cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Pengaruh Madu pada Aktivitas Pertumbuhan Bakteri Saluran Pencernaan Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Perak Nitrat
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.855

Abstract

Madu digunakan sebagai makanan dan terapi herbal bagi manusia. Madu memiliki beberapa kandungan gula dan salah satunya yaitu oligosakarida. Aktivitas oligosakarida dari madu dapat memengaruhi bakteri saluran pencernaan seperti Escherichia coli, Salmonela, Shigella, dan Proteus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas madu pada mencit (Mus musculus) yang diinduksi perak nitrat. Penelitian terdiri dari empat kelompok perlakuan yang antara lain kontrol negatif, perlakuan madu, perlakuan perak nitrat, dan perlakuan madu dan perak nitrat. Dosis madu yang diberikan yaitu 0.08 mL/20 gram dan perak nitrat yang diberikan dengan dosis 400?g/mL. Pemeriksaan bakteri saluran cerna menggunakan metode konvensional dengan media selektif dan diferensial yaitu MacConkay Agar dan Eosin Methylen Blue Agar. Hasil dari penelitian ini adalah interpretasi dari perubahan media MacConkay Agar dan Eosin Methylen Blue Agar. Pemberian madu dan perak nitrat menunjukkan adanya perbedaan pertumbuhan antara Escherichia coli, Salmonella, Shigella, dan Proteus.
Concomitant Occurrence of Transmissible Venereal Tumor, Pyometra, and Pregnancy with Cleft Lip and Palate in a Crossbreed Bitch: A Case Report
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.731

Abstract

A female crossbreed dog, estimated to be four years old with a bodyweight of 9.5 kg was diagnosed with a transmissible venereal tumor (TVT). Cytological examination showed the shape of lymphocytic and plasmacytic cells which are consistent with the transmissible venereal tumor cell findings. Treatment was done by en bloc ovariohysterectomy, surgical excision of the tumor mass, and chemotherapy using vincristine sulfate. During the surgery, it was found that apart from being infected with TVT, the dog was also observed with pyometra and found to be pregnant. The dog had one puppy with a birth defect (cleft lip and palate) and died a few hours later. Postoperatively, dogs were given a combination of dexamethasone and diphenhydramine (0.2 mg/kg BW and 4 mg/kg BW intramuscularly/IM) and antibiotic cefotaxime (22 mg/kg q12h IM). Two days after the surgery the dog showed an improvement in its condition, oral drugs began to be administered and injection drugs were stopped. Treatment was continued with the administration of antibiotic cefadroxil (22 mg/kg BW q12h per orally/PO) and metronidazole (15 mg/kg q12h PO) for five days along with the administration of multivitamin Nutrilite Double X-Phytonutrient® one capsule/day for seven days. A week after surgery the dog was sent home without additional medication. The dog is scheduled for chemotherapy the following week.
Laporan Kasus: Cystitis pada Kucing Persia Jantan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.635

Abstract

Cystitis merupakan peradangan pada kandung kemih yang sering terjadi pada hewan peliharaan sebagai bagian dari infeksi pada saluran kemih. Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan adanya urolit, kalkuli, kristal ataupun sedimen yang berlebihan dalam saluran urinaria. Seekor kucing Persia jantan bernama Apollo, berumur ± 2 tahun dengan bobot badan 4 kg mengalami keluhan tidak mau makan, lemas, kesulitan urinasi yang sudah berlangsung tiga hari, menunjukkan respon sakit saat ingin urinasi, stranguria, dan hematuria. Pada pemeriksaan fisik terlihat adanya distensi abdomen yang saat dipalpasi abdomen terasa nyeri dan pembesaran pada vesika urinaria. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan laboratorium, yaitu hematologi dan kimia darah, pemeriksaan ultrasonografi (USG), urinalisis, dan sedimentasi urin secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa kucing mengalami leukositosis, neutrofilia, dan trombositopenia. Pada pemeriksaan USG terlihat adanya penebalan pada dinding vesika urinaria dan massa hiperechoic. Hasil urina lisis menunjukkan adanya kenaikan leukosit, adanya darah, kreatinin, dan protein, dan pada pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya kristal struvit. Kucing didiagnosis mengalami cystitis dengan prognosis fausta. Adapun terapi yang diberikan berupa terapi cairan, pemasangan kateter, dan pemberiaan obat oral yang berupa antibiotik cefadroxil dengan dosis 22 mg/kg BB, sekali sehari, cystaid® sekali sehari satu tablet, rowatinex dua kali satu kapsul sehari selama empat minggu. Kucing kasus menunjukkan hasil yang baik setelah dilakukan pengobatan selama tujuh hari. Urinasi mulai lancar, tidak ada indikasi hematuria, oliguria, dan stranguria.
Laporan Kasus: Infeksi Berulang Ehrlichia canis pada Monosit Anjing Peranakan Akita di Denpasar, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.519

Abstract

Infeksi bakteri Ehrlichia canis yang bereplikasi pada sel monosit disebut juga Canine Monocytic Ehrlichiosis (CME). Seekor anjing betina peranakan akita dibawa ke Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan penurunan nafsu makan dan minum disertai dengan konsistensi feses yang lembek. Hasil pemeriksaan klinis menemukan adanya bekas feses berwarna hitam pada rambut di sekitar anus, rambut terlihat kusam, napas cepat dan dangkal serta pulsus anteri femoralis teraba lemah. Pemeriksaan feses menunjukkan hasil negatif untuk telur cacing dan protozoa. Pemeriksaan hematologi menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik, leukositosis dengan limfositosis dan granulositopenia, serta trombositopenia. Pemeriksaan apusan darah dan test kit antibodi terhadap Ehrlichia canis menunjukkan hasil positif. Berdasarkan hal tersebut, anjing didiagnosis mengalami CME. Hewan diterapi dengan antibiotik doksisiklin (10 mg/kg BB, PO setiap 24 jam), antiradang prednison (0,5 mg/kg BB, PO setiap 24 jam) dan hematopoietik Sangobion® (satu kapsul per hari). Terapi tersebut diberikan selama 14 hari. Terapi menunjukkan hasil yang baik dari segi nafsu makan dan minum yang normal, aktif, serta konsistensi dan warna feses yang normal.
Kajian Pustaka: Dampak Gangguan Reproduksi pada Hewan yang Terinfeksi Virus SARS-CoV-2
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.795

Abstract

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 telah menyebar ke seluruh dunia sejak akhir tahun 2019. Virus ini tak hanya menginfeksi manusia, tetapi juga ditemukan dapat menginfeksi hewan. Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui reseptor ACE2 pada apical sel epithelial. Reseptor ACE2 juga terdapat di epitel sel hewan sehingga kemungkinan dampak kerusakan sel akibat infeksi SARS-CoV-2 yang terjadi pada manusia juga bisa terjadi pada hewan. Penelitian mengenai efek jangka panjang yang ditimbulkan setelah infeksi SARS-CoV-2 pada hewan khususnya dampak terhadap fertilitas belum banyak dilaporkan. Oleh karena itu, kajian pustaka ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis efek jangka panjang yang ditimbulkan dari infeksi virus SARS-CoV-2 pada fungsi sistem reproduksi hewan khususnya satwa liar yang dilindungi. Data diperoleh dari literatur yang diterbitkan di PubMed-gov dengan kata kunci terpilih serta beberapa filter lainnya diaktifkan. Hasil kajian menunjukkan hewan yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 kemungkinan dapat mengalami infertilitas sehingga penerapan protokol kesehatan penting bagi orang yang berhubungan dekat dengan hewan khususnya satwa liar.
Laporan Kasus: Pengobatan Bronkhopneumonia pada Anjing Pomeranian dengan Methylprednisolone dan Klorfeniramine maleat
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.692

Abstract

Bronkhopneumonia adalah peradangan pada daerah bronkhoalveolar sebagai akibat perluasan dari peradangan pada bronkus. Hewan kasus merupakan seekor anjing pomeranian jantan, berumur enam tahun, bobot badan 5,2 kg, dan rambut berwarna hitam dengan sebagian putih di daerah dada dan ujung-ujung kaki, dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan memiliki kekeruhan pada kornea mata sebelah kanan. Anjing kasus menunjukkan gejala klinis batuk selama empat bulan dengan intensitas sekitar 10 kali/hari dan terjadi pada pagi hingga malam hari. Anjing dipelihara dengan cara dikandangkan dan terkadang dilepas di pekarangan rumah. Anjing dipelihara bersama dengan dua anjing lainnya yang dalam kondisi sehat. Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya pembengkakkan pada limfonodus mandibularis dan adanya respons batuk pada saat trakhea dipalpasi. Hasil pemeriksaan laboratorium berupa uji hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami anemia normositik hiperkromik dan limfopenia. Pada pemeriksaan radiografi ditemukan ada perubahan opasitas (radiopaque) pada trakhea, bronkus, dan jaringan parenkim paru. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan klinis dan penunjang, anjing kasus didiagnosis mengalami bronkhopneumonia. Penanganan dilakukan dengan pemberian metilprednisolon (1,2 mg/kg BB/hari, PO), klorfeniramin maleat (2 mg/ekor anjing, q12h, PO), serta perbaikan manajemen pemeliharaan dan kebersihan lingkungan tempat anjing. Setelah hari ke-7 masa pengobatan, kondisi anjing membaik.
Laporan Kasus: Penanganan Panleukopenia pada Kucing Kampung Usia Muda yang Belum Pernah Divaksinasi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (4) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.4.579

Abstract

Feline panleukopenia virus (FPV) merupakan penyakit infeksius yang menyerang kucing baik diumur muda maupun dewasa. Seekor kucing kampung bernama Bumbi berumur tiga bulan berjenis kelamin betina dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Universitas Udayana. Menurut pemilik kucing kasus tidak mau makan dan minum selama sehari, muntah cacing setelah diberikan obat cacing pada hari yang sama, dan diare berwarna coklat dengan konsistensi semisolid. Pemeriksaan klinis menunjukkan kucing kasus lemas, dehidrasi, turgor kulit melambat, mukosa gusi pucat, cermin hidung yang kering, dan demam (39,6?). Pemeriksaan laboratorium hematologi menunjukkan kucing kasus mengalami leukopenia, granulositopenia, dan anemia normositik hiperkromik. Pemeriksaan penunjang dengan tes kit FPV memperlihatkan hasil positif terhadap virus FPV. Kucing kasus diberikan pakan basah urgent care a/d Hill’s® Prescription Diet, terapi cairan menggunakan ringer laktat 30 mL/kgBB/hari secara intravena (IV), injeksi antibiotik Cefotaxime sodium (50 mg/kg BB, IV q12h) selama empat hari, injeksi antiemesis Ondansetron HCl (0,2 mg/kg BB, IV, q12h) selama dua hari, dan Raniditine HCl (2,5 mg/kg BB, IV q12h) selama empat hari. Terapi suportif diberikan injeksi vitamin C (30 mg/kg BB, IV, q12h) selama empat hari, vitamin B kompleks sebanyak 1 mL/ekor drop pada cairan infus, kaolin-pektin sirup (1 mL/kg BB, PO, q12h). Pengobatan rawat jalan diberikan Cefadroxil (22 mg/kg BB, PO, q24h) selama lima hari, multivitamin (vitamin A, vitamin D, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, Mangan, Zinc, Fluor, dan Iodium) sebanyak 1 mL/hari selama tiga hari dan obat cacing pyrantel pamoat 20 mg/kg BB sebagai terapi kecacingan. Kucing kasus dirawat secara intensif dan memperlihatkan kemajuan mulai hari ketiga dan pulang pada hari keempat.
Laporan Kasus: Infeksi Canine parvovirus pada Anjing Persilangan Dachshund
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.864

Abstract

Penyakit parvo adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Canine parvovirus. Pada anjing, virus ini dapat menyebabkan dua bentuk gejala klinis yaitu tipe enteritis dan miokarditis. Hewan kasus adalah anjing persilangan Dachshund dengan jenis kelamin betina, berumur tiga bulan dengan bobot badan 4,9 kg dan warna rambut putih krem. Pemilik membawa hewan kasus ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan muntah, anoreksia dan lethargi selama dua hari. Sehari sebelumnya anjing sudah dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan yang sama untuk mendapatkan penanganan, namun keluhan tidak membaik. Frekuensi detak jantung, pulsus, Capillary Refill Time (CRT), frekuensi respirasi dan suhu tubuh anjing kasus dalam rentang normal, tetapi anjing menunjukkan respons sakit saat abdomennya dipalpasi. Pada pemeriksaan feses dengan metode natif tidak ditemukan adanya endoparasit. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami leukositopenia, granulositopenia, anemia normositik hiperkromik dan trombositopenia. Hasil pemeriksaan menggunakan rapid test antigen Canine parvovirus menunjukkan hasil positif sehingga anjing kasus didiagnosis mengalami infeksi Canine parvovirus. Anjing kasus diterapi dengan pemberian cairan infus Ringer Lactate, antibiotik Cefotaxime yang diinjeksikan secara intravena dengan dosis terapi 30 mg/kg dua kali sehari selama enam hari, anti emetik ondansetron dengan dosis terapi 0,18 mg/kg diberikan secara intravena selama enam hari dan 0,1 mg/kg vitamin B kompleks serta 2 mg/kg vitamin K diberikan secara intravena satu hari sekali selama enam hari. Pada hari ke-5 rawat inap anjing sudah dapat makan sendiri dan mulai aktif, sehingga pada hari ke-7 anjing diperbolehkan pulang namun tetap dilakukan monitoring terhadap kondisi anjing.
Laporan Kasus: Cutaneous Blastomycosis disertai Koinfeksi Curvularia sp. pada Anjing Alaskan malamute
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.912

Abstract

Blastomikosis merupakan infeksi jamur sistemik yang terjadi pada hampir semua spesies mamalia, paling umum pada anjing dan manusia. Seekor anjing jantan ras Alaskan malamute, berumur empat tahun, bobot badan 28 kg, memiliki ciri warna rambut hitam pada daerah wajah dan mata. Anjing kasus datang dengan keluhan abses pada kaki belakang yang sudah terjadi selama satu bulan dan mengeluarkan darah dua minggu sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan kondisi anjing memiliki behavior yang jinak dan kondisi secara umum normal, tetapi ditemukan adanya eritema dan lesi yang mengeluarkan darah pada kaki belakang sebelah kiri. Pemeriksaan sitologi kulit dengan skin tape mengidentifikasikan adanya jamur Blastomyces sp. dan Curvularia sp. Secara mikroskopis Blastomyces sp. berbentuk bulat atau oval dengan ukuran 8-15 mikrometer dengan dinding tebal, sedangkan bentuk Curvularia sp. secara mikroskopis, terlihat tipe konidia tipikal bentuk konidiumnya obovoid, melengkung, agak membengkak pada satu sel, gelap, dan dindingnya tebal. Pada pemeriksaan sitologi darah tidak ditemukan adanya jamur. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami anemia makrositik hipokromik, trombositopenia, leukopenia, serta limfositosis. Terapi antijamur yang diberikan dengan itraconazole 5 mg/kg bobot badan, per oral diberikan satu kali sehari selama dua minggu dan miconazole krim 2% diberikan secara topikal dua kali sehari selama dua minggu. Evaluasi anjing setelah satu minggu dilakukan terapi memperlihatkan eritema pada kaki anjing kasus membaik serta sudah tidak ada pembengkakkan di sekitar lesi. Pada minggu kedua pengobatan sudah tidak terlihat eritema di sekitar lesi dan lesi terlihat mulai mengering.
Kajian Pustaka : Stenosis Usus Besar karena Benda Asing pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.947

Abstract

Stenosis usus besar merupakan gangguan fungsional yang ditandai dengan penyempitan suatu segmen usus besar. Perubahan struktur pada usus besar ini dapat menyebabkan obstruksi. Obstruksi usus merupakan gangguan aliran normal isi usus yang disebabkan oleh hal-hal di sepanjang saluran usus. Penyebab obstruksi usus pada anjing jarang diketahui secara pasti. Menurut beberapa literatur, obstruksi usus pada anjing dapat disebabkan penyakit kongenital ataupun perilaku anjing yang pemakan segala. Benda asing pada gastrointestinal dapat menyebabkan obstruksi total atau parsial. Gejala yang sering ditemukan pada hewan penderita stenosis usus besar yaitu hewan merasa tidak nyaman, dehidrasi, postur tubuh yang tidak normal (punggung melengkung) dapat diindikasi oleh nyeri pada abdomen yang dapat berhubungan dengan gangguan akut atau kronis, dan gangguan saat defekasi. Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan pada kasus stenosis usus besar yaitu dengan melakukan pemeriksaan hematologi, biokimia, dan radiografi. Pada laporan kasus ini treatment yang dilakukan hanya dengan pemberian larutan elektrolit untuk menangani dehidrasi dan terapi supportif dengan pemberian wet food. Penanganan pada kasus serupa, yaitu tindakan pembedahan dapat dilakukan pada kasus stenosis usus besar dengan enterotomi. Enterotomi sering dilakukan pada anjing untuk mengangkat benda asing yang menyebabkan obstruksi usus. Perawatan hewan setelah enterotomi dilakukan dengan pemberian analgesik yang cukup, antibiotik yang sesuai (ampicillin sodium, cefazolin, gentamisin, amikasin, metronidazol), dan antihistamin reseptor H-2 antagonis atau proton pump inhibitor. Pemberian pakan pemulihan gastrointestinal harus ditunda (dipuasakan) dalam waktu 12-24 jam setelah tindakan enterotomi. Pasien harus selalu dipantau terhadap nyeri, demam, muntah, dan gejala-gejala lain yang mungkin berkembang.