cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Peningkatan Kadar Feritin Serum Memiliki Korelasi Negatif dengan Kadar High Density Lipoprotein pada Anak Penyandang Thalassemia Beta Mayor Nelly Rosdiana; Christian Nasir
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.233 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.31-6

Abstract

Latar belakang. Komplikasi dari thalassemia beta mayor disebabkan akumulasi zat besi yang diukur melalui pemeriksaan feritin. Penyandang thalassemia beta mayor juga mengalami gangguan profil lipid akibat kelebihan zat besi. Namun, penelitian mengenai hubungan mengenai feritin dengan profil lipid masih terbatas dan berbeda-beda hasilnya. Tujuan. Mengetahui pengaruh kadar feritin serum terhadap kadar profil lipid pada anak penyandang thalassemia beta mayorMetode. Penelitian berupa studi analitik observasional dengan desain potong lintang, menganalisis korelasi antara kadar feritin serum dengan profil lipid (kolesterol total, trigliserida, HDL, dan LDL) pada anak penyandang thalassemia beta mayor. Dilakukan pada bulan Januari – April 2018. Uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Tingkat kemaknaan dinyatakan dengan p < 0.05.Hasil. Subjek 49 orang, rentang usia 1,6-17,9 tahun. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (55%). Terdapat korelasi bermakna antara kadar feritin serum dengan kadar HDL (r=-0,317, p= 0,026). Tidak terdapat korelasi bermakna antara kadar feritin serum dengan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL ( p <0.05).Kesimpulan.Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara kadar feritin serum dengan kadar HDL pada penyandang thalassemia beta mayor.
Perbandingan Penggunaan Heated Humidified High Flow Oxygen Therapy dan Low Flow Oxygen Therapy pada Pasien dengan Hipoksemia: Tinjauan Kasus Berbasis Bukti Yosilia Nursakina; Yogi Prawira
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.593 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.195-201

Abstract

Latar belakang. Selama ini, penggunaan low flow oxygen therapy sebagai terapi pada pasien dengan hipoksemia memiliki angka kegagalan terapi yang tinggi dan toleransi pasien yang rendah. Literatur menunjukkan bahwa heated humidified high flow oxygen therapy dapat memperbaiki oksigenasi, angka keberhasilan terapi, dan kenyamanan pasien.Tujuan. Membandingkan efek penggunaan heated humidified high flow oxygen therapy dengan low flow oxygen therapy.Metode. Penelusuran literatur secara terstruktur dilakukan melalui Pubmed®, ScienceDirect®, Proquest®, dan EBSCO®.Hasil. Didapatkan dua studi acak terkontrol dan satu studi pendahuluan yang relevan. Ketiga studi menunjukkan bahwa heated humidified high flow oxygen therapy memiliki angka keberhasilan terapi yang lebih tinggi daripada low flow oxygen therapy dengan nilai NNT berturut-turut 5,55, 5,00, dan 9,09. Tidak ada perbedaan durasi rawat inap, kecepatan pernapasan, dan saturasi oksigen yang signifikan pada ketiga studi tersebut.Kesimpulan. Penggunaan heated humidified high flow oxygen therapy terbukti aman dan meningkatkan angka keberhasilan terapi pada pasien dengan hipoksemia.
Keamanan Vaksin Dengue pada Anak Hindra Irawan Satari; Sharfina Fulki Adilla
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.137 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.129-37

Abstract

Latar belakang. Insidens dengue meningkat 30 kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Penemuan vaksin dengue diharapkan dapat menurunkan angka ini. Vaksin dengue telah mendapatkan izin edar di 19 negara di dunia pada tahun 2015 dan di Indonesia pada tahun 2016. Pada tahun 2017, produsen vaksin menyatakan terdapat kemungkinan dengue berat pada pasien yang belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Tahun yang sama, Filipina melaporkan tiga kasus kematian terkait dengan vaksin dengue. Hal tersebut menimbulkan keresahan di masyarakat mengenai profil keamanan vaksin dengue. Tujuan. Mengetahui keamanan vaksin dengue untuk individu seronegatif dengan usia >9 tahun.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed dan Cochrane. Hasil. Studi oleh Garcia dkk, memperoleh bahwa risiko relatif rawat inap karena dengue yang terkonfirmasi secara virologis pada resipien seronegatif usia >9 tahun adalah 0,937 (IK95% 0,24-4,37). Studi lainnya yaitu, Shridar dkk, suatu case-cohort, mendapatkan hal yang sama yaitu risiko rawat inap karena dengue pada resipien seronegatif adalah 1,41 (IK95% 0,74-2,68), dan untuk dengue berat 2,44 (IK95% 0,47-12,56). Keduanya memberikan hasil yang tidak signifikan.Kesimpulan. Pemberian vaksin dengue pada individu seronegatif >9 tahun tidak mempengaruhi risiko rawat inap dan dengue berat secara signifikan.
Pengalaman Transplantasi Ginjal pada Anak di Jakarta Sudung O. Pardede; Eka Laksmi Hidayati; Cahyani Gita Ambarsari; Henny Adriani Puspitasari; Partini P. Trihono; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.256 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.44-9

Abstract

Latar belakang.Transplantasi ginjal merupakan terapi yang efektif untuk penyakit ginjal kronik (PGK) stadium 5 atau gagal ginjal terminal. Transplantasi ginjal di dunia pertama kali dilakukan pada tahun 1950an. Di Indonesia, transplantasi ginjal pada orang dewasa telah dilakukan pada tahun 1977 dan semakin berkembang dan telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia. Transplantasi ginjal pada anak pertama kali dilakukan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo pada bulan Maret 2013, terhadap seorang anak lelaki berusia 13 tahun dengan gagal ginjal terminal yang disebabkan sindrom nefrotik, dengan ginjal yang diperoleh dari non-related living donor. Ini merupakan transplantasi ginjal yang pertama kali dilakukan pada anak di Indonesia.Tujuan. Melaporkan data tentang kegiatan transplantasi ginjal yang dilakukan di Jakarta.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif yang mengambil data dari catatan medis. Hingga tahun 2018 telah dilakukan 11 kali transplantasi ginjal pada 10 orang anak terdiri atas 9 laki-laki dan 1 perempuan, dengan 1 kasus re-transplan. Rentang usia adalah 8-18 tahun, dengan penyakit dasar terdiri atas sindrom nefrotik (3 anak), dan ginjal hipoplasia (7 anak). Donor untuk kesebelas transplan anak tersebut terdiri atas 4 non-related living donor dan 7 orang related living donor, yaitu 5 orang donor ayah dan 2 orang donor ibu. Hasil. Di antara 10 pasien transplan, 3 orang menggunakan biaya pribadi atau asuransi swasta dan 8 orang dengan biaya dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Hingga bulan Agustus 2018, di antara kesepuluh anak tersebut, 7 orang hidup dan di antaranya 2 orang mengalami rejeksi pada tahun ke-3 (1 orang konversi kembali ke hemodialisis dan 1 orang telah menjalani re-transplan). Tiga pasien meninggal akibat infeksi berat.Kesimpulan. Transplantasi ginjal di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo dimulai pada tahun 2013, dengan donor hidup yang sebagian besar berasal dari orangtua, dengan pembiayaan sebagian besar menggunakan BPJS.
Hubungan Berat Lahir dengan Skor Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas pada Anak yang Memiliki Riwayat Berat Badan Lahir Rendah Kecil Masa Kehamilan Priscilla Cantia Kalensang; Hesti Lestari; Johnny Rompis; Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.03 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.170-6

Abstract

Latar belakang. Berat badan lahir rendah kecil masa kehamilan (BBLR KMK) masih merupakan penyebab utama masalah kesehatan pada anak, termasuk gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH). Hubungan yang konsisten antara BBLR KMK dan GPPH hingga kini masih diperdebatkan. Penanganan GPPH sedini mungkin dapat memperbaiki prognosis GPPH sehingga alat diagnosis yang baik menjadi penting. Abbreviated Conners Rating Scale (ACRS) merupakan alat yang mudah dan sudah divalidasi dalam mendeteksi GPPH.Tujuan. Untuk melihat hubungan BBLR KMK dengan GPPH pada anak usia 5-8 tahun dengan menggunakan ACRS.Metode. Desain penelitian adalah penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang pada periode 1 November 2016 sampai 31 Januari 2017. Subyek penelitian adalah anak usia 5-8 tahun yang lahir di RSUP Prof Dr. R.D Kandou, Manado, dengan riwayat BBLR KMK. Besar subyek penelitian minimal 38 anak (α=0,05%, p=0,8). Variabel bebas adalah berat lahir dan variabel tergantung adalah skor ACRS. Analisis statistik menggunakan uji Pearson dan regresi linear. Statisik bermakna bila p <0,05.Hasil. Pada penelitian ini didapatkan 40 anak yang memenuhi kriteria inklusi, 16 perempuan, dan 24 laki-laki. Rerata umur subyek penelitian adalah 6,8 tahun dan rerata berat lahir 2055 gram. Skor ACRS yang didapatkan antara 3-14 dengan rerata 8,4. Analisis bivariat didapatkan hubungan negatif sangat kuat dan sangat bermakna antara berat lahir dan skor GPPH (r=0,883 dan p<0,0001), dengan uji regresi linear didapatkan persamaan y=24,493 - 0,008x. Kesimpulan. Semakin rendah berat lahir anak dengan riwayat BBLR KMK maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Skor ACRS dapat digunakan sebagai skrining awal GPPH pada anak pra sekolah (5-8 tahun).
Osteoporosis dan Osteodistrofi pada Anak Frida Soesanti
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.02 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.138-44

Abstract

Osteoporosis anak saat ini merupakan salah satu kelainan penting yang melibatkan hampir semua subspesialisasi. Berbeda dengan definisi osteoporosis pada orang dewasa, diagnosis osteoporosis pada anak tidak hanya ditentukan oleh densitas mineral tulang yang diukur dengan DXA (dual energy X-ray absorptiometry). Osteoporosis primer terjadi akibat kelainan genetik, misalnya osteogenesis imperfecta dan osteoporosis juvenil idiopatik. Osteoporosis disebut sekunder jika timbul akibat penyakit kronik yang mendasari atau terapi penyakit tersebut. Kemajuan teknologi kedokteran meningkatkan survival anak-anak dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam nyawa. Banyak terapi medikamentosa ini memiliki efek jangka panjang pada tubuh, termasuk osteoporosis. Disfungsi endokrin, imobilitas, faktor nutrisi, penyakit kronik dan kondisi inflamasi kronik memengaruhi terjadinya osteoporosis sekunder pada anak. Pada anak dengan penyakit ginjak kronik, terjadi gangguan metabolism tulang, remodeling and modelling tulang yang menyebabkan suatu kondisi yang disebut dengan chronic kidney disease-mineral bone disorders (CKD-MBD), termasuk di dalamnya adalah osteodistrofi renal. Terapi osteoporosis pada anak masih merupakan suatu tantangan tersendiri. Tata laksana terbaik pada osteoporosis sekunder dan CKD-MBD adalah pencegahan. Deteksi dini kemungkinan terjadinya gangguan metabolisme tulang dan osteoporosis penting untuk mengoptimalkan kesehatan tulang anak, mencegah osteoporosis dan kemungkinan fraktur, yang pada akhirnya mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. 
Indeks Mentzer sebagai Alat Diagnostik Anemia Defisiensi Besi di Sarana Kesehatan dengan Fasilitas Terbatas: Perbandingan Berbagai Nilai Cut Off Teny Tjitra Sari; Nur Aliza; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.111 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.145-51

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) adalah penyebab tersering anemia pada anak kurang dari 5 tahun dan dapat menyebabkan gangguan kognitif, perilaku, dan pertumbuhan yang menetap sehingga diagnosis harus ditegakkan sedini mungkin. Diagnosis ADB ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium yang mahal dan tidak tersedia merata di Indonesia. Untuk itu, penggunaan Indeks Mentzer (IM) merupakan salah satu alat penegakan diagnosis yang mudah. Tujuan. Mengetahui validitas IM untuk mendiagnosis ADB di daerah dengan fasilitas terbatas, dan mengetahui apakah cut-off point baru diperlukan untuk populasi di Indonesia. Metode. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan metode potong lintang. Subjek adalah anak sehat berusia 12-59 bulan yang pucat. Penapisan dilakukan di 27 Posyandu dan 27 PAUD di Kecamatan Jatinegara. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi menjalani pemeriksaan darah perifer lengkap, kemudian subjek dengan anemia mikrositik hipokrom diperiksa profil besi dan C-reactive protein (CRP). Validitas dinilai dengan membandingkan IM dengan hasil profil besi. Penentuan cut-off point spesifik untuk populasi di Indonesia dilakukan dengan membandingkan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP) dan negatif (NDN), rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN) antara beberapa cut-off points.Hasil. Penelitian ini mendapatkan 340 subjek dengan klinis pucat, 100 subjek setuju untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, dan sisa 45 subjek dengan anemia mikrositik hipokrom. Penelitian ini memberikan sensitivitas 60,5%, spesifisitas 28,6%, NDP 82,1%, NDN 11,8%, RKP 0,9, dan RKP 1,4. Titik potong baru yang disarankan adalah 10,7 dengan sensitivitas 81,6% dan NDP 86,1%.Kesimpulan. Nilai diagnostik IM rendah dengan NDP yang baik untuk diagnosis ADB. Titik potong 10,7 dapat juga digunakan sebagai uji tapis ADB di fasilitas terbatas.
Korelasi antara Kadar Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline Urin dengan Laju Filtrasi Glomerulus pada Variasi Waktu untuk Mendeteksi Dini Gangguan Ginjal Akut pada Anak Sepsis Anggun Sri Mardhika; Dadang Hudaya Somasetia; Diah Asri Wulandari
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.432 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.1-7

Abstract

Latar belakang. Sepsis dapat menimbulkan gangguan fungsi ginjal. Neutrophil gelatinase associated lipocaline urine (NGALu) merupakan penanda biologis baru lebih cepat dibandingkan laju filtrasi glomerulus (LFG) untuk deteksi dini gangguan ginjal akut (GgGA). Kadar NGALu pada anak sepsis dapat meningkat pada jam ke-0, 12, 24, dan 48. Belum ada penelitian mengenai korelasi antara kadar NGALu dengan LFG pada variasi waktu untuk mendeteksi dini GgGA pada anak sepsis.Tujuan. Mengetahui korelasi kadar NGALu dengan LFG pada variasi waktu untuk mendeteksi dini GgGA pada anak sepsis.Metode. Metode penelitian potong lintang. Subjek penelitian anak sepsis di unit gawat darurat, instalasi rawat inap, High Care Unit (HCU), dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin bulan Mei 2017-Februari 2018. Pemeriksaan kreatinin dan NGALu dilakukan pada variasi waktu jam ke-0, 12, 24, dan 48. Analisis bivariabel menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Penelitian mengikutsertakan 23 anak sepsis. Pada jam ke-24 nilai NGALu dan LFG berturut-turut 60,30 ng/ml, 128,33 ml/min/1,73m2. Terdapat korelasi yang bermakna antara NGALu dengan LFG pada variasi waktu jam ke-24 dengan nilai p=0,000 dan korelasi negatif sedang dengan r=-0,668. Kesimpulan. Terdapat korelasi antara kadar NGALu dengan LFG pada variasi waktu jam ke-24 untuk mendeteksi dini GgGA pada anak sepsis.
Evaluasi Fungsi Ginjal pada Penyandang Talasemia-β Mayor Anak Berton Juniper Manurung; Susi Susanah; Dida A. Gurnida
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.89-95

Abstract

Latar belakang. Informasi keterlibatan ginjal pada penyandang talasemia-β mayor anak masih sedikit. Disfungsi ginjal dipengaruhi berbagai faktor seperti anemia kronis, hipoksia kronis, dan hemosiderosis. Neutrophil gelatinase associated lipocaline urin (NGALu) merupakan penanda biologis dini yang sensitif dan spesifik terhadap gangguan ginjal. Tujuan. Menilai disfungsi ginjal pada penyandang talasemia-β mayor anak menggunakan NGALu.Metode. Penelitian dengan rancang potong lintang dilaksanakan Oktober–November 2018. Subjek adalah penyandang talasemia β mayor anak di RS. Hasan Sadikin yang menggunakan kelasi besi deferiprondan dipilih secara consecutive sampling. Heteroanamnesis pada orang tua mengenai riwayat penyakit dan frekuensi transfusi. Terhadap subjek penelitian dilakukan pemeriksaan feritin serum, kreatinin serum, dan NGALu. Uji statistik menggunakan uji korelasi rank Spearman dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil. Sebanyak 71 subjek yang memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 46 laki-laki dan 25 perempuan. Kadar rerata kreatinin serum 0,38±0,08 mg/dL, median feritin 2897,1 ng/mL, median NGALu 13,8 ng/mL. Peningkatan kadar NGALu ditemukan 11 (15%) subjek. Didapatkan korelasi negatif antara frekuensi transfusi dan kadar NGALu (r= -0,294, p=0,006). Tidak terdapat korelasi baik antara feritin serum dengan kreatinin serum maupun feritin serum dan NGALuKesimpulan. Disfungsi ginjal sudah terindikasi terjadi pada penyandang talasemia-β mayor anak.
Hubungan Penggunaan Gawai dengan Keterlambatan Bahasa pada Anak Rae Fernandez; Hesti Lestari
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.231-5

Abstract

Latar belakang. Gawai adalah perkembangan teknologi yang dapat menyebabkan ketergantungan penggunanya. Saat menggunakan gawai, anak-anak menjadi kurang interaktif dan komunikatif. Hal ini menyebabkan anak-anak mengalami keterlambatan perkembangan bahasa.Tujuan. Menganalisis hubungan antara intensitas penggunaan gawai dan keterlambatan bahasa pada anakMetode. Merupakan penelitian analitik potong lintang. Sampel adalah anak berusia 15 hingga 36 bulan di empat fasilitas penitipan anak usia dini di daerah Manado, periode Februari hingga April 2018. Kriteria inklusi adalah anak dengan berat lahir normal dan kelahiran cukup bulan. Kriteria eksklusi meliputi anak dengan cacat bawaan dan riwayat penyakit yang dapat memengaruhi perkembangan bahasa. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling. Intensitas penggunaan gawai yang disarankan adalah kurang dari 2 jam per hari, dan frekuensi kurang dari 2 hari per minggu. Keterlambatan bahasa didefinisikan menggunakan Skala CAPUTE, dengan DQ CLAMS <85. Metode analisis data yang digunakan adalah uji chi-square (nilai p<0,05).Hasil. Sampel terdiri dari 51 anak, 33 (62%) di antaranya adalah perempuan. Usia rata-rata adalah 2 tahun 5 bulan (SD 0,6). Didapatkan 3 (5,8%) anak mengalami keterlambatan bahasa, 10 (19,6%) anak menggunakan gawai lebih dari 2 jam per hari dan 36 (70,5%) anak menggunakan gawai lebih dari 2 hari per minggu. Ada hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan gawai lebih dari 2 jam dan keterlambatan bahasa (p=0,034), sementara tidak ada hubungan bermakna antara frekuensi penggunaan gawai lebih dari 2 hari per minggu dan keterlambatan bahasa (p=0,144).Kesimpulan. Didapati hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan gawai lebih dari 2 jam per hari dengan keterlambatan bahasa. Sebaliknya, tidak ada hubungan bermakna antara frekuensi penggunaan gawai lebih dari 2 hari per minggu dan keterlambatan bahasa.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue