cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 4 (2018)" : 10 Documents clear
Perbedaan Rerata Kadar Hemoglobin dan Feritin Berdasarkan Tingkat Inteligensia Anak di Sekolah Luar Biasa Kota Padang Inggrit Anggraini; Eva Chundrayetti; Ellyza Nasrul
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.732 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.207-13

Abstract

Latar belakang. Fungsi intelektual dibawah rata-rata (IQ < 70) yang muncul bersamaan dengan defisit perilaku adaptif dan bermanifestasi pada periode perkembangan disebut retardasi mental (RM). Defisiensi besi merupakan salah satu defisiensi nutrisi yang diduga menjadi etiologi RM.Tujuan. Menilai perbedaan rerata kadar hemoglobin dan feritin berdasarkan tingkat inteligensia anak di Sekolah Luar Biasa Kota Padang.Metode. Penelitian cross sectional comparative pada November 2016 - Mei 2017 di Sekolah Luar Biasa (SLB) kota Padang. Sampel adalah siswa kelas C (tuna grahita) berusia 6-18 tahun. Sampel dikelompokkan berdasarkan tingkat intelligence quotient (IQ). Digunakan metode The Wechsler Intelligence Scale for Children 4th edition (WISC-IV) dan dibagi 3 kelompok, yaitu kelompok tidak RM, RM ringan, dan RM sedang berat. Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan kadar feritin semua kelompok sampel.Hasil. Dari 60 anak di SLB Kota Padang, terdiri dari 20 anak di tiap kelompok. Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (55%) dan usia rata-rata 12,96 tahun. Median kadar ferritin kelompok RM sedang berat lebih rendah (12,24 (2,59-39,87) ng/mL) dibandingkan kelompok tidak RM (63,03 (20,29-484,37) ng/mL) dan RM ringan (66,8 (18,19-163,22) ng/mL). Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna kadar hemoglobin dan feritin pada ketiga kelompok berdasarkan tingkat inteligensia (p<0,05).Kesimpulan. Terdapat perbedaan rerata kadar hemoglobin dan feritin berdasarkan tingkat inteligensia anak di Sekolah Luar Biasa Kota Padang.
Hubungan antara Ukuran Lingkar Pinggang dengan Masa Lemak Tubuh, Profil Lipid, dan Gula Darah Puasa pada Remaja Obese Aryono Hendarto; Cut Nurul Hafifah; Damayanti Rusli Sjarif; Ali Khomaini Alhadar
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.382 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.237-41

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak masih menjadi masalah dunia, termasuk Indonesia. Obesitas abdominal, yang ditandai dengan besarnya ukuran lingkar pinggang, dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, metabolik, dan kematian.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran ukuran lingkar pinggang pada anak obes, serta hubungannya dengan masa lemak tubuh, profil lipid, dan kadar gula darah puasa.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang. Subjek penelitian adalah anak usia 14-18 tahun dengan obesitas. Pemeriksaan tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, dan bioelectric impedance analyzer (BIA) dilakukan untuk memperoleh gambaran antropometri subjek. Pemeriksaan darah puasa dilakukan untuk memperoleh data profil lipid dan gula darah puasa. Hasil. Sebanyak 69 subjek terlibat dalam penelitian ini. Semua subjek mempunyai lingkar pinggang ≥P80, dengan lingkar pinggang terlebar adalah 138 cm. Ukuran lingkar pinggang mempunyai korelasi yang bermakna dengan kolesterol high density lipoprotein (HDL), sedangkan korelasi dengan masa lemak tubuh, profil lipid lainnya, dan kadar gula darah puasa tidak bermakna.Kesimpulan. Obesitas pada anak umumnya disertai dengan ukuran lingkar pinggang yang melebihi P80. Ukuran lingkar pinggang mempunyai korelasi yang bermakna dengan kadar kolesterol HDL. Ukuran lingkar pinggang tidak boleh digunakan secara tunggal untuk memperkirakan masa lemak tubuh, profil lipid di luar kolesterol HDL, dan gula darah puasa.
Prevalensi, Spektrum Klinis dan Gambaran Neurofisiologi Kasus Neuromuskular Mia Milanti Dewi; Dwi Putro Widodo; Roy Amardiyanto; Nurcahaya Sinaga; Nurul Hidayah
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.147 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.214-20

Abstract

Latar belakang. Sebagian kasus neuromuskular dapat ditegakkan berdasarkan klinis. Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan imunologi dan analisis genetik sangat penting diperiksa untuk memastikan diagnosis. Ini merupakan penelitian pertama mengenai prevalensi penyakit neuromuskular di Indonesia.Tujuan. Mengetahui prevalensi, spektrum klinis, dan gambaran neurofisiologi kasus neuromuskular di RSCM periode Januari – Desember 2017.Metode. Penelitian ini bersifat retrospektif dari Januari – Desember 2017.Hasil. Di tahun 2017 terdapat 179 pasien (usia 1 bulan – 18 tahun) yang dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan elektromiografi, dan 130 pasien memenuhi kriteria diagnostik penyakit neuromuskular. Dari seluruh pasien kelainan neuromuskular yang sering ditemukan berturut-turut adalah neuropati perifer (22,2%), Duchenne muscular dystrophy (15,6%), brachialis plexus injury (15,2%), Bell’s palsy (7,6%), Erb Palsy (6,1%), chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy (5,4 %), spinal muscular atrophy type 1 (4,6 %), spinal muscular atrophy type 2 (3,8%), miastenia gravis okular (3,8%), Limb Girdle muscular dystrophy (3,1%), sindrom Guillain Barre (3,1%), sindrom Guillain Barre-tipe acute motor axonal neuropathy (2,3%), sindrom Guillain Barre-tipe acute motor-sensory axonal neuropathy (1,5%), miastenia gravis umum (1,5%), Charcot Marie tooth (1,5%), miotonia kongenital (1,5%), dan miositis viral akut (1,5%). Kesimpulan. Prevalensi kelainan neuromuskular anak RSCM sebesar 2,6 % dari seluruh pasien yang dilakukan datang ke poli saraf anak. Lima terbanyak kelainan neuromuskular adalah neuropati perifer, Ducchenne Muscular dystrophy, spinal muskular atrofi, sindrom Guillain Barre, dan chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy.
Protokol Evaluasi Infeksi Virus Pasien Transplantasi Hati Anak Mulya Rahma Karyanti; Nina Dwi Putri; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.421 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.258-64

Abstract

Uji tapis terhadap infeksi virus sebelum transplantasi hati dapat memperkecil risiko reaktivasi atau transmisi infeksi virus dalam proses transplantasi hati. Biasanya, pasien transplantasi hati mendapatkan terapi imunosupresan untuk mencegah rejeksi sehingga memperbesar risiko terkena infeksi. Cytomegalovirus (CMV), Ebstein-barr virus (EBV), dan Herpes Simplex Virus (HSV) merupakan virus penyebab tersering komplikasi infeksi pada pasien transplan hati. Komplikasi disebabkan oleh CMV, antara lain, viral syndrome, hepatitis, pneumonitis, dan kolitis. Ebstein-Barr Virus dapat menyebabkan Post-transplant Lymphoproliferative Disorder (PTLD). Infeksi HSV pasien transplan hati akan memberikan manifestasi klinis yang lebih berat dan respon terapi yang lambat. Makalah ini bertujuan untuk membuat protokol evaluasi infeksi virus pada saat uji tapis, pencegahan dan tata laksana antivirus untuk pasien transplantasi hati.
Hubungan Kadar Serum Kuprum dengan Fungsi Fagositosis Neutrofil pada Anak Leukema Limfositik Akut Astri Pinilih; Bambang Sudarmanto
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.75 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.197-201

Abstract

Latar belakang. Leukemia merupakan keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang. Defek kualitatif neutrofil seperti kelainan kemotaksis, fagositosis dan migrasi neutrofil terjadi pada leukemia. Kuprum adalah mikronutrien yang berperan dalam fungsi neutrofil dan makrofag. Penurunan jumlah neutrofil dan gangguan fungsi neutrofil dikaitkan dengan defisiensi kuprum.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar serum kuprum dengan fungsi fagositosis neutrofil pada anak leukemia limfositik akut.Metode. Penelitian observasional analitik dengan metode potong lintang pada 25 anak leukemia limfositik akut usia 1 – 10 tahun di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kadar serum kuprum dan indeks fungsi fagositosis diukur dan dianalisis dengan menggunakan korelasi Pearson.Hasil. Dua puluh lima anak yang memenuhi kriteria, terdiri dari 18 lelaki (72%) dan 7 perempuan (28%). Status gizi terdiri dari status gizi baik 12 anak (48%) dan malnutrisi 13 anak (52%). Fase kemoterapi terbanyak adalah induksi dan konsolidasi pada 17 anak (68%). Rerata kadar serum kuprum normal yaitu 1254,8 (464,77) µg/L. Rerata indeks fagositosis neutrofil menurun yaitu 53,08 (20)%. Tidak terdapat hubungan kadar serum kuprum dengan fungsi fagositosis neutrofil pada anak leukemia limfositik akut (p=0,364)Kesimpulan. Rerata indeks fagositosis neutrofil rendah pada anak leukemia limfositik akut dibandingkan nilai normal. Rerata kadar serum kuprum normal pada anak leukemia limfositik akut. Tidak terdapat hubungan kadar serum kuprum dengan fungsi fagositosis neutrofil pada anak leukemia limfositik akut.
Pemberian Steroid untuk Meningkatkan Bilirubin Clearance pada Pasien dengan Atresia Bilier Pasca Prosedur Kasai Hanifah Oswari; Afina Syarah Lidvihurin
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.215 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.249-57

Abstract

Latar belakang. Insidensi atresia bilier di dunia berkisar antara 5-37 kasus/100.000 kelahiran hidup. Setelah prosedur Kasai, bilirubin clearance hanya tercapai 50%. Pemberian steroid diharapkan dapat mengurangi inflamasi, tetapi keuntungan penggunaan steroid belum dapat dibuktikan. Oleh karena itu, dilakukan laporan kasus berbasis bukti untuk menilai bilirubin clearance setelah pemberian steroid pada pasien dengan atresia bilier pasca prosedur Kasai.Tujuan. Mengetahui efektivitas pemberian steroid untuk meningkatkan bilirubin clearance pada pasien atresia bilier pasca prosesur Kasai.Metode. Pencarian studi dilakukan melalui penelusuran tiga pangkalan data ilmiah, yaitu PubMed, Scopus, dan Cochrane. Setelah dilakukan penapisan judul dan abstrak, didapatkan 3 studi yang akan ditelaah secara kritis meliputi validitas, kepentingan, dan kemamputerapan menggunakan Oxford Center of Evidenced-Based Medicine 2011.Hasil. Telaah kritis dilakukan pada 3 studi dan didapatkan hasil yang valid, penting, dan mampu diterapkan. Ketiga studi tersebut menjukkan pemberian steroid dosis sedang-tinggi efektif dalam meningkatkan bilirubin clearance pada pasien atresia bilier pasca prosedur Kasai dibandingkan dengan plasebo atau terapi nonsteroid, terutama pada anak yang berusia kurang dari 70 hari saat prosedur Kasai dilakukan. Pemberian steroid dapat meningkatkan bilirubin clearance setelah follow up jangka pendek (≤1 tahun).Kesimpulan. Pemberian steroid dosis sedang-tinggi efektif dalam meningkatkan bilirubin clearance pada pasien atresia bilier pasca prosedur Kasai yang berusia kurang dari 70 hari saat prosedur dilakukan.
Variabilitas Pola Perdarahan Anak Hemofilia A yang Mendapat Terapi On-demand di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Novie Amelia Chozie; Yuniasti Evitasari; Darmawan Budi Setyanto
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.332 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.221-9

Abstract

Latar belakang. Gejala perdarahan pada hemofilia A bergantung pada kadar faktor VIII, namun pada kadar faktor koagulasi yang sama dapat terjadi perbedaan karakteristik dan luaran klinis. Tujuan. Mengidentifikasi pola perdarahan, terapi dan komplikasi pada anak hemofilia A. Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak ≤18 tahun di RSCM. Data diambil dari rekam medis (Januari 2014 – Juni 2016) meliputi data usia awitan perdarahan sendi, usia saat diagnosis, kekerapan perdarahan, lokasi perdarahan, penggunaan faktor VIII, dan komplikasi yang dialami. Hasil. Terdapat 109 anak lelaki terdiri dari 2,8% hemofilia A ringan, 27,5% hemofilia A sedang, dan 69,7% hemofilia A berat. Perdarahan tersering ditemukan pada sendi (60,6%) terutama pada lutut (37,2%). Dibandingkan hemofilia A ringan dan sedang, anak hemofilia A berat menunjukkan usia awitan perdarahan sendi lebih dini (median 12,5 (4-120) bulan), kekerapan perdarahan sendi lebih sering (median 8 (1-44) kali/tahun), dan menggunakan konsentrat faktor VIII lebih banyak (median 712 (131-1913) IU/kg/tahun). Komplikasi terbanyak adalah artropati dan sinovitis kronik (46,8%) serta inhibitor faktor VIII (7,3%). Terdapat 9 dari 71 (12,6)% subjek hemofilia A berat menunjukkan karakteristik klinis lebih ringan. Kesimpulan. Pola perdarahan pada anak hemofilia A sesuai kadar faktor VIII, tetapi pada hemofilia A berat terdapat variabilitas subjek dengan gejala klinis lebih ringan.
Pewarnaan Gram Urin untuk Diagnosis Infeksi Saluran Kemih pada Anak Usia 2 Bulan hingga 2 Tahun Partini P Trihono; Riki Alkamdani; Aryono Hendarto; Dalima Ari Wahono Astrawinata
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.76 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.230-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering ditemukan pada anak usia 2 bulan hingga 2 tahun. Kondisi ini sulit dideteksi karena manifestasi klinis yang tidak spesifik. Kultur urin sebagai baku emas menegakkan diagnosis ISK membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Pewarnaan Gram urin adalah metode yang mungkin dapat digunakan untuk diagnosis dini ISK pada bayi dan anak. Tujuan. Membandingkan metode pewarnaan Gram dan kultur urin untuk mendiagnosis ISK pada anak usia 2 bulan hingga 2 tahun. Metode. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan metode potong lintang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia, dari Mei 2016 -Desember 2017. Penelitian ini melibatkan 59 anak usia 2 bulan hingga 2 tahun yang dicurigai menderita ISK yang direkrut dengan metode consecutive sampling. Sampel urin diambil dengan kateterisasi uretra dan dilakukan pemeriksaan urinalisis, pewarnaan Gram, dan pemeriksaan biakan urin. Hasil. Prevalens ISK didapatkan sebesar 38,9%. Pewarnaan Gram urin memiliki sensitivitas 47,8% (95% IK 26,8-69,4%), spesifisitas 97,2% (95% IK 85,5-99,9%), nilai duga positif 91,7% (95% IK 60,3-98,8%), nilai duga negatif 74,5% (95% IK 60,3-98,8%), LR(+) 17,2 (95% IK 2,4-124,6), LR(-) 0,54 (95% IK 0,36-0,8), dan akurasi sebesar 78%. Kesimpulan. Terdapat korelasi yang baik antara pewarnaan Gram urin dan hasil biakan urin untuk mendiagnosis ISK pada anak usia 2 bulan hingga 2 tahun. Antibiotik dapat segera diberikan setelah pewarnaan Gram menunjukkan hasil positif.
Hubungan Kadar Superoksida Dismutase dengan Tingkat Intelegensi Anak Sindrom Down Mila Agustia; Eva Chundrayeti; Nur Indrawaty Lipoeto
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.193 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.202-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom Down merupakan suatu keterbelakangan perkembangan fisik dan mental yang disebabkan oleh abnormalitas kromosom 21. Stres oksidatif diekspresikan berlebih pada anak SD karena gen yang mengodenya terletak pada kromosom 21. Kormobiditi yang terdapat pada SD ini disebabkan oleh stres oksidatif.Tujuan. Mengetahui kadar stres oksidatif melalui pemeriksaan superoksida dismutase (SOD) serta tingkat intelegensi dan mencari hubungan di antara keduanya pada anak SD di Sekolah Luar Biasa Kota Padang.Metode. Merupakan penelitian comparative cross sectional yang dilakukan di Sekolah Luar Biasa dan panti asuhan Kota Padang mulai September 2016 sampai Juli 2017. Hasil. Masing masing 40 sampel kontrol dan SD terdiri dari 25 orang (62,5%) dan perempuan 15 orang (37,5%). Tingkat intelegensi dibagi menjadi dua kelompok yaitu retardasi mental ringan 25(67,5%), dan retardasi sedang-berat 15(37,5%). Rerata kadar SOD pada kelompok kontrol adalah 4,84 (4,48-6,41) dan pada SD 5,26 (3,95-9,41), perbedaan ini bermakna secara statistik (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar SOD dengan tingkat intelegensi anak SD pada penelitian ini (p>0,05).Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar SOD dengan tingkat intelegensi pada anak SD di Sekolah Luar Biasa Kota Padang.
Fungsi Ginjal Pasien Thalassemia Mayor yang Mendapatkan Kelasi Besi Oral Teny Tjitra Sari; Aulia Fitri Swity; Hikari Ambara Sjakti; Eka Laksmi Hidayati; Dian Puspita Sari
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.396 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.242-8

Abstract

Latar belakang. Peningkatan angka kelangsungan hidup pasien thalassemia menyebabkan terdeteksinya berbagai penyakit komorbid termasuk komplikasi pada ginjal. Anemia kronis, kelebihan besi, dan pemakaian kelasi besi, terutama kelasi besi oral diduga berpengaruh pada fungsi ginjal. Berbagai derajat disfungsi tubular dan abnormalitas laju filtrasi glomerulus (LFG) dideteksi dengan berbagai macam pemeriksaan. Tujuan. Membandingkan laju filtrasi ginjal (tubulus dan glomerulus) pada pasien thalassemia yang mendapatkan kelasi besi oral.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di Pusat Thalassemia RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada bulan Maret – Juli 2017. Kriteria inklusi adalah pasien thalassemia major berusia <18 tahun, dan telah mendapatkan kelasi oral minimal selama 1 tahun. Kriteria eksklusi adalah pasien telah memiliki penyakit atau kelainan ginjal sebelumnya dan menggunakan kelasi besi kombinasi. Pasien menjalani pemeriksaan hematologi, kreatinin serum, feritin serum, dan pengambilan urin pagi sewaktu untuk pemeriksaan kadar kalsium dan kreatinin urin sewaktu.Hasil. Penurunan nilai LFG pada 15 pasien deferipron (DFP) 53,6%, tetapi masih dalam batas normal, sedangkan 12 pasien deferasirox (DFX) 46,2%. Tidak ada perbedaan bermakna antara fungsi tubular ginjal yang dinilai berdasarkan rasio kalsium kreatinin urin pada pasien thalassemia yang mendapatkan DFP dibandingkan dengan DFX. Terdapat 1 (3,6%) pasien dengan hiperkalsiuria pada kelompok DFP dan 7 pasien (12,9%) dengan hiperkalsiuria pada kelompok DFX.Kesimpulan. Terdapat penurunan fungsi ginjal pada pasien yang mendapat kelasi besi oral, walaupun hal ini tidak bermakna. Pemeriksaan fungsi tubular maupun glomerular ginjal pasien thalassemia mayor perlu dinilai secara berkala, mengingat penggunaan kelasi besi jangka panjang dan cukup tingginya angka kejadian penurunan LFG dan hiperkalsiuria. Pemeriksaan rasio kalsium kreatinin urin maupun LFG perlu diukur pada saat pasien kontrol bersamaan dengan pemeriksaan kreatinin serum.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue