cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Profil Pasien Sakit Kritis yang Dirawat di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo berdasar Sistem Skoring Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 Rismala Dewi; Fatimatuzzuhroh Fatimatuzzuhroh
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.418 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.37-43

Abstract

Latar belakang. Skor PELOD-2 digunakan untuk mengetahui disfungsi organ pada anak dengan sakit kritis. Hasil skor PELOD-2 tidak selalu berbanding lurus dengan luaran perawatan anak sakit kritis sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai prediktor luaran dan mortalitas anak yang dirawat di PICU.Tujuan. Mengetahui profil dan luaran pasien sakit kritis yang dirawat berdasar skor PELOD-2.Metode. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data rekam medis pasien rawat di ruang intensif anak RSUPN Cipto Mangukusumo, sejak Januari sampai Desember 2018. Pengambilan subjek secara total sampling, penilaian dilakukan pada 24 jam pertama perawatan. Hasil. Diperoleh 477 subjek yang memenuhi kriteria. Subjek sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (56,4%), berusia <1 tahun (27,9%), dengan bedah sebagai diagnosis awal terbanyak (65%). Sebagian besar pasien memiliki penyakit kronik (70,4%). Angka mortalitas penelitian ini adalah 10,7%. Mayoritas subjek memiliki lama rawat <7 hari (75,5%). Subjek dengan lama rawat >14 hari memiliki median skor PELOD-2 tiga kali lipat dari subjek dengan lama rawat <7 hari. Titik potong luaran mortalitas skor PELOD-2 pada penelitian ini adalah >5, memiliki spesifisitas 84,5% dan sensitifitas 84,3% dengan nilai AUC skor PELOD-2 dari kurva ROC sebesar 93,4% (IK 95% 90,6–96,2).Kesimpulan. Skor PELOD-2 dapat digunakan untuk memprediksi disfungsi organ yang mengancam kehidupan pada anak tanpa imunosupresi dan semakin tinggi skor PELOD-2 akan diikuti dengan peningkatan lama rawat dan mortalitas.
Korelasi Kadar Feritin dengan Profil Lipid pada Penyandang Talasemia Beta Mayor Anak Mutiara Rahmani; Lelani Reniarti; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.355 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.189-94

Abstract

Latar belakang. Talasemia beta mayor merupakan penyakit genetik dengan gangguan sintesis rantai globin yang menimbulkan eritopoiesis tidak efektif sehingga membutuhkan transfusi darah rutin. Terapi tersebut menyebabkan kelebihan besi di berbagai organ termasuk di hati dan pankreas yang memengaruhi enzim hepatik lipase yang mengatur regulasi metabolisme lipid. Tujuan. Mengetahui korelasi kadar feritin dengan profil lipid pada penyandang talasemia beta mayor anak. Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancang potong lintang, dilaksanakan November - Desember 2018. Subjek adalah penyandang talasemia beta mayor di Rumah Sakit Hasan Sadikin, secara consecutive sampling. Dilakukan pemeriksaan serum feritin, trigliserida, kolesterol total, low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Uji statistik menggunakan uji korelasi rank Spearman dengan kemaknaan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat sampel sebanyak 40 penderita talasemia beta mayor, 20 perempuan dan 20 laki-laki. Rerata serum feritin 4328,2 mcg/L, kolesterol total 93,78 mg/dl, HDL 20,65 mg/dl, LDL 52,95 mg/dl, dan trigliserida 154,95mg/dl. Tidak didapatkan korelasi antara feritin dengan kolesterol total dan LDL (p>0,05). Terdapat korelasi antara kadar feritin terhadap kadar serum kolesterol HDL dan trigliserida (r= -0,349, p=0,029 dan r= 0,460, p=0,003). Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar feritin terhadap kolesterol HDL dan korelasi positif terhadap trigliserida. Semakin tinggi feritin, semakin rendah HDL, semakin tinggi trigliserida.
Perbedaan Status Perkembangan dan Pertumbuhan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianotik dan Non-sianotik Janaka Pambudi; Meita Dhamayanti; Rahmat Budi Kuswiyanto
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.367 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.102-8

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang pada anak. Anak dengan PJB sianotik dan non-sianotik memiliki karakteristik klinis yang berbeda sehingga perkembangan dan pertumbuhannya juga berbeda. Tujuan. Mengetahui perbedaan perkembangan dan pertumbuhan anak dengan PJB sianotik dan non-sianotik. Metode. Penelitian berupa observasional potong lintang dengan subjek penelitian adalah anak dengan PJB usia 1–3 tahun yang datang ke pelayanan rawat jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin pada bulan Agustus sampai Oktober 2018. Penilaian perkembangan menggunakan Ages and Stages Questionnaires-3 (ASQ-3) dan penilaian pertumbuhan dengan WHO growth chart standarts 2006. Analisis data dilakukan dengan uji hipotesis Chi-square. Hasil. Terdapat 86 subjek penelitian terdiri dari 46 perempuan dan 40 laki-laki, dengan 31 subjek merupakan PJB sianotik. Gangguan perkembangan motorik lebih banyak pada anak dengan penyakit jantung bawaan siaonotik (p<0,05). Gangguan perkembangan motroik kasar pada PJB non-sianotik dan sianotik yaitu 87,1% dan 43.6%, motorik halus yaitu 64,5% dan 38,2%. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pertumbuhan antara PJB sianotik dan non-sianotik.Kesimpulan. Gangguan perkembangan motorik kasar dan halus lebih banyak terjadi pada anak dengan PJB sianotik. Tidak terdapat perbedaan gangguan pertumbuhan pada anak dengan PJB sianotik dan non-sianotik.
Efektivitas Pemberian Nutrisi Enteral Eksklusif terhadap Induksi Remisi Penyakit Crohn Muzal Kadim; Jennie Dianita Sutantio
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.811 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.57-65

Abstract

Latar belakang. Pemberian nutrisi enteral eksklusif (NEE) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama induksi remisi penyakit Chron pada anak. Namun, terdapat perbedaan aplikasi terapi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tujuan. Mengetahui efektivitas terapi NEE dibanding kortikosteroid untuk induksi remisi penyakit Crohn pada anak.Metode. Pencarian artikel dilakukan melalui basis data PubMed dan Cochrane dengan kata kunci yang sesuai. Seleksi dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Telaah kritis dilakukan dengan evaluasi validity, importance, dan applicability. Hasil. Dua artikel berupa studi meta-analisis dan uji klinis acak terkontrol didapatkan dari hasil pencarian. Meta-analisis terhadap 3 studi menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna kedua terapi terhadap induksi remisi (OR 1,31, IK 95% 0,68-2,53). Uji klinis acak terkontrol juga menunjukkan hal yang serupa (NEE 100% vs kortikosteroid 83%), tetapi didapatkan penyembuhan mukosa yang bermakna pada kelompok NEE (89%) dibanding kortikosteroid (17%). Kesimpulan. Pemberian NEE sama efektif dengan kortikosteroid untuk induksi remisi penyakit Crohn pada anak. Namun, pemberian NEE perlu direkomendasikan karena efek penyembuhan mukosa yang lebih baik.
Fever of Unknown Origin Mulya Rahma Karyanti
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.583 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.202-6

Abstract

Fever of Unknown Origin (FUO) adalah peningkatan suhu di atas 38,3o C selama lebih dari 3 minggu dengan rawat jalan, atau selama satu minggu rawat inap setelah dilakukan pemeriksaan penunjang di fasilitas kesehatan. Diagnosis FUO merupakan diagnosis sementara di fasilitas kesehatan dengan fasilitas diagnostik yang tersedia dan sering dihadapi oleh para klinisi. Belum adanya protokol maupun algoritma yang jelas mengenai FUO menjadi salah satu kendala dalam mengevaluasi kasus FUO. Selain itu, banyaknya faktor yang memengaruhi etiologi FUO serta perlunya ketelitian dan kesabaran dalam melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang merupakan salah satu penyulit dalam mencari etiologi dari FUO.
Hubungan HbA1c dengan Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang-Tinggi Badan, Indeks Massa Tubuh, dan Lingkar Lengan Atas pada Remaja Perempuan Overweight/Obesitas Febry Dwi Indrawati; Annang Giri Moelyo; Bambang Soebagyo
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.193 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.164-9

Abstract

Latar belakang. Obesitas memiliki risiko terhadap penyakit kardiovaskular dan metabolik. Lingkar pinggang (LP), rasio lingkar pinggang-tinggi badan (RLPTB), indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar lengan atas (LiLA) merupakan indeks antropometrik untuk menentukan obesitas sentral dan berkaitan dengan kadar insulin. Pada orang dewasa, distribusi lemak di sekitar pinggang adalah prediktor yang valid dari kadar hemoglobin A1c (HbA1c). Pengukuran ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan tes glukosa darah puasa dan toleransi glukosa oral karena mudah dan murah.Tujuan. Untuk menentukan korelasi antara level HbA1c dengan lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang-tinggi badan, indeks massa tubuh, dan lingkar lengan atas.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di SMP 4 Surakarta, data diperoleh secara consecutive sampling. Siswi overweight dan obesitas yang memenuhi kriteria termasuk dalam penelitian ini. Subjek menjalani pengukuran LP, RLPTB, IMT, LiLA, dan tes darah untuk kadar HbA1c. Semua data dianalisis dengan menghitung uji korelasi dengan signifikan <0,05.Hasil. Dua puluh sembilan siswi overweight/obesitas berpartisipasi dalam penelitian ini. HbA1c dan lingkar lengan atas memiliki korelasi positif dalam kategori sedang (r=0,580; p=0,001). HbA1c tidak berhubungan dengan LP (r=0,044; p=0,821), RLPTB (r=0,060; p=0,758), dan IMT ( =0,007; p=0,971).Kesimpulan. Lingkar lengan atas memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kadar HbA1c pada remaja yang overweight dan obesitas.
Hubungan rasio netrofil limfosit dengan hipertensi arteri pulmonal pada anak dengan penyakit jantung bawaan asianotik Galih Herlambang; Sri Lilijanti Widjaja; Yulidar Hafidh; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.96-101

Abstract

Latar belakang. Hipertensi arteri pulmonal (HAP) merupakan komplikasi yang sering terjadi penyakit jantung bawaan (PJB). Peningkatan tekanan vaskular paru disebabkan oleh disfungsi sel endotel paru yang ditandai oleh inflamasi perivaskular. Rasio neutrofil limfosit (RNL) merupakan salah satu penanda biologis inflamasi yang murah dan mudah dan berhubungan dengan penyakit jantung.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan RNL dengan HAP pada anak dengan PJB asianotik.Metode. Penelitian potong lintang pada pasien anak usia 1 bulan – 18 tahun dengan penyakit jantung bawaan sianotik yang dirawat dan/atau poliklinik anak RSUD dr. Moewardi Surakarta antara Januari 2018 – Januari 2019. Diagnosis HAP berdasarkan pemeriksaan ekokardiografi Doppler. Semua subyek dilakukan pemeriksaan darah rutin lengkap. Analisis data dengan uji t tidak berpasangan, uji Mann Whitney dan uji chi square/fisher exact test. Hasil. Tiga puluh pasien PJB asianotik (aliran sistemik ke paru) terdiri atas 17 anak laki-laki, 13 anak perempuan. Hipertensi arteri pulmonal terjadi pada 17 pasien dan tidakHAP sebanyak 13 pasien. Defek PJB paling banyak defek septum atrium (DSA) dan defek septum ventrikel (DSV). Rasio neutrofil limfosit pada HAP lebih tinggi daripada tidak HAP pada anak dengan PJB asianotik (3,56±1,07 vs 2,04±0,34; p<0,001). Nilai cut off point RNL sebesar 2,355 dengan nilai AUC sebesar 0,901 dengan sensitivitas 84,2% dan spesifisitas 84,6%. Kesimpulan. Peningkatan RNL berhubungan dengan HAP pada anak dengan PJB asianotik.
Faktor Risiko Eksternal terhadap Keterlambatan Motorik Kasar pada Anak Usia 6-24 Bulan: Studi Kasus-Kontrol Kristian Kurniawan; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.763 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.24-30

Abstract

Latar belakang. Keterlambatan perkembangan merupakan kondisi ketidakmampuan anak mencapai milestone perkembangan seusianya. Perkembangan motorik kasar dapat memprediksi tingkat maturasi sistem saraf pusat fungsional sehingga keterlambatan pada domain ini akan berdampak pada keterlambatan penguasaan domain perkembangan lainnya. Tujuan. Mengidentifikasi faktor risiko eksternal terhadap keterlambatan motorik kasar pada anak 6-24 bulan.Metode. Penelitian dilakukan dengan metode kasus-kontrol pada populasi anak usia 6-24 bulan menggunakan data primer yang diperoleh di RSUPN Cipto Mangunkusumo Kiara, Jakarta Pusat dan Klinik Anakku, Jakarta Selatan.Hasil. Diperoleh subjek sebesar 128 anak, dengan perbandingan kasus-kontrol 1:1 pada kelompok rentang usia yang sesuai. Dari hasil analisis pearson kai-kuardat diperoleh 2 faktor signifikan terhadap keterlambatan motorik kasar, yakni: status gizi kurang/buruk (p<0,001; OR=6,576; IK 95%=2,705-13,986) dan tidak diberikannya ASI eksklusif (p=0,032; OR=2,180; IK95%=1,065-4,460).Di sisi lain, faktor urutan anak, usia ibu saat kehamilan, dan cara kelahiran menunjukkan hasil tidak bermakna terhadap keterlambatan motorik kasar. Kemudian, dari analisis multivariat dengan regresi logistik biner, menunjukkan bahwa status gizi kurang/buruk merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian keterlambatan motorik kasar pada anak (p<0,001; OR=6,159; IK 95%=2,512-15,099). Kesimpulan. Status gizi kurang/buruk merupakan faktor prediktor keterlambatan motorik kasar yang paling berpengaruh.
Faktor Risiko Kegagalan Ventilasi non Invasif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD Dr. Moewardi Leksmana Hidayatullah; Sri Martuti; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.734 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.177-82

Abstract

Latar belakang. Ventilasi non invasif (non invasive ventilation = NIV) dapat menjadi alternatif ventilasi selain intubasi endotrakeal, belum banyak didapatkan penelitian mengenai NIV di negara berkembang. Karakteristik awal pasien mempunyai peranan sebagai faktor risiko kegagalan NIV, tetapi masih didapatkan hasil yang beragam.Tujuan. Menganalisis faktor risiko kegagalan terapi NIV berdasarkan karakteristik awal pasien di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi.Metode. Penelitian analitik dengan desain cross sectional dengan besar sampel 25 anak, dilakukan pengambilan data melalui rekam medik dengan periode november 2016 sampai mei 2018.Hasil. Didapatkan hasil, sebanyak 10 dari 25 pasien (40%) gagal NIV, 22 pasien (88%) sebagai lini pertama sedangkan sebagai penyapihan ventilator sebanyak 3 pasien (12%). Analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik menunjukkan jalur nutrisi enteral (P value 0,028 ;OR 10,64 (1,29-87,56)CI 95%) dapat menjadi prediktor kegagalan penggunaan NIV.Kesimpulan. Pemberian Nutrisi secara enteral pada saat awal penggunaan NIV dapat dijadikan prediktor kegagalan.
Studi Pilot: Peran Heat Shock Protein 60 (Hsp60) dan Kontrol Metabolik terhadap Infeksi Tuberkulosis pada Anak dan Remaja dengan Diabetes Mellitus Tipe-1 Aman Bhakti Pulungan; Karina Sugih Arto; Nastiti Kaswandani
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.065 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.121-8

Abstract

Latar belakang. Heat shock protein 60 (Hsp60) ditemukan pada individu dengan Diabetes Mellitus (DM) tipe-1 dan merupakan mimikri molecular Hsp65 pada mycobacterium. Fenomena ini dapat menyebabkan penundaan identifikasi mycobacterium dan memperparah kondisi DM tipe-1. Tujuan. Studi ini bertujuan untuk meneliti peran Hsp60 dalam kontrol metabolik terhadap infeksi tuberkulosis (TB) pada anak dan remaja dengan DM tipe-1.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilaksanakan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Anak dan remaja dengan DM tipe I memenuhi kriteria inklusi. Setelah memperoleh data dasar, dilakukan pemeriksaan HbA1c, Hsp60, dan IGRA. Dilakukan analisis data.Hasil. Sebanyak 32 subjek dengan DM tipe-1 diidentifikasi. Insidens infeksi TB yang terdeteksi dengan IGRA pada anak dan remaja dengan DM tipe-1 adalah 12,5%. Tiga dari empat pasien dengan hasil IGRA positif memiliki nilai HbA1c >9.0. Nilai rerata Hsp60 pada subjek IGRA positif lebih rendah dibandingkan subjek IGRA negatif (1.16 ± 0.59 vs 115.18 ± 364.73), dengan nilai P>0,05.Kesimpulan. Tidak didapatkan hubungan signifikan antara Hsp60 dan control glikemik dengan insidens TB pada anak dan remaja dengan DM tipe-1. Hasil ini mungkin dipengaruhi oleh jumlah subjek yang sedikit, penggunaan IGRA untuk mendiagnosis TB pada anak, dan reaktivitas rendah Hsp60 dengan Hsp65.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue