cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Kadar Glukosa Darah Sapi Bali Jantan Pascatransportasi ke Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar Listiana Dewi, Ni Luh Putu Yunita; Sulabda, I Nyoman; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.49

Abstract

Kegiatan transportasi umumnya dapat mengakibatkan stres sehingga memengaruhi perubahan fisiologis pada ternak termasuk kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar glukosa darah sapi bali pascatransportasi. Sampel darah diambil dari sapi bali yang baru datang setelah transportasi. Pengambilan sampel darah dilakukan dengan menggunakan venoject dengan jarum berukuran 21G pada vena jugularis dari 20 ekor sapi bali jantan di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Darah yang telah diambil ditampung dalam tabung berisi antikoagulan Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA), lalu dihomogenkan dan disimpan dalam coolbox. Pengujian sampel langsung dilakukan dengan menggunakan glukometer Nesco Multicheck 1. Pemeriksaan dilakukan sebanyak tiga kali untuk memperoleh rata-rata kadar glukosa darah pada setiap ekor sapi, data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif, dan hasilnya disajikan dalam bentuk range dan simpangan baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa darah sapi bali jantan pascatransportasi di RPH Pesanggaran Denpasar adalah 50,67 mg/dL ± 13,25. Hasil tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan data kisaran kadar glukosa darah sapi bali jantan yang ada yaitu dengan kadar 68,96-72,81 mg/dL. Rendahnya hasil tersebut dapat disebabkan oleh proses transportasi yang dilakukan.
Isolasi dan Identifikasi Klebsiella sp. Asal Rongga Hidung Babi Penderita Porcine Respiratory Disease Complex Bolla, Nelci Elizabeth; Suarjana, I Gusti Ketut; Pasek Gelgel, Ketut Tono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.917

Abstract

Penyakit saluran pernapasan pada babi dikenal dengan nama porcine respiratory disease complex (PRDC). Penyakit ini disebabkan oleh berbagai agen penyakit antara lain bakteri, virus, dan parasit atau gabungan agen tersebut sehingga dikenal sebagai multi microbial disease. Klebsiella sp. merupakan salah satu bakteri yang berpotensi patogen menyebabkan terjadinya PRDC pada babi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Klebsiella sp. yang berpotensi patogen pada saluran pernapasan atas babi penderita PRDC. Penelitian ini menggunakan sampel swab rongga hidung babi yang menunjukkan gejala klinis penyakit saluran pernapasan atas dengan jumlah 21 sampel yang berasal dari Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan. Isolasi Klebsiella sp. dilakukan pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) dan Sheep Blood Agar (SBA). Identifikasi bakteri selanjutnya dilakukan dengan pewarnaan Gram, uji katalase, uji oksidase, Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulfide Indole Motility (SIM), Methyl Red Voges Proskauer (MRVP), Simmon Citrate Agar (SCA) dan uji gula-gula seperti sukrosa, laktosa, glukosa, dan manitol. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung Eppendorf, cotton swab, cool box, masker, hands glove, cawan petri, hot plate, magnetic stirrer, inkubator, autoclave, osse, laminar air flow, bunsen, gelas beker, labu Erlenmeyer, tabung reaksi, objek gelas, mikroskop, kertas label, timbangan digital, aluminium foil, kamera, gunting dan alat tulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 21 sampel yang diisolasi, tiga sampel menunjukkan hasil positif bakteri Klebsiella sp. dengan kemungkinan spesies yaitu K. Pneumoniae. Dapat disimpulkan bahwa ditemukan bakteri Klebsiella sp. pada saluran pernapasan atas babi penderita PRDC sebanyak 14% (tiga dari 21 sampel) yang berasal dari Kabupaten Badung.
Suplementasi Madu Trigona Tidak Meningkatkan Kadar Gula Darah Anjing Penderita Dermatitis Heparandita, Ananda Agung Dextra; Dharmayudha, Anak Agung Gde Oka; Utama, Iwan Harjono; Suartha, I Nyoman; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.842

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi madu trigona cair dan kapsul terhadap kadar gula darah anjing penderita dermatitis. Menggunakan 14 ekor anjing lokal bali jantan dan betina berumur 2-6 bulan yang dibagi menjadi tiga perlakuan, yakni kontrol, madu trigona cair 5 mL/ekor/hari dan madu trigona kapsul 110 mg/ekor/hari. Variabel yang diamati adalah kadar gula darah. Kadar gula darah diukur menggunakan glukometer yang kemudian dianalisis pada minggu ke-0, 1, 2, 3, 4, 5. Rancangan yang digunakan berupa rancangan acak lengkap (RAL) pola berjenjang. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji sidik ragam model split plot in time. Berdasarkan hasil penelitian, rerata kadar gula darah anjing penderita dermatitis dengan perlakuan kontrol yaitu 71,36±9,00 mg/dL. Rerata kadar gula darah anjing penderita dermatitis setelah perlakuan madu trigona cair yaitu 72,83±17,12 mg/dL dan rerata kadar gula darah anjing penderita dermatitis setelah perlakuan madu trigona kapsul yaitu 82,85±4,31 mg/dL. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kadar gula darah dari perlakuan kontrol, perlakuan yang diberi madu trigona cair 5 mL/ekor/hari dan perlakuan yang diberi madu trigona kapsul 0,1 mg/ekor/hari.
Indeks Eritrosit Sapi Bali Jantan Pasca transportasi ke Rumah Potong Hewan Pesanggaran, Denpasar, Bali Juniartini, Wieke Sri; Sulabda, I Nyoman; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.95

Abstract

Transportasi dibutuhkan untuk pengangkutan ternak menuju tempat pemotongan hewan. Namun, transportasi dapat menyebabkan ternak mengalami stres karena berbagai sebab. Stres yang terjadi menyebabkan perubahan terhadap hematologi, salah satunya indeks eritrosit. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai indeks eritrosit Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) sapi bali jantan pascatransportasi. Penelitian menggunakan sampel darah dari 20 ekor sapi bali jantan yang diambil di Rumah Potong Hewan (RPH) Pesanggaran Denpasar yang sebelumnya diangkut dari Pasar Beringkit sejauh 21 km dari RPH. Pengambilan sampel darah dilakukan satu kali dari vena aurikularis atau vena jugularis menggunakan venoject dan ditampung dalam tabung vacutainer ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA). Pemeriksaan MCV, MCH, dan MCHC dilakukan secara otomatis menggunakan alat hematology analyzer di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Bali. Data yang diperoleh berupa indeks eritrosit dianalisis secara deskriptif dan hasilnya disajikan dalam bentuk rataan dan simpangan baku. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai MCV sapi bali jantan pascatransportasi adalah 59,79 fl ± 6,33, MCH: 20,64 pg ± 1,71; dan MCHC: 34,63 g/dl ± 1,70. Nilai indeks eritrosit pada penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai indeks eritrosit dari referensi yang sudah ada. Namun nilai MCHC secara umum masih dalam kisaran normal.
Kelainan Gigi Gergaji (Dental Overgrowth) disertai Ulkus Bukalis pada Kuda-kuda Horse-Riding School di Bogor dan Bali Aldiansyah, Bagus; Widyastuti, Sri Kayati; Widyananta, Budhy Jasa; Fathiyah, Fitri Dewi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.213

Abstract

Olahraga berkuda semakin banyak digemari oleh masyarakat, terutama golongan ekonomi menengah ke atas. Salah satu tempat untuk belajar menunggang kuda adalah horse-riding school. Selain keahlian penunggang, kesehatan kuda juga menjadi faktor penting dalam pengendalian kuda, yang salah satunya adalah kesehatan gigi. Hal ini karena pemasangan besi kendali kuda (bit) yang berhubungan langsung dengan gigi sehingga apabila terjadi gangguan pada kesehatan gigi maka akan berpengaruh pada performa kuda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui abnormalitas gigi kuda yang berada di horse-riding school. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 ekor kuda jantan dan betina dengan jenis thoroughbred, crossbreed, dan kuda poni. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara pemeriksaan secara langsung di lapangan, yaitu pada 20 ekor kuda diperiksa giginya satu persatu. Data berupa catatan berisi temuan hasil abnormalitas gigi kuda yang diperoleh disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel. Dalam penelitian ini ditemukan tujuh jenis abnormalitas gigi antara lain, gigi gergaji (dental overgrowth/sharp teeth), gigi susu tersisa (deciduous caps), gigi landai (ramps teeth), gigi bergelombang (wave mouth), gigi patah (fractured teeth), karang gigi (dental plaque), gigi kait (hooks). Abnormalitas gigi yang paling banyak ditemukan yaitu gigi gergaji (dental overgrowth/sharp teeth) yang berjumlah 19 dari 20 atau 95% kuda mengalami abnormalitas tersebut. Sebanyak 10 dari 19 kuda yang mengalami gigi gergaji juga mengalami ulser pada bagian dalam pipi.
Fluktuasi Profil Hematologi Tikus Putih Hewan Model Fibrosarkoma yang Diinduksi Benzo(a)piren Dewi, I Gusti Ayu Mirah Afsari; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Setiasih, Ni Luh Eka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.267

Abstract

Benzo(a)piren merupakan salah satu golongan bahan kimia yang memiliki sifat karsinogen sehingga mampu memicu pertumbuhan kanker dan seringkali digunakan untuk menginduksi tumor fibrosarkoma pada jaringan lunak hewan percobaan. Pemeriksaan hematologi merupakan indikator penting pada proses karsinogenesis atau tumorigenesis pada induksi senyawa benzo(a)piren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil hematologi dari tikus putih sebagai hewan model fibrosarkoma yang diinduksi dengan senyawa karsinogen benzo(a)piren. Penelitian ini menggunakan 12 ekor tikus putih dengan dua perlakuan yaitu perlakuan 0 (P0) sebagai kontrol dan perlakuan 1 (P1) sebagai kontrol positif diinduksi dengan senyawa benzo(a)piren 0,3% yang dilarutkan dalam oleum olivarum 0,1 mL. Pengambilan sampel darah dilakukan tiga kali pada minggu ke-2, minggu ke-5 dan minggu ke-20 melalui sinus orbitalis dan diuji dengan pemeriksaan darah lengkap serta pembuatan preparat ulas darah. Hasil penelitian dari minggu ke-2, minggu ke-5 dan minggu ke-20 menunjukkan kisaran rerata pada total eritrosit (4,07-8,38)x106/µL, hemoglobin 8,03-14,8 g/dL, hematokrit 20,67-40%, total leukosit (3,67-12,4)x103/µL, neutrofil 16-48%, eosinofil 0-1,33%, basofil 0%, monosit 6-21,67%, dan limfosit 46-64%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa induksi senyawa karsinogen benzo(a)piren pada tikus putih penderita fibrosarkoma menunjukkan adanya fluktuasi pada profil hematologi.
Total dan Diferensial Sel Darah Putih Anjing Penderita Dermatitis Setelah Pemberian Madu Trigona Selama 35 Hari Sitohang, Martina Tiodora; Sudimartini, Luh Made; Kendran, Anak Agung Sagung; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh madu trigona pada anjing penderita dermatitis yang diukur berdasarkan atas jumlah total dan diferensial leukosit. Objek yang digunakan adalah 14 ekor anjing penderita dermatitis yang dibagi menjadi tiga kelompok. Dua ekor anjing tanpa perlakuan sebagai kelompok I. Enam ekor anjing diberikan madu trigona segar 5 mL sebagai kelompok II dan enam ekor anjing lainnya diberikan madu kapsul 0,1 mg (1 kali sehari) per oral selama 35 hari sebagai kelompok III. Pemeriksaan total dan diferensial leukosit menggunakan mesin Auto Hematology Analyzer dan metode hapusan darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total leukosit pada minggu ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5 secara berturut-turut adalah 31,15x103/µL, 11,25 x103/µL, 15,75x103/µL, 12,5x103/µL, 11,85x103/µL, 8,39x103/µL (K.I); 15,76x103/µL, 19,41x103/µL, 16,41x103/µL, 19,58x103/µL, 15,93x103/µL (K.II); 15,68x103/µL, 31,10x103/µL, 19,68x103/µL, 10,31x103/µL, 14,91x103/µL, 15,4x103/µL (K.III). Hasil diferensial leukosit monosit adalah 8%, 9,5%, 11%, 7,5%, 6,5%, 7,01% (K.I); 9,16%, 8,33%, 6%, 6,33%, 6,83%, 8,5% (K.II); 4,5%, 7%, 9,16%, 5,69%, 5,29%, 6,12% (K.III). Nilai eosinofil 3,5%, 8%, 13%, 10,5%, 6,5%, 9,23% (K.I); 5,33%, 11,83%, 11,16%, 12,6%, 9,1%, 11,6% (K.II); 4,5%, 4,5%, 7,83%, 7,7%, 8,8%, 15,94% (K.III). Nilai Limfosit 14%, 15%, 18%, 19%, 29%, 33,4% (K.I); 12,66%, 11,83%, 9,5%, 14,33%, 19,33%, 26,8% (K.II); 11,83%, 7,33%, 12,1%, 13,55%, 12,97%, 32,5% (K.III). Nilai neutrofil 74,6%, 68%, 58%, 60,5%, 58%, 48,1% (K.I); 72,83%, 68%, 72,5%, 65,83%, 64,6%, 53% (K.II); 79,16%, 81,16%, 70,83%, 71,2%, 71,5%, 43,9% (K.III). Hasil sidik ragam madu trigona segar dan kapsul yang diberikan kepada anjing penderita dermatitis tidak berpengaruh nyata terhadap total dan diferensial leukosit.
Kadar Albumin Anjing Penderita Dermatitis Setelah Pemberian Madu Trigona Luwis, Jeremy Christian; Suartha, I Nyoman; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.226

Abstract

Dermatitis merupakan gangguan berupa peradangan pada kulit yang disebabkan oleh sejumlah agen penyebab. Anjing yang mengalami dermatitis kompleks mengalami hipoalbuminemia yang disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi maupun gangguan metabolisme protein pembentukan albumin akibat agen penyakit. Madu trigona diketahui memiliki kandungan protein yang dapat meningkatkan kadar albumin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian madu trigona terhadap kadar albumin anjing yang menderita dermatitis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 14 ekor anjing yang berusia dibawah enam bulan yang dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan, dua ekor anjing sebagai kontrol, enam ekor sebagai kelompok perlakuan madu segar, dan enam ekor sebagai kelompok perlakuan madu kapsul. Sebelum diberikan perlakuan, anjing terlebih dahulu diadaptasi selama tujuh hari, dan pada hari ke-0 dilakukan pengambilan sampel darah. Selanjutnya anjing diberikan perlakuan berupa pemberian madu trigona sebanyak 5 mL sekali sehari selama 35 hari. Madu kapsul diberikan sekali sehari dengan dosis 0,1 mg. Pengambilan darah dilakukan kembali pada hari ke-14 dan 35 setelah pemberian madu trigona. Uji yang digunakan untuk mengukur kadar albumin adalah uji Spektrofotometri dengan menggunakan alat Automated Clinical Chemistry Analyzer Response dan dianalisis dengan Sidik Ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian madu trigona segar dan kapsul pada anjing penderita dermatitis tidak berpengaruh nyata terhadap kadar albumin.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan White Scours Diarrhea pada Sapi Pedet Hasil Persilangan Simmental dengan Peranakan Ongole Indarjulianto, Soedarmanto; Nururrozi, Alfarisa; Yanuartono, Yanuartono; Winarsih, Sugi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.282

Abstract

White scours atau calf scours adalah penyakit yang sering terjadi pada pedet dengan gejala klinis diare berwarna putih kekuningan. Seekor sapi pedet peranakan simmental-peranakan ongole betina berumur satu bulan dengan berat ±30 kg, dilaporkan mengalami diare dan lemas. Hasil pemeriksaan fisik pada pedet didapatkan hasil suhu tubuh demam (40,4°C), rambut berdiri dan kusam, peristaltik usus meningkat, dan diare dengan konsistensi feses sangat lunak berwarna putih kekuningan. Hasil pemeriksaan feses dengan metode natif menunjukkan adanya telur cacing Neoascaris vitulorum. Hasil kultur pada media ditemukan bentuk bakteri cocobacillus Gram negatif yang diduga E. coli. Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik serta laboratorium, pedet didiagnosis mengalami white scours diarrhea diduga akibat colibasillosis dan toksokariasis. Terapi yang diberikan yaitu pemberian injeksi antibiotik (kombinasi penicillin dan dihydrostreptomycin), kombinasi dipyrone dan lidocaine, serta pemberian albendazole per oral. Pedet menunjukkan gejala perbaikan setelah pemberian terapi ini. Pada hari kelima setelah pengobatan, warna feses kembali normal dan cacing mulai keluar melalui anus. Pada hari ke-15 setelah pengobatan, berat badan pedet mengalami peningkatan, pedet tampak aktif dan sudah mulai makan hijauan.
Kadar Aspartat Aminotransferase dan Alanin Aminotransferase Ayam Pedaging yang Diberi Penambahan Asam Organik dalam Pakan Candrayani, Putu Prema; Utama, Iwan Harjono; Suharsono, Hamong
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.178

Abstract

Asam organik sebagai acidifier akan meningkatkan degradasi pakan tak terkecuali protein menjadi asam amino dan perubahan posisi gugus amino melalui proses transaminasi. Aspartat aminotransferase (AST) dan alanin aminotransferase (ALT) merupakan enzim yang berperan dalam metabolisme asam amino. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan asam organik dalam pakan terhadap kadar AST dan ALT pada ayam pedaging. Sebanyak 24 ekor ayam pedaging digunakan sebagai hewan coba dengan empat perlakuan yaitu P0 (kontrol tanpa asam organik), P1 (asam organik 0,1%), P2 (asam organik 0,2%), dan P3 (asam organik 0,3%). Masing-masing perlakuan terdiri dari enam ulangan dan lama pemberian perlakuan adalah 35 hari. Metode penentuan kadar AST dan ALT dengan sistem kolorimetri menggunakan mesin analyzer semi-otomatis di laboratorium serta data dianalisis dengan Uji Sidik Ragam. Rerata kadar AST ayam pedaging P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 287,67 ± 35,42 U/L, 267,33 ± 17,71 U/L, 265,33 ± 8,12 U/L, dan 252,50 ± 20,19 U/L. Rerata kadar ALT ayam pedaging P0, P1, P2, dan P3 berturut-berturut adalah 40,50 ± 12,896 U/L, 40,67 ± 7,474 U/L, 50,67 ± 22,809 U/L, dan 37,33 ± 11,255 U/L. Uji statistika menunjukkan penambahan asam organik dalam pakan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar AST dan ALT pada ayam pedaging. Disimpulkan asam organik aman digunakan sebagai acidifier pada ayam pedaging.