cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Bakteri Escherichia coli Teridentifikasi pada Rektum Lumba-Lumba Hidung Botol Indo-Pasifik di Umah Lumba Rehabilitation Center, Taman Nasional Bali Barat Kristiawan, Vicky; Mahatmi, Hapsari; Sudipa, Putu Henrywaesa; Rahmadani, Deny
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.234

Abstract

Saluran cerna merupakan salah satu tempat pertumbuhan berbagai genus serta spesies bakteri termasuk bakteri family Enterobacteriaceae. Salah satu dari anggotanya adalah Eschericia coli yang merupakan flora normal yang sering ditemukan pada saluran cerna. Saat ini masih sangat langka penelitian tentang keberadaan E. coli pada saluran cerna lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data awal mengenai bakteri Enterobateriaceae pada lumba-lumba tersebut yang berada di lingkungan rehabilitasi. Sampel lumba-lumba yang digunakann merupakan lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (T. aduncus) yang berada di jaring apung laut atau seapen Umah Lumba Rehabititation Center, sebanyak tiga ekor. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rubber catheter sterile berukuran 2,7 mm yang dimasukkan ke dalam rektum lumba-lumba. Jumlah total sampel yang di isolasi sebanyak 12 sampel dari tiga ekor lumba-lumba. Isolasi sampel dilakukan dengan menggunakan media Sheep Blood Agar, media Mac Conkey Agar dan Eosine Methylen Blue Agar. Selanjutnya di uji dengan pewarnaan Gram, uji katalase, uji oksidase, Triple Sugar Iron Agar, Sulfide Indole Motility, Methyl Red Voges Proskauer, Simmon Citrate Agar, dan uji urease. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan pada tiga ekor lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (T. aduncus) yang berada di seapen Umah Lumba Rehabilitation Center, ditemukan jenis bakteri famili Enterobacteriaceae spesies E. Coli.
Laporan Kasus: Penyakit Pernapasan Menular (Kennel Cough) pada Anjing Kampung Lopes, Yoseph Adedoni Tola; Widyastuti, Sri Kayati; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.292

Abstract

Penyakit pernapasan menular (Kennel cough) atau canine infectious respiratory disease akibat infeksi virus maupun bakteri dapat menyebabkan reaksi batuk. Faktor predisposisi terjadinya kennel cough pada anjing yaitu spesies, umur, jenis kelamin, musim, kepadatan anjing pada kennel, dan status vaksinasi. Anjing kasus belum pernah divaksinasi dan dipelihara dengan cara dibiarkan lepas Anjing kampung berumur 10 bulan dengan jenis kelamin betina menunjukkan gejala klinis berupa gangguan pernapasan seperti batuk, bersin, leleran pada mata dan hidung, serta demam. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium (X-ray, hematologi rutin, test kit distemper) anjing kasus didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular atau canine infectious respiratory disease (kennel cough) dengan prognosis fausta. Pemberian terapi dilakukan selama lima hari dengan prednison 1 mg/kg BB, aminopilin 9 mg/kg BB, suplemen Sangobion® 1x1 tablet, dan doksisiklin 8 mg/kg BB. Terapi tersebut memberikan hasil yang baik. Anjing kasus menunjukkan tanda kesembuhan setelah pengobatan.
Total Eritrosit, Kadar Hemoglobin, dan Nilai Packed Cell Volume Broiler Setelah Penambahan Acidifier Asam Organik dan Anorganik dalam Pakan Sidabutar, Febyana; Ardana, Ida Bagus Komang; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.187

Abstract

Penggunaan asam organik sebagai pengganti antibiotik sangat efektif. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek pemberian kombinasi asam organik dan anorganik terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit broiler. Perlakuan yang diberikan adalah P0 adalah broiler yang mendapat pakan tanpa kombinasi asam organik dan anorganik, P1 adalah broiler yang diberi pakan ditambah asam organik dan anorganik 1 g/kg pakan, P2 adalah broiler yang diberi pakan ditambah asam organik dan anorganik 2 g/kg pakan dan P3 adalah broiler yang diberi pakan ditambah asam organik dan anorganik 3 g/kg pakan. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan hematology analyser, pemeriksaan sampel dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 24 ekor broiler yang diberi perlakuan berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji sidik ragam. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa penambahan kombinasi asam organik dan anorganik asam organik dan anorganik tidak berpengaruh nyata terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai packed cell volume atau hematokrit (P>0,05). Dapat disimpulkan bahwa pemberian asam organik dan anorganik tidak memengaruhi (mempertahankan) total eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai packed cell volume broiler. Dapat disimpulkan bahwa pemberian tidak memengaruhi (mempertahankan) total eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai packed cell volume broiler.
Profil Eritrosit, Hemoglobin dan Hematokrit Sapi Bali Pascatransportasi ke Rumah Potong Hewan Pesanggaran Kota Denpasar Perayadhista, Komang Tri Mywisti; Utama, Iwan Harjono; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.246

Abstract

Permintaan daging sapi di wilayah perkotaan lebih tinggi karena jumlah penduduk yang lebih padat dan tingkat pendapatan yang tinggi, sementara dalam produksi sapi potong khususnya sapi bali secara umum berada di pedesaan karena sumberdaya lahan serta pakan yang memadai. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di perkotaan diperlukan proses transportasi dalam perdagangan sapi antar daerah. Kegiatan transportasi ternak sapi potong dari sentra produksi ke rumah potong hewan dapat menyebabkan stres dan mengakibatkan perubahan profil darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari transportasi terhadap eritrosit, hemoglobin dan hematokrit pada sapi bali. Penelitian ini menggunakan sampel darah dari 20 ekor sapi bali jantan yang diambil ketika sapi-sapi tersebut sampai di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Kota Denpasar. Pemeriksaan hematologi menggunakan alat hematology analyzer Sysmex XS-800i. Rancangan yang digunakan adalah rancangan observasional-eksploratif dengan studi cross sectional menggunakan metode purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan hasilnya disajikan dalam bentuk rataan dengan tabel dan simpangan baku. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan jumlah eritrosit dengan nilai rataan sebesar 5,2 x106/µL, kadar hemoglobin dengan rataan sebesar 10,7 g/dL, dan persentase hematokrit dengan rataan sebesar 30,8%. Disimpulkan bahwa sapi bali jantan yang ditransportasi dari Pasar Beringkit ke Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar memiliki jumlah eritrosit yang rendah, kadar hemoglobin tinggi dan persentase hematokrit yang rendah.
Viroterapi Virus Penyakit Tetelo pada Tikus Penderita Fibrosarkoma Tidak Berpengaruh terhadap Histopatologi Limpa Lutviana, An'nisafitri; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.147

Abstract

Fibrosarkoma merupakan salah satu kanker yang berasal dari jaringan ikat fibrosa dan umumnya tumbuh pada jaringan lunak bagian dalam atau subkutan. Kanker saat ini merupakan penyebab utama kematian pada manusia di seluruh dunia karena kurangnya modalitas terapi yang efisien. Pendekatan terapi untuk kanker saat ini banyak diteliti salah satunya yaitu viroterapi menggunakan virus onkolitik. Virus onkolitik yang digunakan salah satunya adalah virus penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND). Virus ND digunakan sebagai viroterapi kanker berdasarkan replikasi selektif pada sel tumor dan segi keamanannya, potensi virus onkolitik, serta dapat menstimulasi sistem imun. Untuk mengetahui pengaruh terapi virus ND terhadap gambaran histopatologi limpa tikus, dilakukan penelitian dengan menggunakan sembilan ekor tikus galur Sprague Dawley yang terdiri dari tiga ekor tikus tanpa fibrosarkoma dan enam ekor tikus dengan fibrosarkoma yang diinduksi dengan benzo(a)piren. Pemberian benzo(a)piren 0,3 mg/0,1 mL dalam oleum olivarum diinjeksikan secara subkutan. Tumor muncul lima bulan pasca-injeksi. Dari sembilan ekor tikus tersebut dikelompokkan menjadi tiga perlakuan yaitu perlakuan kontrol (P0) yang tidak diberi perlakuan, perlakuan P1A yaitu perlakuan pada tikus dengan fibrosarkoma yang diinjeksi phosphate buffer saline 0,1 mL sebanyak empat kali dalam empat hari berturut-turut, dan perlakuan P1B yaitu perlakuan pada tikus dengan fibrosarkoma yang diterapi menggunakan virus ND patotipe velogenik. Tikus dinekropsi setelah dua minggu pasca-perlakuan. Organ limpa yang telah diambil, diproses di Laboratorium Patologi Balai Besar Veteriner Denpasar untuk dibuat preparat histopatologi. Hasil pemeriksaan histopatologi memperlihatkan tidak terjadinya proliferasi limfosit pulpa putih pada perlakuan kontrol (P0), sedangkan pada kelompok perlakuan P1A dan P1B terjadi proliferasi limfosit pada pulpa putih. Pada ketiga perlakuan tidak terjadi adanya perubahan histopatologis yang spesifik pada limpa seperti tidak adanya deplesi, nekrosis, dan hemoragi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa viroterapi dengan virus ND isolat Tabanan-1/ARP/2017 tidak memengaruhi gambaran histopatologi jaringan limpa dan aman digunakan sebagai agen viroterapi kanker.
Laporan Kasus: Pengobatan Cystolithiasis pada Kucing Anggora Jantan dengan Protokol Biasa dan Pakan Khusus Penderita Saluran Kemih Pappa, Suryadi; Anthara, I Made Suma; Widyastuti, Sri Kayati; Widyasanti, Ni Wayan Helpina
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.302

Abstract

Kucing kasus merupakan kucing ras anggora, jenis kelamin jantan berumur satu tahun, bobot badan 3,9 kg, warna rambut oranye, diperiksakan ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan kucing tidak bisa urinasi, nafsu makan menurun, dan tidak sejak minum sehari sebelumnya. Palpasi abdomen bagian hypogastrium medial kucing mengalami nyeri dan vesica urinaria menegang. Pemeriksaan radiografi menunjukkan hasil yang radiopak karena adanya kristal pada vesica urinaria. Sedimentasi urin dibawah mikroskop terlihat adanya kristal magnesium amonium fosfat (struvite). Kucing didiagnosis mengalami urolithiasis dengan prognosis fausta. Dilakukan pemasangan kateter urin untuk memudahkan pembilasan dan urinasi. Pasien diberikan terapi antibiotik ciprofloxacin dengan pemberian satu kali sehari selama tujuh hari 50 mg/kg BB per oral (PO), obat hemostatikum asam tranexamat sebanyak satu kali sehari selama enam hari 50 mg/kg BB PO, antiradang dexamethasone dengan pemberian dua kali sehari selama empat hari 1 mg/kg BB PO, dan terapi peluruh batu saluran kemih batugin yang mengandung 3 g ekstrak daun tempuyung dan 0,3 g ekstrak daun kejibeling pemberian satu kali sehari sebanyak 3 mL selama dua minggu. Kucing diberikan diet pakan khusus untuk penderita penyakit saluran kemih/Urinary Care selama masa pengobatan. Kondisi kucing kasus mengalami pemulihan dua minggu pascaterapi.
Terapi Madu Trigona Aman Bagi Fungsi Hati Anjing Penderita Dermatitis di Bawah Enam Bulan Fernandes, Nuno; Sudimartini, Luh Made; Kendran, Anak Agung Sagung; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas Aspartat Transaminase (AST) dan Alanine Amino Transaminase (ALT) anjing penderita dermatitis yang diberikan madu trigona. Penelitian ini menggunakan 14 ekor anjing lokal jantan dan betina berumur 2-6 bulan. Hewan coba berupa anjing gudig dicari secara acak di jalanan Kota Denpasar. Variabel yang diamati adalah AST dan ALT pada minggu ke-0, minggu ke-2, dan minggu ke-5. Hasil data penelitian AST kelompok kontrol pada minggu ke-0 menunjukan nilai rerata 55,0±1,41 µ/L, 53,5±7,7 µ/L pada minggu ke-2, dan 44,20±10,18 µ/L pada minggu ke-5. Hasil penelitian kelompok madu segar pada minggu ke-0 menunjukan nilai rerata 63,3±23,61 µ/L, 51,83±8,54 µ/L pada minggu ke-2, dan 51,66±13,86 µ/L pada minggu ke-5. Hasil penelitian kelompok madu kapsul pada minggu ke-0 menunjukan nilai rerata 72,5±34,41 µ/L, 53,16±8,54 µ/L pada minggu ke-2, dan 58,00±30,74 µ/L pada minggu ke-5. Hasil data penelitian ALT kelompok kontrol pada minggu ke-0 menunjukan nilai rerata 33,5±3,53 µ/L, 31±4,24 µ/L pada minggu ke-2, dan 30,25±8,84 µ/L pada minggu ke-5. Hasil penelitian kelompok madu segar pada minggu ke-0 menunjukan nilai rerata 35±0,10,05 µ/L, 26,83±7,19 µ/L pada minggu ke-2, dan 30,16±5,56 µ/L pada minggu ke-5. Hasil penelitian kelompok madu kapsul pada minggu ke-0 menunjukan nilai rerata 28,16±12,05 µ/L, 24,16±7,44 µ/L pada minggu ke-2, dan 52,32±48,40 µ/L pada minggu ke-5. Dari data yang didapatkan tidak ada perbedaan yang nyata antara AST dan ALT pada minggu ke-0, minggu ke-2, minggu ke-5 dari kelompok kontrol, kelompok yang diberi madu cair, dan kelompok yang diberi madu trigona dalam bentuk kapsul. Simpulannya, madu trigona aman untuk anjing-anjing dermatitis.
Minyak Rajas Efektif Dipakai untuk Menyembuhkan Luka Kebiri pada Anak Babi Ningsih, Adriati; Sudira, I Wayan; Arjana, Anak Agung Gde; Merdana, I Made; Samsuri, Samsuri
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemakaian minyak rajas terhadap kesembuhan luka kebiri pada anak babi. Anak babi yang digunakan adalah anak babi jantan berumur 10-14 hari sebanyak 32 ekor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan yaitu perlakuan P0 (kontrol) yang diberikan olesan alkohol 70% sebanyak empat tetes dan perlakuan P1 (perlakuan) yang diberikan olesan minyak rajas sebanyak empat tetes, pengobatan dilakukan sekali pada awal kebiri. Kesembuhan luka kebiri diamati secara makroskopik selama 10 hari yaitu pada hari ke-1, ke-4, ke-7 dan ke-10. Parameter yang diamati meliputi kemerahan, bengkak, dan keropeng. Untuk mengetahui minyak rajas efektif dalam mencegah infeksi luka kebiri pada anak babi, maka data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji nonparametrik (Wilcoxon). Untuk mengetahui apakah ada perbedaan waktu kesembuhan luka kebiri pada anak babi yang diberikan alkohol 70% dan minyak rajas maka data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data hasil pengamatan terhadap kelompok P0 menunjukkan bahwa, terdapat empat sampel yang masih mengalami kemerahan, bengkak dan keropeng pada pengamatan hari ke-10, sedangkan data hasil pengamatan pada kelompok P1, menunjukkan bahwa keseluruhan sampel mengalami kesembuhan pada hari ke-7.
Tingkat Pemahaman Pedagang Bakso Kota Denpasar terhadap Bahan Pengawet Formalin dan Boraks serta Kandungannya dalam Bakso Wulandari, Andi Dewi; Suardana, I Wayan; Suarsana, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.159

Abstract

Bakso merupakan produk olahan daging asal hewan yang sering ditemui di kalangan masyarakat karena rasanya yang enak, relatif murah, mudah disajikan, dan mudah ditemui. Pada tahap produksi, bakso seringkali ditambahkan bahan pengawet dengan maksud untuk memperpanjang masa simpan produk dalam 12-24 jam. Salah satu masalah yang dihadapi pedagang bakso yaitu produk bakso harus habis terjual sebelum mengalami pembusukan sehingga beberapa oknum ditemui mengawetkan produk dagangnya menggunakan bahan berbahaya seperti formalin dan boraks. Penggunaan formalin dan boraks dengan dosis terkecil pada makanan telah dilarang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 33 tahun 2012, termasuk pada produk bakso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman penjual bakso sekaligus mendeteksi secara kualitatif adanya senyawa formalin dan boraks yang dijual di sekitar pasar tradisional di Kota Denpasar. Sampel yang diidentifikasi diambil dari sembilan pedagang menetap, lima pedagang kaki lima, dan enam pedagang keliling selama tiga minggu berturut-turut. Tingkat pemahaman penjual diambil berdasarkan sejumlah pertanyaan kuisioner. Pemeriksaan kualitatif senyawa formalin dilakukan menggunakan reagen NaOH, natrium nitroprusida, dan fenilhidrazin, sedangkan, pemeriksaan kualitatif senyawa boraks dilakukan menggunakan uji kertas kurkumin. Hasil studi menunjukkan persepsi pedagang terhadap penggunaan bahan pengawet berbahaya dinilai sudah baik. Hasil analisis kualitatif terhadap formalin dan boraks pada bakso menunjukkan hasil negatif di semua sampel, dari minggu pertama hingga ketiga.
Kajian Pustaka: Mendiagnosis Kejadian Penyakit Strangles (Equine Distemper) Pada Kuda
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.466

Abstract

Penyakit ingus tenang atau Strangles adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus equi pada kuda, paling sering ditandai oleh demam akut, radang selaput lendir hidung bagian atas, dan leleran mukopurulen hidung disertai dengan limfadenopati submandibular dan faring akut. Dari sepuluh kasus yang dilaporkan penyakit ini menyerang kuda dari segala umur. Tanda klinis muncul setelah masa inkubasi sekitar 3-8 hari, yang umumnya berlangsung selama 3-4 minggu. Wabah juga dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun di suatu peternakan dan menyebabkan dampak kerugian ekonomi yang besar. Pemeriksaan dengan sampel ulas nasal, bilasan hidung, atau aspirasi purulen dari abses menjadi gold standart untuk mendeteksi S. equi. Pemeriksaan menggunkan Polymerase Chain Reaction (PCR) juga disarankan. Saat ini, banyak kelompok penelitian di seluruh dunia yang fokus pada produksi vaksin yang aman dan efektif terhadap penyakit strangles yang sangat menular ini. Pengendalian penyakit sulit tanpa efektivitas vaksin yang tinggi. Penggunaan antibiotik berupa Ceftiofur crystalline free acid (CCFA) dan procaine penicilline G (PPG) disarankan serta pemberian antiinflamasi seperti phenylbutazone atau flunixin meglumine dapat membantu menangani rasa nyeri, demam, dan bengkak karena peradangan pada lokasi abses dan meningkatkan kemauan hewan untuk makan dan minum. Dalam laporan ini dibahas mengenai bagaimana strangles pada kuda dan mencakup Etiologi, pathogenesis, gejala klinis, diagnosis hingga terapi dan pengobatan.