cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 10 (3) 2021" : 16 Documents clear
Laporan Kasus: Cystolithiasis Disertai Hematuria pada Kucing Kampung Jantan Nirhayu, Nirhayu; Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha; Erawan, I Gusti Made Krisna; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.532

Abstract

Cystolithiasis merupakan keadaan ditemukan urolith/kalkuli di dalam vesika urinaria. Masalah tersebut umum dan sering terjadi pada kucing. Seekor kucing lokal jantan berumur satu tahun dengan bobot badan 4,6 kg diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan disuria dan hematuria. Pemeriksaan ultrasonografi ditemukan adanya bentukan pasir pada vesika urinaria. Pemeriksaan sedimentasi urin menunjukkan adanya kristal struvit. Kucing didiagnosis menderita cystolithiasis akibat struvit. Hewan kasus ditangani dengan cara pemberian kombinasi cefotaxim (20 mg/kg BB, q12h, selama tujuh hari), dexametasone (0,1 mg/kg BB, q12h, selama tujuh hari), dan kapsul kejibeling dengan kandungan sericocalycis folium 100 mg, sonchi folium 125 mg, orthosiphonis folium 125 mg (satu kapsul, q24h, selama tujuh hari). Setelah pengobatan selama tujuh hari, urinasi menjadi lancar, tidak adanya indikasi rasa sakit saat urinasi dan tidak adanya hematuria.
Pemberian Pakan Hijauan Lokal yang Disuplementasi Indigofera dan Probiotik terhadap Profil Eritrosit Kambing Boerka Ihtifazhuddini, Fiqi Manaya Tibyana; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.420

Abstract

Kambing boerka adalah hasil perkawinan silang antara ternak kambing boer jantan dengan kambing kacang betina. Faktor utama yang dapat menunjang usaha peternakan dan produktivitas ternak adalah pakan. Pakan merupakan bahan yang penting untuk metabolisme darah sebab dibutuhkan protein, vitamin, dan mineral dalam pembentukan sel darah merah. Pemberian pakan selain hijauan memungkinkan terjadinya perubahan fisiologis tubuh ternak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil eritrosit kambing boerka yang diberi pakan hijauan lokal dan disuplementasi Indigofera sp. serta probiotik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan dan setiap perlakuan terdiri atas delapan ekor kambing boerka, dengan total 24 sampel darah. Perlakuan pakan berupa hijauan lokal sebagai kontrol (P0), perlakuan pakan yang disuplementasi Indigofera (P1), dan perlakuan pakan yang disuplementasi Indigofera serta bio-CAS (P2). Data hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji sidik ragam (ANOVA), untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pakan hijauan lokal yang disuplementasi indigofera serta probiotik secara statistika tidak berbeda nyata terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin, nilai MCV, MCH dan MCHC, kecuali nilai hematrokit untuk kelompok perlakuan P1 menunjukkan beda nyata terhadap P0.
Laporan Kasus : Gingivostomatitis dan Infeksi Parasite Otodectes Cynotis pada Kucing Lokal Anggung Praing, Umbu Yabu; Soma, I Gede; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.478

Abstract

Feline chronic gingivostomatitis (FCGS) is a painful inflamation in the oral cavity of cats. The case study is a male local cat, named Haru. Haru is 4 years old cat, weight 5.5 kg, with yellow and white hair. The owner came to a veterinary clinic, report that Haru had a decreased appetite for eating and drinking, and one week before the cat had vomited food when he was given dry feed and had difficulty in chewing food. The owner also saw his cat was scratching the ear area, in the cat's mouth area, the hypersalivation started to appear mixed with blood from one week earlier and gradually became more pronounced, and there was a black crust around the cat's mouth that was visible from the previous one week. The cat is one of the 19 cats kept by the owner. On clinical examination of cat's oral cavity, it was observed that there was inflammation of the gums starting from the cranial to the caudal part. Severe inflammation was seen of the caudal oral mucosa. Inflammation occurs bilaterally. Besides, ulceration was clearly visible, redness, swelling and feeling discomfort when the oral cavity is opened. The cat was diagnosed gingivostomatitis with a fausta prognosis. Dry dark brown substance was found in the inner part of the ears. Under the microscope, the dark brown substance contained Otodectus cynotis. Treatment for gingivostomatitisis carried out by administering dexamethasone 0,91 mg/KgBB given one a day for five days, cefotaxime 60 mg/KgBB given twicw a day for seven days, infusion of RL for seven days, and multivitamins hematodine 0,2 ml/KgBB once day for three days. After one - week treatment, Haru gradually recovered. Eardrops containing pyrethrine was used to treat Otodectus cynotis infestation. On examination of earwax after a week, Otodectus cynotis was not found. The treatmen was given only symptomatic relief but not the agent causing the infection so that the case recurs seven days after the treatment, so it is recommended to do tooth extraction or scalling. Key words: Local cat; feline chronic gingivostomatitis; oral cavity; Otodectes cynotis.
Karakteristik Anatomi dan Ukuran Tulang Pinggul (Os Coxae) Sapi Bali Natalia, Grace Kristin; Batan, I Wayan; Suatha, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.375

Abstract

Pelvis tersusun oleh tiga tulang yaitu, os sacrum, os coccygeus, dan os coxae. Tulang pinggul (os coxae) dibentuk oleh os ilium, os ischium, dan os pubis. Os coxae memiliki peran dalam reproduksi dan mendukung aktivitas sapi bali seperti berjalan atau menopang tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari karakteristik anatomi dan ukuran dari os coxae sapi bali. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati dan mengukur os coxae secara langsung. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah os coxae sapi bali memiliki bentuk seperti huruf U dan termasuk dalam tulang irregular (bentuk yang tidak beraturan) serta tersusun atas tiga tulang penyusun yaitu os ilium, os ischium, dan os pubis. Os coxae sapi bali memiliki panjang rata-rata os ilium 23,7±1,56 cm, os ischium 18,63±1,66 cm, dan os pubis 15,65±1,77 cm dengan luas permukaan os ilium kanan 199±32,04 cm2 dan kiri 181±15,50 cm2, os ischium kanan 172,25±49,19 cm2 dan kiri 161,50±44,52 cm2, os pubis kanan 62±14,76 cm2 dan kiri 61,50±14,73 cm2. Luas foramen obturatum kanan 33,32±5,08 cm2 dan kiri 33,26±4,69 cm2, tebal tuber coxae kanan 1,84±0,27 cm dan kiri 1,74±0,26 cm, luas acetabulum kanan dan kiri 36,86±4,83 cm2, kedalaman acetabulum kanan 3,10±0,30 cm dan kiri 3,04±0,39 cm, dan luas facies lunata kanan 21,50±4,47 cm2 dan kiri 20±5,59 cm2.
Identifikasi dan Prevalensi Jamur Curvularia pada Anjing dan Kucing di Kabupaten Badung, Bali Tahun 2020 Sudipa, Putu Henrywaesa; Gelgel, Ketut Tono Pasek; Jayanti, Putu Devi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.432

Abstract

Curvularia adalah genus Pleosporalean monophyletic dengan banyak jenis spesies, termasuk jenis fitopatogenik, jamur patogen pada hewan dan manusia. Curvularia juga menyebabkan phaeohyphomycosis yang mana ditemukan pada invertebrata, vertebrata berdarah dingin, burung dan spesies mamalia termasuk ruminansia, kuda, anjing, kucing dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui prevalensi Curvularia pada anjing dan kucing. Sampel diambil dengan cara menggunakan teknik sitologi kulit dengan menggunakan plester selotip (tape) yang ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami infeksi jamur kemudian ditempelkan pada gelas objek yang sudah diberikan beberapa tetes pewarna methylene blue. Sampel menggunakan 34 sampel (26 ekor anjing dan 8 ekor kucing) dan sampel diperiksa dibawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 100 kali. Pemeriksaan mikroskopis sampel melihat karakteristik jamur, terutama pigmentasi, septasi, morfologi, ukuran hifa, konidiofor dan konidia. Dari data jenis jamur yang teridentifikasi kemudian data ditabulasi dan dijelaskan secara deskriptif. Hasil yang didapatkan adalah prevalensi Curvularia pada anjing adalah 19%, pada kucing 50% dan total infeksi Curvularia dari seluruh sampel berjumlah 26%. Culvularia yang teridentifikasi adalah tipe konidia tipikal yang bentuk konidiumnya obovoid, melengkung, agak membengkak pada satu sel, gelap, dan dindingnya tebal dan tipe konidia atipikal yang bentuknya lurus dan menyempit ke arah ujung, konidiofor tidak bercabang, dan berbentuk zigzag serta jumlah septa berjumlah 3-4 atau eusepta.
Laporan Kasus: Penanganan Myositis Musculus Tibialis dan Fisura Os Tibiae Akibat Trauma Mekanik pada Anak Kucing Lokal Apsari, Ni Wayan Diah; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.493

Abstract

Seekor anak kucing kasus berkelamin jantan, memiliki rambut berwarna oranye, berumur tiga bulan dengan bobot 1,1 kg mengalami gangguan muskuloskeletal akibat traumatik mekanik (tertabrak sepeda motor), dengan tanda kepincangan, kebengkakan pada kaki belakang kiri, dan kesulitan berdiri dengan keempat kakinya. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya peradangan pada muskulus tibialis cranialis dan caudalis. Peneguhan diagnosis dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan hematologi, kucing mengalami leukositosis, limfositosis dan trombositopenia serta pemeriksaan radiografi, dengan hasil terjadi pembesaran pada otot yang melapisi tulang tibia fibula dan sedikit fisura pada os tibialis. Kucing didiagnosa mengalami myositis. Terapi yang diberikan berupa injeksi dexamethasone 0,4 mg/kg BB dan injeksi neurotropic 10 mg/kg BB. Pengobatan selama pemulihan diberikan meloxicam 0,06 mg/kg BB diberikan 1 kali sehari selama 14 hari, amoxicillin 22 mg/kg BB diberikan 2 kali sehari selama 14 hari, serta livron B-plex 4 mg/kg BB diberikan 1 kali sehari selama 7 hari

Page 2 of 2 | Total Record : 16