cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan antara Nilai Red Cell Distribution Width dan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Asianotik Achmad Yudha Aditya Pratama; Sri Lilijanti Widjaja; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.339-44

Abstract

Latar belakang. Abnormalitas fungsi sistolik dan diastolik dari ventrikel kanan dan kiri banyak ditemukan pada pasien dengan PJB asianotik. Di Indonesia, fasilitas untuk menilai fungsi ventrikel kiri berupa ekokardiografi tidak selalu tersedia di rumah sakit perifer sehingga diperlukan penanda lain sebagai alternatif, di antaranya, red cell distribution width (RDW).Tujuan. Menganalisis hubungan nilai RDW dan fungsi ventrikel kiri (ejeksi fraksi, fraksi pemendekan dan rasio E/A) pada anak dengan PJB asianotik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional, subjek 33 anak PJB asianotik. Hubungan antara kadar RDW dan parameter fungsi ventrikel kiri dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Di antara 33 subjek terdapat 17 laki-laki (51,5%). Didapatkan jenis PJB asianotik VSD (ventricle septal defect) 10 pasien (30,3%), ASD (atrial septal defect) 15 pasien (45,5%) dan PDA (patent ductus arteriosus) 8 pasien (24,2%). RDW berkorelasi signifikan dengan rasio E/A pada PJB asianotik secara keseluruhan (r -0,342; p=0,026). Pada VSD dan PDA, RDW tidak berkorelasi dengan parameter fungsi ventrikel kiri apapun. Namun pada ASD, RDW berkorelasi signifikan dengan ejeksi fraksi (r -0,491; p=0,032). Kesimpulan. Didapatkan hubungan antara RDW dengan parameter fungsi ventrikel kiri, terutama rasio E/A pada pasien PJB asianotik. Selain itu, juga terdapat hubungan antara RDW dengan ejeksi fraksi pada pasien ASD.
Profil Klinis dan Faktor Risiko Hidrosefalus Komunikans dan Non Komunikans pada Anak di RSUD dr. Soetomo Denisa Dwi Rahmayani; Prastiya Indra Gunawan; Budi Utomo
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.25-31

Abstract

Latar belakang. Hidrosefalus merupakan salah satu kelainan kongenital tersering pada anak yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup anak. Penyebab hidrosefalus masih belum banyak diketahui dan faktor risikonya belum banyak dipelajari. Tujuan. Mengevaluasi dan mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya hidrosefalus komunikans dan non komunikans pada anak. Metode. Penelitian analitik observasional pada 80 pasien anak yang menderita hidrosefalus dengan menggunakan data sekunder di pusat rekam medis RSUD dr. Soetomo. Analisis menggunakan chi-square dan regresi logistik. Hasil. Prevalensi hidrosefalus komunikans dan non komunikans adalah 41,25% dan 58,75%. Hasil analisis menunjukkan meningoensefalitis memiliki hubungan dengan hidrosefalus komunikans (p=0,023). Data statistik menunjukkan bahwa manifestasi klinis terbanyak pada hidrosefalus adalah edema otak. Kesimpulan. Meningoensefalitis merupakan faktor risiko hidrosefalus komunikans.
Perbedaan Kadar Troponin T dan Troponin I Serum pada Berbagai Derajat Infeksi Virus Dengue Anak Anthony Sudjadi; Dzulfikar DLH; Rahmat Budi Kuswiyanto
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.183-8

Abstract

Latar belakang. Perbedaan kadar troponin T diketahui berhubungan dengan derajat infeksi virus dengue, tetapi belum diketahui pada troponin I.Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar troponin T dan I pada berbagai derajat infeksi virus dengue anak.Metode. Penelitian observasional analitik, rancangan potong lintang pada anak kelompok demam dengue (DD), demam berdarah dengue tanpa syok (DBD), dan sindrom syok dengue (SSD) di RSUP Dr.Hasan Sadikin, RSUD: Majalaya, Cibabat, dan Kota Bandung. Troponin T dan I diperiksa saat awal perawatan dan fase pemulihan. Analisis: uji Kruskal Wallis +analisis post hoc, dan uji Wilcoxon.Hasil. Didapat 49 anak infeksi virus dengue. Hasil pemeriksaan kelompok DD, DBD, dan SSD (berturut-turut) adalah troponin T awal: 3,32, 3,0, 9,01 pg/mL, pemulihan (kurang jelas, lebih baik disebutkan rerata hari ke berapa sakit): 3,0, 3,0, 6,21 pg/mL, Troponin I awal: 2,10, 2,25, 14,20 ng/L, pemulihan: 2,10, 1,50, 14,35 ng/L. Perbedaan kadar troponin T awal: p=0,015, pemulihan: p=0,009, troponin I awal: p=0,032, pemulihan: p=0,062. Perbedaan pemeriksaan awal dan fase pemulihan kelompok DD, DBD, dan SSD (berturut-turut): Troponin T: p=0,420, 0,055, 0,248, Troponin I: p=0,202, 0,077, 0,285.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar troponin T dan I pada berbagai derajat infeksi virus dengue anak, kecuali kadar troponin I fase pemulihan. Tidak terdapat perbedaan kadar troponin T dan I antara awal perawatan dan fase pemulihan.
Hubungan Kadar Timbal Darah dengan Tingkat Inteligensi Anak Dewi Mutiati Ratnasari; Mei Neni Sitaresmi; Nenny Sri Mulyani
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.265-9

Abstract

Latar belakang. Timbal telah terbukti neurotoksin. Kadar timbal yang tinggi dalam darah dihubungkan dengan inteligensi yang rendah pada anak, tetapi sampai saat ini belum ada laporan hubungan kadar timbal dalam darah dengan inteligensi anak di Indonesia khususnya Yogyakarta.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar timbal darah dengan tingkat inteligensi anak.Metode. Penelitian potong lintang terhadap anak di 7 Sekolah Dasar kelas 1 dan 2 Inklusi di Yogyakarta pada bulan Januari 2013. Subyek penelitian diperoleh secara purposive sampling. Kriteria inklusi adalah anak dengan 5 peringkat tertinggi dan 5 peringkat terendah yang bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah anak dengan sindrom Down, hiperaktif, autis, dan adanya gangguan pendengaran. Inteligensi ditentukan berdasarkan Wechsler Intelligence Scale for Children timbal dalam darah diperiksa dengan alat atomic absorption spectrophotometry. Data dianalisis dengan menggunakan uji independent t-test, uji chi-square, dan uji Fisher.Hasil. Didapatkan 80 anak (40 anak dengan inteligensi tinggi dan 40 anak dengan inteligensi rendah) diikutsertakan dalam penelitian ini. Rerata kadar timbal dalam darah anak dengan inteligensi tinggi 4,09 µg/dL (SB 0,50) lebih rendah dibandingkan dengan rerata kadar timbal dalam darah anak dengan inteligensi rendah 7,08 µg/dL (SB 0,61, IK95%: 1,429-4,555). Kadar timbal dalam darah ≥5 µg/dL lebih banyak dijumpai pada anak dengan inteligensi rendah dibandingkan dengan anak dengan inteligensi tinggi (75% vs 45%; p=0,006). Hasil analisis bivariat faktor luar didapatkan faktor lain yang memengaruhi tingkat inteligensi anak adalah stimulasi, tingkat pendidikan ibu dan sosial ekonomi (p=<0,001, p=0,001, dan p=0,001).Kesimpulan. Anak dengan inteligensi rendah mempunyai kadar timbal darah yang lebih tinggi dibandingkan anak dengan inteligensi tinggi.
Profil Klinis Anak dengan Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito Yogyakarta Rianti Puji Lestari; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.139-44

Abstract

Latar belakang. Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Gambaran klinis tifoid sangat bervariasi, seperti gejala klinis ringan hingga berat yang disertai komplikasi. Tujuan. Untuk mengetahui gambaran manifestasi klinis, laboratorium, dan tata laksana DT anak yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito. Metode. Penelitian retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medis pasien DT anak yang menjalani rawat inap sejak Januari 2011 hingga Mei 2016. Hasil. Ditemukan 158 kasus DT yang terbukti secara serologis (96,8%), kultur darah (1,3%), maupun keduanya (1,9%). Demam merupakan gejala utama pada seluruh pasien. Gejala penyerta lain adalah anoreksia (54,4%), mual (49,4%), muntah (41,8%), nyeri kepala (37,3%), batuk (37,3%), nyeri perut (34,2%), konstipasi (30,4%), dan diare (29,7%). Tanda yang paling sering didapatkan adalah pembesaran hati (29,7%), nyeri tekan abdomen (20,3%), limfadenopati (13,3%), letargi (13,3%), lidah kotor (12,0%), pembesaran limpa (6,3%) dan penurunan kesadaran (4,4%). Rerata lama rawat inap adalah 8,4±6,2 hari, mortalitas 2,5% diakibatkan oleh sepsis berat. Respon pasien 81,0% terhadap pemberian antibiotik, terbanyak diresepkan adalah ceftriaxone (45,6%). Komplikasi berupa sepsis (10,1%), hepatitis (8,9%), perdarahan saluran cerna (5,7%), ensefalopati (4,4%), dan perforasi usus (0,6%).Kesimpulan. Profil klinis anak dengan DT serupa dengan gambaran umum pasien di daerah endemis. Penegakan diagnosis pasti dengan menggunakan kultur darah masih belum banyak membantu di rumah sakit kami. Mortalitas yang masih cukup tinggi perlu diteliti lebih lanjut untuk perbaikan prognosis pasien
Infeksi pada Ginjal dan Saluran Kemih Anak: Manifestasi Klinis dan Tata Laksana Sudung O Pardede
Sari Pediatri Vol 19, No 6 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.94 KB) | DOI: 10.14238/sp19.6.2018.364-74

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) disebabkan berbagai jenis mikroba seperti bakteri, virus, dan jamur. Penyebab ISK paling sering adalah bakteri Escherichia coli. Infeksi saluran kemih pada anak dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi infeksi, manifestasi klinis, ada tidaknya kelainan saluran kemih,  dan kepentingan klinis. Manifestasi klinis ISK bervariasi, tergantung pada usia, tempat infeksi dalam saluran kemih, dan beratnya infeksi atau intensitas reaksi peradangan. Sebagian ISK pada anak merupakan ISK asimtomatik dan umumnya ditemukan pada anak usia sekolah, terutama anak perempuan dan ISK asimtomatik umumnya tidak berlanjut menjadi pielonefritis. Manifestasi klinis ISK pada anak dapat berupa pielonefritis akut atau febrile urinary tract infection, sistitis, sistitis hemorhagik, ISK asimtomatik. Tata laksana ISK terdiri atas eradikasi infeksi akut, deteksi dan tata laksana kelainan anatomi  dan fungsional pada ginjal dan saluran kemih, deteksi  dan mencegah infeksi berulang. Tujuan pemberian antimikroba adalah untuk mengatasi infeksi akut, mencegah urosepsis, dan mencegah atau mengurangi kerusakan ginjal.
Profil Hematologi Sebagai Prediktor Sepsis pada Sindrom Syok Dengue Deddy Hediyanto; Ida Safitri Laksanawati; Ratni Indrawanti; Eggi Arguni; Desi Rusmawaningtyas
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.260-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue di daerah endemis dapat terjadi bersamaan dengan infeksi lain. Penelitian tentang infeksi dengue pada anak sudah banyak dilakukan, tetapi masih sedikit yang meneliti tentang kejadian sepsis pada sindrom syok dengue (SSD). Profil hematologi sebagai pemeriksaan yang mudah dilakukan, diharapkan dapat digunakan sebagai prediktor sepsis pada SSD.Tujuan. Mengetahui profil hematologi sebagai prediktor sepsis pada SSD.Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak usia 1 bulan-18 tahun yang diambil dari data rekam medis pasien SSD dengan sepsis maupun tidak sepsis dan dirawat di RSUP Dr. Sardjito mulai 1 Januari 2011- 31 Desember 2014. Profil hematologi dan C-reactive protein (CRP) yang digunakan adalah pemeriksaan yang diambil saat pasien pertama kali masuk ke rumah sakit. Analisis statistik dikerjakan dengan analisis univariat, kemaknaan dengan Odds ratio (OR) dan interval kepercayaan 95% (IK95%).Hasil. Didapatkan 98 pasien yang memenuhi kriteria inklusi SSD, di antaranya 30 pasien SSD (30,6%) menderita sepsis. Tidak ada profil hematologi saat pasien pertama kali masuk rumah sakit menjadi prediktor sepsis pada SSD. Pemeriksaan kadar Hb (rerata 13,98±2,28 g/dL, p=0,897), hematokrit saat datang (rerata 40,5±6,6%; p=0,369), leukosit (median 5,68x 103 sel/µL; p= 0,619), trombosit (median 25,5x103 sel/µL; p=0,841). Pemeriksaan CRP dilakukan pada 40 pasien. Pasien SSD dengan sepsis 57,9% memiliki kadar CRP ≥6 mg/L signifikan lebih tinggi dibanding SSD tanpa sepsis (23,8%) dengan nilai p=0,028; OR 2,1 (IK95%: 1,1-3,9). Pemeriksaan biakan darah dilakukan pada 35 pasien, dengan biakan tumbuh pada 6 pasien DSS yang sepsis. Kesimpulan. Kadar CRP ≥6 mg/L berhubungan signifikan dengan kejadian sepsis pada SSD, sedangkan profil hematologi lain tidak. 
Hubungan Subtipe Sel Limfosit dengan Tingkat Remisi Pascakemoterapi Fase Induksi Leukemia Limfoblastik Akut Nur Suryawan; Ponpon Idjradinata; Lelani Reniarti
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.448-52

Abstract

Latar belakang. Angka remisi pascakemoterapi LLA masih belum memuaskan, banyak faktor yang memengaruhi belum optimalnya luaran terapi LLA, salah satunya adalah faktor subtipe sel limfosit LLA. Tujuan. Melihat hubungan subtipe sel limfosit dengan tingkat remisi pascakemoterapi fase induksi LLA.Metode. Penelitian kohort prospektif dilakukan di RS dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan Februari-September 2016. Subyek adalah anak <14 tahun yang baru didiagnosis LLA berdasarkan hasil aspirasi sumsum tulang. Diambil sampel darah perifer untuk dilakukan pemeriksaan immunophenotyping agar dapat diketahui subtipe sel limfositnya, dilakukan kemoterapi fase induksi selama 6 minggu berdasarkan protokol terapi. Dilakukan aspirasi sumsum tulang evaluasi untuk melihat tingkat remisinya. Analisis statistik dilakukan dengan uji Fisher-exact. Hasil. Terdapat 40 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani kemoterapi fase induksi. Dari 40 subjek, 26 menyelesaikan kemoterapi fase induksi, dan dari 26 subjek yang dilakukan evaluasi aspirasi sumsum tulang, 20/26 mengalami remisi lengkap dan 6/26 tidak remisi. Terdapat 18/24 subjek sel B-LLA yang mengalami remisi lengkap dan 6/24 tidak remisi, sedangkan penderita sel T-LLA yang mengalami remisi lengkap 2/2 subjek. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara subtipe sel limfosit dengan tingkat remisi pascakemoterapi fase induksi (p=0,585). Kesimpulan. Subtipe sel limfosit tidak berpengaruh terhadap tingkat remisi pascakemoterapi fase induksi.
Kadar Antibodi Campak pada Anak Usia 1-4 Tahun Pasca Imunisasi Campak Arie Dian Fatmawati; Mulya R. Karyanti; Hartono Gunardi; Arwin A.P Akib; Darmawan B. Setyanto; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.43-9

Abstract

Latar belakang. Belum ada penelitian di Indonesia yang membandingkan kadar antibodi campak pada anak usia 1-4 tahun, setelah imunisasi campak 1 kali dibanding 2 kali.Tujuan. Menganalisis apakah kadar antibodi campak setelah pemberian imunisasi campak 2 kali mencapai kadar protektif dibanding imunisasi campak 1 kali.Metode. Penelitian potong lintang di 6 posyandu di 5 wilayah DKI Jakarta pada Juni - Agustus 2014. Anak yang memenuhi kriteria inklusi diperiksa kadar IgG campak, dievaluasi dan dilakukan uji korelasi untuk menilai hubungan antara imunisasi campak dosis ke-2 dengan kadar antibodi campak.Hasil. Dari 145 subjek penelitian, 125 subjek (86,2%) memiliki kadar antibodi campak mencapai kadar protektif (≥ 120 mIU/ml). Kelompok usia 3-4 tahun memiliki kadar antibodi campak yang mencapai kadar protektif terbanyak yaitu 56 subjek (91,8%) dibanding kelompok usia lainnya. Kesimpulan. Pemberian imunisasi campak 2 kali meningkatkan antibodi campak yang mencapai kadar protektif sebesar 1,2 kali dibanding pemberian imunisasi campak 1 kali.
Defisiensi Besi dan Anemia Defisiensi Besi pada Anak Remaja Obes Aryono Hendarto; Rhyno Febriyanto; Risma K. Kaban
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.304 KB) | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.1-6

Abstract

Latar belakang. Remaja merupakan kelompok risiko tinggi untuk mengalami defisiensi besi. Obesitas pada remaja meningkatkan risiko defisiensi besi akibat perbedaan pola asupan dan inflamasi kronik derajat rendah. Tujuan. Mengetahui status besi dan asupan besi remaja obes usia 15 -17 tahun. Metode. Penelitian potong lintang pada remaja usia 15 – 17 tahun di dua SMU Jakarta Pusat pada bulan September – November 2015. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan indeks massa tubuh (IMT). Subjek dinyatakan obes bila IMT≥P95 dan non-obes bila IMT ≥P5 - <P85. Kepada subjek dilakukan penilaian status besi, yaitu hemoglobin, mean corpusculus volume (MCV), besi serum, feritin, saturasi transferin, dan total iron bonding capacity (TIBC) serta analisis diet. Hasil. Sebanyak 100 subyek memenuhi kriteria inklusi yang terdiri dari 52 subjek obes dan 48 subjek non-obes. Tidak terdapat perbedaan bermakna proporsi defisiensi besi dan anemia defisiensi besi pada kelompok obes dan non-obes (9,6% vs 16,7%; p=0,295). Tidak terdapat perbedaan bermakna asupan zat besi total kelompok obes dan non-obes ( 8 (2,6 – 95,9) mg/hari vs 10 (1,8 – 83,4) mg/hari; p=0,188). Persentase asupan zat besi hem kelompok obes lebih tinggi dibandingkan kelompok non-obes (31 (0,0 – 95,6)% vs 20 (15,2 – 100,0)%; p=0,029). Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan proporsi defisiensi besi dan anemia defisiensi besi pada remaja obes dan non obes usia 15 – 17 tahun. Tidak terdapat perbedaan rerata asupan zat besi remaja obes dan non-obes usia 15 – 17 tahun.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue