cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Perubahan Histopatologi Ginjal Mencit (Mus musculus) Akibat Pembatasan Pemberian Air Minum
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.350

Abstract

Organ ginjal berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan tubuh. Pembatasan air minum jangka panjang dapat menyebabkan dehidrasi sehingga meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan infeksi saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran histopatologi ginjal mencit akibat pembatasan pemberian air minum. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit yang dibagi atas empat perlakuan terdiri dari P0 (diberikan air minum 5 mL/hari), P1 (diberikan air minum 3,75 mL/hari), P2 (diberikan air minum 2,5 mL/hari), dan P3 (diberikan air minum 1,25 mL/hari) selama 30 hari. Pada hari ke-31 semua mencit dinekropsi dengan dislokasi leher kemudian dilakukan pengambilan organ ginjal dan selanjutnya dibuat preparat histopatologi dengan metode pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Perubahan histopatologi diamati dan diskoring berdasarkan lesi tahapan nekrosis pada sel tubulus ginjal yaitu piknosis, karyorrheksis, dan karyolisis. Perubahan histopatologi lainnya diuraikan secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh rerata tingkat kerusakan sel tubulus tertinggi pada P3 dengan skor 2 yaitu antara 25-50%, lebih besar dibandingkan P1 dengan rata-rata skor 1 yaitu <25% dan P2 dengan rata-rata skor 1,2 yaitu <25%. Pada P3 menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan perlakuan-perlakuan lainnya sehingga dapat disimpulkan bahwa pembatasan pemberian air minum selama 30 hari dengan pembatasan air minum sebesar 75% dari volume normal yaitu 1,25 mL/hari menyebabkan terjadinya perubahan histopatologi ginjal mencit meliputi lesi nekrosis, penyempitan kapsula Bowman, adanya endapan protein pada lumen tubulus dan terjadi peningkatan kerusakan sel tubulus pada organ ginjal.
Laporan Kasus: Radang Peritonium Menular Pada Kucing Kampung Jantan Yang Diteguhkan Dengan Uji Rivalta
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.412

Abstract

Minmin, seekor kucing kampung jantan berumur satu tahun dengan bobot badan 4,3 kg mengalami penurunan nafsu makan serta abdomen yang membesar. Pada pemeriksaan fisik diketahui adanya distensi abdomen. Pemeriksaan hematologi rutin dan biokimia darah menunjukkan adanya peradangan kronis dan abnormalitas fungsi hati dan ginjal. Pemeriksaan radiografi dan abdominocentesis menunjukkan terjadi akumulasi cairan pada abdomen (ascites) dengan cairan berwarna kuning pucat dan konsistensi cair mengental. Hasil tes rivalta menunjukkan hasil positif akumulasi eksudat yang ditandai dengan bentukan seperti ubur-ubur. Kucing didiagnosis menderita radang peritoneum menular bentuk efusif. Terapi yang diberikan berupa pemberian diuretik furosemide 5 mg/kg BB (dua kali sehari) secara intravena (IV), antibiotik cefotaxim sodium 30 mg/kg BB (dua kali sehari) secara IV, antiinflamasi dexamethasone 0,5 mg/kg BB (dua kali sehari) secara subkutan (SC), hepatoprotektor betaine 2,5 mg/kg BB (dua hari sekali) SC, dan asam keto per oral 11 mg/kg BB (setiap dua hari sekali) selama satu minggu. Hasil pengobatan selama satu minggu hanya memberikan hasil yang sementara terhadap penurunan derajat distensi abdomen. Kucing kasus mati pada bulan keenam setelah terapi.
Tingkat Kejadian dan Faktor Risiko Penyakit Saluran Kencing Bagian Bawah pada Populasi Kucing di Surakarta tahun 2017-2020
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.313

Abstract

Kucing merupakan salah satu hewan kesayangan paling populer di dunia. Pemilik kucing kini semakin memperhatikan kesejahteraan hewan peliharaannya termasuk dari aspek kesehatan. Kucing dilaporkan sering mengalami gangguan kesehatan, salah satunya penyakit saluran kencing bagian bawah atau feline lower urinary tract diseae (FLUTD). FLUTD mencakup berbagai penyakit dengan gejala serupa, yaitu: feline idiopathic cystitis (FIC), urinary tract infection (UTI), urethral plugs (UP), urolit, dan neoplasia saluran kemih. Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang dilakukan pada kucing yang didiagnosis menderita penyakit FLUTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor penyebab FLUTD pada kucing di Klinik Hewan Adika, Surakarta. Menggunakan pendekatan cross-sectional dilakukan pengumpulan sampel rekam medis kucing pada periode September 2017-Agustus 2020. Data rekam medis yang dikumpulkan berupa: jenis kelamin, bobot kucing, dan musim. Analisis statistika untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terhadap kejadian FLUTD dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi FLUTD di Klinik Hewan Adika adalah 2,4-2,8% dengan rata-rata 2,6%. Dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan signifikan terhadap FLUTD karena kucing jantan empat kali lebih berisiko dibandingkan kucing betina. Tidak terdapat hubungan yang nyata antara bobot dan musim terhadap kejadian FLUTD. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa rata-rata tingkat kejadian FLUTD di Surakarta tahun 2017-2020 adalah 2,6% dan hanya variabel jenis kelamin yang memiliki hubungan nyata dengan kejadian FLUTD.
Kajian Pustaka: Gambaran Diagnostik dan Penanganan Obstruksi Esofagus pada Ternak Kerbau
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.480

Abstract

Obstruksi esofagus adalah suatu kondisi abnormal akibat terjadi penyumbatan pada esofagus. Umumnya kerongkongan tersumbat ini jarang terjadi pada ruminansia besar seperti kerbau. Penyumbatan pada esofagus dapat disebabkan oleh tertelannya benda asing, striktura, maupun massa jaringan. Penyumbatan esofagus yang telah lama terjadi dapat menyebabkan bloat pada penderita karena hewan sulit untuk melakukan eruktasi gas yang umum dilakukan ruminansia besar. Tanda klinis yang diderita hewan berbeda-beda berdasarkan penyebabnya, namun tanda klinis yang umum ditemukan ialah hewan terlihat hipersalivasi, menjulurkan lehernya, regurgitasi pakan melalui lubang hidung, penurunan nafsu makan hingga anoreksia. Tiga dari enam kasus kerbau yang dibahas, peneguhan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan radiografi. Hasil pemeriksaan radiografi umumnya adalah adanya massa obstruktif di daerah servikalis esofagus. Penanganan pada kasus obstruksi esofagus adalah mendorong massa obstruktif secara manual dengan alat probang atau dengan pembedahan. Pada keenam kasus yang dilaporkan, penanganan dilakukan dengan pembedahan. Pengobatan pascaoperasi, pasien diberikan antibiotik seperti enrofloxacilin, streptopenicillin, serta meloxicam.
Gambaran Sedimen Urin Kambing Peranakan Boer-Kacang di Desa Sanda, Pupuan, Tabanan, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.360

Abstract

Kambing boer-kacang atau kambing boerka merupakan kambing jenis baru yang diperkenalkan ke peternakan di Bali. Informasi mengenai fisiologi dan patologi kambing boerka belum banyak di laporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sedimen urin pada 16 ekor kambing boerka yang diberi pakan hijauan lokal dan imbuhan Indigofera sp. Pengambilan sampel urin dan pemeriksaan urinalisis dilakukan di Peternakan kambing Walung Amertha di Desa Sanda, Pupuan, Tabanan, Bali dan di laboratorium Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Urin di sentrifuge kemudian diperiksa dibawah mikroskop cahaya dan dilaporlan berdasarkan pengamatan lapang pandang kuat (lpk) dan lapang pandang lemah (lpl). Data ditabulasi hasilnya disajikan dalam bentuk tabel serta gambar dan akan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sedimen urin yang ditemukan pada kambing boerka yaitu kristal magnesium amonium fosfat, kristal kalsium karbonat, silinder granuler, sel epitel squamous, sel epitel transisional, sel eritrosit, dan sel leukosit, sedangkan kristal kalsium monohidrat, kristal kalsium dihidrat, bahan amorf dan miskroorganisme tidak ditemukan pada urin kambing boerka.
Laporan Kasus: Penanganan Urolithiasis disertai Hematuria pada Kura-kura Sulcata
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.424

Abstract

Urolithiasis adalah kondisi terbentuknya urolit atau kalkuli di saluran perkencingan. Urolit dapat menimbulkan sumbatan dan perlukaan pada saluran urinaria. Hewan kasus adalah seekor kura-kura sulcata betina bernama Yuka, berumur tiga tahun dengan bobot badan 3,25 kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan tidak nafsu makan sejak pagi hari itu dan kura-kura tidak buang air kecil (urinasi) dan defekasi sejak tujuh hari sebelumnya. Kura-kura menunjukkan kondisi lemah, kurang lincah, kencing berdarah (hematuria), dan oliguria. Skala kondisi tubuh dan indeks kondisi tubuh kura-kura kasus normal dan sangat baik. Pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya kalkuli di vesika urinaria dan bentukan makanan yang mengeras pada lambung. Urin terlihat berwarna keruh kecoklatan, bau urin pesing, adanya buih berwarna putih dan terlihat adanya endapan. Pemeriksaan mikroskopis urin menunjukkan adanya kristal phosphate amorph dan kristal tyrosin. Hasil pemeriksaan urinalisis menunjukkan adanya leukosit +, protein +, eritrosit +, pH (8,0), berat jenis (1,010), tidak terdapat nitrit, glukosa, bilirubin, dan keton. Berdasarkan serangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan, kura-kura didiagnosis menderita urolithiasis. Terapi yang diberikan dengan pengangkatan kalkuli pada vesika urinaria dengan rochester carmalt hemostatic forceps, cefotaxime 35 mg/kg BB secara intramuskuler, antibiotik ciprofloxaxin 50 mg/kg BB per oral (PO) satu kali dua hari sekali selama 10 hari, antiradang carprofen 4 mg/kg BB PO satu kali sehari selama lima hari, allopurinol 15 mg/kg BB dua kali sehari selama 10 hari dan nephrolit satu kapsul PO satu kali sehari selama 12 hari. Kura-kura sembuh dan aktif kembali setelah tujuh hari pascaterapi.
Kadar Albumin Darah Sapi Bali Betina di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.322

Abstract

Albumin merupakan protein plasma yang sebagian besar dihasilkan oleh hati. Albumin memiliki berbagai fungsi yang sangat penting bagi kesehatan yaitu pembentukan jaringan sel baru, mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang rusak, serta penting dalam memelihara tekanan cairan intravaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar albumin darah sapi bali betina dewasa di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Sebanyak 25 ekor sapi bali betina dewasa digunakan dalam penelitian ini. Pengambilan sampel dilakukan secara acak terhadap sapi bali betina dewasa yang sehat secara klinis. Setiap sapi bali dilakukan satu kali pengambilan sampel darah, kemudian data dicatat dan dilakukan pengukuran rata-rata kadar albumin. Pengujian sampel menggunakan metode dye-binding bromocresol green (BCG) diperiksa dengan menggunakan mesin Rayto Veterinary Chemistry Analyzer RT-1904 CV versi 1,8e lite. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar albumin darah sapi bali betina di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung adalah 6,79 ± 0,69 g/dL. Hasil penelitian yang diperoleh maka disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan variabel yang berbeda serta memperhatikan keadaan kesehatan sapi pasca melahirkan atau dalam masa laktasi sapi bali di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Laporan Kasus: Metastasis Ekstragenital Tumor Kelamin Menular pada Anjing Peranakan Pomeranian Jantan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.371

Abstract

Tumor Kelamin Menular atau Transmissible Venereal Tumor (TVT) adalah tumor ganas pada anjing yang bersifat menular melalui aktivitas seksual yang tidak terkontrol. Sel tumor hidup juga dapat ditularkan melalui jilatan dan perilaku mengendus di antara anjing yang terinfeksi. Berdasarkan lokasi tumor, TVT terbagi menjadi kelompok genital dan ekstragenital. Artikel ini membahas kasus TVT yang telah mengalami metastasis ekstragenital pada anjing peranakan pomeranian jantan berusia 3,5 tahun. Pasien sebelumnya pernah didiagnosis mengalami TVT, namun lesi tumor mengalami regresi setelah dilakukan kemoterapi awal. Lesi tumor kemudian muncul kembali dengan derajat keparahan yang meningkat. Pemeriksaan hematologi lengkap menunjukkan pasien mengalami anemia normokromik. Pada ulas darah terlihat penurunan kromasi sel darah merah dan peningkatan jumlah sel granulosit yang signifikan dalam satu lapang pandang. Hasil pemeriksaan sitologi dan biopsi tumor menunjukkan sel tumor berupa sel limfoblas berbentuk bulat dengan inti sel bulat, besar, dan hiperkromatik yang bersifat basa. Penanganan kasus dilakukan melalui kemoterapi agen tunggal vincristine sulfate dengan dosis 0,025 mg/kg BB sebanyak lima kali dengan interval seminggu secara intravena. Pemberian agen kemoterapi tunggal vincristine sulfate berhasil dilakukan untuk meregresikan lesi tumor TVT yang bermetastasis ke seluruh tubuh anjing.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Hematoma Subkutan di Daerah Perineum Kiri pada Anjing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.437

Abstract

Hematoma merupakan suatu ekstravasasi darah, sehingga membuat darah keluar dari pembuluh darah, sebagai akibat hemorrhagi. Darah terakumulasi di jaringan subkutan, subserosa, intermuskuler, atau intramuskuler akibat lesi pada pembuluh darah. Hematoma subkutan dapat terjadi akibat pembuluh subkutan yang terpotong karena adanya ketegangan pada jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan penumpukan darah pada jaringan lemak. Anjing kampung bernama Belu, umur tujuh tahun, jenis kelamin jantan, dengan bobot badan 14,2 kg, pada anjing kasus ditemukan ada benjolan pada daerah perineal kiri dengan diameter 6 cm. Pada pemeriksaan x-ray, terlihat adanya benjolan dengan opasitas radiopaque dengan margin reguler pada daerah perineal kiri di sebelah caudal Os ischium. Didiagnosis sebagai hematoma subkutan di daerah perineal kiri, tindakan pembedahan diawali dengan pemberian anestesi dengan premedikasi atropine sulfate (0,025 mg/kg BB) secara subkutan. Kemudian, anestesi dengan kombinasi xylazine (2 mg/kg BB) dan ketamine (15 mg/kg BB) secara intramuskuler. Kulit disiapkan secara aseptik, kemudian insisi daerah hematoma, gumpalan fibrin dikeluarkan dengan menekan benjolan hematoma dan dilakukan flushing dengan NaCl fisiologis. Pascaoperasi hewan diberikan terapi antibiotik cefotaxime (30 mg/kg BB) secara intravena, dilanjutkan dengan pemberian cefixime oral (10 mg/kg BB) dan meloxicam oral (0,2 mg/kg BB) selama lima hari. Berdasarkan hasil pengamatan luka, hingga hari ketujuh luka masih kemerahan. Namun kebengkakan sudah mulai mengecil. Proses penyembuhan luka terlihat baik setelah hari ketujuh, tidak ditemukan adanya infeksi pada daerah luka.
Tingkat Pencemaran Berdasarkan Angka Lempeng Total Bakteri pada Limbah Peternakan Babi di Kabupaten Badung, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.332

Abstract

Usaha peternakan babi telah menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat pedesaan. Limbah kotoran ternak babi dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Kontaminasi mikroba pada lingkungan ternak merupakan salah satu ancaman bagi kesehatan dan kehidupan hewan yang paling besar selama periode pemeliharaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Angka Lempeng Total Bakteri (ALTB) yang terdapat pada limbah babi di wilayah Kabupaten Badung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional serta pemilihan lokasi peternakan dilakukan secara purposive sampling. Lokasi pengambilan sampel di Kabupaten Badung terdiri atas Kecamatan Mengwi, Kecamatan Petang, Kecamatan Abiansemal dan Kecamatan Kuta Utara. Jumlah peternakan yang disampling di setiap kecamatan adalah tiga peternakan. Volume sampel yang diambil di setiap peternakan sebanyak 500 mL, kemudian dari tiga peternakan tersebut dilakukan komposit menjadi satu sampel. Metode yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri pencemar yaitu menggunakan metode tuang (pour plate method). Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Angka Lempeng Total Bakteri dalam limbah peternakan babi di Kabupaten Badung dengan jumlah bakteri pada peternakan babi di Kecamatan Mengwi sebesar 290 x 109 CFU/mL, Kecamatan Petang 282 x 109 CFU/mL, Kecamatan Abiansemal 245 x 109 CFU/mL dan Kecamatan Kuta Utara 186 x 109 CFU/mL. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air limbah peternakan babi di empat kecamatan di Kabupaten Badung mengandung bakteri pencemar dalam jumlah besar.