mengetahui gambaran manifestasi klinis, laboratorium, dan tata laksana DT anak yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito. Metode. Penelitian retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medis pasien DT anak yang menjalani rawat inap sejak Januari 2011 hingga Mei 2016. Hasil. Ditemukan 158 kasus DT yang terbukti secara serologis (96,8%), kultur darah (1,3%), maupun keduanya (1,9%). Demam merupakan gejala utama pada seluruh pasien. Gejala penyerta lain adalah anoreksia (54,4%), mual (49,4%), muntah (41,8%), nyeri kepala (37,3%), batuk (37,3%), nyeri perut (34,2%), konstipasi (30,4%), dan diare (29,7%). Tanda yang paling sering didapatkan adalah pembesaran hati (29,7%), nyeri tekan abdomen (20,3%), limfadenopati (13,3%), letargi (13,3%), lidah kotor (12,0%), pembesaran limpa (6,3%) dan penurunan kesadaran (4,4%). Rerata lama rawat inap adalah 8,4±6,2 hari, mortalitas 2,5% diakibatkan oleh sepsis berat. Respon pasien 81,0% terhadap pemberian antibiotik, terbanyak diresepkan adalah ceftriaxone (45,6%). Komplikasi berupa sepsis (10,1%), hepatitis (8,9%), perdarahan saluran cerna (5,7%), ensefalopati (4,4%), dan perforasi usus (0,6%).Kesimpulan. Profil klinis anak dengan DT serupa dengan gambaran umum pasien di daerah endemis. Penegakan diagnosis pasti dengan menggunakan kultur darah masih belum banyak membantu di rumah sakit kami. Mortalitas yang masih cukup tinggi perlu diteliti lebih lanjut untuk perbaikan prognosis pasien

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue