cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Laporan Kasus: Penanganan Ancylostomiosis pada Anjing Pomeranian Betina Berumur Tujuh Bulan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.386

Abstract

Ancylostomiosis adalah penyakit parasit yang menyebar luas pada anjing yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma spp. Parasit ini umumnya terdapat pada usus halus anjing. Seekor anjing pomeranian betina berumur tujuh bulan memiliki keluhan adanya diare berdarah, muntah, penurunan nafsu makan dan penurunan aktivitas fisik. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan kondisi anjing lemas, membran mukosa dan konjungtiva mata pucat, pemeriksaan turgor kulit lambat serta waktu pengisian kapiler (capillary refill time) yang bertambah lama. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anemia mikrositik hipokromik, trombositopenia dan granulositosis. Hasil pemeriksaan mikroskopis feses secara natif menunjukkan adanya telur cacing Ancylostoma spp diidentifikasi dengan bentuk lonjong, bercangkang tipis dengan empat morula. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, anjing kasus didiagnosis mengalami ancylostomiosis. Terapi yang diberikan yaitu antelmintik dengan pyrantel pamoate 5 mg/kg BB q24 jam selama tiga hari berturut-turut per oral (PO) dan diulangi pada hari ke-7 dan hari ke-10. Injeksi antibiotik cefotaxime 20 mg/kg BB q12 jam secara intravena (IV) selama tujuh hari. Injeksi metronidazole 10 mg/kg BB q12 jam selama tujuh hari secara IV. Terapi simptomatis dengan pemberian antiemetik yaitu ondansetron 0,5 mg/kg BB q12 jam selama lima hari secara IV. Pemberian kaolin pektin sebagai gastrointestinal protectant 2,5 mL q12 jam selama lima hari PO. Pemberian terapi cairan dengan ringer laktat 30 mL/kg/jam secara IV untuk mengganti kekurangan cairan akibat muntah dan diare. Pada hari ke-5 pengobatan anjing kasus menunjukkan perbaikan kondisi berupa perubahan tingkah laku menjadi lebih aktif dan peningkatan nafsu makan.
Kajian Pustaka: Disfagia Krikofaringealis pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.450

Abstract

Disfagia krikofaring adalah gangguan menelan yang jarang terjadi. Gejala yang tampak adalah usaha menelan berulang, tersedak, muntah, regurgitasi, dan aspirasi. Penyebab dari gangguan ini masih belum diketahui, dan dianggap sebagai kelainan neuromuskuler bawaan yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengangkut bolus faring yang didorong secara normal melalui sfingter esofagus bagian atas. Anjing yang terkena memiliki prehension makanan normal dan bagian bolus ke faring, tetapi tidak dapat mengendurkan otot esofagus bagian atas, terutama otot krikofaring. Akibatnya, makanan tetap berada di bagian ekor faring daripada masuk ke kerongkongan dan mengakibatkan aspirasi atau regurgitasi trakea. Gangguan ini dibedakan menjadi cricopharyngeal achalasia atau cricopharyngeal asynchrony. Diagnosis ditegakan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan radiografi dan pemeriksaan fluoroskopi. Tanda klinis utama yang di amati pada pemeriksaan klinis, yaitu anjing susah menelan. Penanganan dapat dilakukan dengan tindakan bedah miotomi krikofaring atau miektomi tunggal maupun dikombinasikan dengan miotomi tirofaring atau miektomi unilateral dan bilateral.
Prevalensi dan Intensitas Infeksi Eimeria spp April-Mei 2021 pada Ayam Petelur Lebih Tinggi daripada Ayam Pedaging di Tembuku, Bangli, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.343

Abstract

Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa, filum apikomplexa, famili Eimeridae, genus Eimeria. Penyakit ini merupakan penyakit intestinal yang secara ekonomi banyak mendatangkan masalah dan kerugian pada peternakan ayam, Kerugian yang ditimbulkan dapat menghambat perkembangan peternakan ayam dan menurunkan produksi protein hewani. Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian Eimeria spp yaitu, manajemen pemeliharaan, kelembapan udara, besarnya dosis infeksi ookista, umur ayam, status gizi, stres, waktu terinfeksi dan derajat imunitas inang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan prevalensi dan intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam petelur dan ayam pedaging yang dipelihara di Tembuku, Bangi. Objek penelitian yang digunakan adalah feses yang diambil secara langsung dari ayam petelur sebanyak 380 ekor dan pada ayam pedaging sebanyak 380 ekor, total sampel yang diambil pada penilitian ini adalah 760 sampel. Metode pemeriksaan yang digunakan adalah secara kualitatif dengan menggunakan metode apung dan secara kuantitatif dengan menggunakan metode McMaster. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa prevalensi infeksi Eimeria spp pada ayam petelur di Desa Undisan sebesar 13,4% sedangkan pada ayam pedaging di Desa Peninjoan sebesar 30,26%. Intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam petelur didapat dengan rata-rata 296 ± 305 ookista per gram (opg), sedangkan pada ayam pedaging didapatkan rata-rata 1.786 ± 6.511 ookista per gram (opg). Hasil analisis data menunjukan terdapat perbedaan yang sangat nyata antara jenis ayam dengan prevalensi dan intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam yang dipelihara di Tembuku, Bangli, Bali. Prevalensi dan intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam petelur lebih tinggi dibandikan dengan ayam petelur yang yang dipelihara di Tembuku, Bangli, Bali.
Laporan Kasus: Pyometra Tertutup pada Kucing Himalaya Umur Empat Tahun
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.398

Abstract

Seekor kucing ras himalaya bernama Lely berumur empat tahun dengan bobot 3,9 kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Udayana, dengan keluhan perut membesar, lemas, kucing tidak defekasi sejak dua hari terakhir, dan tanpa adanya leleran atau vagina discharge. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukan leukositosis, dan anemia normositik hipokromik. Pemeriksaan radiografi terlihat perbesaran uterus dengan gambaran radiopaque pada semua bagian uterus. Berdasarkan hasil pemeriksaan meliputi anamnesis, gejala klinis, dan laboratoris kucing didiagnosis mengalami pyometra tertutup dengan prognosis fausta. Penanganan yang dilakukan dengan ovariohisterektomi. Pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis pascaoperasi terhadap uterus nampak terlihat pembesaran uterus terisi cairan keruh kental kemerahan. Mukosa endometrium mengalami hiperplasia hemoragi dengan sejumlah kecil kista. Histopatologi jaringan uterus menunjukan hasil adanya kista pada mukosa endometrium, infiltrasi sel-sel neutrofil dan mukosa endometrium mengalami sedikit nekrosis. Pengobatan pascaoperasi dilakukan dengan antibiotik amoxicillin sirup dengan dosis pemberian 1,5 mL per oral sebanyak dua kali sehari selama tujuh hari, antiinflamasi dexamethasone dosis 0,25 mg/kg secara per oral dua kali sehari selama lima hari dan terapi suportif dengan vitamin B komplek satu tablet per oral sehari sebanyak tujuh hari. Kucing mengalami perbaikan secara klinis lima hari setelah operasi dan dinyatakan sembuh pada hari ketujuh setelah operasi.
Laporan Kasus: Penanganan Urolithiasis Hemoragi pada Kucing Domestik Rambut Pendek dengan Pemberian Ekstrak Desmodium styracifolium
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.744

Abstract

Urolithiasis adalah pembentukan batu ginjal atau kristal dalam sistem urinari. Penyakit ini terjadi karena komposisi pakan yang tidak sehat dan ketidakseimbangan nutrisi. Tujuan pemeriksaan pada kucing kasus adalah untuk mengetahui gangguan saluran kemih yang menyebabkan kesulitan urinasi pada kucing kasus. Temuan klinis dari pemeriksaan yaitu kucing kesulitan dalam urinasi dengan volume urin yang sedikit serta rasa nyeri dan tidak nyaman saat dilakukan palpasi di bagian hipogastrium medial (vesika urinaria). Saat diperhatikan, kucing mengalami hematuria saat berkemih. Pemeriksaan laboratorium berupa uji sedimentasi urin dan uji dipstick untuk mengetahui endapan kristal pada urin kucing kasus ditemukan endapan kristal struvit dan nilai pH urin sebesar 8,0 serta positif ada darah. Pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan USG dilakukan untuk melihat gambaran vesika urinaria ditemukan tampakan hyperechoic. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, dapat disimpulkan bahwa kucing kasus didiagnosis urolithiasis hemoragi. Terapi kausatif dilakukan dengan pemberian ekstrak Desmodium styracifolium 3 mg/kg BB PO q48h, terapi simtomatik dengan pemberian antiradang dan antinyeri Meloxicam 0,3 mg/kg BB PO q12h, dan terapi antibiotik dengan pemberian Ciprofloxacin 5 mg/kg BB q12h serta anjuran pemberian pakan untuk kucing penderita gangguan saluran kemih. Kucing kasus menjalani rawat jalan sesuai permintaan pemilik dan sebelum dipulangkan dipastikan kucing dalam keadaan baik dan dalam kondisi sadar setelah anestesi untuk keperluan pemasangan kateter.
Kajian Pustaka: Gambaran Klinis Infeksi Radang Hati Menular (Infectious Canine Hepatitis) pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.649

Abstract

Infeksi radang hati menular pada anjing merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan terjadinya radang hati. Kejadian penyakit ini sangat menarik sebagai bahan kajian ilmiah sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca. Penyakit ini disebabkan oleh Canine adenovirus-1 (CAV-1). Adenovirus resistan terhadap kondisi lingkungan, mampu bertahan beberapa hari pada suhu ruang, dan dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu ? 4°C. Infeksi radang hati menular paling sering terjadi pada anjing yang berumur kurang dari satu tahun terutama pada anjing yang belum divaksinasi. Tanda-tanda klinis yang umum adalah demam, depresi, kehilangan nafsu makan, peningkatan degup jantung, hiperventilasi, batuk, muntah, diare, serta adanya tanda-tanda neurologis (ataksia, kejang, koma) tetapi lebih jarang terjadi. Dari delapan kasus yang dilaporkan, penyakit ini menyerang anjing yang berkelamin jantan dan betina. Pada pemeriksaan klinis kasus ke-1, 2 dan 3 menunjukkan gejala klinis yang hampir sama yaitu hewan mengalami demam, depresi, distensi abdomen, muntah, diare, dan edema subkutan, sedangkan pada kasus ke-4, 5 dan 6 hewan menujukkan adanya gejala gangguan neurologis yaitu ataksia. Simpulan dari penulisan ini ialah penyakit ini dapat terjadi baik pada anjing jantan dan betina. Pencegahan melalui vaksinasi sangat dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit.
Laporan Kasus: Batu Kantung Kemih (Cystolithiasis) yang Menimbulkan Kencing Berdarah pada Anjing Peranakan Corgy Betina Dewasa
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.530

Abstract

Cystolithiasis merupakan adanya urolith atau kalkuli di dalam kantung kemih. Cystolithiasis terjadi pada 0,4-2% dari populasi anjing. Seekor anjing peranakan Corgy betina berusia tujuh tahun, bobot badan 13,8 kg diperiksa di Healthy Pet Veterinary Clinic, dengan keluhan urin disertai darah (hematuria) namun tidak intens selama dua minggu. Pada pemeriksaan sistem urogenital menunjukkan adanya distensi abdomen dan ketika dipalpasi anjing menunjukkan respons nyeri pada bagian abdomen. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya urolith seperti butiran pasir dan penebalan dinding kantung kemih. Pada pemeriksaan penunjang hematologi rutin menunjukkan hasil leukositosis, limfositosis, anemia normositik normokromik dan penurunan hematrokit. Pemeriksaan mikroskopis sedimentasi urin mengkonfirmasi adanya kristal struvit. Anjing didiagnosis menderita cystolithiasis akibat struvit. Anjing kasus diterapi dengan antibiotik Ciprofloxacin HCL 10 mg/kg BB, q24h selama tujuh hari, anti radang Meloxicam 0,2 mg/kg BB, q24h selama tujuh hari, dan kapsul kejibeling satu kapsul, q24h selama tujuh hari. Setelah pengobatan selama tujuh hari, kondisi anjing mulai membaik, saat urinasi tidak adanya indikasi rasa nyeri dan tidak adanya hematuria.
Kajian Pustaka: Gastric Dilatation Volvulus pada Berbagai Anjing Ras
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.821

Abstract

Gastric Dilatation Volvulus (GDV) adalah salah satu kasus darurat medis pada anjing yang ditandai dengan akumulasi udara pada lambung, malposisi perut, tekanan intragastrik meningkat, dan syok kardiogenik. Beberapa faktor predisposisi GDV termasuk genetik, jenis anjing, tekstur, kuantitas dan kualitas bahan pakan, keadaan emosi, usia, dan ada atau tidaknya benda asing. Anjing ras besar seperti Great dane (GD), German shepherd (GS), Mastiffs, Labrador retriever (LR), Doberman pinscher (DP), dan Akita memiliki risiko lebih tinggi mengalami GDV karena anatominya yang berdada dalam. Gejala klinis yang biasanya ditemukan meliputi kembung, muntah, kesulitan bernapas, perut yang terlalu membesar, dan adanya ketidaknyamanan secara keseluruhan pada anjing. Jika segera ditangani, kasus akut biasanya memiliki prognosis yang lebih baik. Pada kasus kronis, pasien biasanya tidak menunjukkan gejala dan secara keseluruhan mungkin lebih sulit untuk mendiagnosisnya. Dalam penggunaan radiografi gastrointestinal (GI) bagian atas dan computed tomography pun kini telah digunakan. Seperti dalam kedokteran hewan, tindakan bedah adalah pengobatan pilihan yang direkomendasikan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan terkait gejala klinis yang umum teramati di lapangan, teknik diagnosis, dan pemilihan terapi efektif yang dapat diberikan pada anjing dengan GDV yang bersumber dari beberapa jurnal laporan kasus.
Laporan Kasus: Kolaps Trakea Tingkat I pada Anjing Yorkshire Terrier
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.701

Abstract

Anjing Yorkshire terrier bernama Nunu, berjenis kelamin betina, berumur lima tahun, diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, dengan keluhan anjing kasus mengalami batuk kering dan keras, terdengar seperti suara bengek “goose-honking” selama lebih dari 30 hari, mulut lebih sering dibuka dengan lidah dijulurkan keluar, napas terlihat berat dan terdengar bunyi, anjing terkadang tampak lemas dan tidak bersemangat, serta terkadang sering mondar mandir. Anjing kasus memiliki riwayat batuk yang sebelumnya berlangsung sekitar satu minggu dan sembuh tanpa dilakukan pengobatan. Anjing kasus sering terlihat gelisah dan membuka mulut dengan lidah menjulur keluar, frekuensi makan dan minum berkurang. Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan meliputi sinyalemen, anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang disimpulkan bahwa anjing kasus mengalami kolaps trakea tingkat I, yang ditandai dengan adanya obstruksi pada trakea. Kolaps trakea merupakan salah satu penyakit yang sering ditemui pada anjing ras kecil seperti Chihuahua, Lhasa apso, Maltese, Pomeranian, Pug, Shih tzu, Toy poodle dan Yorkshire. Penyakit ini mengganggu saluran pernapasan karena adanya penyempitan pada trakea. Manajemen medis yang dilakukan, terdiri dari penggantian penggunaan collar anjing dengan harness, pemberian dexamethasone sebagai obat kortikosteroid anti-inflamasi, theophylline sebagai bronkodilator, dan antibiotik doxycicline memberikan peningkatan pada tanda-tanda klinis anjing. Kondisi anjing kasus mengalami pemulihan satu minggu pasca terapi.
Laporan Kasus: Infeksi Canine Parvovirus pada Anjing Chihuahua yang Tidak Di-booster
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.594

Abstract

Virus parvo anjing atau Canine Parvovirus (CPV-2) merupakan salah satu agen penyakit yang disebabkan oleh virus. Infeksi virus ini dapat diderita oleh anak anjing yang tidak divaksin secara lengkap antara usia enam minggu hingga enam bulan. Anjing kasus merupakan anjing ras chihuahua berumur lima bulan, berjenis kelamin betina, dengan bobot badan 2 kg, diperiksa dengan keluhan muntah, diare berdarah, serta tidak mau makan dan minum. Pemeriksaan klinis menunjukkan membran mukosa pucat, mukosa hidung yang kering, turgor kulit lambat, dehidrasi, diare bercampur darah yang beraroma khas, muntah, dan terdengar suara borborigmi usus yang meningkat, serta ditemukannya infeksi caplak pada kulit. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukan anjing kasus mengalami leukopenia. Hasil pemeriksaan test kit canine parvovirus (CPV) menunjukkan hasil positif dan didiagnosis terinfeksi canine parvovirus (CPV-2). Penanganan dilakukan dengan pengobatan secara suportif dan simptomatik. Pemberian terapi cairan diberikan secara intravena berupa ringer lactate dan untuk mencegah infeksi sekunder diberikan antibiotik cefotaxime (50 mg/kg IV, BID, selama lima hari). Terapi simptomatik diberikan obat antiemetik maropitant citrate (1 mg/kg SC, SID selama lima hari), sedangkan terapi suportif diberikan hematodin (0,2 mL/kg IV, SID, selama tiga hari), dan obat herbal Yunnan Baiyao® (1 kapsul sehari, PO, selama lima hari) untuk meminimalisir peradangan dan pendarahan pada usus. Perawatan berlangsung selama tujuh hari dan anjing kasus menunjukkan proses kesembuhan dalam waktu empat hari. Anjing kasus kembali normal setelah hari ke lima.