cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pengaruh Kadar Hemoglobin Pre-transfusi dan Feritin Serum terhadap Pertumbuhan Fisik Pasien Thalassemia β Mayor Cece Alfalah; Dewi A. Wisnumurti; Endang Windiastuti; Hikari A. Sjakti; Dwi Putro; H.F. Wulandari; Yoga Devaera
Sari Pediatri Vol 19, No 6 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.6.2018.349-55

Abstract

Latar belakang. Kadar hemoglobin pre-transfusi dan feritin serum memengaruhi pertumbuhan anak dengan thalassemia β-mayor. Penelitian tentang thalassemia sudah dilakukan di Indonesia, tetapi penelitian tentang hubungan thalassemia dengan pertumbuhan fisik masih terbatas.Tujuan. Mengetahui pengaruh kadar Hb pre-transfusi dan feritin serum terhadap pertumbuhan fisik pasien thalassemia β-mayor.Metode. Penelitian berupa analitik observasional potong lintang, menganalisis pengaruh kadar Hb pre-transfusi dan feritin serum terhadap parameter (perawakan pendek dan sangat pendek, gizi kurang dan buruk, usia tulang yang terlambat). Dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2017 pada pasien thalassemia β-mayor yang berobat ke Thalassemia-Centre RSUD Pekanbaru.Hasil. Subjek 41 orang, rentang usia 18-204 bulan. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (53,7% vs 46,3%). 40% subjek mengalami retardasi pertumbuhan. Terdapat korelasi bermakna antara kadar Hb pre-transfusi dengan Z-score TB/U (r=0,507, p=0,001) dan LILA/U (r=0,467, p=0,02). Hb pre-transfusi berpengaruh terhadap interpretasi duduk/umur (p=0,007, IK95%: -1,5 - -0,3), subischial leg length/umur (p=0,002), tetapi tidak pada interpretasi rasio segmen atas/bawah dan usia tulang. Hasil berbeda pada kadar feritin yang tidak memiliki korelasi terhadap semua variabel.Kesimpulan. Terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik antara kadar Hb pre-transfusi dengan parameter penelitian serta tidak terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik antara kadar feritin serum dengan parameter tersebut.
Perbandingan Diagnosis Systemic Lupus Erythematosus Menggunakan Kriteria American College of Rheumatologi dan Systemic Lupus International Collaborating Clinics Titi Pambudi Karuniawaty; Sumadiono Sumadiono; Cahya Dewi Satria
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.299-303

Abstract

Latar belakang. Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang melibatkan multi organ dengan spektrum klinis dan imunologis yang luas. Kriteria diagnostik SLE pertama kali diperkenalkan oleh American College of Rheumatology (ACR) pada 1971 dan telah mengalami revisi pada 1982 dan 1997. Tujuan. Membandingkan kriteria ACR dan kriteria SLICC dan menilai agreement antara kriteria SLICC dan ACR untuk menegakkan diagnosis SLE.Metode. Penelitian studi cross-sectional terhadap pasien SLE yang dirawat di bagian Anak RS Sardjito Yogyakarta antara Januari 2009-Juni 2015. Metode total sampling digunakan pada penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis, untuk menilai masing-masing kriteria pada saat anak terdiagnosis SLE, kemudian dilakukan penilaian agreement di antara kedua kriteria tersebut.Hasil. Didapatkan 64 anak didiagnosis SLE dan 46 (71,9%) memenuhi kriteria ACR. Sebanyak 39 (60,9%) memenuhi kriteria SLICC. Penelitian ini mendapatkan overall agreement yang baik (ρ0=0,70) di antara kedua kriteria tersebut, dengan chance-corrected agreement κ=0,33, atau dinyatakan cukup.Kesimpulan. Kriteria SLICC memiliki agreement yang cukup baik dengan kriteria ACR. Kriteria SLICC dapat dipertimbangkan sebagai alternatif metode untuk menegakkan diagnosis SLE pada anak. Perlu penelitian lanjutan untuk menilai kemungkinan penerapan kriteria ini untuk menggantikan kriteria ACR yang telah dipakai secara luas sebelumnya.
Gangguan Ginjal terkait Obesitas pada Anak Sudung Oloan Pardede; Alvina Christine; Jumaini Andriana
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.504-12

Abstract

Prevalensi obesitas pada anak serta komplikasinya cenderung mengalami peningkatan. Salah satu komplikasi obesitas adalah kelainan ginjal yang disebut obesity-related renal injury atau gangguan ginjal terkait obesitas. Banyak faktor yang berperan dalam terjadinya obesity-related renal injury. Overweight atau obesitas berhubungan erat dengan berbagai faktor risiko penyakit ginjal kronik yaitu hiperinsulinemia, gangguan metabolisme glukosa, hipertensi, hiperlipidemia, dan sindrom metabolik. Di antara semua faktor tersebut, faktor yang paling berperan antara obesitas dan kerusakan ginjal adalah berkurangnya sensitivitas insulin. Manifestasi klinis  obesity related renal injury biasanya berupa proteinuria bermakna tanpa edema, albumin plasma sedikit menurun, dan kolesterol normal atau sedikit meningkat. Salah satu tata laksana obesity-related renal injury adalah penurunan berat badan. Pengurangan asupan diet dan penurunan berat badan dapat menyebabkan berkurangnya lesi glomerulosklerosis fokal segmental. Terapi lainnya adalah pemberian obat yang memiliki efek negatif terhadap sistem renin-angiotensin seperti inhibitor angiotensin-converting-enzyme dan angitensin receptor blocker. Dapat juga diberikan obat yang meningkatkan sensitivitas insulin. Golongan statin mempunyai peranan dalam melindungi ginjal. Usaha mencegah atau menangani obesitas sejak dini memberikan dampak besar terhadap insidens, progresivitas, biaya, dan komorbiditas penyakit ginjal
Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi dan Pemberian ASI Eksklusif dengan Status Gizi Anak Usia 7-12 Bulan di Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang Agung Dirgantara Namangboling; Bhisma Murti; Endang Sutisna Sulaeman
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.91-6

Abstract

Latar belakang. Adanya penyakit infeksi membuat kondisi kesehatan anak menurun sehingga berdampak pada nafsu makan dan akan mengurangi jumlah asupan makanannya dan zat gizi ke dalam tubuh. Pemberian ASI eksklusif dapat mencegah terjadinya diare yang disebabkan karena infeksi pada bayi serta dapat mempertahankan status gizi bayi. Tujuan. Mengetahui hubungan antara riwayat penyakit infeksi, pemberian ASI eksklusif dan status gizi anak usia 7-12 bulan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.Metode. Penelitian analitik obsevasional dengan desain Case Control, dilakukan di Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang pada bulan April-Juli 2017. Subjek penelitian adalah anak usia 7-12 bulan, 116 anak dipilih dengan fixed disease sampling. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil. Hasil uji bivariat chi square menunjukkan adanya hubungan riwayat penyakit dengan status gizi (p;0,024) dan pemberian ASI eksklusif (p;0,026), sedangkan hasil regresi logistik ganda, riwayat penyakit infeksi merupakan faktor dominan penentu status gizi pada anak usia 7-2 bulan di Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang (p;0,025 dengan OR;2,38 dan CI;1,11-5,08).Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit infeksi dan pemberian ASI eksklsuif dengan status gizi. Riwayat penyakit infeksi adalah faktor dominan penentu status gizi anak usia 7-12 bulan.
Perbandingan Melatonin dan Prosedur Deprivasi Tidur untuk Persiapan Pemeriksaan Elektroensefalografi pada Anak Setyo Handryastuti; Lenny S. Budi; Irawan Mangunatmadja; Taralan Tambunan; Agus Firmansyah; Dwi P. Widodo; Alifiani H. Putranti
Sari Pediatri Vol 19, No 6 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.6.2018.328-34

Abstract

Latar belakang. Elektroensefalografi (EEG) adalah pemeriksaan penunjang epilepsi yang dilakukan saat anak sadar dan tidur alami. Melatonin merupakan premedikasi EEG yang diharapkan menimbulkan awitan tidur lebih cepat, lama tidur cukup, tidak memengaruhi stadium tidur, timbulnya gelombang epileptiform, efek samping lebih kecil dibanding prosedur deprivasi tidur parsial (DTP). Tujuan. 1. Mengetahui perbandingan melatonin dan prosedur DTP dalam hal awitan, stadium dan lama tidur, timbulnya gelombang epileptiform, kegagalan pemeriksaan EEG. 2. Mengetahui perbedaan efek samping pemberian melatonin dibandingkan DTP. Metode. Uji klinik acak tersamar tunggal pada 76 subyek berusia 1-18 tahun yang menjalani pemeriksaan EEG di Departemen IKA-RSCM. Subyek dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok melatonin per oral dan DTP. Dilakukan pencatatan awitan, stadium dan durasi tidur, timbulnya gelombang epileptiform, efek samping yang timbul.Hasil. Rerata awitan tidur kelompok DTP 42,39 menit, melatonin 33,97 menit (p≤0,01). Rerata lama tidur kelompok DTP 22,58 menit, melatonin 25,09 menit (p=0,144). Stadium tidur, timbulnya gelombang epileptiform dan efek samping pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Kesimpulan. Awitan tidur kelompok melatonin lebih cepat dibandingkan DTP. Durasi, stadium tidur, gelombang epileptiform kedua kelompok mirip dengan tidur alamiah dan tidak ada perbedaan efek samping. Kegagalan EEG pada kelompok melatonin lebih kecil dibandingkan prosedur DTP. Disimpulkan melatonin dapat digunakan sebagai premedikasi EEG pada anak.
Perbedaan Prevalensi Alergi pada Anak Obes Dibandingkan dengan Indeks Massa Tubuh Normal Utami Dewi; Cahya Dewi Satria; Endy Paryanto
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.468-73

Abstract

Latar belakang. Peningkatan prevalensi obesitas dan alergi merupakan dua masalah kesehatan yang penting. Kelebihan berat badan maupun obesitas merupakan faktor risiko potensial terjadi manifestasi penyakit alergi yang berat.Tujuan. Mengetahui perbedaan prevalensi alergi dan mendeskripsikan faktor risiko alergi pada anak obes dan IMT normal.Metode. Kami melakukan penelitian potong lintang pada 45 orang anak obes dan 45 anak non obes antara Februari-Maret 2013. Data yang diperoleh merupakan data primer. Digunakan analisis dengan uji statistik kategorikal menggunakan uji chi-square untuk mengetahui perbedaan prevalensi alergi pada kelompok subyek obes dan kelompok indeks massa tubuh normal.Hasil. Tidak ada perbedaan bermakna kejadian alergi pada kelompok anak obes maupun IMT normal (p=1,000).Kesimpulan. Tidak ada perbedaan prevalensi dan profil faktor risiko alergi pada populasi anak obes maupun IMT normal.
Pemakaian Formula Hidrolisat Parsial untuk Pencegahan Penyakit Alergi pada Anak Wardhana Wardhana; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.46-52

Abstract

Latar belakang. Formula hidrolisat parsial merupakan salah satu alternatif pemberian nutrisi yang dapat mencegah penyakit alergi di kemudian hari.Tujuan. Mengetahui efektivitas formula hidrolisat parsial untuk mencegah penyakit alergi pada anak dikemudian hari.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik yaitu Pubmed, Cochrane, dan Highwire.Hasil. Telaah sistematis mendapatkan bahwa semua studi mendapatkan insidens Dermatitis Atopi (DA) yang menurun dengan atau tanpa manifestasi atopi. Insidens kumulatif setelah 3 tahun ditemukan lebih rendah secara bermakna pada bayi yang mendapat formula hidrolisat parsial.Kesimpulan. Pemberian formula hidrolisat parsial terbukti dapat mencegah timbulnya manifestasi alergi terutama dermatitis atopi pada usia 1 tahun dan efek pencegahan ini konsisten jangka panjang.
Peningkatan Sensitivitas Dua Kali Uji Tuberkulin untuk Mendeteksi Infeksi Tuberkulosis pada Anak dengan Penyakit Keganasan Arismunanto Kurniawan; Fifi Sofiah; Dian Puspita Sari; Yuwono Yuwono
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.245-51

Abstract

Latar belakang. Pasien imunokompromais lebih berisiko terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Sensitivitas uji tuberkulin pada pasien anak dengan keganasan berkurang karena penurunan T helper 1 (Th 1). Diperlukan dua kali uji tuberkulin untuk meningkatkan sensitivitas uji tuberkulin pada anak dengan keganasan.Tujuan. Mengetahui penggunaan dua kali uji tuberkulin lebih sensitif mendeteksi infeksi tuberkulosis pada anak dengan keganasan dibandingkan satu kali uji tuberkulin.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan Juli 2016 sampai 31 Maret 2017 pada pasien anak yang baru terdiagnosis penyakit keganasan, usia 6 bulan sampai 18 tahun di Rumah Sakit Dr. M. Hoesin (RSMH). Uji tuberkulin dilakukan pada semua subjek. Anak dengan hasil uji tuberkulin negatif saat uji tuberkulin pertama, dilakukan uji tuberkulin kedua setelah 2 sampai 4 minggu uji tuberkulin pertama. Hasil positif bila indurasi ≥5 mm.Hasil. Lima puluh pasien anak dengan keganasan ikut dalam penelitian. Tigapuluh dua subjek laki-laki, 18 subjek perempuan. Jenis penyakit keganasan terbanyak adalah leukemia limfoblastik akut 27 (54%). Pada uji tuberkulin pertama didapatkan hasil positif pada 4 subjek dan pada uji tuberkulin kedua didapatkan hasil positif pada 7 subjek. Terdapat perbedaan signifikan (p<0,001) antara indurasi hasil uji tuberkulin pertama dan kedua. Terdapat peningkatan sensitivitas dua kali uji tuberkulin dibandingkan satu kali uji tuberkulin.Kesimpulan. Penggunaan dua kali uji tuberkulin pada anak dengan keganasan lebih sensitif untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis dibandingkan satu kali uji tuberkulin.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kemampuan Sosialisasi Anak Nurul Komariah; Farid Farid; Sjarif Hidayat Effendi
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.373-8

Abstract

Latar belakang.Kemampuan sosialisasi berkontribusi besar bagi kesiapan anak bersekolah dan keberhasilan akademik. Banyak faktor yang berhubungan dengan kemampuan sosialisasi anak antara lain pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi dan pola asuh.Tujuan. Mengetahui hubungan pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, pola asuh dengan kemampuan sosialisasi anak. Metode. Penelitian menggunakan metode cross sectional. Subjek penelitian adalah anak-anak yang mengikuti PAUD Kecamatan Seberang Ulu I Palembang tahun 2013 yang memenuhi kriteria inklusi. Dilakukan analisis untuk mengidentifikasi hubunganpendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, pola asuh terhadap kemampuan sosialisasi anak. Pola asuh dinilai menggunakan parenting style questionaire (PSQ), sedangkan kemampuan sosialisasi anak dengan interaction rating scale (IRS). Hasil. Empatpuluh anak diikutkan dalam penelitian. Pola asuh non otoritatif merupakan satu-satunya faktor yang ditemukan secara bermakna berhubungan dengan kurangnya kemampuan sosialisasi anak setelah analisis multivariat (p=0,001; OR 52,80).Kesimpulan. Pola asuh non otoritatif berhubungan dengan kekurangan kemampuan sosialisasi anak.
Peran Interleukin-6 Dalam Menilai Respon Pengobatan Pada Sepsis Neonatorum Awitan Dini Rudy Ciulianto; Max F. J. Mantik; Rocky Wilar; Suryadi N.N. Tatura
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.32-5

Abstract

Latar belakang. Interleukin-6 memiliki potensi untuk menilai respon pengobatan selain sebagai biomarker sepsis.Tujuan. Menentukan peran IL-6 dalam mengevaluasi respon pengobatan pada sepsis neonatorum awitan dini (SNAD).Metode. Kami melakukan penelitian potong lintang dengan sampel SNAD yang memenuhi kriteria penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 40 bayi dan mendapatkan informed consent dari orang tua serta persetujuan komite etik RSUP Kandou. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji t berpasangan.Hasil. Dari 40 sampel, terdapat 12 bayi laki-laki dan 3 bayi perempuan mengalami respon buruk. IL-6 sebelum dan sesudah terapi antibiotik pada kelompok respon baik memiliki nilai median 16,32 (Qd 5,23) dan 0,56 (Qd 0,46). Kelompok respon buruk memiliki nilai rerata IL-6 120,89 (SB 87,35) dan 503,71 (SB 479,97). Hasil uji Wilcoxon menyatakan penurunan IL-6 yang sangat bermakna terhadap kelompok respon baik (p<0,0001), begitu juga pada kelompok respon buruk terjadi peningkatan yang sangat bermakna dengan hasil uji t berpasangan (p=0,004). Kesimpulan. IL-6 merupakan biomarker yang dapat dipertimbangkan untuk menilai respon pengobatan pada SNAD, IL-6 akan menurun jika diberikan antibiotik yang tepat.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue