cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Laporan Kasus: Peradangan Kantung Kemih dan Kristalisasi Kalsium Oksalat Air Kemih
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.876

Abstract

Cystholithiasis adalah istilah dari terbentuknya urolit pada kantung kemih atau adanya batu pada saluran urinaria yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, virus, dan parasit. Cystholithiasis disebabkan karena adanya penumpukan kristal mineral. Hewan dengan cystolithiasis perlu ditangani karena urolit dapat menyebabkan obstruksi pada saluran urinaria. Seekor anjing Pug betina berumur empat tahun dengan bobot badan 5,5 kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami hematuria. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik hewan mengalami penurunan nafsu makan serta abdomen dan kantung kemih membesar. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya penebalan pada dinding kantung kemih. Selain itu hasil pemeriksaan sedimentasi urin menunjukkan adanya kalsium oksalat, hewan didiagnosis cystolithiasis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan pada anjing kasus meliputi pemberian antibiotik Ciprofloxacin 10 mg/kg BB q24h secara oral, antihistamin Meloxicam 0,2 mg/kg BB q24h secara oral, Glukosamin sulfat 13-15 mg/kg BB q24h secara oral, Imunomodulator Imboost® 1 mL q24h secara oral dan kapsul Keji Beling® (sericocalycis folium 100 mg, sonchi folium 125 mg, orthosiphonis folium 125 mg) diberikan satu kapsul q24h, secara oral. Setelah diberikan pengobatan selama tujuh hari anjing mengalami perubahan secara klinis yang ditandai dengan urinasi lancar tanpa hematuria dan tidak ada rasa nyeri pada waktu urinasi.
Kajian Pustaka: Intususepsi Pilorogastrik pada Berbagai Ras Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.808

Abstract

Intususepsi pilorogastrik merupakan prolapsus bagian usus ke dalam lumen usus yang berdampingan dengan bagian yang prolapsus tersebut. Intususepsi pada anjing biasanya paling sering terjadi di persambungan ileocecocolic dan invaginasi biasanya sesuai dengan arah peristaltik. Bentuk lain dari yang pernah terjadi dan dilaporkan dari instususepsi terjadi pada anjing muda, termasuk gastroduodenal, duodenojejunal, ileoileal, dan colocolic. Intesusepsi sering terjadi pada anjing muda dan bersifat idiopatik, kejadian tersebut disebabkan oleh infeksi parasit usus, terdapat benda asing, dan enteritis akibat virus. Tanda dan gejala klinis biasanya berbeda-beda pada individu yang menderita kasus instususepsi pilorogastrik, namun gejala klinis yang sering ditemukan ialah muntah akut hingga kronis, diare, lesu, dehidrasi, depresi, takikardia, dan nyeri perut. Pada anjing dengan intususepsi pilorogastrik, penyebab atau faktor etiologi yang mendasarinya tidak diketahui. Sebagian besar kasus intususepsi terjadi di dalam usus kecil ke arah aboral. Dari lima kasus yang ditelaah, dilaporkan peneguhan diagnosis penyakit intususepsi pylorogastric dilakukan dengan menggunakan alat penunjang antara lain menggunakan radiografi, ultrasonografi/USG, Color Doppler, dan biokimia darah. Diagnosis penunjang ultrasonografi sangat membatu dalam kejadian kasus instususepsi untuk mengetahui bentuk dan perubahan abnormalitas yang terjadi di dalam abdomen. Penanganan kasus anjing yang menderita kasus intussusepsi dilakukan dengan bedah laparotomi. Berdasarkan hasil peneguhan diagnosa dari lima kasus tersebut maka anjing didiagnosis mengalami intusepsi pilorogastrik.
Laporan Kasus: Identifikasi Demodex canis Berdasarkan Morfometri pada Anjing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.758

Abstract

Demodekosis atau Red Mange, Follicular Mange, Acarus Mange adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex canis, bersifat kronis, dan berulang. Demodekosis general biasanya terjadi pada anjing berumur antara tiga sampai enam bulan. Anjing kasus teramati dengan tanda klinis berupa kulit alopesia general, scale, dan krusta yang dijumpai pada bagian perut hingga kaki belakang, terlihat juga adanya eritema pada bagian dada, hiperkeratosis pada bagian kaki, dan terdapat luka pada kaki belakang sebelah kiri. Demodekosis dinyatakan lokal jika tempat lesi berdiameter maksimal 2,5 cm. Kejadian ini tidak tergantung pada ras atau jenis kelamin. Demodekosis general menyerang pada semua umur, lesi terdapat hampir di seluruh tubuh dan biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada anjing kasus untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan deep skin scraping dilakukan pada tiga lapang pandang, per lapang pandang ditemukan dua sampai enam tungau Demodex canis. Pada pemeriksaan diferensiasi leukosit didapatkan hasil neutropenia, basopenia, serta eosinofilia yang menunjukkan adanya stres dan pembengkakan karena infeksi parasit. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin, difenhidramin HCl, dan longamox. Setelah dilakukan terapi selama 28 hari, anjing kasus menunjukkan kondisi membaik dengan mulai tumbuhnya rambut pada lokasi lesi, tidak mengalami pruritus, dan dari evaluasi deep skin scraping didapatkan bahwa jumlah Demodex canis berkurang setiap minggunya.
Kajian Pustaka: Penyempitan Kerongkongan atau Striktur Esofagus pada Kucing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.665

Abstract

Esofagus merupakan saluran yang berfungsi sebagai penghubung rongga mulut dan lambung. Esofagus terdiri dari tiga bagian berdasarkan anatomi yakni esofagus bagian servikalis, thorakalis, dan abdominalis. Striktur esofagus merupakan suatu kondisi penyempitan pada lumen esofagus yang menyebabkan terganggunya sistem pencernaan. Berdasarkan penyebabnya, striktur esofagus dapat dibedakan karena adanya massa intraluminal dan ekstraluminal. Dalam sebagian besar laporan mengenai striktur esofagus, kejadian ini paling sering terjadi sebagai akibat adanya komplikasi setelah anestesi umum. Tanda klinis utama dari striktur esofagus adalah regurgitasi yang terjadi segera setelah makan dan produksi air liur yang berlebihan. Penanganan striktur esofagus intraluminal dapat dilakukan dengan jalan pemasangan balloon dilatation yang dibantu dengan evaluasi menggunakan endoskopi maupun flouroskopi. Penanganan striktur esofagus ekstraluminal dilakukan melalui terapi pemberian obat-obatan, jika massa yang menyebabkan striktur pada esofagus belum teridentifikasi dengan jelas, karena pembedahan memiliki risiko yang tinggi. Tindakan pembedahan dapat dilakukan apabila massa telah teridentifikasi melalui pemeriksaan computed tomography (CT). Identifikasi secara histopatologi terhadap jenis massa dilakukan setelah massa penyebab striktur esofagus berhasil diangkat melalui proses pembedahan. Penulisan kajian pustaka ini bertujuan untuk merangkum segala hal yang berhubungan dengan striktur esofagus pada kucing, mulai dari etiologi, tanda klinis, patogenesis, metode diagnosis, penentuan prognosis, dan pertimbangan pemilihan penanganan yang dapat dilakukan.
Laporan Kasus: Infeksi Tungau Skabies pada Anjing Kacang dengan Ikutan Jamur Culvularia
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.541

Abstract

Skabies merupakan infeksi penyakit kulit oleh ektoparasit jenis tungau (mite) yaitu Sarcoptes spp. Tungau Sarcoptes spp. menginfeksi kulit induk semang dengan cara membuat terowongan pada lapisan epidermis yang akan menyebaban rasa gatal. Akibat kekebalan seluler yang lemah, garukan yang intens, dan adanya luka karena infeksi skabies akan dengan mudah diikuti oleh infeksi sekunder dari jamur. Jamur culvularia adalah genus Pleosporalean monophyletic dengan banyak jenis spesies, termasuk jenis fitopatogenik (jamur patogen pada hewan dan manusia) juga dapat menyebabkan phaeohyphomycosis. Studi kasus ini dilakukkan pada seekor anjing lokal bernama Ciko, betina, umur 2,5 bulan dengan berat 2 kg mengalami masalah kulit berupa alopesia di seluruh tubuh, ulser telinga kiri, krusta pada kedua telinga, wajah dan punggung. Eritema pada abdomen, ekor, kaki depan dan belakang dan juga scale pada punggung. Masalah kulit telah berlangsung selama satu bulan sebelum dilakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan kerokan kulit dengan metode superficial skin scraping ditemukan tungau Sarcoptes spp. dan hasil pemeriksaan jamur dengan menggunakan selotip (tape) ditemukan jamur culvularia tipe konidia atipikal. Infeksi jamak atau lebih dari satu agen penyakit (multiple infestation) pada kasus penyakit kulit umumnya bisa terjadi dan dibuktikan pada kasus ini. Untuk hasil pemeriksaan darah menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik normokromik, limfositosis, dan neutropenia. Anjing kasus didiagnosis terinfeksi skabies dengan infeksi sekunder jamur culvularia tipe konida atipikal. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin 0,04 mL, diphenhydramine HCl 0,2 mL, fish oil satu kapsul setiap hari, amitraz 1 mL untuk 100 mL air dan sabun belerang atau sulfur. Penanganan yang telah dilakukan selama 14 hari menunjukkan kondisi anjing mengalami perbaikan ditandai dengan mulai tumbuhnya rambut anjing yang sebelumnya mengalami alopesia, tidak tercium lagi bau tengik dari tubuhnya, sudah jarang menggaruk dan hilangnya ulser, krusta, dan scale pada bagian tubuhnya.
Morfometri Tanduk Sapi Bali Putih atau Sapi Taro di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.833

Abstract

Sapi bali (Bos sondaicus) adalah jenis sapi lokal turunan dari banteng (Bos javanicus), yang telah mengalami proses domestikasi. Selain sapi bali, terdapat juga suatu kelompok plasma nutfah unik di Bali yang dikenal dengan sebutan sapi bali putih dan terdapat di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Oleh karena itu sapi ini disebut dengan nama sapi taro. Sapi taro memiliki tanduk yang terdiri dari inti tulang pneumatized yang menyatu dengan tulang frontal dan ditutupi oleh epitel cornified yang tumbuh keluar dari kulit di dasar tanduk. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan observational study. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan bentuk dan pengukuran morfometri tanduk pada 26 sapi taro dewasa yang terdapat di Desa Taro dengan tujuan sebagai informasi dan bukti ilmiah serta pedoman dan acuan untuk penelitian selanjutnya. Data yang diperoleh, yaitu bentuk, panjang, dan lingkar tanduk sapi taro kemudian dianalisis secara kuantitatif dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bentuk dan ukuran antara tanduk sapi taro dewasa jantan dengan betina. Didapatkan adanya delapan jenis bentuk tanduk sapi taro dengan rata-rata panjang 18,8 cm dan lingkar (rata-rata lingkar pangkal, tengah, dan ujung tanduk) 11,6 cm. Rata-rata panjang dan lingkar tanduk sapi taro jantan lebih besar dibandingkan betina.
Laporan Kasus: Dermatofitosis Karena Infeksi Kapang Curvularia pada Anjing Persilangan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.710

Abstract

Anjing domestik bernama Pino, jenis kelamin jantan, berumur enam tahun, bobot badan 3,9 kg, dan rambut berwarna cokelat, dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan tanda klinis yang terlihat, anjing mengalami eritema pada kulit, krusta, alopesia pada daerah daun telinga, leher, kaki depan, dan kaki belakang. Status praesens menunjukkan suhu tubuh mengalami peningkatan yaitu 40,5°C. Pemeriksaan kerokan kulit tidak ditemukan adanya parasit atau spora jamur. Sedangkan hasil dari pemeriksaan sitologi didapatkan Curvularia. Hasil pemeriksaan darah yaitu limfositosis dan anemia mikrositik normokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis dan laboratoris, dapat disimpulkan bahwa anjing kasus didiagnosis mengalami dermatofitosis. Diberikan terapi kausatif dengan ketoconazole 10-12 mg/kg BB PO q12h, dan terapi suportif pemberian vitamin B kompleks. Kondisi anjing kasus semakin membaik dengan ditandai tumbuhnya rambut pada bagian tubuh yang mengalami alopesia setelah dilakukan terapi selama lima hari. Curvularia adalah genus Pleosporalean monophyletic dengan banyak jenis spesies, termasuk jenis fitopatogenik, jamur patogen pada hewan dan manusia. Curvularia juga menyebabkan phaeohyphomycosis yang mana ditemukan pada invertebrata, vertebrata berdarah dingin, burung, dan spesies mamalia termasuk ruminansia, kuda, anjing, kucing dan manusia. Tujuan dilakukan pemeriksaan pada anjing kasus adalah untuk mengetahui agen penyakit yang menyebabkan terjadinya banyak lesi pada kulit anjing tersebut.
Laporan Kasus: Pengambilan Benda Asing Berupa Kelereng dari Dalam Lambung Anak Anjing Melalui Pembedahan Laparo-Gastrotomy
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.606

Abstract

Seekor anjing betina ras campuran berusia ±3 bulan dengan bobot badan 1,68 kg diketahui oleh pemilik menelan sebuah benda asing berupa kelereng pada saat bermain. Pemilik kemudian menunggu selama 24 jam agar benda asing tersebut keluar pada saat defekasi, namun setelah 24 jam anjing tersebut tidak defekasi sehingga benda asing masih ada di dalam sistem pencernaan. Pemeriksaan klinis menunjukkan kondisi anjing tersebut normal tanpa disertai gangguan pencernaan. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan bahwa pasien mengalami anemia mikrositik normokromik. Pada pemeriksaan radiografi abdomen terkonfirmasi bahwa benda asing berbentuk bulat bersifat radiopaque masih bersarang pada bagian lambung. Pasien tersebut kemudian didiagnosa menelan benda asing (corpora alienum) pada organ lambung. Penanganan dilakukan dengan pembedahan laparo-gastrotomy untuk mengeluarkan benda asing tersebut secepatnya. Penutupan insisi pada bagian mukosa lambung dengan pola sederhana menerus menggunakan benang absorbable (Assucryl®, 3-0), dan serosa lambung dengan pola lambert menerus menggunakan benang absorbable (Assucryl®, 3-0). Daerah peritoneum dan linea alba dilakukan dengan pola sederhana terputus menggunakan benang absorbable (Assucryl®, 3-0). Pada daerah subkutan dijahit dengan pola simple interrupted menggunakan benang absorbable (One Med® Chromic Catgut, 3-0), sedangkan pada daerah kulit dijahit dengan pola simple interrupted menggunakan benang non-absorbable (One Med® Silk braided, 3-0). Terapi yang diberikan pascaoperasi adalah Penstrep-400® dengan dosis 20.000 IU dan dilanjutkan dengan pemberian amoksisilin sirup dengan dosis 20 mg/kg setiap 8 jam selama 5 hari secara oral, kemudian diberikan analgesik asam mefenamat dengan dosis 25 mg/kg setiap 12 jam secara oral selama 5 hari. Luka insisi kulit mengering dengan sempurna dan jahitan kulit dilepas pada hari kelima setelah operasi.
Laporan Kasus: Penanganan Gagal Ginjal Kronis Level Dua pada Anjing Peranakan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.886

Abstract

Gagal ginjal kronis adalah kegagalan ginjal dalam mengeliminasi produk-produk tidak terpakai, mengkonsentrasikan tingkat keasaman pH urin, dan mengatur elektrolit. Produk-produk tidak terpakai tersebut bersifat toksik jika terakumulasi dalam aliran darah, dapat menyebabkan uremia dan azotemia. Anjing kasus berumur tujuh tahun, berjenis kelamin jantan kebiri dibawa ke klinik Listriani Vet Care. Tanda klinis yang terlihat yaitu diare, muntah-muntah, lemas, kesakitan, penurunan nafsu makan, serta peningkatan jumlah urinasi dan frekuensi minum air. Pada pemeriksaan klinis suhu tubuh rendah 36,4°C, dengan tekanan darah 171/90 dan detak jantung 92 kali/menit mengalami dehidrasi, gingivitis, bau mulut, dan terdapat karang gigi di area gigi. Pada pemeriksaan penunjang hematologi rutin menunjukkan hewan mengalami leukositosis dan anemia. Pada pemeriksaan biokimia darah terjadi peningkatan kadar nitrogen urea darah, kreatinin, phosporus, globulin, total protein, dan penurunan kadar albumin. Pada pemeriksaan urinalisis terdapat proteinuria dengan jumlah (+1). Terapi dilakukan dengan diet makanan menggunakan pakan basah renal care , terapi cairan ringer lactat dengan pemberian 1 tetes/6 detik diberikan selama 24 jam, antiemetik ondansetron 1 mg/kg BB, IV, q8h, selama enam hari, zat besi dan asam folat atau iron folic diberikan 1 tablet q12h selama dua minggu, antibiotik cefotaxime 50 mg/kg BB, IV, q12h, selama enam hari, suplemen kitosan ipakitine powder 1 tbsp q12h PO, penghambat enzim pengubah angiotensin enalapril 0,5 mg/kg BB, PO q24h, dan suplemen kalsium ketosteril 1 tablet per 5 kg BB q12h selama enam hari. Selama tujuh hari rawat inap hewan kasus menunjukkan kondisi yang membaik secara bertahap.
Laporan Kasus: Penyembuhan Lesi Makroskopik Anjing Kacang Penderita Dermatitis Atopik Pascaterapi Madu Trigona Selama 30 Hari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.493

Abstract

Anjing lokal Bali berjumlah 12 ekor mengalami gangguan kulit dengan skor keparahan lesi sedang. Anjing berumur antara 4-6 bulan berlokasi di Denpasar, Bali. Anjing kasus sering menggaruk tubuhnya, menjilati dan menggigit kakinya selama dua bulan terakhir. Hasil pemeriksaan laboratorium kerokan kulit dengan metode deep skin scraping tidak ditemukan adanya tungau. Kultur SDA (Saburent Dextrose Agar) untuk pemeriksaan jamur didapatkan hasil positif jamur Candida sp. Kultur bakteri dengan BA (Blood Agar) didapatkan hasil positif Staphylococcus sp. Dari delapan Kriteria Favrot, pemeriksaan sampel memenuhi lima kriteria yaitu 85% dengan spesifisitas 79%. Terapi yang digunakan yaitu madu trigona dengan sediaan segar dan sediaan kapsul. Sampel dua ekor diuji tanpa pemberian madu trigona, lima ekor diberikan terapi madu trigona sediaan segar 5ml/ekor/hari, dan lima ekor lainnya diberikan madu trigona sediaan kapsul 0,1mg/ekor/hari selama 4 minggu. Hasil pengamatan perubahan lesi makroskopik sebelum pemberian madu trigona (minggu ke-0) pada kedua belas anjing yaitu terlihat adanya lesi primer dan sekunder. Lesi primer yaitu nodul dan papula. Sedangkan lesi sekunder yaitu sisik, krusta, alopesia, eritema, hiperpigmentasi dan lisenifikasi. Kemudian minggu ke-4 setelah terapi dengan madu trigona, gejala pruritus sudah hilang dan lesi sekunder mulai berkurang, serta rambut sudah mulai tumbuh. Penggunaan terapi madu trigona sediaan segar dan kapsul pada anjing penderita dermatitis atopik dapat dinilai efektif dalam penyembuhan lesi yang ditandai dengan pengurangan nilai skoring lesi makroskopik pada kulit anjing.