Indonesia Medicus Veterinus
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya.
Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 9 (1) 2020"
:
15 Documents
clear
Jumlah Cemaran Bakteri Coliform dan Non-Coliform pada Air di RPU di Denpasar Melampaui Baku Mutu Nasional
Sabaaturohma, Clara Luceatriani;
Gelgel, Ketut Tono Pasek;
Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (163.94 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.139
Air merupakan tempat bagi hidupnya berbagai jenis mikroba seperti bakteri, jamur, maupun kapang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah cemaran bakteri coliform dan non-coliform pada air di Rumah Pemotongan Unggas (RPU) di Denpasar. Penelitian ini menggunakan 16 sampel air yang diambil dari keran di RPU. Jumlah bakteri pada sampel dihitung secara konvensional dengan metode sebar pada media eosin methylene blue agar (EMBA), selanjutnya hasil dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-0220-1987, standar Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 32 tahun 2017, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001. Hasil rata-rata bakteri coliform pada air di RPU Denpasar sebanyak 84,375x104 cfu / ml dan non coliform dengan jumlah 14,375x104 cfu / ml. Dapat disimpulkan bahwa jumlah cemaran bakteri pada air yang berada di rumah pemotongan unggas di Denpasar melampaui standar SNI 01-0220-1987 yang menyatakan jumlah maksimum kuman-kuman patogenik sebanyak 0.00 / 100 mL, juga melampaui standar Peraturan Pemerintah Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 32 Tahun 2017 yang menyatakan jumlah maksimum bakteri coliform sebanyak 50 cfu / 100 mL dan maksimum E.coli 0 cfu / 100 mL, serta melampaui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 pada klasifikasi mutu air kelas I, II, III dan IV, yang menyatakan syarat total bakteri coliform sebanyak 1000 / 100 mL untuk mutu air kelas I, 5000 / 10 mL untuk mutu air kelas II, 10000 / 100 mL untuk mutu air kelas III dan IV.
Pemberian Tylosin Tartrate dan Fosfomycin Sodium dalam Air Minum Meningkatkan Jumlah Eosinofil dan Basofil Ayam Broiler
Astawa, I Ketut;
Ardana, Ida Bagus Komang;
Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (135.752 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.37
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi antibiotik tylosin tartrate dan fosfomycin sodium yang dicampur dengan air minum terhadap total leukosit dan diferensial leukosit broiler. Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging/broiler jantan umur 17 hari yang dibagi atas empat perlakuan yaitu diberi kombinasi tylosin tartrate dan fosfomycin sodium 1 g/L air minum (P1), diberi 2 g/L air minum (P2), diberi 3 g/L air minum (P3) dan tanpa diberi tylosin tartrate dan fosfomycin sodium (P0). Perlakuan dilakukan pada ayam broiler umur 17-20 hari dan sampel darah diambil pada umur 21 hari.Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang berisi antikoagulan ethylene diamine tetra acid (EDTA). Total leukosit dan diferensial leukosit dihitung menggunakan alat uji otomatis (Automatic Blood Counter). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total leukosit kelompok P0(44,74± 11,49 x 103 µl) dan P1(46,77± 6,89 x 103 µl) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok P3(35,34± 2,41 x 103 µl), diferensial leukosit menunjukkan bahwa penambahan kombinasi antibiotik tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah heterofil, limfosit, dan monosit. Akan tetapi berpengaruh nyata meningkatkan jumlah eosinofil dan basofil. Pemberian kombinasi antibiotik tylosin tartrate dan fosfomycin sodiumyang dicampur dengan air minum dapat meningkatkan jumlah eosinofil dan basofil pada ayam broiler.
Perbandingan Uji Subjektif Kualitas Daging Sapi Bali Produksi Rumah Pemotongan Hewan Gianyar, Klungkung dan Karangasem
Sihombing, Vivi Ekatry;
Swacita, Ida Bagus Ngurah;
Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.785 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.99
Kualitas fisik daging merupakan hal yang sangat penting yang harus diperhatikan sebagai hasil produksi suatu Rumah Pemotongan Hewan (RPH), karena kualitas fisik yang baik menghasilkan mutu daging yang berkualitas dan layak untuk dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas fisik daging sapi bali produksi RPH Gianyar, Klungkung dan Karangasem. Sampel daging diambil pada bagian regio longissimus masing-masing sampel diambil sebanyak ± 100 gram. Sampel daging sapi diuji kualitas fisiknya terhadap warna, bau, tekstur dan konsistensi dengan menggunakan 10 orang panelis yang telah memenuhi persyaratan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Kruskal-Walis jika terdapat perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna, bau dan konsistensi daging sapi dari RPH Gianyar, Klungkung, dan Karangasem tidak ada perbedaan nyata, sedangkan untuk tekstur dari RPH Karangasem menunjukkan adanya perbedaan nyata dengan RPH Gianyar dan RPH Klungkung. Tekstur daging sapi dari RPH Karangasem terlihat lebih kasar daripada RPH Gianyar dan Klungkung, hal ini diduga karena umur sapi yang dipotong di RPH Karangasem sudah termasuk sapi-sapi tua sehingga banyak mengandung jaringan ikat dan teksturnya terlihat sangat kasar.
Extracellular Matrix dari Vesica Urinaria Babi Mempercepat Kesembuhan Luka Sayat Tanpa Menimbulkan Anemia dan Leukositosis pada Tikus Putih
Surbakti, Yeyen Fami Gressia Br;
Dharmawan, Nyoman Sadra;
Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (161.322 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.1
Luka terbuka memerlukan biomaterial untuk mempercepat proses kesembuhan. extracellular matrix (ECM) dari vesica urinaria babi merupakan salah satu biomaterial yang sering digunakan sebagai perancah sehingga pada resipien proses kesembuhan luka menjadi lebih cepat. Keamanan penggunaan extracellular matrix dapat dianalisa melalui gambaran darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui biokompatibilitas bahan ECM yang berasal dari vesica urinaria babi dievaluasi dari hasil pemeriksaan darah khususnya total eritrosit, kadar hemoglobin, dan total leukosit. Penelitian ini menggunakan 32 ekor tikus putih jantan yang telah dianestesi kemudian diberikan luka insisi pada punggung sepanjang 2 cm dengan kedalaman 0,2 mm dan dibagi kedalam dua kelompok. KI sebagai kontrol, tidak diberi bahan ECM dan KII sebagai perlakuan, diberi bahan ECM. Extracellular matrix dari vesica urinaria babi dibuat menggunakan metode Freytes yang sedikit dimodifikasi. Extracellular matrix berbentuk serat halus diaplikasikan sampai menutupi daerah luka sayat kemudian dioleskan vaselin sebagai perekat ECM pada luka. Pengambilan sampel darah dilakukan empat kali yaitu pada hari ke-1, hari ke-5, hari ke-10, hari ke-15 pasca pembedahan, sampel darah diambil dari vena lateralis sebanyak 0,5 ml dan kemudian diperiksa menggunakan mesin Animal Blood Counter iCell-800Vet. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ECM dari vesica urinaria babi dapat mempercepat kesembuhan luka tanpa menimbulkan perubahan nilai total eritrosit, kadar hemoglobin, dan total leukosit dari nilai rujukan normal, sehingga dapat disimpulkan ECM dari vesica urinaria babi tidak memiliki efek negatif terhadap profil hematologi tikus putih jantan.
Perbandingan Akurasi Berbagai Metode Kalibrasi Skala Pengukuran dalam Morfometri Eritrosit Elang Ular Bido (Spilornis cheela)
Hardian, Andreas Bandang;
Megarani, Dorothea Vera;
Nugrahani, Warih Pulung;
Rahmawati, Irhamna Putri
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (546.122 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.68
Morfometri sel berguna untuk mendeteksi abnormalitas seluler berdasar pengukuran sel secara kuantitatif. Metode ini telah diterapkan pada berbagai pemeriksaan klinis yang melibatkan inspeksi morfologi sel seperti pemeriksaan sitologi, histopatologi, dan patologi digital. Kalibrator skala yang umum digunakan adalah mikrometer kalibrasi (calibration slide). Terbatasnya ketersediaan mikrometer kalibrasi di laboratorium sering menjadi hambatan dalam melakukan morfometri sel sehingga diperlukan alat alternatif yang terbukti memiliki akurasi yang sama. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan parameter morfometri eritrosit elang ular bido (Spilornis cheela) menggunakan tiga kalibrator berbeda: mikrometer kalibrasi, kamar hitung Neubauer, dan batang skala digital pada kamera mikroskop. Sebanyak 58 eritrosit elang ular bido dipilih dari preparat apus darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa dan difoto menggunakan kamera mikroskop. Seluruh sel diukur menggunakan aplikasi ImageJ. Kalibrasi pengukuran dilakukan dalam lima metode dengan kalibrator yang telah disebutkan. Analisis perbandingan secara statistika dilakukan dengan membandingkan rata-rata panjang sel, lebar sel, panjang nukleus, dan lebar nukleus melalui uji analysis of variance (ANOVA) dan uji lanjutan Tukey’s Honestly Significant Difference (HSD). Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada rata-rata parameter morfometri eritrosit berdasar lima metode kalibrasi. Hasil uji lanjutan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara hasil pengukuran menggunakan kalibrasi dengan mikrometer kalibrasi (calibration slide) dan kamar hitung Neubauer. Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini bahwa kamar hitung Neubauer dapat digunakan untuk menggantikan mikrometer kalibrasi (calibration slide) jika belum tersedia di fasilitas klinik maupun laboratorium.
Studi Kasus: Demodekosis pada Anjing Jantan Muda Ras Pug Umur Satu Tahun
Wahyudi, Gregorius;
Anthara, Made Suma;
Arjentinia, I Putu Gede Yudhi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (303.692 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.45
Demodekosis pada anjing merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi tungau Demodex sp dalam lapisan kulit dermis atau pada folikel rambut. Hewan kasus adalah anjing ras pug berjenis kelamin jantan, berumur ±1 tahun dan memiliki bobot badan 4,1 kg. Berdasarkan hasil anamnesis anjing mengalami gatal-gatal dan kemerahan selama kurang lebih satu bulan. Pada saat itu rambut anjing sudah mulai rontok dan teramati adanya ketombe. Anjing sering menggaruk pada bagian telinga, leher, punggung, dan wajah hingga merah. Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopik ditemukan tungau yaitu Demodex sp., sedangkan hasil pemeriksaan darah rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, dapat disimpulkan bahwa anjing ini didiagnosis menderita demodekosis. Pengobatan secara kausatif untuk anjing kasus diberikan ivermektin dengan dosis anjuran 0,2-0,4 ml/kg berat badan dan diinjeksikan sebanyak 0,16 ml secara subkutan dengan interval pengulangan sekali seminggu. Chlorfeniramin meleat sebagai antihistamin dengan dosis anjuran 2-4 mg/kg berat badan pada kasus ini diberikan dua kali sehari secara oral dan fish oil sekali sehari. Hewan dimandikan dengan amitras sekali seminggu dengan dosis pemberian 1ml : 100 ml. Setelah lima hari paska terapi, hewan kasus menunjukkan berkurangnya frekuensi menggaruk dan kemerahan pada kulit.
Pemberian Kalsium Hidrogen Fosfat Dihidrat dan Vitamin D3 untuk Pengobatan Rickets pada Anak Anjing Persilangan
Dewi, Putu Ayu Purbani Novia;
Suartha, I Nyoman;
Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (493.044 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.107
Anjing merupakan persilangan antara Pomeranian dengan anjing lokal, berjenis kelamin jantan berumur 3,5 bulan dan memiliki bobot badan 3 kg mengalami gangguan muskuloskeletal dengan tanda klinis berpindah tempat dengan cara menyeret badan dan kedua kaki belakangnya, di samping terjadi deformitas simetris pada ekstremitas cranial dan terdapat rasa nyeri pada ekstremitas caudal. Anjing pada kasus ini setiap harinya hanya diberikan pakan nasi dan hati ayam oleh pemiliknya. Pemeriksaan radiografi ditemukan bagian yang mengalami radiolusen pada os tibia fibula, deformitas tulang simetris terjadi pada ekstremitas kranial pada os humerus, serta deformitas pada lumbosakral. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, dan leukositosis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, disimpulkan anjing kasus didiagnosis menderita rickets. Terapi kausatif diberikan berupa calcifar 500 mg 1/6 tablet/hari selama 4 minggu, terapi simtomatis berupa meloxicam 7.5 mg 1/6 tablet/hari selama 7 hari, dan terapi suportif dengan mengganti makanan dengan dog food komersial, pemijatan otot-otot ekstremitas caudal, mengontrol bobot badan, mengajak anjing latihan ringan yaitu berjalan dipagi hari dan berenang. Setelah empat minggu terapi anjing mengalami peningkatan kekuatan tulang yaitu anjing sudah dapat berlari, menaiki dan menuruni tangga, meskipun deformitas pada kedua kaki depan dan tulang punggung tidak dapat kembali normal.
Gambaran Histopatologi Ginjal Marmut yang Diberi Ekstrak Daun Tapak Dara (Cantharanthus roseus) dan Wijayakusuma (Epiphyllum oxypetalum)
Humaira, Sarah;
Berata, I Ketut;
Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (408.129 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.12
Tanaman tapak dara (Catharanthus roseus) dan wijayakusuma (Epiphyllum oxypetalum) merupakan tanaman bahan obat tradisional yang mampu mempercepat kesembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian kedua ekstrak tanaman tersebut terhadap ginjal yang diamati secara histopatologi. Penelitian menggunakan marmut, sebanyak 24 ekor, yang dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok I diberi salep vaselin sebagai kontrol (K), Kelompok II (P1) diberi salep ekstrak tapak dara konsentrasi 15%, Kelompok III (P2) diberi salep ekstrak wijayakusuma konsentrasi 15%, dan Kelompok IV (P3) diberi salep kombinasi ekstrak tapak dara dan wijayakusuma konsentrasi 15%. Setelah tujuh hari pertama pemberian perlakuan, tiga ekor marmut dari setiap kelompok dikorbankan nyawanya kemudian dinekropsi dan tiga ekor yang masih hidup diberi perlakuan hingga hari ke-14 lalu dikorbankan nyawanya dan dinekropsi. Setelah dinekropsi pada minggu pertama dan kedua, organ ginjal diambil untuk kemudian diproses pembuatan preparat histologi. Proses pembuatan preparat histopatologi dilakukan dengan metode Kiernan dan pewarnaan hematoxylin-eosin (HE). Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang diberi kombinasi ekstrak daun tapak dara dan wijayakusuma, tampak lesi degenerasi melemak, kongesti, perdarahan dan nekrosisnya paling ringan dibandingkan kelompok yang diberi ekstrak daun tapak dara atau wijayakusuma secara tunggal. Kesimpulannya adalah pemberian kombinasi ekstrak daun tapak dan wijayakusuma konsentrasi 15% pada terapi kesembuhan luka paling baik terhadap kesehatan ginjal dibandingkan pemberian ekstrak daun tapak dara atau wijayakusuma secara tunggal.
Keragaman Performa Reproduksi Babi Landrace Betina di Kabupaten Tabanan Bali
Pero, Fransisco Victoriano;
Nindhia, Tjokorda Sari;
Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (196.716 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.54
Babi landrace menjadi pilihan pertama para peternak karena babi landrace memiliki rata-rata tingkat kelangsungan hidup tertinggi pasca proses penyapihan sehingga banyak digunakan sebagai indukan. Kabupaten Tabanan merupakan sentra peternakan babi di Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman performa reproduksi dan korelasi antar performa reproduksi dari babi landrace betina. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuisioner, data dianalisis dengan analisis faktor komponen utama, dengan 15 komponen variabel yang diambil berdasarkan rata-rata performa reproduksi yang biasanya terjadi. Hasil dari penelitian ini komponen performa reproduksi lama birahi memiliki keragaman paling kecil, sedangkan variabel yang memiliki keragaman yang paling besar adalah umur maksimal beranak. Umur maksimal kawin dan umur maksimal beranak mempunyai korelasi positif yang paling tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan keragaman serta korelasi antara komponen penampilan reproduksi babi landrace betina. Perlu dilakukan seleksi babi landrace betina terhadap performa reproduksi yang mempunyai keragaman yang tinggi, sosialisasi terhadap para peternak tentang performa reproduksi yang baik, penerapan manajemen peternakan babi landrace yang berhubungan dengan performa reproduksi serta seleksi terhadap umur maksimal beranak dan umur maksimal kawin yang memiliki keragaman besar untuk mengoptimalkan efisiensi reproduksi babi landrace betina.
Total Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit Anak Babi Persilangan Periode Nursery yang diberikan Kombinasi Enzim dan Kunyit
Mahardika, I Gusti Bagus;
Merdana, I Made;
Sudira, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (195.768 KB)
|
DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.119
Kegagalan pada periode nursery sering dipicu oleh stress anak babi karena penyapihan yang tidak baik,hal ini menyebabkan turunnya feed intake, bobot badan dibawah standard, FCR (Food Convertion Ratio) meningkat, diare atau penyakit yang bisa berlanjut pada kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi enzim pencernaan avizym 1052 dengan tepung kunyit (Curcuma domestica) pada pakan terhadap total eritrosit, hemoglobin dan hematokrit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Sampel yang digunakan sebanyak 12 ekor anak babi crossbreed jantan umur empat minggu (28 hari) dengan bobot 8-9 kg. Perlakuan berupa penambahan enzim pencernaan dan tepung kunyit melalui pakan selama lima minggu. Kontrol diberikan pakan tanpa perlakuan, perlakuan pertama diberikan enzim dosis 0,1% campuran pakan, perlakuan kedua diberikan tepung kunyit dosis 1% campuran pakan dan perlakuan ketiga diberikan enzim dengan tepung kunyit dosis 0,1% dan 1% campuran pakan. Hasil penelitian menjadikan bahwa pemberian kombinasi enzim dan tepung kunyit melalui pakan pada anak babi crossbreed jantan periode nursery, tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan eritrosit, hemoglobin dan hematokrit anak babi crossbreed periode nursery.