cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Laporan Kasus: Penanganan Anaplasmosis dan Babesiosis dengan Antibiotik Doxycycline, Obat Tonikum, dan Hemapoitikum Herbal Tiongkok pada Anjing Kacang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.770

Abstract

Anaplasmosis dan babesiosis pada anjing merupakan penyakit yang ditularkan oleh caplak atau tick-borne disease seperti Rhipicephalus sanguineus. Anaplasma pada anjing disebabkan oleh spesies Anaplasma platys dan A. phagocytophilum. Babesiosis pada anjing disebabkan oleh spesies Babesia canis dan B. gibsoni. Seekor anjing jantan berumur delapan bulan dengan berat badan 12,2 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan dengan keluhan tidak nafsu makan sejak dua hari, mata merah, dan epistaksis. Pada pemeriksaan klinis ditemukan demam, kemerahan pada mata, darah yang sudah kering pada hidung, dan hewan muntah pada saat pemeriksaan. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami anemia normositik hiperkromik, hemoglobinemia, dan trombositopenia. Pemeriksaan dengan rapid test kit menunjukkan hasil positif Anaplasma dan Babesia. Pada pemeriksaan ulas darah ditemukan adanya parasit intraeritrositik. Berdasarkan temuan tersebut maka anjing tersebut didiagnosis menderita anaplasmosis dan babesiosis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan yaitu Hemostop® K 1,2 mL intramuskular, doksisiklin (10 mg/kg, q.24 jam, per oral) selama dua minggu, obat tonikum dan hemapoitikum herbal tiongkok Fu Fang Ejiao Jiang® 5 mL dua kali sehari per oral selama 10 hari, hemapoitikum kimiawi Sangobion® satu tablet per hari per oral selama 10 hari, vitamin B kompleks dan B12 satu tablet per hari per oral selama 10 hari, dan asam traneksamat (10 mg/kg, q.12 jam, per oral) diberikan jika epistaksis kambuh. Terapi yang diberikan menunjukkan hasil yang baik. Hewan dipulangkan setelah empat hari rawat inap. Pada hari ke-14 hewan terlihat sehat secara klinis.
Laporan Kasus: Infeksi Anaplasmosis dan Ehrlichiosis yang Kambuh Bersifat Fatal pada Anjing Pomeranian
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.555

Abstract

Anaplasmosis dan ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh mikroorganisme intraseluler Gram negatif, ditularkan melalui vektor caplak famili Ixodidae. Tujuan penulisan kasus ini adalah untuk menentukan strategi pengendalian dan pengobatan yang tepat pada kasus anaplasmosis dan ehrlichiosis baik pada fase akut maupun fase kronis. Seekor anjing Pomeranian jantan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan lemas, tidak nafsu makan sejak dua minggu, terdapat bintikbintik merah di tubuh sejak lima hari. Hasil pemeriksaan klinis pada kulit ditemukan petekie pada bagian abdomen dan bagian belakang telinga dan pada mukosa mulut terjadi hemoragi. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hiperkromik, trombositopenia, limfositosis dan granulositopenia. Pemeriksaan ulas darah ditemukan adanya inklusi intrasitoplasmik (morula). Pemeriksaan darah dengan test kit antigen menunjukkan hewan kasus positif terhadap Anaplasma spp. dan Ehrlichia canis, sehingga anjing kasus didiagnosis menderita anaplasmosis dan ehrlichiosis. Pengobatan dengan menggunakan imidocarb dipropionate (5 mg/kg BB; dosis diulangi setelah 14 hari), doksisiklin (10 mg/kg BB; q24 jam; selama 14 hari), suplementasi hematopoietik Sangobion® satu kapsul satu kali sehari dan injeksi intramuskuler tunggal pemelihara daya tahan tubuh Biodin® sebanyak 1,5 mL. Anjing tidak merespon pengobatan dengan baik karena berada dalam fase kronis. Anjing mengalami penurunan kondisi tubuh yang signifikan pada hari keempat dan dinyatakan mati pada hari kelima.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Meniran Terhadap Histopatologi Limpa Tikus Wistar yang Mengalami Periodontitis Apikalis Kronis
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.842

Abstract

Limpa merupakan organ yang mengkoordinasi sistem imun sehingga jika terjadi infeksi yang berkepanjangan akan berefek pada limpa. Salah satu penyakit yang menyerang limpa adalah periodontitis kronis yang terjadi akibat adanya inflamasi pada periapikal yang disebabkan oleh endoktoksin bakteri Enterococcus faecalis. Sebagai upaya mencegah efek yang akan terjadi pada limpa maka dibutuhkan antibakteri, antioksidan, dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun meniran hijau (Phyllanthus niruri Linn) terhadap limpa tikus wistar yang mengalami periodontitis apikalis kronis yang diamati secara histopatologi. Penelitian menggunakan tikus wistar berjenis kelamin jantan sebanyak 48 ekor dan dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri atas 12 ekor. Kelompok kontrol negatif (K1) diinduksi bakteri E. faecalis. Kelompok kontrol positif (K2) diberikan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) dan klorheksidin diglukonat 2%, pada perlakuan K3 diberikan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) dan ekstrak etanol daun meniran hijau 10%, perlakuanK4 diberikan kalsium hidroksida (Ca(OH)2), klorheksidin diglukonat 2% dan ekstrak etanol daun meniran hijau 10%. Perlakuan diberikan setelah tikus wistar dikondisikan mengalami periodontitis apikalis kronis. Pengambilan organ limpa berdasarkan lama waktu aplikasi pasta medikamen yaitu pada hari ke-7, 14, dan 21 untuk dibuat preparat histopatologi. Pengamatan histopatologi menunjukkan proliferasi terjadi hampir pada setiap perlakuan dan sedikit adanya sel yang mengalami deplesi. Analisis uji Kruskal-wallis didapatkan bahwa pada K1, K2, K3, dan K4 tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun meniran hijau tidak memengaruhi perubahan yang terjadi pada organ limpa, yaitu proliferasi dan deplesi sel limfoid pada tikus penderita periodontitis apikalis kronis.
Laporan Kasus: Dermatofitosis Kronis Akibat Infeksi Kapang Curvularia spp. pada Anjing Peranakan Pomeranian
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.720

Abstract

Curvularia adalah famili Pleosporaceae dengan banyak jenis atau spesies termasuk jenis fitopatogenik, yaitu jamur patogen pada hewan dan manusia. Hewan kasus adalah anjing peranakan Pomeranian berjenis kelamin jantan, berumur enam tahun, dan memiliki bobot badan 4,96 kg. Berdasarkan hasil anamnesis, anjing mengalami gatal-gatal dan rambut rontok yang telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun. Pada pemeriksaan fisik, anjing mengalami alopesia hampir pada seluruh tubuh dan eritema pada bagian kaki. Pemeriksaan sitologi dengan metode tape skin test ditemukan Curvularia spp., sedangkan hasil pemeriksaan darah menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hiperkromik, leukositosis, dan limfositosis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, dapat disimpulkan bahwa anjing kasus didiagnosis menderita dermatofitosis akibat infeksi Curvularia spp. Terapi yang diberikan yaitu terapi kausatif dengan antijamur griseofulvin dengan dosis 25 mg/kg BB secara per oral satu kali sehari selama 14 hari dan pemberian sabun sulfur yang dimandikan dua kali seminggu selama satu bulan. Kemudian pemberian antibiotik cephalexin dengan dosis 22 mg/kg BB secara per oral dua kali sehari selama enam hari dan terapi suportif diberikan minyak ikan secara per oral satu kapsul sehari selama 30 hari. Anjing kasus setelah diterapi 30 hari menunjukkan hasil yang baik, sebagian besar tubuh anjing sudah ditumbuhi rambut, serta kulit anjing sudah tidak mengalami eritema dan pruritus.
Laporan Kasus: Radang Kantung Kemih Tanpa Penyebab yang Jelas pada Kucing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.622

Abstract

Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) atau Infeksi Saluran Kencing (ISK) adalah penyakit pada saluran kemih bagian bawah pada kucing yang biasa ditandai dengan kesulitan urinasi, kesakitan, dan urinasi meningkat. Kucing kampung berjenis kelamin jantan, berumur satu tahun, berwarna loreng hitam, dengan bobot 3,9 kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Udayana dengan keluhan awal mengalami kesulitan urinasi. Tiga minggu kemudian keluhan kesulitan urinasi terjadi kembali disertai dengan muntah, dan kurang mau minum. Saat dilakukan pemeriksaan fisik secara inspeksi kucing terlihat normal dan waspada, saat pemeriksaan secara palpasi abdomen teraba kencang dan menunjukkan respons nyeri. Pada pemeriksaan darah lengkap menunjukkan bahwa kucing mengalami leukositosis. Hasil ultrasonografi didapatkan kantung kemih yang dipenuhi dengan urin sehingga terlihat membesar dan adanya peradangan yang terlihat hiperekoik. Hasil radiografi didapatkan kantung kemih yang terlihat besar namun batasannya tidak terlalu jelas dan organ ginjal yang terlihat membesar. Hasil pemeriksaan mikroskopis urin terlihat partikel kristal jenis struvit dan kalsium oksalat. Kucing didiagnosis mengalami feline idiopathic cystitis dengan prognosis fausta. Penanganan dilakukan dengan pemasangan kateter untuk mengeluarkan urin dan membersihkan kantung kemih menggunakan NaCl 0,9% yang disemprotkan melalui spuit. Terapi yang diberikan dengan pemberian antibiotik cefalexin sirup 1 mL/kg BB dua kali sehari PO, obat antiinflamasi dexamethasone 1 mg/kg BB dua kali sehari PO, dan obat herbal Batugin® sirup 2 mL/kg BB satu kali sehari PO. Setelah tujuh hari dilakukan pelepasan kateter, kucing mengalami perubahan setelah diberikan terapi selama tujuh hari ditandai dengan urinasi lancar dan tidak adanya rasa nyeri pada saat urinasi.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Rinitis Unilateral Kronis yang Menyebabkan Polisitemia Sekunder pada Kucing Lokal
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.898

Abstract

Penyakit saluran respirasi bagian atas sering terjadi pada kucing. Salah satunya adalah rinitis, yaitu peradangan pada membran mukosa rongga hidung. Pemeriksaan dilakukan terhadap seekor hewan peliharaan di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hewan yang diperiksa merupakan kucing lokal jantan yang sudah dikebiri berumur tiga tahun dengan bobot badan 3,1 kg, dengan keluhan adanya leleran hidung unilateral di sebelah kiri serta frekuensi bersin yang tinggi. Pemeriksaan klinis menunjukkan kucing mengalami bradikardia, bradipnea, dan halitosis. Dari hasil pemeriksaan hematologi rutin dapat disimpulkan kucing mengalami polisitemia. Pemeriksaan radiografi dengan rontgen menunjukkan saluran respirasi bagian bawah kucing tidak mengalami peradangan. Hewan kasus didiagnosis mengalami rinitis unilateral kronis dan dilakukan penanganan dengan pemberian antibiotik sefadroksil monohidrat (22 mg/kg BB; q24 jam; per oral/PO), obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) piroksikam (0,3 mg/kg BB; q24 jam; PO), difenhidramin hidroklorida (0,1 mg/kg BB; q8 jam; intramuskuler), bromheksin hidroklorida (1 mg/kg BB; q24 jam; PO), serta suplementasi pakan khusus pemulihan (Royal Canin Recovery®). Halitosis ditangani dengan melakukan pembersihan area oral menggunakan klorheksidin 0,2%. Tingkat keparahan halitosis mampu diminimalisir, namun belum mampu menghilangkan sepenuhnya. Sedangkan pengobatan rinitis dinyatakan berhasil, kucing tidak mengalami bersin dan tidak ada leleran yang keluar dari hidung setelah 10 hari pengobatan.
Laporan Kasus: Infeksi Cacing Tambang (Ancylostomiasis) yang Menimbulkan Ascites pada Anjing Peranakan Pomeranian Umur Empat Bulan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.507

Abstract

Cacing tambang atau Ancylostoma spp. merupakan cacing yang banyak menyerang manusia dan hewan kesayangan seperti anjing. Parasit Ancylostoma spp. merupakan nematoda gastrointestinal yang bersifat zoonosis. Jalur utama penularan cacing tambang ini secara fecaloral oleh tanah yang terkontaminasi, penetrasi kulit, transplasenta, dan transmammaria. Tanda-tanda klinis paling umum yang ditunjukkan yaitu lemah, anemia, kehilangan bobot badan, diare, rambut kusam, dan perut buncit. Ancylostomiasis dapat mengakibatkan perut membuncit, dispnea, lesu, anoreksia, muntah, kelemahan, dan ketidaknyamanan. Hewan kasus merupakan seekor anjing betina persilangan pomeranian berumur empat bulan, berwarna coklat dengan berat badan 1,2 kg. Hewan datang dengan keluhan bagian abdomen membesar, serta mengalami muntah berbusa warna putih. Pada pemeriksaan fisik diketahui bahwa pembesaran abdomen diakibatkan oleh adanya cairan. Pada pemeriksaan feses ditemukan cacing Ancylostoma spp. dengan infestasi telur sebanyak 1000 epg (egg per gram). Anjing didiagnosis mengalami ascites akibat infeksi Ancylostoma spp. Terapi yang diberikan berupa fursultiamin HCl tablet 5 mg sekali sehari selama lima hari, kemudian vitamin B Kompleks, dan furosemide dengan dosis 3,3 mg/kgBB diberikan dua kali sehari secara oral selama lima hari. Disarankan juga pada pemilik anjing untuk melanjutkan pemberian pirantel pamoat sebanyak 0,5 tablet. Setelah lima hari perawatan anjing kasus menunjukkan tanda-tanda kesembuhan yang ditunjukkan dengan anjing kasus mulai aktif beraktivitas.
Laporan Kasus dan Kajian Pustaka: Menangani Kejadian Megaesofagus Idiopatik pada Anjing Kacang dengan Bantuan Kursi Bailey
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.781

Abstract

Megaesofagus merupakan kondisi yang ditandai dengan berkurangnya atau tidak adanya motilitas esofagus. Kejadian tersebut menyebabkan akumulasi ingesta, dilatasi lumen esofagus, regurgitasi pakan (yang sering disalahartikan sebagai muntah oleh pemilik anjing). Anjing kacang berjenis kelamin betina, berumur 2 tahun 2 bulan, dengan berat 15 kg didiagnosis mengalami megaesofagus idiopatik. Anjing dibawa oleh pemiliknya ke Bali Veterinary Clinic dengan keluhan tidak nafsu makan, muntah beberapa kali dalam sehari dan kaki belakang terlihat lemas. Pemeriksaan fisik anjing menunjukkan tanda klinis regurgitasi, batuk, disfagia, terengah-engah dan peningkatan frekuensi napas. Pada pemeriksaan darah lengkap diperoleh hasil semua parameter dalam rentang normal. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan pada beberapa parameter yaitu pada alanin aminotransferase (ALT), kreatinin, dan aspartat amino transferase (AST). Pemeriksaan radiografi dengan bahan kontras barium sulfat menunjukkan adanya pelebaran pada esofagus. Anjing ditangani dengan cara ditopang dengan tangan agar tetap berdiri tegak saat makan dan minum. Pengobatan dilakukan dengan pemberian cairan infus ringer laktat 30 mL/kg BB/jam, hematodin 0,1 mL/kg BB IM SID, biodin 0,1 mL/kg BB IM SID, ranitidin hidroklorida 2 mg/kg BB IV TID, dan sildenafil sitrat 2 mg/kg BB PO BID, cefotaxime sodium 50 mg/kg BB IV BID, dan furosemid 2 mg/kg BB IV BID. Setelah tiga minggu perawatan, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang berarti. Pasien dipulangkan dengan saran dibuatkan kursi khusus Bailey Chair.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Konstipasi pada Kucing Peliharaan dengan Pemberian Pakan Tinggi Serat
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.682

Abstract

Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan adanya tinja yang keras yang menyebabkan defekasi atau buang air besar menjadi jarang bahkan tidak ada. Kucing ras domestik bernama Fino berjenis kelamin jantan, berumur satu tahun, bobot badan 3,98 kg dan warna rambut hitam loreng dibawa oleh pemilik ke klinik hewan Sahabat Satwa Celebes (SSC) Makassar. Kucing kasus sudah tiga hari tidak defekasi sebelum dilakukan pemeriksaan dan sehari sebelum diperiksa nafsu makannya menurun. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan frekuensi respirasi di atas rentang normal, palpasi pada saluran pencernaan menunjukkan adanya reaksi rasa sakit, bagian abdomen terasa tegang, dan adanya massa padat pada saluran pencernaan. Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) ditemukan adanya beberapa massa bulat padat pada usus dengan gambaran hyperechoic. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan USG dapat disimpulkan bahwa kucing kasus didiagnosis mengalami konstipasi dengan prognosis fausta. Terapi simptomatik dilakukan dengan memberikan gliserin sejumlah 3 mL dengan cara memasukkannya ke dalam rektum, terapi kausatif dilakukan dengan penggantian pakan dengan memberikan pakan tinggi serat (Royal Canin®) dan pengobatan suportif dengan pemberian vitamin penambah nafsu makan (Nutri Plus Gel®) satu ruas jari sekali sehari. Kondisi kucing kasus setelah seminggu menjalani perawatan menunjukkan perkembangan yang sangat baik ditandai dengan defekasi lancar, kondisi feses normal dan tidak adanya konstipasi berulang.
Laporan Kasus: Babesiosis dan Ehrlichiosis pada Anjing Kacang Umur 11 Tahun yang Terinfeksi Caplak Rhipicephalus sanguineus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.566

Abstract

Agen parasit darah yang umum ditemukan pada anjing yaitu Babesia sp. dan Ehrlichia sp. yang dapat menyebabkan kematian pada anjing. Seekor anjing lokal mempunyai keluhan penurunan nafsu makan, lesu, luka pada tubuh, alopesia, dan infeksi caplak Rhipicephalus sanguineus pada tubuh. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan anjing mengalami demam, turgor kulit melambat, Capillary Refil Time (CRT) melebihi dua detik, mukosa anjing pucat, dan adanya infeksi caplak R. sanguineus. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan hematologi rutin, apusan darah, dan serologi yaitu test kit antibodi. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik, limfositosis, dan trombositopenia. Hasil apusan darah ditemukan eritroparasit Babesia sp. dan intracytoplasmic (morula) Ehrlichia sp. pada sel darah putih anjing kasus. Hasil pemeriksaan serologi menggunakan test kit antibodi menunjukkan anjing kasus positif terhadap Babesia sp. dan Ehrlichia sp. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, anjing kasus didiagnosis menderita babesiosis dan ehrlichiosis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan yaitu injeksi ivermectin 0,3 mg/kg BB secara sub kutan. Terapi kausatif diberikan antibiotik doksisiklin kapsul (8 mg/kg BB, PO) satu kali sehari selama dua minggu. Terapi suportif diberikan satu tablet vitamin B12 per hari selama lima hari. Setelah dua minggu pascapengobatan anjing sudah kembali aktif dan nafsu makan anjing sudah normal kembali.