cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Infeksi Influenza A dan B pada Anak dengan Influenza Like Illness (ILI) atau Pneumonia di Jakarta Wahyuni Indawati; Darmawan B Setyanto; Nastiti Kaswandani
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.593 KB) | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.136-42

Abstract

Latar belakang Secara global, influenza merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak serta menimbulkan beban ekonomi yang cukup besar. Manifestasi infeksi ini secara klinis sulit dibedakan dengan penyebab lain pada pasien dengan Influenza Like Illness (ILI) atau pneumonia.Tujuan. Menilai proporsi infeksi influenza A dan B pada anak dengan ILI dan pneumonia, mengetahui karakteristik subjek dengan infeksi influenza serta faktor yang memengaruhinya.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo dan Puskesmas Kecamatan Pulo Gadung sejak Januari 2010 hingga Oktober 2010. Pada anak berusia 0-14 tahun dengan diagnosis ILI atau pneumonia sesuai kriteria WHO dilakukan rapid test untuk influenza dengan menggunakan bahan usapan nasofaring. Data karakteristik klinis, demografi, dan lingkungan dicatat dalam formulir penelitian.Hasil. Didapatkan proporsi infeksi influenza A dan B pada anak dengan ILI dan pneumonia 14/167 (8,3%). Sebagian besar menderita infeksi influenza B (12/14 subjek). Usia >5 tahun berhubungan dengan kejadian infeksi influenza yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia ≤5 tahun (p=0,012). Selain demam, gejala lain berupa batuk, sakit kepala, nyeri otot, lesu, dan nyeri tenggorok lebih banyak didapatkan pada subjek dengan infeksi influenza.Kesimpulan. Pada anak dengan ILI dan pneumonia, proporsi infeksi influenza 8,3%, terutama didapatkan infeksi Influenza B. Usia merupakan faktor yang memengaruhi infeksi influenza. Karakterustik klinis subjek dengan infeksi influenza sesuai dengan manifestasi klasik penyakit tersebut.
Hubungan Kadar Interleukin-6 dengan Luaran Infeksi Pascabedah Albert Daniel Solang; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief; Yusrina Istanti; Sri Martuti; Moh. Supriatna; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.236-40

Abstract

Latar belakang. Pembedahan merupakan stresor yang memicu respons metabolik sehingga berpengaruhterhadap luaran termasuk status nutrisi dan infeksi. Berbagai parameter respons fase akut, status nutrisi, usia,lama pembedahan, serta skor ASA merupakan faktor risiko terjadinya infeksi luka operasi yang merupakankomplikasi pembedahan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara IL-6 sebagai parameter respons fase akut dengan luaran infeksipascabedah.Metode. Penelitian observasional analitik dilakukan di ICU anak tiga rumah sakit, yaitu RS Dr. CiptoMangunkusumo, RS Dr. Kariadi, dan RSUD Dr. Muwardi. Dilakukan pemeriksaan kadar IL-6, kortisol,dan CRP pada hari ke-5 pascabedah. Lama dan jenis pembedahan, skor ASA, dan usia dicatat dari rekammedis. Dilakukan uji korelasi Spearman untuk melihat hubungan antara kadar IL-6 dengan kadar kortisol,CRP dan RBP, serta Fisher’s exact test untuk melihat hubungan antara usia, lama pembedahan, skor ASA,dan IL-6 dengan luaran infeksi.Hasil. Selama kurun waktu 6 bulan, terdapat 30 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan korelasiantara kadar IL-6 dengan CRP, kortisol, dan RBP [r=0,8 (p=0,00); r=0,4 (p=0,02); r=-0,5 (p=0,03)]. Tidakterdapat hubungan antara usia, lama pembedahan, dan skor ASA dengan luaran infeksi (p>0,05), tetapiterdapat hubungan yang bermakna antara kadar IL-6 dengan luaran infeksi (p=0,04).Kesimpulan. Terdapat korelasi antara kadar IL-6 pada hari ke-5 pascabedah dengan CRP, kortisol, dan RBP.Kadar IL-6 di atas 11 pg/mL pada hari ke-5 pascabedah merupakan prediktor luaran infeksi.
Uji Diagnostik C-Reactive Protein pada Pneumonia Bakteri Komunitas Anak Ikhsan Marzony; Finny Fitry Yani; Efrida Efrida
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.391-395

Abstract

Latar belakang. Polymerase chain reaction (PCR) merupakan teknik untuk menentukan agen penyebab pneumonia dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, tetapi harganya mahal dan tidak tersedia di semua tempat. C-reactive protein (CRP) juga dapat digunakan untuk memprediksi infeksi bakteri dan memiliki keunggulan yang lain, yakni harganya yang murah dan hampir tersedia di semua laboratorium.Tujuan. Mengetahui sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, dan nilai prediksi negatif CRP pada pneumonia bakteri komunitas anak.Metode. Penelitian cross sectional pada 62 subjek di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS. Dr. M. Djamil Padang dari Desember 2013 sampai Oktober 2014. Subjek dipilih dengan teknik konsekutif. Dilakukan uji CRP dan teknik PCR sebagai baku emas. Duapuluh tiga sampel diekslusi karena menderita penyakit jantung bawaan (7), sepsis (6), telah mendapatkan antibiotik (4), dan orang tua menolak pemeriksaan (6) sehingga total sampel menjadi 39 anak.Hasil. Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki (59%) dan kelompok umur terbanyak 2-11 bulan (48,7%). Sensitivitas CRP dengan cut off point 8 mg/L adalah 51,6%, spesifisitas 75%, nilai prediksi positif 88,8%, nilai prediksi negatif 28,6%. Pada cut off point 10 mg/L, sensitivitas CRP adalah 41,9%, spesifisitas 87,5%, nilai prediksi positif 92,9%, nilai prediksi negatif 28%.Kesimpulan. C-reactive protein tidak dapat digunakan sebagai uji tapis terhadap pneumonia bakteri komunitas anak.
Manfaat Pemberian ASI Eksklusif dalam Pencegahan Kejadian Dermatitis Atopi pada Anak Anita Halim; Zakiudin Munasir; Rinawati Rohsiswatmo
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.76 KB) | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.345-52

Abstract

Latar belakang. Dermatitis atopi merupakan manifestasi penyakit alergi yang sering terjadi pada anak. Prevalens dermatitis atopi (DA) meningkat di seluruh dunia dengan awitan tersering pada usia 1 tahun pertama, cenderung relaps, dan diikuti allergic march hingga dewasa. Peran ASI dalam mencegah DA masih kontroversi. Studi mengenai hal ini belum banyak dilakukan di Indonesia.Tujuan. Mengetahui manfaat pemberian ASI eksklusif dalam mencegah DA pada anak.Metode. Desain kasus kontrol berpasangan dengan matching usia dan riwayat atopi keluargaHasil. Limapuluh empat pasang subjek kasus-kontrol berusia 7-24 bulan ikut serta dalam penelitian. Sebagian besar kelompok kasus berusia 7-12 bulan, memiliki atopi keluarga, dengan awitan tersering pada usia 6 bulan pertama, dan predileksi pada wajah. Tidak terdapat perbedaan pola dan lama menyusui pada kelompok kasus dan kontrol. Manfaat ASI dalam mencegah DA pada anak belum terbukti (RO 0,867; IK95% 0,512-2,635; p 0,851).Kesimpulan. Penelitian ini belum dapat membuktikan manfaat pemberian ASI eksklusif untuk mencegah DA pada anak.
Hubungan Kadar 25-Hidroksi-Vitamin D dengan HbA1c Melalui Interleukin-17 pada Anak Diabetes Melitus Tipe 1 Wahyu Wibisono; Harjoedi Adji Tjahjono
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.469-77

Abstract

Latar belakang. Diabetes melitus tipe 1 (DMT1) merupakan penyakit autoimun yang ditandai oleh destruksi sel β pankreas danberhubungan dengan aktivitas Th17.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar vitamin D dengan kadar HbA1c melalui IL-17 pada anak dengan DMT1.Metode. Desain cross-sectional dan melibatkan 20 subjek DM dan 20 kontrol sehat. Kadar vitamin D diukur dengan metode EIA (ng/mL), kadar HbA1c diukur dengan metode kromatografi menggunakan HPLC (%), IL-17 diukur dengan metode ELISA (pg/mL).Hasil. Kadar vitamin D pada kelompok DMT1 lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Kadar HbA1c dan IL-17pada kelompok DMT1 lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Uji korelasi pada kelompok DMT1 menunjukkanbahwa kadar vitamin D berkorelasi positif dengan kadar IL-17 (p<0,05, R2=0,566), sedangkan kadar IL-17 berkorelasi negatif dengankadar HbA1c (p<0,05, R2=0,489). Namun demikian, analisis jalur menunjukkan bahwa vitamin D berhubungan tidak signifikandengan HbA1c melalui IL-17 (p>0,05, R2=-0,267).Kesimpulan. Vitamin D lebih rendah pada kelompok DMT1, tetapi kadar HbA1c dan IL-17 lebih tinggi pada kelompok DMT1. Padakelompok DMT1, vitamin D berhubungan dengan HbA1c melalui IL-17, tetapi tidak signifikan.
Perbandingan Faktor Risiko Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas di Daerah Pedesaan dan Perkotaan Yosephine Maria Christina; Elisabeth S. Herini; IL. Gamayanti
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.225-31

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktifitas (GPP/H) merupakan gangguan neurobehavioural yang menetap dengan gejala berupa ketidakmampuan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang tidak sesuai dengan usia perkembangannya.Tujuan. Mengetahui perbedaan angka prevalensi dan karakteristik faktor risiko yang menimbulkan GPP/H di pedesaan dan perkotaan.Metode. Penelitian potong lintang untuk mengetahui prevalensi GPP/H dan dilanjutkan studi kasus kontrol untuk memperoleh faktor risiko yang memengaruhi terjadinya GPP/H di pedesaan dan perkotaan. Subyek penelitian terdiri dari anak SD kelas I – III.Hasil. Prevalensi GPP/H di kecamatan Cangkringan 7,48% dengan rasio prevalensi GPP/H antara laki-laki dan perempuan 6 : 1. Prevalensi di pedesaan 46% dan perkotaan 54%. Hasil analisis bivariat menunjukkan perbedaan faktor risiko yang berpengaruh di pedesaan dan perkotaan adalah keluarga hiperaktif, komplikasi kehamilan, serta konsumsi makanan berpengawet dan berpewarna lebih tinggi di perkotaan. Sedangkan durasi interaksi dengan orang tua <8 jam, BBLR lebih berpengaruh di pedesaan. Hasil analisis multivariat memperoleh faktor risiko independent yang memengaruhi kejadian GPP/H adalah trauma kepala OR 15,97 (95% CI 2,11–20,96); p=0,007, orang tua tunggal OR 182,47 (95% CI 1,55–2,15); p=0,032, tidak ASI eksklusif OR 11,93 (95% CI 1,84–78,93) p=0,01, dan penggunaan makanan berpengawet OR 0,05 (95% CI 0,003–0,89); p=0,041.Kesimpulan. Prevalensi GPP/H di perkotaan lebih besar daripada di pedesaan. Faktor risiko yang berpengaruh pada masing-masing wilayah berbeda. Durasi interaksi dengan orang tua <8 jam, komplikasi kehamilan ibu, tidak ASI eksklusif merupakan faktor risiko kejadian GPP/H.
Pengobatan Terkini Sindrom Nefrotik (SN) pada Anak Husein Alatas; Partini P. Trihono
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.742 KB) | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.155-62

Abstract

Pengobatan sindrom nefrotik pada anak mengalami perubahan dari masa ke masa. Sudah sejak lama kita mengadopsi rekomendasiInternational study of kidney disease in children (SKDC) yaitu pemberian kortikosteroid 8 minggu, 4 minggu dosis penuh dilanjutkandengan 4 minggu dosis alternating. Dengan skema pengobatan ini 80% sindrom nefrotik idiopatik pada anak mengalami remisi,tetapi 70%-80% di antaranya mengalami relaps dan separuhnya relaps berulang/frekuen. Pengobatan hanya 8 minggu dirasakankurang adekuat (Kidney Disease Improving Global Outcome= KDIGO), maka KDIGO membuat rekomendasi baru pada tahun2013. Pengobatan inisial dapat dipilih dengan pemberian kortikosteroid 12 minggu atau tetap 8 minggu dan dilanjutkan denganpenurunan dosis selama 2-3 bulan (tapering-off). Namun usulan KDIGO dibantah oleh Japanese Study Group of Kidney Disease inChildren (JSKDC) tahun 2015 dengan melakukan penelitian untuk membandingkan prednisolon 4-4 minggu selama 6 bulan yaitu4-4 minggu + tapering off. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa pemberian prednison 4-4 minggu tidak lebih inferior danpemberian 6 bulan tidak mengurangi relaps. Rekomendasi lain dari KDIGO 2013 diterima dengan sedikit modifikasi yang akandikemukakan pada makalah ini secara rinci, baik untuk pengobatan sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) maupun sindrom nefrotikresisten steroid (SNRS). Juga diajukan pemberian beberapa preparat kortikosteroid “sparing agent” yang dapat dipakai pada sindromnefrotik relaps frekuen/dependen steroid.
Korelasi Kadar Timbal dalam Darah dengan Kadar Hemoglobin pada Anak Usia 1-6 tahun Hendra Purnasidha Bagaswoto; Sutaryo Sutaryo; Sasmito Nugroho
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.297-301

Abstract

Latar belakang. Anak yang berusia kurang dari 6 tahun lebih rentan terpapar timbal. Timbal menghambat proses pembentukan hemoglobin dengan cara menghambat aktivitas enzim amino levulinic acid synthetase (ALAS), amino levulinic acid dehydratase (ALAD) dan ferrochelatase serta menghasilkan reactive oxygen substance (ROS) yang dapat menyebabkan hemolisis.Tujuan. Menentukan korelasi kadar timbal dalam darah dengan kadar hemoglobin pada anak usia 1-6 tahun.Metode. Penelitian cross-sectional dilaksanakan bulan Oktober-November 2012. Subjek, anak berusia 1-6 tahun yang bertempat tinggal di sekitar perempatan padat lalu lintas di daerah Gedongtengen, Pingit, dan Juminahan Yogyakarta. Kadar timbal dalam darah dianalisis dengan metode atomic absorption spectrophotometry (AAS) dan kadar hemoglobin dengan metode spektrofotometer. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk menentukan korelasi antara kadar timbal dalam darah dengan kadar hemoglobin.Hasil. Sebanyak 65 anak diikutsertakan dalam penelitian dengan rerata usia 3 tahun 10 bulan. Kadar timbal dalam darah di dalam kisaran 0,01-10,67 μg/dL, dengan rerata 3,73 μg/dL. Enam anak (9%) mempunyai kadar timbal dalam darah tinggi menurut kriteria CDC dan AAP. Tidak ditemukan korelasi yang bermakna antara kadar timbal dalam darah dengan kadar hemoglobin (r=0,05; p=0,67).Kesimpulan. Kadar timbal dalam darah tidak memiliki korelasi dengan kadar hemoglobin pada anak usia 1-6 tahun.
Perbandingan Luaran dan Biaya Penutupan Defek Septum Ventrikel Perimembran secara Transkateter dan Pembedahan Liku Satriani; Audrey Audrey; Piprim B Yanuarso; Mulyadi M Djer
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.9-16

Abstract

Latar belakang. Terapi baku emas dalam penutupan defek septum ventrikel (DSV) adalah pembedahan. Prosedur pembedahanmempunyai morbiditas yang terkait dengan torakotomi, pintasan jantung paru, komplikasi prosedur, jaringan parut bekas operasi, dantrauma psikologis. Oleh karena itu, timbul usaha pendekatan transkateter untuk menutup DSV yang bersifat relatif kurang invasif.Tujuan. Mengetahui perbandingan hasil penutupan DSV perimembran, komplikasi prosedur, lama rawat di rumah sakit, dan totalbiaya prosedur antara prosedur transkateter dengan prosedur pembedahan.Metode. Penelitian retrospektif analitik dengan data berupa rekam medis pasien anak dengan DSV perimembran yang datang kePelayanan Jantung Terpadu Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo dan dilakukan penutupan defek dengan salah satu prosedurdalam periode Januari 2010-Desember 2013.Hasil. Didapat 69 kasus anak dengan DSV perimembran, terdiri atas 39 kasus dengan prosedur pembedahan dan 30 kasus denganprosedur transkateter. Prosedur pembedahan dan prosedur transkateter mempunyai tingkat keberhasilan yang serupa (89,7% vs 96,7%,p=0,271). Prosedur pembedahan mempunyai komplikasi yang lebih banyak dibandingkan prosedur transkateter (46,7% vs 7,7%,p<0,001). Prosedur pembedahan juga mempunyai lama rawat di rumah sakit yang lebih panjang dibandingkan prosedur transkateter(8 hari vs 3 hari, p<0,0001), dan semua prosedur pembedahan membutuhkan perawatan di ruang rawat intensif. Tidak ada perbedaantotal biaya antara prosedur transkateter dengan prosedur pembedahan (Rp. 55.032.636 vs Rp. 58.593.320 p=0,923).Kesimpulan. Prosedur penutupan DSV perimembran secara transkateter mempunyai efektivitas dan biaya yang sama dengan prosedurpembedahan dan mempunyai komplikasi yang lebih sedikit serta lama rawat di rumah sakit yang lebih pendek.
Hubungan Asma dengan Gangguan Perilaku pada Anak Diana Mariana Damanik; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.272 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.391-6

Abstract

Latar belakang. Asma adalah salah satu penyakit pernapasan kronis dengan prevalensi yang meningkat padaanak maupun dewasa sejak dua dekade terakhir. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan hubunganantara asma dengan gangguan perilaku.Tujuan. Menganalis hubungan antara asma dengan gangguan perilaku serta mengidentifikasi faktor yangterkait.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2012. Penelitian melibatkan77 anak usia 4-18 tahun, yang didiagnosis asma di RSUP Sardjito dan 77 anak non asma. Subjek penelitiandiambil secara consecutive serta matching usia dan jenis kelamin. Anak dengan penyakit kronis lain, cacatfisik atau mental yang berat dieksklusi dari penelitian. Gangguan perilaku pada semua subjek dinilai denganstrength and difficulties questionnaire (SDQ). Faktor yang berhubungan dengan gangguan perilaku, yaituonset asma, derajat asma, dan penggunaan kortikosteroid inhalasi turut dianalisis dengan metode chi squareserta regresi logistik.Hasil. Masalah perilaku ditemukan 27,3% pada kelompok asma dan hanya 9,1% pada kelompok nonasma (OR 3,75, IK95% 1,48-9,45, p=0,003). Gangguan emosional dan conduct problem secara signifikanlebih sering terjadi pada kelompok asma, sedangkan perilaku prososial lebih tinggi pada anak non asma.Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik ditunjukkan derajat asma merupakan faktor yangberhubungan dengan gangguan perilaku (OR 8,83, IK95% 2,02-38,60, p=0,01) dan conduct problem (OR6,35 IK95% 1,48-27,25, p=0,01).Kesimpulan.Gangguan perilaku lebih sering terjadi pada anak dengan asma dibandingkan anak sehat sertaberhubungan dengan derajat asma.

Page 84 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue